Anda di halaman 1dari 75

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk

keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk

mencapai Indonesia sehat, yaitu suatu keadaan dimana setiap orang hidup

dalam lingkungan yang sehat, berperilaku sehat, mempunyai akses terhadap

pelayanan kesehatan serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya

(Dinkes, 2009). Perilaku kesehatan merupakan semua perilaku yang

dilakukan berdasarkan kesadaran individu agar penyakit tidak menyerang

dirinya sendiri dengan berperan aktif dalam mempraktikkan perilaku sehat

serta bebas dari berbagai macam penyakit terutama penyakit menular (Atikah,

2012).

Salah satu penyakit menular yang perlu diperhatikan perilaku sehatnya

adalah tuberkulosis. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang

disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang

berbagai organ atau jaringan tubuh khususnya paru-paru. Kuman TB ini

sangat mudah menyebar, satu orang penderita TB dapat menularkan kuman

tersebut kepada 10-15 orang lainnya, 10% darinya akan berkembang dan

menderita penyakit tuberkulosis.


2

Tuberkulosis dipengaruhi juga oleh beberapa faktor resiko seperti

perokok aktif maupun perokok pasif, pengguna alkohol dan obat terlarang,

usia produktif dan perilaku yang tidak sehat seseorang, dampak yang dapat

ditimbulkan dari perilaku yang tidak sehat adalah mudahnya seseorang

terkena penyakit menular dan mengakibatkan angka kejadian tuberkulosis

tersebut.

Ada beberapa perilaku kesehatan yang bisa dilakukan masyarakat

untuk menghindari penyakit TB ini seperti olahraga teratur, istirahat yang

cukup, mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, makan

makanan yang bergizi, membersihkan kamar dan mencuci pakaian sampai

bersih, menjemur alat-alat tidur seperti kasur, bantal, selimut, dan membuka

ventilasi (jendela rumah) setiap hari (Cimsa, 2016). Apabila perilaku sehat ini

tidak diterapkan bisa menyebabkan terjadinya peningkatan kejadian

tuberkulosis dan bisa menyebabkan komplikasi bagi penderitanya seperti

kerusakan tulang dan sendi, kerusakan otak, kerusakan ginjal, kerusakan

jantung, gangguan mata, resistensi kuman, kerusakan hati dan kondisi ini

membuat penderita kehilangan waktu produktif karena kecacatan dan

kematian dini (Najmah, 2016).

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2017-2025

memperkirakan insiden TB di Indonesia mencapai 842.000 kasus dengan

mortalitas 107.000 kasus. Dengan adanya data tersebut, Indonesia merupakan

negara dengan beban tuberkulosis tertinggi setelah India dan Tiongkok.


3

Sebagian besar kasus TB terjadi di usia produktif yaitu antara 15 sampai 54

tahun (Nalendra, 2018).

Menurut Profil Kesehatan Kabupaten Kampar didapatkanJumlah

kasus BTA Positif pada Tahun 2016 di Kabupaten Kampar berjumlah 582

kasus, kasus tertinggi terjadi di Puskesmas Tapung Hulu I sebanyak 58 kasus.

Jumlah kasus BTA Positif pada Tahun 2017 di Kabupaten Kampar berjumlah

541 kasus, kasus tertinggi terjadi di Puskesmas Tambang sebanyak 59kasus.

Dari hasil data Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar 2018 didapatkan

697 jumlah penderita TB dari 31 Kabupaten Kampar dan kasus tertinggi

terjadi di Puskesmas Tambang sebanyak 67 kasus seperti yang terlihat pada

tabel 1.1 :

Tabel 1.1 jumlah angka kejadian Tuberkulosis di wilayah kerjaPuskesmas


Sekabupaten Kampar Tahun 2018
NO KECAMATAN JUMLAH
1 TAMBANG 67
2 SIAK HULU I 57
3 TAPUNG HULU I 51
4 SIAK HULU II 42
5 KAMPAR 40
6 KAMPAR KIRI 37
7 TAPUNG 34
8 TAPUNG II 30
9 KAMPAR TIMUR 29
10 KAMPAR KIRI TENGAH 26
11 TAPUNG HILIR II 26
12 PERHENTIAN RAJA 25
13 BANGKINANG KOTA 21
14 KUOK 20
15 TAPUNG I 20
JUMLAH 525

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar Tahun 2018


4

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2019 dari bulan

Januari-Maret dapat dilihat pada tabel 1.2 :

Tabel 1.2 jumlah angka kejadian Tuberkulosis dari bulan Januari - Maret di
wilayah kerja Puskesmas Sekabupaten Kampar Tahun 2019
NO KECAMATAN JUMLAH
1 TAMBANG 30
2 SIAK HULU I 25
3 TAPUNG HULU I 20
4 SIAK HULU II 19
5 BANGKINANG KOTA 16
6 KAMPAR 13
7 KAMPAR TIMUR 8
8 TAPUNG II 7
9 KAMPAR KIRI 6
10 SIAK HULU III 6
11 KUOK 5
12 KAMPAR UTARA 5
13 KAMPAR KIRI HULU I 5
14 KAMPAR KIRI HILIR 4
15 KAMPAR KIRI TENGAH 4
16 RUMBIO JAYA 3
17 SALO 2
18 GUNUNG SAHILAN I 2
19 TAPUNG HILIR I 2
20 KOTO KAMPAR HULU 2
21 BANGKINANG SEBERANG 1
22 XIII KOTO KAMPAR II 1
23 XIII KOTO KAMPAR III 1
24 TAPUNG 1 1
25 GUNUNG SAHILAN II 1
26 KAMPAR KIRI HULU II 0
27 TAPUNG HULU II 0
28 XIII KOTO KAMPAR I 0
29 PERHENTIAN RAJA 0
30 TAPUNG HULU II 0
31 TAPUNG HILIR II 0
JUMLAH 201
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar Bulan Januari-Maret Tahun 2019
5

Pada tabel 1.1 jumlah penderita tuberkulosis pada tahun 2018 yang

tertinggi terjadi di Tambang dengan jumlah 67 penderita, sedangkan dari

tabel 1.2 didapatkan jumlah penderita tuberkulosis pada bulan Januari –

Maret didapatkan jumlah 30 penderita. Selama 3 bulan terakhir jumlah

penderita tuberkulosis sudah meningkat dari tahun 2018.

Untuk menanggulangi kasus tuberkulosis yang cukup tinggi di

Indonesia, pemerintah telah merencanakan berbagai program kesehatan untuk

membantu pencegahan dan pengobatan, salah satunya dengan Imunisasi

Bacillus Calmette Guerin (BCG) pada bayi, penyuluhan tentang pencegahan

tuberkulosis paru, pemeriksaan tuberkulosis secara dini di Puskesmas sampai

pemberian obat anti tuberkulosis secara gratis yang merupakan implementasi

dari program World Health Organization (WHO) yang terutama ditujukan

bagi masyarakat yang sosial ekonominya kurang (Wenas,dkk 2015)

Penelitian yang dilakukan oleh Mudiyono, dkk (2016) dengan judul

“Hubungan Antara Perilaku Ibu dan Lingkungan Fisik Rumah dengan

Kejadian Tuberkulosis Pada Anak di Kota Pekalongan” didapatkan hasil

terdapat hubungan perilaku ibu dengan kejadian Tuberkulosis pada anak

dengan hasil Uji Chi Square pvalue < 0,001.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Maria Haryanti Butarbutar

(2018) dengan judul “Hubungan Perilaku dan Sanitasi Lingkungan Dengan

Pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Amplas Medan”. Menggunakan

jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan Cross-sectional Study

dengan menggunakan 41 sampel yang menderita TB (+) didapatkan hasil


6

perilaku positif sebanyak 22 orang (53,6%) dengan hasil uji Chi-Square 0,008

< α 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara perilaku dengan pasien TB

paru.

Survey awal yang dilakukan pada 10 orang di Wilayah Kerja

Puskesmas Tambang pada tanggal 25 Juni 2019 terhadap praktik dilapangan

mengenai perilaku sehat,berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa

beberapa diantaranya tidak melakukan perilaku sehat yang baik. Seperti

kebiasaan merokok yang terlalu tinggi atau memiliki riwayat merokok yang

dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, jarang menjemur alat-alat tidur

seperti kasur dll, serta tidak menutup mulut ketika batuk atau bersin, dan

sering terpapar dengan penderita tuberkulosis. Dan juga masih banyak

masyarakat yan terkena penyakit Tuberkulosis, dan terjadinya peningkatan

penyakit Tuberkulosis di daerah tambang setiap tahunnya. Kondisi ini

setidaknya menjadi bukti bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam

mempraktikkan perilaku sehat.

Berdasarkan latar belakangan diatas penulis tertarik untuk melakukan

penelitian yang berjudul “Hubungan Perilaku Sehat Dengan Kejadian

Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019”.


7

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah “Adakah hubungan perilaku sehat dengan kejadian Tuberkulosis di

Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019 ?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan perilaku sehat dengan kejadian

Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentifikasi karakteristikmasyarakat di Wilayah Kerja

Puskesmas Tambang tahun 2019.

b. Untuk mengetahui perilaku sehat masyarakat di Wilayah Kerja

Puskesmas Tambang tahun 2019.

c. Untuk mengetahui adanya hubungan perilaku hidup sehat dengan

kejadian Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun

2019.

D. Manfaat Penelitian

1. Aspek Teoritis (Keilmuan)

Menambah bahan bacaan dan wawasan terutama bagi mahasiswa

Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Pahlawan Tuanku Tambusai untuk penelitian selanjutnya dengan metode


8

penelitian dan variabel yang berbeda. Hasil penelitian ini dapat

digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan referensi yang

berkaitan denga Tuberkulosis.

2. Aspek Teoritis (Kegunaan)

a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi

tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan pada penderita

Tuberkulosis dalam upaya mengatasi dan menurunkan angak

kejadian Tuberkulosis.

b. Member masukan kepada Puskesmas Tambang dan Khususnya

petugas kesehatan untuk meningkatn\kan informasi mengenai

perilaku sehat kepada masyarakat dan penderita.


9

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Tinjauan Kepustakaan

1. Tuberkulosis

a. Definisi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular langsung

yang disebabkan oleh Myobacterium Tuberculosis yang sebagian

besar menyerang paru-paru namun dapat juga menyerang organ lain

(Padila, 2013). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang terutama

menyerang parenkim paru-paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan

ke bagian tubuh lainnya seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus

limfe (Joegijantoro, 2019).

a. Etiologi Tuberkulosis

Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Myobacterium

Tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang tipis, lurus atau agak

bengkok, bergranular atau tidak mempunyai selubung, tetapi

mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipid (terutama asam

mikolat). Bakteri ini mempunyai sifat istimewa yaitu dapat bertahan

terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol, sehingga sering

disebut basil tahan asam (BTA). Bakteri tuberkulosis ini mati pada

pemanasan 100oC selama 5-10 menit atau pada pemanasan

60oCselama 30 menit. Bakteri ini tahan selama 1-2 jam di udara


10

terutama ditempat yang lembab dan gelap (bisa berbulan-bulan),

namun tidak tahan terhadap sinar atau aliran udara (Widoyono,

2011).

b. Pathogenesis Tuberkulosis

1) Infeksi Primer

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama

kali dengan kuman tuberkulosis. Droplet yang terhirup sangat

kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan

mukosilier bronkus dan terus berjalan sehingga sampai alveolus

dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis

berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru,

yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe

akan membawa kuman tuberkulosis ke kelenjar limfe di sekitar

paru dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara

terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah

sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan

terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi

positif (Djojodibroto, 2009).

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari

banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan

tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh

tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman

tuberkulosis. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan


11

menetap sebagai kuman persiter atau dorman (tidur). Kadang-

kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan

perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan yang

bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis. Masa

inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai

menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan (Najmah, 2016).

Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita

tuberkulosis akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan

daya taha tubuh tinggi, dan 25% sebagai “kasus kronik” yang

tetap menular (Depkes RI, 2009).

2) Tuberkulosis Pasca Primer

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah

beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya

karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau

perilaku yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer

adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kevitas atau

efusi pleura (Najmah, 2016).

c. Patofisiologi Tuberkulosis

Infeksi diawali karena seseorang menghirup basil

Myobacterium tuberculosis. Bakteri menyebar melalui jalan napas

menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat menumpuk.

Perkembangan Myobacterium tuberculosis juga dapat menjangkau

sampai ke area lain dari paru-paru (lobus atas). Basil juga


12

menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh

lain (ginjal, tulang, dan korteks serebri) dan dari paru-paru (lobus

atas). Selanjutnya, sistem kekebalan tubuh memberikan respon

dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil dan mikroba

melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara limfosit

spesifik tuberkulosis menghancurkan basil. Reaksi jaringan ini

mengakibatkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli yang

menyebabkan bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul

dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri (Sumantri,

2010).

Interaksi antara Myobacterium tuberculosis dan sistem

kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentuk sebuah massa

jaringan baru yang disebut granuloma. Granuloma terdiri atas

gumpalan basil hidup dan mati yang dikelilingi oleh mikrofag

seperti dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi

massa jaringan fibrosa. Materi yang terdiri dari makrofag dan

bakteri menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi

penampakannya seperti keju (necrotizing caseosa), hal ini akan

menjadi klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen

kemudian bakteri menjadi nonaktif (Sumantri, 2010).

Setelah infeksi awal, jika respon imun tidak adekuat maka

penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat

timbul akibat infeksi tulang atau bakteri yang sebelumnya tidak


13

aktif kembali aktif. Pada kasus ini, ghon tubrcle mengalami

ulserasi sehingga necrotizing caseosa didalam bronkhus. Tuberkel

yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan memebentuk

jaringan parut. Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang

mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia, membentuk tuberkel,

dan seterusnya. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan

sendirinya (Sumantri, 2010).

Proses ini berjalan terus dan basil terus difagosit atau

berkembang biak didalam sel makrofag yang mengadakan infiltrasi

menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel

tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-

20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi

yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan menimbulkan

respons berbeda, kemudian pada akhirnya akan membentuk suatu

kapsul yang dikelilingi tuberkel (Sumantri, 2010).

d. Manifestasi Tuberkulosis

Penyakit tuberkulosis ini pada umumnya menimbulkan

tanda dan gejala yang sangat berbeda pada masing-masing

penderita, ada yang tidak bergejala namun ada juga yang bergejala

sangat akut. Tanda-tanda dan gejala penderita TB menurut Sibuea

(2005) dalam Alfahri (2017) adalah:

1) Batuk, gejala batuk timbul paling dini dan merupakan

gangguan yang paling sering dikeluhkan. Biasanya batuk


14

ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat merokok.

Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan

terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat

penderita bangun pagi hari. Bila proses destruksi berlanjut,

sekret di keluarkan terus menerus sehingga batuk menjadi

lebih dalam dan sangat mengganggu pada waktu siang maupun

malam.

2) Dahak, awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah

sedikit. Kemudian berubah menjadi purulen atau kuning

kehijauan dan berubah menjadi kental bila sudah perlunakan.

3) Batuk darah, jarang merupakan tanda permulaan dari penyakit

tuberkulosis karena batuk darah merupakan tanda telah

terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada

dinding kavitas.

4) Nyeri dada pada tuberkulosis, termasuk nyeri pleuritik yang

ringan.

5) Wheezing, terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang

disebabkan oleh sekret, peradangan, ulserasi, dan lain-lain.

6) Dipsneu, merupakan late symptom dari proses lanjut

tuberkulosis akibat adanya retriksi dan abstruksi saluran

pernafasan.

7) Panas badan merupakan gejala paling sering dijumpai dan

paling penting. Seringkali panas badan meningkat pada siang


15

maupun sore hari. Panas badan meningkat atau menjadi lebih

tinggi bila proses berkembang menjadi progresif sehingga

penderita merasakan badannya hangat atau muka terasa panas.

8) Menggigil, dapat terjadi apabila suhu tubuh naik dengan cepat.

9) Keringat dimalam hari umumnya baru timbul bila proses telah

lanjut.

10) Anoreksia

11) Penurunan berat badan

12) Malaise

13) Sesak nafas

14) Nyeri dada

15) Turgor kulit memburuk dan kulit menjadi kering.

e. Cara Penularan Tuberkulosis

Menurut Kemenkes (2014) ada beberapa cara penularan

Tuberkulosis yaitu:

1) Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif melalui

percikan dahak yang dikeluarkannya. Namun, bukan berarti

bahwa penderita TB dengan hasil pemeriksaan BTA negatif

tidak mengandung kuman dalam dahaknya. Hal tersebut bisa

saja terjadi oleh karena jumlah kuman yang terkandung dalam

contoh uji ≤ dari 5.000 kuman/cc dahak sehingga sulit

dideteksi melakui pemeriksaan mikroskopis langsung.


16

2) Penderita TB dengan BTA negatif juga masih memiliki

kemungkinan menularkan penyakit TB. Penularan penderita

TB BTA positif adalah 65%, penderita TB BTA negatif

dengan hasil kultur positif adalah 26% sedangkan penderita TB

dengan hasil kultur negatif dan foto toraks positif adalah 17%.

3) Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang

mengandung percik dahak yang infeksius tersebut.

4) Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebar kuman ke

udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik

renik). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan

dahak.

f. Pencegahan Penularan Tuberkulosis

Pencegahan penularan dilakukan oleh penderita TB sendiri

dan dibantu oleh petugas pelayanan kesehatan. Pencegahan

tuberkulosis menurut Zain dalam Ardiansyah (2012) yaitu dengan:

1) Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang

bergaul erat dengan penderita tuberkulosis BTA positif.

2) Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap

kelompok-kelompok populasi tertentu, misalnya karyawan

rumah sakit, puskesmas, atau balai pengobatan dan lain-lain.


17

3) Vaksinasi BCG

Reaksi positif terjadi jika setelah mendapat vaksinasi langsung

terhadap lesi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari

setelah penyuntikan.

4) Kemoprofilaksis

Menggunakan INH mg/kg BB selama 6-12 bulan dengan

tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang

masih sedikit.

5) Komunikasi, informasi, edukasi (penyuluhan kesehatan)

tentang penyakit tuberkulosis kepada masyarakat di tingkat

puskesmas maupun rumah sakit oleh petugas kesehatan.

Pada setiap palayanan kesehatan, Arias (2010)

menyebutkan tindakan pengendalian yang paling penting dalam

mencegah penularan tuberkulosis meliputi:

1) Pengetahuan segera orang-orang (penderita dan petugas) yang

menderita TB.

2) Isolasi segera penderita yang diketahui atau diduga menderita

TB dalam sebuah ruangan khusus yang tidak bertukar udara.

3) Membuat diagnosis yang tepat dengan cepat untuk orang-

orang dengan tanda dan gejala tuberkulosis (misalnya riwayat

medis dan fisik, radigrafi dada, uji kulit tuberkulin, dan biakan

sputum untuk uji bakteri tahan asam (BTA)).


18

4) Penggunaan alat pelindung pernapasan (masker) untuk petugas

dan keluarga yang merawat penderita TB.

5) Perawatan segera penderita dengan pengobatan anti

tuberkulosis.

6) Anjurkan penderita rawat jalan untuk menggunakan masker.

g. Komplikasi Tuberkulosis

Menurut Najmah (2016) ada beberapa komplikasi daru

tuberkulosis ini, yaitu:

1) Kerusakan tulang dan sendi

TB dapat menyerang tulang dan sendi. Kasus TB yang

menyerang tulang dan sendi ini ditemukan hingga 35 persen.

TB dapat menyerang bagian tulang mana pun meskipun paling

sering menyerang tulang belakang. TB pada tulang dan

persendian ini juga menyebabkan komplikasi lain diantaranya

timbulnya penyakit saraf, rusaknya bentuk tulang belakang,

suara yang parau hingga gangguan menelan.

2) Karusakan otak

TB adalah penyakit yang menular melalui udara dan

biasanya berimbas pada paru-paru. Bila tidak ditangani segera,

bakteri yang menyebabkan penyakit ini dapat mengalir pada

aliran darah sehingga dapat merusak organ tubuh yang lain.

Terkadang, bakteri ini akan berpindah ke sekeliling otak dan

cincin tulang belakang (meninges). Inilah yang disebut dengan


19

meningeal tuberculosis. Komplikasi yang terjadi pada otak ini

bisa menyebabkan hilangnya kemampuan mendengar,

meningkatkan tekanan pada otak (intracranial pressure),

kerusakan otak, stroke, dan bahkan kematian.

3) Kerusakan ginjal (Renal Tuberkulosis)

Renal tuberculosis adalah TB yang menyerang ginjal.

TB ginjal ini dapat menyerang salah satu atau bahkan kedua

ginjal sekaligus. Infeksi pada ginjal ini dimulai dari cortex

yang menjadi bagian terluar ginjal dan terus menginfeksi

hingga bagian dalam ginjal yang disebut medula. TB pada

ginjal dapat menyebabkan komplikasi lain seperti penumpukan

kalsium pada ginjal (mengindikasikan bahwa fungsi ginjal

menurun), hipertensi, pembentukan jaringan yang bernanah

dan menyebar pada ginjal, sampai tahap yang paling parah,

yaitu terjadinya gagal ginjal.

4) Kerusakan jantung (Cardiac Tuberculosis)

Jaringan di sekitar jantung juga bisa terinfeksi oleh

kuman TB. Akibatnya bisa terjadi cardiac tamponade, atau

peradangan dan penumpukan cairan yang membuat jantung

jadi tidak efektif dalam memompa darah. Jika dibiarkan terus

menerus, TB jantung akan menyebabkan kematian.


20

5) Gangguan mata (Tuberculosis Uveitis)

Ini memang merupakan kasus yang jarang terjadi. Di

Amerika sendiri, kasus ini hanya terjadi pada 1-2% pengidap

TB. Bakteri TB menyerang mata baik dengan infeksi langsung

ataupun tidak langsung. Konjungtiva, kornea, dan sklera

adalah bagian utama mata yang mudah diserang. Akibatnya

pandangan mengabur dan mata yang tiba-tiba sensitif terhadap

cahaya. Ciri-ciri mata yang sudah terinfeksi TB adalah

berwarna kemerahan, mengalami iritasi dan membengkak di

retina atau bagian lain.

6) Resistensi kuman

Pengobatan dalam jangka panjang sering kali membuat

penderita tidak disiplin, bahkan ada yang putus obat karena

merasa bosan. Pengobatan yang tidak tuntas atau tidak disiplin

membuat kuman menjadi resisten atau kebal, sehingga harus

diganti dengan obat lain yang lebih kuat dengan efek samping

yang tentunya lebih erat.

7) Kerusakan hati (Hepatic Tuberculosis)

TB juga dapat menyerang hati melalui mekanisme yang

sama, yaitu diangkut oleh aliran darah. Tb pada hati dapat

menyebabkan komplikasi lain, diantaranya jaudice

(menguningnya kulit dan lapisan mukosa) dan sakit di area

perut.
21

h. Penatalaksanaan

1) Medis

a) Isonazaid (H)

Isonazaid adalah obat anti tuberkulosis yang sangat

efektif saat ini, bersifat bakterisid dan sangat efektif

terhadap kuman dan keadaan metabolik aktif (kuman yang

sedang berkembang), dan bersifat bakteriostatik terhadap

kuman yang diam. Obat ini efektif pada intrasel dan

ekstrasel kuman, dapat berdifusi kedalam seluruh jaringan

dan cairan tubuh termasuk CSS, cairan pleura, cairan

asites, jaringan kaseosa, dan memiliki angka reaksi

simpang yang sangat rendah. Isonazid diberikan secara

oral. Dosis harian yang biasa diberikan adalah 5-

15mg/KgBB/hari, maksimal 300mg/hari paru aktif,

sedangkan pada TB laten paisen dengan berat badan >30

kg diberikan 300 mg.Pemberian isonazaid juga bersamaan

dengan piridoksin (vitamin B6) 25-50 mg/hari untuk

mencegah neuropati perifer.

Isonazid mempunyai dua efek toksik utama yaitu

hepatotoksik dan neuritis perifer. Manifestasi alergi atau

reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh isonazaid

sangat jarang terjadi. Efek samping yang terjadi antara lain

adalah pellagra, anemia hemolitik.


22

b) Rifampisin (R)

Rifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan

ekstrasel, dapat memasuki semua jaringan, dan dapat

membunuh kuman semidorman yang tidak dapat dibunuh

oleh isonazaid. Rifampisin diabsorbsi baik melalui sister

gastrointestinal pada saat perut kosong. Rifampisin

diberikan dalam bentuk oral dengan dosis

10mg/KgBB/hari atau dua kali seminggu dengan

perlakuan DOT, maksimal 600 mg/hari. Jika diberikan

bersamaan dengan isonazaid, dosis rifampisisn tidak

melebihi 15mg/KgBB/hari.

Efek samping rifampisin lebih sering terjadi pada

isonazaid. Efek yang kurang menyenangkan bagi pasien

adalah perubahan warna urine, ludah, keringat, sputum,

dan air mata menjadi warna oranye kemerahan. Selain itu,

efek samping rifampisin adalah gangguan gastrointestinal

(muntah dan mual), dan hepatotoksik (ikterus/hepatitis).

Rifampisin juga dapat menyebabkan tromositopenia, dan

menyebabkan kontrasepsi oral menjadi tidak efektif.

c) Pirazinamid (Z)

Pirazinamid adalah derivate dari nikotinamid,

berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh

diabsorbsi dengan baik pada saluran pencernaan.


23

Pemberian pirazinamid secara oral sesuai dosis 15-

30mh/KgBB/hari dengan dosis maksimal 2 gr/hari. Atau

diberikan dua kali seminggu dengan dosis 50mg/KgBB

secara oral.

d) Etambutol (E)

Etambutol memilki aktivitas bakteriostatik tetapi

juga dapat bersifat bakterisid. Etambutol pada fase intensif

dapat diberikan 20mg/KgBB. Sedangkan pada fase

lanjutan dapat diberikan 15mg/KgBB, atau 30mg/KgBB

yang diberikan 2 kali seminggu.

e) Streptomisin (S)

Streptomisin bersifat bakterisid dan bakteriostatik

terhadap kuman ekstraseluler pada keadaan basal atau

netral, sehingga tidak efektif untuk membunuh kuman

intraseluler. Saat ini, streptomisin jarang digunakan dalam

pengobatan TB, tetapi penggunaannya penting pada

pengobatan fase intensif meningitis TB. Streptomisin

dapat diberikan 15mg/KgBB secara muskular, tidak boleh

melebihi 1gr/hari. Atau dapat diberikan dengan dosis dua

kali per minggu, 25-30mg/KgBB secara intra muskular,

tidak melebihi 1,5 gr/hari.

Streptomisin sangat baik melewati selaput otak

yang meradang, tetapi tidak dapat melewati selaput otak


24

yang tidak meradang. Streptomisin berdifusi dengan baik

pada jaringan dan cairan pleura, dan diekskresi melalui

ginjal. Streptomisin dapat menembus plasenta sehingga

perlu berhati-hati dalam menentukan dosis pada wanita

hamil karena dapat merusak saraf pendengaran janin.

Toksisitas utama streptomisin terjadi pada nervus kranial

VIII yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran,

dengan gejala berupa telinga berdengung dan pusing.

Panduan pemberian OAT yang digunakan oleh

Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia

adalah :

a) Kategorik 1 : 2RHZE/4RH3

OAT kategorik 1 diberikan pada pasien baru, yaitu pasien

paru terkonfirmasi bakteriologis, TB paru terdiagnosis

klinis, dan pasien TB ekstra paru. OAT kategorik 1

diberikan dengan cara RHZ selama 2 bulan, dilanjutkan

dengan RH 4 bulan.

b) Kategorik 2 : 2 RHZES/RHZE/5RH3E3

OAT kategorik 2 diberikan pada pasien BTA positif yang

sudah diberikan tatalaksana sebelumnya, yaitu pada pasien

kambuh, pasien gagal pengobatan dengan kategorik 1, dan

pasien yang diobati kembali setelah putus obat.


25

Ada beberapa terapi MDR-TB yaitu:

Gunakan sedikit 4-5 obat yang tidak pernah diberikan

sebelumnya, dimana obat-obat tersebut masih sensitif secara

invitro. Jangan gunakan obat yang sudah resisten. Ada baiknta

mengonsultasikan pasien dengan MDR-TB kepada spesialis

penyakit paru. Berikut adalah pilihan obat yang dapat

diberikan pada pasien MDR-TB, dengan catatan bahwa obat-

obat ini masih sensitif :

a) Grup 1 : first-line terapi oral, misalnya Pirazinamid,

Etambutol, Rifampisin.

b) Grup 2 : Injeksi, misalnya Kanasimin, Amikasin,

Capreomycin, Streptomisin.

c) Grup 3 : Golongan obat Fluroquinolon misalnya

Levofloksasin, Moxifloksasin, ofloksasin.

d) Grup 4 : Second – line terapi oral bakteriostatik, misalnya

Cycloserine, Terizidone, asam para aminosalisilat (PAS),

etionamide, protionamide.

e) Grup 5 : obat-obat ini tidak dianjurkan oleh WHO untuk

penggunaan rutin karena efektifitasnya masih belum jelas.

Namun diikutsertakan dengan alasan bahwa bilamana ke 4

grup obat tersebut tidak mungkin diberikan kepada pasien,

seperti pada XDR-TB.


26

2) Perawatan

a) Anjurkan untuk istirahat sering dan hindari aktivitas

berlebihan

b) Berikan suplemen oksigen sesuai ketentuan

1. Lakukan tindakan-tindakan pencegahan infeksi seperti

memberikan perawatan pada pasien yang

dihospitalisasi diruangan bertekanan negatif untuk

mencegah keluarnya droplet pernapasan dari dalam

ruangan ketika pintu terbuka.

2. Beri tahu semua staf dan pengunjung agar

menggunakan masker jika melakukan kontak dengan

pasien.

c) Ajarkan pasien tindakan-tindakan untuk mengendalikan

infeksi melalui sekret.

d) Tekankan pentingnya makan makanan yang mengandung

gizi untuk meningkatkan penyembuhan dan memperbaiki

pertahanan tubuh terhadap infeksi.

e) Berikan makanan sedikit tapi sering dan suplemen cairan

selama periode simtomatik.

f) Motivasi untuk patuh terhadap pengobatan tindak lanjut.


27

i. Faktor Resiko Tuberkulosis

1) Pengidap HIV, diabetes militus (kencing manis), malnutrisi,

atau penyakit lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.

2) Orang yang melakukan kontak dengan penderita tuberkulosis.

3) Orang yang merawat pasien tuberkulosis, misalnya dokter atau

perawat.

4) Orang yang tinggal atau bekerja satu tempat dengan penderita

tuberkulosis.

5) Orang yang tinggal di wilayah yang kondisi kesehatannya

buruk.

6) Pengguna alkohol atau obat terlarang.

7) Orang yang berpergian ke tempat di mana tuberkulosis

merupakan penyakit yang umum.

8) Usia produktif yang memudahkan terkenanya bakteri

tuberkulosis.

9) Riwayat merokok

j. Pemeriksaan Penunjang

1) Uji tuberculin

Tuberculin adalah komponen protein kuman TB yang

mempunyai sifat antigenic yang kuat. Jika disuntikkan secara

intrakutan kepada seseorang yang telah terinfeksi, maka akan

terjadi reaksi berupa indurasi di lokasi suntikan.


28

2) Uji Interferon

Uji interferon adalah adalah pemeriksaan specimen darah dan

diharapkan dapat membedakan infeksi TB dan sakit TB. Uji

interferon (Interferon Gamma Release Assay, IGRA) terdapat

dua jenis, pertama adalah inkubasi darah dengan Early

Sacretory Antigenic Target-6 (ESAT-6) dan Cultur Filtrate

Protein-10. Kedua adalah pemeriksaan Enzyme-Linked Immuni

Spot. Prinsip yang digunakan adalah merangsang limfosit T

dengan antigen tertentu, diantaranya dengan antigen dari

kuman TB.

3) Radiologi

Secara umum, gambaran radiologis yang sugestif TB adalah

sebagai berikut :

a) Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan / tanpa

infiltrate.

b) Konsolidasi / lobar.

c) Milier

d) Klasifikasi dengan infiltrat.

e) Atelaktasis

f) Kavitas.

g) Efusi pleura

h) Tuberculoma.
29

4) Serologi

Beberapa pemeriksaan serologi yang ada diantaranya adalah

PAP TB, Mycodot, Immuno Chromatographic Test (ICT), dan

lain-lain. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada satupun

pemeriksaan serologis yang dapat memenuhi harapan. Semua

pemeriksaan tersebut umumnya masih dalam taraf penelitian

namun bekum untuk pemakaian klinis praktis.

5) Mikrobiologi

Pemeriksaan mikrobiologi yang dilakukan terdiri dari tiga

macam, yaitu pemeriksaan mikroskopis asupan langsung untuk

menentukan BTA, pemeriksaan biakan kuman M. Tuberculosis

dan pemeriksaan PCR.

3. Perilaku

a. Pengertian Perilaku

Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari

pada manusia itu sendiri, perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh

organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau tidak

langsung. Menurut Atikah, dkk (2012) perilaku adalah suatu

aktivitas dari manusia itu sendiri dan perilaku tersebut ada karena

adanya rangsangan yang mengenai individu tersebut.


30

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Waryana (2016),

perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

rangsangan dari luar (stimulus). Dilihat dari bentuk respons terhadap

stimulus, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Perilaku tertutup (covert behaviour)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap

stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,

pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang

menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati secara

jelas oleh orang lain.

2) Perilaku terbuka (Over Behavior)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut

sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang

dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap

organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori

Skinner ini disebut teori “S-O-R” (Stimulus-Organisme-Respons).

Berdasarkan batasan dari Skinner tersebut, maka dapat didefinisikan

bahwa perilaku adalah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh

seseorang dalam rangka pemenuhan keinginan, kehendak,

kebutuhan, nafsu, dan sebagainya. Kegiatan ini mencangkup :


31

1) Kegiatan kognitif: pengamatan, perhatian, berfikir yang disebut

pengetahuan

2) Kegiatan emosi: merasakan, menilai yang disebut sikap (afeksi)

3) Kegiatan konasi: keinginan atau kehendak yang disebut tindakan

(practice).

Menurut Wawan dan Dewi (2010), perilaku dapat dibedakan

menjadi dua macam, yaitu:

1) Perilaku pasif adalah respon internal, yaitu yang terjadi dalam

diri manusia dan yang tidak secara langsung dapat terlihat oleh

orang lain (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap)

artinya seseorang yang memiliki pengetahuan positif untuk

mendukung hidup sehat tetapi ia belum melakukan secara

konkrit.

2) Perilaku aktif adalah perilaku yang diamati secara langsung

(melakukan tindakan), misalnya seseorang yang tahu bahwa

menjaga kebersihan amat penting bagi kesehatannya serta dapat

menganjurkan pada orang lain untuk berbuat serupa.

b. Domain Perilaku

Menurut Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010) domain

perilaku dibagi menjadi tiga aspek, yaitu:


32

1) Kognitif

Kognitif berasal dari bahasa latin cognitio memiliki arti

pengenalan, yang mengacu kepada proses mengetahui maupun

kepada pengetahuan itu sendiri. Dalam kata lain, aspek kognitif

merupakan aspek yang berkaitan dengan nalar atau proses

berpikir, yaitu kemampuan aktivitas otak untuk

mengembangkan kemampuan rasional. Dalam aspek kognitif

dibagi lagi menjadi beberapa aspek yang lebih rinci yaitu :

a) Pengetahuan (Knowladge)

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil

tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang

dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).

Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian

besar pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai

intensitas atau tingkat yang berbeda-beda.

b) Pemahaman (Comprehension)

Aspek ini lebih tinggi daripada aspek pengetahuan.

Mengacu kepada kemampuan untuk mendemonstrasikan

fakta dan gagasan dengan mengelompokkan,

mengorganisir, membandingkan, memberi deskripsi,

memahami dan terutama memahami makna-makna dari hal-


33

hal yang telah dipelajari. Memahami suatu hal telah

dipelajari dalam bentuk translasi (mengubah bentuk),

interpretasi (menjelaskan atau merangkum), dan

ekstrapolasi (memperluas arti dari suatu materi).

c) Penerapan (Application)

Penerapan diartikan apabila orang yang telah memahami

objek yang dimaksud dapat menggunakan atau

mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada

situasi yang lain.

d) Analisis (Analysis)

Menganalisa melibatkan pengujian dan pemecahan

informasi ke dalam beberapa bagian, menentukan

bagaimana suatu bagian berhubungan dengan bagian

lainnya, mengidentifikasi motif atau penyebab dan

membuat kesimpulan serta materi pendukung kesimpulan

tersebut. Tiga karakteristis yang ada dalam aspek analisis

yaitu analisis elemen, analisis hunungan, analisis organisasi.

e) Sintesis (Synthesis)

Sintesis termasuk menjelaskan struktur atau pola yang tidak

terlihat sebelumnya, dan juga mampu menjelaskan

mengenai data atau informasi yang didapat. Dengan kata

lain, aspek sintesis meliputi kemampuan menyatukan


34

konsep atau komponen sehingga dapat membentuk suatu

struktur yang memiliki pola baru.

f) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk berpikir dan

memberikan penilaian serta pertimbangan dari nilai-nilai

materi untuk tujuan tertentu. Atau dengan kata lain,

kemampuan menilai sesuatu untuk tujuan tertentu. Evaluasi

ini dilakukan berdasarkan kriteria internal dan eksternal.

2) Sikap

Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap

stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor

pendapat dan emosi (senang-tidak senang. Setuju-tidak setuju,

baik-tidak baik, dll). Fungsi sikap belum merupakan tindakan

(reaksi terbuka) atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi

perilaku (tindakan) atau reaksi tertutup. Sikap memiliki tingkat-

tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut :

a) Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau

menerima stimulus yang diberikan (objek).

b) Menanggapi (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di

lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan

kepuasan dalam memberikan tanggapan.


35

c) Menghargai (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada

suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian

berdasarkan pada internalisasi dari serangkaian nilai

tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

d) Bertanggung jawab (Responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatnya adalah bertanggung

jawab terhadap apa yang telah diyakininya, dia harus berani

mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan

atau adanya risiko lain.

3) Tindakan atau praktik (Practice)

Tindakan ini merujuk pada perilaku yang diekspresikan dalam

bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari

pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki. Ada beberapa

komponen tindakan ini, yaitu :

a) Praktik terpimpin (Guided Response)

Apabila individu telah melakukan sesuatau tetapi masih

tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan.

b) Praktik secara mekanisme (Mechanism)

Apabila individu telah melakukan atau mempraktikkan

sesuatu hal secara otomatis.


36

c) Adopsi (Adoption)

Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah

berkembang. Artinya yang dilakukan tidak sekedar rutinitas

atau mekanisme saja, tetapi sudah dimodifikasi atau lebih

berkualitas.

c. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Notoadmodjo (2010), faktor yang mempengaruhi

perilaku dibagi menjadi dua aspek, yaitu:

1) Faktor internal

Faktor internal menjelaskan bahwa tingkah laku manusia

adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang

ada didalam dirinya. Faktor-faktor internal yang dimaksud

antara lain jenis genetika, sikap, ras atau keturunan, jenis

kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensia.

2) Faktor eksternal

a) Faktor lingkungan

Lingkungan dusini menyangkut segala sesuatu yang ada

disekitar individu, baik fisik, biologis maupun sosial.

Ternyata lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku

individu karena lingkungan merupakan lahan untuk

perkembangan perilaku.
37

b) Pendidikan

Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan

masalah perilaku individu maupun kelompok.

c) Agama

Agama sebagai sesuatu keyakinan hidup yang masuk ke

dalam kontruksi kepribadian seseorang sangat berpengaruh

dalam cara berfikir, bersikap, beraksi, dan berperilaku

individu.

d) Sosial

Faktor sosial sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi

perilaku antara lain struktur sosial, pranata-pranata sosial

dan permasalahan-permasalahan sosial yang lain. Pada

faktir sosial ini bila seseorang berada pada lingkungan yang

baik maka orang tersebut akan memiliki perilaku sehat yang

baik sedangkan sebaliknya bila seseorang berada

dilingkungan yang baik maka orang tersebut akan memiliki

perilaku sehat yang kurang baik juga. Dukungan sosial

(keluarga, teman) mendorong perubahan perilkau sehat.

e) Kontrol perilaku pribadi adalah kepercayaan seseorang

mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.


38

d. Upaya Perubahan Perilaku

Menurut Intan (2016), hal yang penting di dalam perilaku

kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku.

Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan

kesehatan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program

kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar

covert behavior tapi juga overt behavior. Di dalam program-program

kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan

norma-norma kesehatan diperlukan usaha-usaha yang konkrit dan

positif. Beberapa startegi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa

dikelompokkan menjadi tiga bagian :

1) Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran

sehingga ia mau melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya

dengan peraturan-peraturan / undang-undang yang harus

dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan

yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena

perubahan yang terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri.

2) Pemberian informasi

Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat,

pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit dan

sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan


39

kesadaran individu yang pada akhirnya akan menyebabkan

orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya.

3) Diskusi partisipatif

Cara ini merupakan cara kedua dimana penyampaian informasi

kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara

partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya

penerima yang pasif tetapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam

diskusi tentang informasi yang diberikan.

4. Perilaku Sehat

a. Definisi Perilaku Sehat

Perilaku sehat adalah semua perilaku kesehatan yang

dilakukan untuk pemeliharaan kesehatan berdasarkan kesadaran

individu untuk menolong agar penyakit tidak dapat menyerang

dirinya sendiri dengan berperan aktif dalam mempraktikkan perilaku

sehat yang berkaitan dengan sehat sakit, faktor-faktor yang

mempengaruhinya seperti lingkungan, makanan, minuman, dan

yankes.

Perilaku sehat mencerminkan individu yang menjaga

kesehatannya. Dalam program tersebut dapat meningkatkan sumber

daya manusia khususnya dalam peningkatan derajat kesehatan, pola

hidup, dan pemanfaatan sarana kesehatan lingkungan demi

tercapainya derajat kesehatan yang optimal serta masyarakat


40

terhindar dari penyakit atau tertularnya penyakit tuberkulosis

(Atikah, 2012).

b. Tujuan Perilaku Sehat

Tujuan Perilaku sehat adalah untuk meningkatkan

pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan penderita untuk

hidup sehat, serta meningkatkan peran serta aktif penderita dalam

upaya mewujudkan kesehatan yang optimal (Kemenkes, 2016).

c. Manfaat Perilaku Sehat

Manfaat perilaku sehat adalah terciptanya masyarakat yang

sadar atas kesehatan diri, memiliki bekal pengetahuan dan kesadaran

akan kesehatan, memenuhi standar kesehatan agar dapat

meningkatkan kesehatan serta terhindar dari penyakit (Atikah, 2012).

d. Tiga Kelompok Perilaku Sehat

1) Health Maintenance adalah perilaku individu untuk memelihara

dan menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk

penyembuhan bila sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri

dari 3 aspek yaitu :

a) Perilaku pencegahan penyakit, dan menyembuhkan bila

sakit serta pemulihan bila sembuh.

b) Perilaku peningkatan kesehatan.


41

c) Perilaku gizi (makanan) dan minuman.

2) Health Seeking Behavior adalah upaya atau tindakan individu

saat menderita penyakit atau kecelakaan. Perilaku mulai dari

mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan

ke luar negeri.

3) Perilaku kesehatan lingkungan yaitu bagaimana individu

merespon lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial budaya dan

sebagainya. Sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi

kesehatannya.

e. Indikator Perilaku Sehat dan Pengukurannya

Menurut Asda (2015), dalam perkembangannya para ahli

menetapkan indikator pengukuran dari 3 doamin perilaku menjadi

indikator perilaku sehat, yaitu :

1) Pengetahuan kesehatan (Health Knowledge) adalah hal-hal yang

diketahui oleh seseorang tentang cara memelihara kesehatan.

Pengetahuan kesehatan ini meliputi :

a) Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular.

b) Pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan yang

mempengaruhi kesehatan.

Untuk mengukur pengetahuan kesehatan seperti yang

telah disebutkan, adalah dengan :


42

a) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung

(wawancara).

b) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertulis (angket).

2) Sikap terhadap kesehatan (Health Knowledge) adalah pendapat

atau penilaian seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan

pemeliharaan kesehatan, yang mencangkup :

a) Sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular

b) Sikap terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan

3) Praktik kesehatan (Health Practice) adalah semua kegiatan atau

aktivitas seseorang dalam rangka memelihara kesehatan.

f. Macam-Macam Perilaku Sehat

Menurut CIMSA (2016), ada beberapa macam perilaku sehat. Yaitu :

1) Olahraga teratur.

Olahraga yang teratur diperlukan untuk membuat daya

tahan tubuh menjadi kuat sehingga terhindar dari berbagai

macam penyakit berbahaya dan menular seperti penyakit

Tuberkulosis.

2) Istirahat yang cukup.

3) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.


43

4) Makan makanan yang bergizi.

Makan makanan yang bergizi diperlukan juga untuk

meningkatkan kekebalan tubuh, makanan bergizi tersebut

seperti:

a) Makanlah berbagai macam buah segar dan sayuran setiap

hari.

b) Makan makanan yang bersumber dari karbohidrat seperti

nasi, gandum, kentang, roti, kacang-kacangan, dan jagung.

c) Mengkonsumsi susu. Kalsium dalam susu sangat penting

dalam membangun kesehatan tulang.

d) Makanlah daging dan berbagai macam makanan yang kaya

protein seperti ikan .

5) Membersihkan kamar, menjemur alat-alat tidur seperti bantal

dan mencuci pakaian sampai bersih

6) Menghindari paparan asap rokok dan mengurangi kebiasaan

merokok

7) Membuka jendela setiap hari.

Kuman TB umumnya dapat bertahan hidup di udara

bebas selama satu sampai dua jam, tergantung dari ada tidaknya

paparan sinar matahari, kelembapan, dan ventilasi. Pada kondisi

gelap, lembab, dan dingin kuman TB dapat bertahan berhari-hari

bahkan sampai berbulan-bulan. Namun, bakteri TB bisa

langsung mati jika terpapar oleh sinar matahari langsung. Maka,


44

bukalah jendela dan tirai ketika cuaca cerah. Biarkan sinar

matahari masuk kedalam ruangan untuk membunuh kuman-

kuman TB yang mungkin bersemayam didalam rumah. Ketika

membuka jendela, sirkulasi udara pun dapat mendorong kuman-

kuman keluar rumah sehingga mereka mati ketika terpapar sinar

ultraviolet dari sinar matahari.

g. Faktor yang mempengaruhi perilaku sehat

Menurut Akbar, dkk (2016), ada beberapa faktor yang

mempengaruhi perilaku sehat. Yaitu :

1) Jenis kelamin.

Jenis kelamin menentukan perilaku sehat penderita TB.

Perempuan lebih cenderung melakukan perawatan kesehatan

daripada laki-laki.

2) Pengetahuan.

Pengetahuan yang baik dapat berperilaku sehat.

Kesadaran terhadap pentingnya perilaku sehat akan tumbuh jika

pengetahuan masyarakat baik.

3) Sikap.

Sikap mempengaruhi perilaku seseorang untuk

berperilaku sehat.
45

4) Ketersediaan pelayanan kesehatan

Ketersedian pelayanan dapat mempengaruhi perilaku

sehat masyarakat salah satunya yaitu dengan memberikan

informasi mengenai penyakit Tuberkulosis.

5) Dukungan keluarga.

Dukungan keluarga memegang peranan penting dalam

perilaku sehat seseorang.

h. Hubungan Perilaku Sehat dengan Kejadian Tuberkulosis

Perilaku sehat merupakan semua perilaku kesehatan yang

dilakukan berdasarkan kesadaran keluarga dan anggota keluarga

untuk menolong agar penyakit yang dapat menyerang dirinya sendiri

dengan berperan aktif dalam mempraktikkan perilaku sehat.

Tuberkulosis dipengaruhi juga oleh perilaku sehat seseorang,

dampak yang dapat ditimbulkan dari perilaku yang tidak sehat

adalah mudahnya seseorang tertular penyakit salah satunya penyakit

Tuberkulosis dan akan mengakibatkan peningkatan jumlah penyakit

tersebut. Menurut Intan (2016) penularanm kuman Tuberkulosis

keluar keluar ke udara (melalui droplet/percikan dahak) pada saat

penderita TB batuk, bersin atau berbicara.. kuman yang keluar akan

terhirup oleh orang lain melalui saluran pernafasan. Jika daya tahan

tubuh seseorang lemah, orang tersebut akan tertular penyakit


46

Tuberkulosis. Daya tahan tubuh seseorang dipengaruhi juga dengan

perilaku sehat masyarakat.

B. Penelitian Terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Mudiyono, dkk (2016) dengan judul

“Hubungan Antara Perilaku Ibu dan Lingkungan Fisik Rumah dengan

Kejadian Tuberkulosis Pada Anak di Kota Pekalongan” didapatkan hasil

terdapat hubungan perilaku ibu dengan kejadian Tuberkulosis pada anak

dengan hasil Uji Chi Square pvalue < 0,001.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Maria Haryanti Butarbutar

(2018) dengan judul “Hubungan Perilaku dan Sanitasi Lingkungan Dengan

Pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Amplas Medan”. Menggunakan

jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan Cross-sectional Study

dengan menggunakan 41 sampel yang menderita TB (+) didapatkan hasil

perilaku positif sebanyak 22 orang (53,6%) dengan hasil uji Chi-Square 0,008

< α 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara perilaku dengan pasien TB

paru.

C. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan abstrak dari teori-teori yang berkaitan

dengan penelitian yang dirancang (Notoadmojo, 2012). Kerangka teori dalam

penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:


47

Macam-macam perilaku sehat :

1. Olahraga yang teratur.


2. Istirahat yang cukup.
3. Mencuci tangan debelum dan sesudah
melakukan kegiatan.
4. Makan makanan yang bergizi.
Kejadian
5. Membersihkan kamar, menjemur alat-
alat tidur seperti bantal, dan mencuci Tuberkulosis
pakaian sampai bersih.
6. Menghindari paparan asap rokok dan
mengurangi kebiasaan merokok.
7. Membuka jendela setiap hari.

Sumber : CIMSA (2016)

Skema 2.1 Kerangka Teori

D. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah kerangka yang berhubungan antara konseo-

konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan

dilakukan (Notoadmojo, 2010).

Kerangka Konsep dalam penelitian ini adalah :

Variabel Independent Variabel Dependent

Perilaku Sehat Kejadian Tuberkulosis

Skema 2.2 Kerangka Konsep


48

E. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.

Biasanya hipotesis ini dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua

variabel, variabel bebas dan variabel terikat. Hipotesis berfungsi untuk

menentukan ke arah pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan pernyataan

yang harus dibuktikan (Notoadmojo, 2010). Berdasarkan kerangka konsep,

maka peneliti membuat hipotesis sebagai berikut :

Ha : Ada hubungan antara perilaku sehat dengan kejadian Tuberkulosis di

Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019.


49

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Case

Control yaitu suatu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana

faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospective.

Dengan kata lain, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi

pada saat iniuntuk melihat adanya hubungan Perilaku sehat dengan

kejadian Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang tahun

2019. Adapun rancangan penelitian sebagai berikut:

Penelitian mulai dari


sini

Perilaku
Tidak Kasus dengan
Sehat penyakit
Perilaku Sehat (Masyarakat yang
menderita
Perilaku Tuberkulosis)
Sehat

Perilaku
Tidak
Sehat Kontrol yang tidak
Perilaku Sehat menderita penyakit
Tuberkulosis
Perilaku
Sehat
Skema 3.1 Rancangan Penelitian
50

2. Alur Penelitian

Alur penelitian menunjukkan tentang tahapan yang dilakukan

dalam penelitian yakni disajikan dalam skema 3.2

Wilayah Kerja Puskesmas Tambang

Sampel Kasus Sampel Kontrol


(Menderita (Tidak menderita
Tuberkulosis) Tuberkulosis)

(n=30) (n=30)

Perilaku sehat Perilaku sehat

Kejadian Pengolahan Data Kejadian


Tuberkulosis Tuberkulosis

Analisa Data

Hasil

Skema 3.2 Alur Penelitian


51

3. Prosedur Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengumpulkan data

melalui prosedur sebagai berikut :

a. Mengajukan surat permohonan izin kepada Universita Pahlawan

Tuanku Tuanku Tambusai untuk mengadakan penelitian di wilayah

kerja Puskesmas Tambang.

b. Setelah mendapat izin, peneliti memohon izin kepada pimpinan

Puskesmas Tambang, Kepala Desa Sei Pinang, dan Kepala Desa

Kualu.

c. Penulis memberikan informasi secara lisan dan tulisan tentang

manfaat dan etika penelitian serta menjamin kerahasiaan responden.

d. Jika responden bersedia, maka responden tersebut menandatangani

surat persetujuan menjadi responden yang diberikan oleh peneliti.

e. Peneliti memberikan kuesioner kepada responden, setelah responden

menjawab semuanya pernyataan di kuesioner yang diberikan, maka

kuesioner dikumpulkan kembali, kemudian peneliti memeriksa

kelengkapan jawaban.

f. Selanjutnya dilakukan pengolahan dana dan analisa data.

g. Seminar hasil penelitian.


52

4. Variabel Penelitian

a. Variabel Bebas (Independent Variabel)

Variabel bebas yakni variabel yang mempengaruhi, menjelaskan

atau menerangkan variabel lain, variabel ini menyebutkan variabel

lain pada variabel terikat (Hidayat, 2014). Adapun variabel bebas

dalam penelitian ini adalah perilaku sehat.

b. Variabel Terikat (Dependent Variabel)

Variabel terikat adalah variabel yang disebut sebagai variabel

respon, output, keriteria, konsekuen. Variabel terikat merupakan

variabel yang menjadi akibat dalam penelitian ini tentang kejadian

Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Tambang.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang yaitu

di desa Sei Pinang dan desa Kualu.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilakukan pada tanggal 05-08Agustus 2019.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh


53

peneliti untulk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (V. Wiratna, S,

2014). Populasi dalam penelitian ini adalah 60 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi yang digunakan oleh penelitian (V. Wiratna, S, 2014). Sampel

didalam penelitian ini dilakukan dengan perbandingan 1:1 dimana sampel

terdiri dari kelompok kasus yaitu penderita tuberkulosis di Wilayah Kerja

Puskesmas Tambang Tahun 2019 sebanyak 30 orang. Sedangkan

kontrolnya keluarga yang tinggal dengan penderita Tuberkulosis di

Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019 sebanyak 30 orang.

a. Kriteria Sampel

1) Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah batasan ciri atau karakter umum pada

suatu objek penelitian. Adapun kriteria inklusi dari subyek

penelitian ini adalah :

a) Penderita Tuberkulosis.

b) keluarga yang tidak menderita Tuberkulosis

c) keluarga yang tinggal dengan penderita

d) Berada ditempat pada saat penelitian

e) Bersedia menjadi responden


54

2) Kriteria Ekslusi

Kriteria ekslusi adalah sebagian subyek yang tidak memenuhi

kriteria inklusi yang harus dikeluarkan dari penelitian. Kriteria

ekslusi dari subyek penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) Penderita atau keluarga yang tidak ada ditempat pada saat

dilakukan penelitian.

b) Penderita yang tidak bersedia menjadi responden.

b. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel kasus dalam penelitian ini adalah

menggunakan tekniktotal sampling atau sampling jenuh yaitu cara

pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi

menjadi sampel yaitu sebanyak 30 sampel sebagai sampel kasus.

Sedangkan sampel kontrolnya penulis memilih lagi sesuai matching

dengan kelompok kasus yaitu keluarga yang tinggal serumah dengan

penderita sebanyak 30 sampel kontrol.

c. Besar Sampel

Jadi, besar sampel yang diambil dalam penelitian ini sesuai dengan

kriteria inklusi dan ekslusi yaitu 60 orang dengan 30 penderita

tuberkulosis dan 30 orang yang tidak menderita tuberkulosis.


55

D. Etika Penelitian

Etika dalam penelitian ini merupakan masalah yang sangat penting,

karena dalam penelitian ini berhubungan dengan subyek (Manusia). Adapun

etika dalam penelitian ini adalah :

1. Lembaran Persetujuan (Informant Consent)

Lembaran persetujuan merupakan bentuk persetujuan antara

peneliti atau responden. Penelitian ini dengan cara memberikan lembar

persetujuan yang dilakukan untuk menjadi responden. Informant bertujuan

untuk subyek mengerti maksud dan tujuan peneliti. Jika responden

bersedia, maka mereka harus mengisi dan menandatangani lembar

persetujuan dari peneliti, jika tidak bersedia maka peneliti harus

menghormati hak-hak responden.

2. Tanpa Nama (Anonimity)

Merupakan suatu bentuk untuk menjaga keberhasilan responden.

Penelitian tidak akan mencantumkan nama responden pada lembaran

pengumpulan data, dan hanya menuliskan kode pada lembaran

pengumpulan data atau hasil peneliti yang akan disajikan.

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh

peneliti (Hidayat, 2014).


56

E. Alat Pengumpulan Data

1. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner yang meliputi : Nama, Umur, pekerjaan, dan pendidikan

2. Kuesioner untuk mengukur perilaku sehat menggunakan skala

Likertdengan indikator 10 pernyataan. Kuesioner ini terdiri dari 5

alternatif jawaban, yaitu Selalu (S), Sering (SR), Kadang-kadang (KK),

Jarang (J), Tidak Pernah (TP). Dengan aspek penilaian :

a. Perilaku Tidak Sehat : Jika total score>25

b. Perilaku Sehat : Jika total score≤ 25

F. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

Menurut Notoatmodjo (2010) dikatakan bahwa validitas adalah

suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa

yang diukur. Untuk mengetahui validitas suatu angket atau kuesioner

dilakukan dengan cara melakukan korelasi antar skor masing-masing

variabel (pernyataan). Dikatakan valid bila skor variabel tersebut

berkolerasi secara signifikan dengan skor totalnya. Kuesioner ini dibuat

oleh peneliti dan dilakukan uji instrument kembali yang dilakukan

kepada 30 responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan

responden yang akan dilakukan penelitian. Kuesioner dikatakan valid

jika r hitung >0,361. Hasil uji validitas berdasarkan statistik pada


57

instrument perilaku sehat dengan kejadian Tuberkulosis sebanyak 10

pertanyaan.

Uji validitas akan dilakukan pada 15 penderita Tuberkulosis dan

15 orang yang tinggal dengan penderita yang tidak menderita

Tuberkulosis dengan jumlah keseluruhan 30 orang di Kecamatan

Bangkinang Kota, dengan masing masing pernyataan kuesioner yaitu

sebanyak 15 item. Setelah divaliditasi menjadi 10 item peryataan yang

valid.

2. Uji Reliabilitas

Uji reabilitas dilakukan untuk mengukur seberapa jauh responden

memeberikan jawaban yang konsisten terhadap kuesioner yang

diberikan. Asumsi dasar metode ini adalah suatu alat tes memiliki

realibilitas yang tinggi jika digunakan pada waktu yang berbeda dan

mendapatkan hasil yang sama dengan menggunakan rumus alfa

cronbach. Nilai koefisien korelasi alfa cronbach tersebut menunjukkan

<0,843 yang berarti bahwa kuesioner tersebut realibel untuk digunakan

sebagai alat pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010).

G. Prosedur Pengumpulan Data

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan peneliti sebelum penelitian

yaitu mempersiapkan prosedur-prosedur pengumpulan data. Adapun langkah-

langkahnya diuraikan sebagai berikut :


58

1. Mengajukan surat permohonan izin kepada institusi Universitas Pahlawan

Tuanku Tambusai untuk mengadakan penelitian di Puskesmas Tambang.

2. Setelah mendapatkan izin kepada Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

untuk mengadakan peneliti memohon izin kepada kepada Kantor Kesatuan

Bangsa dan Politik daerah Kampar.

3. Setelah mendapatkan izin dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik

Kabupaten Kampar peneliti meminta izin kepada pihak puskesmas

Tambang.

4. Peneliti meminta izin untuk melakukan penelitian kepada responden.

5. Peneliti akan memberikan informasi secara lisan dan tulisan tentang

manfaat, etika penelitian serta menjamin kerahasiaan responden.

6. Jika calon responden bersedia menjadi responden, maka mereka harus

menandatangani surat persetujuan menjadi responden yang diberikan

peneliti.

7. Peneliti menjelaskan kepada responden tentang tindakan yang akan

dilakukan kepada responden.

8. Peneliti memberikan lembar persetujuan menjadi responden.

9. Peneliti memberikan lembar kuesioner kepada responden dan menjelaskan

cara pengisian kuesioner.

10. Setelah responden menjawab semua pertanyaan di kuesioner yang

diberikan, maka kuesioner dikumpulkan kembali, kemudian peneliti

memeriksa kelengkapan jawaban.

11. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dan analisa data.


59

H. Teknik Pengolahan Data

Setelah dilakukan pengumpulan data, data yang diperoleh perlu diolah

terlebih dahulu, tujuannya adalah untuk menyederhanakan seluruh data yang

terkumpul. Dalam melakukan penelitian ini data yang diperoleh akan diolah

secara manual, setelah data terkumpul maka diolah dengan langkah-langkah

sebagai berikut :

1. Editing (Pengeditan data)

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau di kumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap

pengumpulan data atau setelah data terkumpul (Hidayat, 2014).

2. Coding (Mengkode data)

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap

data terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila

pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam

pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code

book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari

suatu variabel (Hidayat, 2014).

3. Entri data

Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke

dalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi

frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi

(Hidayat, 2014).
60

4. Cleaning (pembersihan data)

Cleaning merupakan kegiatan memeriksa kembali data yang telah

dimasukkan kedalam komputer untuk memastikan bahwa data tersebut

bersih dari kesalahan.

5. Data Tabulating (pemyusunan data)

Tabulating data merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar

mudah dapat dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.

I. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek

atau fenomena (Hidayat, 2014).


61

Tabel 3.1

Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Skala Hasil Ukur


Operasional Ukur
Variabel Perilaku sehat Kuesioner Ordinal 1.Perilaku Tidak
1. Independen : adalah semua Sehat jika total
Perilaku sehat perilaku kesehatan score> 25
yang dilakukan
untuk 2.Perilaku Sehat
pemeliharaan jika total score≤
kesehatan 25
berdasarkan
kesadaran
individu untuk
menolong agar
penyakit tidak
dapat menyerang
dirinya sendiri
dengan berperan
aktif dalam
mempraktikkan
perilaku sehat
Variabel Suatu penyakit Observasi Ordinal 1.Menderita
2. Dependen : menular Tuberkulosis.
Kejadian langsung yang
Tuberkulosis disebabkan oleh 2.Tidak
Myobacterium menderita
Tuberculosis Tuberkulosis.
yang sebagian
besar menyerang
paru-paru.

J. Rencana Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisa univariat berguna untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang

akan diteliti. Dalam hal ini variabel yang akan dianalisis menggunakan

univariat yakni perilaku sebelum dan setelah penyuluhan kesehatan.

Dengan rumus :
𝐹
P = 𝑛 X 100
62

Keterangan :

P = Persentase

F = Jumlah jawaban yang benar

n = Jumlah item soal

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang di duga

berhubungan atau berkolerasi (Notoadmojo, 2010). Untuk uji yang

dilakukan adalah menggunakan uji Chi-Square yang digunakan untuk

mengevaluasi frekuensi yang diselidiki atau menganalisa hasil penelitian

untuk mengetahui apakah terdapat hubungan atau perbedaan yang

signifikan dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan bantuan sistem

komputerisasi yaitu nilai (p=0,05) dengan rumus :

(0−𝐸)2
X2 = 𝐸

Keterangan :

X2 = Chi-Squer

0 = Observasi

E = Nilai kemaknaan yang diharapkan

Dengan nilai Probability (P) dengan taraf nyata α = 0,05 dan dapat

dinyatakan apabila :
63

a. P value. Jika P value ≤ 0,05 maka Ha diterima Ho ditolak yang artinya

terdapat hubungan antara variabel independen dengan dependen.

b. P value. Jika P value > 0,05 maka Ha ditolak dan Ho diterima yang

artinya tidak terdapat hubungan antara variabel independen dengan

dependen.
64

BAB IV
HASIL PNELITIAN

Penelitian ini dilakukan tanggal 05 Agustus s/d 08 Agustus 2019, dengan

jumlah responden sebanyak 30 kasus dan 30 kontrol dengan total 60 responden di

dua desa yaitu Desa Sei Pinang dan Desa Kualu Kecamatan Tambang. Data yang

diambil pada penelitian ini yaitu perilaku sehat (variabel independen) yang

berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis wilayah kerja Puskesmas Tambang

(variabel dependen) yang diukur menggunakan kuisioner. Dari penyebaran

kuisioner, didapatkan hasil sebagai berikut :

A. Analisa Univariat

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Tabel 4.1: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di Wilayah


Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019

No Usia (Tahun) Frekuensi Persentase (%)


1. 20-29 2 3.3
2. 30-39 9 15
3. 40-49 29 48.3
4. 50-59 19 31.7
5. 60-69 1 1.7
Total 60 100
Sumber: Penyebaran Kuisioner

Dari tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa responden yang berada

di wilayah kerja Puskesmas Tambang sebagian besar pada rentang usia

40-49 tahun yaitu 29 orang (48.3%).


65

2. Karakteristi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di


Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1. Laki-Laki 32 53.3
2. Perempuan 28 46.7
Total 60 100
Sumber:Penyebaran Kuisioner

Dari tabel 4.2 di atas dapat dilihat responden yang ada di wilayah

kerja Puskesmas Tambang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu

32 orang (53.3%).

3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Tabel 4.3: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di


Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019
No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
1. Tidak Sekolah 1 1.7
2. SD Sederajat 3 5
3. SMP Sederajat 8 13.3
4. SMA Sederajat 37 61.7
5. Perguruan Tinggi 11 18.3
Total 60 100
Sumber: Penyebaran Kuisioner

Dari tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar

pendidikan terakhir responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas

Tambang yaitu SMA Sederajat dengan jumlah 37 orang (61.7%).

4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 4.4: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di


Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019
No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1. Bekerja 42 70
2. Tidak Bekerja 18 30
Total 60 100
Sumber: Penyebaran Kuisioner
66

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar

responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tambang bekerja

dengan jumlah 42 orang (70%).

5. Perilaku Sehat Pada Responden

Tabel 4.5: Distribusi Frekuensi Perilaku SehatResponden di Wilayah


Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019
No Perilaku Sehat Frekuensi Persentase (%)
1. Perilaku Tidak Sehat 35 58.3
2. Perilaku Sehat 25 41.7
Total 60 100
Sumber: Penyebaran Kuisioner

Dari tabel 4.5 di atas bahwa sebagian besar responden yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Tambang tidak berperilaku sehat

yaitu dengan jumlah 35 orang (58.3%).

6. Kejadian Tuberkulosis Pada Responden

Tabel 4.6: Distribusi Frekuensi Kejadian TuberkulosisResponden di


WilayahKerja Puskesmas Tambang Tahun 2019
No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1. Kasus (Penderita) 30 50
2. Kontrol (Tidak Menderita) 30 50
Total 60 100
Sumber: Penyebaran Kuisioner

Dari tabel 4.6 di atas diketahui bahwa responden dengan

kelompok kasus yaitu 30 orang (50%) dan responden dengan kelompok

kontrol yaitu 30 orang (50%).


67

B. Analisa Bivariat

Tabel 4.7: Hasil Analisa Hubungan Perilaku Sehat Dengan Kejadian


Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019

Kejadian Tuberkulosis
Tidak Total
Penderita
No Perilaku Sehat Menderita P Value OR
(Kasus)
(Kontrol)
N % N % N %
Perilaku Tidak
1 Sehat 25 83.3 10 33.3 35 58.3 0.000 10.0
2 Perilaku Sehat 5 16.7 20 66.7 25 41.7
Total 30 100 30 100 55 100

Dari tabel 4.7 di atas diketahui hasil tabulasi silang (crosstabs) antara

perilaku sehat dengan kejadian Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas

Tambang menunjukkan bahwa responden yang berperilaku tidak sehat pada

kelompok kasus (menderita TB) sebenyak 25 responden (83.3%) lebih besar

dibandingkan dengan responden yang berperilaku sehat yaitu sebanyak 5

orang (16.7%). Sedangkan responden yang berperilaku tidak sehat pada

kelompok kontrol (tidak menderita TB) sebanyak 10 responden (33.3%) lebih

kecil dibandingkan responden yang berperilaku sehat yaitu sebanyak 25

responden (83.3%).

Dari hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai signifikan p Value =

0.000 (p Value ≤ α 0.05). Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan

yang signifikan antara perilaku sehat dengan kejadian tuberkulosis di wilayah

kerja Puskesmas Tambang dengan nilai OR = 10.0 dapat disimpulakan bahwa

responden yang berperilaku tidak sehat 10 kali lipat beresiko terkena

tuberkulosis dibandingkan dengan responden yang berperilaku sehat.


68

BAB V
PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai Hubungan

perilaku sehat dengan kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas

Tambsang tahun 2019.

A. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa

dari 30 responden kelompok kasus (menderita TB), terdapat 25 responden

(83.3%) yang berperilaku tidak lebih besar dibandingkan dengan responden

yang berperilaku sehat sebanyak 5 responden (16.7%). Sedangkan dari 30

responden pada kelompok kontrol (tidak menderita TB), terdapat 10

responden (33.3%) yang berperilaku tidak sehat lebih kecil dibandingkan

responden yang berperilaku sehat yaitu sebanyak 25 responden (83.3%).

Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai p = 0.000 (p ≤ α 0.05). Dari hasil

penelitian juga diketahui bahwa nilai OR = 10.0 dimana responden yang

berperilaku tidak sehat beresiko 10 kali lipat terkena tuberkulosis.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Aviliana (2015),

yang dilakukan terhadap 97 responden di Desa Wori Kabupaten Minahasa

Utara didapatkan hasil analisa menggunakan Chi Square dengan hasil

p=0.048 dengan α 0.05 yang berarti terdapat hubungan antara perilaku

dengan kejadian tuberkulosis.


69

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Azzahra (2017) yang

menyebutkan bahwa perilaku yang kurang baik merupakan faktor resiko

untuk terjadinya penularan Tuberkulosis. Jika perilaku seseorang sudah baik

maka akan menurunkan angka kejadian tuberkulosis, tapi jika perilaku ini

masih kurang maka memiliki dampak buruk bagi derajat kesehatannya. Untuk

itu seseorang harus berperilaku yang sehat dalam kesehariannya.

Perilaku sehat merupakan semua perilaku kesehatan yang dilakukan

untuk pemeliharaan kesehatan berdasarkan kesadaran individu agar penyakit

tidak menyerang dirinya sendiri dan berperan aktif dalam mempraktikkan

perilaku sehat, meningkatkan sumber daya manusia khususnya dalam

peningkatan derajat kesehatan, pola hidup demi terhindar dari penyakit

menular seperti penyakit tuberkulosis (Atikah, 2013).

Tuberkulosis dipengaruhi juga oleh perilaku sehat seseorang, dampak

yang dapat ditimbulkan dari perilaku yang tidak sehat adalah mudahnya

seseorang tertular penyakit salah satu penyakit tuberkulosis dan akan

mengakibatkan peningkatan jumlah penyakit tersebut. Penularan tuberkulosis

terjadi melalui droplet / percikan dahak pada saat penderita batuk, bersin atau

berbicara.Kuman yang keluar akan terhirup oleh orang lain melalui saluran

pernapasan. Kuman ini sangat mudah menyebar dari satu orang penderita

dapat menularkan kuman tersebut kepada 10-15 orang lainnya. Jika daya

tahan tubuh seseorang lemah, orang tersebut akan tertular penyakit

tuberkulosis. daya tahan tubuh seseorang dipengaruhi juga oleh perilaku sehat

seseorang.
70

Berdasarkan hasil penelitian 2/3 responden (83.3%) menderita

tuberklulosis berperilaku tidak sehat sedangkan 1/3 responden (16.7%) yaitu

sebanyak 5 orang yang berperilaku sehat tetapi menderita tuberkulisis

disebabkan karena adanya faktor lain seperti daya tahan tubuh yang tidak kuat

dan kebanyakan responden yang memiliki pekerjaan. Berdasarkan hasil

wawancara terhadap 5 responden tersebut 3 orang diantaranya bekerja

sebagai buruh pabrik dan 2 orang lainnya bekerja sebagai buruh tani. Bekerja

sebagai buruh menyebabkan responden terus terkena paparan debu dan asap

yang diperoleh dari tempat pekerjaannya dan terus mendapatkan tekanan dari

pekerjaannya. Tekanan pekerjaan yang dialami menyebabkan seseorang stres,

stres menyebabkan produksi hormon yang dikenal sebagai kortisol akan

menekan sistem kekebalan tubuh. Hal tersebut yang membuat melemahnya

sistem kekebalan tubuh seseorang.

Faktot kedua yaitu jenis kelamin dimana sebagian besar responden

yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tambang berjenis kelamin laki-laki

dengan jumlah 32 orang (53.3%). Penyakit tuberkulosis lebih tinggi terjadi

pada lak-laki karena kebiasaan merokok dan sering terpapar asap rokok yang

dapat menurunkan pertahanan tubuh sehingga perokok sering disebut sebagai

agen dari penyakit tuberkulosis. Dari 5 orang yang responden yang

berperilaku sehat tetapi menderita tuberkulosis semuanya berjenis kelamin

laki-laki dan merupakan perokok aktif.


71

Berdasarkan teori sering terpaparnya asap rokok menyebabkan sistem

kekebalan tubuh menjadi turun dan memudahkan kuman tuberkulosis untuk

masuk ke dalam tubuh. Seseorang sering terpapar asap rokok dan memiliki

riwayat merokok juga dapat menyebabkan keadaan penderita memburuk dan

menyebabkan resiko kekambuhan ketika tuberkulosis sudah diobati (Mollel

and Hilongola, 2017).

Hal ini sesuai dengan penelitian Suarni (2009) yang menjelaskan jenis

kelamin merupakan salah satu faktor resiko seseorang terkena tuberkulosis.

tuberkulosis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Faktor lainnya yaitu umur, dimana sekitar 75% penderita tuberkulosis

adalah kelompok usia yang paling produktif yaitu pada umur 15-50 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian di wilayah kerja puskesmas Tambang didapatkan

5 responden yang berperilaku sehat tetapi menderita tuberkulosis berada

diusia 40-49 tahun.

Pada usia produktif mayoritas orang banyak menghabiskan waktu dan

tenaga untuk bekerja, dimana tenaga banyak terkuras serta waktu istirahat

kurang sehingga daya tahan tubuh menurun ditambah lagi dengan lingkungan

kerja yang padat dan berhubungan dengan banyak orang yang memungkinkan

sedang menderita tuberkulosis. kondisi kerja seperti ini memudahkan

seseorang pada usia produktif lebih berpeluang terkena infeksi tuberkulosis.


72

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jendra, dkk

(2015) yang menyatakan bahwa usia produktif menjadi salah satu faktor

resiko terjadinya tuberkulosis dimana pada usia produktif lebih mudah dan

lebih banyak menderita tuberkulosis.

Sehingga dapat disimpulkan semua yang menyebabkan tuberkulosis

tidak semua karena perilaku negatif tetapi juga disebabkan oleh beberapa

faktor lainnya seperti pekerjaan dan riwayat merokok yang dapat menurunkan

sistem kekebalan tubuh seseorang. Di wilayah kerja Puskesmas Tambang

penderita tuberkulosis meningkat setiap tahun, hal ini disebabkan karena

masih ada responden yang berperilaku negatif dan tidak menjalani kehidupan

yang sehat dikarenakan kurangnya informasi yang didapatkan. Perilaku

negatif merupakan faktor resiko untuk penyakit tuberkulosis. seperti halnya

perilaku masyarakat di wilayah kerja puskesmas Tambang yang masih kurang

mengenai kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan

kegiatan, mengurangi kebiasaan merokok, menghindari paparan asap rokok,

dan kebiasaan memakai tisu atau menutup mulut ketika batuk. Perilaku yang

masih kurang ini dapat menjadi salah satu sumber penularan, sehingga mata

rantai penyakit tuberkulosis ini sulit untuk diputuskan. Selain perilaku yang

menjadi salah satu penyebab terjadinya tuberkulosis usia, jenis

kelamin,pekerjaan, dan daya tahan tubuh juga menjadikan menjadi faktor

resiko terjadinya tuberkulosis. Dan untuk itu, perilaku yang baik harus

ditingkatkan dengan cara masyarakat haruslah lebih sering dipaparkan dengan

bagaimana, apa dan dampak dari penyakit tuberkulosis tersebut, serta ada
73

stimulan/rangsangan yang baik dari pemerintah atau puskesmas untuk

meningkatkan pengetahuan masyarakat (Aviliana, 2015). Semakin banyak

responden yang berperilaku sehat maka semakin berkurang angka kejadian

tuberkulosis.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan adanya Hubungan Perilaku

Sehat dengan Kejadian Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang

Tahun 2019.
74

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat

disimpulkan bahwa :

1. Sebagian besar responden yang ada di wilayah kerja puskesmas Tambang

memiliki perilaku tidak sehat yaitu sebanyak 35 responden.

2. Sebagian besar responden menderita tuberkulosis.

3. Berdasarkan hasil penelitian 2/3 responden (83.3%) menderita tuberkulosis

berperilaku tidak sehat dan 1/3 responden (16.7%) responden yang

berperilaku sehat tidak menderita tuberkulosis.

4. Terdapat hubungan Perilaku Hidup Sehat dengan Kejadian Tuberkulosis di

Wilayah Kerja Puskesmas Tambang Tahun 2019. Berdasarkan uji statistik

Chi Square diperoleh p value yaitu 0.000 < 0.05. kemudian dari hasil

analisis diperoleh nilai OR = 10.0 dimana responden yang berperilaku

tidak sehat beresiko 10 kali lipat terkena tuberkulosis.

B. Saran

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambang informasi masyarakat

khususnya yang menderita tuberkulosis tentang perilaku sehat dengan cara

mengubah gaya hidup menjadi lebih baik lagi.


75

2. Bagi Puskesmas Tambang

Bagi petugas kesehatan diharapkan dapat memeberikan informasi berupa

penyuluhan kepada penderita dan masyarakat terkait tuberkulosis,

penyebaran tuberkulosis, pencagahan penularan tuberkulosis, perilaku

sehat, dan bagaimana cara berperilaku sehat.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian

mengenai perilaku sehat mengenai tuberkulosis dan faktor-faktor yang

mempengaruhi terjadinya tuberkulosis.