Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara yang menjunjung tinggi nilai Hak Asasi Manusia.
Dengan dibuatnya dasar hukum di Indonesia, menunjukan bahwa HAM memiliki kedudukan yang
tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, penegakan HAM dapat terwujud
dengan baik. Berbagai pelanggaran HAM bisa diatasi sesuai dengan hukuman yang sudah
ditentukan.
Namun ternyata dalam menegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia tidak hanya
mengandalkan dasar hukum yang sah saja, karena banyak faktor lainnya yang harus
dipertimbangkan. Dan hal tersebut bisa menjadi penghambat dari penegakan HAM yang ada.
Paradigma masyarakat tentang pemahaman Hak Asasi Manusia yang kurang merupakan salah
satunya, karena adanya kondisi sosial budaya yang berbeda di setiap daerahnya. Serta hambatan
lainnya yang bisa memperlambat dalam penegakan HAM.
Kondisi seperti inilah yang harus diperhatikan oleh seluruh elemen yang terkait dalam
menegakan HAM. Perlu adanya tindakan mutlak untuk meminimalisir hambatan-hambatan yang
ada. Agar setiap warna Negara bisa mendapatkan Hak nya dalam menjalani kehidupan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan penegakkan hak asasi manusia?
2. Apa hambatan dalam penegakkan hak asasi manusia di Indonesia?
3. Bagaimana upaya meminimalisir hambatan dalam penegakkan hak asasi manusia di
indonesia?

1.3. Tujuan
1. Menjelaskan tentang makna dari penegakan Hak Asasi Manusia.
2. Menjabarkan setiap hambatan yang memperlambat penegakan Hak Asasi Manusia di
Indonesia.
3. Menjelaskan tentang cara untuk meminimalisir hambatan penegakan Hak Asasi Manusia di
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penegakkan Hak Asasi Manusia


Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia
merupakan suatu pengharusan agar warga negara dapat hidup sesuai dengan kemanusiaannya. Hak
asasi manusia melingkupi antara lain hak atas kebebasan berpendapat, hak atas kecukupan pangan,
hak atas rasa aman, hak atas penghidupan dan pekerjaan, hak atas hidup yang sehat serta hak-hak
lainnya sebagaimana tercancum dalam deklarasi hak asasi manusia tahun 1948.
Penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan dan tidak
perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Pembangunan bangsa dan negara
pada dasarnya juga juga ditujukan untuk memenuhi hak-hak asasi warga negara. Hak asasi tidak
sebatas pada kebebasan berpendapat ataupun berorganisasi, tapi juga menyangkut pemenuhan hak
atas keyakinan, hak atas pangan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hak memperoleh air dan udara
yang bersih, rasa aman, penghidupan yang layak, dan lain-lain. Kesemuanya tersebut tidak hanya
merupakan tugas pemerintah tetapi juga seluruh warga masyarakat untuk memastikan bahwa hak
tersebut dapat dipenuhi secara konsisten dan berkesinambungan.
Penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan
Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila hukum di tegakan dan ketertiban di wujudkan, maka
kepastian, rasa aman, terntram, atau kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Namun ketiadaan
penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian masyarakat yang berusaha dan
bekerja dengan baik untuk memenuhi kehidupan hidupnya. Hal tersebut menunjukan adanya
keterkaitan yang erat antara damai, adil dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan akan
memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian.

2.2. Hambatan Penegakkan Hak Asasi Manusia di Indonesia


Meskipun bangsa Indonesia telah membuat beberapa dokumen hak asasi manusia untuk
menjamin pelaksanaan hak asasi manusia, namun dalam perjalanannya masih ada pelanggaran hak
asasi. Pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia terjadi karena makin meningkatnya gejala
individualistik, materialistik, dan eksklusif. Pelanggaran ini dapat diatasi atau dikurangi jika ada
penegakan hak asasi manusia. Bangsa Indonesia pun telah berusaha melakukan upaya penegakan
hak asasi manusia, namun banyak hambatan dan tantangan dalam penegakan hak asasi manusia itu.
Hambatan dan tantangan utama dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia adalah
masalah ketertiban dan keamanan nasional, rendahnya kesadaran hak asasi manusia, dan minimnya
perangkat hukum dan perundang-undangan. Secara umum hambatan dan tantangan tersebut
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu secara ideologis, ekonomis, dan teknis. Selain itu, dalam
menegakkan pelaksanaan HAM di Tanah Air, banyak sekali berbagai hambatan, baik yang
berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Faktor kondisi sosial-budaya, informasi dan
komunikasi serta peraturan perundang-undangan juga merupakan hambatan penegakkan hak asasi
manusia di Indonesia. Berikut ini penjelasan mengenai hambatan-hambatan tersebut.

1. Secara Ideologis
Perbedaan ideologi sosialis dengan liberalis membuat perbedaan yang tajam dalam
memandang hak asasi manusia. Pandangan ideologi liberal lebih mengutamakan penghormatan
terhadap hak pribadi, sipil, dan politik. Pandangan sosialis mengutamakan peran negara dan
masyarakat.

2. Secara Ekonomis
Penegakan hak asasi manusia memiliki hubungan dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Makin tinggi ekonomi masyarakat, maka makin tinggi pula upaya penegakan hak asasi manusia.

3. Hambatan dari Luar Negeri


Hambatan yang berasal dari luar negeri antara lain, pengaruh ideologi Liberalisme.
Liberalisme berasal dari kata liberal yang berarti berpendirian bebas. Liberalisme adalah
suatu paham yang melihat manusia sebagai makhluk bebas. Artinya, manusia memiliki
kemauan bebas dan merdeka serta harus diberikan kesempatan untuk memajukan diri sendiri
dengan merdeka pula. Kaum liberal berkehendak membatasi hak negara untuk mencampuri
urusan ekonomi, kebudayaan, agama, dan sebagainya. Mereka juga menuntut hak
kemerdekaan menulis, menyampaikan pikiran, memeluk agama, dan menentang rasialisme.
Mereka menuntut perdagangan bebas, persamaan hak bagi wanita, dan hak asasi manusia
lainnya.
Dalam bidang politik, kebebasan individu atau partai sangat ditonjolkan, sehingga
dikenal adanya partai oposisi dan mosi tidak percaya kepada pemerintah yang sedang berkuasa.
Apabila hak itu digunakan untuk memenuhi batas minimum pemerintah di parlemen,
pemerintah yang berkuasa akan jatuh. Akibat lebih lanjut adalah pemerintah menjadi tidak stabil
dan program pembangunan tidak berjalan. Akhirnya upaya untuk meningkatkan
kemakmuran rakyat akan terhambat.
Paham Liberalisme dilaksanakan di Eropa Barat, Amerika Serikat dan beberapa negara
di Asia. Paham ini menghendaki hal-hal berikut.
a. Kekuasaan mutlak mayoritas atas minoritas sehingga dapat terjadi diktator mayoritas
terhadap minoritas.
b. Lebih mengutamakan pemungutan suara mayoritas dalam mengambil keputusan. Oleh
karena itu, kelompok kecil pendapatnya tidak akan dipertimbangkan dalam pengambilan
putusan sehingga bisa menimbulkan rasa Irustrasi.
4. Hambatan dari Dalam Negeri
Hambatan dari dalam negeri adalah sebagai berikut :
a. Keadaan geografis Indonesia yang luas
b. Wilayah Indonesia yang luas dengan jumlah penduduk yang menyebar di seluruh
Nusantara menjadi kendala dalam komunikasi dan sosialisasi produk hukum dan
perundang-undangan. Suatu produk hukum tertentu yang berskala nasional memerlukan
sosialisasi dalam waktu yang relatiI lama. Hal ini sangat diperlukan, sebab penyebaran
tingkat kualitas pendidikan dan kemajuan sosial budaya di Indonesia sangat bervariasi.
Pengaruhnya adalah masalah di wilayah tertentu di Indonesia dapat menjadi masalah
di wilayah yang lain.

5. Faktor Kondisi Sosial-Budaya


Faktor Sosial-budaya memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan Hak Asasi Manusia di
suatu Bangsa dan Negara. Sistem kebudyaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah sistem
kekeluargaan. Pada awal kemerdekaan, atau pada masyarakat pedesaan, pelanggaran terhadap Hak
Asasi Manusia tidak banyak terjadi karena kesadaran akan nilai-nilai sosial budaya yang masih
tinggi. Hambatan dari factor sosial-budaya antara lain:
a. Stratifikasi dan status sosial
Stratifikasi dan status sosial yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan dan
ekonomi masyarakat Indonesia yang multikompleks. Harus diakui bahwa persoalan
ketersediaan aksess pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah. Kini, pendidikan yang
berkualitas sering diasumsikan dengan pendidikan yang mahal. Hal ini juga menjadi sangat
mencolok ketika kebijakan pendidikan nasional tidak bisa mengantisipasi dampak terburuk
dari kapitalisasi pendidikan.
Pekerjaan merupakan aplikasi dari mandat eksistensial manusia. Jaminan dalam dunia
kerja juga tidak kalah pentingnya. Maka, segala bentuk diskriminasi untuk memperoleh upah
secara tegas dinyatakan sebagai bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM.
b. Hukum adat atau budaya lokal yang kadang bertentangan dengan HAM
Hukum adat yang berlaku di masyarakat harus dihormati sejauh hukum adat tersebut
tidak melanggar hak-hak asasi manusia. Namun, pada kenyataannya masih terdapat hukum
adat yang bertentangan dengan hak asasi manusia seperti hukum adat di Amole Papua yang
mewajibkan pengantin perempuan ketika malam pertama harus berhubungan dengan saudara
pengantin pria terlebih dahulu atau adat belis di Sumbawa yaitu seorang pria yang akan
menikah harus memberikan sejumlah binatang kerbau atau kuda kepada keluarga mempelai
perempuan, semakin banyak binatang yang diberikan kepada keluarga perempuan maka
suami dapat bebas memukul istri.
Hukum adat sendiri, antara lain sebagai berikut :
1) Hukum yang dibuat dengan sengaja;
2) Hukum yang memperlihatkan aspek kerohanian yang kuat, dan
3) Hukum yang berhubungan erat dengan dasar-dasar dan susunan masyarakat setempat
mempunyai sifat-sifat elastik di dalamm menghadapi kemajuan.
c. Masih adanya konflik horizontal dikalangan masyarakat
Konflik sosial secar terbuka telah terjadi hanya lantaran perbatasan provinsi, desa, dll.
konflik-konflik komunal ini tentu saja serta merta berakibat kepada kondisi HAM. Salah satu
akibat langsung dari konflik-konflik komunal tersebut adalah kekerasan yang menyeruak dan
mengorbankan nyawa manusia, terutama kalangan rentan seperti perempuan, anak-anak dan
orang tua.

6. Faktor Komunikasi dan Informasi


a. Letak geografis Indonesia yang luas dengan laut, sungai, hutan,dan gunung yang
membatasi komunikasi antar daerah
b. Sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang belum terbangun secara baik yang
mencakup seluruh wilayah Indonesia
c. Sistem informasi untuk kepentingan sosialisasi yang masihsangat terbatas baik sumber
daya manusianya maupun perangkat yang diperlukan.

7. Faktor Peraturan Perundang-undangan


Sejak era reformasi, telah dibentuk peraturan perundang-undangan tentang HAM,
diantaranya adalah Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-
Undang No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang No. 9
tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Kelahiran peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia pada masa reformasi
merupakan komitmen dan politik hukum pemerintah dalam proses penegakan HAM di Indonesia,
namun keberadaan undang-undang ini sebagai payung hukum penegakan HAM di Indonesia
ternyata masih menyisakan sisi-sisi problematik hukum terutama dari sudut substansi, antara lain:
a. Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
1) Pasal 1
Pasal 1 tentang pengertian Pelanggaran HAM dinyatakan bahwa setiap perbuatan
seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja atau tidak disengaja
atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau
mencabut hak asasi manusia seseorang atau sekelompok orang yang dijamin oleh undang-
undang ini, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian
hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pengertian pelanggaran HAM dalam pasal ini cakupannya terlalu luas dan cenderung
melebar, sehingga dalam proses hukum di lapangan akan mengalami kesulitan, apalagi tidak
disertai dengan penjelasan yang cukup. Biasanya pasal yang memiliki cakupan luas harus
disertai dengan penjelasan, sehingga interpretasi hukumnya tidak jamak.
2) Keberadaan Komnas HAM yang diatur dalam Pasal 75 sampai dengan Pasal 99
Permasalahan yang muncul antara lain :
Pertama, Proses rekruitmen anggota Komnas HAM oleh DPR sebagai lembaga
politik dapat menimbulkan bias politik, karena anggota legislatif yang merupakan anggota
partai politik dipastikan memiliki “kepentingan” dalam memilih anggota Komnas HAM.
Dengan kondisi seperti ini, “tawar menawar politik” sulit dihindari.
Kedua, Dalam hal jumlah anggota Komnas HAM relatif terlalu banyak (35 orang)
bahkan merupakan satu-satunya lembaga HAM yang punya anggota paling banyak di dunia.
Di negara seperti India, jumlah anggotanya sebanyak 6 (enam) orang saja, di Philipina
sebayak 5 (lima) orang. Jumlah anggota sebanyak itu akan mempersulit Komnas HAM
dalam mengambil sikap politiknya apalagi untuk menyamakan persepsi dan visi tentang
HAM.
Ketiga, Setting kewenangan dan tugas Komnas HAM di negara kita lebih banyak
berfungsi pada persoalan lapangan, sehingga praktis persoalan pada level kebijakan sama
sekali tidak tersentuh.
Keempat, Persoalan independensi anggota Komnas HAM terkait dengan mekanisme
pemilihan melalui pintu legislatif (DPR) dan diresmikan oleh Eksekutif (Presiden).
Dalam posisi seperti ini, banyak kalangan yang pesimis terhadap sifat independensi
anggota Komnas HAM, jika sebuah kasus pelanggaran HAM yang ditangani bersinggungan
langsung dengan kepentingan penguasa.

3) Dalam UU No.39 tahun 1999 setidaknya terdapat 57 pasal yaitu Pasal 9 hingga Pasal 66
yang memuat berbagai jenis HAM yang wajib dihormati dan dilindungi oleh
pemerintah.
Menurut ketentuan Pasal 1 bahwa pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan yang
melawan hukum dengan mengurangi, menghalangi, membatasi, mencabut hak asasi manusia
yang diatur dalam UU ini dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh
penyelesaian hukum yang adil dan benar, maka termasuk kategori sebagai pelanggaran
HAM, tetapi menurut ketentuan UU Nomor 26 Tahun 2000 dalam Pasal 7 dan Pasal 8
dinyatakan bahwa Pengadilan HAM hanya mengadili pelanggaran HAM berat saja,
sementara pelanggaran HAM yang lain diserahkan kepada peradilan umum. Jika kita melihat
rumusan pasal di atas, maka nampak bahwa dari sisi ini sesungguhnya kelihatan
inkonsistensi negara kita dalam mengapresiasi materi yang terdapat dalam undang-undang
HAM yang ada. Mestinya kewenangan Pengadilan HAM di perluas sesuai dengan tuntutan
materi UU HAM itu sendiri.

b. Undang-undang No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia


1) Dianutnya asas Retroaktif
Ketentuan pasal 43 ayat 1 UU nomor 26 tahun 2000 menyatakan bahwa pelanggaran
hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang ini,
diperiksa dan diutus oleh Pengadilan HAM ad hoc yang dibentuk dengan Keputusan
Presiden berdasarkan usul Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Ini berarti UUD Pengadilan HAM berlaku bagi pelanggaran HAM berat yang terjadi
sebelum diundangkannya undang-undang tersebut, dalam arti adanya ketentuan berlaku surut
atau menganut asas Retroaktif dan pengawasannya diawasi secara ketat oleh rakyat.
Dalam hal pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc harus
berdasarkan usul dari DPR, Undang-Undang ini tidak menerangkan lebih lanjut mengenai
prosedur yang harus ditempuh hingga akhirnya DPR mengusulkan kepada Presiden bahwa
“situasi tertentu” merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia. Hal ini seringkali
disalahtafsirkan bahwa DPR-lah yang berwenang untuk menentukan bahwa suatu
peristiwa merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia atau bukan, padahal sebagai
lembaga politik DPR tidak memiliki kewenangan sebagai penyelidik yang merupakan
tindakan yudisial dan merupakan kewenangan Komnas HAM seperti yang diatur dalam
Undang-Undang.
Romli Atmasasmita mengatakan pemberlakuan asas Retroaktif dalam pelanggaran
HAM berat masih dilematis karena beberapa sebab, yaitu:
a) Pelanggaran HAM merupakan peristiwa baru dalam sejarah bangsa Indonesia.
b) Pelanggaran HAM yang berat tidak identik dengan pelanggaran terhadap peraturan
perundang-undangan pidana yang berlaku dan untuk itu pelarangan analogi masih tetap
berlaku.
c) Pemberlakuan surut undang-undang Pengadilan HAM dengan muatan materi mengenai
ketentuan pidana di satu sisi melanggar asas hukum tidak berlaku surut, tetapi di sisi
lain jika asas hukum tidak berlaku surut diabaikan berarti KUHP diberlakukan
terhadap pelanggaran HAM berat. Hal ini berarti pelanggaran HAM berat dianggap
sama dengan kejahatan biasa.
d) Pemberlakukan asas Retroaktif memerlukan justifikasi-justifikasi yang sangat kuat
baik dari sisi pertimbangan filosofis, yuridis, atau sosiologis.
Dalam hukum pidana asas Retroaktif menimbulkan suatu kontroversi karena
eksistensinya jelas bertentangan dengan asas Legalitas. Secara prinsip sebagai konsekuensi
diakuinya asas Legalitas, aturan hukum pidana tidak boleh diberlakukan secara surut. Pasal 1
ayat 1 KUHP secara eksplisit menegaskan bahwa asas Legalitas merupakan sendi utama
hukum pidana sehingga asas Retroaktif tidak mendapatkan tempat sama sekali.
Penolakan penerapan asas retroaktif dalam hukum pidana juga didasarkan pada
alasan bahwa asas reroaktif sesungguhnya bertentangan dengan keadilan dan membuka
potensi kesewenang-wenangan dari penguasa. Tanpa berpikir terlalu jauh, setiap orang tentu
akan dapat bertanya, apakah bisa dikatakan adil jika seseorang melakukan perbuatan yang
pada saat perbuatan itu dilakukan masih dianggap legal atau tidak melanggar hukum, tapi
kemudian diadili sebagai perbuatan yang melanggar hukum dan dijatuhi hukuman
berdasarkan peraturan yang keluar setelah perbuatan tersebut dilakukan.
Penerapan asas retroaktif dianggap sama sekali tidak menyediakan kemungkinan bagi
orang untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan.
Dengan penerapan asas retroaktif orang juga bisa dikenai konsekuensi hukum atau sanki
yang tidak pernah ia prediksikan sebelumnya pada saat itu melanggar sebuah peraturan.
Inilah mengapa penerapan asas retroaktif yang sifatnya merugikan tersangka atau terdakwa
bertentangan dengan keadilan.
Persoalan ketakutan akan potensi kesewenang-wenangan penguasa pada hakikatnya
adalah akar dari semua persoalan yang dihadapi oleh penerapan asas retroaktif. Hal ini
tampak jelas bila merujuk kepada fakta sejarah, yang telah menunjukan beberapa praktik
kesewenang-wenangan penguasa dengan menggunakan penerapan asas tertoaktif.
Kesewenang-wenangan inilah yang kemudian melahirkan empat persoalan yang telah
diuraikan diatas yaitu mencerminkan asa lex talionis, pelanggaran hak asasi manusia,
ketidakpastian hukum dan ketidakadilan.
Itulah alasan-alasan yang dikemukakan oleh mereka yang menolak penerapan asas
retroaktif dalam hukum pidana. Namun kalau pun asas ini mau diterapkan dalam hukum
pidana, penerapannya haruslah memenuhi kriteria yang rigid dan limitative antara lain :
a) Adanya korelasi antara Hukum Tata Negara Darurat dengan hukum pidana
Asas retroaktif hanya dapat diberlakukan apabila Negara dalam keadaan darurat
dengan prinsip-prinsip hukum darurat, karenanya sifat menempatan asas ini hanya
bersifat temporer dan dalam wilayah hukum yang sangat limitative, dengan diberikan
suatu kriteria yang jelas masa berlakunya dan sifat menanganan kasusnya berdasarkan
case by case.
b) Asas retroaktif tidak diperkenankan bertentangan dengan pasal 1 ayat 2 KUHP yang
imperative sifatnya, artinya sifat darurat keberlakuan asas retroaktif yang dibenarkan
perundang-undangan dengan alasan eksepsionalitas ini tidak berada dalam keadaan
yang merugikan seorang tersangka/terdakwa.
c) Substansi dari aturan yang bersifat retroaktif harus tetap memperhatikan asas lex certa,
yaitu penempatan substansial suatu aturan secara tegas dan tidak menimbulkan multi-
interpretatif, sehingga tidak dijadikan sebagai sarana penguasa melakukan suatu
perbuatan yang dikatagorikan abuse of power.
2) Tidak mengenal daluarsa
Ketentuan mengenai daluarsa diatur dalam pasal 84 KUHP yang berbunyi
Kewenangan menjalankan pidana hapus karena daluarsa :
a) Tenggang daluarsa mengenai semua pelanggaran lamanya dua tahun, mengenai
kejahatan yang dilakukan dengan sarana percetakan lamanya lima tahun, dan mengenai
kejahatan-kejahatan lainnya lamanya sama dengan daluarsa bagi penuntutan pidana,
ditambah sepertiga;
b) bagaimana pun juga tenggang daluarsa tidak boleh kurang dari lamanya pidana yang
dijatuhkan;
c) wewenang menjalankan pidana mati tidak mungkin daluarsa.
Berdasarkan ketentuan tersebut, pelaksanaan pidana menjadi gugur karena daluarsa
jika pidana yang dijatuhkan kepada terpidana bukan pidana mati. Bagi terpidana yang
dijatuhi pidana mati, aturan mengenai daluarsa sebagai alasan yang menggugurkan
pelaksanaan pidana tidak dapat diberlakukan kepada terpidana.
Lalu, bagaimana kalau terpidana dijatuhi pidana seumur hidup, KUHP ternyata tidak
mengaturnya. Karena yang secara eksplisit disebutkan sebagai alasan yang tidak
menggugurkan pelaksanaan pidana karena daluarsa adalah pidana mati, sedangkan pidana
seumur hidup tidak dijelaskan. Dengan demikian, ketentuan mengenai daluarsa dalam
KUHP sebagai alasan yang menggugurkan pelaksanaan pidana memiliki kelemahan
terutama dalam kaitannya dengan pidana seumur hidup yang dijatuhkan kepada terpidana.
Dalam UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang berat,
ketentuan dan justifikasi teoritis mengenai daluarsa dalam KUHP tidak berlaku atau
disampingi. Ketentuan pasal 46 undang-undang tersebut secara eksplisit menyatakan, bahwa
untuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat tidak berlaku ketentuan mengenai
daluarsa. Ini artinya, kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi
pada tahun 1950-an sekalipun akan diproses, diperiksa dan diadili berdasarkan ketentuan
undang-undang tersebut.
Namun, perlu juga kiranya dipikirkan hambatan yang memungkinkan muncul jika
pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada rentang waktu yang cukup lama terutama
jika dilihat dari proses pengumpulan alat-alat buki. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu
dipikirkan juga aturan mengenai ketentuan daluarsa dengan menyebutkan waktunya secara
spesifik dan lebih lama dibandingkan dengan daluarsa dalam KUHP. Hal ini dirasakan
penting karena proses penegakan hukum atas pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang
mengatasnamakan hak asasi manusia pelakuka harus tetap menghormati dan melindungi hak
asasi pelaku. Perlakukan dan perlindungan hukum dalam konteks daluarsa ini harus
dilakukan secara seimbang antara pelaku dan korban.
3) Komnas HAM sebagai penyelidik
Dari kewenangan-kewenangan yang dimiliki Komnas HAM selaku penyidik, yaitu
memanggil pihak pengadu, korban, atau pihak yang diadukan untuk diminta dan didengar
keterangannya mengandung persoalan. Meskipun Komnas HAM diberikan kewenangan sub
poena berupa memanggil pihak pengadu, korban, atau pihak yang diadukan untuk diminta
dan didengar keterangannya, kewenangan tersebut tidak diikuti oleh saksi hukum bagi
pihak-pihak pengadu, korban, atau pihak yang diadukan untuk diminta dan didengar
keterangannya jika tidak hadir atau tidak mengindahkan panggilan resmi Komnas HAM.
Kewenangan sub poena Komnas HAM tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai
dengan tersedianya sanksi hukum bagi pihak-pihak yang menolak atau tidak hadir
memenuhi panggilan Komnas HAM.
4) Perlindungan terhadap saksi dan korban dalam pelanggaran HAM berat
Perlunya perlindungan terhadap saksi dan korban dalam pelanggaran HAM yang
berat karena kerentanan-kerentanan yang dihadapi baik sebelum proses peradilan maupun
saat bahkan setelah peradilan dilaksanakan. Tidak jarang saksi dan korban mendapat terror
dari pelaku atau orang lain suruhan pelaku sehingga saksi dan korban “terpaksa” enggan
untuk hadir dan memberikan kesaksian di persidangan pengadilan.
Contohnya, pada kasus Teungku Bantaqiah di Aceh yang menjadi korban kekerasan
dari oknum aparat keamanan pada saat pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM),
keluarga korban meminta kepada pengadilan untuk tidak melanjutkan persidangan karena
saksi (korban) sering menerima ancaman teror setiap akan memberikan keterangan di
pengadilan. Bahkan pada hari ketiga persidangan terjadi pelemparan granat oleh orang yang
tidak dikenal sehingga mencederai 17 orang.
Hak-hak korban pelanggran HAM berat tidak pernah disinggung kecuali hanya
dinyatakan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah. Perlindungan terhadap saksi
dan korban akan memebrikan efek yang besar terhadap proses peradilan pelanggaran HAM.
Dampak yang paling nyata adalah adanaya jaminan bagi saksi untuk memebrikan
keteranagan tanpa adanya tekanan, ancaman, gangguan, intimidasi dan segala bentuk
lainnya.
Selain adanya hambatan, ada pula kelemahan pokok dalam penegakan HAM di Indonesia
yang menyebabkan penegakan HAM masih bersifat relatif, didorong oleh unjuk rasa, demonstratif,
pertentangan kelompok, dibawah tekanan negara maju dan didanai oleh beberapa lembaga
internasional, belum build-in di dalam strategi nasional dan belum mewartai Pembangunan
Nasional. Kelemahan pokok tersebut yaitu:
1. Masih kurang pemahaman tentang HAM
Banyak orang menagkap pemahaman HAM dan segi pemikiran formal belaka. HAM
hanya dilihat sebagaimana yang tertulis dalam “Declaration of Human Rights” atau apa yang
tertulis dalam Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak-hak Asasi Manusia. Namun,
hakikat pemahaman HAM harus dilihat sebagai suatu konsep yang bersifat multidimensi. Sebab
dalam pemahaman HAM tertanam di dalamnya konsep dasar “politik, hukum, sosiologi, filosifi,
ekonomi dan realitas masyarakat masa kini, agenda internasional, yurispudensi analitis,
yurispudensi normatif, etika dan estetika”. Jika makna seperti ini dapat ditangkap melalui suatu
proses pembelajaran, pemahaman, penghayatan dan akhirnya diyakini, barulah kita dapat menuju
kepada suatu proses untuk menjadikan HAM ini sebagai bagian dari kebijakan nasional. Bagian
dari kebijakan nasional, program nasional dan konsistensi. Tetapi, jangan lupa bahwa HAM yang
formal ini adalah barang impor.
2. Masih kurang pengalaman
Didasari atau tidak kita harus akui bahwa HAM sebagai suatu konsep formal masih terasa
baru di masyarakat kita. Kondisi ini mendorong kita harus membina kerjasama dengan beberapa
negara dalam mencari gagasan, menciptakan kondisi yang kondusif, dan memberikan proteksi
perlindungan HAM, persepsi dan pemahaman bersama seperti ini perlu didorong dan ditegakkan.
Namun, kita harus hati-hati, khususnya dalam menjalin kerjasama, forum konsultasi, dan
berbagai kepentingan tertentu yang sering tidak terasa bahwa tujuan yang hendak dicapai menjadi
melenceng jauh dari tujuan yang semula diharapkan.
3. Kemiskinan
Kemiskinan adalah sumber kebodohan, oleh sebab itu harus diperangi dan diberantas.
Tema memberantas kemiskinan telah banyak dipersoalkan di forum-forum nasional, regional dan
internasional, tetapi hingga saat ini belum ada solusinya. Bahkan, ide memberantas kemiskinan
hanya mampu memobilisasi masyarakat miskin tanpa menambah sepeser pun uang ke kantong-
kantong orang miskin. Dari segi HAM seolah-olah konvensi hak-hak sosial dan ekonomi yang
belum diratifikasi oleh Indonesia perlu diwujudkan.
4. Keterbelakangan
Keterbelakangan ini adalah sesuatu penyakit yang kultural dan struktural. Kultural karena
sering sekelompok orang yang terikat dalam satu budaya yang sama memiliki adat istiadat yang
sama dan arah berpikir yang sama pula. Untuk mengatasi diperlukan proses pendidikan dan
kebiasaan menggunakan logika berpikir.
5. Pemahaman HAM masih terbatas dalam pemahaman gerakan
Untuk membangun HAM dalam masyarakat untuk menjaga kerukunan berbangsa dan
bernegara diperlukan :
a. Adanya personil pemerintahan yang berkualitas,
b. Aparat pemerintah yang bermodal dan bertanggungjawab,
c. Terbangunnya publik opini yang sehat atau tersedia sumber informasi yang jelas,
d. Terbangunnya suatu kelompok pers yang berani dan bebas dalam koridor menjaga
keutuhan bangsa dan negara,
e. Adanya sanksi terhadap aparat yang melanggar HAM,
f. Tersedianya “bantuan hukum” (legal-aid) dimana-mana,
g. Terbentuknya jaringan aparat pemerintahan yang bersih, berwibawa sehingga bersinergi.
Setiap pemikiran, konsep atau rencana yang ditawarkan.

2.3 Meminimalisir Hambatan Penegakan HAM di Indonesia


1. Pendidikan
Sistem pendidikan telah di buka oleh pemerintah (Negara) untuk dilengkapi dengan
muatan HAM. Kurikulum-kurikulum pendidikan kita di berbagai jenjang, terutama di
univeristas atau perguruan tinggi, sangat akomodatiif dengan muatan HAM. Khusus di Indonesia
dengan mudah kita melihat betapa kurikulum pendidikan di berbagai perguruan tinggi, telah
memberi tempat yang begitu luas dan leluasa bagi muatan HAM.
Hingga pertengahan tahun 1980-an, pelajaran tentang HAM di perguruan tinggi, hanya
dicantolkan dalam mata kualiah ilmu Negara di fakultas hukum. Sementara FISIP, HAM
dicantolkan dalam mata kualiah ilmu politik.
Kini HAM, sudah menjadi subyek tersendiri dan diajarkan dengan berbagai pendekatan.
Malah sejumlah perguruan tinggi kita sekarang telah membuka jurusan khusus untuk HAM pada
level S-2 dan S-3. Ini adalah seuah gerakan dahsyat yang menggelindingkan pemahaman tentang
nilai-nilai HAM.
Dengan sistem pendidikan yang amat terbuka ini, di tambah dengan bangkitnya kelas
menengah baru yang terdidik, maka gerakan masyarakat luas untuk menegakan HAM, memang
membuat Negara tidak memiliki kesempataan berkelit.
Lulusan perguruan tinggi yang mempelajari HAM secara mendalam ini, telah
menebarkan virus gerakan penegakan HAM. Mereka berada dan tersebar di mana-mana yang
membuat sebuah loncatan vertikal dalam masyarakat kita mengenai perlindungan dan penegakan
HAM. Merekalah yang memutar dynamo pergerakan mesin HAM. Mereka bagai bola salju yang
menggelinding tanpa batas dihentikan. Dan tiap putaran selalu menarik salju-salju yang lainnya
untuk ikut dalam pusaran, hingga menjadi gerakan dahsyat.
Bagi alumni perguruan tinggi yang mendalami HAM dan bergerak di LSM, telah
menambah dahsyat tekanan masyarakat sipil mengenai perlindungan dan penegakan HAM. Bagi
mereka yang bekerja di birokrasi pemerintah, telah menjadi agen perubahan dari dalam birokrasi
mengenai perlindungan dan penegakan HAM. Sementara yang bergerak di sektor swasta, aktif
memasukan elemen-elemen HAM dalam setiap perencanaan organisasi mereka. maka persepsi
masa lalu yang dimiliki swasta bahwa HAM adalah urusan politik semata, kini mulai
ditinggalkan.
Anak-anak muda yang mendalami HAM secara mendalam di perguruan tinggi tersebut,
adalah anak-anak muda yang penuh idealism karena dalam tataran praktis, hingga kini HAM
belum menjadi sebuah subyek yang dengan mudah memberikan kenikmatan duniawi.
Namun dalam kondisi serang ini akan berubah drastic untuk kedepan. Dengan gerakan
HAM yang menggelinding dahsyat, masalah pengetahuan HAM tidak akan berbeda jauh dengan
pengetahuan lainnya dalam hal penghargaan dan penerimaan masyarakat. Pengetahuan dan
keterampilan mengenai HAM, sama saja dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang
lainnya.

2. Peyempurnaan Peraturan perundang-undangan


Cukup banyak pasal dari UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang perlu
disempurnakan. Namun ketentuan yang krusial untuk disempurnakan, bila perlu di hapus adalah
prinsip yang bersifat retroaktif dan kadaluarsa serta diperlukan Hukum Acara tersendiri yakni
Hukum Acara Pengadilan HAM.
Penyempurnaan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, harus segera
dilaksanakan. Sebab ketentuan yang sangat bermasalah inilah yang merupakan penghambat
dibentuknya pengadilan HAM atas dugaan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.
3. Pembinaan dan Peningkatan Kualitas SDM Aparat Terkait
Guna menghindari jatuhnya korban pelanggaran HAM yang lebih banyak di saat
terjadinya keadaan darurat, dan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi penghormatan,
penegakan dan penyebarluasan HAM sebagaimana sesuai dengan Ketetapan MPR Nomor
XVII/MPR/1998 tentang HAM, dengan lampiran Naskah Piagam Hak Asasi Manusia,
pemerintah, DPR, TNI/Polri, Komnas HAM, kejaksaan harus secara serius melaksanakan isi
Ketetapan MPR tersebut.
Di sini Komnas HAM sangat berperan dalam mensosialisasikan HAM kepada aparat
penyelenggara Negara seperti Polri, Jaksa, Hakim, Pengacara, masyarakat lewat penyuluhan
baik formal maupun nonformal.
Dengan telah ditingkatkannya dasar hukum pembentukan Komnas HAM dari keputusan
presiden menjadi undang-undang, diharapkan Komnas HAM dapat menjalankan fungsinya
dengan lebih optimal untuk mencapai tujuannya sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang.
Dengan undang-undang tersebut, Komnas HAM juga mempunyai subpoena power untuk
menyelesaikan pelanggaran HAM. Artinya Komnas HAM harus tegas dan konsekuen
memanggil saksi dugaan pelanggaran HAM. Jika Saksi tersebut tidak bersedia hadir
memberikan keterangan, Komnas HAM harus menggunakan ‘upaya paksa’ dari Ketua
Pengadilan sesuai pasal 95 UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM.
Wewenang Komnas HAM menjadi bertambah dengan disahkannya Undang-undang
Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Berdasarkan Undang-undang ini, Komnas
HAM diberikan mandate sebagai satu-satunya institusi yang mempunyai kewenangan untuk
melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran HAM berat untuk diteruskan dan dikembangkan
oleh jaksa agung.
Komnas HAM sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka (7) Undang-undang Nomor
39 Tahun 1999 adalah lembaga “mandiri”, yang kedudukannya setingkat dengan lembaga
Negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan
dan mediasi mengenai HAM.
Tujuan Komnas HAM, sebagaimana disebutkan di atas, adalah mengembangkan kondisi
yang kondusif bagi pelaksanaan HAM sesuai dengan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945,
dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan
meningkatkan perlindungan serta penegakan HAM guna berkembangnya pribadi manusia
Indonesia seutuhnya dan mampu berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Komnas HAM melaksanakan fungsi pengkajian dan
penelitian, penyuluhan dan pemantauan, serta mediasi tentang HAM sesuai Pasal 76 UU No.39
Tahun 1999 Tentang HAM.
Minimnya pemahaman tentang HAM oleh masyarakat maupun aparat penegak hukum
menjadi kendala yang serius sehingga sering terjadi pelanggaran HAM dalam keadaan hukum
darurat harus diatasi oleh pemerintah.
Cara mengatasinya adalah pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan sesuatu
keadaan darurat di suatu wilayah terkait dengan bidang hukum tata Negara darurat sehingga
pemberlakukan status keadaan darurat, hal itu selalu memenuhi legalitas hukum yang jelas.
Pemerintah sering ragu-ragu untuk menggunakan hak prerogratifnya untuk menerapkan status
keadaan darurat. Entah karena pemerintah takut dituding oleh masyarakat telah berbuat otoriter
atau karena ketidakmampuan dan ketidakberanian untuk bertindak, atau karena tidak memiliki
skill yang memadai untuk itu, atau karena mempunyai alasan politik tertentu.
Agar penetapan status hukum keadaan darurat di suatu daerah berjalan efektif, berbagai
kebijakan dan tindakan yang harus diambil pemerintah adalah :
a. Pemerintah harus konsekuen terhadap pelaksanaan UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM
dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, sebab hanya kedua peraturan inilah
yang dapat menyelesaikan kasusu pelanggaran HAM di Indonesia.
b. Meningkatkan pengawasan intensif terhadap pelaksanaan keadaan hukum darurat yang
ditetapkan oleh Presiden sehingga berbagai instruksi dan prosedur tetap dalam pelaksanaan
tugas TNI/Polri tidak akan merusak sendi-sendi hak asasi manusia.
c. Pemerintah tidak boleh sembarangan menetapkan status hukum keadaan darurat.
Penerapannya harus melalui prosedur hukum yang benar dan sebisa mungin tidak secara
mendadak, dan harus dideklarasikan terhadap publik, agar terciptanya control pengawasan
dari publik.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia masih kurang optimal. Hal tersebut dikarenakan
masih adanya hambatan-hambatan yang menjadikan tegaknya HAM secara menyeluruh. Hambatan
yang paling komplek terdapat dalam peraturan perundang-undangannya. Seperti dalam UU No. 26
Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dari penjabaran setiap pasalnya, akan timbul
Asas Retroaktif, tidak adanya batas daluarsa pengajuan pelanggaran HAM, peraturan tentang
Komnas HAM yang belum jelas dan adanya perlindungan saksi serta korban yang kurang
diperhatikan lebih lanjut.
Untuk itu perlu adanya tindakan yang lebih khusus untuk meminimalisir berbagai hambatan
yang lebih krusial nantinya. Cara meminimalisir hambatan tersebut bisa dilakukan dengan
memberikan pendidikan tentang HAM kepada masyarakat, menyempurnakan peraturan perundang-
undangan dan melakukan pembinaan pada aparatur penegakan Hak Asasi Manusia.