Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia secara umum didefinisikan sebagai berkurangnya volume eritrosit

atau konsentrasi hemoglobin.1 Anemia bukan suatu keadaan spesifik, melainkan

dapat disebabkan oleh bermacam-macam reaksi patologis dan fisiologis. Anemia

ringan hingga sedang mungkin tidak menimbulkan gejala objektif, namun dapat

berlanjut ke keadaan anemia berat dengan gejala-gejala keletihan, takipnea, napas

pendek saat beraktivitas, takikardia, dilatasi jantung, dan gagal jantung.2,3

Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang disebabkan oleh

kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk sintesis hemoglobin.4 Menurut

Dallman, anemia defisiensi adalah anemia akibat kekurangan zat besi sehingga

konsentrasi hemoglobin menurun di bawah 95% dari nilai hemoglobin rata-rata dari

umur dan jenis kelamin yang sama. Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang

mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut

oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.5

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia;

diperkirakan terdapat pada 43% anak-anak usia kurang dari 4 tahun.6 Survei

Nasional di Indonesia (1992) mendapatkan bahwa 56% anak di bawah umur 5 tahun

menderita anemia, pada survei tahun 1995 ditemukan 41% anak di bawah 5 tahun

dan 24-35% dari anak sekolah menderita anemia.7 Gejala yang samar pada anemia

1
2

ringan hingga sedang menyulitkan deteksi sehingga sering terlambat ditanggulangi.

Keadaan ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kematian pada anak.3

Faktor-faktor penyebab anemia defisiensi besi adalah status gizi yang

dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status

kesehatan. Faktor-faktor yang melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia

defisiensi besi di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi rendah

meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta kesehatan pribadi

di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh berbagai faktor,

namun lebih dari 50% kasus anemia yang terbanyak diseluruh dunia secara

langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi.8

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada

pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah

dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat

menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia

defisiensi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah

terkena infeksi.8

Kebutuhan zat besi meningkat pada masa pertumbuhan terutama saat anak-

anak, agar anemia dapat dicegah atau diatasi maka diperlukan pemberian edukasi

mengenai anemia defisiensi besi pada anak-anak yang masih berada dalam tahap

pertumbuhan.

1.2 Sasaran Penyuluhan

Siswa-siswi kelas 4 dan 5 SD Negeri 2 Banua Anyar Banjarmasin

1.3 Tujuan Penyuluhan


3

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan siswa-siswi kelas 4 dan 5 SD

Negeri 2 Banua Anyar Banjarmasin dapat mengetahui dan mencegah anemia

defisiensi besi dengan cara membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan-

makanan yang mengandung zat besi.

1.4 Tempat Pelaksanaan

SD Negeri 2 Banua Anyar Banjarmasin

1.5 Pelaksana

Dokter muda Fakultas Kedokteran ULM yang sedang menjalani stase Ilmu

Kesehatan Masyarakat di Puskesmas 9 November Banjarmasin

1.6 Metode

Ceramah dan sesi tanya jawab.

1.7 Media

Leaflet