Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia
serta menjadi hak asasi bagi setiap orang. Seperti yang tercantum dalam
undang-undang RI No.39 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa
kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu untuk kesejahteraan
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 (Lilipory,2008
dalam Sampeluna, 2013).

Menurut Departemen Kesehtan RI (1998), mutu pelayanan adalah yang


menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang disatu
pihak menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat
kepuasan penduduk, serta pada pihak lain, tata pelayanan sesuai dengan kode
etik dan standart pelayanan professional yang telah ditetapkan. Pengertian ini
dijadikan pedoman untuk pelayanan bagi Departemen Kesehatan RI dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada kenyataannya, didalam masyarakat terdapat ragam konsep sehat sakit


yang tidak sejalan dan bahkan dengan konsep sehat sakit yang diberikan oleh
pihak penyelenggara pelayanan kesehatan. Timbulnya perbedaan konsep
sehat-sakit yang diberikan oleh pihak penyelenggara pelayanan kesehatan
disebabkan adanya persepsi sakit yang berbeda antara masyarakat dan, pihak
penyelenggara pelayanan kesehatan. Ada perbedaan persepsi yang berkisar
antara penyakit dengan rasa sakit ( Notoatmojo,2014).

Terdapat beberapa faktor yang mempengarui tingkat pemanfaatan pelayanan


kesehatan sebagaimana dikemukakan oleh Swanju (2005) dalam Anggraeni
(2012), yaitu yang berasal dari penyedia layanan kesehatan dan faktor
masyarakat pengguna pelayanan kesehatan. Tiga faktor dari penyedia
pelayanan kesehatan adalah fasilitas pelayanan, dan jarak, sedangkan faktor
dari masyarakat penggguna pelayanan kesehatan adalah faktor pendidikan

1
2

dan status social ekonomi masyarakat. Sedangkan menurut Dever (1984),


faktor yang mempengarui pemanfaatan pelayanan kesehatan ditingkat
puskesmas yaitu faktor konsumen berupa: pendidikan, mata pencaharian,
pengetahuan dan persepsi pasien: faktor organisasi yang berupa: ketersedian
sumber daya, keterjangkauan lokasi layanan, dan akses social: serta faktor
pemberi layanan diantaranya: perilaku petugas kesehatan.

Persepsi pasien tentang pelayanan kesehatan memegang peranan yang sangat


penting. Kualitas pelayanan akan terpenui apabila proses penyampaian jasa
dari pemberi jasa kepada pasien sesuai dengan apa yang dipersepsikan oleh
pasien. Welch dan Kocia (2002) menyatakan bahwa kaitan layanan
merupakan jaminan berhak untuk menciptakan dan mempertahankan
konsumen dan benteng pertahanan dalam menghadapi persaingan global.

Pendidikan Profesi yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang


mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan
keahlian khusus. Sedangkan jenjang pendidikan keperawatan mencakup
program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor. Sesuai
dengan amanah UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 tersebut Organisasi Profesi
yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Asosiasi Pendidikan
Ners Indonesia (AIPNI), bersama dukungan dari Kementerian Pendidikan
Nasional (Kemendiknas), telah menyusun dan memperbaharui kelengkapan
sebagai suatu profesi.

Penyelenggaraan pendidikan Profesi Ners telah mengalami perkembangan


sejalan dengan diberlakukannya kurikulum pendidikan Ners yang mengacu
pada KBK AIPNI tahun 2010 oleh para anggota AIPNI (Asosiasi Institusi
Pendidikan Ners Indonesia). Selama 4 tahun berjalan, kurikulum KBK AIPNI
tahun 2010 perlu dilakukan peninjauan untuk merespon perubahan dan
perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar institusi. Salah satu
faktor eksternal yang memicu perlunya peninjauan ini adalah telah
dikeluarkannya Peraturan Presiden RI No 8 tahun 2012 tentang Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang mengatur tentang kualitas SDM
diberbagai bidang termasuk keperawatan. Luaran dari kurikulum pendidikan
3

Ners harus menjamin tercapainya kompetensi Ners sesuai dengan capaian


pembelajaran (Learning Outcome) KKNI Level 7 untuk pendidikan profesi.

Kurikulum tahun 2015 tersebut berlandaskan kepada peraturan-peraturan


terkini yang ada di Indonesia, dengan mempertimbangkan kebutuhan
pemangku kepentingan dan tuntutan dari organisasi profesi yang
mengharapkan lulusan berstandar internasional dan sesuai dengan Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia level 7. Capaian pembelajaran yang harus
dipenuhi oleh lulusan program pendidikan Profesi sesuai dengan KKNI level
7 terdiri atas 4 komponen yaitu komponen sikap, kemampuan kerja umum
dan khusus, penguasaan pengetahuan, serta kewenangan dan tanggung jawab.
Komponen sikap dan kemampuan kerja umum mengacu pada standar
nasional pendidikan tinggi yang merupakan capaian pembelajaran yang
bersifat umum untuk seluruh lulusan pendidikan tinggi di Indonesia.
Sedangkan untuk komponen penguasaan pengetahuan, kemampuan kerja
khusus dan kewenangan dan tanggung jawab mengacu pada KKNI level 7
bidang keperawatan yang telah disepakati oleh tim penyusun KKNI Dikti
yang melibatkan organisasi profesi PPNI dan AIPNI (AIPNI, 2010).

Selama pendidikan profesi praktikan dapat mencapai kemampuan


ketrampilan profesional yang meliputi kemampuan teknikal, intelektual dan
interpersonal dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Kompetensi yang
harus dicapai dalam menempuh Profesi Ners sebanyak 36 SKS sesuai dengan
AIPNI 2015 yang meliputi Ketrampilan Dasar Profesi I (2 SKS), Ketrampilan
Dasar Profesi II (2 SKS), Keperawatan Medikal Bedah (6 SKS), Keperawatan
Anak (3 SKS), Keperawatan Maternitas (3 SKS), Keperawatan Jiwa (2 SKS),
Keperawatan Gerontik (3 SKS), Keperawatan Gawat Darurat (3 SKS),
Keperawatan Komunitas (3 SKS), Keperawatan Keluarga (3 SKS),
Manajemen Keperawatan (2 SKS) dan Pratika senior (4 SKS). Metode yang
digunakan selama pembelajaran adalah diskusi (pre dan post conference),
BST (Bed Side Teaching), ronde keperawatan, seminar, presentasi jurnal,
SOCA (Student Oral Case Analysis), role play, tutorial, TAK (Terapi
Aktifitas Kelompok), terapi bermain, pendidikan kesehatan, penerapan
asuhan keperawatan berdasarkan Evidence Base Practice dan penerapan
4

program inovasi.

Adapun metode dalam memberikan asuhannya menggunakan proses


keperawatan yang meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil dari praktek profesi ini
memberi kesempatan kepada praktikan untuk berpikir kritis dan ilmiah dalam
menyelesaikan masalah klien, sehingga dapat memfasilitasi penyesuaian
lingkungan akademis kepada lingkungan profesional. Selain itu diperoleh
peningkatan kemampuan interpersonal dan kemampuan tehnikal dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Pada pelaksanaan praktika
senior pratikan juga berkesempatan untuk memfasilitasi adanya perubahan
menjadi “change agent” bagi pengembangan ilmu keperawatan.

Pendidikan program Profesi Ners memberikan peluang kepada praktikan


untuk menerapkan konsep, teori dan prinsip ilmu perilaku, sosial, biomedik
dan perawatan kepada individu, kelompok dan masyarakat. Praktikan
diharapkan mampu untuk berfikir kritis, ilmiah dan mampu mengasah
kemampuan soft skill yang dimiliki untuk mencari solusi yang terbaik dalam
setiap masalah yang dihadapi, karena dalam pelaksanaannya praktikan akan
dihadapkan pada pengalaman dan fenomena yang bervariasi.

Oleh karena itu hasil dari praktek profesi ini memberi kesempatan kepada
praktikan untuk berpikir kritis dan ilmiah dalam menyelesaikan masalah
pasien, sehingga praktikan yang diluluskan pada jenjang level ini mempunyai
pengetahuan, kemampuan, kewenangan, dan tanggung jawab dalam proses
keperawatan yang akan digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mempersiapkan praktikan melalui penyesuaian profesional dalam bentuk
pengalaman belajar klinik dan lapangan secara komprehensif dan
profesional.
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keterampilan dasar profesi.
b. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keperawatan medikal bedah
c. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
5

departemen keperawatan maternitas.


d. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keperawatan anak.
e. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keperawatan gerontik.
f. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keperawatan komunitas
g. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen manajemen keperawatan.
h. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen keperawatan keluarga
i. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen gawat darurat
j. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen jiwa
k. Menjelaskan kompetensi khusus pada asuhan keperawatan
departemen praktika senior

C. Manfaat
Laporan praktik Profesi Ners ini bermanfaat bagi:
1. Pelayanan Keperawatan
Pelayanan keperawatan dapat menjadikan praktik profesi ners sebagai
partner dalam membantu pelayanan kesehatan di lahan klinik pelayanan
keperawatan.
2. Keilmuan
Dengan adanya praktik profesi ners ilmu pengetahuan dapat semakin
berkembang karena praktikan secara langsung mengaplikasikan ilmu
yang di dapatkan selama pendidikan akademik.
3. Institusi Pendidikan Keperawatan
Dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk memperkaya ilmu
pengetahuan dan memperluas referensi ilmu keperawatan. serta
memberikan saran yang ilmiah sehingga dapat dipergunakan sebagai
pertimbangan dan bahan evaluasi dalam upaya meningktakan kualitas
6

kemampuan peserta didik nantinya saat melakukan pendidikan profesi


sehingga dapat menciptakan lulusan yang handal dan profesional.
4. Praktikan Selanjutnya
Praktikan selanjutnya dapat menggunakan sebagai acuan atau gambaran
dalam melaksanakan praktik profesi ners agar lebih kreatif dan inovatif
sehingga pada tahap profesi dapat mengaplikasikan sesuai standart dan
dapat menjadi lulusan Ners profesional yang dapat bersaing di dunia
kerja.