Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI
1. Pertumbuhan dan perkembangan anak
Prinsip-prinsip pertumbuhan dan perkembangan anak terbagi
menjadi tujuh sebagai berikut :
a. Proses Perkembangan dari the head downward (cephalocaudle
principle) : Hal ini disebut prinsip cephalocaudle, prinsip ini
menggambarkan arah pertumbuhan dan perkembangan. Menurut
prinsip ini, dari bayi menuju anak-anak tumbuh kembang pada
koordinasi lengan selalu mendahului koordinasi kaki.
b. Proses Perkembangan dari the center of the body outward
(proximodistal development) : Prinsip ini, pada sumsum tulang
belakang berkembang sebelum bagian luar dari tubuh. Lengan anak
berkembang sebelum tangan dan tungkai berkembang sebelum kaki
serta jari kaki. Jari tangan dan otot tangan (digunakan dalam
keterampilan motorik halus) adalah yang terakhir untuk
mengembangkan secara fisik perkembangan anak tersebut.
c. Perkembangan berdasar pada pematangan dan pembelajaran :
Pematangan mengacu pada karakteristik berurutan perkembangan dan
pertumbuhan biologis. Perubahan biologis terjadi berurutan dan
memberikan anak-anak kemampuan (ability) baru. Perubahan-
perubahan dalam otak dan sistem saraf membantu anak-anak untuk
meningkatakan di aspek kognitif dan keterampilan motorik (fisik). Pola
pematangan ditentukan oleh program bawaan yaitu genetik, lingkungan
anak dan pembelajaran yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman anak.
Sebuah stimulus rangsangan lingkungan dan beragam pengalaman
memungkinkan anak untuk mengembangkan untuk potensi dirinya.
d. Proses perkembangan dari sederhana (konkrit) hingga komplek :
Anak-anak mengembangkan keterampilan kognitif dan bahasa
mereka melalui pemecahan masalah. Misalnya, belajar
menghubungkan antara hal-hal (bagaimana hal-hal yang serupa),
atau klasifikasi, adalah kemampuan penting dalam perkembangan
kognitif. Proses belajar kognitif bagaimana membedakan apel dan
jeruk meskipun dengan bentuk yang sama dimulai dengan yang
paling sederhana atau pemikiran konkret menggambarkan dua
konsep yang sama namun berbeda.
e. Pertumbuhan dan perkembangan adalah proses berkelanjutan :
Seorang anak berkembang, di mana adanya proses menambah
keterampilan yang sudah diperoleh dan keterampilan baru menjadi
dasar untuk mengoptimalkan prestasi dan penguasaan keterampilan.
Sebagian besar anak-anak mengikuti pola yang sama. Juga, salah
satu tahap perkembangan meletakkan dasar untuk tahap
perkembangan berikutnya. Misalnya, dalam perkembangan motorik,
diprediksi urutan perkembangan yang terjadi sebelum berjalan. Bayi
mampu mengangkat kepala dan dapat membalikkan lagi. Bayi bisa
menggerakkan anggota tubuh mereka (lengan dan kaki) sebelum
memegang suatu benda. Tahapan penguasaan melibatkan dan
meningkatkan keterampilan dari berpegangan hinggaberjalan sendiri.
Pada usia empat tahun, kebanyakan anak-anak bisa berjalan tahun,
kebanyakan anak-anak bisa berjalan naik dan turun tangga dengan
kaki bergantian. Pematangan tahapan ini, agar anak-anak untuk
menulis atau menggambar, mereka harus telah mengembangkan
kemampuan manual (tangan) kontrol untuk memegang pensil dan
krayon.
f. Pertumbuhan dan perkembangan berproses dari umum (general) hingga
spesifik : Dalam perkembangan motorik, bayi akan dapat memahami
sebuah objek dengan seluruh tangan sebelum menggunakan hanya
ibu jari dan telunjuk. Gerakan motorik pertama bayi sangat umum,
diarahkan, dan refleksif, melambaikan tangan atau menendang
sebelum dapat mencapai atau merayap menuju obyek. Pertumbuhan
terjadi dari besar gerakan otot untuk lebih halus otot (lebih kecil)
gerakan.

8
g. Tingkatan individu dalam pertumbuhan dan perkembangan : Setiap
anak berbeda dan tingkat di mana individu anak-anak tumbuh
berbeda. Meskipun pola dan urutan untuk pertumbuhan dan
perkembangan biasanya sama untuk semua anak-anak, tingkat di
mana individu anak mencapai tahap perkembangan akan berbeda.
Memahami fakta ini dari perbedaan individu tingkat perkembangan
menyebabkan kita untuk berhati-hati tentang menggunakan dan
memperhatikan pada usia dan tahap karakteristik untuk
menggambarkan atau memberi label sesuai tahapan anak-anak
(Burhaein, 2017: 53-55).
2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang komplek dan
bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme
sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan
diatur. Kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas terhadap
stimulus, dan konduktivitas, atau kemampuan untuk mentransmisi suatu
respons terhadap stimulasi, diatur oleh sistem saraf dalam tiga cara utama :
a. Input sensorik
Sistem saraf menerima sensasi atau¬stimulus melalui reseptor,
yang terletak di tubuh baik eksternal (reseptor somatic) maupun internal
(reseptor viseral).
b. Antivitas¬ integrative
Reseptor mengubah stimulus menjadi impuls listrik yang
menjalar di sepanjang saraf sampai ke otak dan medulla spinalis,
yang kemudian akan menginterpretasi dan mengintegrasi stimulus,
sehingga respon terhadap informasi bisa terjadi.
c. Output motorik
Input dari¬otak dan medulla spinalis memperoleh respon yang
sesuai dari otot dan kelenjar tubuh, yang disebut sebagai efektor. Sistem
saraf pusat (SSP). Terdiri dari otak dan medulla spinalis yang
dilindungi tulang cranium dan kanal vertebral (Nugroho, 2013: 1).

9
1) Otak
Cranium merupakan satu ruang yang begitu sesak : otak
(Enchepalon) mengisi hampir seluruh cavitas crania, hanya di
beberapa area saja (khususnya di area foramen occipitalis), spatium
subarachnoideum terbentang hingga beberapa millimeter. Otak
tersusun atas 85% air, sementara bagian tubuh lainya hanya
mengandung 65% air. Bagian terbesar dari ketiga bagian enchepalon
dinamakan cerebrum, yang mengambil tempat hampir di seluruh
bagian dalam cranium. Cerebrum terdiri atas hemispherium kiri dan
kanan. Permukaan kedua hemispherium ini diperluas oleh gyri yang
kasar dan dinamakan cortex cerebri. Cerebellum terdiri atas dua
hemispherium dan terletak di region postero-inferioir cranium.
Permukaanya juga mengandung lipatan-lipatan yang lebih halus dan
teratur. Lipatan-lipatan yang mirip daun ini dinamakan folia
cerebella, meliputi cortex cerebella. Truncus encephali (batang
otak) yang tidak memiliki pasangan memiliki ketebalan seperti ibu
jari tangan, terletak di basis crania dan memanjang melalui foramen
magnum ke dalam medulla spinalis. Penduculi menghubungkan
truncus enchepali dengan cereberum dan cerebellum. Sepuluh dari
dua belas nervi cranialis keluar dari truncus enchepali. Berbeda
dengan cerebrum dan cerebellum, permukaan truncus enchepali
berwarna putih karena struktur ini terususun atas serabut saraf
(substansia alba), sementara kortek kelabu terutama tersusun atas
badan sel (substansia grisea) (Paulsen dan Waschke, 2010: 212).

10
Gambar 2.1 Otak potongan saraf cranial
(Paulsen dan Waschke, 2010: 215).
a) Otak besar (cerebrum)
Otak besar merupakan bagian terbesar dan terdepan dari
otak manusia. Otak besar mempunyai fungsi dalam
mengatur semua aktivitas mental, yang berkaitan dengan
kepandaian (intelegensia), ingatan (memori), kesadaran, dan
pertimbangan. Otak besar terdiri atas lobus oksipitalis
sebagai pusat penglihatan, lobus temporalis yang berfungsi
sebagai pusat kepribadian dan pusat komunikasi.
a) Otak kecil (cerebellum)
Otak kecil (cerebellum) mempunyai fungsi utama dalam
koordinasi terhadap otot dan tonus otot, keseimbangan dan
posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau
berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak juga
berfungsi mengkoordinasi gerakan yang halus dan luwes.
b) Otak tengah (mensensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol.
Otak tengah berfungsi penting pada reflek mata, tonus otot
serta fungsi posisi atau kedudukan tubuh.

11
c) Otak depan (diensefalon)
Otak depan terdiri atas dua bagian, yaitu thalamus yang
berfungsi menerima semua rangsangan dari reseptor kecuali
bau, dan hypothalamus yang berfungsi dalam pengaturan
suhu, pengaturan nutrisi, penjagaan agar tetap bangun dan
penumbuhan sikap agresif.
d) Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol merupakan serabut saraf yang
menghubungkan otak kecil bagian dan kanan. Selain itu,
menghubungkan otak besar dan sumsung tulang belakang
(Untari, 2012: 1).
2) Medulla Spinalis
Medulla spinalis memiliki permukaan berwarna putih dan
terdapat di dalam canalis vertebralis yang luas. Medulla spinalis
memiliki ketebalan seperti pensil, akan tetapi diameter di dalam
canalis vertebralis hampir mencapai leher sebuah ibu jari tangan. Di
tempat yang lebih kaudal menuju os sacrum, canalis vertebralis
menjadi sempit di daerah bawah ini, canalis vertebralis tidak berisi
medulla spinalis tetapi berisi radices nervi lumbales et nervi
sacrales nervi spinalis, tiap radi keluar dari canalis vertebralis
“lebih rendah” melalui masing-masing foramina intervertebralianya.
Spatium subarchnoideum di tempat ini relatif lebar, dan suatu ruang
yang berisi jaringan adiposa dan vena yang begitu banyak di antara
duramater spinalis meluas ke bawah menuju os. coccygis. Akan
tetapi, ujung kaudal medulla spinalis berakhir di tingkat vertebra
lumbalis II. Diameter medulla spinalis beragam. Dibandingkan
dengan segmen-segmen yang mempersarafi bagian badan yang
kurang berotot, pars cervicalis medulla spinalis lebih tebal di tempat
terletaknya neuron-neuron motorik kasar yang berperan
mempersarafi otot-otot lengan. Bagian kaudal medulla spinalis yang
mempersarafi ekstermitas bawah sekali lagi menujukkan pembesaran
diameter. Kedua area pembesaran ini masing-masing dinamakan

12
intumescentia cervicalis dan intrumescentia lumbosacralis (Paulsen
dan Waschke, 2010: 324).

Gambar 2.2 Medulla spinalis potongan


(Paulsen dan Waschke,2010: 334).

Gambar 2.3 Plexus venosus medulla spinalis


(Paulsen dan Waschke,2010: 330).

13
Gambar 2.4 Jaras-jaras medulla spinalis
(Paulsen dan Waschke,2010: 337).

3. Tinjauan Umum Cerebral Palsy (CP)


a. Definisi Kasus
Cerebral palsy (CP) adalah cacat perkembangan saraf yang
dikenali yang ditandai dengan gangguan dalam gerakan tonus otot dan
postur yang dihasilkan dari kerusakan nonprogresif pada jaringan otak
yang belum matang. Kecuali dari kontrol neuromotor gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran, masalah komunikasi, masalah
makan, kejang dan gangguan kognitif juga dapat diamati pada CP
(Fidan dan Baysal, 2014: 127). Ada tiga jenis CP yang bisa dibedakan
oleh gejala dan pendekatan manajemen mereka, yaitu tipe Spastik,
Ataxic dan Athetoid.
CP spastik adalah jenis CP yang paling umum yang ditandai
dengan kekakuan otot. Pasien memiliki spastisitas otot sebagai
karakteristik gangguan utama. Jenis CP ini terjadi pada setidaknya
70% dari semua kasus CP di dunia. Pada kasus CP spastik,
gangguannya lebih mudah dikelola dibandingkan dengan jenis lain
sejak perawatan, melalui pengobatan dapat dikejar di beberapa
neurologis (Alshehri dan Bach, 2014: 2).

14
CP ataxic juga bisa menjadi fitur CP. Penurunan volume serebal
ditemukan pada bayi baru lahir prematur yang sangat parah terutama
setelah respirasi buatan yang berkepanjangan. Pasien dengan CP
ataxic memiliki komplikasi neurologis yang lebih sedikit jika
dibandingkan dengan tipe CP lainnya. Ataxic CP hadir dengan
hipotonia selama masa bayi awal dan keterlambatan fungsi motorik
kasar. Setelah bulan ke-6, tidak adanya keseimbangan jelas. Anak-
anak ini kikuk/tidak terampil dan tidak mampu melakukan gerakan
yang cepat dan tepat. Tipe CP ini ditandai oleh heterogenitas yang
signifikan baik untuk etiologinya dan untuk penampilan klinis.
Namun, diagnosis bisa disesatkan. Temuan klinis dapat dipastikan
dengan Ultrasonography (USG) dan metode pencitraan dan
laboratorium lainnya (Panteliadis et al, 2015: 48).
CP Athetoid, tipe ini lebih sedikit jumlahnya daripada CP
spastik terhitung dari 30% dari semua penderita CP. Tipe Athetoid
ini mempunyai gambaran khusus berupa kelemahan otot yang
amat sangat dan pergerakan involunteer yang berlebihan (Ramadhani,
2016: 9).
Menurut Utomo AHP (2013: 31) CP spastik dibagi berdasarkan
jumlah ekstermitas yang terkena, yaitu :
1) Monoplegi
Bila hanya mengenai 1 ekstermitas saja, biasanya lengan.
2) Diplegia
Keempat ekstermitas terkena, tetapi kedua kaki lebih berat
daripada lengan.
3) Tetraplegi
Bila mengenai 3 ektermitas, yang paling banyak adalah
mengenai kedua lengan dan 1 kaki.
4) Quadriplegi
Keempat ektermitas terkena dengan derajat yang sama.
5) Hemiplegi
Mengenai salah satu sisi tubuh dengan lengan terkena lebih berat.

15
CP spastik diplegi merupakan salah satu bentuk CP yang
utamanya mengenai kedua belah kaki. CP spastik diplegi adalah suatu
gangguan tumbuh kembang motorik anak yang disebabkan karena
adanya kerusakan pada otak yang nonprogresif, terjadi pada periode
sebelum, selama dan sesudah kelahiran yang ditandai dengan
kelemahan pada anggota gerak bawah yang lebih berat dari anggota
gerak atas, dengan karakteristik tonus otot postural otot yang tinggi,
terutama pada region trunk bagian bawah menuju ekstremitas bawah
(Kumar dan Vidya, 2014: 1).
CP spastik tetraplegia ditandai dengan munculnya tonus otot
yang meningkat. Reflek primitif (Moro, reflek leher otomatis) tetap
lebih lama dari biasanya, ada kesulitan dalam memberi makan saat
kemudian scissoring muncul juga postur fleksi pada ekstremitas atas.
Adalah umum untuk menemukan hiperekstensi dan hipotonus pada
posisi terlentang dan fleksi dalam rawan. Dalam severe cases
contractures muncul sebagai anak itu dewasa (Panteliadis et al, 2015:
47).
Gambaran khas hasil CP spastik hemiplegia kongenital dari
infark teritorial karena oklusi thrombembolik dari suatu pembuluh
darah. Lesi terutama terlihat pada bayi dewasa. Oklusi lengkap dari
arteri serebral menghasilkan unilateral nekrosis fokal jaringan otak
yang paling sering ditemukan di wilayah arteri serebral kiri tengah
yang mungkin dijelaskan oleh perbedaan hemodinamik karena paten
duktus arteriosus dan oleh jarak yang lebih pendek antara jantung dan
meninggalkan arteri karotis dibandingkan dengan sisi kanan. Oklusi
dari kapal menyebabkan hemiplegia dari batang tubuh, lengan dan
kepala. Sebaliknya, infark di wilayah anterior arteri serebral
menghasilkan paresis pada kaki. Proksimal oklusi otak tengah
mungkin juga melibatkan arteri serebral anterior yang mengakibatkan
hemiplegia komplit. Pada bayi prematur, hemiplegia sering berasal
dari infark haemorrhagic periventrikular dan periventrikular
leucomalacia (Panteliadis et al, 2015: 48).

16
b. Etiologi
CP merupakan hasil dari kerusakan yang terjadi pada otak,
biasanya terjadi pada area motorik pada otak khususnya ganglia
basalis dan atau Cerebellum. Kerusakan yang terjadi pada otak
tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1) Faktor Pre Natal
Kebanyakan kasus CP dapat disebabkan oleh gangguan-
gangguan pada saat kehamilan biasanya karena penyakit
bawaan dari ibu. Adapun faktor-faktor pencetus berupa infeksi
virus herpes, adanya toxoplasmosis, hyperthyroidism, diabetes,
Rhsenzitization, malnutrisi selama masa kehamilan, serta
kejadian trauma yang menimpa sang ibu dan bayinya.
2) Trauma Kelahiran
CP dapat terjadi akibat kekurangan oksigen yang dialami oleh
bayi pada saat kelahiran dikarena adanya ‘mechanical
blockage’ yang menghambat proses kelahiran. Gangguan
pernapasan dan trauma kepala juga dapat meningkatkan resiko
terjadinya kerusakan pada otak.
3) Faktor Post Natal
CP juga dapat terjadi setelah bayi tersebut lahir dengan
selamat namun dalam masa awal perkembangan dan
pertumbuhannya, anak tersebut mengalami trauma kepala
(biasanya disebabkan oleh kecelakaan mobil atau suatu bentuk
kekerasan pada anak) “shaken baby syndrome”, infeksi
(Meningitis atau Encephalitis), gangguan pembuluh darah, serta
pendarahan otak (Tina Allen dalam Ramadhani, 2016: 7).
c. Patofisiologi CP
Karena kompleksitas dan kerentanan otak selama masa
perkembangannya, menyebabkan otak cedera dalam beberapa waktu.
Cerebral ischemia yang terjadi sebelum minggu ke–20 kehamilan
dapat menyebabkan defisit migrasi neuronal, antara minggu ke–26
sampai ke–34 menyebabkan periventricular leucomalacia dan antara

17
minggu ke–34 sampai ke-40 menyebabkan focal atau multifocal
cerebral injury. Cedera otak akibat vascular insufficiency tergantung
pada berbagai faktor saat terjadinya cedera, antara lain distribusi
vaskular ke otak, efisiensi aliran darah ke otak dan sistem peredaran
darah, serta respon biokimia jaringan otak terhadap penurunan
oksigenasi. Kelainan tergantung pada berat ringannya asfiksia yang
terjadi pada otak. Pada keadaan yang berat tampak ensefalomalasia
kistik multipel atau iskemik yang menyeluruh. Pada keadaan yang
lebih ringan terjadi patchy necrosis di daerah paraventrikular
substansia alba dan dapat terjadi atrofi yang difus pada substansia
grisea kortek serebri. Kelainan dapat lokal atau menyeluruh
tergantung tempat yang terkena. Tekanan secara fisik yang dialami
oleh bayi yang mengalami kelahiran sehingga terjadi gangguan
imaturitas pada otak dan vaskularisasi cerebral merupakan suatu
bukti yang menjelaskan mengapa prematuritas merupakan faktor
risiko yang signifikan terhadap kejadian CP (Febriarto, 2017: 14).
4. Spastisitas
Spastisitas merupakan hiperekstensbilitas reflek regangan (stretch
reflexes) yang terjadi karena kerusakan pada Traktus kortikospinalis
lateralis dan daerah motorik, pre motorik serta motorik tambahan (Rido,
2017: 12).
Spastisitas adalah suatu gangguan motorik yang ditandai oleh
peningkatan tonus otot yang terkait kecepatan gerak dengan hentakan
tendon berlebihan, yang dikarenakan hiperekstensibilitas dari reflek
regang, sebagai suatu komponen dari sindroma upper motor neuron.
Teori spastisitas menujukkan bahwa timbulnya spastisitas merupakan
ketidakseimbangan antara sistem eksitatorik dan sistem inhibitorik di otak
bagian tengah serta formasio retikularis batang otak (Sari et al dalam
Rido, 2017).
Menurut Sari et al dalam Rido (2017: 12) ada beberapa bentuk
kenaikan tonus otot dapat timbul disebabkan karena :
a. Kerusakan yang mengenai area motorik di kortek

18
b. Pemutusan impuls superior ke area inhibitor retikuler di batang otak
c. Penguatan rangsang dari area fasilitasi atau retikuler di otak bagian
tengah dan batang otak.
Keadaan tersebut di atas akan menimbulkan luapan fasilitasi ke
medulla spinalis, yang dijalarkan melalui lintasan retikulospinal,
vestibulospinal dan lai-lain, yang dapat menyebabkan terjadinya
perubahan keseimbangan antara sistem motor neuron alfa dan gamma.
Kegagalan/hilangnya pengaruh inhibisi sentral yang secara normal
menekan/mengurangi reflek regang spinal (spinal stretch reflex) akan
diikuti oleh kontraksi otot yang berlebihan (hiperekstensibilitas) apabila
diregangkan. Hal ini merupakan dasar utama terjadinya spastisitas (Rido,
2017: 13).
Pada anak CP, spastisitas terjadi karena adanya kerusakan
cortex motorik pada otak sebelum, selama, atau setelah kelahiran.
Spastisitas dapat terjadi pada berbagai grup otot pada tubuh. Pada
ekstremitas inferior spastisitas pada satu atau kedua tungkai dapat
menyebabkan (Natsir, 2016: 26)
1) Fleksi pada hip, menyebabkan kedua tungkai terangkat ketika
berbaring atau tubuh kedepan ketika berdiri.
2) Adduksi atau scissoring, menyebabkan kedua tungkai merapat.
3) Fleksi pada knee, menyebabkan perubahan postur saat seseorang
berdiri.
4) Equinovarus kaki, di mana talus mengarah kebawah lantai, sebagai
hasil dari kekakuan calf muscle.
5. Alat ukur spastisitas
Dalam menilai tingkat spastisitas seseorang dilakukan dengan menilai
respon dari otot saat diregangkan dengan kecepatan tertentu. Dalam
menilai score yang biasa di gunakan adalah dari scale asworth atau
modified ashworth scale. Scale ashworth adalah scale untuk mengukur
spastisitas pada pasien yang mengalami lesi pada sistem saraf pusat atau
neurological disorder. Scale ini menilai resistansi pasif yang terjadi pada

19
sendi yang dirasakan oleh pemeriksa. Nilai resistensi scale ashworth dari
0-5 poin (Natsir, 2016: 27).
Sebelum memeriksa spastisitas, hal yang harus diperhatikan adalah :
a. Tempatkan pasien dalam posisi supine.
b. Jika otot yang diperiksa utamanya menggerakkan sendi kearah fleksi,
tempatkan sendi dalam maksimal fleksi dan gerakkan ke posisi
maksimal ekstensi dalam waktu lebih dari satu detik.
c. Jika otot yang akan diperiksa utamanya menggerakkan sendi kearah
ekstensi, tempatkan sendi dalam posisi maksimal ekstensi dan
gerakkan ke posisi maksimal fleksi dalam waktu lebih dari satu detik.
d. Intruksikan pasien untuk tetap rilek, untuk anak CP keadaan rilek
tidak dapat diprediksi sehingga harus menunggu/memberikan fasilitasi
seperti menggerakkan secara perlahan sehingga ketika tonus mulai
menurun pemeriksaan mulai dapat dilakukan.

20
Tabel 2.1 : Skala Ashworth
Skor Keterangan
0 Tidak ada peningkatan tonus otot
1 Ada peningkatan sedikit tonus otot,
ditandai dengan terasanya tahanan
minimal pada akhir Lingkup Gerak
Sendi (LGS), pada waktu sendi
digerakkan fleksi atau ekstensi
1+ Ada peningkatan sedikit tonus otot,
ditandai adanya pemberhentian
gerakan pada peretengahan LGS dan
diikuti adanya tahanan minimal
sepanjang sisa LGS
2 Peningkatan tonus otot lebih nyata
sepanjang sebagian besar LGS, tapi
sendi masih mudah digerakkan
3 Peningkatan tonus otot sangat nyata,
gerakan pasif sulit dilakukan
4 Sendi atau ekstermitas kaku/rigid
pada gerakan fleksi atau ekstensi
Sumber: Instrumen Pemeriksaan Fisioterapi
(Trisnowiyanto, 2012)

6. MR
a. Definisi MR
MR adalah suatu treatment yang mengacu pada manual teknik
massage untuk perengangan fascia (Whisler, 2012) dan melepaskan
ikat antara fascia dan integumen otot, tulang dangan tujuan untuk
menghilangkan rasa sakit, meningkatkan jangkauan gerak dan
menyeimbangkan serat jaringan ikat lebih fleksibel dan berfungsi
(Kumar, 2014) fascia terletak diantara kulit dan struktur yang
mendasari otot dan tulang fascia merupakan yang menutupi dan
menghubungkan otot-otot, organ, dan struktur tulang dalam tubuh

21
manusia otot dan fascia bersatu membentuk system myosfascia
(Neckman, 2008). Konsep myofascial release technique adalah
merenggangkan fascia akibat kontraksi otot yang berlebihan pada saat
melakukan myofascial release technique maka serabut elastin akan
terulur dan meningkatkan fleksibilitas pada otot (Yuhastri et al, 2016:
5).
b. Tujuan MR
Cedera, stres, perenggangan berlebihan, trauma, dan sikap
tubuh yang buruk dapat menyebabkan pembatasan fascia karena
fascia adalah jarangan yang saling berhubungan. Tujuan MR adalah
untuk mengurangi pembatasan fascia dengan cara melepaskan
hambatan dalam lapisan yang lebih dalam dari fascia, memulihkan
kesehatan jaringan, meningkatkan kinerja, meningkatkan fleksibilitas
dan LGS, istilah myofascial mengacu pada teknik menipulasi jaringan
yaitu pemijitan pada jaringan ikat, mobilisasi jaringan lunak, rolfing,
stran-counterstrain dll (Neckman, 2008). Fascia yang di rilis akan
menyebabkan jaringan ikat menjadi lebih fleksibel. Hal ini dilakukan
dengan merenggangkan komponen elastik otot fascia, bersama dengan
crosslink, dan mengubah viskositas fascia (Kumar dan Vaidya, 2014:
5).
c. Efek fisiologis MR
Pergerakan fascia yang terjadi pada MR dipengaruhi oleh dua
sumber, sumber yang pertama yaitu micro-stretching yang terjadi
ketika tangan praktisi/fisioterapis menyentuh ketegangan pada fascia
dan memberi tekanan, maka pada saat itu juga dihantarkannya input
sensoris pada fascia yang berguna untuk mengurangi ketegangan pada
fascia.
d. Prinsip dasar MR
Pergerakan fascia yang terjadi pada MR dipengerauhi oleh dua
sumber, sumber yang pertama yaitu micro-stretching yang terjadi
ketika tangan praktisi/ fisioterapis menyentuh ketegangan pada fascia
dan memberi tekanan, maka pada saat itu juga dihantarkannya input

22
sensoris pada fascia yang berguna untuk mengurangi ketegangan pada
fascia, dan yang kedua adalah pasien itu sendiri yaitu dengan cara
mengarahkan gerakan yang bisa mempengaruhi keadaan otot baik itu
dia menjadi terstretcthing atau rilek. Hal ini berguna untuk
memudahkan dalam melakukan MR. MR dilakukan dengan menekan
ketegangan pada fascia yang dirasakan, maka disini perabaan
(palpasi) dari seorang fisioterapi sangat diperlukan, tekanan yang
diberikan tidak sekuat tenaga, bahkan tidak memerlukan tenaga dari
fisioterapis, tapi memanfaatkan berat badan sebagai tekanan untuk
pasien, dan tekanan bisa dilakukan dengan mengunakan ibu jari, jari
tengan dan telunjuk atau siku (elbow) di sesuaikan dengan area otot
yang akan direlease.
e. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan MR adalah :
1) MR tidak boleh dilakukan jika terjadi peradangan
2) MR tidak boleh dilakukan setiap hari hal ini dimaksud untuk
memberikan waktu untuk perbaikan pada jaringan agar tidak
sensitif ketika dilakukan penanganan selanjutnya manual kontak
yang diberikan harus lembut, melebar dan datar, jempol dalam
posisi datar lebih biasa dipakai pada banyak area dengan traksi dan
konrol yang diberikan oleh jaringan harus digerakkan secara
longitudinal, bekerja dengan cara transversal melintang serabut
otot akan menyebabkan peningkatan rasa tidak nyaman yang
dialami pasien. Ketika bekerja secara longitudinal sepanjang otot,
manual kontak harus menyesuaikan kontur otot untuk mencegah
agar otot tidak terlepas dari manual kontak, hal ini akan
menyebabkan rasa yang tidak nyaman pada pasien, penggunaan
lotion mungkin digunakan untuk meminimalkan sensasi pada kulit
yang di luar.
f. Prosedur Pelaksanaan MR
1) Gerakan aktif atau pasif pada lingkup gerak sendi (LGS) penuh
harus dilakukan secara perlahan, praktisionner harus selalu bekerja
dengan kontak yang bergerak pada arah dari jantung untuk

23
meminimalkan tekanan balik pada katup vena untuk mencegah
memar pada pasien, praktisioner harus melakukan 3 sampai 5 kali
pengulangan setiap kedatangan.
2) Teknik MR untuk otot betis diberikan bersama pasien, posisi
tengkurap dengan 120 detik terus. Untuk memberikan MR,
bantalan jari diizinkan untuk tenggelam ke bagian tengah betis. Itu
diadakan untuk 120 detik untuk memungkinkan jaringan melunak
dan kemudian struktur myofascial tersebar ke arah lateral sampai
perasaan penghalang fascia pertama (Kumar dan Vidya, 2014).
3) Untuk hamstring diberikan bersama pasien dalam posisi tengkurap
dengan tangan atau jempol disilangkan. Kemudian myofascial
struktur direntangkan dan dipegang selama 120 detik untuk
memungkinkan jaringan untuk melunak (Kumar dan Vidya, 2014:
3).

Gambar 2.5 MR untuk otot hamstring


(Kumar dan Vidya, 2014: 3)

4) MR untuk adductor hip diberikan dengan pasien dalam posisi


terlentang dengan tangan bersilang atau dengan ibu jari. Kemudian
myofascial struktur direntangkan dan kemudian dipegang selama
120 detik untuk memungkinkan jaringan untuk melunak (Kumar
dan Vidya, 2014: 3).

24
Gambar 2.6 MR untuk otot adductor hip
(Kumar dan Vidya, 2014: 3)
5) MR untuk semua otot dilakukan dalam 15 menit.
g. Terdapat empat level MR. Empat level MR dideskripsikan
berdasarkan posisi, ketergangan dan aktivitas jaringan yang akan
diintervensi oleh prakstisioner yang menggunakan kontak manual.
1) Level 1 MR merupakan penanganan pada jaringan lunak dengan
tidak ada ketegangan yang terlihat dan pasien dalam keadaan pasif
kontak manual praktisioner bergerak secara longitudinal sepanjang
serabut otot dari distal ke proksimal dan pada arah aliran darah
yang menuju jantung.
2) Level 2 MR dilakukan dengenan meletakkan jaringan lunak yang
akan diintervensi pada keadaan merengang. Pasien dalam keadaan
pasif, kemudian manual kontak praktisioner bergerak secara
longitudinal sepanjang serabut otot dari distal ke proksimal dan
pada arah aliran darah yang menuju jantung.
3) Level 3 MR, pasien dalam keadaan pasif dan jaringan lunak yang
diintervensi digerakkan oleh praktisioner sepanjang LGS dari
posisi terpendek ke posisi yang terpanjang.
4) Level 4 MR, pasien mengerakkan jaringan yang di intervensi
secara aktif sepanjang LGS dari posisi terpendek ke posisi
terpanjang. Pada MR level 3 dan 4 praktisioner berusaha untuk
menjaga manual kontak dalam posisi statik dan hanya jaringan
yang bergerak. Gerakan dari strukturnya myofascial sepanjang

25
LGS dari posisi terpendek ke posisi terpanjang di bawah manual
kontak yang statik memberikan sebuah teknik pelepasan yang akan
membongkar perlengketan jaringan dan mengembalikan gerakan.
Komponen gerakan pada MR level 3 dan 4 merupakan komponen
utama yang membedakan level MR yang dilakukan.
h. Dosis MR
MR dilakukan selama 3x per minggu selama 4 minggu dengan
durasi selama 120 detik (Kumar dan Vaidya, 2014: 3).
i. Manfaat MR untuk spastisitas
Melalui pendekatan pada stimulasi reseptor aferen sehingga
menginhibisi eferen yang berakibat otot menjadi rileks (Bhalara dan
Talsaniya, 2014: 195). Teknik pelepasan myofascial akan
menghilangkan spastisitas pada anak-anak dengan CP.
7. NDT
a. Definisi NDT

Pengobatan NDT telah digunakan untuk pengobatan anak dengan


CP. NDT adalah pendekatan yang berfokus pada gangguan. Elemen
kunci dari pendekatan ini adalah memulihkan gerakan normal melalui
penghambatan otot dan reflek dan postur tubuh yang tidak normal
(Park dan Kim, 2017: 968).
NDT saat ini didefinisikan sebagai masalah yang berpusat pada
klien, langsung, pemecahan pendekatan. NDT digunakan dalam
manajemen dan perawatan anak-anak yang memiliki gangguan fungsi,
gerakan atau kontrol postural karena kerusakan dalam sistem saraf
pusat mereka Neuro Development Treatment Assosoation (NDTA).
Pendekatan NDT tidak melibatkan secara eksklusif masalah sensorik
motorik pasien. Ini melibatkan seluruh orang, termasuk masalah
emosional, sosial dan fungsional itu individu harus menghadapi
kehidupan sehari-harinya. Pendekatan NDT juga melibatkan
pengelolaan masalah yang terkait dengan perkembangan anak,
termasuk gangguan dalam persepsi dan kognisi. Pendekatan ini

26
menggunakan penalaran klinis daripada serangkaian teknik standar
(Zanon et al, 2017: 3).
b. Tujuan NDT
intervensi NDT bertujuan untuk menghentikan abnormalitas postur
dan gerakan dengan memegang anak dalam posisi tetap yang
seharusnya menghambat reflek. Ini ditinggalkan karena terlalu pasif,
dan itu tidak mengarah pada peningkatan gerakan atau fungsi, kecuali
dalam beberapa kasus anak-anak yang sangat muda. Tujuan utama dari
NDT adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan lesi
neurologis dengan mengoptimalkan tingkat aktivitas dan partisipasi
mereka (Zanon et al, 2017: 4).
c. Prinsip NDT
Menurut Kollen (2009) pada NDT, pasien harus aktif sementara
terapis membantunya. Terapis membantu pasien untuk bergerak
menggunakan poin-poin penting dari control seperti : kepala, bahu dan
panggul dan memandu gerakan seluruh tubuh. NDT melibatkan postur
dan gerakan spesifik, berpusat pada menekankan aktivitas fungsional
dan partisipasi dalam hal yang relevan situasi kehidupan sehari-hari.
Tujuan dari perawatan berkelanjutan ini adalah untuk memaksimalkan
kualitas gerakan dan carry-over keterampilan fungsional untuk
lingkungan yang berbeda, termasuk anak-anak pengaturan rumah, pra
sekolah, sekolah, dan komunitas (Zanon et al, 2017: 3).
Berikut diuraikan prinsip dasar NDT adalah sebagai berikut:
1) Inhibisi

Inhibisi atau menghambat, yaitu menghambat pola gerak


abnormal atau sikap tubuh abnormal. Tekniknya disebut juga RIP
(Refleks Inhibiting Posture). Dengan mengatur posisi penderita
kita dapat menghambat aktifitas reflek abnormal tertentu, misalnya
untuk menghambat spastisitas ekstensor, kita mengatur posisi anak
dalam posisi fleksi.

27
2) Fasilitasi
Teknik ini kita kenal sangat banyak, namun pada saat
ini, kita contohkan adalah memberikan posisi dan gerakan normal.
Teknik ini anak-anak difasilitasi untuk mengenal pola gerkaan
yang normal serta bagaimana memposisikan tubuhnya secara
normal. Fasilitasi yang dimaksud di sini juga berupa fasilitasi
berupa mainan kepada anak-anak yang bertujuan untuk
mengarahkan posisi dan postur anak secara normal.
3) Stimulasi
Dari namanya berarti menstimulir atau merangsang daerah
tertentu untuk mendapatkan reaksi atau respon dari penderita.
Teknik ini biasanya diberikan pada keadaan flacid/hypotonus.
Tekniknya dapat berupa compression, tapping, atau stroking.
Dalam beberapa kasus sering juga diberikan goresan-goresan
batu es. Dalam perkembangannya ketiga teknik tersebut dapat
dikombinasikan.
4) Key Point of Control (KPOC)
KPOC adalah tempat-tempat tertentu yang paling efektif
untuk memberikan inhibisi, fasilitasi dan stimulasi. Biasanya
sendi proximal, seperti panggul, bahu dan sebagainya.
Meskipun yang lain juga dapat diberikan KPOC (Ramadhani,
2016: 13)
d. Manfaat NDT untuk spastisitas
Teknik penanganan yang mengendalikan berbagai rangsangan
sensorik digunakan untuk menghambat spastisitas, reflek abnormal,
dan pola gerakan abnormal, dan juga digunakan untuk memudahkan
otot normal, respon kesetimbangan dan pola pergerakan (Park dan
Kim, 2017: 968).
e. Dosis NDT
Dosis NDT dilakukan selama 35 menit per hari dengan frekuensi
3x per minggu selama 4 minggu (Park dan Kim, 2017: 966).

28
8. Penelitian Terdahulu
a. Chandan dan Vaidya (2014). Terapi myofascial dapat didefinisikan
sebagai "fasilitasi mekanis, potensi adaptasi saraf dan psiko fisiologis
sebagai interfaced oleh sistem myofascial”. Tujuan dari pelepasan
myofascial yang mendalam adalah untuk lepaskan batasan (hambatan)
di dalam lapisan fascia yang lebih dalam. Ini dicapai dengan
peregangan komponen elastis otot fascia, bersama dengan silang, dan
mengubah viskositas dari substansi dasar fascia. Teknik Myofascial
Release (MFR) digunakan dalam rentang yang luas pengaturan dan
diagnosis; nyeri, pembatasan gerakan, kejang, spastisitas, disfungsi
neurologis, yaitu, cerebral palsy, cedera kepala dan kelahiran,
Cardiovascular Accidents, skoliosis. Pelepasan Myofascial dan
peregangan statis diharapkan memilik efek pada otot-otot
spastik/ketat, kemanjuran dari metode ini perlu didirikan dalam
praktek klinis. Selain itu, ada beberapa penelitian yang dilakukan pada
Myofascial untuk mengurangi kelenturan yang menunjukkan segera &
efek jangka pendek. ada bukti yang tersedia tidak cukup tersedia
untuk efek teknik MFR pada spastisitas, sehingga penelitian ini focus
untuk mengetahui efektivitas Myofascial Release pada otot betis, otot
hamstring dan otot adduktor kelenturan pinggul di spastik subyek
diplegik.
b. Bhalara dan Talsaniya (2014). Peningkatan tonus otot bertanggung
jawab atas kegagalan relatif otot pertumbuhan dan dapat
menghasilkan fungsional masalah. Deformitas spastik yang lebih
rendah anggota badan mempengaruhi ambulasi, posisi tidur, duduk,
kegiatan tingkat kursi, transfer, dan berdiri. Ada tiga tujuan potensial
mengobati kelenturan untuk meningkatkan fungsi, untuk mengurangi
risiko yang tidak perlu komplikasi dan meringankan rasa sakit. Secara
tradisional pengobatan sesak pada anak-anak dengan kelenturan
terutama terdiri dari teknik yang melibatkan peregangan statis,
penguatan otot-otot antagonis, penggunaan orthosis dan pendidikan
postural dll. Beberapa pihak berwenang juga merekomendasikan

29
Myofascial pelepasan menyebabkan perpanjangan kejang otot dengan
komponen sesak. Terapi myofascial dapat didefinisikan sebagai
“Fasilitasi mekanik, saraf dan potensi adaptasi psikis fisiologis sebagai
dihubungkan dengan sistem myofascial ”. Pelepasan Myofascial dan
Statik peregangan diharapkan berpengaruh otot-otot spastik / ketat,
khasiat ini metode perlu ditetapkan secara klinis praktek. Tidak cukup
diterbitkan bukti tersedia untuk efek MFR teknik pada spastisitas, jadi
penelitian ini fokus pada efek jangka pendek dari Peregangan dan
MFR pada kelenturan otot betis di spastik pasien diplegik dan
membandingkan efeknya populasi yang sama.
c. Ratnasari dan Susanti (2010). Neuro Development Treatment (NDT)
adalah suatu teknik yang dikembangkan oleh Karel dan Bertha
Bobath. Metode ini khususnya ditujukan untuk menangani gangguan
sistem saraf pusat pada bayi dan anak-anak, Tujuan pelaksanaan
metode Neuro Development Treatment (NDT) adalah menghambat
pola gerak abnormal, normalisasi tonus dan fasilitasi gerakan yang
normal, serta meningkatkan kemampuan aktivitas pasien. NDT yang
direkomendasikan oleh Bobath yaitu suatu metode yang didasarkan
pada neurologi dan reflek-reflek primitif serta fasilitasi dari
keseimbangan yang lebih tinggi dari reflek righting yang dipersiapkan
untuk ketrampilan di kemudian hari.

30
B. KERANGKA TEORI

Kejadian Cerebal Palsy

Pre natal Natal Post natal

Virus Letak bayi Trauma


sungsang kepala

Cerebal Palsy

Ataxic Spastik Athetoid

-Hipertonus -Kelemahan
-Gangguan otot
Tetraplegi -Pergerakan
motorik kasar
involunteer
-Gangguan yang
-Tonus otot yang
keseimbangan berlebihan
meningkat

Diplegi -Refleks primitif (Moro, Hemiplegi


refleks leher otomatis)
tetap lebih lama dari
-Kekakuan Otot -Kelemahan
biasanya
-Spastisitas pada lengan
-Postur fleksi pada
-Gangguan tumbuh dan kepala
ekstremitas atas
kembang motorik -paresis pada
kaki
Fisoterapi

Myofascial Release (MR) Neuro Development Treatment (NDT)

Penurunan Spastisitas

Gambar 2.7 Kerangka Teori


Modifikasi Teori (Kumar&Vidya, 2014;Panteliadis et al, 2015;Ramadhani, 2016)

31
Keterangan :
Tidak diteliti :
Diteliti :

C. KERANGKA KONSEP

Variabel Bebas Variabel Terikat

Myofascial Release
(MR)
Spastisitas anak cerebal
palsy
Neuro Development
Treatment (NDT)

Gambar 2.8 Kerangka Konsep

D. HIPOTESIS PENELITIAN
H0 : Tidak ada pengaruh pemberian MR terhadap spastisitas pada anak
CP
Tidak ada pengaruh pemberian NDT terhadap spastisitas pada
anak CP
Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian MR dan NDT terhadap
spastisitas pada anak CP
Ha : Ada pengaruh pemberian MR terhadap spastisitas pada anak CP
Ada pengaruh pemberian NDT terhadap spastisitas pada anak CP
Ada perbedaan pengaruh pemberian MR dan NDT terhadap
spastisitas pada anak CP

32