Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat allah swt yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “ AGAMA DAN NEGARA”

Terima kasih kami ucapkan kepda semua pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dalam pernulisan makalah ini kami
masih banyak kekurangannya, oleh karna itu kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini sangat kami harapkan.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami
maupun para pembaca sekalian.

Samarinda, 28 September 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ 1

DAFTAR ISI...........................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG................................................................................3
B. RUMUSAN MASALAH.................................... .......................................3
C. TUJUAN....................................................................... ..............................3

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................4

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN.........................................................................................13
B. SARAN................................................................................................... ..13

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................14

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap individu dalam satu masyarakat selalu berinteraksi antara
yang satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan dengan berpedoman
kepada tata aturan yang kuat. Dalam hal ini agama berperan mengatur
kehidupan masyarakat sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan
saling membutuhkan. Begitu pula dengan negara yang merupakan suatu
organisasi dalam suatu wilayah memberikan tata aturan kepada
masyarakat dengan membentuk satu tujuan bersama.
Agama dan negara memang tidak bisa dipisahkan dengan
masyarakat karena untuk mewujudkan cita-cita bersama masyarakat perlu
memahami nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan negara sehingga
menuntut masyarakat menndalami apa itu agama dan apa itu negara dalam
segala peran dan fungsinya lebih-lebih di zaman yang serba modern ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian agama?
2. Apa pengertian negara?
3. Bagaimana hubungan antara agama dan negara?

C. TUJUAN
Kami memilih pembahasan “AGAMA DAN NEGARA”
adalah bertujuan agar para pembaca mengerti dan paham bagaimana
sesungguhnya Agama dan negara yang terjadi pada saat ini.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Agama
Agama menurut etimologi berasal dari kata bahasa sansakerta dalam
kitab upadeca tentang ajaran-ajaran agama hindu disebutkan bahwa perkataan
agama berasal dari bahasa sansakerta yang tersusun dari kata “A” berarti tidak
dan “gama” berarti pergi dalam bentuk harfiah yang terpadu perkataan agama
berarti tidak pergi tetap ditempat, langgeng, abadi, diwariskan secara terus
menerus dari generasi ke generasi.
Agama selalu diterima dan dialami secara subjektif. Oleh karena itu
orang sering mendefinisikan agama sesuai dengan pengalamannya dan
penghayatannya pada agama yang di anutnya. menurut “Mukti Ali”, mantan
menteri agama Indonesia menyatakan bahwa agama adalah percaya akan adanya
Tuhan Yang Esa. Dan hukum-hukum yang di wahyukan kepada kepercayaan
utusan-utusannya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Sedangkan menurut ”James Martineau” agama adalah kepercayaan kepada
Tuhan yang selalu hidup. Yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur
alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia Friedrich
Schleiermacer, menegaskan bahwa agama tidak dapat di lacak dari pengetahuan
rasional, juga tidak dari tindakan moral, akan tetapi agama berasal dari perasaan
ketergantungan mutlak kepada yang tak terhingga (feeling of absolute
dependence)
Di samping itu, agama merupakan pedoman hidup atau arahan dalam
menentukan kehidupan, sebagaimana dalam hadist. “Kutinggalkan untuk kamu
dua perkara tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih
berpegang kepada keduanya yaitu kitabullah dan sunnah rasul”

4
2. Pengertian Negara
Istilah negara diterjemahkan dari kata-kata asing yaitu staat”
(bahasa belanda dan jerman) “state” (bahasa inggris) “etat” (bahasa
prancis) kata “staat”(state,etat) itu diambil dari kata bahasa latin yaitu
“status” atau statum, yang artinya keadaan yang tegak dan tetap atau suatu
yang memiliki sifat yang tegak dan tetap.
Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan
kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaanlainnya dan yang
dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu negara menetapkan
cara-cara dan batas-batas sampai dimana kekuasaan itu dapat digunakan dalam
kehidupan bersama itu, baik oleh individu maupun golongan atau asosiasi,
ataupun juga oleh negara sendiri

3. Hubungan Agama dan Negara

Negara dan agama merupakan persoalan yang banyak


menimbulkan perdebatan (discourse) yang terus berkelanjutan di kalangan
para ahli. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam
menerjemahkan agama sebagai bagian dari Negara atau Negara
merupakan bagian dari dogma agama.

Dalam memahami hubungan agama dan Negara ini, akan


dijelaskan beberapa konsep hubungan agama dan Negara menurut
beberapa aliran, antara lain paham teokrasi, paham sekuler dan paham
komunis.

A. Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham Teokrasi


Dalam perkembangan, paham teokrasi terbagi kedalam dua
bagian, yakni paham teokrasi langsung dan paham teokrasi
tidak langsung. Menurut paham teokrasi langsung, pemerintah
diyakini sebagai otoritas Tuhan secara langsung pula. Adanya
Negara didunia ini adalah atas kehendak Tuhan, dan oleh
karena itu yang memerintah adalah Tuhan pula.

5
Sementara menurut sistem pemerintahan teokrasi tidak
langsung yang memerintah bukanlah Tuhan sendiri, melainkan
yang memerintah adalah raja atau kepala yang memiliki
otoritas atas nama Tuhan, kepala Negara atau raja diyakini
memerintah atas kehendak Tuhan.

B. Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham Sekuler


Selain paham teokrasi, terdapat pula paham sekuler dalam
praktik pemerintahan dalam kaitan hubungan agama dan
Negara. Paham sekuler memisahkan dan membedakan antara
agama hubungan agama dan Negara. Dalam negera sekuler,
tidak ada hubungan antar system kenegaraan dengan agama.
Dalam paham ini, Negara adalah urusan hubungan manusia
dengan manusia lain, atau urusan dunia. Sedangkan agama
adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dua hal ini menurut
paham sekuler tidak dapat disatukan.
Dalam Negara sekuler, sistem dan norma hukum positif
dipisahkan dengan nilai dan norma agama. Norma hukum
ditentukan atas kesepakatan manusia dan tidak berdasarkan
agama atau firman-firman Tuhan, meskipun mungkin norma-
norma tersebut bertentangan dengan norma-norma agama.
Sekalipun paham ini memisahkan antara agama dan Negara,
akan tetapi pada lazimnya Negara sekuler membebaskan warga
negaranya untuk memeluk agama apa saja yang mereka yakini
dan Negara intervensif dalam urusan agama.

C. Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham


Komunisme
Paham komunisme memandang hakikat hubungan Negara
dan agama berdasarkan pada filosofi materialisme – dialektis
dan materialisme – historis. Paham ini menimbulkan paham

6
atheis. Paham yang dipeolopori oleh Karl Marx ini,
memandang agama sebagai candu masyarakat. Menurutnya,
manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Sementara agama,
dalam menemukan dirinya sendiri.
Kehidupan manusia adalah dunia manusia itu sendiri yang
kemudian menghasilkan masyarakat Negara. Sedangkan agama
dipandang sebagai realisasi fantastis makhluk manusia dan
agama merupakan keluhan makhluk tertindas. Oleh karena itu,
agama merupakan keluhan makhluk tertindas dalam Negara
adalah materi, karena manusia sendiri pada hakekatnya adalah
materi.

D. Hubungan Agama dan Negara Menurut Islam


Tentang hubungan agama dan negara dalam islam adalah
agama yang paripurna yang mencakup segala-galanya termasuk
masalah negara oleh karena itu agama tidak dapat dipisahkan
dari negara dan urusan negara adalah urusan agama serta
sebaliknya. Aliran kedua mengatakan bahwa islam tidak ada
hubungannya dengan negara karena islam tidak mengatur
kehidupan bernegara atau pemerintahan menurut aliran ini
Nabi Muhammad tidak mempunyai misi untuk mendirikan
negara. Aliran ketiga berpendapat bahwa islam tidak mencakup
segala-galanya tapi mencakup seperangkat prinsip dan tata
nilai etika tentang kehidupan bermasyarakat termasuk
bernegara.
Sementara itu “Hussein Mohammad” menyebutkan bahwa
dalam islam ada dua model hubungan agama dan negara, yaitu:
 Hubungan integralistik dapat diartikan sebagai
hubungan totalitas dimana agama merupakan suatu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan keduanya
merupakan dua lembaga yang menyatu.

7
 Hubungan simbiosis mutualistik bahwa antara
agama dan negara terdapat hubungan yang saling
membutuhkan sebab tanpa agama akan terjadi
kekacauan dan moral dalam negara.

Menurut Ibnu taimiyah (Tokoh Sunni Salafi) berpendapat


bahwa agama dan negara benar benar berkelindahan tanpa
kekuasaan negara yang bersifat memaksa agama berada dalam
bahaya sementara itu tanpa disiplin hukum wahyu pasti menjadi
sebuah organisasi yang tiranik.

Selanjutnya menurut al-Ghazali dalam bukunya “Aliqtishad


fi Ali’tiqat” mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua anak
kembar, agama adalah dasar dan penguasa/kekuasaaan, negara
adalah penjaga segala sesuatu yang tidak memiliki dasar akan
hancur dan sesuatu yang tidak memeiliki penjaga akan sia-sia.

Islam, menurut pandangan mayoritas ulama Muslim bukan


hanya agama, tapi juga kebudayaan. Sebagai tata kebudayaan ia
membentuk masyarakat, pemerintahan, perundang-undangan, dan
lembaga-lembaga yang ada, terutama pembentukan negara dengan
rakyat dan wilayahnya. Dengan kata lain, islam itu meliputi
berbagai aspek kehidupan, seperti sistem politik, ekonomi, etika
dan kemasyarakatan. Kalau ia hanya tata agama, ia tidak akan
membentuk masyarakat dan negara seperti yang ada di Madinah.

Fakta tersebut tidak saja menjadi keyakinan sebagian besar ulama Islam,
tetapi juga diakui oleh banyak orang Barat dan kaum orientalis, sebagaimana
diutarakan oleh Dhia’ al-Din Rais, yang diantara mereka adalah:

1) Dr. Firt Grald berpendapat, bahwa Islam bukan sekedar agama, melainkan
juga sebuah tatanan politikyang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

8
2) Dr. C. A. Nollino berpendapat, bahwa pada saat yang sama Muhammad
sekaligus memberikan agama dan negara, sedangkan peraturan-peraturan
negaranya selalu tepat sepanjang hidupnya.
3) Dr. Schatt berkata, islam lebih sekedar agama, ia juga menjabarkan hukum
dan politik.
4) Dr. Thomas Arnold berkata, Nabi SAW., seorang kepala agama dan
kepala negara,

Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa integritas masyarakat islam


(umat) yang didirikan dan dibina oleh Nabi SAW., menampakkan keterikatan
antara negara dan agama. Argumen ini, dikuatkan lagi oleh penuturan Nurcholish
Madjid sebagai dikutip oleh Musdah Mulia, bahwa salah satu karakteristik agama
islam pada masa-masa awal penampilannya ialah kejayaan dibidang politik.
Kenyataan itu menjadi dasar bagi adanya pandangan yang merata di kalangan para
ahli dan awam., baik muslim maupun non muslim, seperti telah diuraikan dahulu,
bahwa islam adalah agama yang terkait erat dengan persoalan kenegaraan. Bahkan
disinyalir sesudah kaum muslimin berkenalan dengan Aryanisme Persia muncul
ungkapan bahwa “islam adalah agama dan negara” (al-Islam Din wa dawlah)
yang mengindikasikanpertautan antara agama dan negara.1[8]

Hubungan islam dan negara modern secara teoritis dapat diklasifikasikan


ke dalam tiga (3) pandangan: Integralistik, Simbiotik, dan Sekularistik.

1. Paradigma Integralistik
Paradigma integralistik hampir sama persis dengan pandangan
negara teokrasi islam. Paradigma ini menganut paham dan konsep agama
dan negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Paham ini
juga memberikan penegasan bahwa negara merupakan suatu lembaga

9
politik dan sekaligus lembaga agama. Konsep ini menegaskan kembali
bahwa islam tidak mengenal pemisahan antara agama (din) dan politik
atau negara (dawlah).
Dalam pergulatan islam dan negara modern, pola hubungan
integratif ini kemudian melahirkan konsep tentang agama-negara, yang
berarti bahwa kehidupan kenegaraan diatur dengan menggunakan hukum
dan prinsip keagamaan. Dari sinilah kemudian paradigma integralistik
identik dengan paham islam ad-Din wa dawlah (islam sebagai agama dan
negara), yang sumber hukum positifnya adalah hukum islam (syariat
islam). Paradigma integralistik ini antara lain dianut oleh negara Kerajaan
Saudi Arabia dan penganut paham Syi’ah di Iran. Kelompok pecinta Ali
ra. Ini menggunakan istilah Imamah sebagaimana dimaksud dengan istilah
dawlah yang banyak di rujuk kalangan Sunni.

2. Paradigma Simbiotik
Menurut paradigma simbiotik, hubungan agama dan negara berada
pada posisi saling membutuhkan dan bersifat timbal balik (simbiosis
mutualita). Dalam pandangan ini, agama membutuhkan negara sebagai
instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama. Begitu pula
sebaliknya, negara juga memerlukan agama sebagai sumber moral, etika,
dan spiritualitas warga negaranya.
Paradigma simbiotik tampaknya bersesuaian dengan pandangan
Ibnu Taimiyah tentang negara sebagai alat agama di atas. Dalam kerangka
ini, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa adanya kekuasaan yang mengatur
kehidupan manusia merupakan kewajiban agama yang paling besar,
karena tanpa kekuasaan negara, maka agama tidak bisa berdiri tegak.
Pendapat Ibnu Taimiyah tersebut melegitimasi bahwa antara agama dan
negara merupakan dua entitas yang berbeda, tetapi saling membutuhkan.
Oleh karenanya, konstitusi yang berlaku dalam paradigma ini tidak saja
berasal dari adanya kontrak sosial (social contract), tetapi bisa diwarnai
oleh hukum agama (syariat). Dengan kata lain, agama tidak mendominasi

10
kehidupan bernegara, sebaliknya ia menjadi sumber moral bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Model pemerintahan negara Mesir dan Indonesia
dapat digolongkan kepada kelompok paradigma ini.
3. Paradigma Sekularistik
Paradigma sekularistik beranggapan bahwa terjadi pemisahan yang
jelas antara agama dan negara. Agama dan negara merupakan dua bentuk
yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan masing-masing,
sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain
melakukan intervensi. Negara urusan publik, sementara agama merupakan
wilayah pribadi masing-masing warga negara.
Berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini, maka hukum positif
yang berlaku adalah hukum yang berasal dari kesepakatan manusia
melalui social contract yang tidak terkait sama sekali dengan hukum
agama (syariat). Konsep sekularistik dapat ditelusuri pada pandangan Ali
Abdul Raziq yang menyatakan bahwa dalam sejarah kenabian Rasulullah
SAW.pun tidak ditemukan keinginan Nabi Muhammad untuk mendirikan
negara islam. Negara Turki dapat digolongkan ke dalam paradigma ini.
Ketiga paradigma di atas, meskipun tidak persis sama, tapi hampir
mirip dengan pendekatan trikotomi yang ditawarkan oleh Bahtiar Effendy
dalam menafsirkan islam politik di Indonesia sebagai tinjauan teoritisnya,
yaitu pendekatan kelompok fundamentalis, reformis, dan akomodasionis.
Kelompok fundamentalis menentang pemikiran sekuler, pengaruh Barat
dan Sinkritisme kepercayaan tradisional dan menekankan keutamaan
agama atas politik. Kelompok reformis juga menekankan keutamaan
agama atas politik, tapi mau bekerja sama dengan kelompok-kelompok
sekuler atas landasan yang sama-sama disepakati. Kelompok pertama
menempati paradigma integralistik dan kelompok kedua mengakses
paradigma simbiotik. Sedangkan kelompok akomodasionis tentu tidak bisa
serta merta disamakan dengan sekuler, karena sifat dasar dari
akomodatifnya kelompok ini demi persatuan dan kesatuan umat serta
berpegang pada kepentingan islam secara keseluruhan.

11
Terlepas dari pendekatan mengenai paradigma di atas, yang jelas
yang sudah mengkristal di kalangan muslim bahwa konsep umat sangat
menekankan agar menjaga kesatuan organis dan kohesi psikologis tatanan
sosial universal tidak partularistik. Al-Qur’an dengan lantang menegaskan
bahwa semua berasal dari Yang Satu, dijadikan bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa agar bersaudara dan saling tolong-menolong satu sama
lainnya. Universalitas ini tidak dapat dibatasi kasta, kelas atau warna kulit
bahkan wilayah dalam arti pelaksanaan syariat islam. Dengan demikian,
pemaknaan umat lebih bersifat pluralistik.

12
BAB III

Penutup

1. Kesimpulan

Secara umum agama diartikan sesuai dengan pengalaman dan


penghayatan individu terhadap agama yang di anutnya agama adalah
kepercayaan kepada tuhan yang maha esa serta hukum hukum yang
diwahyuhkan kepada utusannya agar penganutnya bias hidup bahagia
dunia akhirat .

Sedangkan negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah


yang merupakan alat untuk mengatur hubungan- hubungan individu serta
menetapkan tujuan hidup bersama dalam wilayah tersebut.
Ada beberapa pandangan tentang hubungan agama dan negara
diantaranya:menurut paham teokrasi, paham sekuler, Paham komunisme,
dan menurut islam yang kesemuanya itu memiliki pandangan yang
berbeda.

2. Saran
Sebaiknya makalah yang bermanfaat ini lebih ditingkatan karna
bisa berguna bagi pikiran akhlak dan kepribadian para remaja atau kaum
muda penerus bangsa ini.

13
Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi Prof Dr, 2003, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat
Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah; Jakarta.

Nata, H Abuddin Prof Dr, 1998, Metodologi Stusi Islam, PT. Raja Grafindo
Persada; Jakarta.

Soelaeman, M Munandar IR, 1987, Ilmu Sosial Dasar, PT. Eresco; Bandung

https://www.scribd.com/doc/58004916/Makalah-Hubungan-Negara-dan-Agama

Dede Rosyada. Pendidikan Kewarganegaraan, Demokrasi, HAM dan


Masyarakat Madani. Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000.

K. Sukardji. Agama-Agama Yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya.


Bandung : Angkasa, 1993.

Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Agama Sebuah Pengantar. Bandung: PT.


Mizan Pustaka, 2004.

Waqiatul Masrurah. Buku Ajar Civic Education. Pamekasan: STAIN


Pamekasan Press, 2006.
http://hubungan-agama-dan-negara-ril.blogspot.co.id/

https://e-miktaohben.blogspot.co.id/2011/03/hubungan-agama-dengan-
negara.html

http://makalah85.blogspot.co.id/2008/11/hubungan-antara-negara-dan-agama.html

14