Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

“ASET TIDAK LANCAR YANG DIMILIKI UNTUK


DIJUAL”

DISUSUN OLEH:
NIKEN AYU 1810091510712 (AKT 3A)
NUR ASIAH 1810091510714 (AKT 3A)
NURFITRIANI 1810091510715 (AKT 3B)
MUTIA RAHMATUL. W 1810091510711 (AKT 3B)
RIZKI ALFITRA 1810091510693 (AKT 3B)

DOSEN PEMBIMBING:
RANI MUNIKA SE, M.Ak.,Akt

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BANGKINANG


TAHUN AKADEMIS 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan dan syukur penulis panjatkan kehadirata Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Aset Tidak Lancar yang
Dimiliki untuk Dijual.

Dan tak lupa shalawat serta salam penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW
karena yang telah membawa umat manusia dari zaman Jahiliyah ke zaman yang berilmu
pengetahuan seperti saat sekarang ini.

Makalah ini berjudul Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual didalamnya
tedapat pembahasan tentang pengertiannya dan sekaligus menerangkan tentang pengakuan,
pengukuran, penghentian pengakuan, penyajian dan pengungkapan.

Tak lupa ucapan terimakasih kepada dosen mata kuliah Akuntansi Keuangan
Menengah I yaitu Ibu Rani Munika, SE, M.Ak., Akt yang telah memberikan ilmunya kepada
penulis dengan ikhlas.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna,
maka dari itu penulis mengharapkan saran yang konstruktif dari para pembaca.

Akhirnya semua hal yang akan terjadi penulis serahkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa karena yang mempunyai kuasa didunia ini adalah Dia.

Bangkinang, 11 Desember 2019

Penulis
DAFTAR ISI……………………………………………………………..……..i

KATA PENGANTAR…………………………………………………..……..ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………..…....iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..…1

A. Latar Belakang……………………………………………..…..1
B. Rumusan Masalah………………………………………......….2
C. Tujuan……………………………………………………..…...2

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………….....3

A. Pengertian dan ruang lingkup asset tidak lancar yang di miliki


untuk di jual……………………………………………………3
B. Pengakuan awal………………………………………………...4
C. Pengukuran………………………………………………….….6
D. Pengukuran selanjutnya………………………………………..9
E. Penghentian pengakuan dan perubahan rencana……………...10
F. Penyajian…………………………………………………..….12
G. Pengungkapan……………………………………………...…13

BAB III PENUTUP……………………………………………………….14

A. Kesimpulan…………………………………………………...14

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tercapainya konvergensi standar akuntansi di seluruh dunia merupakan tujuan utama
international accounting standard boar (IASB). Saat ini, standar akuntansi yang paling
banyak di jadikan refrensi banyak Negara di dunia adalah Standar Akuntansi Internasional
atau international financial reporting standard (IFRS) yang disusun oleh IABS dan Standar
Akuntasansi Amerika Serikat (US GAAP) yang disusun oleh financial accounting standard
board (FASB) di Amerika Serikat. Dua standar akuntansi ini memang cukup berbeda karena
IFRS menganut principle based, sementara US GAAP menganut rule based.Namun demi
tercapainya konvergensi di tingkat Internasional, IASB dan FASB berkomitmen untuk
mengurangi perbedaan antara IFRS dan US GAAP. Untuk itu IASB dan FASB berinisiatif
mengadakan beberapa joint project jangka pendek yang berfokus untuk menghasilkan standar
yang lebih konvergensi antara IFRS dan US GAAP.

PSAK 58 merupakan adopsi dari IFRS 5 tentang Non-current Assets Held for Sale
and Discontinued Operation. IFSR 5 adalah standar pertama yang dihasilkan dari joint
project antara IASB dan FASB. IFRS 5 ini adalah hasil review Standar FASB SFAS No.144
Accounting for the Impairment or Disposal of Long-Lived Assets yang diterbitkan tahun
2001.

Selain karena dihasilkan oleh joint project pertama antara IASB dan FASB, PSAK ini
cukup menarik untuk dicermati karena mengatur klasifikasi asset yang belum pernah ada
sebelumnya di IFRS maupun PSAK. PSAK No.58 mesyaratkan suatu asset yang akan dijual
dan memenuhi beberapa syarat tertentu diukur pada nilai yang lebih rendah antara nilai
tercatat dan nilai wajar neto (nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual). Asset ini harus
disajikan dalam kelompok terpisah sebagai “asset tidak lancar dimiliki untuk dijual” dalam
laporan posisi keuangan (Neraca).

Sebelum terbitnya standar ini, tidak ada perbrdaan klasifikasi dalam IFRS atau PSAK,
antara asset tidak lancar yang dimiliki untuk digunakan dengan asset tidak lancar yang
dimiliki untuk dijual, kecuali klasifikasi yang berhubungna dengan instrument keuangan.
Sementara US GAAP mengklasifikasikan asset tidak lancar menjadi dua kelompok: (1)
dimiliki untuk digunakan dan (2) dimiliki untuk di jual.
IASB berpendapat bahwa penyajian informasi tentang asset atau kelompok asset yang
akan dilepas akan memberikan manfaat bagi pengguna laporan keuangan. Informasi ini dapat
membantu pengguna dalam menilai waktu, jumlah, dan kepastian dari arus kas masa depan.
Dengan adanya suatu klasifikasi asset sebagai asset tidak lancar dimiliki untuk dijual
membuat IFRS (dan tentunya PSAK) menjadi lebih lengkap dan lebih konvergen dengan
standar lain, dalam hal ini US GAAP.

PSAK 58 berisi dua topic yang berkaitan yaitu : (1) Akuntansi untuk asset yang
diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual (2) Operasi dihentikan.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian dan ruang lingkup Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual
2. Pengakuan awal
3. Pengukuran
4. Pengukuran selanjutnya
5. Pengehentian pengakuan dan perubahan rencana
6. Penyajian
7. Pengungkapan

C. Tujuan Pembuatan Makalah


1. Memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah I
2. Memahami tujuan dan ruang lingkup asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual
3. Menginterpretasikan terminologi dan defenisi yang berkaitan dengan perlakuan
asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual
4. Memahami prinsip penting terkait dengan pengakuan dan pengukuran asset tidak
lancar yang dimiliki untuk dijual
5. Mengetahui prinsip penyajian dan pengungkapan asset tidak lancar yang dimiliki
untu dijual
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Ruang Lingkup

Salah satu tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi yang cukup bagi
pengguna laporan keuangan agar mampu membuat keputusan. Untuk itu, laporan keuangan
tidak hanya menyajikan informasi tentang kinerja entitas di masa lalu, namun juga
menyajikan informasi di masa depan yang memmungkinkan pengguna dapat mengevaluasi
kinerja perusahaan dimasa depan dan kemampuannya mengasilkan arus kas.

Asset tidak lancar adalah asset yang tidak memenuhi defenisi asset lancer, misalnya
asset tetap atau asset tak berwujud. Dimiliki untuk dijual artinya nilai tercatat asset akan di
pulihkan melalui penjualan, bukan digunakan dalam kegiatan usaha.

Suatu asset yang dimiliki untuk dijual adalah ketika entitas berniat untuk tidak
menggunakan asset tersebuat dalam kegiatan operasinya, namun berniat menjualnya. Asset
ini didefenisikan secara terpisah agar pengguna laporan keuangan mendapat informasi
mengenai kinerja entitas dimasa depan.

Asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual diatur tersendiri dalam PSAK 58 (Revisi
2009): asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan1. PSAK 58
berlaku untuk semua asset tidak lancar, bukan hanya asset tunggal, namun berlaku juga untuk
kelompok asset dan liabilitas terkait yang akan dilepas dalam suatu transaksi tunggal (disebut
dengan kelompok lepasan)2. PSAK ini tidak diterapkan untuk asset tersedia dijual yang diatur
dengan PSAK lain. Yang dikecualikan dalam PSAK 58 ini adalah asset yang dinilai dengan
nilai wajar, yang perubahannya diakui secara langsung di Laba Rugi. Asset tidak lancar yang
dikeualikan dalam PSAK 58 ini adalah asset pajak tangguhan,asset keuangan, property
investasi, dan asset biolojik.

1 PSAK 58 mengatur tentang 2 hal, yaitu asset tidak lancar dimiliki untuk dijual dan operasi dihentikan.
2 Misalnya suatu kelompok asset penghasilan kas, misalnya suatu devisi dalam perusahaannya, atau dapat juga berbentuk
anak perusahaan, yang mencerminkan suatu kelompok asset dan juga liabilitas terkaitnya.
B. Pengakuan Awal

PSAK 58 (Revisi 2009) mengatur bahwa suatu asset tidak lancar harus
diklasifikasikan sebagai asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, ketika entitas tidak akan
menggunakan asset tersebut dalam kegiatan operasi berkelanjutan , namun berniat untuk
menjualnyamemulihkan nilai asset tersebut melalui penjualan. Untuk dapat diklasifikasikan
sebagai dimiliki untuk dijual, asset harus memenuhu dua syarat, sebagai berikut :

1. Berada pada keadaan dapat dijual


Artinya asset ini sudah dalam kondisi siap dijual dengan syarat-syarat yang biasa dan
umum diperlukan dalam penjualan asset tersebut. Misalnya, suatu entitas yang telah
mendapat pembeli, bermaksud mengosongkan gedung kepada pembeli setelah
mengosongkan gedung tersebut. Waktu yang diperlukan untuk mengosongkan gedung
tersebut merupakan hal yang umum dan biasa disyaratkan dalam suatu penjualan
gedung. Lain halnya jika entitas akan terus menggunakan gedung tersebut sampai
dengan selesainya kontruksi gedung kantor pusat baru, baru kemudian dialihkan
kepada pembeli. Entitas tidak bermaksud mengosongkan dan mengalihkan gedung
tersebut sampai kontruksi gedung baru selesai. Penundaan waktu pengalihan gedung
yang ada ditentukan oleh entitas sebagai penjual menunjukkan bahwa gedung tersebut
tidak sedia untuk segera di jual. Kriteria berada dalam keadaan dapat dijual tidak
dipenuhi.
2. Penjualannya harus sangat mungkin terjadi
Transaksi yang dimaksud disini termasuk juga penjualan melalui pertukaran asset
tidak lancar dengan asset tidak lancar lainnya ketika pertukaran tersebut memiliki
substansi komersial.
Penjualan sangat mungkin terjadi, jika :
Manajemen berkomitmen terhadap penjualan asset
Memulai suatu program aktif untk mencari pembeli dan menyelesaikan
rencana tersebut
Asset harus dipasarkan secara aktif pada harga yang pantas sesuai dengan nilai
wajar kininya
Penjualan diperkirakan memenuhi ketentuan pengakuan sebagai penjualan
dalam waktu satu tahun dari tanggal klasifikasi asset.perpanjangan periode
yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu penjualan asset lebih dari satu
tahun disebabkan oleh peristiwa atau keadaan di luar kendali entitas dan
terdapat cakupan bukti bahwa entitas tetap berkomitmen dengan rencana
penjualan asset.
Tidak mungkin terjadi perubahan signifikan atau pembatalan atas rencana
penjualan.

Kriteria di atas harus dipenuhi agar asset dapat diklasifikasikan sebagai asset tersedia
untuk dijual. Penilaian terhadap tercapainya kriteria tersebut mungkin akan melibatkan
penilaian (judgement) yang sifatnya subjektif dari manajemen. Misalnya dalam hal apakah
manajemen berkomitmen, memulai suatu usaha aktif, atau asset dipasarkan secara aktif, akan
memerlukan pertimbangan manajemen. Manajemen mungkin akan lenih mudah untuk tidak
mengklasifikasikan asset tersebut sebagai asset tersedia untuk dijual, dibandingkan harus
mengklasifikasikan asset tersebut sebagai tersedia untuk di dijual.

Untuk dapat diklasifikasikan sebagai asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, dua
kriteria tersebut harus terpenuhi sampai dengan/ atau pada akhir periode pelaporan. Jika
kriteria tersebut tidak terpenuhi pada periode pelaporan namun terpenuhi setelah periode
pelaporan sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan, maka entitas harus
mengungkapkan informasi ini dalam catatan atas laporan keuangan.

Kondisi yang harus dicapai agar termasuk dalam kriteria penjualan yang sangat
mungkin terjadi yaitu penjualannya dapat terjadi paling lambat dalam satu tahun ke depan.
Namun sangat mungkin kondisi yang terjadi akan menyebabkan penjualan tersebut dapat
melampauai periode lebih dari satu tahun. Kondisi yang diperbolehkan terjadi agar aset
tersebut tetap diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual walaupun kemungkinan realisasi
penjualan lebih dari satu tahun, yaitu:

1. Penundaan tersebut disebabkan oleh situasi yang berada diluar kendali entitas
2. Terdapat cukup bukti bahwa entitas tetap berkomitmen untuk menjual asset
tersebut.

Sebagai contoh, PT Abadi telah mendapatkan komitmen pembelian atas suatu asset
tersedia untuk dijual, tapi pada saat inspeksi dilakukan oleh pembeli, terdapat hal yang tidak
di duga seblumnya, pihak pembeli menginginkan perusahaan melakukan uji kelayakan
lingkungan terlebih dahulu, sehingga proses penjualan diharapkan baru dapat diklasifikasikan
sebagai asset tersedia untuk di jual, jika :
1. PT Abadi segera melakukan tindakan senagai respon terhadap permintaan pembeli
agar kondisi penjualan sangat mungkin terjadi dapat tetap dipenuhi.
2. Hasil dari uji kelayakan lingkingan tesebut diharapkan akan baik.

Jika asettidak lancar ini diperoleh secara khusus dengan tujuan untuk kemudian
dilepaskan, maka asset tidak lancar tersebut diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual
pada tanggal perolehan jika terpenuhi kondisi :

1. Syarat penjualan terealisasi paling lama satu tahun


2. Penjualan bersifat sangat mungkin terjadi. Beberapa kondisi yang belum terpenuhi
pada tanggal perolehan, paling tidak dapat terpenuhi dalam waktu yang sangat
pendek setelah akuisisi/perolehan (biasanya tiga bulan).

Asset yang ditinggal begitu saja tanpa rencana akan dijual, tidak boleh di
klasifikasikan sebagai asset tidak lancar dimiliki untuk dijual, karena nilai tercatat asset tidak
dipulihkan melalui penjualan, tetapi kemungkinan hanya ditutup atau dihentikan
penggunaannya.

C. Pengukuran

Sebelum asset tidak lancar diklasifikasikan sebagai asset tidak lancar yang dimiliki
untuk dijual, nilai tercatat asset tersebut diukur sesuai dengan PSAK terkait, misalnya asset
tetap, berarti diukur sesuai PSAK 16: asset tetap. Pada saat asset tersebut diklasifikasikan
menjadi asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, asset tersebut diukur pada nilai yang
lebih rendah antara nilai tercatat dengan nilai wajar neto. Nilai wajar neto adalah nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual. Biaya untuk menjual adalah biaya yang terjadi ketika
entitas melepaskan asetnya. Misalnya biaya transportasi untuk mengantar asset sampai
ketempat pembeli atau biaya untuk membuat iklan penjualan asset.

Asset tidak lancar yang telah diklasfikasikan sebagai dimiliki untuk dijual tidak
didepresiasikan lagi. Jadi, depresiasinya dihentikan sampai sesaat asset tersebut
diklasifikasikan sebagai asset dimiliki untuk dijual. Pengaturan ini pun sangat mudah
dipahami karena asset ini memang tidak akan digunakan lagi karena akan dijual dan sudah
berada dalam kondisi siap atau tersedia untuk dijual, dengan demikian tidak perlu
didepresiasi lagi.
Jika penjualan diperkirakan diselesaikan dalam periode waktu lebih dari satu tahun
dan memenuhi kriteria pengakuan karena penundaan berasal dari pihak diluar kendali entitas,
maka entitas harus menghitung biaya untuk menjual asset tersebut pada nilai kininya (present
value). Jadi pengukuran asset seperti ini adalah mana yang terendah antara nilai tercatat
dengan nilai wajar dikurangi nilai kini dari biaya untuk menjual. Kenaikan nilai kini akibat
berjalannya waktu disajikan di Laba Rugi sebagai beban keuangan.

Jika pada saat awal pengakuan, nilai wajar neto asset lebih rendah dari nilai
tercatatnya, maka entitas harus mengakui sebesar nilai wajar netonya, sehingga rugi
penurunan nilai asset tersebut langsung diakui di Laba Rugi pada saat awal pengakuan.

Dengan menerapkan pengukuran ini, maka entitas akan mengakui rugi yang mungkin
muncul dari penjualan, sebagai rugi penurunan nilai segera setelah keputusan untuk dijual
asset tersebut dibuat.

Sebagai contoh, PT Prau Persada membeli mesin yang diakui sebagai asset tetap pada
1 Januari 2012pada biaya perolehan Rp 100.000.000. Aset ini diestimasi akan memiliki nilai
residu Rp 10.000.000 dan masa manfaat 10 tahun. Pada tanggal 1 Januari 2015 aset tersebut
diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual. Nilai wajarnya Rp 60.000.000 dan
diperkirakan akan mengeluarkan biaya ongkos angkut ke tempat pembeli sebesar
Rp 2.000.000.

Pada tanggal 1 Januari 2015, mesin tersebut diklasifikasikan sebagai asset tidak lancar
yang dimiliki untuk di jual dan diukur pada masa yang terendah antara nilai tercatat dengan
nilai wajar neto.

Nilai tercatat asset = Rp 10.000.000 – (Rp 100.000.000- Rp 10.000.000) =Rp 37.000.000

Nilai wajar neto = Rp 60.000.000 – Rp 2.000.000 = Rp 58.000.000

Nilai yang harus di akui adalah nilai yang lebih rendah, yaitu Rp 58.000.000

Dengan demikian entitas harus mencatat rugi penurunan nilai untuk menurunkan nilai
tercatat kenilai wajar netonya, yaitu sebesar Rp 73.000.000- Rp 58.000.000 = Rp 15.000.000.

Jurnalnya sebagai berikut :

Rugi penurunan nilai Rp 15.000.000

Mesin Rp 15.000.000
Jurnal pengakuan rugi penurunan nilai juga dapat dikreditkan sebagai cadangan
penurunan nilai, tidak langsung mengurangi nilai asset.

Kemudian entitas juga membuat jurnal reklasifikasi asset sebagai berikut :

Mesin dimiliki untuk dijual Rp 58.000.000

Mesin Rp 58.000.000

Sekarang, jika diasumsikan nilai wajar neto adalah Rp 75.000.000, maka nilai yang
lebih rendah adalah nilai tercatat asset sebesar Rp 73.000.000. Dengan demikian, entitas tidak
perlu mengakui rugi penurunan nilai, namun tetap perlu membuat jurnal reklasifikasi ke aset
tersedia untuk dijual. Nilai asset tetap disajikan sebesar nilai tercatat Rp. 73.000.000.

Pengukuran asset tidak lancar dimiliki untuk dijual sebesar mana yang lebih rendah
antara nilai tercatat dengan nilai nilai wajar neto sebenarnya tetap konsisten mengacu pada
konsep penurunan nilai yang diatur pada PSAK 48 penurunan nilai. Pada PSAK 48
penurunan nilai, entitas diwajibkan melakukan review terhadap nilai tercatat asset. Penurunan
yang dapat terpulihkan adalah mana yang lebih lendah antara nilai wajar dan nilai pakai
dengan nilai wajar neto. Nilai pakai mencerminkan nilai yang dapat dipulihkan melalui
penggunaan, sedangkan nilai wajar neto mencerminkan nilai yang dapat terpulihkan melalui
penjualan.

Jikan terdapat indikasi penurunan nilai, entitas harus menghitung besarnya penurunan
nilai yaitu sebesar selisih antara nilai tercatat dengan nilai yang dapat terpulihkan. Dalam hal
asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual besarnya nilai relevan yang terpulihkan adalah
nilai wajar neto, karena nilai asset ini akan terpulihkan melalui penjualan. Nilai pakai tidak
relevan untuk di gunakan sebagai nilai terpulihkan karena nilai asset ini tidak akan melalui
penggunaan. Dengan demikian jelas bahwa pada saat terpenuhi kriteria klasifikasi asset tidak
lancar dimiliki untuk dujual, entitas mengakui nilainya sebesar mana yang terendah antara
nilai tercatat dengan nilai wajar neto dan mengakui rugi penurunan nilai jika ada.
D. Pengukuran Selanjutnya
Dalam pengukuran selanjutnya, entitas me- review nilai tercatat asset dibandingkan
dengan nilai wajar netonya. Jika nilai wajar neto kemudian mengalami penurunan lagi
dibandingkan dengan nilai tercatat terakhir maka entitas harus kembali mengakui rugi
penurunan nilai tersebut. Namun jika pada pengukuran berikutnya nilai wajar neto
mengalami kanaikan, entitas dapat mengakui pemulihan penurunan nilai tersebut namun
tidak melebihi akumulasi penurunan nilai yang telah dicatat sejak klasifikasi aset sebagai
asset tidak lancar dimiliki untuk dijual. Pemulihan atas penurunan nilai tersebut diakui
sebagai keuntungan di Laba Rugi.

Sebagai ilustrasi, masih melanjutkan ilustrasi sebelumnya pada PT Prau Persada,


misalnya pada tanggal 1 Januari, akhir periode pelaporan bulanan, nilai wajar neto mesin
menjadi Rp 55.000.000, maka entitas membuat jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Januari
2015 sebai berikut :
Rugi Penurunan Nilai Rp 3.000.000

Mesin dimiliki untuk di jual Rp 3.000.000

Selanjutnya jika pada tanggal 30 Juni 2015, nilai wajar neto asset tersebutmengalami
kenaikan sebesar Rp 57.000.000, dan diasumsi antara 31 Januari 2015 sampai 30 Juni 2015
tidak terdapat perubahan nilai, maka PT Prau Persada membuat jurnal penyesuaian pada 30
Juni 2015, sebagai berikut :
Mesin dimiliki untuk di jual Rp 2.000.000

Keuntungan dari rugi pemulihan nilai Rp 2.000.000

Entitas dapat mengakui keuntungan dari pemulihan rugi penurunan nilai karena
pemulihan tersebut masih belum melampaui akumulasi rugi penurunan nilai yang telah diakui
sebelumnya atas nilai asset pada awal klasifikasi sebesar Rp 58.000.000.

Asset Tidak Lancar yang diukur Menggunakan Model Revaluasi

Ketika perusahaan menguunakan model revaluasi dalam mengukur asset tidak lancar
yang kemudian diklasifikasikan sebagai asset dimiliki untuk dijual, maka asset tersebut harus
direvaluasi ke nilai wajarnya sesaat sebelum di reklasifikasi. Setelah reklasifikasi, biaya
penjualan dikurangkan dan diakui sebagai rugi penurunan nilai sebagai bagian dari laba rugi.
Sebagai contoh PT Erlangga mempunyai asset tetap berupa tanah dan mengukur
tanahnya menggunakan model revaluasi. Sebidang tanah tersebut memiliki nilai tercatat
sebesar Rp 120.000.000. Tanah tersebut pada 1 Januari 2015 diklasifikasikan sebagai asset
tidak lancar dimiliki untuk dijual, dan diketahui nilai wajarnya sebesar Rp 140.000.000 dan
estimasi biaya menenjual sebesar Rp 4.000.000. Aset tersebut terjual pada 30 Juni 2015 pada
harga Rp 145.000.000.

Pada tanggal 1 Januari 2015, tanah tersebut harus direvalusi ke nilai wajarnya sebesar
Rp 140.000.000. Keuntungan Rp 20.000.000 diakui sebagai surplus revaluasi pada
pendapatan komprehensif lain. Selanjutnya tanah tersebut diklasifikasikan sebagai asset tidak
lancar dimiliki untuk dijual. Kemudian biaya menjual sebesar Rp 4.000.000 akan diakui
sebagai laba rugi periode berjalan sebagai laba rugi penurunan nilai,

Pada saat penjualan tanggal 30 Juni 2015, terdapar rugi sebesar Rp 2.000.000 yng
diakui sebagai rugi pelepasan asset karena harga jual lebih rendah daripada nilai tercatat
(Rp136.000.000 - Rp134.000.000). pada saat itu surplus revaluasi telah terealisasi dan
ditransfer seluruhnya ke saldo laba.

E. Penghentian Pengakuan dan Perubahan Rencana

Ketika entitas telah mengklasifikasikan aset tidak lancar sebagai dimiliki untuk dijual,
namun kemudian kriteria pengakuan asset ini tdak lagi terpenuhi atau perusahaan mengubah
rencana untuk tidak menjual asset ini, maka entitas harus menghentikan pengklasifikasikan
asset tersebut sebagai dimiliki untuk dijual. Kondisi tidak terpenuhinya lagi kriteria
pengakuan asset tidak lancar sebagai dimiliki untuk dijual misalnya karena manjemen
memutuskan akan menggunakan kembali asset ini.

Asset tidak lancar dihentikan pengklasifikasiannya sebagai dimiliki untuk dijual,


maka selanjutnya harus diukur pada nilai yang lebih rendah antara :

Nilai tercatat asset tersebut sebelum diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual,
disesuaikan dengan penyusutan, amortisasi atau penilaian kembali yang telah diakui
jika asset tersebut tidak diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, atau
Nilai terpulihkan pada saat tanggal keputusan untuk menjual.
Melanjutkan ilustrasi PT Prau Persada, misalnya pada tanggal 31 Desember 2015
karena upaya mendapatkan kontrak pembelian belum dapat segera terealisasikan, maka
manajemen memutuskan rencana untuk penjualan tersebut dan menggunakan kembali asset
tersebut sebagai asset tetap. Oleh karena itu, pada tanggal 31 Desember PT Prau Persada
harus mengklasifikasi ulang asset menjadi asset tetap, dan menghitung nilai tercatat yang
baru.

Misalnya diketahu bahwa nilai terpulihkan asset tersebut sebesar Rp 57.000.000,


sama dengan nilai tercatat asset saat ini pada 31 Desember 2015 sebelum penyesuaian adalah
Rp 57.000.000. nilai tercatat asset jika tidak diklasifikasikan sebagai asset tersedia untuk
dijual dapat dihitung = Rp100.000.000 – ((Rp100.000.000-Rp10.000.000)x 4/10)
=Rp64.000.000. Nilai yang lebih rendah adalah nilai terpulihkan sebesar Rp57.000.000 akan
digunakan sebagai nilai asset pada 31 Desember 2015.

Dengan demikian, tidak ada jurnal penyesuaian atas nilai tercatatyang perlu di buat
pada 31 Desember 2015, kecuali jurnal reklasifikasi sebagai berikut :

Mesin Rp 57.000.000

Mesin di miliki untuk dijual Rp 57.000.000

Penghentian pengakuan juga dapata terjadi apabila asset tersebut dijual. Pengakuan
penjualan asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, pada prinsipnya sama seperti
penjualan asset biasa. Keuntungan/ kerugian muncul dari selisih antara nilai tercatat akhir
asset tersebut dengan harga penjualan. Keuntungan/ kerugian tersebut diakui di Laba Rugi.

Contoh, PT Yudhistira telah mengklasifikasikan asset tetapnya sebagai asset tidak


lancar dimiliki untuk dijual pada 2 Januari 2015. Penjualan terjadi pada tanggal 2 Juli 2015
dengan harga jual Rp70.000.000, nilai tercatat asset tidak dimiliki untuk dijual pada tanggal 2
Juli 2015 adalah sebesar Rp70.000.000 PT Yudhistira harus mencatat penjualan tersebut
sebagai berikut.

Kas Rp 70.000.000

Asset tidak lancar dimiliki untuk dijual Rp 70.000.000


F. Penyajian

Asset yang diklasifikasikan sebagai asset tidak lancar dimiliki untuk dijual harus
disajikan secara terpisah dengan kelompok asset lainnya pada laporan posisi keuangan. Asset
semacam ini disajikan sebagai kelompok asset terpisah dalam kelompok asset tidak lancar
dimiliki untuk dijual dalam kelompok asset lancar. Asset ini disajikan dalam kelompok asset
lancar karena akan direalisasikan melalui penjualan dalam jangka waktu satu tahun.

Ketika asset tersebut berupa kelompok asset, maka asset lain liabilitas terkait, masing-
masing harus disajikan terpisah. Asset dan liabilitas tersebut tidak disajikan secara net-off.
Kelompok asset dan liabilitas utama untuk kelompok aset disajikan terpisah, baik di laporan
posisi keuangan atau pada catatan atas laporan keuangan.

Perlu diperhatikan bahwa penyajian terpisah atas asset yang dimiliki untuk dijual ini
tidak memerlukan perlakuan penyajian kembali atas informasi pada periode komparasi. Hak
ini dilakukan agar laporan posisi keuangan mencerminkan pengklasifikasian asset dilakukan
diperiode kini.

Ilustrasi penyajian asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual pada laporan posisi
keuangan adalah sebagai berikut :

(ribuan rupiah)

2015 2014

Asset lancar :

Kas dan setara kas 20.000 24.000

Piutang usaha 150.000 135.000

persediaan 365.000 402.000

Asset tidak lancar di miliki untuk di jual 56.000 -

Asset tidak lancar :

Asset tetap 670.000 740.000

Asset tak berwujud 159.000 165.000


G. Pengungkapan

pada periode dilakukannya klasifikasi asset sebagai asset tidak lancar dimiliki untuk
dijual atau pada periode saat asset tersebut terjual, entitas mengungkapkan informasi berikut
ini pada catatan laporan keuangan.

a. Uraian mengenai asset tersebut


b. Uraian fakta dan keadaan tentang penjualan, atau yang mengarah pada
pelepasan yang diharapkan, cara serta waktu pelepasan.
c. Keuntungan atau kerugian yang diakui. Jika tidak disajikan secara terpisah
dalam laporan laba rugi komprehensi, maka dijelaskan judul pos dalam
laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya terdapat keuntungn atau
kerugian tersebut.
d. Dalam hal terdapat perubahan rencana penjualan, maa diungkapkan uraian
fakta dan keadaan yang mendukung keputusan tersebut dan dampaknya
terhadap hasil operasi utuk periode tersebut dan periode komparasi.
BAB III

KESIMPULAN

 Asset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual adalah asset tidak lancar yang nilai
tercatatnya akan dipulihkan melalui penjualan, bukan digunakan dalam kegiatan
usaha
 Asset tidak lancar yang di miliki untuk dijual diukur pada mana yang terendah antara
nilai tercatat asset atau nilai wajar netonya. Asset ini tidak disusutkan.
 Asset tidak lancar yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual harus memenuhi
bebebrapa kriteria, yaitu penjualan sangat mungkin terjadi dan asset sudah dalam
kondisi tersedia dan siap dijual.
 Jika terdapat rencana pembatalan penjualan, maka entitas mengukur nilai pada nilai
mana yang terendah antara nilai tercatat sebelum klasifikasi disesuaikan dengan
penyusutan atau amortisasi dengan nilai terpulihkan.
 Asset disajikan sebagai kelompok aset terpisah sebagai dimiliki untuk dijual pada
kelompok asset lancar.
Daftar pustaka
Hongren, Charles T. dan Walter T Harrison. 2007. Accounting. Edisi 7. Pearson Education

Ikatan Akuntasi Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009. Jakarta :
Salema Empat

Kieso, Donald. E., Jerry. Weygandt, dan Terry D. Warfield. 2010. Intermediate accounting :
IFRS Edition. Edisi 1. Volume 1. Jhon Willey & sons

Epstein. , Barry j., Jermakowiczs, Eva K., 2010. Interpretation and Application Of
International Financial Reporting Standard, New Jersey, John Wiley & Sons, Inc.

International Accounting Standards Committee Foundation, 2008. IFRS 5 non-current Assets


Held for Sale and Discontinued Operations.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2009. PSAK No. 58 Tentang Aset Tidak Lancar Tersedia untuk
Dijual, Jakarta

Lam, Nelson., Lau, Peter, 2009. Intermediate Financial Reporting : an IFRS Perspective, Mc
GrawHill.