Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Payudara dimiliki oleh setiap orang, lelaki maupun perempuan. Pada lelaki payudara

mengalami rudimenter dan tidak penting, sedangkan milik perempuan menjadi besar dan

penting. Payudara merupakan salah satu organ penting wanita ysng erat kaitannya dengan

rungsi reproduksi, antara lain sebagai organ yang berfungsi untuk memebrikan susu pada bayi

(breast feed-ing).Pada masa remaja atau gadis payudara memegang peranan penting dalam

fungsi estetika dan penarik dalam seksual. Dari bentuk,fungsi, ataupun keindahan payudara

tidak melepaskan dari berbagai resiko penyakit yang akan muncul, salah satunya yaitu kanker

payudara (Bustan,2007)

Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh

tidak normal (tumbuh sangat cepat dan tidak terkendali), menginfiltrasi/ merembes, dan

menekan jaringan tubuh sehingga mempengaruhi organ tubuh (Akmal, dkk., 2010: 187).

Penyakit kanker menurut Sunaryati merupakan penyakit yang ditandai pembelahan sel tidak

terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan

pertumbuhan langsung dijaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke

tempat yang jauh (metastasis) (Sunaryati, 2011: 12).Penyakit kanker adalah suatu kondisi

sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami

pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali (Diananda, 2009: 3). Penyakit

kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh

yang tidak normal, berkembang cepat dan terus membelah diri, hingga menjadi penyakit

1
berat (Maharani, 2009:12). Setiap 15 menit ada 1 orang penduduk dunia yang meninggal

karena kanker.

Kanker payudara (KPD) merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat

berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. ( Kemenkes, 2009).

Masa remaja putri adalah suatu masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan fisik, kognitif

dan psikologis yang besar Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-

anak berubah dari makhluk eseksual menjadi makhluk seksual. Masa pubertas adalah suatu

tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai

kemampuan reproduksi (Kusmiran, 2011).

Masa remaja putri berkisar antara usia 15-18 tahun. Karena adanya perubahan tersebut

dibutuhkan suatu pengetahuan tentang organ reproduksi wanita terutama tentang payudara,

karena pada payudara itu sering terjadi kelainan seperti halnya tumor jinak pada payudara,

kanker payudara dan lain sebagainya. Untuk mendeteksi adanya kelainan itu dilakukan upaya-

upaya tertentu salah satunya melakukan pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri atau

yang disebut pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Tujuan dari anjuran ini adalah untuk

mendorong wanita untuk mengenali jaringan payudara mereka sendiri dan untuk

secepatnya melaporkan apabila terdapat penyimpangan dari normal, terutama yang

berkaitan dengan adanya atau pertumbuhan massa yang tidak dikenal. Secara teori,

penemuan semacam ini akan mengarah pada tindakan penapisan lebih lanjut oleh dokter

dari wanita tersebut, dan sebaiknya menghasilkan diagnosis awal adanya tumor yang

bersifat kanker, sehingga mengarah pada pengobatan dan penyembuhan kearah kesehatan

yang optimal (Varney’s Midwifery, 2009 : 372).

2
Berdasarkan data Sistem Rumah Sakit (SiRS) tahun 2007, kanker payudara menempati

urutan pertama pada pasien rawat inap diseluruh RS di Indonesia (16,85%).(Lokakarya

Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR, 2004 : 28). Agar

wanita dapat melakukan pemeriksaan payudara secara teratur, maka dibuat gerakan yang

dinamakan SADARI yang merupakan singkatan dari “pemeriksaan payudara sendiri”

(http://www.metroriao.com). Bila dapat melakukan payudara sendiri (SADARI) ditemukan

benjolan pada payudara atau rasa gatal pada puting susu yang basah dan bersisik, atau ada

cairan yang keluar dari puting susu, yang dapat berupa darah atau cairan yang jernih kekuning-

kuningan, maka segera datang pada dokter untuk segera dilakukan pemeriksaan yang memadai

yang sitologi caira puting susu (Lokakarya Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna RSUD

Dr. Soetomo/FK UNAIR, 2004 : 24).

Sebelum terjadinya kanker payudara ada cara sederhana untuk mendeteksinya,

salah satu cara dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan

ini akan membuat para wanita nyaman karena pemeriksaan ini dilakukan dengan

sendiri tanpa bantuan orang lain, adanya informasi mengenai SADARI serta kanker

payudara menjadi motivasi para wanita untuk menambah pengetahuan tentang kanker

payudara. SADARI akan meningkatkan kesadaran dan tingkat pengetahuan betapa

pentingnya kewaspadaan akan adanya benjolan yang tidak normal pada payudara untuk

mencegah terjadinya resiko kanker payudara (Yustiana dkk, 2013). Dari sebagian besar remaja

putri terutama pada remaja SMA kelas XI tidak mengetahui tentang pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI) untuk mendekteki atau mengetahui apakah apadanya kelainan pda

payudaranya, maka dari itu remaja putri dapat memeriksa payudara sendiri (SADARI)

pada saat mandi dengan menggunakan jari-jari tangan sehingga dapat menentukan

3
benjolan pada lekukan halus payudaranya. Bagi banyak wanita kejadian sangat

mengejutkan pada waktu sebuah benjolan sudah nampak dengan jelas, kemungkinannya

adalah bahwa benjolan tersebut adalah kanker, maka seseorang mungkin telah kehilangan

waktu yang berharga untuk memulai pengobatan sedini mungkin. Jadi jalan yang paling

bijaksana adalah memeriksa payudara kita secara teratur pada selang waktu yang tertentu

pula. Dengan seluruh aktifitas didalam payudara sehubungan dengan perkembangan dalam

kehidupan seorang wanita dan juga perubahan siklus yang biasa disebabkan oleh periode

menstruasi teratur, sebaiknya semua wanita bermawas diri terhadap masalah yang mungkin

timbul pada payudara mereka. Sebaiknya pemeriksaan dapat dimulai dari waktu remaja dengan

pemeriksaan yang rutin dan teratur untuk mendeteksi tanda-tanda dini persoalan payudara.

Jalan yang paling bijaksana adalah setiap wanita memeriksa payudaranya secara teratur

pada selang waktu tertentu. Dengan cara ini, kelainan yang terkecil sekalipun dapat

ditemukan dan langkah-langkah aktif untuk pengobatan dapat dimulai sedini mungkin

(Gilbert, 2009 : 41).

Untuk mendeteksi adanya kelainan itu dilakukan upaya-upaya tertentu salah satunya

melakukan pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri atau yang disebut pemeriksaan

payudara sendiri (SADARI). Tujuan dari anjuran ini adalah untuk mendorong wanita

untuk mengenali jaringan payudara mereka sendiri dan untuk secepatnya melaporkan

apabila terdapat penyimpangan dari normal, terutama yang berkaitan dengan adanya atau

pertumbuhan massa yang tidak dikenal. Secara teori, penemuan semacam ini akan

mengarah pada tindakan penapisan lebih lanjut oleh dokter dari wanita tersebut, dan

sebaiknya menghasilkan diagnosis awal adanya tumor yang bersifat kanker, sehingga

4
mengarah pada pengobatan dan penyembuhan kearah kesehatan yang optimal (Varney’s

Midwifery, 2006: 372).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan urian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah “Gambaran Tentang Pengetahuan Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Pada Remaja Putri Kelas XI di SMA N 1 MENGWI”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Gambaran Tentang Pengetahuan Tentang Pemeriksaan Payudara

Sendiri (SADARI) Pada Remaja Putri Kelas XI di SMA N 1 MENGWI.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri

(SADARI) pada remaja putri kelas XI di SMA N 1 MENGWI.

1.3.2.2 Mengidentifikasi tingkat pengetahuan manfaat tentang pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI) pada remaja putri kelas XI di SMA N 1 MENGWI

1.3.2.3 Mengidentifikasi tingkat pengetahun waktu melakukan pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI) pada remaja putri kelas XI di SMA N 1 MENGWI

1.3.2.4 Mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang

cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri

kelas XI di SMA N 1 MENGWI

5
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Karya tulis ilmiah ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan

sumber informasi mengenai gambaran tingkat pengetahuan tentang SADARI pada

remaja putri.

1.4.2 Praktis

1.4.2.1 Bagi SMA N 1 MENGWI

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi remaja putri

mengenai gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI secara

dini dan dapat diaplikasikaan dalam kehidupan sehari - hari.

1.4.2.2 Bagi Stikes Wira Medika Bali (di perpustakaan)

Penelitian ini diharapkan sebagai masukan pembaca serta dapat

menambah pengetahuan mahasiswa tentang gambaran tingkat pengetahuan

remaja putri tentang SADARI.

1.4.2.3 Bagi peneliti selanjutnya

Sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya dan bisa dijadikan referensi

pada penelitian dengan topik yang sama

1.5 Keaslian Penelitian

1.5.1 Maryatul Fauziah (2017) Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pemeriksaan Payudara

Sendiri (Sadari) Pada Remaja Putri Di Sma Kolombo Depok Sleman.

Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker

leher rahim. Kasus penderita kanker payudara berjumlah 1,4 dari 1.000 penduduk. Kasus

kanker tertinggi berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta angka prevalensinya 4,2 per

6
1.000 penduduk. Salah satu cara untuk mendeteksi kanker payudara dengan melakukan

pemeriksaan SADARI. Pengetahuan dianggap sangat penting dan berpengaruh terhadap

perilaku seseorang dalam menghadapi kejadian SADARI, kurangnya pengetahuan tentang

SADARI menjadi penyebab utama terjadinya kanker. Tujuan : Diketahuinya gambaran

tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri

di SMA Kolombo Depok Sleman. Metode Penelitian : Metode penelitian ini menggunakan

deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di SMA Kolombo Depok Sleman. Waktu

pelaksanaan tanggal 27 Maret – 28 April 2017, jumlah responden 61 remaja putri dengan

teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, alat pengambilan data

menggunakan analisa univariat. Hasil : Dari hasil penelitian pada 61 responden yang

merupakan remaja putri di SMA Kolombo Depok Sleman sebagian besar memiliki

pengetahuan cukup yaitu sebesar 31 remaja putri (50,8%). Hasil pengetahuan antara lain,

tingkat pengetahuan tentang pengertian SADARI sebanyak 26 responden (42,6%), tingkat

pengetahuan tentang tujuan dilakukan SADARI sebesar 29 remaja putri (47,5%), tingkat

pengetahuan tentang manfaat SADARI 38 responden (62,3%), tingkat pengetahuan

tentang waktu pelaksanaan SADARI 40 responden (64,6) dan tingkat pengetahuan tentang

langkah – langkah SADARI sebanyak 34 responden (55,7%). Kesimpulan : Hasil

penelitian didapatkan bahwa pengetahuan remaja putri tentang periksa payudara sendiri

(SADARI) di SMA Kolombo Depok Sleman dalam kategori cukup.

1.5.2 Friska Wulandari (2017) Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku

Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Mahasiswi.

7
Latar Belakang: Di Jawa Barat dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia yaitu

40.737.594 orang, dimana penduduk wanita sebanyak 49,5% terdapat angka kejadian

tumor/kanker 0,5% estimasi kejadian 26/100.000 wanita atau sekitar 5200 kasus. Kejadian

kanker payudara juga dipengaruhi karena adanya peningkatan angka harapan hidup, gaya

hidup yang merugikan kesehatan dan kondisi lingkungan. Berdasarkan Data Riskesdas

2007, di Kabupaten Kuningan insiden kanker payudara terjadi 0,5% dari jumlah penduduk

1.035.260 orang. Tujuan Penelitian mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap

tentang sadari mahasiswi PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan Provinsi Jawa Barat

Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan

cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random

sampling didapatkan 170 orang. Uji korelasi yang digunakan adalah uji chi square. Hasil:

Tingkat pengetahuan tentang sadari mahasiswi PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan

Provinsi Jawa Barat dalam kategori tidak baik yaitu 91 orang. Sikap terhadap sadari dalam

kategori negatif yaitu 98 orang. Perilaku sadari dalam perilaku tidak melakukan yaitu 107

orang. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan

perilaku sadari Mahasiswi PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan Provinsi Jawa Barat.

1.5.3 Rizka Angrainy (2017) Hubungan Pengetahuan, Sikap Tentang Sadari Dalam Mendeteksi

Dini Kanker Payudara Pada Remaja.

Menurut WHO (2012) kejadian kanker payudara sebanyak 1.677.000 kasus. Data

di Indonesia, tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita baru per 100.000 penduduk.

Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap

tahunnya. Menurut data Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, pada penduduk

8
perempuan kanker payudara masih menempati urutan pertama kasus baru dan kematian

akibat kanker, yaitu sebesar 43,3% dan 12,9%. Penderita kanker payudara di RSUD Teluk

Kuantan tahun 2015 yaitu sebesar 12 orang sedangkan penderita FAM 56 orang. Tujuan

penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang SADARI dalam

mendeteksi dini kanker payudara pada remaja putri di SMK N 1 Teluk Kuantan tahun 2016.

Jenis penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan desain cross sectional.

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 588 orang dan sampel yang di gunakan adalah 50

orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan

menggunakan kuisioner. Hasil penelitian dari 50 siswi menunjukkan mayoritas siswi

berpengetahuan kurang sebanyak 31 (62%) responden, berperilaku negatif sebanyak 32

(64%) responden dan yang tidak melakukan SADARI sebanyak 41orang (82%).

Berdasarkan analisa uji chi square terdapat hubungan antara pengetahuan dengan SADARI

dengan p value 0,007 dan terdapat hubungan antara sikap dengan SADARI dengan p value

0,001.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Pengetahuan

2.1.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses sensoris,

terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan

domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu,

2017). Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu

seseorang terhadap suatu objek melalui panca indra yang dimilikinya. Panca indra

manusia guna penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk menghasilkan

pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas perhatiandan persepsi terhadap objek.

Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran dan indra

penglihatan (Notoatmodjo, 2014).

Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa, pengetahuan merupakan hasil “tahu” dari

manusia dan terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan suatu obyek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengran,

penciuman,rasa dn raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui ata

dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang.

10
Menurut bloom & skinner dalam notoatmojo (2010), pengetahuan adalah

kemampuan seserang untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahuinya dalam

bukti jawaban baik lisan atau tulisan, bukti atau tulisan tersebut merupakan reaksi dari

suatu stimulasi yang berupa pertanyaan lisan atau tulisan.

Berdasarkan uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pengetahuan merupakan

kemampuan seseorang dalam mengungkapkan kembali apa yang diketahuinya setelah

melakukan pengindraan terhadap suatu onjek tertentu.

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan

Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa, pengetahuan yang dicakup didalam domain

kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :

2.1.2.1 Tahu ( Know )

Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang

telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Merupakan tingkat

pengetahuan paling rendah, tahu berarti dapat mengingat atau mengingat

kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran tahu adalah

dapat menyebutkan, mengeruaikan, mendefinisikan, dan menyatakan.

2.1.2.2 Memahami ( comprehention )

Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk mnjelaskann secara

benar tentang objek yang diketahui dan dimana dapat mengintreprestasikan

secara benar. Orang telah paham terhadap obye atau materi terus dapat

11
menjelaskan, menyebutkan, contoh, dan menyimpulkan dan sebagainya

terhadap suatu objek yang dipelajari.

2.1.2.3 Penerapan ( Application )

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi ataupun riil ( sebenarnya ). Aplikasi disini juga

dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokum – hokum, rumus, metode,

prinsip, dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.

2.1.2.4 Anaisis ( Analysis )

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi suatu obyek

kedalam komponen – komponen tetapi masih didalam struktur organisai

tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Analisis merupakan

kemampuan untuk menggambarkan, mengidentifikasi, memisahkan, dan

sebagainya.

2.1.2.5 Sintesis

Sintesis yaitu menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru,

misalnya dapat menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

2.1.2.6 Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada

suatu kriteria-kriteria yang telah ada.

12
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Health (2009 dalam Linawati, 2013), ada beberapa faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang, antara lain:

2.1.3.1 Faktor Internal

a. Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar, kemampuan itu akan terealisasi

menjadi kecakapan nyata sesudah belajar atau berlatih.

b. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola

pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Kusuma

(2011) yang menyebutkan bahwa umur mempengaruhi terhadap daya tangkap

dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik.

Umur seseorang dapat mempengaruhi pengetahuan, semakin lanjut umur

seseorang maka kemungkinan semakin meningkat pengetahuan dan

pengalaman yang dimilikinya.

c. Minat

Minat merupakan kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengennang berbagai kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang,

diperhatikan terus menerus disertai rasa senang. Berbeda dengan perhatian yang

sifatnya sementara.

13
d. Intelegensi

Intelegensi sangat besar sekali pengaruhnya terhadap pengetahuan

seseorang. Orang yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih

berhasil daripada yang mempunyai intelegensi rendah.

2.1.3.2 Faktor Eksternal

a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang

makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Namun perlu

ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak

berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek

juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek

inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek

tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan

menumbuhkan sikap makin positif terhadap obyek tersebut.

b. Pekerjaan

Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan sehari-hari, jenis pekerjaan yang

dilakukan dapat dikategorikan adalah tidak bekerja, wiraswata, pegawai

negeri, dan pegawai swasta dalam semua bidang pekerjaan pada umumnya

diperlukan adanya hubungan sosial yang baik dengan baik.Pekerjaan

dimiliki peranan penting dalam menentukan kwalitas manusia, pekerjaan

membatasi kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktek yang

14
memotifasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat sesuatu

untuk menghindari masalah kesehatan (Notoatmojo, 2007).

c. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada sekitar individu, baik

lingkungan, fisik, biologis, maupun social. Lingkungan berpengaruh

terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada

dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal

balik ataupun tidak, yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap

individu.

d. Sosial dan budaya

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang – orang tanpa melalui penalaran

apakah yang dilakukan baik atau buruk. Seseorang akan bertambah

pengetahuannya walaupun tidak melakukannya. Status ekonomi seseorang

juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk

kegiatan tertentu sehingga status social ekonomi ini akan mempengaruhi

pengetahuan seseorang.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suata cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi

masa lalu. Pengalaman belajar bekerja yang dikembangkan akan

memberikan pengetahuan dan ketrampilan professional.

15
2.1.4 Sumber – Sumber Pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki seseorang berbeda – beda. Hal ini tergantung dari cara

memperolehnya adapun cara yang digunakan untuk memperoleh pengetahuannya

yaitu:

2.1.4.1 Melalui Pendidikan

Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan forma maupun formal.

Pengetahuan yang dimiliki dari pendidikan formal melalui bangku sekolah baik

SD,SMP,SMA maupun perguruan tinggi, sedangkan pengetahuan dari

pendidikan non formal misalnya melalui kursus – kursus , pelatihan, dan

seminar.

2.1.4.2 Melalui Media Cetak dan Elektronik

Semakin majunya teknologi, banyak informasi yang dapat disebarkan

melalui media masa. Seorang bisa memperoleh pengetahuan dari koran, radio,

majalah, televisi, internet, dan media lainnya.

2.1.4.3 Petugas Kesehatan

Pengetahuan yang dimiliki seseorang tentag kesehatan juga dapat diperoleh

langsung melalui petugas kesehatan. Proses ini umumnya dilakukan dengan

bertanya langsung melalui petugas kesehatan ataupun mengikuti kegiatan

penyuluhan kesehatan.

16
2.1.4.4 Melalui Teman

Pengetahuan yang dimiliki seseorang juga bisa diperoleh dari temannya,

dengan meraskan manfaat dari suatu ide bagi dirinya, maka seseorang akan

menyebarkan ide tersebut pada orang lain. (Depkes RI,2009).

2.1.5 Jenis – Jenis Pengetahuan

Budiman & Riyanto (2013) menyatakan bahwa, ada beberapa pemahaman

masyarakat mengenai pengethuan dalam konteks kesehatan sangat berenaragam.

Pengetahuan merupakan bagian perilaku kesehatan. Jenis – jenis pengetahuan diantara

lain sebagai berikut :

2.1.5.1 Pengetahuan implisit

Pengetahuan implisit adalah pengethuan yang masih tertanam dalam bentuk

pengalaman seseorang dan berisi faktor – faktor yang tidak bersifat nyata,

seperti keyakinan pribadi,perspektif dan prinsip. Pengetahuan seseorang

biasanya sulit untuk di transfer ke orang lain baik secara tertulis maupun lisan.

Pengetahuan implisit sering kali terdapat kebiasaan dan budaya bahkan bisa

tidak disadari.

2.1.5.2 Pengetahuan eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan

atau disimpan dalam wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata

dideskripsikan dalam tindakan – tindakan yang berhubungan dengan

kesehatan.

17
2.1.6 Penilaian Tingkat Pengetahuan

Arikunto (2010) menyatakan bahwa, tingkat pengetahuan dapat dinilai dari tingkat

penugasan terhadap suatu objek atau materi untuk mengukur tingkat penugasan atau

kemampuan dapat digunakan rumus :

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑥 100%


𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑢𝑔𝑎𝑠𝑎𝑛 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙

2.2 Konsep Dasar Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

2.2.1 Pengertian Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Pemeriksaan payudara sendiri merupakan usaha untuk mendapatkan kanker

payudara pada stadium yang lebih dini (down staging) (Manuaba,2010). Dalimartha

(dalam Yuni dan Oktami, 2014) berpendapat pemeriksaan yang dilakukan sebagai

deteksi dini kanker payudara. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang sangat mudah

dilakukan oleh setiap perempuan untuk mencri benjolan tau kelainan pada payudara.

Pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri dengan belajar melihat dan

memeriksa perubahan payudaranya sendiri setiap satu bulan melalui pemeriksaan

secara teratur dan dapat menjadi instrument penapisan yang efektif untuk mengetahui

lesi di payudara. Sedangkan menurut Smeltzer (2005) SADARI adalah pemeriksaan

payudara sendiri dilakukan antara hari ke- 5 dan ke -10 yang dihitung siklus menstruasi

atau pada hari pertama haid (saat payudara sudah tidak mengeras dan nyeri) atau bagi

yang telah menopause pemeriksaan dilaukan memilih tanggal yang sama setiap

18
bulannya (misalnya setiap tanggal 1atau tanggal lahirnya). Pemeriksaan ini dilaukan

dengan menggunakan jari telunjuk, jari tengan dan jari manis yang digerakkan secara

bersamaan pada payudara yang sedang dilakukan pemeriksaan (Kemenkes, 2009).

Pemeriksaan payudara sendiri dianggap sebagai cara paling murah, aman dan

sederhana serta penting dalam mendeteksi karena sekitar 75-85% benjolan dipayudara

penderita ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan payudara penderita ditemukan

pada saat dilaukan pemeriksaan payudara sendiri (Supriyanto,2010).

Jadi, berdasarkan bebrapa pengertian diatas, SADARI merupakan tindakan atau

langkah yang dapat dilakukan oleh setiap perempuan untuk mengetahui ataupun

mencari suatu kelainan atau benjolan yang terdapat pada payudara seorang perempuan

guna untuk mendeteksi kanker payaudara.

2.2.2 Manfaat SADARI

Manfaat periksa payudara sendiri (SADARI) adalah untuk mendeteksi sedini

mungkin adanya kelainan pada pyudara karena kanker payudara pada hakikatnya dapat

diketahui secara dini oleh para para wanita usia subur. Setiap wanita mempunyai

bentuk dan ukuran payudara yang berbeda, bila wanita memeriksa payudara sendiri

secara teratur, setiap bulan setelah haid, wanita dapat merasakan bagaimana payudara

wanita yang normal. Bila ada perubahan tentu wanita dapat mengetahuinya dengan

mudah (Manuaba,2009).

2.2.3 Tujuan SADARI

Tujuan dilakukannya skrining kanker payudara adalah untuk mengetahui adanya

kelainan tau benjolan pada payudara sejak dini, sehingga kelainan – kelainan pada

19
payudara dapat diketahui sejak dini tidak ditemukan pada stadium lanjut yang pada

akhirnya akan membutuhkan pengobatan yang rumit dengan biaya mahal (Saryono dan

Pramitasari,2009).

Wanita yang melakukan SADARI menunjukan tumor yang kecil dan masih pada

stadium awal, hal ini memberikan prognosis yang baik. SADARI hanya untuk

mendeteksi dini adanya ketidak normalan pada payudara, tidak untuk mencegah kanker

payudara. Sebagian wanita berfikir untuk apa melakukan SADARI, apalagi yang masih

berusia dibawah 30 tahun, kebanyakan berangapan bahwa kasus kanker payudara

jarang ditemukan pada usia dibawah 30 tahun. Dengan melakukan SADARI sejak dini

akan membantu deteksi kanker payudara pada stadium dini sehingga kesempatan untuk

sembuh lebih besar (Otto,S, 2005). Mayo Fundation for Medical Education and

Research (2005) mengemukakan bahwa beberapa penelitian memang menunjukan

SADARI tidak menurunkan angka kematian akibat kanker payudara, namun kombinasi

antara SADARI dan mamografi masih dibutuhkan untuk menurunkan resiko kematian

akibat kanker payudara. Kearney dan Murray (2006) mengemukakan bahwa

keunggulan SADARI adalah dapat menemukan tumor/benjolan payudara pada saat

stadium awal, penemuan awal benjolan dipakai sebagai rujukan melakukan mamografi

untuk mendeteksi interval kanker, mendeteksi benjolan yang tidak terlihat saat

melakukan mamografi dan menurunkan kematian akibat kanker payudara.

2.2.4 Penatalaksanaan Program SADARI

Bustan ( dalam Yuni dan Oktami,2014) menyatakan bahwa pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI) hendaknya dilakukan setiap bulan. Bila ada hal yang mencurigakan

hendaknya memeriksakan ke dokter. Adapun cara untuk melakukan SADARI yaitu :

20
2.2.4.1 Amati

Lakukan pemeriksaan didepan kaca. Bediri didepan kaca, tangan terletak

disamping badan. Perhatikan bentuk dan ukuran payudara. Normalnya jika

ukuran satu dengan yang lain tidak sama. Kemudian, perhatikan juga bentuk

putting dan warna kulit. Lakukan hal yang sama dengan posisi tangan yang

berbeda-beda (keduatangan diangkat, tangan diletakkan dipinggang, atau

badan sedikit membungkuk). Lakukanlah hal ini waktu mandi tau sedang

bercermin sehingga seorang perempuaa dapat mengenali bentuk payudara.

2.2.4.2 Rasakan

Berbaring dengan bantal dibwah punda kiri. Letakkan tangan kanan

dibelakang kepla membentuk sudut 90 derajat. Gunakan tiga jari anda untuk

merasakan benjolan atau penebalan kulit pada payudara. Tekam dengan baik

payudara anda. Pelajari bagaimana rasa paudara anda pada biasanya. Jari dapat

memilih beberapa arah jelajah melingkar, naik turun, dan pilah – pilah.

Langkah ini memastikan anda telahmenjelajahi seluruh area dan membantu

untuk mengingatkan bagaimana keadaan payudara.

2.2.5 Cara Untuk Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Salah satu hal yang penting dalam menjaga kesehatan payudara adalah dengan

mewaspadai payudara dari segala kelalian, terutama yang berkaitan dengan benjolan

pada payudara. Umumnya, kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut akibat

kelalaian penderita dalam mendeteksi benjolan ataupun kelainan pada paudaranya.

21
Padahal, kemungkinan sembuh tentu akan semakin besar bila benjolan kanker

terdeteksi lebih awal (Yuni dan Oktami, 2014).

Pemeriksaan payudara sendiri dapat membantu anda untuk mnjadi terbiasa dengana

tubuh anda, jika anda dapat menemukan perubahan – perubahan yang terjadi, yakni

dengan melihat perubahan dihadapan cermin dan melihat perubahan bentuk payudara

dengan cara berbaring (Yuni dan Oktami, 2014)

2.2.5.1 Melihat perubahan dihapan cermin.

Lihat pada cermin bentuk dan keseimbangan bentuk payudara (simetris atau

tidak). Cara melakukannya yakni :

1) Langkah pertama

Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan pting

susu, serta kulit payudara didepan kaca. Sambil berdiri tegak did epan

cermin, posisi kedua lengan lurus ke bawah di samping badan.

2) Langkah kedua

Periksa payudara dengan tangan diangkat diatas kepala. Dengan

maksud untuk melihat retraksi kulit atau pelekatan tumor terhadap otot atau

fascia dibawahnya.

3) Langka ketiga

Berdiri tega didepan cermin dengan tangan disamping kanan dan

kiri untuk melihat perubahan payudara.

22
4) Langkah keempat

Menegakkan otot – otot nagaian dada dengan berkaca, pinggang

atau tangan menekan pinggung dimaksudkan untuk menegangkan otot

daerah axilla.

2.2.5.2 Melihat perubahan bentuk payudara dengan berbaring. Cara melakukannya

yakni :

1) Tahap I : persiapan

Dimulai dari payudara kanan. Baring menghadap kekiri dengan

membengkokkan kedua lutut anda. Letakkan bantal atau handuk mandi

yang telah dilipat dibawah bahu sebelah kanan untuk menaikkan bagian

yang akan diperiksa. Kemudia tangan kanan anda dibawah kepla.

Gunakan tangan kiri unutk memeriksa payudara kanan, gunakan telapak

jari – jari anda untuk memeriksa sembarang benjolan atau penebalan.

Periksa payudara anda dengan menggunakan Vertical Strip dan Circular.

2) Tahap 2. Pemeriksaan payudara dengan Vertical Strip

Memeriksa seluruh bagia payudara dengan cara vertical, dari tulang

selangka dibagian atas ke bra-line di bagian bawah, dan gari bawah antara

kedua payudara kegaris tangan baian ketiak anda. Gunakan tangan kiri

untuk mengawali pijatan pada ketiak. Kemudian puter dan tekan kuat

untuk merasakan benjolan. Gerakkan tangan anda perlahan – lahan

kebawah bra-line dengan putaran ringan dan tekan kuat disetiap tempat.

Dibagian bawa bra-line, bergerak kurang lebih 2 cm ke kiri dan terus

kearah atas menuju tulang selangkan dengan memutar dan menekan.

23
Bergeraklah keatas dan kebawah mengikuti pijatan dan meliputi seluruh

baian yang ditunjuk.

3) Tahap 3. Pemeriksaan Payudara dengan Cara memutar

Berawal dari bagian atas payudara anda, buat putaran yang besar.

Bergeraklah sekeliling payudara dengan memperhatikan benjolan yang

luar biasa. Buatlah sekurang – kurangnya tiga putaran kecil sampai

keputing payudara. Lakukan sebanyak 2 kali. Sekali dengan tekanan

ringan dan sekali dengan tekanan kuat. Jangan lupa periksa bagian bawah

areola mammae.

4) Tahap 4. Pemeriksaan Cairan di putting payudara.

Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara anda untuk

melihat adanya cairan abnormal dari putting payudara.

5) Tahap 5. Memeriksa Ketiak

Letakkan tangan kanan anda kesamping dan rasakan ketiak anda

dengan teliti, apakah terba benjolan abnormal atau tidak.

2.3 Konsep Dasar Remaja

2.3.1 Pengertian remaja

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini

adalah masa peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis yang terjadi pada

remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosil. Perubahan fisik

mencakup organ seksual yaitu alat – alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan

mulai berfungsi dengan baik (Kusmiran, 2011).

24
Masa remaja merupkan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini

merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa

yang meliputi perubahan biologic, perubahan psikologik, dan perubahan sosial.

Sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umunya, dimulai pada usia

10 – 13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatmodjo,2007).

Berdasarkan uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa remaja merupakan masa

peralihkan dari anak – anak ke masa dewasa.

2.3.2 Tahapan perkembangan masa remaja

2.3.2.1 Masa pra-pubertas (12-13 tahun)

Masa ini disebut juga pueral, yaitu masa peralihan dari kanak – kanak ke

remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan

anak laki – laki. Pada masa ini terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu

meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ – organ

seksual serta organ reproduksi remaja.

2.3.2.1 Masa pubertas (14-16 tahun)

Masa ini disebut juga dengan masa remaja awal, dimana perkembangan

fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa memang bukan

anak – anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari

perkembangan hormon – hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan

seksualnya juga semakin kuat. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya

menstruasi yang pertama.

25
2.3.2.3 Masa akhir pubertas (17-18 tahun)

Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan

baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai wanita ataupun sebagai laki

– laki. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga

diri mereka.

2.3.2.4 Periode remaja adolesensi (19-21 tahun)

Pada periode ini, umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang

sempuna baik dari segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan

mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan

suatu idealism yang terdapat dipikirkan mereka (Nirwana, 2014).

2.3.3 Karakteristik perubahan fisik remaja

2.3.3.1 Ciri – ciri seks primer

Pada remaja perempuan, kematangan organ – organ seksnya ditandai

dengan berkembangnya Rahim, vagina, dan ovarium (indung telur secara tepat).

Ovarium menghasilkan ovum (telur) dan mengeluarkan hormon – hormon yang

dibutuhkan untuk kehamilan, menstruasi dan perkembangan seks sekunder. Pada

masa ini terjadi menarche.

2.3.3.2 Ciri – ciri seks sekunder

Pada remaja perempuan ciri – ciri seks sekunder yang muncul yaitu tumbuh

rambut pubis disekitar kemaluan dan ketiak, buah dada bertambah

besar,bertambah besarnya panggul, kulit semakin halus dan suara melengking

tinggi.

26
2.3.4 Faktor – faktor penyebab terjadinya masalah pada remaja

Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak – kanak

ke masa dewasa. Pada masa ini remaja akan menghadapi berbagai macam masalah.

Faktor – faktor penyebab terjadinya masalah pada remaja yaitu :

1. Adanya perubahan – perubahan biologis dan psikologis yang sangat pesat pada

remaja menimbulkan dorongan tertentu yang sifatnya sangat kompleks.

2. Orang tu dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan

tepat waktu karena ketidaktahuannya.

3. Perbaikan gizi yang menyebabkan menarche menjadi lebih dini dan masih

banyaknya kawin muda.

4. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi,

menyebabkan embanjirnya arus informasi dari luar yang sulit diseleksi.

5. Kurangnya pemanfatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja.

Perlu penyaluran bakat dan minat sebagai subtitusi yang bernilai positif kea rah

perkembangan ketrampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekuatan

seperti berolahraga (Nirwana, 2013).

2.4 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal – hal yang

khusus. Konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur.

Konsep hanya dapat diamati melalui kontruk atu yang lebih dikenal dengan nama variabel.

Kerangka konsep terdiri dari variabel – variabel serta hubungan variabel yang satu dengan

yg lain (Notoatmodjo, 2012).

27
Adapun kerangka konsep yang dapat disusun berdasarkan masalah dari teori sebagai

berikut :

Faktor – faktor
mempengaruhi Remaja putri kelas XI SMA N 1
pengetahuan : MENGWI

1. Bakat
2. Umur
3. Minat
Tingkat pengetahuan tentang
4. Intelegensi
pemeriksaan payudara sendiri
5. Pendidikan
(SADARI)
6. Pekerjaan
7. Lingkungan
8. Social budaya
dan ekonomi
Baik Cukup Kurang
9. Pengalaman

Keterangan :

= variabel yang diteliti

= variabel yang tidak diketahui

= alur pikir

Gambar 2.4 Kerangka Konsep Gambaran tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan

payudara sendiri (SADARI) Pada remaja putri di SMA N 1 MENGWI.

28
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan (Design) Penelitian

Desain penelitian adalah suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah

ditetapkan dan berperan sebgai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses

penelitian (Nursalam,2011).

Desain yang digunakan penulis adalah deskriptif dengan desain survey. Penelitian

deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat

gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif (Nursalam,2011). Dalam

design survey objek yang digunakan cukup banyak dalam jangka waktu tertentu.

Keuntungannya adalah menjaring responden secara luas dapat mendapatkan info yang

bermacam – macam (Nursalam,2011). Pada penelitian ini desain deskriptif untuk

mengetahui gambaran tentang tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri

(SADARI) pada remaja kelas XI Jurusan IPA di SMA N 1 MENGWI.

3.1.1 Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan langka – langkah yang akan dilakukan dalam

penelitian yang berbetuk kerangka atau alur penelitian, mulai dari design hingga

analisis data (Hidayat,2009).

29
Kerangka kerja dalam penelitin ini adalah :

Populasi
Remaja putri kelas XI di SMA N 1 MENGWI berjumlah 400 orang.

Kriteria Hasil Kriteria eksklusi

Teknik Sampling

Purposive sampling

Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang

Memberikan kuesioner tentang pengetahuan tentang


pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

Analisa Data
Teknik analisis deskriptif

Penyajian hasil

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 MENGWI dilakukan pada bulan juli –

september 2019.

30
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2010). Populasi dalam

penelitian adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan

(Nursalam,2011). Popilasi yang digunakan dalam penelitin ini adalah remaja putri

kelas XI SMA N 1 MENGWI sebanyak 400 orang yang ditemukan berdasarkan

kriteriaa sebagai berikut :

3.3.1.1 Kriteria Inklusi

Kriteia inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu

populasi target yang terjangkau dan akan teliti (Nursalam,2011).

1. Remaja putri yang bersedia menjadi responden dengan mentandatangani

lembar persetujuan menjadi responden.

3.3.1.2 Kriteria Eksklusi

Kriteria ekslusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek yang

memenuhi kriteria unklusi dari studi karena berbagai sebab

(Nursalam,2011). Kriteria eksklusi adalah :

1. Remaja putri yang tidak kooperatif

2. Remaja putri yang tidak aktif d kelas

31
3.3.2 Teknik pengambilan sampel

Sampel adalah bagaian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi

(Sugiyono,2010). Sampel adalah bagian dari jumah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi yang diambil dengan menggunakan cara – cara tertentu (Wasis,2008).

Penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang

didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibut oleh peneliti

(Notoatmodjo,2012). Sampel dalam penelitin ini adalah remaja putri kelas XI SMA

N 1 MENGWI yang memenuhi kriteria inklui dan eksklusi.

Menurut Dahlan (2010), besarnya sampel diperoleh dengan menggunakan rumus

yaitu :
KETERANGAN :
𝜆2 . 𝑁. 𝑃. 𝑄
𝑠=
𝑑2 (𝑁 − 1) + 𝜆2 . 𝑃. 𝑄 N :

𝜆2 :

P :
Q :

𝑑2 :

Berdasarkan rumus diatas, besar sampel yang diperlukan adalah :

12 . 37.0,5.0,5
𝑠=
(0,05)2 . 36 + 12 . 0,5.0,5

9,25 9,25
=
0,09 + 0,25 0,34

= 27,2058

= 27

32
3.4 Variabel dan Definisi Operasional Variabel

3.4.1 Identifikasi Variabel

Variabel adalah suatu fasilits untuk pengukuran dan atau manipulasi sutu

penelitian (Nursalam,2011). Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah

variabel tunggal yaitu pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri

(SADARI).

3.4.2 Definisi operasional variabel

Definisi operasional variabel adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati

dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam,2011). Definisi operasional

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1

Definisi Operasional Gambaran Tingkat Pengetahuan

Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Pada Remaja Putri

Kelas XI SMA N 1 MENGWI.

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skala Skor

1 2 3 4 5 6

Tingkat Hasil dari - Pengertian Lembar Ordinal 1. Baik : 76 –

pengetahuan responden pemeriksaan kuesioner 100%

tentang tahu payudara 2. Cukup 56 –

pemeriksaan terhadap sendiri 75%

payudara pertanyaan (SADARI) 3. 40 – 55%

yang

33
sendiri berkaitan - Penatalaksa

(SADARI). dengan naan periksa

pemeriksaa payudara

n payudara sendiri

sendiri (SADARI).

(SADARI). - Manfaat dari

periksa

payudara

sendiri

(SADARI).

- Tujuan

periksa

payudara

sendiri

(SADARI).

3.5 Jenis Dan Teknik Pengumpulan Data

3.5.1 Jenis data dikumpulkan

Data adalah hasil pencatatan penelitian, baik berupa fakta atau angka. Data

yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data

primer yaitu data yang didapat langsung dari responden (Sugiono,2010), melalui

pengisian kuesioner, guna mengetahui tingkat pengetahuan tentang periksa

payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri kelas XI SMA N 1 MENGWI. Data

34
sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung dari subyek

penelitiannya (Siswanto, 2013). Data sekunder diperoleh dari Kepala Sekolah atau

guru- guru SMA N 1 MENGWI.

3.5.2 Cara pengumpulan data

Menurut Nursalam (2008) pengumpulan data adalah suatu proses kepada

subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu

penelitian.

Langkah – langkah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengajukan

permohonan ijin penelitian dengan tahapan permohonan ijin peneliti sebagai

berikut :

3.5.2.1 Mengajukan ijin penelitian dengan membawa surat rekomendasi dari

Stikes Wira Medika Bali ke Badan Perijinan dan Penanaman Modal

(BPPM) Pemerintah Provinsi Bali.

3.5.2.2 Setelah dapat surat – surat rekomendasi dari BPPM Pemerintah Provinsi

Bali kemudian peneliti membawa surat tersebut ke Bada Persatuan Politik

dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Badung

3.5.2.3 Mengajukan ijin peneliti ke Kepala Sekolah SMA N 1 MENGWI dengan

menjelaskan tujuan dan maksud penelitian serta minta ijin untuk mencari

responden.

3.5.2.4 Melakukan pendekatan terhadap sampel penelitian sesuasi kriteria inklusi

yang sesuai dengan teknik sampling yang digunakan. Setelah sampel

diperoleh, dilakukan penyampaian maksud dan tujuan penelitian kepada

35
para sampel untuk kesediannya secara sukarela menjadi responden dalam

penelitian ini dengan mendatangani informed consent.

3.5.2.5 Peneliti membagikan kuesioner kepada responden tentang tingkat

pengetahuan periksa payudara sendiri (SADARI) yang dibantu oleh 2 orang

enumerator yaitu mahasiswa dari Stikes Wira Medika Bali. Sebelum

melakukan penelitian telh diadakan persamaan persepsi tentang cara

pengisian kuesioner antara peneliti dan enumerator dan waktu pengisian

kuesioner dilakukan selama 30menit.

3.5.2.6 Melakukan tabulasi data dalam bentuk tabel dan melakukan analisa data.

3.5.2.7 Menyajikan hasil penelitian.

3.5.3 Instrumen pengumpulan data

Instrument penelitian merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh

data (Notoatmodjo,2010). Instrument pengumpulan data dalam peneliti ini adalah

dengan menggunakan lembar kuesioner yang terdiri dri 30 pertanyaan. Jenis

pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup 9closed ended) yaitu suatu

jenis kuesioner yang mana dari pertanyaan yang diajukan telah disediakan

jawaban pilihan sehingga responden hanya memilih jawaban yang diinginkan

(Notoatmodjo, 2010).

Penyusunan instrument dalam penelitian ini menggunakan skala guttman

yaitu skala yang bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang

tegas seperti jawaban dari pertanyaan atau pernyataan : ya atau tidak, benar atau

salah, setuju atau tidak setuju terhadap suatu pertanyaan yang ditanya (Hidayat,

2009).

36
Menurut Notoatmodjo (2010), ada dua syarat penting yang berlaku pada

sebuah kuesioner yaitu sebuah kuesioner untuk valid dan reliedbel. Oleh karena

itu, sebuah kuesioner harus dilakukan uji validitas attau uji reliabilitas. Semua

pertanyaan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dirancang sendiri

oleh peneliti sehingga menentukan keaslian atau keandalan dilakukan uji validitas

dan reliabilitas yang dilakukan pada tanggal 3 desember 2019 di SMA N 2

MENGWI dengan jumlah responden sebanyak 35 orang yang mempunyai

karakteristik responden yang sama dengan SMA N 1 MENGWI sehingga dapat

dijadikan tempat untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas.

3.5.3.1 Uji Validitas

Uji Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar

– benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo,2010). Pengujian validitas

setiap butir pertanyaan pada kuesioner digunakan analysis item, yang

mengkorelasikan butir pertanyaan. Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan

dengan menggunakan teknik korelasi product moment dengan bantuan program

statiscal product and service solution.

3.5.3.2 Uji reliabilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya dan dapat diandalkan (Notoatmodjo,2010).

Reliabilitas instrumen penelitian dinilai melalui besaran koefisien Alpha

Cronbach dengan bantuan program statistical product and service solutions,

yang menunjukkan konsistensi internal item – item yang mendasari sebuah

variabel.

37
3.6 Pengolahaan Data

3.6.1 Pengolaahn Data

Teknik pengolaahn data merupakan suatu upaya untuk memprediksi data dan

menyiapkan data sedemikian rupa agar dapat dianalisis lebih lanjut dan

mendapatkan data yang siap untuk disajikan (Notoatmodjo,2010).

3.6.1.1 Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran dan

kelengkapan data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan

pada tahap pengumpulan data setelah atau setelah data terkumpul.

3.6.1.2 Coding

Coding merupakan proses mengklarifikasi jawaban responden ke

dalam kategori. Biasanya klarifikasi dilakukan dengan memberi cara atau

kode berbentuk angka (Notoatmodjo, 2012). Coding pada penelitian ini

dilakukan dengan memberi cara atau kode kuesioner tingkat pengetahuan

sebagai berikut :

Kode : 1 : jika tingkat pengetahuan kurang

2 : jika tingkat pengetahuan cukup

3 : Jika tingkat pengetahuan baik

3.6.1.3 Entry atau transferring

Data yang telah divalidasi kemudian dimasukkan ke computer secara manual

kemudian diolah dengan sistem komputeriasi dan simpan dalam bentuk soft

copy untuk memundahkan dalam pengambilan data bila diperlukan.

38
3.6.1.4 Cleaning

Cleaning adalah membersihkan data atau mencocokkan data dengan melihat

variabel, apakah sudah benar atau belum. Pada tahap ini peneliti

mencocokkan kembali hasil yang telah dianalisa apakah sudah sesuai dengan

variabel penelitian atau belum. Pada penelitian ini data disajikan dalam

bentuk table distribusi frekuensi.

3.6.1.5 Tabulasi

Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan peneliti kemudian

memasukannya ke dalam table, setiap hasil data tingkat pengetahuan dan

jawaban “benar” dan “salah” sudah diberi nilai dan dimasukkn data ke dalam

tabel. Ha ini dimaksudkan agar memudahkan peneliti pada saat melakukan

pengolahan data. Pada tahap ini dilakukan kegiatan emasukkan data ke

dalam tabel yang telah ditentukan nilai atau kategori factor secara tepat dan

cepat. Penyajian data dalam penelitian ini yaitu dalam bentuk tabel sesuai

bentuk judul penelitian, selanjutnya data yang diperoleh akan diolah dan

dilakukan analisis statistic.

3.6.2 Analisa data

Teknik analisis yang akan digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis

deskriptif dengan menggambarkan dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk

grafik atau tabel proporsi atau presentase (Nursalam,2011). Penelitian deskriptif

presentase ini diolah dengan cara rumus frekuensi dibagi dengan jumlah responden

dikali 100%, sebagai berikut :

39
𝑓
𝑝= 𝑥 100%
𝑛

Keterangan :

p : persentase

f : frekuensi hasil pencapaian

n : total seluruh pernyataan

3.7 Etika Penelitian

Menurut Polit (2011), semua riset yang melibatkan manusia sebagai subyek, harus

berdasarkan empat prinsip dasar etika penelitian yaitu menghormati orang (resfek for

person), Manfaat (beneficence), tidak membahayakan subyek penelitian (non-

maleficience) dan keadilan (justice).

3.7.1 Menghormati Orang (resfek for person)

Menghormati atau menghargai orang dalam penelitian ini adalah setelah

sampel diperoleh, dilakukan penyampaian maksud dan tujuan peneliti kepada para

responden untuk kesediaannya secara sukarela menjadi responden tanpa ada unsur

paksaan dengan menandatangani informed consent. Menjaga kerahasiaan

responden, dimana peneliti tidak akan mencantumkan nama responden

(Anonymity) pada lembar pengumpulan data, namun cukup dengan memberi nomor

kode responden serta menjamin kerahasiaan informasi yang dikumpulkan dari

responden (Confidentiality).

40
3.7.2 Manfaat (beneficence)

Manfaat yang diberikan oleh hasil penelitian ini untuk membantu

pencegahan dan proses pengobatan pasien dan tidak ada kerugian yang akan

dialami oleh pasien.

3.7.3 Tidak membahayakan subyek penelitian (non-maleficience)

Prosedur yang akan dilakukan dalam penelitian ini tidak membahasakan

pasien secara fisik maupun secara psikologis.

3.7.4 Keadilan (justice)

Semua subyek diperlakukan dengan baik. Tidak ada kerugian antara peneliti

dan responden.

41