Anda di halaman 1dari 11

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

RESUME TREASURY REFERENCE MODEL

Disusun oleh:
Puji Astuti (25)
NPM 1401180087

Kelas 9-1 Diploma IV Akuntansi Alih Program


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sistem Informasi Akuntansi Pemerintah

2019
A. Pendahuluan
 World Bank dan International Monetary Fund (IMF) sangat menekankan untuk meningkatkan
pengelolaan keuangan publik. Salah satu upaya peningkatan pengelolaan keuangan publiK
dengan sistem perbendaharaan terintegrasi. Sistem perbendaharaan terintegrasi memiliki
beberapa manfaat dalam pengelolaan keuangan publik yang lebih efektif, yaitu:
1. Integrasi penuh anggaran dan data pelaksanaan anggaran
2. Peningkatan perencanaan dan pemantauan secara ketat dan tepat waktu atas kas
pemerintah;
3. Penyediaan pelaporan manajemen yang memadai di berbagai tingkat pelaksanaan
anggaran;
4. Peningkatan kualitas data untuk perencanaan dan pelaksanaan anggaran; dan
5. Fasilitasi penyusunan laporan keuangan untuk penganggaran, analisis, dan pengendalian
keuangan.
 Treasury Reference Model (TRM) memberikan panduan bagi desain sistem perbendaharaan
terkomputerisasi untuk pemerintah. TRM juga dapat membantu mengevaluasi aplikasi
software perbendaharaan yang berbeda dengan baik, serta memfasilitasi pengadaan dan
penerapan sistem. Tiga hasil utama yang dicari yaitu:
1. model harus mengurangi waktu yang digunakan secara signifikan pada tahap awal desain
sistem perbendaharaan.
2. peningkatan kualitas spesifikasi dan memberikan masukan dalam proses reformasi
kelembagaan.
3. pemasok software swasta harus dapat menyediakan software yang disyaratkan oleh klien.
 Dua karakteristik utama Sistem Treasury adalah:
1. Dibutuhkan konsolidasi dan kompilasi cepat data dalam jumlah besar di sejumlah kantor
Perbendaharaan dan unit pengeluaran di seluruh negeri; dan
2. Bersifat berulang dan mengikuti seperangkat aturan yang ditentukan.
 Sistem Tresury, dalam hal ini sistem informasi berbasis komputer, memerlukan reformasi
substansial yakni terintegrasinya berbagai arus informasi. Untuk perancangan dan
implementasi sistem informasi manajemen fiskal pemerintah yang efektif :
1. diperlukan reformasi proses manajemen keuangan sebagai dasar untuk desain sistem;
2. spesifikasi fungsional dan teknis untuk desain sistem didasarkan pada proses-proses ini,
3. panduan yang jelas diberikan untuk mengintegrasikan semua subsistem yang dibutuhkan
untuk mendukung Government Fiscal Management (GFM).
B. Sistem Perbendaharaan dalam Konteks Kerangka Kerja Keseluruhan untuk Manajemen
Fiskal Pemerintah
 Kerangka kerja untuk mengoperasikan berbagai modul jaringan sistem terdiri dari struktur
kontrol, klasifikasi akun dan persyaratan pelaporan. Standar dan prosedur pemrosesan
transaksi antara lain dokumen dan kontrol transaksi untuk (1) memastikan proses yang benar,
rekaman lengkap dan benar, dan jejak audit, (2) mengakses kontrol untuk memastikan bahwa
hanya personel yang berwenang yang dapat merekam, (3) mengubah, atau melaporkan
informasi dan (4) kontrol sistem secara keseluruhan untuk memastikan bahwa sistem
mewujudkan standar pengolahan yang ditetapkan.
 Struktur kode klasifikasi akun adalah metodologi untuk mencatat setiap transaksi keuangan
secara konsisten untuk tujuan pengendalian pengeluaran, penetapan biaya, dan analisis
ekonomi dan statistik. Pengaturan standar struktur kode klasifikasi pemerintah untuk
memberikan dasar yang konsisten untuk:
1. Mengintegrasikan perencanaan, penganggaran dan akuntansi
2. Menyusun alokasi anggaran dan program dan biaya proyek di berbagai instansi
pemerintah
3. Menangkap data di seluruh pemerintahan melalui satu pintu
4. Mengkonsolidasikan informasi keuangan di seluruh pemerintahan
 Pemerintah harus menentukan persyaratan dan tujuan pelaporan dalam dua bidang:
1. Pelaporan eksternal untuk memberikan informasi kepada legislatif dan publik, serta
negara lain, organisasi internasional, investor luar negeri, dan pasar keuangan
2. Pelaporan manajemen internal untuk pembuat kebijakan dan manajer pemerintah.
 Proses fungsional penganggaran dan akuntansi dalam sistem perbendaharaan dapat
dikategorikan berdasarkan subjeknya yakni oleh kementerian pusat dan kementerian
pengguna. Proses fungsional mencakup dua bidang yang saling terkait yakni :
1. peramalan fiskal makro, persiapan dan persetujuan anggaran
Pada awal siklus anggaran, Kementerian Keuangan meminta lembaga lainnya untuk
menunjukkan prospek ekonomi dan tujuan kebijakan umum. Kementerian merespons dengan
menyampaikan proposal anggaran. Kemudian dilakukan negosiasi di tingkat teknis antara
staf lembaga pusat dan diskusi tingkat cabinet. Atas hasil dari diskusi, draft dokumen
anggaran disiapkan. Setelah itu, legislatif meninjau perkiraan dan menyetujui anggaran.
Anggaran yang disetujui ini menjadi dasar hukum dari program Pekerjaan Sektor Publik (PSP)
untuk dilaksanakan oleh kementerian sektoral.
2. pelaksanaan anggaran, manajemen kas dan akuntansi.
Pada awal tahun, kementerian menyiapkan perkiraan kebutuhan uang tunai untuk tahun
berdasarkan komitmen untuk belanja rutin dan modal. Keperluan uang tunai dan proyeksi
pendapatan yang diperoleh, dikembangkan menjadi ramalan arus kas oleh Kementerian
Keuangan. Setelah anggaran disetujui, Kementerian Keuangan mengendalikan pelepasan
dana, memantau kemajuan implementasi anggaran, dan mengelola sumber daya kas dari
pemerintah.
 Fungsi akuntansi meliputi:
1. menjaga pencatatan otorisasi pengeluaran pada tingkatan yang sesuai
2. memproses pengeluaran dan transaksi penerimaan-pencatatan transaksi sebagaimana
yang terjadi, menerapkan kontrol yang diperlukan, memposting ke akun yang sesuai, dan
daftar transaksi dan data terkait untuk kontrol dan audit
3. Mempertahankan rekening buku besar untuk memantau dan mengendalikan pengeluaran
dan penerimaan aktual terhadap kontrol anggaran dan surat perintah
4. pelaporan

C. Sistem Buku Besar Perbendaharaan


Sistem Buku Besar Perbendaharaan (Treasury Ledger System) digunakan untuk kontrol
anggaran dan jaminan, hutang, piutang, buku besar umum dan pelaporan fiscal. Sistem Buku
Besar Perbendaharaan biasanya akan digunakan oleh :
 Kementeriann Keuangan dan kantor wilayahnya untuk melakukan fungsi akuntansi dasar dan
implementasi anggaran
 Ditjen Anggaran pada Kementerian Keuangan untuk mendapatkan status pengeluaran aktual
dan melakukan proses pemantauan anggaran dan pelaporan fiskal
 Ditjen Perbendaharaan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dalam rangka
manajemen kas dan penerapan batasan/limit kas
 Instansi teknis untuk memenuhi kebutuhan informasi akuntansi dan keuangan
 Organisasi audit pemerintah untuk mengakses data transaksi keuangan untuk tujuan audit

D. Arsitektur Sistem Informasi Untuk Manajemen Keuangan Pemerintahan


Arsitektur sistem informasi untuk manajemen fiskal pemerintah adalah kerangka kerja yang
menunjukkan: (1) perbedaaan modul sistem informasi yang dibutuhkan untuk mendukung
proses, (2) ruang lingkup, skala, dan (3) jenis komponen sistem tertentu dan arus informasi utama
di antara berbagai modul. Elemen utama Arsitektur Sistem yang diperlukan untuk mendukung
GFM dan arus informasi di antara elemen-elemen :
a. Sistem Informasi untuk mendukung Peramalan Ekonomi Makro
b. Sistem Informasi untuk membantu dalam Persiapan dan Persetujuan Anggaran
c. Sistem Informasi untuk Pelaksanaan Anggaran, Akuntansi, dan Pelaporan Fiskal
d. Sistem Manajemen Kas
e. Sistem Manajemen Utang
f. Sistem Administrasi Pendapatan
g. Sistem untuk Membantu dalam Aspek Fiskal Manajemen Personalia
h. Sistem untuk Mendukung Audit

E. Struktur Luas Treasury Reference Model


TRM menjelaskan konsep keseluruhan dan proses inti manajemen perbendaharaan
pemerintah dan mengembangkan model terperinci dari masing-masing proses komponen.
Berikut ini adalah deskripsi singkat proses fungsional dan arus informasi yang terkait dengan
sistem perbendaharaan:
1. Catat alokasi anggaran dan pembagian:
Setelah persetujuan anggaran tahunan oleh DPR, alokasi anggaran tersebut dimuat ke
dalam sistem oleh Ditjen Anggaran. Anggaran yang disetujui kemudian dipecah sampai ke
tingkat terperinci klasifikasi ekonomi dan dibagi dari waktu ke waktu (triwulan dan bulan) dan
terdaftar dalam sistem oleh Kementerian Keuangan dan dikomunikasikan kepada kementrian
yang memiliki fungsi belanja.
2. Menentukan kebutuhan uang tunai dan jumlah surat perintah:
Setiap tahun, rencana keuangan tentang rincian proyeksi pengeluaran dan penerimaan
dikembangkan oleh satuan pengeluaran dan kementerian. Kementerian Keuangan kemudian
mengeluarkan surat perintah kepada kementerian untuk merinci setiap kategori
pembelanjaan.
3. Rekam Transaksi Komitmen:
Sepanjang tahun, kementerian yang berfungsi sebagai unit pengeluaran melakukan
permintaan dana. Setelah memverifikasi kelayakan pengeluaran dan ketersediaan anggaran
dan dana anggaran, Ditjen perbendaharaan mendaftarkan komitmen aktual dalam sistem.
4. Verifikasi Tanda Terima Barang dan Catat Pesanan Pembayaran:
Setelah verifikasi pengeluaran yang diberikan, kementerian langsung terhubung dengan
sistem untuk mencatat perintah pembayaran yang sesuai. Sistem memeriksa batas alokasi
dana. Unit pengeluaran memproses permintaan pembayaran melalui RTU. Setelah semua
persyaratan dipenuhi, departeman pengeluaran harus mengkonfirmasi bahwa komitmen
tersebut siap untuk dibayar.
5. Proses Pembayaran
Proses pembayaran harus dilakukan pada saat yang sama dengan permintaan pembayaran
yang didaftarkan di TLS. Transaksi harian TLS dalam bentuk batch, dikirim ke Bank Sentral.
Bank kemudian mentransmisikan dana dan informasi yang relevan ke setiap bank komersial
untuk mengkredit akun yang sesuai dan mendebit rekening pemerintah. Bank penerima
mengonfirmasi debit ke akun Pemerintah ke TLS.
6. Pencatatan Penerimaan
Tanda terima pemerintah seperti pajak dan bea masuk dibayarkan ke satu set sub-rekening
yang diatur oleh Kementerian Keuangan di Bank Sentral. Laporan berkala yang menunjukkan
semua rincian penerimaan dikirim oleh Bank Sentral kepada Kementerian Keuangan dan
otoritas pajak negara untuk pencatatan dan rekonsiliasi

F. Manajemen Keuangan
Proses manajemen keuangan melibatkan serangkaian siklus seperti yang digambarkan pada
gambar di bawah ini. Pada prinsipnya, siklus yang telah selesai dalam satu tahun menjadi dasar
bagi siklus otorisasi, pelaksanaan, dan audit yang akan dimulai pada tahun berikutnya.

Langkah penting dalam menerapkan sistem perbendaharaan adalah memastikan bahwa


tanggung jawab organisasi untuk setiap elemen sistem didefinisikan dengan jelas. Tanggung
jawab organisasi harus didefinisikan sejelas mungkin pada tahap awal, terutama ketika
perubahan proses utama. Manajemen data dan tanggung jawab organisasi harus secara jelas
didefinisikan sebagai sistem manajemen anggaran dan sistem perbendaharaan.
Setiap proses tingkat 1 dapat dideskripsikan berdasarkan proses komponen level 2-nya.
Tabel 1 di bawah ini menunjukkan struktur ringkas pendeskripsian tersebut.

Level 1 Level 2
1. Manajemen otoritas penganggaran 1. Pengalokasian dan penyaluran
anggaran
2. Alokasi waran
3. Transfer anggaran
4. Otorisasi pendukung
5. Reviu anggaran
2. Manajemen komitmen pendanaan 1. Pengadaan barang dan jasa
(tahunan)
2. Pengadaan barang dan jasa
(kontrak perpanjangan)
3. Pembuatan posisi staf baru dan
rekrutmen
4. Komitmen penggajian
3. Manajemen pembayaran dan 1. Verifikasi penerimaan dan
penerimaan pembayaran barang dan jasa
2. Pembayaran gaji
3. Penerimaan
4. Manajemen utang dan bantuan 1. Pencatatan dan pembayaran utang
2. Penerimaan hibah
3. Penerimaan pinjaman
4. Penerbitan surat berharga
5. Penjaminan
5. Manajemen kas 1. Prakiraan belanja
2. Prakiraan pedapatan
3. Monitoring kas
4. Strategi peminjaman

G. Spesifikasi Aplikasi untuk Model Sistem Perbendaharaan


Aplikasi untuk sistem Perbendaharan membutuhkan beberapa set modul yang
menjalankan fungsi-fungsi spesifik untuk mendukung proses-proses fungsional. Terdapat
beberapa aplikasi pihak ketiga (off-the-shelf application) yang tersedia di pasaran yang
menyediakan fitur-fitur yang diperlukan oleh sistem perbendaharaan. Karena umumnya aplikasi-
aplikasi tersebut dirancang untuk penggunaan oleh sektor swasta, beberapa aplikasi ini mungkin
telah dimodifikasi untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik sektor publik. Bagaimanapun, harus
ditetapkan suatu rincian spesifik atas karakteristik yang diperlukan untuk menilai apakah aplikasi
yang tersedia di pasaran tersebut dapat digunakan memenuhi kebutuhan sistem
Perbendaharaan.
H. Struktur Organisasi Perbendaharaan
Pengaturan kelembagaan untuk pemrosesan pengeluaran menggambarkan pengaturan
kelembagaan di mana:
(a) semua pembayaran dari unit lini (line agencies) disalurkan melalui Perbendaharaan;
(b) Perbendaharaan bertanggung jawab untuk melakukan pembayaran dari Treasury Single
Account (TSA) yang berada di Bank Sentral; dan
(c) Bank Sentral bertanggung jawab atas operasi perbankan yang terkait dengan pembayaran
dan penerimaan pemerintah.
Sentralisasi semua pembayaran pemerintah di seluruh kantor Perbendaharaan dan
konsolidasi rekening-rekening bank ke rekening tunggal di Bank Sentral dapat menghindari
adanya penumpukan saldo menganggur yang besar meskipun Kementerian Keuangan
mengalami defisit kas secara keseluruhan. Penumpukan saldo menganggur juga merupakan
indikasi dari kesulitan yang dialami oleh Kementerian Keuangan dalam memperoleh informasi
yang tepat waktu dari spending agencies atas penggunaan dana publik, dan melakukan kontrol.

I. Arsitektur Teknologi
Dalam pengimplementasiannya, terdapat dua arsitektur teknologi yang mendukung model
fungsional dan model organisasi yang diadopsi oleh Perbendaharaan, yaitu:
1. Pengolahan Transaksi Terdistribusi dan Arsitektur Teknologi
Pada model ini, fasilitas untuk memproses transaksi, menghasilkan, menyimpan dan
memproses data berada di masing-masing level perbendaharaan, baik pusat, daerah,
kabupaten, instansi lini, dan spending unit. Kelebihan pengolahan transaksi terdistribusi
adalah mendistribusikan daya komputasi sepadan dengan persyaratan jaringan (node),
membuat sistem lebih tidak rentan terhadap malfungsi di situs pusat (central site),
penggunaan akhir memiliki kontrol lebih besar terhadap sumber daya teknologi dan data
mereka serta tidak bergantung pada infrastruktur telekomunikasi.
2. Pengelolaan Transaksi Terpusat dan Arsitektur Teknologi
Model ini menggambarkan apilkasi utama dan database dikelola secara terpusat, atau disebut
Central Treasury. Koneksi yang dibangun, dapat berbasis telepon ataupun berbasis satelit
komunikasi. Data di kendalikan (remote) dalam lokasi tertentu melalui web browser, baik
secara Intranet yang dibuat oleh Pengelola Data (Treasury) maupun Internet menggunakan
Internet Service Provider (ISP). Kelebihan utama dari model ini adalah dapat mengurangi
biaya dan upaya untuk pengelolaan dan pemeliharaan aplikasi.
J. Kepatuhan terhadap Standar dan Praktik Internasional
Model Referensi Tresuri (TRM) menyediakan dasar untuk memastikan bahwa sistem tresuri
sejalan dengan standar internasional untuk berbagai aspek manajemen keuangan. Dua elemen
khusus yang harus dipertimbangkan adalah pengadopsian struktur akun yang memenuhi standar
internasional untuk akuntansi dan pelaporan fiskal, dan elemen yang relevan dengan “IMF Code
of Good Practices on Fiscal Transparency Declaration on Principles.”
Chart of Accounts (COA) adalah komponen kunci untuk memastikan bahwa data anggaran
diambil dalam tingkat rincian yang diperlukan, bahwa sumber dan alasan untuk setiap transaksi
dapat diidentifikasi dalam sistem, dan informasi anggaran tersebut dapat dilihat. COA adalah
istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan kerangka klasifikasi untuk mencatat dan
melaporkan transaksi dan aliran lain yang mempengaruhi posisi keuangan entitas. COA lengkap
akan mencakup sub-klasifikasi yakni Klasifikasi Dana, Klasifikasi Organisasi, Klasifikasi Ekonomi,
Klasifikasi Fungsional, Klasifikasi Program dan Klasifikasi Proyek.
Secara garis besar, COA basis akrual pada akuntansi sektor pemerintah dikategorikan
sebagai berikut.
1. Pendapatan
Dalam arti luas, pendapatan adalah semua transaksi yang menambah kekayaan bersih
pemerintah. Pendapatan pemerintah diperoleh dari berbagai sumber yang berbeda di setiap
negara, konsekuensinya adalah pengklasifikasian pendapatan tidak dapat diseragamkan
secara utuh. Pendapatan dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan pajak dan pendapatan selain
pajak.
2. Belanja
Belanja dapat diartikan sebagai aliran sumber daya keluar yang mengurangi kekayaan bersih
pemerintah. Ada tujuh kelompok besar dalam pengelompokan belanja, yaitu kompensasi
kepada pegawai, pemanfaatan barang dan/atau jasa, konsumsi aset tetap, belanja properti,
subsidi, hibah, dan jaminan sosial.
3. Aset
Aset adalah sumber daya yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah. - Aset keuangan :
kas, piutang pada pihak lain, investasi saham pada holding, dll - Aset non-keuangan : gedung
dan bangunan, kendaraan, jalan, dan ifrastruktur lainnya.
4. Kewajiban
Klaim atas sumber daya oleh pihak lain, antara lain utang baik jangka panjang maupun jangka
pendek.
5. Aliran Ekonomi Lain
Akun kategori ini mencatat perubahan yang terjadi pada nilai aset dan/atau kewajiban yang
diakibatkan oleh perubahan penilaian, pembangunan, penciptaan, ataupun penghapusan
aset dan/atau kewajiban.
Pengembangan sistem perbendaharaan harus diatur dalam konteks pengembangan sistem
manajemen fiskal secara keseluruhan. Peningkatan transparansi fiskal menyediakan
serangkaian tujuan yang relevan dengan semua elemen reformasi manajemen fiskal dan dapat
membantu memandu reformasi keuangan sebagai bagian dari program reformasi terpadu. Pada
bulan April 1998, Komite Interim Dewan Gubernur IMF mengadopsi Code of Good Practices on
Fiscal Transparency dan mendorong semua negara untuk mengambil langkah-langkah untuk
menerapkannya. Standar dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menetapkan prioritas bagi
reformasi manajemen fiskal, mengoordinasikan upaya berbagai lembaga, dan menilai kemajuan
dari waktu ke waktu.

K. Faktor Keberhasilan Kritis Untuk Implementasi Proyek


1. Komitmen Pemerintah dan Dukungan Manajemen
Meningkatkan kualitas sistem manajemen fiskal akan meningkatkan transparansi proses
alokasi fiskal dan sumber daya. Komitmen pemerintah yang berkelanjutan untuk reformasi
sektor publik dan untuk memperkuat lembaga manajemen keuangan merupakan faktor
penentu keberhasilan utama implementasi proyek. Pengenalan struktur kelembagaan
baru untuk pelaksanaan anggaran membutuhkan reorganisasi dan penyelarasan kembali
peran dan tanggung jawab lembaga pemerintah terkait
2. Koordinasi Antar Lembaga dan Keterlibatan Pengguna dalam Desain Sistem
Keberhasilan implementasi jaringan sistem informasi yang terintegrasi sangat tergantung
pada kerja sama antar pengguna. Hal ini membutuhkan penetapan pengaturan, protokol,
dan jadwal berbagi data yang sistematis antara berbagai sistem sehingga semua lembaga
memiliki akses ke data keuangan sesuai kebutuhan.
3. Kapasitas Organisasi dan Keterampilan Teknis
Reformasi sistem perbendaharaan perlu mengatur kapasitas organisasi dari lembaga-
lembaga yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan reformasi dan pengelolaan
pelaksanaan proyek. Untuk memastikan keberlanjutan proyek mungkin perlu menambah
keterampilan yang ada dan menyediakan pembiayaan serta perekrutan spesialis
implementasi proyek, spesialis manajemen fiskal, dan keterampilan teknis lainnya sesuai
kebutuhan.
4. Manajemen Perubahan
Implementasi jaringan sistem berbasis komputer untuk mendukung proses
perbendaharaan di seluruh negara membutuhkan pemahaman tentang proses bisnis dan
persyaratan informasi, serta lingkungan sosial, budaya, dan politik organisasi dan negara
di mana mereka diimplementasikan
5. Perencanaan Proyek Formal
Metodologi perencanaan proyek formal harus digunakan untuk merancang,
mengimplementasikan, dan memantau sistem. Dianjurkan untuk mengimplementasikan
proyekproyek tersebut secara bertahap sehingga proyek-proyek tersebut dapat
diberlakukan dan dipantau secara memadai dalam lingkungan yang terkendali.
Implementasi bertahap juga memastikan bahwa mereka tidak melebihi kapasitas daya
serap organisasi tempat mereka diimplementasikan.
6. Sistem dan Administrasi Data
Mekanisme koordinasi harus dibuat untuk memastikan bahwa serangkaian kebijakan,
prosedur, dan standar tersedia untuk mengelola data dan sistem di seluruh pemerintah.
Standar tersebut harus mencakup protokol untuk komunikasi, entri data, pengeditan, dan
memperbarui format input dan output layar, cadangan dan pemulihan, keamanan,
kontingensi, dan perencanaan pemulihan bencana, serta dokumentasi teknis dan
pengguna.
7. Dukungan Teknis Lokal
Perangkat keras dan lunak yang dipilih didukung secara lokal. Vendor harus hadir di
negara tersebut untuk memberikan pelatihan, dukungan teknis dan pemeliharaan,
termasuk pemenuhan kewajiban garansi, sepanjang umur sistem.