Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, Segala puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam.
Atas segala karunia nikmat-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan
sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “Revolusi Perancis ” disusun dalam rangka
memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah peminatan yang diberikan oleh Bapak
Angga Prayuda.

Makalah ini berisi tentang factor-faktor penyebab Revolusi Perancis,Terjadinya


Revolusi Prancis dan pengaruh Revolusi Prancis pada Dunia. Dalam penyusunannya Kami
melibatkan banyak pihak. Oleh sebab itu kami mengucapkan banyak terima kasih atas
segala kontribusinya dalam membantu penyusunan makalah ini.

Meski telah disusun secara maksimal, namun penulis sebagai manusia biasa
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karenanya penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian.

Besar harapan kami makalah ini dapat menjadi sarana membantu para pembaca
untuk memhami sejarah dari Revolusi Prancis .Demikian apa yang bisa kami sampaikan,
semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari karya ini.

Makassar, 28 September 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Revolusi Perancis adalah suatu periode sosial radikaldan pergolakan politik di


Perancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah perancis, dan lebih luas lagi
terhadap Eropa secara keseluruhan. Monarki absolut yang telah memerintah perancis
selama berabad-abad runtuh dalam waktu 3 tahun. Rakyat perancis mengalami transformasi
sosial politik yang epik; feodalisme, aristrokasi, dan monarki mutlak diruntuhkan oleh
kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa dijalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di
pedesaan. Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisidan hierarki monarki, aristokrat,
dan gereja katholik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip yang
baru; Liberte egalite fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Ketakutan
terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya diseluruh eropa, yang berupaya
mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat.
Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad
berikutnya .

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang menjadi latar belakang terjadinya Revulusi Prancis


2. Apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya Revolusi Prancis ?
3. Bagaimana proses terjadinya Revolusi Prancis ?
4. Apa Pengaruh Revolusi Prancis pada Dunia ?

C. Tujuan

1. Mengetahui latar belakang terjadinya Revolusi Prancis


2. Mengetahui faktor penyebab terjadinya revolusi Prancis
3. Mengetahui bagaimana proses terjadinya revolusi Prancis
4. Mengetahui pengaruh revolusi Prancis terhadap dunia
BAB II

PEMBAHASAN

A . Latar Belakang Revolusi Perancis

Latar belakang terjadinya revolusi perancis disebabkan oleh tiga faktor yaitu: faktor
ketidak adilan politik, kekuasaan raja yang absolut, krisis ekonomi, dan munculnya paham
baru.Dalam bidang politik, kaum bangsawan memegang peranan yang sangat penting
dalam bidang politik, sehingga segala sesuatunya ditentukan oleh bangsawan sedangkan
raja hanya mengesahkan saja. Ketidakadilan dalam bidang politik dapat dilihat dari
pemilihan pegawai-pegawai pemerintah yang berdasarkan keturunan dan bukan
berdasarkan profesi atau keahlian, Hal ini menyebabkan administrasi negara menjadi kacau
dan berakibat munculnya tindakan korupsi. Ketidakadilan politik lainnya adalah tidak
diperkenankannya masyarakat kecil untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan.

Pemerintahan Louis XIV bersifat monarki absolut, di mana raja dianggap selalu
benar. Semboyan Louis XIV adalah l'etat c'est moi(negara adalah saya). Untuk
mempertahankan keabsolutannya itu, ia mendirikan penjara Bastille. Penjara ini
diperuntukkan bagi siapa saja yang berani menentang keinginan raja. Penahanan juga
dilakukan terhadap orang-orang yang tidak disenangi raja. Mereka ditahan dengan surat
penahanan tanpa sebab (lettre du cas). Absolutisme Louis XIV tidak terkendali karena
kekuasaan raja tidak dibatasi undang-undang.

Sebab lain terjadinya Revolusi Prancis adalah adanya krisis keuangan. Kehidupan
raja dan para bangsawan istana serta permaisuri Louis XVI ,yakni Maria Antoinette
(terkenal dengan sebutan Madame deficit) yang hidup penuh dengan kemewahan dan
kemegaha. Di samping itu, adanya warisan hutang dari Raja Louis XIV dan Louis XV
menjadikan hutang negara makin menumpuk. Satu-satunya cara untuk mengatasi krisis
keuangan ini adalah dengan cara memungut pajak dari kaum bangsawan, tetapi golongan
bangsawan menolak dan menyatakan bahwa yang berhak menentukan pajak adalah rakyat.
Raja Prancis, Louis XVI menyadari bahwa masalah keuangan negara dapat teratasi bila
setiap orang atau golongan membayar pajak. Akan tetapi karena mereka tidak memiliki
kewibawaan dalam menindak golongan I dan II, maka golongan tersebut tetap memiliki
hak-hak istimewa dan bebas dari pajak.

Selain faktor ketidak adilan politik dan krisi ekonomi, munculnya filsuf-filsuf
pembaharu juga turut andil dalam meletusnya revolusi Prancis dengan pengaruh paham
rasionalisme mereka. Paham ini hanya mau menerima suatu kebenaran yang dapat diterima
oleh akal. Paham ini telah melahirkan renaisans dan humanisme yang menuntun manusia
bebas berpikir dan mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, muncullah ahli-ahli pikir
yang karya-karyanya berpengaruh besar terhadap masyarakat Eropa pada saat itu termasuk
tokoh masyarakat Prancis, seperti berikut.

1. John Locke ( 1685–1753) dengan karyanya yang berjudul Two Treaties of


Government yang mengumandangkan ajaran kedaulatan rakyat.

2. Montesquieu (1689–1755) dengan karyanya L'es prit des Lois (Jiwa Undang-
Undang). Dalam buku itu terdapat teorinya tentang trias politika yakni tentang
pemisahan kekuasaan antara legislatif (pembuat undang-undang), eksekutif (pelaksana
undang-undang, dan Judikatif (pengatur pe-ngadilan segenap pelanggaran terhadap
undang-undang yang berlaku. Hal ini semua dimaksudkan agar tidak terjadi sewenang-
wenang).

3. J.J. Rousseau ( 1712–1778) dengan karyanya Du Contract Social (Perjanjian


Masyarakat). Rousseau mengatakan bahwa menurut kodratnya manusia sama dan
merdeka. Setiap manusia pada prinsipnya sama dan merdeka dalam mengatur
kehidupannya kemudian membentuk semacam perjanjian sesama anggota masyarakat
atau contract social. Melalui perjanjian bersama itu, dibentuk suatu badan yang
diserahi kekuasaan untuk mengatur dan menyelenggarakan ketertiban masyarakat yaitu
pemerintah. Dengan demikian, kedaulatan sebenarnya bukan pada badan (pemerintah),
melainkan pada rakyat.

B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA REVOLUSI PERANCIS

1. Berkembangnya Paham Rasionalisme dan Aufklarung

Paham rasionalisme dan aufklarung berkembang di Eropa sekitar abad ke- 18 setelah
adanya gerakan renaisans dan humanisme yang menentang kekuasaan kaum gereja.

Paham rasionalisme dan aufklarung (pencerahan) merupakan paham yang menganggap


bahwa pikiran merupakan sumber segala kebenaran sehingga segala sesuatu yang tidak
masuk akal dianggap tidak benar. Tokoh-tokohnya adalah Denis Diderot dan J. D’
Alembert yang membuat buku Encyclopedia, Montesquieu yang mengajarkan tentang trias
politika, sertaVoltaire yang banyak menulis tentang kebebasan dan kemerdekaan.

2. Berkembangnya paham Romantisme

Romantisme berkembang sekitar tahun 1750-an. Munculnya romantisme merupakan reaksi


dari rasionalisme. Rasionalisme merupakan paham yang menjunjung tinggi perasaan dan
menghargai naluri manusia. Peran paham ini terhadap meletusnya Revolusi Prancis terjadi
ketika kaum rasionalis tidak berani lagi meneruskan perjuangan karena menurut
penghitungan rasionalisme, revolusi tidak mungkin dapat diselesaikan. Tekad yang
irasional dari rakyat Prancis inilah yang nantinya mampu mengepung Prancis dalam perang
koalisi. Tokoh romantisme adalah J.J. Rousseau dengan karyanya yang terkenal berjudul
Du Contract Social, yang artinya Perjanjian Masyarakat. Buku tersebut banyak mengulas
tentang hak asasi manusia, tokoh paham romantisme yang banyak berpengaruh dalam
revolusi perancis adalah Jean Jacques Rousseau dengan karyanya yang terkenal Du
Contract Social yang artinya perjanjian masyarakat.

3. Pengaruh Perang kemerdakaan Amerika

Dalam perang kemerdekaan Amerika, prancis membantu Amerika denganmengirimkan


pasukan yang dipimpin oleh Lafayette. Munculnya negara Amerika Serikat membawa
pengaruh besar di Prancis. Bagi warga Prancis (terutama dari kalangan borjuis), peristiwa
itu merupakan contoh bagaimana suatu negara seharusnya terbentuk. Negara seharusnya
dibentuk dan diperintah oleh rakyat. Kenyataan itu meyakinkan warga Prancis bahwa
gagasan Montesquieu, J.J Rousseau, serta Voltaire memang dapat diwujudkan dalam suatu
negara demokrasi. Terinspirasi oleh keberhasilan Amerika, warga Prancis semakin
bersemangat untuk berjuang demi kebebasan mereka.

4. Ketidaksamaan dalam Sistem Feodalisme

Sistem feodalisme di Prancis membagi masyarakat menjadi tiga golongan yaitu sebagai
berikut.

1) Golongan I : Golongan bangsawan dengan hak-hak istimewa dan memegang


kekuasaan dalam pemerintah

2) Golongan II : Golongan ahli agama yang stia kepada raja.

3) Golongan III : Golongan dagang, pekerja, dan rakyat kecil.

Kaum bangsawan dan kaum agama tinggi memiliki hak istimewa, sedangkan kaum agama
rendah dan rakyat jelata tidak memiliki hak, dan kaum rakyat jelata dan kaum agama
rendah tidak ada hak – hak istimewanya. Sedangkan kaum bangsawam bebas pajak dan
dapat menarik pajak dari rakyat.
5. Pemerintahan di Prancis yang Buruk

Pemerintah di Prancis dilaksanakan dengan kekuasaan tunggal. Raja memerintah dengan


tirani yaitu bertindak sewenang-wenang. Kepentingan raja diutamakan,sedangkan
kepentingan rakyat dikesampingkan.

6. Kekosongan Kas Negara

Sejak pemerintahan Raja Louis XVI,raja-raja Prancis suka berfoya-foya.Pada tahun


1789,ketika masa pemerintahan Louis XVI,beban negara sudah sangat berat dan diambang
kebangkrutan.Pengeluaran negara tidak sebanding dengan pendapatan negara. Utang negara
yang harus dibayarkan juga sangat besar.
C. Proses Terjadinya Revolusi Prancis

Revolusi Prancis

Di Prancis, mulai tahun 1789 revolusi akan melangkah lebih jauh. Keterpaduan
perlawanan antara kaum bangsawan, borjuis, dan petani sekitar awal bulan Agustus akan
menghasilkan runtuhnya rezim lama. Batasan tahun yang digunakan, adalah dari tahun
1789-1794. Berdasarkan data yang ditemukan oleh penulis, ditemukan bahwa tahun 1789
merupakan penyerangan yang dilakukan oleh golongan revolusioner terhadap penjara
Bastille, sedangkan tahun 1794 merupakan runtuhnya rezim republik Prancis yang
dipimpin oleh Robespierre

Pada awal Juli, perasaan panik yang menyeluruh berkecamuk di daerah pedesaan
Normandie. Di kota-kota terutama Paris suasana semakin tegang. Para bangsawan dan kaki
tangan mereka mulai diancam. Pada tanggal 14 Juli rakyat Paris bangkit dan dengan
menyerang gudang-gudang senjata, merebut Bastille, yang digunakan pula sebagai penjara
Negara dan merupakan lambang kesewenang-wenangan raja.
Pada selasa, 14 Juli 1789, sekitar Sembilan ratus penduduk Paris berkumpul di
sekitar penjara Bastille. Tujuan mereka adalah merampas amunisi, kemudian menuntut agar
meriam diserahkan kepada milisi Paris. Penjara Bastille saat itu sedang dijaga oleh 82
invalides. Laskar tersebut diperkuat pula oleh 32 pasukan dari resimen Swiss Salis-Sanade.
Pengawalan yang minim jelas membuat panik gubernur Bernard-Rene De Launey yang
juga merangkap sebagai kepala penjara

Pukul seuluh pagi, ada dua orang yang diutus untuk menemui De Launey. Namun
pertemuan tidak membuahkan hasil, hingga massa-pun mulai beringas, dan akhirnya
terdengar pekikan lantang, “serbu Bastille!”. Situasi yang mencekam itu kemudian
menggugah de Launey untuk meledakkan 250 tong mesiu. Bequard –seorang prajurit-
membujuk de Launey untuk tidak melakukkannya karena akan banyak warga yang
terpanggang hidup-hidup. Pukul 15.30 waktu setempt, tentara sipil dan barisan rakyat
memperkuat Sembilan ratus masyarakat Paris. Bestille akhirnya diserang. Pertempuran itu
menewaskan 83 tentara rakyat, 15 mati akibat luka serius, dan 1 orang invalides tewas.
Nasib dari Launey sendiri akhirnya harus berakhir tragis. Lehernya dipotong dengan
menggunakan pisau lipat oleh Desnot, dan kepalanya dipajang di depan hotel de Ville.

Tanggal 14 Juli diperingati sebagai hari nasional Prancis. Para pemberontak Paris
membentuk dewan kota pemberontak, pasukan pengawal nasional, dan menciptakan sebuah
Kokard berwarna biru, merah (warna-warna Paris), dan putih (warna raja), yang kemudian
dijadikan sebagai warna bendera Prancis. Sedangkan lagu kebangsaannya adalah
Marseillaise. Revolusi terus menyebar keseluruh Prancis secara kilat. Di semua provinsi
rakyat yang bersenjata merebut kekuasaan dewan-dewan kota. Para petani menyerbu Puri
seigneur dan menuntut penyerahan arsip-arsip droits feodeux agar dibakar. Pemberontak-
pemberontak saling menakuti sehingga terjadi kepanikan besar di tiga perempat luas
Prancis selama lima belas hari. Akhir dari pemberontakan oleh petani ini adalah
dihapuskannya sistem feodal

napoleon bonaparte

Akhir hayat dari raja Louis XVI dan istrinya sangatlah tragis. Pada tahun 1792,
Dewan Legislatif membuat dua keputusan penting, yakni menghapus bentuk pemerintahan
lama, yakni monarki menjadi republik Prancis, dan menjatuhkan hukuman mati dengan
guillotine terhadap Louis XVI dan istrinya, Maria Antoinette, serta para bangsawan istana
lainnya yang tertangkap. Eksekusi terhadap raja Louis XVI dilaksanakan pada Januari 1793
pukul 10.20. Ia disembelih dengan pisau buatan Dr. Joseph-Ignace Guilotine. Kepalanya
yang terpisah dengan badannya dipertontonkan kepada khalayak ramai. Sedangkan
eksekusi terhadap dua ribu orang dilakukan pada September 1792.
Setelah menjadi republik, Prancis dipimpin oleh Robespierre (1793-1794). Namun
huru-hara terus berlanjut. Golongan Borjuis akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan
Robespierre pada tahun 1975. Kemudian, lima direktur yang terdiri dari Barra, Moulin,
Gobier, Roger Ducas, dan Sieyes membentuk pemerintahan direktorat yang berkuasa
sampai 1799, dan kemudian dibubarkan oleh Napoleon yang saat itu menjabat sebagai
konsul. Pada tahun 1804, Napoleon mengangkat dirinya menjadi kaisar Prancis yang
diresmikan oleh Paus Pius VII. Kontribusi dari seorang Napoleon Bonaparte terhadap
Prancis adalah dalam bidang militer, meskipun cita-citanya untuk menyatukan seluruh
daratan Eropa berakhir dengan kegagalan

Pembentukan pemerintahan yang dibentuk selama terjadinya Revolusi Prancis ialah

1. Pemerintahan Monarki Konstitusional (1789-1793)

14 Juli 1789 merupakan langkah awal yang diambil oleh pemerintah revolusi, yaitu
dengan dibentuk Pasukan Keamanan Nasional yang dipimpin oleh Jendral Lafayette.
Selanjutnya dibentuk Majelis Konstituante untuk menghapus hak-hak istimewa raja,
bangsawan, dan pimpinan gereja. Semboyan rakyat segera dikumandangkan oleh J.J.
Rousseau yaitu liberte, egalite dan fraternite.

Dewan perancang undang-undang terdiri atas Partai Feullant dan Partai Jacobin.
Partai Feullant bersifat pro terhadap raja yang absolut, sedangkan Partai Jacobin
menghendaki Prancis berbentuk republik. Mereka beranggotakan kaum Gerondin dan
Montagne di bawah pimpinan Maxmilien de’Robespierre, Marat, dan Danton. Pada masa
ini juga raja Louis XVI dijatuhi hukuman pancung (guillotine) pada 22 Januari 1793 pada
saat itu bentuk pemerintahan Prancis adalah republik.

2. Pemerintahan Teror atau Konvensi Nasional (1793-1794)

Pada masa ini pemegang kekuasaan pemerintahan bersikap keras, tegas, dan radikal
demi penyelamatan negara. Pemerintahan teror dipimpin oleh Robespierre dari kelompok
Montagne. Di bawah pemerintahannya setiap orang yang kontra terhadap revolusi akan
dianggap sebagai musuh Prancis. Akibatnya dalam waktu satu tahun terdapat 2.500 orang
Prancis dieksekusi, termasuk permaisuri Louis XVI, Marie Antoinette. Hal ini
menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak. Akhirnya terjadi perebutan kekuasaan oleh
kaum Girondin. Robespierre ditangkap dan dieksekusi dengan cara dipancung bersama
dengan 20 orang pengikutnya. Pada Oktober 1795 terbentuklah pemerintahan baru yang
lebih moderat yang disebut Pemerintahan Direktori.

3. Pemerintahan Direktori atau Direktorat (1795-1799)

Pada masa Direktori, pemerintahan dipimpin oleh lima orang warga negara terbaik
yang disebut direktur. Masing-masing direktur memiliki kewenangan dalam mengatur
masalah ekonomi, politik sosial, pertahanan-keamanan, dan keagamaan. Direktori dipilih
oleh Parlemen. Pemerintah direktori ini tidak bersifat demokratis sebab hak pilih hanya
diberikan kepada pria dewasa yang membayar pajak. Dengan demikian wanita dan
penduduk miskin tidak memiliki hak suara dan tidak dapat berpartisipasi. Pada masa
pemerintahan direktori, rakyat tidak mempercayai pemerintah karena sering terjadinya
tindak korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah yang berakibat terancamnya
kesatuan nasional Prancis. Akan tetapi, dari segi militer Prancis mengalami kemajuan yang
pesat, hal ini berkat kehebatan Napoleon Bonaparte. Ketidakpercayaan rakyat terhadap
pemerintah ini berhasil dimanfaatkan Napoleon untuk merebut pemerintahan pada tahun
1799.

4. Pemerintahan Konsulat (1799-1804)

Pemerintahan konsulat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Napoleon sebagai


Konsulat I, Cambaseres sebagai Konsulat II, dan Lebrun sebagai Konsulat III. Akan tetapi
dalam perjalanan sejarah selanjutnya Napoleon berhasil memerintah sendiri. Di bawah
pimpinan Konsulat Napoleon, Perancis berhasil mencapai puncak kejayaannya. Tidak
hanya dalam bidang militer akan tetapi juga dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan
budaya. Pada tahun 1803 Napoleon terpilih sebagai kaisar Prancis atas dasar voting dalam
sidang legislatif. Penobatannya dilaksanakan pada 2 Desember 1804 oleh Paus VII.

5. Masa Pemerintahan Kaisar (1804-1815)

Napoleon sebagai kaisar dimulai dengan pemerintahannya yang bersifat absolut.


Hal ini jelas tidak disukai oleh rakyat Prancis. Napoleon memiliki keinginan untuk
mengembalikan kekuasaan raja secara turun-temurun dan menguasai seluruh wilayah
Eropa. Ia mengangkat saudara-saudaranya menjadi kepala negara terhadap wilayah yang
berhasil ditaklukannya. Oleh karena itu, pemerintahan Napoleon disebut juga pemerintahan
nepotisme.

Pemerintahan kekaisaran berakhir setelah Napoleon ditangkap pada tahun 1814


setelah kalah oleh negara-negara koalisi dan dibuang di Pulau Elba. Karena kecerdikannya
Napoleon berhasil melarikan diri dan segera memimpin kembali pasukan Prancis untuk
melawan tentara koalisi selama 100 hari. Namun, karena kekuatan militer yang tak
seimbang, akhirnya Napoleon mengalami kekalahan dalam pertempuran di Waterloo pada
tahun 1915. Dia dibuang ke pulau terpencil di Pasifik bagian selatan, St. Helena sampai
akhirnya meninggal pada tahun 1821.

6. Pemerintahan Reaksioner

Rakyat merasa tidak senang terhadap sistem pemerintahan absolut yang dilakukan
oleh Napoleon. Oleh karena itu rakyat kembali memberi peluang pada keturunan Raja
Louis XVIII untuk menjadi raja di Prancis kembali (1815-1842). Raja yang berkuasa pada
saat sistem pemerintahan Reaksioner, selain Raja Louis XVIII, adalah Raja Charles X
(1824-1840) dan Raja Louis Philippe (1830-1848).
D. Tujuan & Sebab Revolusi Prancis

Keadaan politik dan masyarakat Prancis pada saat itu mendukung terjadinya
Revolusi Prancis.Pelaksanaan Revolusi Prancis bertujuan menumbangkan kekuasaan raja
yang bersifat monarik absolut (feodal). Raja bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat
sehingga menimbulkan kesengsaraan. Keadaan inilah yang memicu terjadinya Revolusi
Prancis.

Sebab-sebab Revolusi Prancis

Berikut sebab-sebab revolusi terjadinya Revolusi Prancis.

1. Sebab Umum Revolusi Prancis


2. Utang negara terlalu banyak
3. Pajak sangat tinggi.
4. Adanya blangko surat penangkapan yang ditandatangi oleh raja.
5. Kebencian rakyat kepada penjara Bastille.
Sebab khusus Revolusi Prancis

Sebab khusus terjadinya Revolusi Prancis yaitu karena masalah menghambur-


hamburan uang negara yang dilakukan oleh permaisuri Raja Louis XVI yakni Marie
Anttoniete dengan putri-putri istana lainnya.

Sebab-sebab terjadinya Revolusi Prancis tersebut mengakibatkan situasi politik di


Prancis semakin panas. Klimaks dari situasi tersebut adalah adanya serangan terhadap
penjara Bastille pada tanggal 1789. Penjara Bastille merupakan lambang kekuasaan dan
kesewenang-wenangan raja-raja Louis. Raja-raja Louis memerintah dengan cara
absolutisme.

Pada masa kekuasan Raja Louis XVI (1643-1715) kekuasaan absolutisme Prancis
mencapai puncak kejayaan. Berikut ciri-ciri pemerintahan Raja Louis XVI.

a. Memerintah tanpa undang-undang.

b. Memerintah tanpa dewan legislatif.


c. Memerintah tanpa kepastian hukum.

d. Memerintah tanpa anggaran belanja yang pasti.

e. Memerintah tanpa dibatasi oleh kekuasaan apapun.

Semboyan Revolusi Prancis yaitu libert/liberty,kebebasan,egalite/equalite, persamaan,dan


fraternite/fraternity/persaudaraan. Ketiga semboyan tersebut merupakan hasil pemikiran
dari seorang tokoh Prancis yang bernama J.J.Rousseau yang kemudian diabadikan dalam
bentuk bendera merah,putih,dan biru dalam posisi vertikal.Lagu kebangsaan Prancis adalah
La Marseillaise dan setiap tanggal 14 Juli diperingati sebagai hari Nasional Prancis

F. Gejolak Revolusi Prancis

Revolusi Prancis tampil dalam dua bentuk yaitu perubahan politik yang ditandai
dengan kemenangan kelas ketiga dalam parlemen dan kemelut sosial yang ditandai oleh
jatuhnya penjara Bastille. Kedua bentuk tersebut berkaitan satu sama lain.

1. Sidang Etats Generaux

Memasuki tahun 1789, kas negara Prancis kosong sehingga hal tersebut
menyebabkan Prancis terancam bangkrut. Tindakan Louis XVI mencabut khas khusus
kalangan rohaniawan dan bangsawan mendapat tantangan. Untuk menyelamatkan
negara,Louis XVI mengundang Etats Generaux untuk bersidang. Sidang Etats Generaux
berlangsung pada tanggal 5 mei 1789 di lstana Versailles. Sebelum masuk pada inti
permasalahan dewan harus memutuskan sistem pemungutan suara. Tata tertib sebelumnya
menetapkan satu kelas satu suara. Terhadap tata tertib tersebut para wakil kelas ketiga
mengusulkan perubahan menjadi satu orang satu suara. Mereka juga mengusulkan adanya
konstitusi baru.

Usulan para wakil kelas ketiga tersebut mengundang perdebatan. Raja dan wakil
dari kedua kelas elite cenderung menolak usul tersebut. Oleh karena selama lima minggu
belum berhasil mendapatkan kesepakatan, para wakil kelas ketiga meninggalkan sidang
Etats Generaux, mereka tidak mau mengakui lagi keberadaan Etats Genarux dan
membentuk dewan baru yang bernama Assemble Nationale.Sebagai ruang sidangnya, pada
tanggal 20 juni 1789, para anggota Assemble Nationale bersupah untuk terus bersidang
sampai konstitusi terbentuk. Sumpah tersebut terkenal dengan sebutan Jeu de Paume.

2. Jatuhnya Penjara Bastille

Pada waktu Assemble Nationale bersidang kemarahan rakyat di berbagai kota


semakin merebak. Hal tersebut terjadi karena akibat dari pengangguran beban pajak dan
ketidakadilan yang tidak terkunjung berhenti. Kemarahan tersebut semakin memuncak pada
waktu rakyat menyaksikan gerakan pasukan prancis mengepung tempat bersidang
Assemble Nationale.

Pada tanggal 14 juli 1789 kemarahan rakyat Prancis tidak terbendung lagi. Mereka
menganggap gerakan pasukan Prancis ketempat sidang adalah kesewenang-wenangan
pemerintah terhadap gerakan pembaruan. Rakyat Prancis dengan senjata yang seadanya
bergerak menuju penjara Bastille. Rakyat berhasil menembus benteng penjara dan
menguasai tempat tersebut. Selanjutnya rakyat membentuk pemerintahan kota yang baru
bernama Commune.

Jatuhnya Penjara Bastille menggugah keberanian rakyat di kota-kota lainnya untuk


bergerak. Namun, mereka dilanda euphoria (perasaan gembira yang berlebihan). Rakyat
lalu menghancurkan segala sesuatu yang mewakili tirani, seperti membantai para
bangsawan dan rohaniwan, serta menghancurkan atau menjarah harta benda mereka.

3. Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara

Pada tanggal 4 Agustus 1789 Assemble Nationale memberlakukan hukum yang


menghapus semua hak istimewa kaum rohaniawan dan bangsawan. Tiga minggu kemudian
dewan trsebut mengeluarkan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara yang disebut
dengan Declaration des Droits de I’Homme et du Citoyen.

Deklarasi tersebut menyatakan bahwa semua manusia dilahirkan bebas dan


mempunyai hak yang sama. Dokumen tersebut juga menyatakan bahwa semua manusia
sama dihadapan hukum, bebas berpendapat, dan beragama. Atas dasar deklarasi tersebut,
Assemble Nationale membentuk pemerintahan revolusioner.
4. Pemerintahan Prancis Setelah Revolusi

Prancis mengalami beberapa pergantian sistem pemerintahan setelah revousi. Pada


tahun 1791 pemerintah Prancis membentuk monarki konstitusional. Pemerintahan
dijalankan oleh raja bernama Assemble Legislatif. Pemerintah Prancis membentuk
republik (republik pertama) pada tahun 1792. Pada awalnya pemerintahan dijalankan oleh
Assemble Legislatif, kemudian sejak tahun 1794 pemerintahan dijalakan oleh Directorate
yang terdiri dari lima orang. Pada waktu Napoleon Bonaparte sebagai konsul pertama.

5. Akhir Revolusi Prancis

Pada waktu Prancis menjadi republik, muncul reaksi dari negara-negara Eropa yang
promonarki. Austia dan Rudis pada tahun 1792 bergerak menyerbu Prancis. Peristiwa
tersebut menandai dimulainya perang revolusioner. Setelah Louis XVI dihukum mati,
Inggris mengumumkan perang terhadap Prancis. Selanjutnya, Prancis semakin terkepung
setelah negara-negara promonarki yang merasa terancam oleh gerakan revolusioner
menyatakan perang terhadap Prancis. Selama tahun 1793 pasukan Prancis mengalami
banyak kekalahan. Suasana perang menimbulkan pemberontakan dari dalam negeri Prancis
sendiri. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah revolusioner membentuk Komite
Keselamatan Umum yang bertugas menyelamatkan Republik Prancis dengan cara apapun.
Masa ini dikenal dengan pemerintahan teror dengan tokoh yang terkenal yaitu Maxmilan
Robespierre.

Setelah Robespierre ditangkap dan dihukum mati, pemerintahan teror berakhir pada
tahun 1794, kemudian pemerintahan dijalankan oleh Directorate. Sementara itu, pasukan
Prancis berhasil menghadapi kepungan pasukan promonarki dan memenangkan
pertempuran. Untuk sementara rakyat Republik Prancis berada dalam keadaan stabil.
Kemelut politik di Prancis kembali muncul menjelang tahun 1799. Kemelut tersebut terjadi
sebagai akibat ulah kalangan oposisi pendukung monarki yang bermaksudmenggulingkan
Directorate.
Sementara itu Directorate sedang menghadapi masalah ekonomi akibat perang. Di
tengah-tengah ancaman tergulingnya Directorate, tampillah Napoleon Bonaparte
menyelamatkan Republik Prancis. Napoleon Bornate sejak tanggal 9 November 1799
memegang kendali pemerintahan dan berakhirlah Revolusi Prancis

G. Dampak Revolusi Perancis Bagi Dunia

Revolusi Perancis telah membawa pengaruh yang besar, baik di dalam negeri maupun
di luar negeri yang meliputi bidang politik, ekonomi dan sosial. Jiwa, semangat dan nilai-
nilai revolusi sudah tertanam secara luas dan mendalam di hati rakyat dengan semboyan
liberte, egalite, dan fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaran).

1. Di bidang politik, tampak jelas dengan meluasnya paham liberal di Spanyol, Italia,
Jerman, Austria dan Rusia. Rakyat menuntut agar kekuasaan raja dibatasi dengan
undang-undang sehingga terbentuklah pemerintahan monarki konstitusional.
Berkembangnya semangat nasionalisme. Hal ini muncul setelah Perancis
menghadapi Perang Koalisi. Mereka menentang intervensi asing, semangat ini juga
menjalar ke negara-negara lain. Di samping itu juga berkembang paham demokrasi
di kalangan rakyat, mereka menuntut dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat,
negara republik, dan sebagainya.
2. Di bidang ekonomi, dihapuskannya pajak feodal dan petani yang semula hanya
sebagai penggarap tanah menjadi petani pemilik tanah sendiri. Di samping itu,
dihapuskannya sistem gilde sehingga perindustrian dan perdagangan menjadi
berkembang.
3. Di bidang sosial, dihapuskannya susunan masyarakat feodal yang terbagi menjadi
tiga golongan dan digantikannya dengan masyarakat baru yang berdasarkan
spesialisasi kerja, seperti cendekiawan, pengusaha, petani dan sebagainya.
Pengaruh pemikiran yang dihasilkan oleh revolusi Perancis terhadap pergerakan
kemerdekaan Indonesia adalah usaha untuk mewujudkan suatu negara merdeka yang bebas
dari belenggu penjajahan. Pada saat penyusunan bentuk pemerintahan, para pendiri negara
(The Founding Fathers) tidak memilih bentuk kerajaan akan tetapi memilih bentuk
Republik. Hal ini tampaknya secara tidak langsung mendapatkan pengaruh dari revolusi
Prancis karena bentuk negara Republik memungkinkan untuk terbangunnya suasana
pemerintahan yang demokratis. Seperti ditunjukkan oleh penyebab timbulnya revolusi
Prancis, walau bagaimanapun bentuk kerajaan akan cenderung mengarahkan pada
munculnya kekuasaan raja yang absolut dan tirani apabila tidak dibatasi dengan undang-
undang. Oleh karena itu, pembentukan negara Republik Indonesia didasarkan pada
Undang-undang Dasar yang dapat menjadi pengontrol jalannya kekuasaan. Di Indonesia
juga diberlakukan pola pembagian kekuasaan seperti yang dikemukakan oleh Montesquieu.
Kekuasaan eksekutif dipegang oleh presiden beserta jajaran menterinya, kekuasaan
legislatif dipegang oleh DPR dan MPR, sementara kekuasaan yudikatif dipegang oleh
MahkamahAgungKonstitusi.
BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Revolusi Prancis adalah masa dalam sejarah prancis yang berlangsung antara 1789-
1815. Dalam revolusi prancis kelompok democrat dan pendukung republikanisme berusaha
menjatuhkan monarki absolute di prancis dan memaksa gereja katolik roma menjalani
restrukturisasi yang radikal. Revolusi prancis merupakan sebuah tranformasi besar dalam
system politik dan masyarakat prancis. Prancis berubah dari Negara monarki absolut
menjadi sebuah Negara republik merdeka.

Revolusi prancis merupakan cerminan merupakan cerminan ketidakpuasan sebagian


besar masyarakat terhadap system pemerintahan yang absolut ( kekuasaan yang tidak
terbatas ). Terjadinya revolusi prancis tidak dapat dilepaskan berlangsung hampir di seluruh
eropa.

Revolusi Industri adalah perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian,


manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi dari tenaga manusia atau hewan
menjadi menggunakan mesin-mesin industri. Pemicu semakin berkembangnya Revolusi
Industri adalah dengan ditemukannya mesin uap oleh James watt (1796), oleh karena itu
beliau mendapat gelar sebagai bapak Revolusi Industri. Revolusi Industri dipelopori di
Inggris pada abad ke – 18 Faktor penyebab Revolusi Industri di Inggris a) Terjadinya
revolusi agraria di Inggris. Keamanan dalam negeri Inggris yang terjamin Inggris cukup
banyak memiliki bahan baku industri. Inggris memiliki daerah jajahan yang luas
Ditemukannya mesin-mesin baru dibidang produksi. Pemerintah memberikan Inggris
perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong
kegiatan penelitian ilmiah.
Daftar Pustaka

Latar Belakang Revolusi Prancis

Hhtps://www.zonasiswa.com/2015/07/revolusi-perancis-latar-belakang-proses.html?m=1

Proses terjadinya revolusi prancis

http//wawasansejarah.com/revolusi-prancis/

Faktor penyebab revolusi prancis

http://asah321.net/faktor-faktor-penyebab-terjadinya-revolusi-prancis.html

Dampak revolusi prancis

http://usaha321.net/akibat-revolusi-prancis.html
Kelompok 2
 IRAWATI
 SEKAR RINI UDO
 HERMIN BERNADUS
 JULIA BERLIANA .B
 ULUL AZMI KHAIRUNNISA
 ABD.RAHMAN
 MUH.RAFLI
 VANES
 JEREMY ANDREW