Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

PENAGGANAN LIMBAH KIMIA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

Jumana

Ummi Kalsum

Syifa Adhiyaksa

DIII FARMASI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN PANGKALPINANG

TAHUN AJARAN 2020 /2021


PENDAHULUAN

A.Definisi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)

Kesehatan & keselamatan kerja yakni merupakan suatu bidang yang berhubungan
dengan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan manusia yang bekerja di pabrik, atau
lokasi proyek. Adapun Kesehatan serta keselamatan kerja sangat penting terhadap moral,
legalitas dan finansial.

Jika di atas tadi adalah pengertian Kesehatan dan keselamatan kerja secara umum,
Nah, di bawah ini pengertian kerja menurut ahli, diantaranya ;

1.1.KepmenakerNomor463/MEN/1993
Menurut Kepmenaker, kesehatan dan keselamatan Kerja yakni upaya perlindungan
yang ditujukan agar pekerja dan orang lainnya yangberada di ditempat kerja/perusahaan
atau di suatu instansi selalu dalam keadaan selamat dan sehat, selain itu juga agar setiap
sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.

1.2.OHSAS(180001:2007)
Menurut OHSAS, Kesehatan dan Keselamatan Kerja yakni ialah kondisi dan faktor
yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja serta orang-orang yang berada
di tempat kerja tersebut.

1.3.Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 pasal 87

Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja yakni


setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

B.Capaian Pembelajaran

1. Mawasiswa diharapkan mampu mengetahui apa itu k3.


2. Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan k3 dalam kehidupan bermasyarakat
atau pun dalam lingkungan kerja.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan limbah.
2. Untuk mengetahui yang termasuk jenis limbah beracun.
3. Untuk mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi
limbah di laboratorium.

A. Pengertian Limbah
Definisi Limbah adalah benda (Padat, Cair, Gas, B3) yang tidak diperlukan dan dibuang,
limbah pada umumnya mengandung bahan pencemar dengan konsentrasi bervariasi. Bila
dikembalikan ke alam dalam jumlah besar, limbah ini akan terakumulasi di alam sehingga
mengganggu keseimbangan ekosistem Alam.
Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap
masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah adalah sisa produksi baik dari alam
maupun hasil dari kegiatan manusia. Beberapa pengertian tentang limbah: 1. Berdasarkan
keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang prosedur impor limbah,
menyatakan bahwa Limbah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau
proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya. 2. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari
suatu usaha dan/atau kegiatan manusia.
Berikut beberapa pendapat menurut para ahli:
2.1. Karmana (2007)
Limbah adalah sisa atau sampah suatu proses programsi yang dapat menjadi
bahan pencemaran atau polutan disuatu lingkungan. Banyak kegiatan manusia yang
menghasilkan limbah antara lain kegiatan industri, transportasi, rumah tangga dan
kegiatan lainnya.

2.2.Susilowarno (2007)
Limbah merupakan sisa atau hasil sampingan dari kegiatan programsi manusia dalam
upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Pembungan limbah yang tidak diolah terlebih
dulu sebelum dibuang ke dalam lingkungan akan menyebabkan polusi.

2.3.Stokes (1991)
Menurut Stokes, definisi limbah adalah sebagai berikut :
 Limbah infeksius: adalah limbah yang mampu menimbulkan penyakit
 Limbah berbahaya: adalah limbah yang membahayakna manusia dan lingkungannya
 Limbah toksik: limbah yang mampu menimbulkan efek toksik
 Limbah medik: adalah setiap limbah padat yang terjadi saat penegakan diagnosis, perawatan
atau pengimunisasian manusia maupun hewan
2.4.Tchobanoglous dan Elliassen (1979)
Pengertian limbah adalah gabungan cairan atau sampah yang terbawa air dari tempat
tinggal, kantor, bangunan perdagangan, industri, serta air tanah, air permukaan, dan air
hujan yang mungkin ada

2.5.Willgoose
Limbah cair adalah air yang membawa sampah dari tempat tinggal, bangunan
perdagangan, dan industri berupa campuran air dan bahan padat terlarut atau bahan
tersuspensi.

Limbah Laboratorium adalah buangan yang berasal dari laboratorium. Dalam hal ini
khususnya adalah laboratorium kimia. Limbah ini dapat berasal dari bahan kimia, peralatan
untuk pekerjaan laboratorium dan lain-lain. Limbah laboratorium ini mempunyai resiko
berbahaya bagi lingkungan dan mahluk hidup.

B. Klasifikasi atau Penggolongan Bahan Kimia


Klasifikasi atau penggolongan bahan kimia berbahaya diperlukan untuk memudahkan
pengenalan serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum bahan kimia berbahya
diklasifikasikan menjadi beberapa golongan diantaranya sebagai berikut :
1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)
Bahan kimia beracun adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap
kesehatan manusia atau menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh karena
tertelan, lewat pernafasan atau kontak lewat kulit.
Pada umumnya zat toksik masuk lewat pernafasan atau kulit dan kemudian beredar
keseluruh tubuh atau menuju organ-organ tubuh tertentu. Zat-zat tersebut dapat langsung
mengganggu organ-organ tubuh tertentu seperti hati, paru-paru, dan lain-lain. Tetapi dapat
juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang, darah, hati, atau cairan limpa dan
menghasilkan efek kesehatan pada jangka panjang. Pengeluaran zat-zat beracun dari dalam
tubuh dapat melewati urine, saluran pencernaan, sel efitel dan keringat.
2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
Bahan kimia korosif adalah bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat
mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain.Zatkorosif
dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit, mata, dan saluran pernafasan. Kerusakan dapat
berupa luka, peradangan, iritasi (gatal-gatal) dan sinsitisasi (jaringan menjadi amat peka
terhadap bahan kimia).
3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
Bahan kimia mudah terbakar adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan
oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran. Reaksi kebakaran yang amat cepat dapat juga
menimbulkan ledakan.
4. Bahan Kimia Peledak (Explosive)
Bahan kimia peledak adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang
karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta
suhu yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya.
Zat eksplosif amat peka terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau
tumbukan), ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti
trinitrotoluene (TNT), nitrogliserin dan ammonium nitrat (NH4NO3).
5. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
Bahan kimia oksidator adalah suatu bahan kimia yang mungkin tidak mudah terbakar,
tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan-bahan lainnya.
6. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water SensitiveSubstances)
Bahan kimia reaktif terhadap air adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi
dengan air dengan mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar.
7. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid SensitiveSubstances)
Bahan kimia reaktif terhadap asam adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi
dengan asam menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar atau gas-gas yang beracun
dan korosif.
8. Gas Bertekanan (CompressedGases)’
Gas bertekanan adalah gas yang disimpan dibawah tekanan, baik gas yang ditekan
maupun gas cair atau gas yang dilarutkan dalam pelarut dibawah tekanan.
9. Bahan Kimia Radioaktif (RadioactiveSubstances)
Bahan kimia radioaktif adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan
memancarkan sinar radioaktif dengan aktivitas jenis lebih besar dari 0,002 microcurie/gram.
Suatu bahan kimia dapat termasuk diantara satu atau lebih golongan di atas karena
memang mempunyai sifat kimia yang lebih dari satu sifat.

C. Jenis-jenis Limbah Beracun

Jenis-jenis limbah beracun yaitu :


1. Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat
menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat
merusak lingkungan.
2. Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api,
percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan
bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.
3. Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena
melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil
dalam suhu tinggi.
4. Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi
manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila
masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
5. Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi
penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh
manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi.
6. Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada
kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk
limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.

D. Penanganan Bahan Kimia Dilaboratorium


Beberapa cara dapat dilakukan dalam upaya penanganan bahan kimia di laboratorium,
berikut cara yan dapat dilakukan :
1. Lembar Data Berbahaya
Lembar data bahaya (Hazard Data Sheets/HDSs) terkadang disebut Material Safety Data
Sheets (MSDSs) atau Chemical Safety Data Sheet (CSDSs) adalah lembar informasi yang
detail tentang bahan-bahan kimia. Umumnya lembar ini disiapkan dan dibuat oleh pabrik
kimia atau suatu program, seperti International Programme On Chemical Safety (IPCS) yang
aktifitasnya terkait dengan World Health Organization (WHO), International Labour
Organization (ILO), dan United Environment Programme (UNEP). HDSs/MSDSs/CSDSs
merupakan sumber informasi tentang bahan kimia yang penting dan dapat diakses tetapi
kualitasnya dapat bervariasi. Jika anda menggunakan HDSs, berhati-hatilah terhadap
keterbatasannya, sebagai contoh, HDSs sering sulit untuk dibaca dan dimengerti.
Keterbatasan lain yang serius adalah seringnya tidak memuat informasi yang cukup tentang
bahaya dan peringatan penting yang anda butuhkan ketika bekerja dengan bahan kimia
tertentu. Untuk mengatasi keterbatasan ini, kapanpun dimungkinkan untuk menggunakan
sumber informasi lain secara bersama-sama dengan HDSs. Suatu ide yang baik untuk
mewakili kasehatan dan keselamatan dengan menyimpan lembar data bahaya pada setiap
penggunaan bahan kimia di tempat kerja.
2. Pemasangan Label dan Tanda Pada Bahan Berbahaya
Pemasangan label dan tanda dengan memakai lambang atau tulisan peringatan pada
wadah atau tempat penyimpanan untuk bahan berbahaya adalah tindakan pencegahan yang
esensial. Tenaga kerja yang bekerja pada proses produksi atau pengangkutan biasanya belum
mengetahui sifat bahaya dari bahan kimia dalam wadah/packingnya, demikian pula para
konsumen dari barang tersebut, dalam hal inilah pemberian label dan tanda menjadi sangat
penting.
Peringatan tentang bahaya dengan label dan tanda merupakan syarat penting dalam
perlindungan keselamatan kerja, namun hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai
perlindungan yang sudah lengkap, usaha perlindungan keselamatan lainnya masih tetap
diperlukan.
3. Penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya
Mengelompokkan bahan kimia berbahaya di dalam penyimpanannya mutlak diperlukan,
sehingga tempat/ruangan yang ada dapat di manfaatkan sebaik-baiknya dan aman.
Mengabaikan sifat-sifat fisik dan kimia dari bahan yang disimpan akan mengandung bahaya
seperti kebakaran, peledakan, mengeluarkan gas/uap/debu beracun, dan berbagai kombinasi
dari pengaruh tersebut.

Penyimpanan bahan kimia berbahaya sebagai berikut :


1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)
Bahan ini dalam kondisi normal atau dalam kondisi kecelakaan ataupun dalam kondisi
kedua-duanya dapat berbahaya terhadap kehidupan sekelilingnya. Bahan beracun harus
disimpan dalam ruangan yang sejuk, tempat yang ada peredaran hawa, jauh dari bahaya
kebakaran dan bahan yang inkompatibel (tidak dapat dicampur) harus dipisahkan satu sama
lainnya.
Jika panas mengakibatkan proses penguraian pada bahan tersebut maka tempat
penyimpanan harus sejuk dengan sirkulasi yang baik, tidak terkena sinar matahari langsung
dan jauh dari sumber panas.
2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
Beberapa jenis dari bahan ini mudah menguap sedangkan lainnya dapat bereaksi dahsyat
dengan uap air. Uap dari asam dapat menyerang/merusak bahan struktur dan peralatan selain
itu beracun untuk tenaga manusia. Bahan ini harus disimpan dalam ruangan yang sejuk dan
ada peredaran hawa yang cukup untuk mencegah terjadinya pengumpulan uap.
Wadah/kemasan dari bahan ini harus ditangani dengan hati-hati, dalam keadaan tertutup dan
dipasang label. Semua logam disekeliling tempat penyimpanan harus dicat dan diperiksa
akan adanya kerusakan yang disebabkan oleh korosi.
Penyimpanannya harus terpisah dari bangunan lain dengan dinding dan lantai yang tahan
terhadap bahan korosif, memiliki perlengkapan saluran pembuangan untuk tumpahan, dan
memiliki ventilasi yang baik. Pada tempat penyimpanan harus tersedia pancaran air untuk
pertolongan pertama bagi pekerja yang terkena bahan tersebut.
3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
Praktis semua pembakaran terjadi antara oksigen dan bahan bakar dalam bentuk uapnya
atau beberapa lainnya dalam keadaan bubuk halus. Api dari bahan padat berkembang secara
pelan, sedangkan api dari cairan menyebar secara cepat dan sering terlihat seperti meledak.
Dalam penyimpanannya harus diperhatikan sebagai berikut :
a) Disimpan pada tempat yang cukup dingin untuk mencegah penyalaan tidak sengaja pada
waktu ada uap dari bahan bakar dan udara
b) Tempat penyimpanan mempunyai peredaran hawa yang cukup, sehingga bocoran uap akan
diencerkan konsentrasinya oleh udara untuk mencegah percikan api
c) Lokasi penyimpanan agak dijauhkan dari daerah yang ada bahaya kebakarannya
d) Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat, bahan yang mudah menjadi
panas dengan sendirinya atau bahan yang bereaksi dengan udara atau uap air yang lambat
laun menjadi panas
e) Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan mudah dicapai
f) Singkirkan semua sumber api dari tempat penyimpanan
g) Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok
h) Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta dilengkapi alat deteksi
asap atau api otomatis dan diperiksa secara periodik
4. Bahan Kimia Peledak (Explosive)
Terhadap bahan tersebut ketentuan penyimpananya sangat ketat, letak tempat
penyimpanan harus berjarak minimum 60[meter] dari sumber tenaga, terowongan, lubang
tambang, bendungan, jalan raya dan bangunan, agar pengaruh ledakan sekecil mungkin.
Ruang penyimpanan harus merupakan bangunan yang kokoh dan tahan api, lantainya terbuat
dari bahan yang tidak menimbulkan loncatan api, memiliki sirkulasi udara yang baik dan
bebas dari kelembaban, dan tetap terkunci sekalipun tidak digunakan. Untuk penerangan
harus dipakai penerangan alam atau lampu listrik yang dapat dibawa atau penerangan yang
bersumber dari luar tempat penyimpanan. Penyimpanan tidak boleh dilakukan di dekat
bangunan yang didalamnya terdapat oli, gemuk, bensin, bahan sisa yang dapat terbakar, api
terbuka atau nyala api. Daerah tempat penyimpanan harus bebas dari rumput kering, sampah,
atau material yang mudah terbakar, ada baiknya memanfaatkan perlindungan alam seperti
bukit, tanah cekung belukar atau hutan lebat.
5. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
Bahan ini adalah sumber oksigen dan dapat memberikan oksigen pada suatu reaksi
meskipun dalam keadaan tidak ada udara. Beberapa bahan oksidator memerlukan panas
sebelum menghasilkan oksigen, sedangkan jenis lainnya dapat menghasilkan oksigen dalam
jumlah yang banyak pada suhu kamar. Tempat penyimpanan bahan ini harus diusahakan
agar suhunya tetap dingin, ada peredaran hawa, dan gedungnya harus tahan api. Bahan ini
harus dijauhkan dari bahan bakar, bahan yang mudah terbakar dan bahan yang memiliki titik
api rendah.
Alat-alat pemadam kebakaran biasanya kurang efektif dalam memadamkan kebakaran
pada bahan ini, baik penutupan ataupun pengasapan, hal ini dikarenakan bahan oksidator
menyediakan oksigen sendiri.
6. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water SensitiveSubstances)
Bahan ini bereaksi dengan air, uap panas atau larutan air yang lambat laun mengeluarkan
panas atau gas-gas yang mudah menyala. Karena banyak dari bahan ini yang mudah terbakar
maka tempat penyimpanan bahan ini harus tahan air, berlokasi ditanah yang tinggi, terpisah
dari penyimpanan bahan lainnya, dan janganlah menggunakan sprinkler otomatis di dalam
ruang simpan.
7. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid SensitiveSubstances)
Bahan ini bereaksi dengan asam dan uap asam menghasilkan panas, hydrogen dan gas-
gas yang mudah menyala. Ruangan penyimpanan untuk bahan ini harus diusahakan agar
sejuk, berventilasi, sumber penyalaan api harus disngkirkan dan diperiksa secara berkala.
Bahan asam dan uap dapat menyerang bahan struktur campuran dan menghasilkan hydrogen,
maka bahan asam dapat juga disimpan dalam gudang yang terbuat dari kayu yang
berventilasi. Jika konstruksi gudang trbuat dari logam maka harus di cat atau dibuat kebal
dan pasif terhadap bahan asam.
8. Gas Bertekanan (CompressedGases)
Silinder dengan gas-gas bertekanan harus disimpan dalam keadaan berdiri dan diikat
dengan rantai atau diikat secara kuat pada suatu penyangga tambahan. Ruang penyimpanan
harus dijaga agar sejuk , bebas dari sinar matahari langsung, jauh dari saluran pipa panas di
dalam ruangan yang ada peredaran hawanya. Gedung penyimpanan harus tahan api dan
harus ada tindakan preventif agar silinder tetap sejuk bila terjadi kebakaran, misalnya dengan
memasang sprinkler.
9. Bahan Kimia Radioaktif (RadioactiveSubstances)
Radiasi dari bahan radioaktif dapat menimbulkan efek somatik dan efek genetik, efek
somatik dapat akut atau kronis. Efek somatik akut bila terkena radiasi 200[Rad] sampai
5000[Rad] yang dapat menyebabkan sindroma system saraf sentral, sindroma gas
trointestinal dan sindroma kelainan darah, sedangkan efek somatik kronis terjadi pada dosis
yang rendah. Efek genetik mempengaruhi alat reproduksi yang akibatnya diturunkan pada
keturunan. Bahan ini meliputi isotop radioaktif dan semua persenyawaan yang mengandung
radioaktif. Pemakai zat radioaktif dan sumber radiasi harus memiliki instalasi fasilitas atom,
tenaga yang terlatih untuk bekerja dengan zat radioaktif, peralatan teknis yang diperlukan dan
mendapat izin dari BATAN.
Penyimpanannya harus ditempat yang memiliki peralatan cukup untuk memproteksi
radiasi, tidak dicampur dengan bahan lain yang dapat membahayakan, packing/kemasan dari
bahan radioaktif harus mengikuti ketentuan khusus yang telah ditetapkan dan keutuhan
kemasan harus dipelihara.

E. Cara Pengelolan Limbah


Setiap limbah mempunyai cara pengolaham tersendiri tergantung dari jenisnya. Berikut
adalah cara pengolahan limbah berdasarkan jenisnya:
1. Pengolahan Limbah Padat
a. Penimbunan Terbuka
Terdapat11 dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan
terbuka (opendumping) dan metode sanitarylandfill. Di lahan penimbunan terbuka, berbagai
hama dan kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh
pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk
serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan
mencemari tanah serta air.

b. SanitaryLandfill
Pada metode sanitarylandfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi lapisan
lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah. Pada
landfillyang lebih modern, biasanya dibuat sistem Iapisan ganda (plastik – lempung – plastik
– lempung) dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan yang
terbentuk dari proses pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik.

c. Insinerasi
Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu alat yang disebut
insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat
banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan.

2. Pengolahan Limbah Pada Fasa Cair (Water Phase Treatment)


Sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan berikut:
 Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum
 Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan
 Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di dalam
penggunaannya sehari-hari
 Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang mengakibatkan penyakit
 Tidak terbuka dan harus tertutup
 Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap

Pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

1. Pengolahan secara Fisika


Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan
bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap
dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan.
2. Pengolahan secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-
partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan
zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan.
3. Pengolahan secara Biologi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan
sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah
dan efisien.

3. Pengolahan Limbah Fasa Gas (Gas Phase Treatment)


1. Mengontrol Emisi Gas Buang
Emisi gas buang dapat dikurangi dengan mulai menggunakan sumber bahan bakar
alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
2. Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
 Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack, agar tidak
ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja yang keluar dari
cerobong.
 Pengendap Siklon atau CycloneSeparators adalah pengedap debu / abu yang ikut
dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.
 Membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat,
sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat.
 Dengan pengendap elektrostatik, yaitu menggunakan arus listrik untuk mengionkan
limbah. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif
dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai.
A. Kesimpulan
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah mengandung
bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya. Limbah ini dikenal dengan limbah B3
(bahan beracun dan berbahaya).
bahaya. Limbah ini dikenal dengan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya).
Jenis-jenis bahan beracun salah satunya yaitu Limbah mudah meledak adalah limbah
yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang
dengan cepat dapat merusak lingkungan.
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi limbah di laboratorium
yaitu Penggunaan kembali limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan,
setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh: (hal ini paling sesuai untuk
pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform, dan dietil eter
dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan dilakukan destilasi.
Tes formatif

1.Jenis-jenis limbah beracun yaitu :

1. Limbah mudah meledak


2. Limbah mudah terbakar
3. Limbah tidak reaktif.
4. Limbah B3.
5. Limbah yang tidak infeksi
Dari jenis limbah diatas mana yang tidak termasuk jenis-jenis limbah beracun?
a. 1,3 dan 5
b. 2,4, dan 5
c. 4 dan 5
d. 3 dan 5
e. 1,2 dan 4

2.Bagaimana cara pengolaham limbah padat?

a. Penimbunan Terbuka
b. Tidak terbuka dan harus tertutup
c. Boleh tertutup dan terbuka
d. Degan cara dibakar
e. Dengan Bahan Kimia

Jawab 1.C,2.A