Anda di halaman 1dari 9

INISIASI 4

TEORI PRODUKSI DAN BIAYA

A. Pengertian Periode Produksi dan Biaya


Produksi merupakan proses pengolahan input atau beberapa input
menjadi output. Hubungan antara kuantitas input dan output disebut teori
produksi yang kadang-kadang dinyatakan sebagai fungsi produksi. Biaya
adalah nilai uang dari input yang digunakan dalam produksi di mana
besarnya nilai uang tersebut adalah hasil kali kuantitas input yang digunakan
dengan harganya masing-masing. Periode produksi sama halnya dengan
periode biaya yang dibedakan menurut faktor produksi tetap atau variabel,
tergantung pada kuantitas penggunaan input sepanjang rentang kuantitas
output yang diproduksi, apakah tetap atau berubah kuantitasnya.
Untuk memproduksi barang atau jasa, perusahaan memerlukan faktor-
faktor produksi. Dengan kata lain, untuk memproduksi output diperlukan
input. Teori produksi membahas hubungan antara input dan output atau
hubungan antara kuantitas produk dan faktor-faktor produksi yang digunakan
untuk memproduksi. Hubungan ini dapat dinyatakan sebagai berikut.

Q = f (K, L, T, N)

di mana Q adalah kuantitas output yang dapat diproduksi, K adalah


faktor kapital, L adalah faktor tenaga kerja, T adalah teknologi, dan N adalah
tanah. Jadi kuantitas yang diproduksi merupakan fungsi atau dipengaruhi
oleh kuantitas dan kualitas faktor-faktor produksi atau input yang digunakan
untuk memproduksi.
Hubungan antara input dan output yang digambarkan oleh fungsi
produksi cukup ruwet dan kompleks karena beberapa input atau faktor
produksi secara bersama-sama menentukan output. Karena itu untuk
mempermudah analisis sementara dianggap faktor-faktor produksi lain yang
digunakan, kecuali tenaga kerja kuantitasnya tetap konstan, hingga bisa
diketahui secara lebih jelas bagaimana pengaruh suatu faktor produksi
terhadap kuantitas yang diproduksi. Atau bagaimana pengaruh suatu input
terhadap output, sementara faktor-faktor produksi atau input lain dianggap
konstan/tak berubah. Hal ini dapat dituliskan sebagai berikut.

Q = f (L)

Ini berarti kuantitas yang diproduksi dipengaruhi oleh banyaknya tenaga


kerja yang digunakan saja. Dalam istilah umum dikatakan bahwa faktor-
faktor yang dianggap konstan/tak berubah disebut sebagai faktor produksi
atau input tetap yang dalam contoh ini adalah kapital, teknologi dan/atau
sebidang tanah; sedangkan faktor produksi yang diubah kuantitasnya selama
proses produksi disebut faktor produksi variabel. Bila hanya salah satu
faktor produksi bersifat variabel (yang dapat diubah kuantitasnya),
sementara faktor-faktor produksi lain adalah tetap, periode produksi ini
disebut jangka pendek. Bila semua faktor produksi merupakan faktor
produksi variabel dan bisa diubah maka disebut periode jangka
panjang.

Dari hubungan input-output atau fungsi produksi bersama-sama dengan


harga-harga input dapat diperoleh biaya produksi untuk masing-masing
tingkat output. Dengan mengalikan harga input dengan kuantitas input yang
digunakan untuk memproduksi sejumlah output tertentu maka diperoleh
besarnya biaya total. Dari hubungan input-output atau hubungan produksi
jangka pendek dan jangka panjang maka bisa diperoleh fungsi biaya total
jangka pendek maupun jangka panjang.

Sementara Konsep biaya ekonomi timbul karena kenyataan sumber daya


adalah langka atau terbatas kuantitasnya dan sumber daya mempunyai
penggunaan alternatif. Bila sejumlah tertentu faktor produksi digunakan
untuk memproduksi barang-barang tertentu maka sejumlah barang-barang
dan jasa-jasa lain yang bisa diproduksi dengan menggunakan sejumlah faktor
produksi yang telah digunakan tersebut terpaksa dikorbankan atau hilang.
Jadi biaya ekonomi merupakan besarnya pengorbanan atas barang alternatif
yang hilang tak bisa diproduksi. Biaya ekonomis disebut juga biaya
oportunitas. Bila seorang karyawan pabrik bekerja memproduksi mesin jahit
maka sejumlah tertentu mesin tulis tak bisa diproduksi oleh karyawan
tersebut pada waktu yang sama.
Biaya ekonomi didefinisikan sebagai pembayaran-pembayaran yang
harus dilakukan oleh perusahaan kepada para pemilik faktor produksi.
Pembayaran-pembayaran atau pengeluaran-pengeluaran kas yang dilakukan
oleh perusahaan untuk menyewa atau membeli tenaga kerja, bahan baku,
bahan bakar, jasa transportasi, sewa mesin-mesin dan peralatan serta gedung
dan pabrik, rekening listrik, dan lain-lain disebut sebagai biaya eksplisit.
Tetapi, perusahaan juga menggunakan faktor-faktor produksi milik sendiri,
untuk itu perusahaan tidak perlu membayar secara finansial seperti misalnya
rumah sendiri yang digunakan sebagai kantor hingga tak perlu membayar
sewa, atau pengeluaran gaji pimpinan perusahaan karena pemilik perusahaan
bekerja sebagai manajer, modal sendiri yang dipakai hingga tak perlu
membayar bunga modal, dan lain-lain. Biaya faktor produksi milik sendiri
disebut biaya implisit. Bagi perusahaan, biaya-biaya implisit merupakan
pembayaran yang diterima oleh pemilik faktor produksi yang digunakan oleh
perusahaan, namun hal ini tak diterima. Pada contoh kasus di mana pemilik
perusahaan bertindak sebagai manajer maka biaya oportunitas adalah gaji
yang ia terima bila ia bekerja di tempat lain. Halnya juga sama untuk
penggunaan modal milik sendiri karena ia dapat meminjamkan atau
mendepositokan ke bank serta menerima pendapatan bunga dari uang
miliknya.
Analisis produksi yang menganggap salah satu input atau faktor produksi
dapat diubah sementara faktor-faktor produksi lain dianggap tidak berubah
merupakan periode jangka pendek. Hal sama juga untuk analisis biaya
produksi, di sini dikenal faktor produksi dan biaya tetap serta faktor produksi
dan biaya variabel. Dalam jangka pendek, perusahaan tak mempunyai cukup
waktu untuk mengubah tingkat penggunaan semua faktor produksi, hanya
sebagian saja yang bisa diubah. Hal ini karena diperlukan waktu untuk
mengadakan penyesuaian-penyesuaian. Dalam jangka pendek, perusahaan
tidak mempunyai cukup waktu untuk mengubah kapasitas pabrik tetapi ia
dapat mengubah tingkat penggunaan input tertentu. Karena kapasitas pabrik
sudah tertentu maka output bisa diubah dengan menggunakan lebih banyak
atau lebih sedikit tenaga kerja, bahan-bahan, dan input lain.
Di dalam jangka panjang terdapat cukup waktu, hingga perusahaan bisa
mengubah semua faktor produksi atau input. Atau dengan kata lain semua
faktor adalah variabel. Perusahaan dapat mengubah semua input termasuk
kapasitas pabrik, yang meliputi juga mesin dan peralatan produksi lain. Di
sini termasuk kemungkinan masuknya perusahaan baru ke dalam dan/atau
keluarnya perusahaan yang telah ada dari industri tersebut. Pada perusahaan
konfeksi pakaian jadi hanya diperlukan waktu cukup pendek untuk
menambah kapasitas dengan membeli mesin jahit baru. Namun mungkin
diperlukan waktu satu atau dua tahun bagi perusahaan industri baja untuk
menaikkan kapasitas pabrik dengan menambah tungku-tungku peleburan biji
besi.

B. Produksi dan Biaya jangka Pendek


Hubungan antara output dan input dinyatakan sebagai hukum
penambahan basil yang semakin berkurang. Hukum ini menyatakan bahwa
bila suatu faktor produksi atau input terus ditambah sedangkan faktor-faktor
produksi lain dianggap konstan maka output yang dihasilkan terus
bertambah, tetapi lewat titik tertentu tambahan output akan semakin
berkurang. Sebagai contoh sebidang lahan ditanami padi untuk menghasilkan
beras, maka bisa dipekerjakan satu, dua, tiga dan seterusnya, orang tenaga
kerja untuk menanam dan menggarap. Di sini faktor produksi tanah
merupakan faktor produksi tetap sementara tenaga kerja merupakan faktor
produksi variabel.
Produk marjinal merupakan tambahan output atau produk total akibat
dipekerjakannya tambahan satu satuan tenaga kerja atau tambahan satu faktor
produksi variabel. Produk rata-rata per tenaga kerja dapat dihitung dengan
membagi produk total dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk
memproduksi, yang dituliskan sebagai berikut.

AP = TP / L dan MP = TP (t) – TP (t-1)

Dimana AP = Produk rata-rata


TP = Produk Total
MP = Produk Marjinal
(t) dan (t-1) = Tingkat penggunaan tenaga kerja

Biaya-biaya Jangka Pendek

Dalam jangka pendek dikenal faktor produksi dan biaya tetap


sertafaktor produksi dan biaya variabel. Pada dasarnya dikenal dan dibedakan
antara biaya-biaya variabel dan biaya tetap dan juga antara biaya-biaya total
dan biaya rata-rata serta biaya marjinal.
Biaya tetap total (TFC) adalah biaya-biaya yang tidak berubah karena
perubahan output. Biaya tetap berhubungan erat dengan kapasitas pabrik dan
karena itu harus dibayar meskipun output-nya nol atau meskipun pabrik tidak
berproduksi. Biaya semacam ini misalnya pembayaran sewa, penyusutan
gedung dan peralatan-peralatan lain, premi asuransi, dan gaji manajer
puncak.
Biaya variabel total (TVC) adalah biaya yang berubah dengan adanya
perubahan output yang diproduksi. Yang termasuk dalam biaya variabel
adalah pembayaran untuk pembelian bahan baku, bahan bakar, listrik, jasa
transportasi, tenaga kerja, dan beberapa faktor variabel lain. Biaya variabel
total berubah dengan perubahan output. Tetapi ternyata kenaikan biaya
variabel untuk setiap kenaikan satu satuan output tidak konstan.
Biaya total (TC) merupakan penjumlahan biaya variabel total dengan
biaya tetap total, pada setiap tingkat output. Bila output-nya nol, maka biaya
total sama dengan biaya tetap total. Kemudian, biaya total setiap tingkat
output bertambah sebesar tambahan biaya variabel.
Biaya tetap rata-rata (AFC) dihitung dengan membagi biaya tetap total
(TFC) dengan kuantitas output yang bersangkutan (Q). AFC = TFC/Q
Biaya variabel rata-rata (AVC) dihitung dengan membagi biaya variabel
total dengan output yang bersangkutan. AVC = TVC/Q
Biaya total rata-rata (AC) diperoleh dengan membagi Maya total (TC)
dengan output total (Q). Ini bisa juga dilakukan secara sederhana dengan
menambahkan AFC dengan AVC untuk setiap tingkat output bersangkutan.
AC = TC/Q = AFC + AVC
Biaya marjinal merupakan konsep biaya yang sangat penting. Biaya
marjinal (MC) merupakan tambahan biaya yang diperlukan untuk
memproduksi satu satuan output tambahan. MC dapat ditentukan untuk setiap
tambahan satuan output dengan melihat perubahan biaya total yang
diakibatkan oleh tambahan satu satuan output yang bersangkutan. MC =
Perubahan TC / Perubahan Q

atau bila perubahan output tersebut adalah satu satuan produk maka

MC = TC(t) - TC(t-1)

atau

MC = TVC(t) -TVC (t-1)


di mana (t) adalah tingkat output dan (t-1) adalah tingkat output satu
satuan lebih rendah.

B. Produksi dan Biaya Jangka Panjang


Pada periode jangka panjang semua faktor-faktor produksi merupakan
faktor produksi variabel. Perusahaan dapat mengubah skala/kapasitas pabrik
karena ia mempunyai cukup waktu untuk menambah atau mengurangi
kapasitas pabrik. Perusahaan-perusahaan baru membangun pabrik-pabrik
baru dan masuk ke dalam industri tertentu. Bagi perusahaan-perusahaan yang
telah ada mereka bisa menambah kapasitas produksi atau menghentikan
produksi dan ke luar dari industri tertentu. Akan dijelaskan lebih dahulu
bagaimana perilaku fungsi produksi jangka panjang dan selanjutnya biaya-
biayanya. Di sini tak ada faktor produksi dan biaya variabel ataupun faktor
produksi dan biaya tetap. Semua merupakan faktor produksi dan biaya Untuk
mempermudah analisis, misalnya perusahaan hanya menggunakan dua faktor
produksi saja yaitu faktor tenaga kerja dan kapital, semua merupakan faktor
produksi variabel. Kasusnya dapat diperluas dengan penggunaan beberapa
faktor produksi yang semuanya merupakan faktor produksi variabel tanpa
mengubah pokok-pokok kesimpulan analisis. Pada kasus fungsi produksi
dengan dua faktor produksi dalam jangka panjang, maka fungsi produksi
dituliskan sebagai
Q = f (K, L)
yang dapat diperluas dengan kasus beberapa variabel dan dituliskan sebagai
Q = f (K, L, T, N); dan seterusnya.
di mana Q adalah kuantitas output yang merupakan fungsi yaitu K adalah
kapital, L yaitu tenaga kerja, T adalah teknologi, dan N adalah tanah.
Diasumsikan bahwa produksi hanya menggunakan dua faktor produksi
yaitu K dan L. Analisis produksi periode jangka panjang dilakukan dengan
menggunakan pendekatan isokuan (atau iso-output atau isoproduk) dan
isokos (atau isobiaya). Dibandingkan dengan analisis periode produksi jangka
pendek, analisis produksi jangka panjang tidak memerlukan anggapan
berlakunya Hukum Penambahan Hasil yang Semakin Berkurang. Hukum ini
berlaku bagi faktor produksi variabel bila faktor produksi yang lain adalah
tetap.
Analisis iso-output-isobiaya pada teori produksi analog dengan analisis
pendekatan kurva indiferensi pada teori perilaku konsumen atau konsumsi
individual. Bedanya dalam teori konsumsi, seorang konsumen ingin
mencapai kepuasan semaksimal mungkin berdasar preferensi konsumsi
dengan kendala pendapatan. Pada teori produksi, dilakukan dengan
pendekatan kurva isoproduk-isobiaya, berdasarkan fungsi produksi yang
tercermin pada kurva isoproduk. Produsen berusaha meminimumkan
kombinasi faktor produksi yang digunakan dan ini berarti meminimumkan
biaya untuk memproduksi tingkat output tertentu. Tujuan ini bisa dirumuskan
secara lain yaitu produsen berusaha memaksimumkan output dengan
sejumlah pengeluaran biaya tertentu.
Berikut ini adalah himpunan situasi dan kondisi serta anggapan yang
dihadapi oleh perusahaan produsen individual dalam jangka panjang.
a. Terdapat fungsi produksi untuk memproduksi output yang bersangkutan.
Dianggap hanya ada dua faktor produksi yaitu tenaga kerja dan kapital,
semua merupakan faktor variabel. Fungsi produksi diwakili oleh kurva
isoproduk.
b. Harga faktor-faktor produksi sudah tertentu dan tetap berapa pun
kuantitas faktor produksi yang disewa dan digunakan. Dengan kata lain,
produsen menghadapi pasar persaingan murni di pasar faktor-faktor
produksi.
c. Pada tahap mi, produsen berusaha mencapai kombinasi faktor yang
memberikan biaya terendah untuk setiap tingkat output yang diproduksi.

Berikut ini akan dijelaskan tentang beberapa definisi dan pengertian.


Isoproduk, atau iso-output, atau isokuan adalah kombinasi dua faktor
produksi (misalnya kapital dan tenaga kerja), yang dapat digunakan untuk
menghasilkan kuantitas output yang sama.
IP adalah kurva-kurva isoproduk yang menunjukkan kuantitas output yang
bisa diproduksi oleh berbagai kombinasi faktor produksi pada titik-titik
sepanjang kurva isoproduk yang bersangkutan. Kurva produksi yang lebih
tinggi dapat menghasilkan kuantitas output lebih banyak karena di situ
digunakan salah satu atau dua faktor dalam jumlah lebih banyak.

Kurva isoproduk mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.


a. Berlereng menurun. Hal ini karena sampai sejauh tertentu dua faktor
produksi dapat saling mengganti dalam memproduksi output. Kuantitas
output tertentu bisa diproduksi dengan menggunakan kombinasi yang
mengandung K lebih banyak dan L lebih sedikit atau dengan kombinasi
L lebih banyak; dan K lebih sedikit.
b. Berbentuk cekung ke arah titik asal. Hal ini karena kemampuan saling
menggantikan antar faktor produksi makin terbatas, atau dengan kata lain
derajat substitusi menurun.

Definisi kurva isobiaya adalah kurva yang menunjukkan kombinasi


faktor produksi yang dapat dibeli dengan tingkat pengeluaran tertentu.
Pengeluaran untuk membeli faktor-faktor produksi merupakan biaya total
(TC). Secara matematis, persamaan kurva isobiaya dapat dituliskan sebagai
berikut.

TC = [PKK + PLL]

di mana TC adalah pengeluaran biaya total, PK dan PL masing-masing


adalah harga kapital dan tenaga kerja, K dan L masing-masing adalah
kuantitas faktor produksi kapital dan tenaga kerja yang dapat dibeli dengan
TC tertentu.
Selanjutnya ubahlah persamaan tersebut menjadi

PKK = [ TC – PLL ]

Bagilah semua elemen dengan PK, maka diperoleh

K = (TC/PK) – (PL/PK).L
Ini merupakan persamaan kurva isobiaya, di mana [TC/PK] adalah
intersep pada sumbu tegak dan nisbah harga relatif [PL/PK] adalah slope atau
koefisien kemiringan kurva tersebut.
Dengan menggunakan kurva-kurva isoproduk dan isobiaya maka bisa
dilihat proses minimisasi biaya untuk memproduksi sejumlah output tertentu.
Namun perlu diingat, tujuan perusahaan bukan meminimumkan biaya saja
tetapi memproduksi pada tingkat output yang memberikan keuntungan
maksimal. Ini harus juga dilihat dari kurva pendapatan total yang dapat
diperoleh dari permintaan yang dihadapi oleh perusahaan. Maksimisasi
keuntungan memerlukan minimisasi biaya untuk memproduksi output
sebanyak yang dikehendaki.
Bila setiap tingkat output sudah diproduksi dengan kombinasi faktor
produksi dengan Maya minimum, ini berarti telah dicapai keseimbangan
produksi. Jika titik-titik keseimbangan dihubungkan maka diperoleh jalur
perluasan produksi (expansion path). Jalur perluasan produksi merupakan
periode produksi dan biaya jangka panjang. Hal ini karena semua faktor yang
digunakan merupakan faktor variabel yang dapat berubah, di sini tak ada
faktor tetap.

Biaya Produksi Jangka Panjang

Dengan menggunakan kombinasi kuantitas faktor produksi yang


digunakan di sepanjang jalur ekspansi produksi dan kemudian mengalikan
dengan harganya masing-masing maka bisa diperoleh biaya total jangka
panjang. Demikian pula biaya total jangka pendek diperoleh dengan
mengalikan kuantitas kombinasi faktor produksi di mana salah satu faktor
produksi yaitu kapital adalah tetap kuantitasnya dengan harga masing-
masing. Persamaan biaya total jangka pendek dan jangka panjang dapat
dituliskan sebagai berikut. Biaya jangka pendek adalah
TC*SR = [K*.PK + K*.PL]

di mana TC * SR adalah biaya total minimum jangka pendek, K adalah


kapital yang kuantitasnya tetap tak berubah, L adalah kuantitas tenaga kerja
keseimbangan yang digunakan, P K dan P L masing-masing adalah harga
kapital dan tenaga kerja. Biaya jangka panjang adalah

[TC*LR = K*.PK + K*.PL]

di mana TC*LR adalah biaya total minimum jangka panjang dan K * serta L*
masing-masing adalah kuantitas keseimbangan (optimal) kombinasi jangka
panjang kapital dan tenaga kerja.

Untuk setiap TC bisa dihitung biaya rata-rata, baik untuk TC jangka


pendek maupun TC jangka panjang. Misalkan sebuah perusahaan baru
didirikan dan mulai dengan menggunakan sebuah pabrik berukuran kecil
yang kemudian memperluas serta memperbesar usahanya. Apa yang akan
terjadi pada biaya rata-rata (AC) bila terjadi pertumbuhan usaha?
Pembangunan atau pertambahan skala pabrik akan menurunkan biaya total
rata-rata, tetapi lewat suatu titik tertentu pembangunan skala pabrik lebih
besar akan menghasilkan kenaikan AC.
Pada periode produksi jangka panjang semua faktor produksi adalah
variabel. Kurva AC jangka panjang berbentuk huruf U karena berlaku gejala
skala produksi ekonomis dan skala produksi disekonomis.
Skala produksi ekonomis sering disebut skala produksi massal
menjelaskan bagian kurva AC jangka panjang yang menurun. Dengan
semakin besarnya skala perusahaan maka beberapa faktor berikut
menyebabkan menurunnya biaya produksi rata-rata.
a. Spesialisasi tenaga kerja. Kenaikan spesialisasi dalam penggunaan
tenaga kerja dapat dilakukan bila skala pabrik bertambah besar.
Penambahan tenaga kerja memungkinkan pembagian kerja lebih
spesifik. Pekerja tidak perlu mengerjakan beberapa tugas berbeda tetapi
masing-masing hanya mengerjakan satu tugas tertentu. Para pekerja
dapat dipekerjakan sepenuhnya pada suatu tugas di mana mereka telah
dilatih dan mempunyai keahlian khusus. Dengan membagi kerja dan
mengerjakan terus secara berulang dengan skala besar maka para
pekerja menjadi lebih terampil. Selanjutnya peningkatan pembagian
kerja cenderung mengurangi kehilangan waktu akibat harus berpindah
dari satu tugas ke tugas lain, bila dibandingkan dengan tak ada
pembagian kerja.
b. Spesialisasi manajemen. Skala produksi pabrik yang besar
memungkinkan penggunaan secara lebih baik peralatan produksi serta
spesialisasi manajemen yang lebih besar. Seorang mandor yang
mengawasi 5 orang pekerja saja di pabrik kecil merupakan pemborosan
bila ia sesungguhnya bisa mengawasi 15 sampai 20 orang pekerja di
pabrik besar. Staf produksi bisa dilipatduakan tanpa harus menaikkan
biaya administrasi. Perusahaan-perusahaan kecil tidak bisa memanfaat-
kan tenaga manajer profesional sepenuhnya. Penugasan manajer secara
spesifik tidak dapat dilaksanakan dalam perusahaan kecil dan ia harus
melaksanakan fungsi pemasaran serta fungsi-fungsi lain. Sementara itu
perusahaan besar dapat mempekerjakan secara penuh ahli pemasaran
yang melaksanakan fungsi pemasaran dan distribusi, sementara ahli
profesional lain dipekerjakan untuk melaksanakan fungsi manajerial lain.
Dengan demikian efisiensi bertambah besar dan biaya per satuan output
turun.
c. Pemanfaatan Peralatan Kapital secara efisien. Perusahaan kecil sering
kali tak mampu menggunakan secara paling efisien peralatan-peralatan
produksi mereka. Pada banyak lajur produksi, peralatan-peralatan mesin
paling efisien hanya tersedia dengan skala produksi sangat besar dan
dengan harga mesin yang mahal. Mesin tersebut dapat digunakan secara
efektif bila, digunakan untuk memproduksi output dalam jumlah besar.
Maka hanya perusahaan besar yang bisa memanfaatkan peralatan dengan
kapasitas besar. Misalnya industri peralatan mobil akan efisien bila
menggunakan peralatan perakitan canggih dengan robot dan komputer.
Penggunaan peralatan tersebut secara efisien mensyaratkan output
sebanyak puluhan ribu mobil per tahun. Hanya perusahaan berskala
besar saja mampu membeli dan menggunakan peralatan tersebut.
d. Produk sampingan. Perusahaan besar mempunyai kesempatan lebih luas
memanfaatkan produk sampingan dibandingkan dengan perusahaan
kecil. Pabrik gula yang besar memanfaatkan produk sampingan seperti
spiritus, tetes, dan sebagainya.

Seperti telah dikemukakan di muka, sampai titik tertentu skala ekonomis


akan terhenti dan selanjutnya dialami gejala skala disekonomis yang
mengakibatkan kenaikan biaya produksi rata-rata dalam jangka panjang.
Faktor utama yang menyebabkan skala disekonomis terutama berkaitan
dengan pengendalian dan koordinasi operasi perusahaan bila ia menjadi
produsen perusahaan berskala besar. Pada perusahaan kecil atau menengah,
seorang eksekutif utama memegang kuasa mengambil keputusan yang
berhubungan dengan operasi perusahaan. Karena perusahaannya kecil maka
ia dekat dengan lajur produksi. Jadi ia dengan mudah mencerna informasi
yang masuk yang diberikan oleh bawahan hingga dapat mengambil
kesimpulan secara jelas dan efisien.