Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI

DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH

A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (Prawiroharjo, 2010).
Menurut Manuaba (2007), BBLR merupakan bayi dengan berat badan kurang
dari 2500 gram terjadi karena umur kehamilan kurang dari 37 minggu, berat
badan lebih rendah dengan semestinya sekalipun umur kehamilan cukup atau
karena kombinasi keduanya.
WHO (World Health Organiztion) menyatakan BBLR merupakan bayi
(neonatus) yang lahir dengan memiliki berat badan kurang dari 2500 gram
atau sampai dengan 2499 gram.

2. Klasifikasi BBLR
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan
Ismawati, 2010) :
a. Menurut harapan hidupnya
1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.
2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500
gram.
3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang
dari 1000 gram.
b. Menurut masa gestasinya
1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan
berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau
biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan
(NKB-SMK).
2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa
kehamilannya (KMK).

3. Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor
ibu yang lain adalah umur, paritas dan lain-lain. Faktor plasenta seperti
penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan
penyebab terjadinya BBLR (IDAI, 2004). Beberapa penyebab dari bayi dengan
berat badan lahir rendah (Proverawati dan Ismawati, 2010).
a. Faktor ibu
1) Penyakit
a) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
b) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
c) Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
2) Ibu
a) Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilan pada usia
<20 tahun atau >35 tahun.
b) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
c) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
3) Keadaan sosial ekonomi
a) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini
dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.
b) Aktivitas fisik yang berlebihan
c) Perkawinan yang tidak sah
b. Faktor janin
Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik, gawat janin,
dan kehamilan kembar..
c. Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solusio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah
dini

d. Faktor lingkungan
Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi,
terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.

4. Tanda dan Gejala


Manifestasi klinis yang terdapat pada bayi dengan berat badan lahir rendah
adalah sebagai berikut (Surasmi, dkk, 2005:
a. Prematuritas murni
- BB <2500 gr, PB <45 cm, LK <33 cm, LD <30cm
- Massa gestasi <37 minggu
- Kepala lebih bessar daripada badan , kulit tipis, transpara, mengkilap,
dan licin
- Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi,
pelipis, telingan dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan
sutura lebar
- Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup
oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun
- Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
- Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
- Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan
baik
- Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakkan kurang dan lemah
- Bayi tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering
mengalami apnea, otot masih hipotonik
- Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan, dan batuk
belum sempurna
b. Dismaturitas
- Kulit terselubung vernik caseosa tipis/tidak ada
- Kulit pucat bernoda mekonium, kuning, keriput, tipis
- Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
- Tali pusat berwarna kuning kehijauan

5. Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksan laboratorium :
a. Pemeriksaan kadar glukosa
Pada bayi aterm kadar gula dalam darah 50 - 60 mg/dl dalam 72 jam
pertama.Pada bayi berat lahir rendah kadar gula darah 40 mg /dl hal ini
disebabkan karena cadangan makanan glikogen yang belum mencukupi (
hiploglikemi).bila kadar gula darah sama dengan atau kurang dari 20 mg/
dl
b. Pemeriksan kadar bilirubin
Kadar bilirubin normal pada bayi prematur 10 mg/dl, dengan 6 mg/dl
pada hari pertamake hidupan, 8 mg/dl 1- 2hari, dan 12 mg/dl pada 3-5
hari. Hiperbilirubun terjadi karena belum matangnya fungsi hepar.
1) Jumlah sel darah putih : 18.000 mm3, neutrofil meningkat sampai
23.000 – 24.000 mm3 hari pertama setelah lahir (menurun bila ada
sepsis).
2) Hematokrit (Ht) : 43% - 61% (peningkatan sampai 65% atau lebih
menandakaan polisitemia, penurunan kadar menunjukan anemia atau
hemoragikprenatal/ perinatal)
3) Hemoglobin (Hb) : 15 -20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan
dengan anemi atau hemolisis berlebihan)
4) Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4 -6 jam pertama setelah
kelahiran ratra- rata 40 – 50 mg/dl meningkat 60 -70 mg/dl pada hari
ke tiga.
5) Pemantauan Elektrolit (Na, K. Cl), biasanya dalam batas normal pada
awalnya.
6) Pemeriksaan Analisa gas darah
7) Ballard Score

6. Penatalaksanaan Medis
Perawatan bayi didapat :
a. Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
b. Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
d. Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik
yang tepat
e. Pengaturan Suhu Badan Bayi BBLR
Bayi Prematur dengan cepat kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermia, oleh karena itu harus di rawat dalam incubator sehingga panas
dalamnya mendekat dalam rahim. Bila bayi di rawat dalam inkubator
maka suhu bayi dengan berat badan, 2 kg 35 derajad celcius dan untuk
bayi dengan berat badan 2- 2,5 kg adalah 33- 34 derajad celcius. Bila
incubator tidak ada bayi dapat di bungkus dengan kain dan di sampingnya
ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat di
pertahankan.
f. Makanan bayi BBLR
Alat pencernaan belum sempurna, lambung kecil, enzim
pencernaan belum matang,sedangkan kebutuhan protein 3- 5 gr /kg BB
dan kalori 110 kal / kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat.
Pemberian minum bayi sekitar 3 jam seetelah lahir dan didahului dengan
mengisap cairan lambung. Reflek menghisap masih lemah sehingga
pemberian minum sedikit demi sedikit, tetapi sering . Dapat diberikan ASI
dengan sendok secara perlahan, atau sonde menuju lambung . Permulaan
cairan di berikan sekitar 50 – 60 cc /kg BB /hari dan terus dinaikan
mencapai sekitar 200 cc /kg BB/ hari. Kebutuhan cairan untuk bayi baru
lahir 120 – 150 ml/kg BB/ hari.
Penimbangan berat badan secara rutin. Perubahan berat badan
mencerminkan kondisi bayi dan erat kaitanya dengan kondisi tubuh.
g. Menghindari infeksi
Khususnya bayi premature mudah sekali terkena infeksi, karena daya
tahan tubuh yang lemah, kemampuan leokusit masih kurang, pembentukan
ati body belm sempurna, dengan demikian perawatan dan pengawasan
bayi secara khusus dan terisolasi dengan baik

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


I. Pengkajian
1. Anamnesa riwayat kehamilan
Usia kehamilan < 37 minggu, ANC, riwayat hamil resiko tinggi.
2. Anamnesa riwayat persalinan
Melahirkan BBLR/gemeli sebelumnya, cara melahirkan, lama nifas,
komplikasi nifas.
3. Anamnesa riwayat keluarga
Riwayat kelahiran dengan BBLR/gemeli, ststua sosial-ekonomi.
4. Tanda-tanda vital.
5. Pengkajian fisik.
a. Pengkajian umum
1) Berat badan lahir  2500 gram, panjang badan  45 Cm, lingkar
dada  30 Cm, lingkar kepala  33 Cm.
2) Penampakan fisik sangat tergantung dari maturitas atau lamanya
gestasi; kepala relatif lebih besar dari badan.
b. Pernafasan
1) Pernafasan belum teratur dan sering terjadi apnea.
2) Refleks batuk belum sempurna.
3) Tangisan lemah.
c. Kardiovaskuler
1) Pengisian kapiler (< 2 sampai 3 detik), perfusi perifer.
2) Bayi dapat tampak pucat/sianosis.
3) Dapat ditemui adanya bising jantung atau murmur pada bayi
dengan kelainan jantung/penyakit jantung bawaan.
d. Gastrointestinal
a) Refleks menghisap dan menelan belum
sempurna sehingga masih lemah.
b) Gambaran belum maturnya fungsi hepar
berupa ikterik dan fungsi pankreas berupa hipoglikemia.
c) Gambarkan jumlah, warna, konsistensi dan
bau dari adanya muntah.
e. Genitourinaria
Genetalia immatur.
f. Neurologis-Muskoloskeletal
1) Otot masih hipotonik sehingga tungkai abduksi, sendi lutut dan
kaki fleksi, dan kepala menghadap satu jurusan.
2) Lebih banyak tidur daripada bangun.
3) Refleks menghisap, menelan, dan batuk belum sempurna (lemah).
4) Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar.
g. Suhu
Pusat pengaturan suhu tubuh (hipothalamus) belum matur
dimanifestasikan dengan adanya hipotermi atau hipertermi.
h. Kulit
1) Kulit tipis, transparan, banyak lanugo, lemak sub kutan sedikit.
2) Tekstur dan turgor kulit; kering dan pecah terkelupas, turgor kulit
dalam rentang baik s/d jelek.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Hipotermia
2. Defisit Nutrisi
3. Risiko Aspirasi
4. Ketidakefektifan pola nafas
5. Ikterus neonates
6. Hypovolemia
7. Hipoglikemia
8. Risiko infeksi
III. Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriterian Hasil Intervensi


SLKI SIKI
1. Hipotermia Setalah dilakukan intervensi selama … Manajemen hipotermia
Penyebab : x…jam 1. Observasi
o Kerusakan hipotalamus Maka termoregulasi neonates membaik,  Monitor suhu tubuh
o Konsumsi alcohol dengan kriteria hasil :  Identifkasi penyebab hipotermia (mis.
o Berat bdan ekstrem Termoregulasi neonatus terpapar suhu lingkungan rendah, pakaian
o Kekurangan lemak o Menggigil menurun tipis, kerusakan hipotalamus, penurunan laju
subkutan o Akranosis menurun metabolism, kekurangan lemak subkutan)
o Terpapar suhu lingkungan o Konsumsi oksigen menurun  Monitor tanda dan gejala alibat hipotermia
rendah o kutis memorata menurun (hipotermia ringan : takipnea, disaetia,
o Malnutrisi o dasar kuku sianotik menurun menggigil, hipertensi, diuresis; hipotermia
o Pemakaian pakaian tipis o suhu tubuh meningkat sedang : aritmia, hipotensi, apatis,
o Penurunan laju o suhu kulit meningkat koagulopati, reflex menurun; hipotensi
metabolism o frekuensi nadi menurun berat : oliguria, reflex menghilang, edema
o Tidak beraktivitas o kadar glukosa darah meningkat pary, asam basa abnormal)
o Transfer panas o pengisian kapiler meningkat 2. Terapeutik
o Trauma o ventilasi meningkat
 sediakan lingkungan yang hangat (mis atur
o Proses penuaan
o Efek agen farmakologis suhu ruangan, incubator)
 ganti pakaian atau linen yang basah
o Kurang terpapar informasi
 lakukan penghangatan pasif
tentang pencegahan
 lakukan penghanagatan aktiuf
hipotermia
 lakukan penghatan aktif internal
Gejala dan Tanda 3. Edukasi
Mayor  anjurkan makan/minum hangat
Subjektif : tidak tersedia Terapi paparan panas
Objektif : 1. Observasi
o Kulit teraba dingin  identifikasi kontraindikasi penggunaan terapi
o Menggigil  monitor suhu alat terapi
o Suhu tubuh dibawah  monitor kulit selama terapi
normal  monitor kondisi umum, kenyamanan, dan
keamanan selama terapi
Minor  monitor respon pasien terhadap terapi
Subjektif : tidak tersedia
Obyektif : 2. Terapeutik
o Akranosis  pilih metode stimulasi yang nyaman dan
o Bradikardi mudah didaptkan
o Dasar kuku sianotik  tentukan durasi terapi
o Hipoglikemia
o Hipoksia
o Pengisian kapiler > 3 detik
o Konsumsi oksigen
meningkat
o Vantilasi menurun
o Piloereksi
o Takikardia
o Vasokonstriksi perifer
o Kulit memorata (pada
neonates)

Kondisi Klinis terkait


o Hipotiroidisme
o Anoreksia nervosa
o Cedera batang otak
o Prematuritas
o Berat badan lahir rendah
(BBLR)
o Tenggelam

2 Defisit Nutrisi Setalah dilakukan intervensi selama … Manajemen Nutrisi


x… …. Observasi :
Penyebab : Maka deficit nutrisi membaik, dengan o Identifikasi status nutrisi
o Ketidakmampuan menelan kriteria hasil : o Identifikasi alergi dan intolersi makanan
o Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
makanan Status nutrisi bayi
o Identifikasi perlunya NGT
o Ketidakmampuan o Berat badan meningkat
o Monitor asupan makanan
mencerna makanan o Panjang badan meningkat
o Monitor berat badan
o Ketidakmampuan o Kulit kuning menurun
o Monitor hasil pemeriksaan lab
mengabsorbsi nutrient o Sclera kuning menurun
o Peningkatan kebutuhan o Membrane mukosa kuning menurun
Terapiutik :
metabolism o Pucat menurun
o Kesulitan makan menurun o Lakukan oral hygine
o Faktor ekonomi
o Pola makan membaik o Berikan medikasi sebelum makan
o Faktor piskologis
o Fasilitasi menentukan pedoman diet
o Tebal lipatan kulit membaik o Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang
Gejala dan Tanda o Proses tumbuh kembang membaik sesuai
Mayor o Lapisan lemak membaik o Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah
Subjektif : tidak tersedia konstipasi
Obyektif : o Berikan makan tinggi kalori dan tinggi protein
o Berat badan menurun o Berikan suplemen makanan jika perlu
minimal 10% dibawah o Hentikan pemberian makan melalui NGT bila
rentang ideal asupan oral dapat ditoleransi

Minor Edukasi :
Subjektif : o Anjurkan posisi duduk, jika perlu
o Cepat kenyang setelah o Ajarkan diet yang diprogramkan
makan
o Kram/nyeri absdomen Kolaborasi :
o Nafsu makan menurun
o Kolaborasi dengan ahli gizi
Obyektif :
o Bising usus hiperaktif
o Otot pengunyah lemah
o Otot menelan melemah
o Membrane mukosa pucat
o Sariawan
o Seru, albumin turun
o Rambut rontok berlebihan
o Diare
Kondisi klinis terkait
o Stroke
o Parkinson
o Mobius syndrome
o Celebral palsy
o Cleft lip
o Cleft palate
o Amytropic lateral
sclerosis
o Kerusakan neuromuscular
o Luka bakar
o Infeksi
o AIDS
o Penyakit chorn’s
o Enterokolitis
o Fibrosis kinetic

3. Risiko Aspirasi Setalah dilakukan intervensi selama … Manajemen jalan nafas


x… …. 1. Observasi
 Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha
Faktor resiko : Maka tingkat aspirasi menurun, dengan
nafas)
o Penurunan tingkat kriteria hasil :  Monitor bunyi nafas tambahan (mis.
kesadaran o tingkat kesadaran meningkat Gurgling,mengi,wheezing,ronkhi)
o Penurunan reflex muntah o kemampuan menelan meningkat 2. Terapeutik
dan/atau batuk o dispena menurun  Posisikan semi fowler
o gangguan menelan o kelemahan otot menurun  Berikan minuman hangat
o disfagia o wheezing menurun  Berikan oksigen
o kerusakan mobilitas fisik o batuk menurun 3. Edukasi \
o peningkatan residu o penggunaan otot aksesoris menurun  Anjurkan asupan cairan 200 ml/hari, jika tidak
lambung o sianosis menurun kontraindikasi
o peningkatan tekanan o gelisah menurun  Ajarkan teknik batuk efektif
4. Kolaborasi
intragastritik o frekuensi nafas membaik
 Kolaborasi pemberian bronkodilator,
o penurunan motilitas ekspektoran, mukolitik, jika perlu
gastrointenstinal
o sfingter esophagus bawah Pencegahan aspirasi
inkompeten 1. Observasi
o perlambatan pengosongan
 Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah,
lambung
dan kemampuan menelan
o terapsang selang NGT
 Monitor status pernafasan
o terpasang trakeostomi atau
 Monitor bunyi nafas
ETT  Periksa residu gaster sebelum memberi
o trauma/pembedahan leher,
asupan oral
mulut , wajag  Periksa kepatenan selang Oraogastrik
o efek agen farmakologis
sebelum memberi asupan oral
o ketidakmatangan
koordinasi menghisap,
menelan, dan bernafas 2. Terapeutik
Kondisi klinis terkait :  Posisikan semifwoler 30 menit sebelum
o cedera kepala memberi asupan oral
o stroke  Pertahankan posisi semifowler saat pasien
o cedera medulla spinalis tidak sadar
o guillain barre syndrome  Pertahankan kepatenan jalan nafas
o penyakit Parkinson  Pertahankan pengembangan balon ETT
o keracunan obat dan  Lakukan penghidsapan jalan nadfas, jika
alcohol produksi secret meningkat
o pembesaran uterus  Hindari pemberian makan melalu NGT atau
mistenia gravis OGT apabila residu banyak
o prematuritas  Berikan makanan ukuran kecil atau luna
 Berikan obat oral bentuk vair
3. Edukasi
 Anjurkan makan secara perlahan
 Ajarkan stratei mencegah aspirasi
 Ajarkan teknik mengunyah atau menelan,
jika perlu

4 Ikterik Neonatus Setelah diberikan asuhan keperawatan Fototerapi Neonatus


Kulit dan membran mukosa selama ...x jam, maka status Observasi :
neonatus menguning setelah  Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi
24 jam kelahiran akibat Integritas Kulit dan Jaringan  Identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan usia
bilirubin tidak terkonjugasi meningkat dengan kriteria hasil : gestasi dan berat badan
masuk ke dalam sirkulasi  Elastisitas meningkat  Monitor suhu dan tanda vital setiap 4 jam sekali
 Kerusakan jaringan menurun  Monitor efek samping fototerapi (mis.
(D.0024)
 Kerusakan lapisan kulit menurun hipertermi, diare rush pada kulit, penurunan berat
b.d:
 Kemerahan menurun badan lebih dari 8-10%
 Penurunan berat badan  Suhu kulit membaik
abnormal (>7-8% pada
Terapiutik :
bayi baru lahir yang Adaptasi Neonatus (L.10098) meningkat
 Siapkan lampu fototerapi dan incubator atau
menyusu ASI, >15% pada dengan kriteria hasil :
kotak bayi
bayi cukup bulan  Berat badan meningkat  Lepaskan pakaian bayi kecuali popok
 Pola makan tidak  Membrane mukosa kuning menurun  Berikan penutup mata (eye protector/biliband)
ditetapkan dengan baik  Kulit kuning menurun pada bayi
 Kesulitan transisi ke  Sklera kuning menurun  Ukur jarak antara lampu dan permukaan kulit
kehidupan ekstra uterin  Prematuritas menurun
bayi (30 cm atau tergantung spesifikasi lampu
 Keterlambatan pengeluaran feses
 Usia kurang dari 7 hari fototerapi)
menurun
 Keterlambatan  Biarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi
 Aktivitas ekstremitas membaik
pengeluaran feses  Respons terhadap stimulus sensorik secara berkelanjutan
(meconium) membaik  Ganti segera alas dan popok bayi jika BAB/BAK
d.d gejala dan tanda  Gunakan linen berwarna putih agar memantulkan
Mayor : Berat Badan (L.03018) membaik dengan cahaya sebanyak mungkin
 Profil darah abnormal kriteria hasil :
(hemolysis, bilirubin  Berat badan membaik Edukasi :
serum total >2mg/dL,  Tebal lipatan kulit membaik  Anjurkan ibu menyusui sekitar 20-30 menit
bilirubin serum total pada  Anjurkan ibu menyusui sesering mungkin
Organisasi Perilaku Bayi (L.05043)
rentang risiko tinggi
meningkat dengan kriteria hasil :
menurut usia pada Kolaborasi :
 Gerakan pada ekstremitas meningkat
normogram spesifik  Kolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin
 Kemampuan jari-jari menggenggam
waktu)  Menangis meningkat direk dan indirek
 Membrane mukosa kuning  Mampu erespon kejut meningkat
 Kulit kuning  Tersentak menurun Perawatan Bayi (I.10338)
 Sklera kuning  Kemampuan menyusu membik Observasi
 Warna kulit membaik  Monitor tanda-tanda vital bayi (terutama suhu
36,5oC-37,5oC)
Status Nutrisi Bayi (L.03031) membaik Terapeutik
dengan kriteria hasil :  Mandikan bayi dengan suhu ruangan 21-24oC
 Berat badan meningkat  Mandikan bayi dalam waktu 5-10 menit dan 2
 Panjang badan meningkat kali dalam sehari
 Kulit kuning menurun  Rawat tali pusat secara terbuka (tali pusat tidak
 Sklera kuning menurun dibungus apapun)
 Membrane mukosa kuning menurun  Bersihkan pangkal tali pusat dengan lidi kapas
 Bayi cengeng menurun yang telah diberi air matang
 Pola makan membaik  Kenakan popok bayi dibawah umbulikus jika tali
 Proses tumbuh kembang membaik pusat belum terlepas
 Lakukan pemijatan bayi
 Ganti popok bayi jika basah
 Kenakan pakaian bayi dari bahan katun

Edukasi
 Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi
 Ajarkan ibu cara merawat bayi dirumah
 Ajarkan cara pemberian makanan pendamping
ASI pada bayi >6 bulan

5 Pola nafas tidak efektif Respirasi : Respirasi :


Penyebab Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen jalan nafas
 Depresi pusat pernapasan … x…. jam, maka pola nafas tidak efektif 1. Observasi
 Hambatan upaya napas menurun dengan kriteria hasil : a. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha
 Deformitas dinding dada  Penggunaan otot bantu nafas menurun nafas)
b. Monitor bunyi nafas tambahan (mis. Gurgling,
 Deformitas tulang dada  Dispnea menurun mengi, wheezing, ronkhi)
 Gangguan neuromuscular  Pemanjangan fase ekspirasi menurun 2. Terapeutik
 Gangguan neurologis  Frekuensi nafas membaik  Posisikan semi fowler
 Penurunan energy  Kedalaman nafas membaik  Berikan minuman hangat
 Obesitas  Berikan oksigen
 Posisi tubuh yang 3. Edukasi
menghambat ekspansi  Anjurkan asupan cairan 200 ml/hari, jika tidak
paru kontraindikasi
 Sindrom hipoventilasi  Ajarkan teknik batuk efektif
 Kerusakan inervasi 4. Kolaborasi
diafragma  Kolaborasi pemberian bronkodilator,
 Cedera pada medulla ekspektoran, mukolitik, jika perlu
spinalis
 Efek agen farmakologis Pemantauan respirasi
 Kecemasan 1. Observasi
Gejala dan tanda mayor  Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan
Subjektif upaya nafas
 Monitor pola nafas (seperti bradipnea,
 Dyspnea takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-
Objektif stokes, ataksisk)
 Monitor saturasi oksigen
 Penggunaan otot bantu  Auskultasi bunyi nafas
pernafasan  Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
 Fase ekspirasi  Monitor nilai AGD
memanjang  Monitor hasil x-ray thoraks
 Pola nafas abnormal 2. Terapeutik
Gejala dan tanda minor  Atur interval pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien
Sujektif
 Dokumentasikan hasil pemantauan
 Ortopnea 3. Edukasi
Objektif  Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
 Pernafasan pursed lips
 Pernapasan cuping
hidung
 Diameter thoraks
anterior posterior
meningkat
 Ventilasi semenit
menurun
 Kapasitas vital
menurun
 Tekanan ekspirasi
menurun
 Tekanan inspirasi
menurun
 Ekskursi dada berubah

Kondisi klinis terkait

 Depresi system saraf


pusat
 Cedera kepala
 Trauma thoraks
 Gullian bare syndrome
 Multiple sclerosis
 Myasthenia gravis
 Stroke
 Kuadriplegia
 Intoksikasi alcohol

6. Risiko Infeksi Setelah diberikan asuhan keperawatan Intervensi Utama


Definisi: selama … x 24 jam diharapkan risiko
Berisiko mengalami Pencegahan Infeksi
infeksi menurun, dengan Kriteria Hasil:
peningkatan terserang Observasi:
organisme patogenik Luaran Utama
Faktor Risiko  Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan
Tingkat Infeksi
 Penyakit kronis (mis. sistemik
diabetes melitus)  Tidak ada demam Terapeutik:
 Efek prosedur invasive  Tidak ada kemerahan
 Malnutrisi  Nyeri berkurang  Batasi jumlah pengunjung
 Peningkatan paparan  Bengkak berkurang  Berikan perawatan kulit pada area edema
organisme patogen  Tidak ada cairan berbau busuk  Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
lingkungan  Drainase purulen berkurang dengan pasien dan lingkungan pasien
Ketidak adekuatan pertahanan  Kadar sel darah putih dalam batas  Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tubuh primer: normal tinggi
 Gangguan peristaltik 3
(4 – 10 x 10 /uL) Edukasi:
 Kerusakan integritas kulit
 Perubahan sekresi pH  Jelaskan tanda dan gejala infeksi
 Penurunan kerja siliaris  Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
 Ketuban pecah lama  Ajarkan etika batuk
 Ketuban pecah sebelum  Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
waktunya operasi
 Merokok  Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
 Statis cairan tubuh  Anjurkan meningkatkan asupan cairan
 Ketidak adekuatan
Kolaborasi:
pertahanan tubuh
sekunder:  Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
 Penurunan haemoglobin
 Imunosupresi
 Leukopenia
 Supresi respon inflamasi
 Vaksinasi tidak adekuat

Kondisi Klinis Terkait


a. AIDS
b. Luka bakar
c. Penyakit paru obstruktif
kronis
d. Diabetes melitus
e. Tindakan invasif
f. Kondisi penggunaan
terapi steroid
g. Penyalahgunaan obat
h. Ketuban pecah sebelum
waktunya (KPSW)
i. Gagal ginjal
j. Imunosupresi
k. Lymphedema
C. Referensi
Sukadi, A, 2008, Hiperbilirubinemia, Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,
Sarosa GI, Usman A, Buku Ajar Neonatologi Edisi 1, IDAI, Jakarta
Etika R, Harianto A, Indarso F, Damanik M.S, Hiperbilirubinemia Pada
Neonatus, Diunduh dari : www.pediatrik.com/pkb/20060220-js9. Diakses
tgl 10 Maret 2015
Wiknjosastro, H, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta
Saifuddin AB, 2009, Pelanyanan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka,
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Martin CR, Cloherty JP, 2004 Neonatal Hipernilirubinemia, Dalam: Cloherty Jp,
Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal Care Edisi ke
-5, Lippincolt Williams & Wilkins, Philadelphia
Ardakani SB, Dana VG, Ziaee V, Ashtiani AH, Djavid GE, Alijani M, 2011,
Bilirubin/Albumin Ratio For Predicting Acute Bilirubin-Induced
Neurologic Dysfunction, Iran J Pediatr
Kemenkes RI, 2011, Buku Paduan Pelatih Manajemen BBLR untuk Bidan dan
Perawat, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak,
Jakarta
Depkes RI, 2005, Pelatihan Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal
Esensial Dasar - Buku Acuan, DepKes RI, Jakarta
DinKes Jateng, 2013, Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2012, DinKes
Jateng, Semarang
Population and Development Strategies Series Number 10, UNFPA, 2003,
Millennium Development Goals (Mdgs)
Manuaba, IBG, 2007, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta
Kemenkes RI, 2014, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014, Kemenkes RI,
Jakarta
Prawiroharjo, 2010, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta
Pudjiadti Antonius, H, Hegar Badrul, dkk, 2010, Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Indonesia, IDAI, Jakarta
Proverawati Atikah, & Ismawati Cahyo, S, 2010, BBLR : Berat Badab Lahir
Rendah, Nuha Medika, Yogyakarta
Surasmi A, Handayani S, Kusuma H, 2005, Perawatan Bayi Resiko Tinggi, EGC,
Jakarta
Arif, Mansjoer, dkk, 2007, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, Medica
Aesculpalus, FKUI, Jakarta
Yushananta, 2007, Perawatan Bayi Risiko Tinggi, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
ZR, Arief, Weni Kristiyana Sari. 2009. Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak.
Nuha Medika, Yogyakarta
Hassan, R. 2005, Ilmu Kesehatan Anak Jilid, Infomedika, Jakarta
PATHWAY Etiologi

Faktor Janin
Faktor Ibu
Faktor Plasenta

BBLR

Jaringan lemak Prematuritas Fungsi organ-


subkutan lebih organ belum baik
Permukaan tubuh tipis
relatif lebih luas Penurunan daya
tahan
Penguapan Pemaparan Kehilangan Kekurangann Reflex reflex bayi
berlebih dgn suhu panas cadangan belum baik dan
luar melalui kulit energi lemah
Risiko
Kehilangan infeksi
cairan
Kehilangan Malnutrisi Resiko aspirasi
panas
Dehidrasi

Ketidakefektifan
hipovolemia Hipotermia kadar gula darh

Hati Usus Paru Ginjal Otak Mata Kulit

Dinding Peristaltik Halus mudah


belum Pertumbu Imaturitas Imaturitas lensa lecet
lambung
Konjugasi sempurna han ddng Imaturitas sentrum2 vital mata sekunder efek
lunak
bilirubin blm dada blm ginjal CO2
sempurna sempurna Risiko
Vesikel Regulasi infeksi
Mudah Pengosongan
paru pernafasan Retrolentral pioderma
kembung lambung Sekunder
hiperbilirubin imatur fibroplasma l
belum terapi
sempurna
Pernafasan Sepsis
Ikterus periodik Retinopati
Insufisiensi
Neonatus pernafasan
Refleks menelan
Disfungsi
Pernafasan biot belum sempurna
motilitas
gastrointestinal Penyakit
membran Pola nafas Defisit nutrisi
hialin tidak efektif
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI
DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)

OLEH :
LUH AGUSTINA RAHAYU
NIM. P07120319014
PRODI NERS ANGKATAN I SEMESTER I

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2019