Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL HASIL PENELITIAN

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL


AKAR, BUNGA, DAN DAUN TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L.
POIR)
Neng Fisheri Kurniati1*, Afrillia Nuryanti Garmana1, Nur Aziz1

Informasi Penulis ABSTRAK


1Departemen
Pada masa kini semakin banyak ditemukan kasus infeksi terhadap bakteri dan jamur termasuk
Farmakologi-Farmasi terhadap mikroba yang resisten. Pengembangan agen antimikroba baru perlu dilakukan dan
Klinik, Sekolah Farmasi, salah satunya dapat berasal dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Institut Teknologi aktivitas antibakteri dan antijamur ekstrak etanol akar, bunga, dan daun turi (Sesbania
Bandung, grandiflora L. Poir) terhadap mikroba uji, di antaranya Staphylococcus aureus, Methicilin-
Jl. Ganesa 10 Bandung resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Candida
albicans. Aktivitas antibakteri dan antijamur ditentukan dengan metode mikrodilusi untuk
Korespondensi mendapatkan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum
Neng Fisheri Kurniati (KBM) masing-masing ekstrak terhadap mikroba uji. Selanjutnya dilakukan penentuan sifat
E-mail: kombinasi dari ekstrak yang potensial sebagai antimikroba dengan obat sintetik seperti
nfkurniati@fa.itb.ac.id vankomisin atau meropenem dengan metode difusi agar menggunakan pita kertas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga ekstrak etanol bagian tanaman turi, hanya bagian
daun yang memiliki aktivitas antimikroba, yaitu terhadap S. aureus, MRSA, dan C. albicans.
Aktivitas ekstrak etanol daun turi terhadap MRSA memiliki KHM dan KBM yang paling rendah
secara berturut-turut yaitu 64 dan 2048 μg/mL. Kombinasi ekstrak etanol daun turi dengan
vankomisin atau meropenem terhadap MRSA bersifat aditif.
Kata kunci: Antibakteri, Antijamur, Sesbania grandiflora L. Poir, KHM, KBM

ANTIBACTERIAL AND ANTIFUNGAL ACTIVITIES OF ETHANOL EXTRACT OF THE


ROOTS, FLOWERS, AND LEAVES OF TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L. POIR)

ABSTRACT
Nowadays, the cases of infection by bacteria and fungi including resistant microbes are
increasing. The development of new antimicrobial agents needs to be done and one of them can
be derived from natural sources. This study aims to determine antibacterial and antifungal
activity of ethanol extract of the roots, flowers, and leaves of turi (Sesbania grandiflora L. Poir)
against some microbes including Staphylococcus aureus, Methicillin-resistant Staphylococcus
aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and Candida albicans. Antibacterial
and antifungal activity was determined by microdilution method to obtain the value of
Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal/Fungicidal Concentration
(MBC) of each extract against tested microbes. Furthermore, the determination of the extract
with potential activity in combination with synthetic drugs (i.e. vancomycin or meropenem)
using agar diffusion method by using paper strips. Of the three ethanol extracts of different part
of turi, only the leaves part have a potential antimicrobial activity against S. aureus, MRSA, and
C. albicans. The lowest values of MIC and MBC were showed in the ethanol extract of turi leaves
against MRSA which were 64 dan 2048 μg/mL, respectively. The combination of the ethanol
extract of turi leaves with vancomycin or meropenem against MRSA showed an additive
interaction.
Keywords: Antibacterial, Antifungal, Sesbania grandiflora L. Poir, MIC, MBC

Acta Pharmaceutica Indonesia  2017 Vo. 42  No. 1 hlm. 1-8


Kurniati et al.

Pendahuluan aktivitas antibakteri akar turi terhadap bakteri


Gram positif dan Gram negatif antara lain S.
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri aureus, Staphylococcus epidermis, E. coli, dan B.
atau jamur merupakan salah satu penyakit dengan subtilis menyimpulkan bahwa ekstrak etanol akar
prevalensi tinggi di dunia, termasuk di wilayah turi memiliki aktivitas antibakteri terhadap
Indonesia. Pengobatan terhadap penyakit infeksi keempat bakteri tersebut. Penelitian lain terhadap
dilakukan dengan menggunakan suatu antibiotik. akar turi yang dilakukan oleh Hasan et al. (2012)
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyimpulkan bahwa ekstrak metanol akar turi
memicu terjadinya resistensi. memiliki aktivitas inhibisi yang moderat terhadap
bakteri Mycobacterium tuberculosis H37Rv,
Menurut CDC U.S. Department of Health and sedangkan isolat isoflavonoid yang terdapat
Human Services pada tahun 2013, sedikitnya dalam akar turi memiliki aktivitas kuat terhadap
23.000 orang meninggal dunia setiap tahunnya bakteri M. tuberculosis H37Rv.
sebagai akibat penyakit infeksi yang disertai
dengan resistensi antibiotik. Fenomena resistensi Pada saat ini belum ada penelitian yang
antibiotik yang terus berkembang dapat diatasi membandingkan aktivitas antibakteri dari bagian
salah satunya dengan pengembangan obat-obat tanaman turi yang terdiri dari akar, bunga, dan
antibiotik baru. Pengembangan obat-obat daun turi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan
antibiotik baru tersebut dapat bersumber dari dengan tujuan untuk mencari bagian tanaman turi
bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri yang memiliki aktivitas antibakteri terbaik
ataupun antijamur. terhadap beberapa mikroba patogen, antara lain
bakteri Gram positif yaitu S. aureus dan Methicilin-
Turi (Sesbania grandiflora L. Poir) merupakan resistant S. aureus (MRSA), bakteri Gram negatif
tanaman asli Asia yang tersebar luas di daerah yaitu E. coli dan P. aeruginosa, serta jamur C.
tropis antara lain India, Malaysia, Filipina, dan albicans. Selain itu dilakukan pula penentuan
Indonesia. Turi termasuk ke dalam keluarga interaksi antara ekstrak etanol bagian tanaman
kacang-kacangan atau Fabaceae. Terdapat dua turi yang memiliki potensi paling besar terhadap
jenis turi dibedakan menurut warna bunganya, mikroba yang diujikan dengan obat antibiotik
antara lain turi berbunga putih yang disebut yang beredar di pasaran. Pada penelitian ini
sebagai turi putih, dan turi berbunga merah violet dilakukan penentuan interaksi ekstrak daun turi
disebut turi merah (Rachi et al. 1979; Heyne dengan antibiotik vankomisin dan meropenem
1987). Pemanfaatan tanaman turi di masyarakat terhadap MRSA. Efek antimikroba dievaluasi
terbatas pada bagian bunganya (Utami 2008). dengan penentuan nilai Konsentrasi Hambat
Bunga turi banyak dimanfaatkan sebagai sayuran Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh
(Winarto dan Lentera 2004). Minimum (KBM) dari masing-masing ekstrak
tanaman terhadap mikroba uji dengan metode
Berdasarkan penelitian Padmalochana dan Rajan mikrodilusi. Interaksi ekstrak daun turi dengan
(2014) diketahui bahwa ekstrak etanol daun turi vankomisin dan meropenem ditentukan dengan
memiliki aktivitas antimikroba pada semua metode pita kertas, yaitu dengan melihat pola
mikroba uji, antara lain Escherichia coli, hambatan pertumbuhan mikroba yang terbentuk
Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, di sekitar pita kertas yang mengandung ekstrak
Klebsiella pneumonia, Bacillus subtilis, Candida sp,
dan antibiotik yang diujikan.
dan Klebsiella planticola dengan zona inhibisi
maksimum pada bakteri S. aureus dan Candida sp.
Penelitian yang lain dilakukan oleh China et al.
Percobaan
(2012) menyatakan bahwa ekstrak polifenol
Pengumpulan dan Penyiapan Bahan
bunga turi memiliki aktivitas inhibisi terhadap
pertumbuhan bakteri, antara lain S. aureus,
Tanaman turi diperoleh dari Kampung Jagan, Desa
Shigella flexneri, Salmonella typhi, E. coli, dan
Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.
Vibrio cholerae. Penelitian yang dilakukan oleh
Bagian tanaman turi meliputi akar, bunga, dan
Manigandan dan Muzammil (2013) yang menguji

2
Acta Pharm. Ind. 2017, 42 (1) : 1-8

daun dikeringkan selama sehari di bawah sinar mendidih sambil diaduk rata selama 15 menit
matahari selanjutnya dikeringkan di dalam oven kemudian disterilisasi dengan menggunakan
selama beberapa hari untuk kemudian digiling autoklaf selama 15 menit pada suhu 121°C.
menjadi serbuk simplisia. Determinasi tanaman
dilakukan di Herbarium Bandungense, Program Media kultur untuk mikroba uji berupa sejumlah 5
Studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, mL media agar yang telah disiapkan sebelumnya,
Institut Teknologi Bandung. dimasukkan dalam tabung reaksi. Tabung reaksi
yang telah berisi media agar tersebut kemudian
Mikroba Uji disumbat dan disterilisasi dengan menggunakan
autoklaf. Kemudian tabung reaksi tersebut
Mikroba uji yang digunakan, antara lain S. aureus, diletakkan dalam posisi miring dan dibiarkan
MRSA, E. coli, P. aeruginosa, dan C. albicans, memadat. Kemudian kultur murni bakteri atau
diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi jamur yang telah didapat sebelumnya digores
Analisis, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi pada agar miring menggunakan ose bundar, lalu
Bandung (ITB). Alat-alat yang digunakan dibiarkan selama 18-24 jam dalam inkubator
disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada bersuhu 35±2˚C untuk bakteri, dan inkubator
suhu 121°C dengan tekanan 15 psi selama 15 bersuhu 28±2˚C untuk jamur, sebelum digunakan
menit. Pengerjaan yang berhubungan dengan pada percobaan.
mikroba dilakukan pada lingkungan yang aseptis.
Selanjutnya dilakukan penyiapan inokulum
Ekstraksi Bahan Uji mikroba uji yang disuspensikan dalam media cair
dan diinkubasikan selama 18-24 jam dalam
Ekstraksi simplisia akar, bunga, dan daun turi inkubator bersuhu 35±2˚C untuk bakteri, dan
dilakukan dengan alat soxhlet menggunakan inkubator bersuhu 28±2˚C untuk jamur. Suspensi
pelarut etanol 96%. Proses ekstraksi dilakukan mikroba tersebut kemudian diencerkan dengan
hingga pelarut di dalam soxhlet tidak berwarna. media cair sehingga didapat absorbansi pada
Ekstrak cair yang diperoleh selanjutnya rentang 0,08-0,13 (1-2×108 CFU/mL)
dipekatkan dengan rotary evaporator. Kemudian menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada
dilakukan pemeriksaan karakteristik mutu panjang gelombang 625 nm (setara dengan 0,5
ekstrak yang meliputi penapisan fitokimia, kadar McFarland). Sebagai blangko digunakan media
sari larut etanol, kadar sari larut air, bobot jenis cair. Setelah persyaratan absorbansi dipenuhi,
1%, dan rendemen ekstrak. Prosedur dilakukan pengenceran 1:20 dengan media cair
pemeriksaan karakteristik mutu ekstrak sehingga didapatkan koloni sebanyak 1×106
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh CFU/mL. Suspensi hasil pengenceran digunakan
Direktorat Pengawasan Obat Tradisional (Depkes dalam pengujian aktivitas antibakteri dan
RI 2000) antijamur dengan metode mikrodilusi.
Pembuatan Media, Inokulum Uji dan Larutan Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum
Ekstrak Uji (KHM)
Media Mueller Hinton Broth (MHB) disuspensikan Aktivitas antibakteri dan antijamur ekstrak akar,
sebanyak 21 gr serbuk Mueller Hinton Broth bunga, dan daun turi ditentukan dengan metode
dalam 1 liter aquades. Media Mueller Hinton Agar mikrodilusi menggunakan microplate. Metode
(MHA) disuspensikan sebanyak 38 g serbuk mikrodilusi merupakan metode yang
Mueller Hinton Agar dalam 1 liter aquades. Media direkomendasikan oleh Clinical and Laboratory
Sabouraud Dextrose Broth (SDB) disuspensi Standards Institute (CLSI). Microplate terdiri dari
sebanyak 30 g serbuk Sabouraud Dextrose Broth 96 sumur, terdiri dari 12 kolom dan 8 baris.
dalam 1 liter aquades. Media Sabouraud Dextrose Kolom pertama digunakan sebagai kontrol negatif
Agar (SDA) disuspensikan sebanyak 65 g serbuk yang diisi dengan 200 μL media pertumbuhan
Sabouraud Dextrose Agar dalam 1 liter aquades. (MHB atau SDB). Kolom kedua digunakan sebagai
Masing-masing suspensi dipanaskan hingga kontrol positif yang diisi dengan 100 μL media

3
Kurniati et al.

pertumbuhan dan 100 μL suspensi mikroba uji. 35±2˚C, kemudian diencerkan dengan
Selanjutnya, semua sisa sumur diisi dengan 100 menggunakan media cair. Selanjutnya 100 μL
μL media pertumbuhan. Pada sumur kolom ke-3 suspensi mikroba tersebut ditambahkan dengan
ditambahkan 100 μL stok larutan ekstrak uji atau 15 mL media agar steril yang belum memadat,
antibiotik (vankomisin atau meropenem) dengan hasil campuran ini kemudian di-vortex hingga
konsentrasi tertentu yang telah disiapkan homogen. Campuran ini selanjutnya dituang ke
sebelumnya. Setelah campuran tersebut homogen, dalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat.
diambil 100 μL dari sumur kolom ke-3 lalu Satu buah pita kertas dicelupkan dalam larutan
dipindahkan ke sumur kolom ke-4. Kemudian ekstrak sementara pita lainnya dicelupkan
langkah tersebut diulangi hingga hasil kedalam larutan antibiotik. Pita kertas yang telah
pengenceran ekstrak telah mengisi sumur kolom kering ini lalu diletakkan di atas media agar yang
ke-12. Pada setiap sumur uji ditambahkan 100 μL telah mengandung bakteri uji dengan pertemuan
suspensi mikroba uji. Semua proses dilakukan pita kertas ini membentuk sudut 90˚. Cawan petri
secara triplo untuk ekstrak uji dan duplo untuk diinkubasikan pada suhu 35±2˚C selama 18-24
pembanding. Microplate diinkubasikan pada suhu jam. Luas hambatan di perpotongan pita kertas
35±2˚C untuk mikroba uji bakteri dan diamati.
diinkubasikan pada suhu 28±2˚C untuk mikroba
uji jamur selama 18-24 jam. KHM adalah Hasil dan Pembahasan
konsentrasi terkecil di mana tidak ada
pertumbuhan mikroba pada sumur yang Pemeriksaan Karakteristik Ekstrak
digunakan, dan diperoleh dengan pengamatan
secara visual dari perbedaan kejernihan sumur Karakterisasi terhadap ekstrak akar, bunga, dan
jika dibandingkan dengan kontrol. daun turi dilakukan meliputi penapisan fitokimia,
kadar sari larut etanol, kadar sari larut air, bobot
Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum jenis 1%, dan perhitungan persentase rendemen.
(KBM) Hasil penapisan fitokimia simplisia dapat dilihat
pada Tabel 1, sementara hasil karakterisasi
Sebanyak 10 mL media agar steril dituangkan ke ekstrak dapat dilihat pada Tabel 2.
dalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat.
Sejumlah larutan diambil menggunakan jarum Öse Tabel 1. Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak.
dari sumur pada plat mikrodilusi yang
menunjukkan nilai KHM serta dari seluruh sumur Golongan Bagian Tanaman Turi
lainnya yang berada di atas nilai KHM. Larutan Senyawa Akar Bunga Daun
tersebut kemudian digoreskan ke atas permukaan
media agar yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alkaloid + + +
Cawan petri diinkubasikan pada suhu 35±2˚C Flavonoid + + -
untuk mikroba uji bakteri dan diinkubasikan pada Tanin + - +
suhu 28±2˚C untuk mikroba uji jamur selama 18- Kuinon + - -
24 jam. Media agar yang menunjukkan visualisasi Steroid - - +
kejernihan dan tidak ditumbuhi bakteri
Triterpenoid + + -
ditetapkan sebagai konsentrasi bunuh minimum
(KBM). Saponin + - +
Keterangan:
Penentuan Sifat Kombinasi dengan Metode + = terdeteksi
Difusi Agar Menggunakan Pita Kertas - = tidak terdeteksi

Sifat kombinasi ekstrak uji dengan antibiotik


dilakukan dengan metode difusi agar pita kertas Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun turi
(Fodor dan Lorian 1974). Kultur murni mikroba menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid,
uji disuspensikan dalam media agar dan tanin, steroid, dan saponin. Pada ekstrak etanol
diinkubasikan selama 18-24 jam pada suhu akar turi terdeteksi golongan senyawa alkaloid,

4
Acta Pharm. Ind. 2017, 42 (1) : 1-8

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Karakteristik Ekstrak. perbedaan dalam jumlah senyawa yang larut
dalam etanol dan air. Karakterisasi ekstrak untuk
Hasil Bagian Tanaman Turi
bagian akar dan bunga turi belum pernah
Pemeriksaan (%b/b)
dilaporkan.
Akar Bunga Daun
Pengujian Aktivitas Antimikroba secara In
Kadar sari
46,00 38,53 56,07 Vitro untuk KHM dan KBM
larut air
Kadar sari Pada penelitian ini ketiga ekstrak diuji aktivitas
64,27 64,23 63,90
larut etanol antimikrobanya terhadap bakteri dan jamur.
Bobot jenis Pengujian antibakteri ekstrak diuji terhadap
0,79 0,83 0,78 bakteri Gram positif dan Gram negatif. Bakteri uji
1%*
Gram negatif antara lain S. aureus dan MRSA,
Rendemen sedangkan bakteri uji Gram negatif antara lain E.
5,57 44,57 19,73
ekstrak
coli dan P. aeruginosa. Pengujian antijamur
Keterangan: dilakukan terhadap jamur C. albicans.
* = % g/mL
Hasil pengujian penentuan KHM dan KBM dari
flavonoid, tanin, kuinon, triterpenoid, dan masing-masing ekstrak terhadap mikroba uji
saponin. Sedangkan pada ekstrak bunga turi dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4. Nilai KHM
terdeteksi golongan senyawa alkaloid, flavonoid, ekstrak etanol akar turi terhadap terhadap bakteri
dan triterpenoid. Pada penelitian lain yang Gram positif S. aureus dan MRSA berturut-turut
dilakukan oleh Padmalochana dan Rajan (2014), adalah >4096 dan 1024 µg/mL, sedangkan nilai
ekstrak etanol daun turi selain mengandung KHM terhadap bakteri Gram negatif P. aeruginosa
golongan senyawa tersebut juga dilaporkan dan E. coli yaitu >4096 µg/mL. Nilai KHM
terdapat golongan senyawa flavonoid. Pada terhadap jamur C. albicans yang diperoleh yaitu
ekstrak daun yang digunakan pada penelitian ini >4096 µg/mL. Penentuan nilai KBM tidak
tidak terdeteksi adanya golongan senyawa dilanjutkan untuk hasil nilai KHM yang lebih dari
flavonoid, atau kadar flavonoid di dalamnya 4096 µg/mL karena nilai konsentrasi bunuh
sangat kecil sehingga tidak terdeteksi secara minimum akan selalu lebih tinggi atau sama
kualitatif. Perbedaan hasil skrining fitokimia dengan nilai konsentrasi hambat minimumnya.
tersebut disebabkan oleh sumber tanaman yang Dengan demikian dapat dipastikan untuk
digunakan berasal dari tempat tumbuh yang pengujian yang menghasilkan nilai KHM yang
berbeda sehingga jumlah komponen-komponen lebih dari 4096 µg/mL akan memiliki nilai KBM di
kimia didalamnya juga besar kemungkinan atas 4096 µg/mL. Pengujian KBM ekstrak etanol
berbeda pula. Skrining fitokimia terhadap ekstrak akar turi hanya dilanjutkan terhadap bakteri
etanol bunga dan akar turi belum pernah MRSA, dan diperoleh nilai KBM yaitu >4096
dilaporkan. µg/mL.
Persyaratan mutu untuk ekstrak tumbuhan turi Nilai KHM ekstrak etanol bunga turi terhadap
tidak terdapat di dalam monografi farmakope semua mikroba uji menunjukkan nilai >4096
herbal Indonesia. Karakterisasi ekstrak tumbuhan µg/mL. Dengan demikian, nilai KBM ekstrak
turi yang dilakukan oleh Yadav et al. (2010) etanol bunga turi yaitu >4096 µg/mL terhadap
terhadap ekstrak daun turi menunjukkan bahwa semua mikroba uji. Oleh karena itu, dapat
kadar sari larut alkohol 21,7% dan kadar sari larut disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga turi
air 30,72%. Pada penelitian ini, nilai kadar sari memiliki aktivitas antimikroba yang lemah
larut etanol dan air ekstrak daun yang digunakan terhadap semua mikroba uji, baik itu terhadap
memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan nilai bakteri maupun jamur.
yang dilaporkan pada Yadav et al. (2010), secara
berurutan yaitu 63,90% dan 56,07%. Perbedaan Nilai KHM ekstrak etanol daun turi terhadap
tempat tumbuh tanaman diduga berperan dalam bakteri Gram positif S. aureus dan MRSA berturut-

5
Kurniati et al.

Tabel 3. Data KHM dan KBM untuk Ekstrak dan Pembanding terhadap Bakteri Uji.

Ekstrak Etanol
Tetrasiklin
Bagian Tanaman Turi (µg/mL)
HCl
Bakteri Uji (µg/mL)
Akar Bunga Daun

KHM KBM KHM KBM KHM KBM KHM KBM


S. aureus
>4096 >4096 >4096 >4096 1024 >4096 0,0625 64
(ATCC 6538)
MRSA 1024 >4096 >4096 >4096 64 2048 4 32
E. coli
>4096 >4096 >4096 >4096 >4096 >4096 2 16
(ATCC 8939)
P. aeruginosa
>4096 >4096 >4096 >4096 >4096 >4096 4 64
(ATCC 9027)

Tabel 4. Data KHM dan KBM untuk Ekstrak dan Pembanding terhadap Jamur Uji.

Ekstrak Etanol
Bagian Tanaman Turi (µg/mL) Ketokonazol
Jamur Uji (µg/mL)
Akar Bunga Daun

KHM KBM KHM KBM KHM KBM KHM KBM


Candida
albicans >4096 >4096 >4096 >4096 2048 >4096 64 64
(ATCC 10231)

turut adalah 1024 dan 64 µg/mL, sedangkan nilai diperoleh karena sifat bakteriostatiknya, sehingga
KHM terhadap bakteri Gram negatif P. aeruginosa diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi untuk
dan E. coli adalah > 4096 µg/mL. Nilai KHM dapat membunuh bakteri. Nilai KHM dan KBM
terhadap jamur C. albicans yang diperoleh yaitu antibiotik ketokonazol yaitu 64 µg/mL. KHM dan
2048 µg/mL. Pengujian KBM ekstrak etanol akar KBM untuk ketokonazol bernilai sama karena
turi hanya dilanjutkan terhadap bakteri S. aureus, ketokonazol tergolong dalam antijamur golongan
MRSA, dan jamur C. albicans. Nilai KBM terhadap imidazol dengan mekanisme kerja yang bersifat
bakteri S. aureus dan jamur C. albicans adalah > fungisida sehingga pada konsentrasi hambat
4096 µg/mL, sedangkan terhadap MRSA yaitu minimum yang terukur, antibiotik tersebut sudah
2048 µg/mL. dapat membunuh jamur.

Penentuan nilai KHM dan KBM juga dilakukan Dari keseluruhan data nilai KHM dan KBM
terhadap antibiotik pembanding yaitu tetrasiklin masing-masing ekstrak terhadap mikroba uji
HCl untuk bakteri dan ketokonazol untuk hanya ekstrak etanol daun turi yang menunjukkan
pembanding jamur. Nilai KHM tetrasiklin HCl aktivitas antimikroba yang cukup potensial. Hal
terhadap bakteri uji bervariasi di rentang 0,0625 – tersebut ditunjukkan dengan nilai KHM yang
4 µg/mL, sedangkan nilai KBM yaitu direntang 16 relatif kecil dibandingkan dengan ekstrak lainnya.
– 64 µg/mL. Nilai KHM dan KBM tetrasiklin HCl Ekstrak etanol daun turi menunjukkan nilai KHM
yang bervariasi tersebut bergantung kepada terkecil terhadap bakteri MRSA yaitu 64 µg/mL.
sensitivitas bakteri uji. Nilai hasil uji KBM yang Nilai KHM tersebut tergolong kecil untuk ukuran
relatif jauh lebih besar dari nilai KHM-nya ekstrak mengingat di dalam ekstrak terdapat

6
Acta Pharm. Ind. 2017, 42 (1) : 1-8

bermacam-macam senyawa. Senyawa tunggal vankomisin dan meropenem. Antibiotik


atau kombinasi dari senyawa-senyawa di dalam vankomisin dipilih karena merupakan antibiotik
ekstrak etanol daun turi diduga memiliki aktivitas pilihan utama untuk terapi terhadap MRSA.
yang potensial terhadap bakteri MRSA. Vankomisin termasuk golongan glikopeptida yang
memiliki efektivitas terutama pada bakteri Gram
Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun turi positif dengan mekanisme penghambatan sintesis
lebih baik pada bakteri Gram positif dibandingkan dinding sel bakteri. Kombinasi juga dilakukan
dengan bakteri Gram negatif. Hal ini ditunjukkan terhadap antibiotik meropenem yang juga
dengan nilai KHM yang besar pada semua bakteri merupakan antibiotik pilihan untuk terapi
uji Gram negatif, yaitu di atas 4096 µg/mL. Hasil terhadap infeksi oleh MRSA. Meropenem
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah termasuk ke dalam antibiotik golongan β-lactam
dilakukan oleh Anantaworasakul (2011) dimana dan masuk dalam subgrup karbapenem.
ekstrak dari bagian tanaman turi memiliki Meropenem juga bekerja dengan mekanisme
aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri penghambatan sintesis dinding sel bakteri.
Gram positif.
Metode pengujian yang dilakukan yaitu dengan
Dari hasil pengujian pada penelitian ini juga metode difusi menggunakan pita kertas. Hasil
didapatkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak pengujian ini ditujukan untuk mengetahui sifat
etanol daun turi terhadap MRSA lebih baik interaksi antara ekstrak etanol daun turi terhadap
daripada terhadap S. aureus. Hal ini memerlukan antibiotik vankomisin dan meropenem. Hasil
pengkajian yang lebih dalam terkait mekanisme pengujian kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1
kerja antibakteri yang terjadi, sebab perbedaan dimana terlihat bahwa diameter hambat ekstrak
antara S. aureus dan MRSA hanya terdapat pada dan antibiotik vankomisin atau meropenem pada
afinitasnya terhadap antibiotik golongan penisilin. sudut pertemuan pita kertas tidak menunjukkan
Berbedanya aktivitas ekstrak terhadap bakteri perubahan diameter hambat jika dibandingkan
MRSA dan MSSA juga dilaporkan oleh Dadgar et al. dengan diameter hambat pada sisi pita kertas
(2006). Pada penelitiannya, Dadgar et al. (2006) yang tidak bertemu. Oleh karena itu, interaksi
menemukan perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak etanol daun turi baik terhadap
antara ekstrak air dengan ekstrak etanol Punica vankomisin maupun dengan meropenem
granatum. Ekstrak etanol Punica granatum disimpulkan bersifat aditif, yaitu penggunaan
memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik bersama ekstrak etanol daun turi tidak
terhadap MRSA dibandingkan MSSA. Dadgar et al. mempengaruhi aktivitas obat sintetik, baik
(2006) menyatakan bahwa perbedaan aktivitas terhadap vankomisin ataupun meropenem.
tersebut kemungkinan dikarenakan adanya
perbedaan kandungan senyawa fitokimia yang
terkandung pada masing-masing ekstrak.

Pengujian Kombinasi Obat Sintetik dengan I I


Obat Bahan Alam

Pengujian kombinasi obat sintetik dengan obat II II


bahan alam hanya dilakukan pada ekstrak etanol
daun turi, karena dari pengujian ketiga ekstrak
terhadap semua mikroba uji, hanya ekstrak etanol (a) (b)
daun turi menunjukkan nilai KHM dan KBM yang
cukup potensial untuk dijadikan obat pilihan Gambar 1. Kombinasi ekstrak etanol daun turi
untuk MRSA, baik secara tunggal atau dikombinasi terhadap vankomisin (a) dan meropenem (b)
dengan antibiotik yang lain. Pengujian sifat menunjukkan sifat aditif terhadap MRSA. Keterangan:
I : Pita kertas ekstrak; II : Pita kertas antibiotik
kombinasi dilakukan dengan antibiotik

7
Kurniati et al.

Kesimpulan Staphylococcus aureus, Asian J Plant Sci 5: 861-


866.
Dari pengujian ekstrak etanol dari tiga bagian
tumbuhan turi terhadap semua mikroba uji, hanya Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, 2000,
ekstrak etanol daun turi yang menunjukkan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
aktivitas antimikroba yang potensial yaitu Obat, DepKes RI, Indonesia.
terhadap bakteri Methicilin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) dengan nilai KHM Fodor G, Lorian V, 1974, Technique for
dan KBM berturut-turut yaitu 64 dan 2048 μg/mL. Determining The Bactericidal Effect of Drug
Kombinasi antara ekstrak etanol daun turi dengan Combinations, Antimicrob Agents Chemother
vankomisin atau meropenem terhadap bakteri 5(6): 630–633.
MRSA menunjukkan aktivitas aditif.
Hasan N, Osman H, Mohamad S, Chong WK, Awang
K, Zahariluddin ASM, 2012, The Chemical
Daftar Pustaka Components of Sesbania grandiflora Root and
Their Antituberculosis Activity, J Pharm Sci 5(8):
Anantaworasakul P, Klayraung S, Okonologi S,
882-889. doi: 10.3390/ph5080882
2011, Antibacterial Activities of Sesbania
grandiflora Extracts, Drug Discov Ther 5(1): 12- Heyne K, 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia 2:
17. doi:10.5582/ddt.v5.1.12 971-972. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, Bogor.
China R, Mukerjee S, Sen S, Bose S, Datta S, Koley
H, Ghosh S, Dhar P, 2012, Antimicrobial Activity of Manigandan M, Muzammil MS, 2013,
Sesbania grandiflora Flower Polyphenol Extracts Succeptibility of Sesbania grandiflora Root Extract
on Some Pathogenic Bacteria and Growth Against Problematic Groups of Drug Resistant
Stimulatory Effect on The Probiotic Organism Microbes, Int J PharmTech Res 5(2): 674-678.
Lactobacillus acidophilus, Microbiol Res 167: 500-
506. doi:1 0.1016/j.micres.2012.04.003 Padmalochana K, Rajan MSD, 2014, Antimicrobial
Activity of Aqueous, Ethanol and Acetone Extracts
Clinical and Laboratory Standards Intitute, 2002, of Sesbania grandiflora Leaves and Its
M27-A2—Reference Method for Broth Dilution Phytochemical Characterization, IJPSR 5(12):957-
Antifungal Susceptibility Testing of Yeasts; 962.
Approved Standard—Second Edition, CLSI,
Pennsylvania. Rachie KO, Brenan JPM, Brewbaker JL, Duke JA,
Hutton EM, Hymowitz T, 1979, Tropical Legumes:
Clinical and Laboratory Standards Institute, 2009, Resources for the Future, National Academy of
M07-A08 – Methods Dilution Antimicrobial Sciences, Washington DC, USA.
Succeptibility Tests for Bacteria That Grow
Aerobically Approve Standard, 8th ed., CLSI, Utami P, 2008, Buku Pintar Tanaman Obat:431
Pennsylvania. Tanaman Penggempur Aneka Penyakit.
Agromedia Pustaka, Tangerang.
Control of Disease Control and Prevention, 2013,
Antibiotic Resistance Threats in the United States, Winarto WP, Lentera T, 2004, Memanfaatkan
2013, U.S. Department of Health and Human Tanaman Sayur untuk Mengatasi Aneka Penyakit,
Services, Atlanta, Georgia. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Dadgar T, Asmar M, Saifi A, Mazandarani M, Bayat Yadav P, Harisha CR, Prajapati PK, 2010,
H, Moradi A, Bazueri M, Ghaemi E, 2006, Pharmacognostical and Physicochemical
Antibacterial Activity of Certain Iranian Medicinal Evaluation of Agasti Leaf, Int J Ayurveda Res
Plants Against Methicillin-Resistant and Sensitive 1(4):231-236. doi:10.4103/0974-7788.76787

8