Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TEORI BEHAVIORISME

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Dosen Pengampu :

DR. Luqman, M.Pd

Disusun Oleh :
Puji Lestari
NIM. 20170880101774

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL’ULA (STAIM)
NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah mata kuliah Psikologi Perkembangan yang mengambil tema “Teori
Behaviorisme”.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada :
1. DR. KH. Isrofil Amar, M.Ag, selaku Ketua Sekolah Tinggi Gama Islam
Miftahul Ula.
2. DR. Luqman, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi
Perkembangan.
3. Serta teman-teman yang telah membantu kelancaran penulisan makalah ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Untuk itu, saran dan kritik dari rekan-rekan pembaca sangat penulis harapkan
untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan bagi rekan-rekan pembaca.

Nganjuk, 31 Desember 2019


Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...................................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Psikologi Behaviorisme ............................................ 3
B. Ciri –ciri Teori Belajar Behaviorisme ................................................... 5
C. Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme .............................................. 6
D. Sumbangsih Sistem Psikologi Behaviorisme dalam Pendidikan .......... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 10
B. Saran.................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang
menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan
sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi
demi tercapainya tujuan pendidikan. Teori belajar akan memberikan kemudahan
bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Banyak ditemukan teori belajar yang menitik beratkan pada
perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang
individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman
dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.

B. Rumusan Masalah
Karena pembahasan tentang teori behaviorisme sangat luas, maka pada
pembahasan makalah ini penulis akan menitik beratkan pada poin-poin dibawah
ini:
1. Bagaimana Pengertian Teori Psikologi Behaviorisme?
2. Bagaimana Ciri –ciri Teori Belajar Behaviorisme?
3. Siapa saja Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme?
4. Bagaimana Sumbangsih Sistem Psikologi Behaviorisme dalam Pendidikan?

1
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan Pengertian Teori Psikologi Behaviorisme
2. Untuk mendeskripsikan Ciri –ciri Teori Belajar Behaviorisme
3. Untuk mendeskripsikan Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme
4. Untuk mendeskripsikan Sumbangsih Sistem Psikologi Behaviorisme dalam
Pendidikan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Psikologi Behaviorisme


Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia
yang dikembangkan oleh john Broadus Waston yakni seorang ahli psikologi
Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Jadi, psikologi
behaviorisme adalah ilmu psikologi yang lebih menekan pada tingkah laku.
Perspektif behaviorisme lebih berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan
tingkah laku manusia. Asumsi dasar mengenai teori tingkah laku sepenuhnya
ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan dan bisa dikendalikan.1
Waston berpendapat mengenai teoretikus behavioristik lainnya seperti
Skinner, meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan
genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional. Kalau Freud melihat bahwa
tingkah laku kita dikendalikan oleh kekuatan yang tidak rasional, teoritikus
behaviorisme melihat kita sebagai hasil lingkungan yang membentuk dan
memanipulasi tingkah laku kita.
Menurut teoristikus behaviorisme, manusia sepenuhnya adalah makhluk
reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor- faktor dari luar. Faktor
lingkungan inilah yang menjadi penentu terpenting tingkah laku manusia.
Berdasarkan pemahaman ini, maka kepribadian individu menurut teori ini dapat
dikembalikan kepada hubungan individu dengan lingkungannya. Manusia datang
didunia tidak membawa ciri-ciri pada dasarnya baik-buruk akan tetapi netral.
Dalam hal ini sesuai dengan hadist mengenai fitrah manusia, Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan
fitrah.
Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang
Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan
seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong

1
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
2009), hlm 44

3
hidungnya?.2 Dari penjelasan diatas sangat berkaitan dengan teori behaviorisme
yang menyebutkan bahwa manusia datang didunia tidak membawa ciri-ciri pada
dasarnya baik-buruk akan tetapi netral sehingga tergantung orangtua yang
memberi pola asuh yang bagaimana kepada anak-anaknya.
Gagasan utama dalam aliran behaviorisme ini adalah untuk memahami
tingkah laku manusia diperlukan pendekatan yang objektif, mekanistik dan
materialistik, sehingga perubahan tingkah laku diri seseorang dapat dilakukan
melalui pengondisian. Dengan kata lain, mempelajari tingkah laku seseorang
seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang
tampak bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh. Menurut Waston adalah
tidak betanggung jawab atau tidak ilmiah mempelajari tingkah laku manusia
semata-mata atas kejadian subjektif, yakni kejadian-kejadian yang diperkirakan
terjadi di dalam pikiran, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.3
Pandangan teori behaviorisme telah cukup lama dianut oleh para pendidik.
Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar
pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behaviorisme.
Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran
berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada
konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktorfaktor penguat
(reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar
yang dikemukakan Skiner.4
Teori behaviorisme cenderung mengarahkan pembelajaran untuk berfikir
linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa
belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar
menuju atau mencapai target tertentu.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behaviorisme memang tidak
menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Menurut

2
Yusuf Al Hajj Ahmad, Seri Kemu`Jizatan Al-Quran Dan Sunnah,(Yogyakarta: Sajadah
Press,2008),hlm 21
3
Ibid, hlm 45
4
Jimmy Wales, 30 Desember 2019
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik, hanum (30 Des 2019)

4
Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada
beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
1. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari
jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
2. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun
salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman
dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadang kala lebih
buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif.
Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada
bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul
berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai
stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat.
Misalnya, seorang dalam proses belajar ada pelatih atlit yang mengarahkan
stimulus aversi berupa para atlit harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak
sepuluh kali bila pemain melakukan kesalahan dalam latihan. Jika para atlit
mampu berlatih sesuai instruksi pelatih, maka keharusan mengelilingi lapangan
tersebut dapat dikurangi jumlahnya atau dihentikan. Dengan demikian respon
yang benar dari para atlit ditingkatkan atau dipelihara dengan penguatan negatif..
Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement).
Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat
positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar
memperkuat respons.5

B. Ciri –ciri Teori Belajar Behaviorisme


Adapun ciri-ciri teori belajar behavioristik adalah,
1. Mementingkan penagruh lingkungan
2. Mementingkan bagian bagian
3. Mementingkan peranan reaksi
4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar

5
Gredler Bell, Belajar dan Membelajarkan,(Jakarta: CV. Rajawali, 1991),hlm 22

5
5. Mementingkan sebab sebab di waktu yang lain
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan
7. Dalam pemecahan masalah, ciri khasnya trial and error6

C. Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme


1. Ivan Petrovich Pavlov
Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah
proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana
perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara
berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Teori ini menunjukkan bahwa tingkah laku tertentu dapat dibentuk
melalui proses conditioning. Anak dapat takut pada kucing, dan sebaliknya
dapat pula kita buat menjadi sayang kepada kucing.7
2. John Watson
Watson menyatakan bahwa hanya tingkah laku yang teramati saja yang
dapat dipelajari dengan valid dan reliable. Dengan demikian stimulus dan
respon harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable).
Watson berpendapat bahwa introspeksi merupakan pendekatan yang
tidak ada gunanya. Alasannya adalah jika psikologi dianggap sebagai suatu
ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur. Watson mempertahankan
pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang dilakukan manusia
(perilaku mereka) memungkinkan psikologi menjadi ilmu yang objektif.
Watson menolak pikiran sebagai subjek dalam psikologi dan mempertahankan
pelaku sebagai subjek psikologi.
3. Edward Lee Thorndike
Dalam bukunya Animal Intelligence (1911) ia menyangkal pendapat
bahwa hewan memecahkan masalah dengan nalurinya. Ia justru berpendapat
bahwa hewan juga memiliki kecerdasan.

6
Mardianto, Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing, 2014.61
7
Ibid.64

6
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-
asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon
(R). Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti
pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.
Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar,
yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi
perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu
yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
4. B.F Skinner
Skinner meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses
operant conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku
organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan
yang relatif besar.
Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan
positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat
berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Azas operant conditioning B.F Skinner mulai muncul dalam tahun 1930-
an, pada waktu keluarnya teori-teori S-R (Stimulus-Respons) yang kemudian
dikenal dengan model konditioning klasik dari Pavlov yang pada saat itu telah
memberi pengaruh yang kuat dalam pelaksanaan penelitian.

D. Sumbangsih Sistem Psikologi Behaviorisme dalam Pendidikan


Berikut adalah sumbangsih yang diberikan psikologi behaviorisme pada
bidang pendidikan, antara lain :
1. Psikologi behaviorisme telah memberikan manfaat yang cukup berarti dalam
perkembangan dunia pendidikan dalam hal belajar dan motivasi.
2. Psikologi behaviorisme berhasil menyelesaikan perdebatan controversial antara
pendekatan-pendekatan mentalistik dan mekanistik terhadap tingkah laku
manusia.

7
3. Psikologi behaviorisme banyak memberikan perhatian kepada semua bidang
psikologi, misalnya pada masalah emosi dan perilaku kanak-kanak.8
4. Psikologi behaviorisme telah memberikan metode baru dalam pengajaran yang
terkenal dengan belajar berpogram dan mencapai sukses diberbagai Negara.
5. Psikologi behaviorisme memandang penting pada lingkungan sekitar dan
dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.
6. Psikologi behaviorisme percaya bahwa semua perilaku dipelajari dalam proses
ineraksi yang konstan dengan lingkungan sekitar.
7. Psikologi behaviorime telah mengembangkan metode baru dalam teknik-teknik
pelayanan pada para penderita penyesuaian yang salah atau diebut dengan
maladaptasi.dengan demikian, psikologi behaviorisme tidak hanya bergerak
dalam pendidikan anak-anak yang sehat mentalnya, tetapi juga menangani
anak-anak yang mengalami kelainan-kelainan mental (dibidang kesehatan
mental dan bimbingan konseling).9
Sumbangasih psikologi behaviorisme dalam pendidikan untuk siswa
adalah
1. Memberi kesempatan seluasnya agar siswa mengembangkan diri secara
potensi, pribadi, sikap, berkembang menuju taraf yang lebih baik/sempurna.
2. Ada proses pemanusiaan manusia.
3. Siswa memiliki peran, dan kedudukan dalam proses pembelajaran.
4. Proses yang berlangsung adalah proses pembelajaran secara bertahap.
Sumbangsih psikologi behaviorisme dalam pendidikan untuk pendidik
antara lain :
1. Para pendidik dapat melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan
pendidikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan alami untuk siswa
berkembang lebih baik, dan juga dalam proses belajar. Jadi sekolah harus
berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak
belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak

8
Purwa Atmaja Prawira,psikologi pendidikan dalam perspektif baru(Jokjakarta : Ar-Ruzz
Media, 2013), hlm 63
9
Ibid, hlm 64

8
dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga
punya keinginan.
2. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan pengembangan potensi. Penedekatan
behaviorisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif.
Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan
menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan
kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan
metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri,
menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau
kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam
pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
3. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensipotensi yang ada dalam diri mereka.10

10
nurfitriyanielfima 31 Desember 2019
https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/author/nurfitriyanielfima/hanum dan lely, 31 Desember
2019

9
BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku
manusia yang dikembangkan oleh john Broadus Waston, yakni seorang ahli
psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika.
Perspektif behavioral lebih berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan
tingkah laku manusia.
Sumbangsih yang diberikan psikologi behaviorisme pada bidang
pendidikan, antara lain :
1. Psikologi behaviorisme telah memberikan manfaat yang cukup berarti dalam
perkembangan dunia pendidikan dalam hal belajar dan motivasi.
2. Psikologi behaviorisme berhasil menyelesaikan perdebatan controversial antara
pendekatan-pendekatan mentalistik dan mekanistik terhadap tingkah laku
manusia.
3. Psikologi behaviorisme banyak memberikan perhatian kepada semua bidang
psikologi, misalnya pada masalah emosi dan perilaku kanak-kanak.
4. Psikologi behaviorisme telah memberikan metode baru dalam pengajaran yang
terkenal dengan belajar berpogram dan mencapai sukses diberbagai Negara.
5. Psikologi behaviorisme memandang penting pada lingkungan sekitar dan
dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.
6. Psikologi behaviorisme percaya bahwa semua perilaku dipelajari dalam proses
ineraksi yang konstan dengan lingkungan sekitar.
7. Psikologi behaviorime telah mengembangkan metode baru dalam teknik-teknik
pelayanan pada para penderita penyesuaian yang salah atau diebut dengan
maladaptasi.dengan demikian, psikologi behaviorisme tidak hanya bergerak
dalam pendidikan anak-anak yang sehat mentalnya, tetapi juga menangani
anak-anak yang mengalami kelainan-kelainan mental (dibidang kesehatan
mental dan bimbingan konseling.

10
B. Saran
Setelah melakukan scharing dalam pembahasan makalah ini diharapkan
pembaca mampu menyerap wawasan dan lebih memahami apa itu psikologi
humanisme dan mampu menerapkan dan mengaplikasi dalam kehidupan
sehari-hari setelah mengetahui berbagai manfaat atau sumbangsihnya dalam
pendidikan.
Untuk penulis diharapkan mamapu menambah wawasan baru dengan
mengkaji lebih dalam mengenai perkembangan psikologi behaviorisme itu sendiri
dan mengaplikasikan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam
dunia pendidikan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Desmita, 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung : Remaja


Rosdakarya
Gredler Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, Jakarta: CV. Rajawali
Jimmy Wales, 30 Desember 2019
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik, hanum (30 Des
2019)
Mardianto, 2014. Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing
nurfitriyanielfima 31 Desember 2019
https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/author/nurfitriyanielfima/hanum
dan lely, 31 Desember 2019
Purwa Atmaja Prawira, 2013. Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru.
Jokjakarta : Ar-Ruzz Media.
Yusuf Al Hajj Ahmad, 2008. Seri Kemu`Jizatan Al-Quran Dan Sunnah,
Yogyakarta: Sajadah Press

12