Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi dan Epidemiologi Anemia Defisiensi Besi

Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang

dari normal, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan kehamilan.8 Anemia

defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan

besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang

pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang.9 Hemoglobin

merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen dan

karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleh kandungan hemoglobin

(Hb) yang merupakan susunan protein yang kompleks yang terdiri dari protein,

globulin dan satu senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme tesusun

dari suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin yang bagian pusatnya ditempati

oleh logam besi (Fe). Jadi heme adalah senyawa-senyawa porfirin-besi, sedangkan

hemoglobin adalah senyawa kompleks antara globin dengan heme.8 Jika simpanan

zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut

mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan

zat besi yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel

darah merah di dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin terus menurun di

bawah batas normal, keadaan inilah yang disebut anemia defisiensi besi.9

Zat besi merupakan unsur kelumit (trace element) terpenting bagi manusia.

Besi dengan konsentrasi tinggi terdapat dalam sel darah merah, yaitu sebagai bagian

4
5

dari molekul hemoglobin yang menyangkut oksigen dari paru–paru. Hemoglobin

akan mengangkut oksigen ke sel–sel yang membutuhkannya untuk metabolisme

glukosa, lemak dan protein menjadi energi (ATP). Besi juga merupakan bagian dari

sistem enzim dan mioglobin, yaitu molekul yang mirip Hemoglobin yang terdapat

di dalam sel–sel otot. Mioglobin akan berkaitan dengan oksigen dan

mengangkutnya melalui darah ke sel–sel otot. Mioglobin yang berkaitan dengan

oksigen inilah menyebabkan daging dan otot–otot menjadi berwarna merah. Di

samping sebagai komponen Hemoglobin dan mioglobin, besi juga merupakan

komponen dari enzim oksidase pemindah energi, yaitu: sitokrom peroksidase,

xanthine oksidase, suksinat dan dehidrogenase, katalase dan peroksidase.10

Zat besi dalam tubuh terdiri dari dua bagian, yaitu yang fungsional dan yang

reserve (simpanan). Zat besi yang fungsional sebagian besar dalam bentuk

Hemoglobin (Hb), sebagian kecil dalam bentuk myoglobin, dan jumlah yang sangat

kecil tetapi vital adalah heme enzim dan non heme enzim. Zat besi yang ada dalam

bentuk reserve tidak mempunyai fungsi fisiologi selain daripada sebagai buffer

yaitu menyediakan zat besi kalau dibutuhkan untuk kompartmen fungsional.

Apabila zat besi cukup dalam bentuk simpanan, maka kebutuhan akan eritropoiesis

(pembentukan sel darah merah) dalam sumsum tulang akan selalu terpenuhi. Dalam

keadaan normal, jumlah zat besi dalam bentuk reserve ini adalah kurang lebih

seperempat dari total zat besi yang ada dalam tubuh. Zat besi yang disimpan sebagai

reserve ini, berbentuk feritin dan hemosiderin, terdapat dalam hati, limpa, dan

sumsum tulang. Pada keadaan tubuh memerlukan zat besi dalam jumlah banyak,

misalnya pada anak yang sedang tumbuh (balita), wanita menstruasi dan wanita
6

hamil, jumlah reserve biasanya rendah. Pada bayi, anak dan remaja yang

mengalami masa pertumbuhan, maka kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan perlu

ditambahkan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat basal.10

Dalam memenuhi kebutuhan akan zat gizi, dikenal dua istilah kecukupan

(allowance) dan kebutuhan gizi (requirement). Kecukupan menunjukkan

kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi hampir semua orang menurut golongan

umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencapai derajat kesehatan

yang optimal, sedangkan kebutuhan gizi menunjukkan banyaknya zat gizi minimal

yang diperlukan masing-masing individu untuk hidup sehat. Dalam kecukupan

sudah dihitung faktor variasi kebutuhan antar individu, sehingga kecukupan kecuali

energi, setingkat dengan kebutuhan ditambah dua kali simpangan baku. Dengan

demikian kecukupan sudah mencakup lebih dari 97,5% populasi.10 Untuk menjaga

badan supaya tidak anemia, maka keseimbangan zat besi di dalam badan perlu

dipertahankan. Keseimbangan disini diartikan bahwa jumlah zat besi yang

dikeluarkan dari badan sama dengan jumlah besi yang diperoleh badan dari

makanan. Suatu skema proses metabolisme zat besi untuk mempertahankan

keseimbangan zat besi di dalam badan, dapat dilihat pada skema di bawah ini:
7

Setiap hari turn over zat besi ini berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya

harus didapatkan dari makanan. Sebagian besar yaitu sebanyak 34 mg didapat dari

penghancuran sel – sel darah merah tua, yang kemudian disaring oleh tubuh untuk

dapat dipergunakan lagi oleh sumsum tulang untuk pembentukan sel-sel darah

merah baru. Hanya 1 mg zat besi dari penghancuran sel-sel darah merah tua yang

dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit, saluran pencernaan dan air kencing. Jumlah

zat besi yang hilang lewat jalur ini disebut sebagai kehilangan basal (iron basal

losses).10

Berdasarkan data dari “The Third National Health and Nutrition Examination

Survey” (NHANES II), defisiensi besi ditentukan oleh ukuran yang abnormal dari

serum feritin, transferin saturation, dan/atau erythrocyte protophorphyrin dan hal

ini diperkuat dengan pernyataan dari Evatt yang menyatakan bahwa anemia

defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan,besi

tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin, berkurangnya

kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis keadaan

ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan

kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama

anemia. Wanita usia subur sering mengalami anemia, karena kehilangan darah

sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi sewaktu hamil.8,9

Diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia dan lebih dari 50%

penderita ini adalah anemia defisiensi besi terutama yang mengenai bayi, anak

sekolah, ibu hamil dan menyusui. Di Indonesia masih merupakan masalah gizi

utama selain kekurangan kalori protein, vitamin A dan yodium. Penelitian di


8

Indonesia mendapatkan prevalensi ADB pada anak balita sekitar 30-40%, pada

anak sekolah 25-35%. Anemia defisiensi besi mempunyai dampak yang merugikan

bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan

tubuh dan daya konsentrasi serta kemampuan belajar sehingga menurunkan prestasi

belajar di sekolah.11

2.2. Klasifikasi dan Etiologi Anemia Defisiensi Besi

Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan

hemoglobin yang dikandungnya.8

1. Makrositik

Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah

hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu :

a. Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat dan

gangguan sintesis DNA.

b. Anemia Non Megaloblastik adalah eritropoesis yang dipercepat dan

peningkatan luas permukaan membran.

2. Mikrositik

Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi besi,

gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan metabolisme besi

lainnya.

3. Normositik

Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan

kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan,

penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati.


9

Mikrositik Normositik Makrositik


Defisiensi besi Anemia hemolitik Sumsum tulang
Thalassemia kongenital megaloblastik
Keracunan timbal - Hemoglobin mutan - Defisiensi vitamin
kronis - Defek enzim B12
Anemia sideroblastik eritrosit - Defisiensi asam
Inflamasi kronis - Gangguan pada folat
membrane eritrosit Tanpa sumsum tulang
Anemia hemolitik didapat megaloblastic
- Autoimun - Anemia aplastic
- Anemia hemolitik - Hipotiroid
mikroangiopatik - Diamond-
- Sekunder oleh Blackfan
infeksi akut syndrome
Kehilangan darah akut - Penyakit hati
- Infiltrasi sumsum
tulang
- Anemia
diseritropoetik

Adapun penyebab anemia defisiensi besi adalah:

1. Asupan zat besi

Rendahnya asupan zat besi sering terjadi pada orang-orang yang

mengonsumsi bahan makananan yang kurang beragam dengan menu makanan yang

terdiri dari nasi, kacang-kacangan dan sedikit daging, unggas, ikan yang merupakan

sumber zat besi. Gangguan defisiensi besi sering terjadi karena susunan makanan

yang salah baik jumlah maupun kualitasnya yang disebabkan oleh kurangnya

penyediaan pangan, distribusi makanan yang kurang baik, kebiasaan makan yang

salah, kemiskinan dan ketidaktahuan.

2. Penyerapan zat besi

Diet yang kaya zat besi tidaklah menjamin ketersediaan zat besi dalam tubuh

karena banyaknya zat besi yang diserap sangat tergantung dari jenis zat besi dan

bahan makanan yang dapat menghambat dan meningkatkan penyerapan besi.


10

3. Kebutuhan meningkat

Kebutuhan zat besi akan meningkat pada masa pertumbuhan seperti pada

bayi, anak-anak, remaja, kehamilan dan menyusui.8 Pada bayi baru lahir tubuh

mengambil dan menyimpan kembali besi sehingga menyebabkan hematokrit

menurun selama beberapa bulan pertama kehidupan. Oleh karena itu, pada bayi

cukup bulan kekurangan zat besi dari asupan gizi jarang menyebabkan anemia

sampai setelah enam bulan. Pada bayi prematur, kekurangan zat besi dapat terjadi

setelah berat dua kali lipat berat lahir. Penyakit terkait kromosom X seperti

defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), harus dipertimbangkan pada

anak laki-laki. Defisiensi piruvat kinase bersifat autosomal resesif dan berhubungan

dengan anemia hemolitik kronis.12

Peningkatan kebutuhan zat besi pada laki-laki dalam masa pubertas terjadi

dikarenakan adanya peningkatan volume darah, massa otot dan myoglobin

sedangkan pada wanita kebutuhan zat besi setelah menstruasi sangat tinggi karena

jumlah darah yang hilang rata-rata 20 mg zat besi tiap bulan, akan tetapi pada

beberapa individu ada yang mencapai 58 mg. Penggunaan obat kontrasepsi oral

menurunkan jumlah darah yang hilang selama menstruasi, sementara itu alat-alat

intrauterin meningkatkan jumlah darah yang hilang selama menstruasi.9 Kebutuhan

zat besi juga meningkat pada kasus-kasus pendarahan kronis yang disebabkan oleh

parasit.8

4. Kehilangan zat besi

Kehilangan zat besi melalui saluran pencernaan, kulit dan urin disebut

kehilangan zat besi basal. Penurunan absorpsi zat besi melalui saluran cerna dapat
11

terjadi setelah gastrektomi parsial atau total, maupun setelah melakukan bypass

pada bagian proximal usus halus yang merupakan tempat utama absorpsi zat besi.

Pasien dengan diare kronik atau malabsorpsi usus halus juga dapat menderita

defisiensi zat besi, terutama jika duodenum dan jejunum proximal ikut terlibat.9

Pada wanita selain kehilangan zat besi basal juga kehilangan zat besi melalui

menstruasi. Di samping itu kehilangan zat besi disebabkan pendarahan oleh infeksi

cacing di dalam usus.8 Kehilangan zat besi, dapat erjadi secara fisiologis atau

patologis.9

a. Secara Fisiologis :

- Menstruasi

- Kehamilan, pada kehamilan aterm, sekitar 90 mg zat besi hilang dari ibu

kepada fetus, plasenta dan perdarahan pada waktu partus.

b. Secara Patologis :

Perdarahan saluran cerna merupakan penyebab paling sering dan yang

selanjutnya dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Prosesnya sering tiba-tiba.

Selain itu dapat juga karena cacing tambang, pasien dengan telangiektasis herediter

sehinga mudah berdarah, perdarahan traktus gastrourinarius, perdarahan paru

akibat bronkiektasis atau hemosiderosis paru idiopatik.

Yang berisiko mengalami anemia defisiensi zat besi:

- Wanita menstruasi

- Wanita menyusui/hamil karena peningkatan kebutuhan zat besi.

- Bayi, anak-anak dan remaja yang merupakan masa pertumbuhan yang cepat.
12

- Orang yang kurang makan makanan yang mengandung zat besi, jarang,

makan daging dan telur selama bertahun-tahun.

- Menderita penyakit maag.

- Penggunaan aspirin jangka panjang.

- Kanker kolon

- Vegetarian karena tidak makan daging, akan tetapi dapat digantikan dengan

brokoli dan bayam.

2.3. Patofisiologi Anemia Defisiensi Besi

Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga

diperlukan oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat

dalam enzim juga diperlukan untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk

mengaktifkan oksigen (oksidase dan oksigenase). Tanda-tanda dari anemia

defisiensi besi dimulai dengan menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan

bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan dengan meningkatnya kapasitas

pengikatan besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa habisnya simpanan zat besi,

berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang

diubah menjadi heme, dan akan diikuti dengan menurunya kadar feritin serum.

Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Hb.12
13
14

Bila sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan mengakibatkan

konsentrasi feritin serum rendah. Kadar feritin serum dapat menggambarkan

keadaan simpanan zat besi dalam jaringan. Dengan demikian kadar feritin serum

yang rendah akan menunjukkan orang tersebut dalam keadaan anemia defisiensi

besi bila kadar feritin serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila

kadar feritin serum normal tidak selalu menunjukkan status besi dalam keadaan

normal. Karena status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan kadar

feritin.11

2.4. Gejala Klinik Anemia Defisiensi Besi

Ada banyak gejala dari anemia, setiap individu tidak akan mengalami seluruh

gejala, terutama jika anemianya sangat ringan gejalanya mungkin tidak tampak.
15

Beberapa gejalanya antara lain; warna kulit yang pucat, mudah lelah, peka terhadap

cahaya, pusing, lemah, napas pendek, lidah kotor, kuku sendok, selera makan turun,

sakit kepala (biasanya bagian frontal).

Defisiensi zat besi mengganggu proliferasi dan pertumbuhan sel terutama

gangguan sel dari sumsum tulang, setelah itu sel dari saluran makan. Akibatnya

banyak tanda dan gejala anemia defisiensi besi terlokalisasi pada sistem organ ini:

- Atropi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil

lidah menghilang.

- Stomatitis angularis (cheilosis); adanya keradangan pada sudut mulut

sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan

- Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklhloridia.

- Selaput pascakrikoid (Sindrom Plummer-Vinson) ; kesulitan dalam menelan,

pada defisiensi zat besi jangka panjang.

- Koilonikia (kuku berbentuk sendok): karena pertumbuhan lambat dari lapisan

kuku.

- Koilonychia; kuku sendok (spoon nail), karena pertumbuhan lambat dari

lapisan kuku, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical dan menjadi cekung

sehingga mirip seperti sendok.

- Menoragia ; gejala yang biasa pada perempuan dengan defisiensi besi.

- Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.

Dampak anemia defisiensi besi pada anak-anak dapat menurunkan

kemampuan dan konsentrasi belajar, menghambat pertumbuhan fisik dan

perkembangan kecerdasan otak dan meningkatkan risiko menderita penyakit


16

infeksi karena daya tahan tubuh menurun.9 Faktor penting lainnya dalam aspek

defisiensi besi adalah aktivitas fungsional sel fagositosis. Dalam hal ini, defisiensi

besi dapat mengganggu sintesa asam nukleat mekanisme seluler yang

membutuhkan metaloenzim yang mengandung Fe. Schrimshaw melaporkan bahwa

sel-sel sumsum tulang dari penderita kurang besi mengandung asam nukleat yang

sedikit dan laju inkorporasi (3H) thymidin menjadi DNA menurun. Kerusakan ini

dapat dinormalkan dengan terapi besi. Sebagai tambahan, kurang tersedianya zat

besi untuk enzim nyeloperoksidase menyebabkan kemampuan sel ini membunuh

bakteri menurun.10

Anak-anak yang menderita defisiensi besi menyebabkan persentase limfosit

T menurun, dan keadaan ini dapat diperbaiki dengan suplementasi besi.

Menurunnya produksi makrofag juga dilaporkan oleh beberapa peneliti. Secara

umum sel T, di mana limfosit berasal, berkurang pada hewan dan orang yang

menderita defisiensi besi. Terjadi penurunan produksi limfosit dalam respons

terhadap mitogen, dan ribonucleotide reductase juga menurun. Semuanya ini dapat

kembali normal setelah diberikan suplemen besi.10

2.5. Penegakkan Diagnosis Anemia Defisiensi Besi

Anak anemia berkaitan dengan gangguan psikomotor, kognitif, prestasi

sekolah buruk, dan dapat terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan. Oleh

karena itu diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik teliti untuk mendeteksi dan

menentukan penyebabnya sehingga pemeriksaan laboratorium dapat seminimal

mungkin.2
17

1) Anamnesis

- Riwayat faktor predisposisi dan etiologi :

a. Kebutuhan meningkat secara fisiologis terutama pada masa pertumbuhan

yang cepat, menstruasi, dan infeksi kronis

b. Kurangnya besi yang diserap karena asupan besi dari makanan tidak adekuat

c. Malabsorpsi zat besi

d. Perdarahan terutama perdarahan saluran cerna (tukak lambung, penyakit

Crohn, colitis ulserativa)

- Pucat, lemah, lesu, gejala pika

2) Pemeriksaan fisik

a. Anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan limfadenopati

b. Stomatitis angularis, atrofi papil lidah

c. Takikardi, murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantung

3) Pemeriksaan penunjang8

a. Hemoglobin, hematokrit dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun

Menurut WHO, nilai batas hemoglobin (Hb) yang dikatakan anemia gizi besi

untuk wanita remaja adalah <12 gr/dl dengan nilai besi serum <50 mg/ml dan nilai

feritin <12 mg/ml. Nilai ferritin merupakan refleksi dari cadangan besi tubuh

sehingga dapat memberikan gambaran status besi seseorang. Untuk menentukan

kadar Hb darah, salah satu cara yang digunakan adalah metoda

Cyanmethemoglobin. Cara ini cukup teliti dan dianjurkan oleh International

Committee for Standardization in Hemathology (ICSH). Menurut cara ini darah

dicampurkan dengan larutan drapkin untuk memecah hemoglobin menjadi


18

cyanmethemoglobin, daya serapnya kemudian diukur pada 540 nm dalam

kalorimeter fotoelekrit atau spektrofotometer. Cara penentuan Hb yang banyak

dipakai di Indonesia ialah Sahli. Cara ini untuk di lapangan cukup sederhana tapi

ketelitiannya perlu dibandingkan dengan cara standar yang dianjurkan WHO.

Hemoglobin (gr/dl) Hematokrit (%) MCV (µm3)


Umur
Batas Batas Batas
(tahun) Mean Mean Mean
bawah bawah bawah
0,5 -1,9 12,5 11,0 37 33 77 70
2-4 12,5 11,0 38 34 79 73
5-7 13,0 11,5 39 35 81 75
8-11 13,5 12,0 40 36 83 76
12-14
Pria 13,5 12,0 41 36 85 78
Wanita 14,0 12,5 43 37 84 77
15-17
Pria 14,0 12,0 41 36 87 79
Wanita 15,0 13,0 46 38 86 78
18-49
Pria 14,0 12,0 42 37 90 80
Wanita 16,0 14,0 47 40 90 80

b. Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik

c. Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat, saturasi ferritin

menurun

Kadar besi dan Total Iron Binding Capacity (TIBC) dalam serum merupakan

salah satu hal yang dapat menentukan status besi. Pada saat kekurangan zat besi,

kadar besi menurun dan TIBC meningkat, rasionya yang disebut dengan TS. TS <

dari 16 % maka orang tersebut defisiensi zat besi.

d. Kadar feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin (FEP)

meningkat
19

Feritin diukur untuk mengetahui status besi di dalam hati. Bila kadar SF <12

mg/dl maka orang tersebut menderita anemia defisiensi besi. Bila kadat zat besi

dalam darah kurang maka sirkulasi FEP dalam darah meningkat. Kadar normal FEP

35-50 mg/dl RBC (red blood cells).

e. Sumsum tulang: aktifitas eritropoitik meningkat

2.6. Diagnosis banding Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya,

seperti:13

1. Thalasemia (khususnya thalasemia minor) :

- Hb A2 meningkat

- Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.

2. Anemia karena infeksi menahun :

- Biasanya anemia normokromik normositik. Kadang-kadang terjadi anemia

hipokromik mikrositik.

- Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.

3. Keracunan timah hitam (Pb) :

- Terdapat gejala lain keracunan P.

- Terdapat ring sideroblastik pada pemeriksaan sumsum tulang.1

- Anemia sideroblastik

2.7. Terapi dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Defisiensi zat besi berespons sangat baik terhadap pemberian obat oral seperti

garam besi (misalnya sulfas ferosus) atau sediaan polisakarida zat besi (misalnya
20

polimaltosa ferosus). Terapi zat besi yang dikombinasikan dengan diit yang benar

untuk meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C dapat meningkatkan

penyerapan zat besi. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan

250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-

buahan segar dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 -

80 % vitamin C akan rusak. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat

penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat, dan tannin.8 Dalam makanan terdapat 2

macam zat besi yaitu besi heme dan besi non heme. Besi non heme merupakan

sumber utama zat besi dalam makanannya. Terdapat dalam semua jenis sayuran

misalnya sayuran hijau, kacang-kacangan, kentang dan sebagian dalam makanan

hewani. Sedangkan besi heme hampir semua terdapat dalam makanan hewani

antara lain daging, ikan, ayam, hati dan organ – organ lain.10

CDC merekomendasikan penggunaan elemen zat besi sebesar 60 mg, 1-2 kali

perhari bagi remaja yang menderita anemia. Contoh dari suplemen yang

mengandung zat besi dan kandungan elemen zat besi dapat dilihat pada tabel di

bawah ini.

Supplement Total iron (mg) Elemental Iron (mg)


Ferrous sulfate 324 66
Ferrous gluconate 325 36
Feostat chewable 100 33
Feostat liquid 100 33/5 ml
Slow Fe 160 50
Fe 50 extended release 160 50
Ferro-Sequels timed release 50 50
Feosol caplets 50 50
Sumber: Drug facts and comparisons. St. Louis, MO: Facts and Comparisons, 1998.

Terapi zat besi oral pada bayi dan anak terapi besi elemental diberikan dibagi

dengan dosis 3-6 mg/kgBB/hari diberikan dalam dua dosis, 30 menit sebelum
21

sarapan pagi dan makan malam. Terapi zat besi diberikan selama 1 sampai 3 bulan

dengan lama maksimal 5 bulan. Enam bulan setelah pengobatan selesai harus

dilakukan kembali pemeriksaan kadar Hb untuk memantau keberhasilan terapi.

Efek samping dari pemberian besi peroral adalah mual, ketidaknyamanan

epigastrium, kejang perut, konstipasi dan diare. Efek ini tergantung dosis yang

diberikan dan dapat diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet segera

setelah makan atau bersamaan dengan makanan atau menggunakan preparat yang

mengandung elemen besi yang rendah, salah satunya glukonat ferosus.14

Fortifikasi zat besi adalah penambahan zat besi ke dalam bahan pangan untuk

meningkatkan kualitas pangan. Kesulitan untuk fortifikasi zat besi adalah sifat zat

besi yang reaktif dan cenderung mengubah penampilan bahan yang di fortifikasi.

Sebaliknya fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna, penampakan dan daya

simpan bahan pangan. Selain itu pangan yang difortifikasi adalah yang banyak

dikonsumsi masyarakat seperti tepung gandum untuk pembuatan roti.14

Terapi zat besi intramuskular atau intravena dapat dipertimbangkan bila

respon pengobatan oral tidak berjalan baik, efek samping dapat berupa demam,

mual, urtikaria, hipotensi, nyeri kepala, lemas, artragia, bronkospasme sampai

relaksi anafilaktik.14 Kompleks dekstran zat besi dapat digunakan melalui suntikan

intramuskular setelah tes dengan dosis 25 mg untuk reaksi alergi.

- 100 mg dekstran-zat besi, per sesi terapi. Pemberian dapat diulang setiap

minggu sampai cadangan zat besi terpenuhi. Traktus Z sebaiknya digunakan

pada suntikan untuk mencegah mengembunnya gabungan tersebut kedalam


22

dermis, yang dapat menghasilkan pewarnaan kulit yang tidak dapat

dihilangkan.

- Pemberian secara intravena dapat dilakukan pada pasien yang tidak dapat

menerima suntikan intramuskular atau yang memerlukan koreksi defisiensi

zat besi lebih cepat. Pendekatan yang paling nyaman adalah dengan

mengencerkan 500 mg campuran tersebut kedalam 100 ml cairan normal salin

dan memasukkan dosis percobaan sebanyak 1 ml. Jika tidak terjadi reaksi

alergi, sisa solusi dapat diberikan dalam 2 jam. Pemberian intravena sampai

4 g zat besi dalam satu keadaan memungkinkan koreksi defisiensi zat besi

dalam satu sesi. Sekitar 20% dari pasien mengalami artralgia, menggigil dan

demam yang tergantung dari dosis yang diberikan dan dapat berlangsung

sampai beberapa hari setelah infus. Zat besi-dekstran harus digunakan secara

hemat, jika perlu, pada semua pasien dengan artritis reumatoid, karena gejala

tersebut secara nyata dipacu oleh penyakit ini. Obat anti inflamasi non steroid

biasanya mengatur gejala tersebut. Anafilaksis, komplikasi serius

penggunaan zat besi-dekstran, jarang muncul. Jika gejala awal muncul, infus

dihentikan dan perbaikan keadaan dengan benadril dan epinefrin dapat

dimulai. Jumlah zat besi yang diperlukan untuk penggantian dapat dihitung

dari defisit massa sel darah merah, dengan tambahan 1000 mg untuk

mengganti cadangan tubuh. Transfusi darah jarang diperlukan kecuali untuk

pasien dengan anemia defisiensi zat besi yang berat yang mengancam fungsi

kardiovaskular atau serebrovaskular.


23

Transfusi darah diberikan apabila gejala anemia disertai risiko terjadinya

gagal jantung yaitu pada kadar Hb 5-8g/dL. Komponen darah yang diberikan

berupa suspensi eritrosit (PRC) diberikan secara serial dengan tetesan lambat.14

Penyakit infeksi dan parasit merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi.

Dengan menanggulangi penyakit infeksi dan memberantas parasit diharapkan bisa

meningkatkan status besi tubuh.

Setelah dilakukan intervensi selanjutnya dilakukan pemantauan dengan cara

memeriksakan kadar hemoglobin setiap 2 minggu dikarenakan retikulositosis

dimulai 3-4 hari, dengan puncaknya sekitar 10 hari. Pasien dapat tidak berespon

dengan penggantian zat besi sebagai akibat dari:

- Diagnosis yang tidak benar.

- Ketidakpatuhan orangtua dalam memberikan obat tablet besi (Fe) pada anak

- Kehilangan darah melampaui kecepatan penggantian.

- Supresi sumsum tulang oleh tumor, radang kronik, dll.

- Malabsorpsi, sangat jarang akan tetapi jika terjadi, diperlukan penggantian

zat besi parenteral.

Hal yang lain yang perlu dipantau efek samping dalam pemberian zat besi

yang berupa gejala gangguan gastrointestinal misalnya konstipasi, diare, rasa

terbakar diulu hati, nyeri abdomen dan mual. Gejala lain dapat berupa pewarnaan

gigi yang bersifat sementara. Tumbuh kembang anak juga perlu dipantau dengan

cara melakukan penimbangan berat badan setiap bulan, mengontrol perubahan

tingkah laku dan aktivitas motorik anak, memantau daya konsentrasi dan

kemampuan belajar pada anak dengan konsultasi ke ahli psikologi.15