Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ANGINA PECTORIS

Disusun oleh :
Vivi Nurafni Septiana
108116051

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL-IRSYAD
AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2019
I. Masalah Keperawatan
Angina Pectoris

II. Definisi
Angina Pectoris adalah perasaan tercekik di dada. Angina pectoris juga
merupakan istilah yang umum digunakan dalam kesehatan untuk
menggambarkan rasa dari nyeri dada yang disebabkan oleh iskemia miokard.
(Perrin, 2009). Istilah angina berasal dari bahasa latin yang artinya tersumbat.
Angina pectoris adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan nyeri
dada atau ketidaknyamanan akibat penyakit arteri koronari. (Morton. 2009).
Angina pectoris memiliki arti nyeri dada intermiten yang disebabkan oleh
iskemia miokardium yang refersibel dan sementara (Robbins, 2007). Angina
pectoris adalah nyeri hebat berasal dari jantung dan terjadi sebagai respon
terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium. Nyeri bisa
menyebar dilengan kiri ke punggung, ke rahang atau ke daerah abdomen
(Corwin, 2009). Jadi berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan
angina pectoris adalah nyeri hebat yang menyebar ke lengan kiri, ke
punggung, ke rahang, atau ke daerah abdomen dan terjadi sebagai akibat
suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium.

III. Etiologi
Penyebab angina pectoris adalah adanya arterosklerosis pada arteri
koroner. Adapun faktor resikonya dibagi menjadi yaitu:
A. Faktor resiko yang dapat dirubah:
1. Faktor Merokok
2. Hipertensi
3. Aktifitas fisik
4. Obesitas
5. Dislipidemia
B. Faktor resiko yang tidak dirubah:
1. Umur
2. Jenis Kelamin

Angina Pectoris | 2
3. Herediter
C. Faktor resiko lainnya:
1. Diabetes Mellitus
2. Stress
3. Alkohol
4. Hormon

IV. Klasifikasi
A. Angina Stabil
Angina stabil adalah nyeri dada yang kemungkinan terjadi karena
aktifitas. Gejala dari angina stabil biasanya terjadi karena berkurangnya
oksigen miokardium, pemakaian oksigen dan suhu yang ekstrim.
Penanganan pada angina stabil yaitu dengan pemberian nitrogliserin dan
istirahat. Pada beberapa pasien juga menggunakan kalsium chanel bloker
dan beta adrenergic blockers (Reigle, 2005).
B. Angina Prinzmetal (variant)
Karakteristik dari nyeri dada pada angina prizmetal (Variant) terjadi
pada saat istirahat atau tidak beraktivitas. Penyebab angina variant yaitu
karena adanya vasospasme arteri koroner, dimana dapat menyebabkan
peningkatan kebutuhan oksigen neokardium dan adanya segmen ST
elevasi. Jenis ini penanganannya dengan kalsium chanel blockers.
C. Angina Tidak Stabil
Angina tidak stabil terjadi pada pasien pada saat istirahat dan bisa
juga terjadi pada pasien dengan aktifitas terbatas. Menurut Metules dan
Bauer, 2005 angina yang tidak stabil merupakan awal proses terjadinya
NSTEMI.

V. Manifestasi Klinis
A. Angina Stabil
1. Rasa tidak nyaman sering menyebar ke leher, bahu dan punggung.
2. Sesak pada saat beraktifitas, kelelahan
3. Merasa tidak nyaman pada sternum seperti rasa tertekan

Angina Pectoris | 3
4. Hilang dalam waktu yang pendek sekitar 5 menit atau kurang.
B. Angina tidak stabil
1. Ciri khas ketidaknyamanan di dada pada angina ini berupa: nyeri
dada retrosternal atau percordial yang tertekan, sering menyebar ke
leher, lengan kiri, dan bahu.
2. Mual, muntah, palpitasi dan sesak napas
3. Gejala terjadi pada saat istirahat atau pada saat beraktifitas ringan
4. Tidak dapat diperkirakan
C. Angina Varians
Ketidaknyamanan retrosternal mungkin menyebar ke lengan, leher
atau rahang biasanya terjadi pada saat istirahat, sering terjadi pada waktu
pagi hari.

VI. Patofisiologi
Sakit dada pada angina pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia
miokard atau karena suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Aliran
darah berkurang karena penyempitan pembuluh darah koroner (arteri
koronaria). Penyempitan terjadi karena proses ateroskleosis atau spasme
pembuluh koroner atau kombinasi proses aterosklerosis dan spasme.
Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima
arteri besar. Timbunan ini, dinamakan ateroma atau plak akan mengganggu
absorbsi nutrient oleh sel-sel endotel yang menyusun lapisan dinding dalam
pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena timbunan ini menonjol
ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang terkena akan
mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen menjadi
semakin sempit dan aliran darah terhambat. Pada lumen yang menyempit dan
berdinding kasar, akan cenderung terjadi pembentukan bekuan darah. Hal ini
menjelaskan bagaimana terjadinya koagulasi intravaskuler, diikuti oleh
penyakit tromboemboli, yang merupakan komplikasi tersering aterosklerosis.
Pada mulanya, suplai darah tersebut walaupun berkurang masih cukup
untuk memenuhi kebutuhan miokard pada waktu istirahat, tetapi tidak cukup
bila kebutuhan oksigen miokard meningkat seperti pada waktu pasien

Angina Pectoris | 4
melakukan aktivitaas fisik yang cukup berat. Pada saat beban kerja suatu
jaringan meningkat, kebutuhan oksigennya juga meningkat. Apabila
kebutuhan oksigen meningkat pada jantung yang sehat, arteri-arteri koroner
akan berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot
jantung. Akan tetapi apabila arteri koroner mengalami kekakuan atau
menyempit akibat aterosklerosis dan tidak dapatberdilatasi sebagai respon
terhadap peningkatan kebutuhan oksigen, dan terjadi iskemia(kekurangan
suplai darah) miokardium dan sel-sel miokardium mulai menggunakan
glikolisis anaerob untuk memenuhi kebutuhan energinya. Proses
pembentukan energy ini sangat tidak efisien dan menyebabkan pembentukan
asam laktat. Asam laktat menurunkan pH miokardium dan menyebabkan
nyeri ang berkaitan dengan angina pectoris. Apabila kebutuhan energy sel-sel
jantung berkurang, suplai oksigen oksigen menjadi adekut dan sel-sel otot
kembali keproses fosforilasi oksidatif untuk membentuk energy. Proses ini
tidak menghasilkan asam laktat. Dengan menghilangnya penimbunan asam
laktat, nyeri angina pectoris mereda.

VII.Pemeriksaan Diagnostik
A. EKG
EKG merekam adanya nyeri mungkin disebabkan iskemia dengan
menggambarkan tanda ST elevasi atau depresi. Rekaman EKG selama
episode nyeri memberi kesan adanya kekakuan arteri koroner dan
meluasnya otot jantung menandakan adanya atau terjadinya iskemia.
B. EBCT (Electron Beam Computed Temography)
Tindakan non invasive ini memungkinkan mendeteksi jumlah dari
kalsium dalam arteri koroner. Karena klasifikasi terjadi dengan adanya
pembentukan dari plak aterosklerosis dikoroner. Tingginya nilai kalsium
koroner mempunyai hubungan dengan penyakit sumbatan koroner.
C. Koroner Angiography
Angiography merupakan tes atau pemeriksaan diagnostic yang
paling akurat dalam menegakkan diagnose adanya sumbatan pada arteri
koroner karena adanya aterosklerosis.

Angina Pectoris | 5
D. Foto Thoraks
Foto thorak adalah teknik yang mudah untuk melihat atau
mendeteksi adanya cardiomegaly dan penyebab nyeri dada yang bukan
pada bagian jantung (misalnya; pleuritis atau pneumonia).
E. Pemeriksaan Laboratorium
Ketika sel miokardium mengalami kerusakan karena adanya infark,
biokimia dalam aliran darah dapat dideteksi dengan tes laboratorium.
1. Kreatinin kinase
2. Troponin
3. Myoglobin

VIII. Penatalaksaan
Ada dua tujuan utama penatalaksanaan angina pectoris :
A. Mencegah terjadinya infark miokard dan nekrosis, dengan demikian
meningkatkan kuantitas hidup.
B. Mengurangi symptom dan frekwensi serta beratnya ischemia, dengan
demikian meningkatkan kualitas hidup.
Prinsip penatalaksanaan angina pectoris adalah: meningkatkan
pemberian oksigen (dengan meningkatkan aliran darah koroner) dan
menurunkan kebutuhan oksigen (dengan mengurangi kerja jantung).
A. Terapi Farmakologis untuk anti angina dan anti iskhemia
1. Penyekat Beta
Obat ini merupakan terapi utama pada angina. Penyekat beta
dapat menurunkan kebutuhan oksigen miokard dengan cara
menurunkan frekwensi denyut jantung, kontraktilitas, tekanan di
arteri dan peregangan pada dinding ventrikel kiri. Efek samping
biasanya muncul bradikardi dan timbul blok atrioventrikuler.
Obat penyekat beta antara lain: atenolol, metoprolol, propranolol,
nadolol.
2. Nitrat dan Nitrit
Merupakan vasodilator endothelium yang sangat bermanfaat
untuk mengurangi symptom angina pectoris, disamping juga

Angina Pectoris | 6
mempunyai efek antitrombotik dan antiplatelet. Nitrat
menurunkan kebutuhan oksigen miokard melalui pengurangan
preload sehingga terjadi pengurangan volume ventrikel dan
tekanan arterial. Salah satu masalah penggunaan nitrat jangka
panjang adalah terjadinya toleransi terhadap nitrat. Untuk
mencegah terjadinya toleransi dianjurkan memakai nitrat dengan
periode bebas nitrat yang cukup yaitu 8 – 12 jam. Obat golongan
nitrat dan nitrit adalah : amil nitrit, ISDN, isosorbid mononitrat,
nitrogliserin.
3. Kalsium Antagonis
Obat ini bekerja dengan cara menghambat masuknya kalsium
melalui saluran kalsium, yang akan menyebabkan relaksasi otot
polos pembulu darah sehingga terjadi vasodilatasi pada pembuluh
darah epikardial dan sistemik. Kalsium antagonis juga
menurunkan kabutuhan oksigen miokard dengan cara
menurunkan resistensi vaskuler sistemik. Golongan obat kalsium
antagonis adalah amlodipin, bepridil, diltiazem, felodipin,
isradipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, verapamil.
4. Terapi Farmakologis untuk mencegah Infark miokard akut
a. Terapi antiplatelet, obatnya adalah aspirin diberikan pada
penderita PJK baik akut atau kronik, kecuali ada kontra
indikasi, maka penderita dapat diberikan tiiclopidin atau
clopidogrel.
b. Terapi Antitrombolitik, obatnya adalah heparin dan warfarin.
Penggunaan antitrombolitik dosis rendah akan menurunkan
resiko terjadinya ischemia pada penderita dengan factor
resiko .
c. Terapi penurunan kolesterol, simvastatin akan menurunkan
LDL (low density lipoprotein) sehingga memperbaiki fungsi
endotel pada daerah atheroskelerosis maka aliran darah di
arteria koronaria lebih baik.

Angina Pectoris | 7
B. Revaskularisasi Miokard
Angina pectoris dapat menetap sampai bertahun-tahun dalam
bentuk serangan ringan yang stabil. Namun bila menjadi tidak stabil
maka dianggap serius, episode nyeri dada menjadi lebih sering dan
berat, terjadi tanpa penyebab yang jelas. Bila gejala tidak dapat
dikontrol dengan terapi farmakologis yang memadai, maka tindakan
invasive seperti PTCA (angioplasty coroner transluminal percutan)
harus dipikirkan untuk memperbaiki sirkulasi koronaria.
C. Terapi Non Farmakologis
Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan
kebutuhan oksigen jantung antara lain : pasien harus berhenti
merokok, karena merokok mengakibatkan takikardia dan naiknya
tekanan darah, sehingga memaksa jantung bekerja keras. Orang
obesitas dianjurkan menurunkan berat badan untuk mengurangi kerja
jantung. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang
dapat menimbulkan vasokontriksi pembulu darah. Pengontrolan gula
darah. Penggunaan kontra sepsi dan kepribadian seperti sangat
kompetitif, agresif atau ambisius.

IX. Diagnosa Keperawatan


A. Nyeri akut berhubungan dengan ateroskelorosis atau spasme koroner
B. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan kebutuhan
C. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian

X. Intervensi Keperawatan
A. Nyeri akut berhubungan dengan ateroskelorosis atau spasme koroner
1. Monitor karakteristik nyeri; kualitas, lokasi, skala, dan durasi nyeri.
2. Instruksikan pasien untuk rileks dan istirahat.
3. Kolaborasi pemberian oksigen
4. Monitor tanda-tanda vital selama nyeri dada.

Angina Pectoris | 8
5. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri klien sebelumnya.
6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non
farmakologis)..
7. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk
mengetasi nyeri..
8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
9. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ontrol nyeri.
10. Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian
analgetik tidak berhasil.
11. Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.
B. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan kebutuhan
1. Menganjurkan istirahat diantara aktifitas.
2. Ingatkan pasien untuk tidak bekerja dengan menggunakan lengan
dan bahu dalam jangka waktu yang lama.
3. Ingatkan pasien untuk berobat secara berlanjut (seperti beta
blockers).
4. Menilai tekanan darah dan nadi sebelum, selama, dan sesudah
aktifitas.
C. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian
1. Pantau tanda dan gejala dari ansietas.
2. Berikan informasi tentang penyakit dan prognosis pasien.
3. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan pada orang yang
penting pada pasien.
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat (misalnya, sedative)

XI. Daftar Pustaka


https://www.academia.edu/10027300/laporan_pendahuluan_angina_pectoris.
Diakses pada 07 Januari 2020
https://www.academia.edu/4941112/ASKEP_ANGINA_PECTORIS. Diakses
pada 07 Januari 2020

Angina Pectoris | 9
Angina Pectoris | 10