Anda di halaman 1dari 19

Gawat Janin dalam Persalinan

a. Pengertian Gawat Janin

Gawat janin adalah Denyut jantung janin (DJJ) kurang dari 100 per

menit atau lebih dari 180 per menit (Nugroho, 2012). Gawat janin

terjadi bila janin tidak menerima O2 yang cukup, sehingga akan

mengalami hipoksia. Situasi ini dapat terjadi (kronik) dalam jangka

waktu yang lama atau akut. Disebut gawat janin bila ditemukan denyut

jantung janin diatas 160/menit atau dibawah 100/menit, denyut jantung

tidak teratur, atau keluarnya mekonium yang kental pada awal

persalinan (Prawirohardjo, 2009). Gawat janin merupakan suatu reaksi

ketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup (Dewi.A.h.,

Cristine.C.P., 2010).

b. Penyebab Gawat Janin

Menurut Prawirohardjo (2007) penyebab gawat janin sebagai

berikut :

1) Persalinan berlangsung lama

Persalinan lama adalah persalinan yang terjadi lebih dari 24 jam

pada primigravida dan lebih dari 18 jam pada multigravida

(Nugrahaeni, 2010). Persalinan lama dapat mengakibatkan ibu

menjadi Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi

cepat, pernapasan cepat dan meteorismus. Di daerah lokal sering

dijumpai: Bandle Ring, oedema serviks, cairan ketuban berbau,

terdapat mekonium.

2) Induksi persalinan dengan oksitosin

Induksi persalinan ialah suatu tindakan terhadap ibu hamil belum

inpartu baik secara operatif maupun mesinal, untuk merangsang


timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan. Akibat

pemberian oksitosin yang berlebih-lebihan dalam persalinan dapat

mengakibatkan relaksasi uterus tidak cukup memberikan pengisian

plasenta.

3) Ada perdarahan

Perdarahan yang dapat mengakibatkan gawat janin yaitu karena

solusio plasenta. Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh

perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua tersebut kemudian

terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada

miometrium. Sebagai akibatnya, proses tersebut dalam stadium

awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang

menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran

plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

4) Infeksi

Infeksi, yang disebabkan oleh pecahnya ketuban pada partus lama

dapat membahayakan ibu dan janin,karena bakteri didalam amnion

menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion

sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin.

Pneomonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang

terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya (Prawirohadjo, 2009).

5) Insufisiensi plasenta

a) Insufisiensi uteroplasenter akut

Hal ini terjadi karena akibat berkurangnya aliran darah uterus-

plasenta dalam waktu singkat, berupa: aktivitas uterus yang

berlebihan, hipertonika uterus, dapat dihubungkan dengan

pemberian oksitosin, hipotensi ibu, kompresi vena kava, posisi


terlentang, perdarahan ibu karena solusio plasenta atau solusio

plasenta.

b) Insufisiensi uteroplasenter kronis

Hal ini terjadi karena kurangnya aliran darah dalam uterus-

plasenta dalam waktu yang lama. Misalnya : pada ibu dengan

riwayat penyakit hipertensi.

6) Kehamilan Postterm

Meningkatnya resiko pada janin postterm adalah bahwa dengan

diameter tali pusat yang mengecil, diukur dengan USG, bersifat

prediktif terhadap gawat janin pada intrapartum, terutama bila

disertai dengan oligohidramnion. Penurunan cairan amnion

biasanya terjadi ketika usia kehamilan telah melewati 42 minggu,

mingkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume

cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebabnya

terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi

mekonium.

7) Preeklamsia

Menurut Prawirohardjo (2009), Preeklamsia dapat menyebabkan

kegawatan janin seperti sindroma distres napas. Hal tersebut dapat

terjadi karena vasopasme yang merupakan akibat dari kegagalan

invasi trofoblas kedalam lapisan otot pembuluh darah sehingga

pembuluh darah mengalami kerusakan dan menyebabkan aliran

darah dalam plasenta menjadi terhambat dan menimbulkan

hipoksia pada janin yang akan menjadian gawat janin.


c. Penilaian Klinik Gawat Janin

Menurut Prawirohardjo (2007) tanda gejala gawat janin dapat

diketahui dengan :

1) DJJ Abnormal

Dibawah ini dijelaskan denyut jantung janin abnormal adalah

sebagai berikut :

a) Denyut jantung janinirreguller dalam persalinan sangat

bervariasi dan dapat kembali setelah beberapa watu. Bila DJJ

tidak kembali normal setelah kontraksi, hal ini menunjukan

adanya hipoksia.

b) Bradikardi yang terjadi diluar saat kontraksi, atau tidak

menghilang setelah kontraksi menunjukan adanya gawat janin.

c) Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya :

(1) Demam pada ibu

(2) Obat-obat yang menyebabkan takhikardi (misal: obat

tokolitik)

Bila ibu tidak mengalami takhikardi, DJJ yang lebih dari 160 per

menit menunjukan adanya anval hipoksia.

Denyut jantung janin abnormaldapat disebut juga dengan fetal

distress. Fetal distress dibagi menjadi dua yaitu fetal distress akut

dan fetal distress kronis. Menurut Marmi, Retno A.M.S.,

Fatmawaty.E (2010) dibawah ini dijelaskan beberapa faktor yang

mempengaruhinya.

a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut

(1) Kontraksi uterus


Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah

abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama

dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta, ketika

kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia uterus.

(2) Kompresi tali pusat

Kompresi tali pusat akan mengganggu sirkulasi darah fetus

dan dapat mengakibatkan hipoksia. Tali pusat dapat

tertekan pada prolapsus, lilitan talu pusat.

(3) Kondisi tali pusat

Plasenta terlepas, terjadi solusio plasenta. Hal ini

berhubungan dengan kelainan fetus.

(4) Depresi pusat pada sistem pernafasan

Depresi sistem pernafasan pada bayi baru lahir sebagai

akibat pemberian analgetika pada ibu dalam persalinan dan

perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia.

b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis

Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang

kompleks.

(1) Status sosial ekonomi rendah

Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan

mortalitas. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran

kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan,

nutrisi, kesehtan fisik dan psikis.

(2) Umur maternal


Umur ibu yangg sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun

merupakan umur resiko tinggi.

(3) Merokok

Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi, dan

menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana

karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. Angka

mortalitas perinatal maningkat.

(4) Penyalah gunaan obat terlarang

Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan

berhubungan dengan banyak komplikasi meliputi IUGR,

hipoksia dan persalinan preterm yang semuanya

meningkatkan resiko kematian perinatal.

(5) Riwayat obstetrik yang buruk

Riwayat abortus sebelumnya, persalinan preterm atau lahir

mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam

kehamilan ini.

(6) Penyakit maternal

Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis

dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan

menyebabkan insufisiensi aliran darah dalam uterus seperti:

Hipertensi yang diinduksi kehamilan, hipertensi kronik,

diabetes, penyakit ginjal kronis. Sedangakan faktor yang

mempengaruhi penurunan oksigenasi arteri maternal

seperti: penyakit skle sel, anemia berat (Hb kurang dari 9%

dl atau kurang), penyakit paru-paru, penyakit jantung,


epilepsi (jiak tidak terkontrol dengan baik), infeksi maternal

berat.

Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta, post matur,

perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan

pengurangan suplai oksigen ke fetus.

(7) Kondisi plasenta

Kondisi tersebut meliputi: insufisiensi plasenta, postmatur,

perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan resiko

hipoksia intra uterin. Resiko ini mengakibatkan

pengurangan suplai oksigen ke fetus.

(8) Kondisi fetal

Malformasi konginetal tertentu, infeksi intra uterin dan

incompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia

intra uterin. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda.

(9) Faktor resiko inta partum

Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan

peningkatan resiko fetal distress, yaitu: malpresentasi

seperti presentasi bokong, kelahiran dengan forcep, SC,

sedatif atau analgetik yang berlebihan, komplikasi anastesi

(meliputi: hipotensi dan hipoksia), partum presipitatus atau

partus lama.

c) Deteksi fetus melalui pemeriksaan antenatal

Pemeriksaan yang digukankan untuk mendeteksi fetus

meliputi:

(1) USG untuk menilai pertumbuhan fetus


(2) Profil biofisikal

Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter

yang digunakan untuk menilai meliputi: gerakan pernafasan

fetus, gerakan fetus, tonus fetusindeks cairan amnion dan

NST.

(3) Non Stress Tes (NST)

Eksternal kardiotokograf (CTG), Kriteria yang seharusnya

diamati meliputi 2 hal atau lebih, yaitu : denyut jantung

janin, mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan

permenit, menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit.

(4) Doppler

Menurut Marmi, Retno A.M.S., Fatmawaty.E (2010) tanda

fetal distress dalam persalinan, sebagai berikut :

(a) Denyut jantung

a.1. Takikardi diatas 160 kali perdetik atau brakikardi

dibawah 120 kali perdetik.

a.2. Deselerasi dini

Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 kali

permenit pada saat kontraksi, kontraksi deselarasi

menggambarkan kontraksi dan biasanya dianggap

masalah serius.

a.3. Deselerasi yang berubah-ubah

Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit

dijelaskan Ini dapat terjadi pada awal atau akhir

penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak


sama. Hubungan antar peningkatan asidosis fetus

dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah

adanya abnormalitas denyut jantung janin.

a.4. Deselerasi lambat

Penurunan denyut jantung janin menunjukan

tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukan

kontraksi pada saat tingkat yang paling tinggi.

Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan

aliran darah fetus dan pengurangan transfer

oksigen selama kontraksi. Penurunan tersebut

mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Jika pola

tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas

denyut jantung janin harus dipikirkan untuk

ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus.

a.5. Tidak adanya denyut jantung

Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia

kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom

tidak dapat merespon stress.

a.6. Mekonium bercampur air ketuban.

(b) Mekonium

Cairan amnion yang hijau kental menunjukkan bahwa

air ketuban jumlahnya sedikit. Kondisi ini

mengharuskan adanya intervensi. Intervensi ini tidak

perlu dilakukan bila air ketuban kehijauan tanpa tanda


kegawatan lainnya, atau pada fase akhir suatu

persalinan letak bokong.

d. Klasifikasi

Jenis gawat janin yaitu :


a. Gawat janin yang terjadi secara ilmiah
1. Gawat janin iatrogenic
Gawat janin iatrogenik adalah gawat janin yang timbul akibat
tindakan medik atau kelalaian penolong. Resiko dari praktek yang
dilakukan telah mengungkapkan patofisiologi gawat janin iatrogenik
akibat dari pengalaman pemantauan jantung janin.
2. Posisi tidur ibu
Posisi terlentang dapat menimbulkan tekanan pada Aorta dan Vena
Kava sehingga timbul Hipotensi. Oksigenisasi dapat diperbaiki
dengan perubahan posisi tidur menjadi miring ke kiri atau
semilateral.
3. Infus oksitosin
Bila kontraksi uterus menjadi hipertonik atau sangat kerap, maka
relaksasi uterus terganggu, yang berarti penyaluran arus darah uterus
mengalami kelainan. Hal ini disebut sebagai Hiperstimulasi.
Pengawasan kontraksi harus ditujukan agar kontraksi dapat timbul
seperti kontrkasi fisiologik.
4. Anestesi Epidural
Blokade sistem simpatik dapat mengakibatkan penurunan arus darah
vena, curah jantung dan penyuluhan darah uterus. Obat anastesia
epidural dapat menimbulkan kelainan pada denyut jantung janin
yaitu berupa penurunan variabilitas, bahkan dapat terjadi deselerasi
lambat. Diperkirakan ibat-obat tersebut mempunyai pengaruh
terhadap otot jantung janin dan vasokontriksi arteri uterina.
e. Pathway
Ada beberapa proses atau tahapan terjadinya peristiwa Fetal Distress,
antara lain :
a. Perubahan pada kehamilan Postterm
Terjadi beberapa perubahan cairan amnion, plasenta dan janin pada
kehamilan postterm. Dengan mengetahui perubahan tersebut sebagai
dasar untuk mengelola persalinan postterm.

b. Perubahan cairan amnion


Terjadi perubahan kualitas dan kuantitas cairan amnion. Jumlah cairan
amnion mencapai puncak pada usia kehamilan 38 minggu sekitar 1000
ml dan menurun sekitar 800 ml pada 40 minggu. Penurunan jumlah
cairan amnion berlangsung terus menjadi sekitar 480 ml , 250 ml, 160
ml pada usia kehamilan 42 dan 43 minggu.
Penurunan tersebut berhubungan dengan produksi urin janin yang
berkurang. Dilaporkan bahwa aliran darah janin menurun pada
kehamilan postterm dan menyebabkan oligohidramnion.
Selain perubahan volume terjadi pula perubahan komposisi cairan
amnion menjadi kental dan keruh. Hal ini terjadi karena lepasnya
vernik kaseosa dan komposisi phosphilipid. Dengan lepasnya sejumlah
lamellar bodies dari paru-paru janin dan perbandingan Lechitin
terhadap Spingomielin menjadi 4 : 1 atau lebih besar. Dengan adanya
pengeluaran mekonium maka cairan amnion menjadi hijau atau kuning.
Evaluasi volume cairan amnion sangat penting. Dilaporkan kematian
perinatal meningkat dengan adanya oligohidramnion yang
menyebabkan kompresi tali pusat. Keadaan ini menyebabkan fetal
distress intra partum pada persalinan postterm.
Untuk memperkirakan jumlah cairan amnion dapat di ukur dengan
pemeriksaan ultrasonografi. Metode empat kuadran sangat popular.
Dengan mengukur diameter vertikal dari kantung paling besar pada
setiap kuadran. Hasil penjumlahan 4 kuadran disebut Amniotic Fluid
Index ( AFI ). Bila AFI kurang dari 5 cm indikasi oligrohidramnion.
AFI 5 – 10 cm indikasi penurunan volume cairan amnion. AFI 10 – 15
cm adalah normal. AFI 15 – 20 cm terjadi peningkatan volume cairan
amnion. AFI lebih dari 25 cm indikasi polihidramnion.
c. Perubahan pada plasenta
Plasenta sebagai perantara untuk suplai makanan dan tempat
pertukaran gas antara maternal dan fetal. Dengan bertambahnya umur
kehamilan, maka terjadi pula perubahan struktur plasenta.
Plasenta pada kehamilan postterm memperlihatkan pengurangan
diameter dan panjang villi chorialis. Perubahan ini secara bersamaan
atau di dahului dengan titik-titik penumpukan kalsium dan membentuk
infark putih. Pada kehamilan atterm terjadi infark 10 % - 25 %
sedangkan pada postterm terjadi 60% - 80 %. Timbunan kalsium pada
kehamilan postterm meningkat sampai 10 g / 100 g jaringan plasenta
kering, sedangkan kehamilan atterm hanya 2 – 3 g / 100 g jaringan
plasenta kering.
Secara histology plasenta pada kehamilan postterm meningkatkan
infark plasenta, kalsifikasi, thrombosis intervilosus, deposit fibrin
perivillosus, thrombosis arterial dan endarteritis arterial. Keadaan ini
menurunkan fungsi plasenta sebagai suplai makanan dan pertukaran
gas. Hal ini menyebabkan malnutrisi dan asfiksia.
Dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat diketahui tingkat
kematangan plasenta. Pada kehamilan postterm terjadi perubahan
sebagai berikut :
a. Piring korion : lekukan garis batas piring korion mencapai daerah
basal.
b. Jaringan plasenta : berbentuk sirkuler, bebas gema di tengah,
berasal dari satu kotiledon ( ada darah dengan densitas gema tinggi
dari proses kalsifikasi, mungkin memberikan bayangan akustik ) .
c. Lapisan basal : daerah basal dengan gema kuat dan memberikan
gambaran bayangan akustik. Keadaan plasenta ini di kategorikan
tingkat 3.
d. Perubahan pada janin
Sekitar 45 % janin yang tidak di lahirkan setelah hari perkiraan
lahir, terus berlanjut tumbuh dalam uterus. Ini terjadi bila plasenta
belum mengalami insufisiensi. Dengan penambahan berat badan
setiap minggu dapat terjadi berat lebih dari 4000 g. keadaan ini
sering disebut janin besar. Pada umur kehamilan 38 – 40 minggu
insiden janin besar sekitar 10 % dan 43 minggu sekitar 43 %.
Dengan keadaan janin tersebut meningkatkan resiko persalinan
traumatik.
Janin post matur mengalami penurunan jumlah lemak subkutaneus,
kulit menjadi keriput dan vernik kaseosa hilang. Hal ini
menyebabkan kulit janin berhubungan langsung dengan cairan
amnion. Perubahan lain yaitu : rambut panjang, kuku panjang,
warna kulit kehijauan atau kekuningan karena terpapar mekonium

f. Penanganan Gawat Janin pada Persalinan

Menurut Prawirohardjo (2009) penanganan gawat janin saat

persalinan adalah sebagai berikut :

1) Cara pemantauan

a) Kasus resiko rendah – auskultasi DJJ selama persalinan :

(1) Setiap 15 menit kala I

(2) Setiap setelah his kala II

(3) Hitung selama satu menit setelah his selesai

b) Kasus resiko tinggi – gunakan pemantauan DJJ elektronik

secara berkesinambungan

c) Hendaknya sarana untuk pemeriksaan pH darah janin

disediakan

2) Interpretasi data dan pengelolaan

a) Untuk memperbaiki aliran darah uterus :

Pasien dibaringkan miring ke kiri, untuk memperbaiki sirkulasi

plasenta

b) Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan)

c) Berikan oksigen 6-8 L/menit


d) Untuk memperbaiki hipotensi ibu (setelah pemberian anastesi

epidural) segera berikan infus 1 L infus RL

e) Kecepatan infus cairan-cairan intravaskular hendaknya

dinaikkan untuk meningkatkan aliran darah dalam arteri

uterina.

3) Untuk memperbaiki aliran darah umbilikus

a) Pasien dibaringkan miring ke kiri, untuk memperbaiki sirkulasi

plasenta.

b) Berikan ibu oksigen 6-8 L/menit

Penantalaksanaan Keperawatan Penunjang Medis Promotion


Memberikan pindidikan kepada msyarakat, terutama dalam hal ini adalah
para ibu hamil tentang fetal distress, bagaimana mencegah terhadap suatu hal
yang dapat membahayakan kondisi kesehatan ibu dan anak. Terutama
Pemantauan dasar fisiologi pada: (pemantauan dan pengkajian janin susan
martin tucker edisi 4)
1. Kemampuan plasenta untuk berdifusi Kemampuan plasenta untuk berdifusi
mengatur laju pengiriman oksigen dan laju aliran darah. Oksigen berdifusi
dari darah ibu, yang memiliki tekanan persial lebih tinggi, ke darh janin
yang memiliki tekanan persial lebih rendah. Laju aliran darah ibu dan janin
2. Area permukaan plasenta Semakin banyak pembulu fdarah plasenta
semakin besar jumlah zat yang dapat disalurkan antara ibu dan janin.
3. Latihan fisik Takik kardi yang terjadi setelah latihan fisik ibu dianggap
sebagai akibat dari periode transisi dari oksigen janin yang berkurang.
Meskipun latihan fisik ibu mengalirkan darah keotot yang jauh dari uterus,
tetapi tidak ada bukti bahwa latihan itu berbahaya apabila fungsi
uteroplasenta masih normal.
4. Kontraksi uterus Kontraksi uterus mengakibatkan penurunan laju perfusi
darah ibu melalui ruang antarvili. Kontraksi ini dapat terjadi akibat
ketegangan atau stres yang berkepanjangan. Untuk mencegah stress ini.
Uterus sangat perlu rileks secara adekuat agar berdilatasi.
5. Hipertonus uterus Hipertonus uterus-tekanan intrateurus tinggi yang
berlebihan dapat menyebabkan janin mengalami stress.
6. Hipertensi Mengakibatkan peningkatan ketahanan vaskular,yang
mengakibatkan penurunan aliran darah uterus
g. Komplikasi

a. Pada Kehamilan
Gawat janin dapat menyebabkan berakhirnya kehamilan karena pada
gawat janin, maka harus segera dikeluarkan.
b. Pada persalinan
Gawat janin pada persalinan dapat menyebabkan :
a. Persalinan menjadi cepat karena pada gawat janin harus segera
dikeluarkan
b. Persalinan dengan tindakan, seperti ekstraksi cunam, ekstraksi
forseps, vakum ekstraksi, ataupun bahkan dapat diakhiri dengan
tindakan sectio saesarea (SC)

c) Perlu kehadirkan dokter spesialis anak

Biasanya resusitasi intrauterin tersebut diatas dilakukan selama 20

menit.

4) Tergantung terpenuhinya syarat-syarat, melahirkan janin dapat

pervaginam atau perabdominal.

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT JANIN


A. Pengkajian
1. identitas : nama, umur, pekerjaan, nama suami, alamat, golongan darah ibu dan bapak.
2. riwayat kesehatan.
a. keluhan utama
b. teratur tidaknya haid dansiklusnya, lamanya haid, banyaknya darah haid, sifat
darahnya, dan nyeri tidak pada sewaktu haid.
c. perkawinan/seksualitas
d. kehamilan, persalinan yang lalu
e. kehamilan sekarang
f. kesehatan keluarga
g. riwayat kesehatan dahulu
h. prenatal : kesehatan ibu, pengobatan penggunaan alkohol, atau obat-obat terlarang,
pendarahan vagina, penambahan berat badan, dan lamanya kehamilan.
i. intranatal : sifat persalinan dan kelahiran
Pemeriksaan fisik
Ispeksi
1) Mata
- Konjungtiva : tidak anemis
- Sklera : tidak ikterik
2) mulut
- lidah dan mulut : bersih
- gigi dan geraham : tidak karies/berlubang
3) payudara
- bentuk :simetris
- puting susu : menonjol
- pengeluaran : tidak ada
- pembengkakan : tidak ada
- retraksi : tidak ada
- areola : hiperpigmentasi
4) abdomen
- pembesaran : Sesuai usia kehamilan
- pembengkakan : tidak ada
- bekas luka operasi: tidak ada
- konsistensi : keras
- kandung kemih : tidak teraba
5) ekstermitas atas dan bawah
- oedema : tidak ada
- Kekakuan otot/sendi : tidak ada
- kemerahan : tidak ada
- varises : tidak ada
6) pemeriksaan kebidanan
a) palpasi
leopold I : TFU pertengahan pusat-px, pada fundus terabalunak, bundar tidak melenting,
kemungkinan bokong janin
leopold II : pada bagian kanan perut ibu teraba panjang, keras, memapan, kemungkinan
punggung janin, bagian kiri perut teraba tonjolan-tonjolan kecil kemungkinan
ekstremitas janin.
leopold III : pada bagian bawah perut ibu teraba keras,bulat dan melenting kemungkinan
kepala janin dan sudah masuk PAP
leopold IV : divergen
Mc. Donald : 33 cm
TBJ : 3410 gram
Fetus
- letak : memanjang
- posisi : letkep
- pergerakan : < dari 20 kali dalam 24 jam terakhir
- presentasi : kepala
- penurunan : 3/5
b) Auskultasi
DJJ
- Frekuensi : 100 x/mnt
- Irama : tidak teratur
- Intensitas : kuat
- Punctum Max : kuadran kanan bawah perut ibu
c) Perkusi
Reflek patelakanan : positif
Reflek patela kiri : positif
d) Ano-genetal (inspeksi)
Perineum
- Luka parut : tidak ada
Vulva vagina
- Warna : kemerahan
- Luka : tidak ada
- Varices : tidak ada
Pengeluaran pervaginam : darah lendir
Anus : tidak hemorroid

B. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Golongan darah :O
Hb : 11,2 gr%
Glukosa urine : negatif

Protein urine : negatif

Analisa data
No Data Etiologi Masalah
`1. D.o : Induksi dengan oksitosin Hambatan pertukaran gas
- DJJ < 100x/menit
- Denyut jantung janin Relaksasi uterus tidak cukup
ireguller memberikan pasokan plasenta
- Takikaridi pada ibu
Pasokan oksigen berkursng

Hambatan pertukaran gas

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas pada janin b. d penurunan perfusi plasenta.
Intervensi
Dx Tujuan Intervensi Rasional
1 Setelah dilakukan 1. Observasi Tanda-tanda vital ibu 1. mengetahui keadaan umum
asuhan keperawatan 2. Memantau Djj 30 menit sekali ibu
selama 1x24 jam 3. Melakukan kolaborasidengan dokter 2. Mengetahui adanya perubahan
nafas janin terpenuhi dalam pemberian terapi Ekstraksi, Djj
ditandai dengan KH: infus terpasang (RL 1 kolf + metergin 1 3. Mempermudah proses
DJJ : 145x/menit amp + oxytocin 1 amp) dengan kateter melahirkan
Denyut jantung janin terpasang.
reguller 4. Memberikan dukungan emosional 4. Ibu semangat dan tidak putus
Nadi 90 pada ibu kepada ibu seperti banyak berdo’a supaya asa
ibu kuat dan lebih bersemangat dalam
melahirkan nanti, ibu terlihat bersemangat.
5. Posisi yang benar dapat
5. 5. Mengatur ibu dalam posisi yang nyaman, mempermudah proses
melahirkan
ibu dalam posisi dorsal rekumben.
2. 6. Membimbing ibu meneran disaat ada his 6. Membimbing dalam proses
melahirkan akan mempermudah
dan beristirahat diluar his, ibu dapat
dalam proses melahirkan
mengedan dengan baik.
3. 7. Melakukan pertolongan
7. pertolongan pertama pada
persalinan dengan, bayi
bayi akan menolong bayi dalam
bernafas dengan baik

Anda mungkin juga menyukai