Anda di halaman 1dari 2

LAMPIRAN MATERI INTERVENSI

MATERI 1: TENTANG KEBISAAN NGELEM

Kecanduan Ngelem

Anak pengguna lem atau anak “ngelem” jelas dianggap sebagai suatu masalah sosial
yang membutuhkan penanganan khusus dalam mengembalikan fungsi, kewajiban dan hak
mereka seperti semula. Perilaku anak pengguna lem tidak seperti anak pada usianya, hampir
secara keseluruhan mereka tidak bersekolah, tidak mengerjakan pekerjaaan rumah, tidak
bermain sepeda bersama teman-teman sebaya mereka, hal yang justru terjadi pada anak
pengguna lem, mereka terlihat, mengamen dan mengemis, kemudian menghabiskan uang dari
hasil mengamen dan mengemis untuk membeli lem yang dapat merugikan bagi
perkembangan sususan saraf pusat(otak) dan organ tubuh lainnya.
Anak yang belum genap berusia 18 tahun ialah tanggung jawab orangtua untuk membina,
menjamin kebutuhan hidupnya, dengan demikian diharapkan anak akan tumbuh menjadi
pribadi yang lebih baik, sebaliknya bilamana anak tumbuh tanpa ataupun kurang kasih
sayang, pembinaan, perlindungan dari orangtua, anak akan berusaha mencari pengganti kasih
sayang orangtua, anak akan mengalihkan bentuk kecewa tersebut kepada hal yang
membuatnya bahagia, seperti hanya turun kejalanan, kemudian menghirup lem.
Inhalants atau produk yang biasa digunakan oleh anak-anak yang mengakibatkan
kecanduan dan kerusakan pada organ tubuh, merupakan produk yang mudah didapat. Seperti
halnya bensin, pernis, aseton untuk pembersih warna kuku, lem, pengencer cat, tip-ex,
semprotan, freon dan menghasilkan uap dari pelarut organik yang sangat mudah menguap
yang bilamana penggunaan tidak sesuai aturan pakai akan menyebabkan kerusakan serius dan
bahkan kematian. Inhalant dapat menyebabkan perasaan euphoria dan inhibisi, kegembiraan,
dan sensasi yang mengambang yang menyenangkan. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi
dapat berupa rasa ketakutan, ilusi sensorik, halusinasi auditoris dan visual dan distorsi ukuran
tubuh. Gejala neurologis dapat termasuk bicara yang tidak tak jelas (menggumam, penurunan
kecepatan berbicara dan ataksia).
Faktor-Faktor Penyebab Anak Kecanduan Ngelem
Faktor-faktor yang mendorong seorang anak melakukan kebiasaan “Ngelem” yaitu
faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu keluarga dan teman. kurangnya
perhatian dari keluarga akan anaknya, kedua orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya,
adanya konflik atau perselisihan antar orangtuanya membuat anak ingin mencoba untuk
melakukan hal tersebut untuk menghilangkan stressnya. Pengaruh, ajakan ataupun paksaan
teman juga ikut menentukan keputusan anak untuk melakukan aktivitas “Ngelem” karena
dinilainya jika ia “Ngelem” maka akan terlihat keren atau gaul dimata teman-teman
sebayanya. Faktor internalnya yaitu pengetahuan yang dimiliki anak tentang “Ngelem”,
menurutnya jika “Ngelem” maka efek yang akan ditimbulkan seperti berhalusinasi,
melayang-layang dan memperoleh kenikmatan.

Dampak Kebiasaan Ngelem

Bahaya yang diakibatkan dari “nglem” ini dapat bermacam-macam dan terkadang
pecandunya kebanyakan tidak mengetahui organ tubuh mana saja yang dapat terser-ang.
Bahayanya tidak hanya menyerang organ tubuh seperti otak, jantung dan paru-paru,
bahkan virus pun akan lebih mudah masuk kedalam tubuh mereka. Tidak hanya
menyerang fisik, melainkan mental, emosional dan spiritual mereka pun akan terganggu.
Efek samping yang dialami ketika ngelem biasanya adalah, rasa pusing, kehilangan
keseimbangan tubuh, pergeseran otot, pengucapan kata-kata yang tidak jelas, kemunduran
secara mental, halusinasi dan akhirnya, rasa kantuk yang dapat membawa si korban
kepada kondisi koma dan gagal pernapasan. Kemudian, menyebabkan kematian
mendadak yang disebabkan oleh gagal jantung dapat terjadi jika si korban mengerahkan
tenaga yang berlebihan setelah ngelem. Jika si korban menggunakan metode menghirup
dari kantung plastik, dia bisa mati lemas.