Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

METODE ELEKTRIK DAN EM

Modul EM - 01

Pengenalan dan Akuisisi Data Metode Magnetotelluric

Disusun oleh:

Berliana Ayu Aprilia 140710160006

PROGRAM STUDI GEOFISIKA DEPARTEMEN GEOFISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2018
BAB I
AKTIVITAS PRAKTIKUM

Praktikum Modul EM – 01 bertujuan untuk mengetahui metode Eelektromagnetik, mengetahui


metode Magnetotelluric (MT), serta mengetahui prinsip akuisisi dari metode MT. Praktikum
berisi pengolahan data MT. Data ini terdiri dari dua tipe, yaitu data AMT (Audio
Magnetotelluric) dan MT (magnetotelluric). Pengolahan data ini menggunakan software SSMT
2000 dan MTeditor. Dalam pengolahan data, yang pertama adalah pengolahan data AMT.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

A. Pengolahan Data AMT

1. Mempersiapkan data AMT.

2. Membuka software SSMT 2000 untuk melakukan robust processing.

Gambar 1. Tampilan SSMT 2000

3. Kemudian lihat kolom site parameter, lalu pilih folder yang berisi data AMT. Data
tersebut disimpan dalam Folder C  DATA MAGNETOTELLURIC  04.
TOMORI  TR02A. Data yang akan di robust adalah data TS2, TS3, dan TS4.
Gambar 2. Mencari folder

4. Kemudian ceklis pada kolom dibawah yaitu pada TR02.TBL,

Gambar 3. Membuka folder 02-TS3


Gambar 6. Membuka folder 02-TS2

Gambar 7. Membuka folder 02-TS4

5. Kemudian pilih tampilan Edit TBL untuk mengedit input-an data.


Gambar 4. Menu Edit TBL

6. Maka akan muncul jendela untuk mengedit input-an data. Kemudian mengganti
format namanya menjadi TR02A21A. TRA02A21A merupakan format tipe untuk
data AMT. Kemudian mengganti nilai Ex k Ohm.m menjadi 0.35, serta nilai Ex aC
mv menjadi 0.01.

Gambar 5. Jendela edit TBL untuk 02-TS3


Gambar 6. Jendela edit TBL untuk TS2

Gambar 7. Jendela edit TBL untuk TS4

7. Kemudian pilih menu Edit PRM untuk melakukan proses robust yang berguna untuk
meningkatkan hasil dan mengurangi noise yang ada.

Gambar 8. Menu Edit PRM

8. Maka akan muncul jendela untuk menghasilkan output proses rebost. Maksimum
partisi yang digunakan adalah berjumlah 100. Nilai 100 merupakan data akan
dimaksimalkan sebanyak 100 partisi.
Gambar 7. Jendela Edit PRM untuk TS2
Gambar 8. Jendela Edit PRM untuk TS4

9. Kemudian pilih menu make PFT.

Gambar 9. Menu Make PFT

10. Akan muncul jendela make PFT.

Gambar 10. Jendela Make PFT untuk TS2

Gambar 11. Jendela Make PFT untuk TS3


Gambar 12. Jendela Make PFT untuk TS4

11. Kemudian pilih menu TS to FT, yang berfungsi untuk mengubah domain waktu ke
domain frekuensi.

Gambar 13. Menu TS to FT

Maka akan muncul jendela seperti dibawah ini.

Gambar 14. Tampilan pengubahan domain

12. Kemudian pilih menu Process, lalu klik.


Gambar 15. Menu memulai Proses

13. Maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini. Dibawah ini sedang melakukan
proses rebost data AMT.

Gambar 16. Tampilan robust process pada TS2


Gambar 17. Tampilan robust process pada TS2

Gambar 18. Tampilan robust process pada TS3


Gambar 19. Tampilan robust process pada TS3

Gambar 20. Tampilan robust process pada TS4


B. Pengolahan Data MT
1. Melihat lihat kolom site parameter, lalu pilih folder yang berisi data MT. Data
tersebut disimpan dalam Folder C  DATA MAGNETOTELLURIC  04.
TOMORI  TR02M. Data yang akan di robust adalah data 01-NW, 02-RV, 03-OC.

Gambar 21. Membuka folder 01-NW

Gambar 22. Membuka


folder 02- RV
Gambar 23. Membuka folder 03-OC

2. Kemudian membuka menu Edit TBL dan mengganti input data sesuai dengan layout
MT.

3. Kemudian membuka menu Edit PRM dan mengganti metode yang digunakan, sesuai
dengan folder yang digunakan. Untuk folder 01-NW yaitu pilih no weight, untuk
folder 02-RV pilih rho variance, dan untuk folder 03-OC pilih ordinary coherency.

Gambar 24. Jendela


untuk metode NW
Gambar 25. Jendela untuk metode RV

Gambar 26. Jendela untuk metode OC


4. Kemudian pilih menu Make PFT.

Gambar 27. Jendela Make PFT metode NW

Gambar 28. Jendela Make PFT untuk RV


Gambar 29. Jendela Make PFT untuk OC

5. Kemudian pilih menu TS to FT, untuk mengubah domain waktu menjadi domain
frekuensi.

6. Kemudian pilih menu Process untuk memulai proses rebost.

Gambar 30. Proses robust untuk NW


Gambar 31. Proses rebost untuk RV

Gambar 32. Proses rebost untuk OC


C. Pengolahan Data pada MT Editor

Pengolahan data pada MT editor digunakan dengan tujuan untuk mengurangi noise yang
ada. MT editor merupakan software yang digunakan untuk melihat bagaimana persebaran
nilai resistivitas dan apakah data tersebut baik atau buruk. Data yang dimasukkan untuk
diedit pada MT editor adalah data NW (no weight), RV (Rho Variance), dan OC
(Ordinary Coherency). Langkah-langkah edit dengan menggunakan MT editor adalah
sebagai berikut.

1. Membuka software MT Editor. Kemudian pilih File  Open Site yang berguna
untuk membuka data yang akan di edit.

Gambar 32. Tampilan awal MT Editor


2. Kemudian akan muncul jendela yang berisi data-data yang akan dimasukkan. Semua
data tersebut diblok dan dimasukkan dengan mengklik Open.

Gambar 33. Jendela pemilihan data

3. Maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini. Ini merupakan tampilan saat
starting data dimulai.

Gambar 34. Starting data


4. Kemudian akan muncul tampilan seperti dibawah ini.

Gambar 35. Tampilan pertama

5. Kemudian pilih ikon editing data untuk memulai proses editing data.

Gambar 36. Menu editing data


6. Maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini. Tampilan ini merupakan tampilan
yang berisi bahwa data belum di edit sama sekali.

Gambar 37. Tampilan sebelum di edit pada metode NW


Gambar 38. Tampilan sebelum di edit pada metode RV

Gambar 39. Tampilan sebelum di edit pada metode OC

7. Kemudian melakukan editing dengan megklik ikon tangan pada sebelah atas.
Gambar 40. Ikon untuk mengedit

8. Setelah itu, mulai editing data dengan mengklik data pada kotak sebelah kanan. Cara
mengkliknya adalah dengan mengklik pada bulatan warna hijau atau kuning. Data
yang diedit adalah reference LOC H.

Gambar 41. Kotak editing data

9. Editing data ini membuat data menjadi sesuai dengan trend nya (rata), apabila ada
titik yang tidak sesuai trend, maka titik tersebut harus diedit.
Gambar 41. Hasil editing pada NW

Gambar 42. Hasil editing pada RV

Gambar 43. Hasil editing pada OC


10. Setelah selesai mengedit data, kemudian pilih ikon resulting data untuk melihat hasil
data.

Gambar 44. Ikon resulting data

11. Setelah mengklik ikon resulting data, maka akan muncul tampilan hasil semua data.
Gambar 45. Tampilan sesudah editing pada NW

Gambar 46. Tampilan sesudah editing pada RV

Gambar 47. Tampilan sesudah editing pada OC

12. Kemudian simpan hasil tersebut dengan file excel dengan cara klik kanan pada kotak
tersebut dan pilih chart editor.
Gambar 48. Chart editor

13. Kemudian pilih export  Data , lalu pilih format Excel, lalu simpan.
Gambar 49. Jendela chart editor

14. Kemudian mengganti parameter dengan coherence.

Gambar 48. Menu coherence

15. Maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini. Centang 2 teratas.
Gambar 49. Tampilan coherence pada NW

Gambar 50. Tampilan coherence pada RV


Gambar 51. Tampilan coherence pada OC

16. Kemudian simpan hasil tersebut dalam format excel. Caranya dengan klik kanan pada
kotak tersebut, lalu pilih chart editor. Lalu pilih export  data, pilih format Excel,
lalu simpan.

Gambar 52. Jendela chart editor


BAB II

HASIL DAN ANALISA

2.1 Hasil Editing

2.2.1 Metode NW

 Sebelum editing

Gambar 53. Sebelum editing NW

 Sesudah Editing
Gambar 54. Sesudah editing NW

2.2.2 Metode RV

 Sebelum editing

Gambar 55. Sebelum editing RV

 Sesudah editing

Gambar 56. Sesudah editing RV

2.2.3 Metode OC
 Sebelum editing

Gambar 57.
Sebelum editing OC

 Sesudah editing

Gambar 58. Sesudah editing OC

2.2 Hasil Grafik Excel

A. Metode NW

 Grafik Rho Semu 1 terhadap Frekuensi


Grafik 1. Grafik frekuensi terhadap rho semu 1

 Grafik Rho Semu 2 terhadap Frekuensi

Grafik 2. Grafik frekuensi terhadap rho 2

 Grafik Rho Semu rata-rata terhadap Frekuensi


Grafik 3. Grafik frekuensi terhadap rho semu rata-rata

 Grafik Nilai Coherence terhadap Frekuensi

Grafik 4. Grafik frekuensi terhadap nilai coherency

B. Metode RV
 Grafik Rho Semu 1 terhadap Frekuensi

Grafik 5. Grafik Frekuensi terhadap Rho Semu 1

 Grafik Rho Semu 2 terhadap Frekuensi

Grafik 6. Grafik Frekuensi terhadap Rho Semu 2

 Grafik Rho Semu rata-rata terhadap frekuensi


Grafik 7. Grafik Frekuensi terhadap Rho Semu Rata-Rata

 Grafik nilai coherence terhadap frekuensi

Grafik 8. Grafik Frekuensi terhadap nilai Coherence

D. Metode OC
 Grafik Rho Semu 1 terhadap Frekuensi

Grafik 9. Grafik Rho semu 1 terhadap frekuensi

 Grafik Rho Semu 2 terhadap Frekuensi

Grafik 10. Grafik Rho semu 2 terhadap frekuensi


 Grafik Rho Semu rata-rata terhadap frekuensi

Grafik 11. Grafik Rho semu rata-rata terhadap frekuensi

 Grafik nilai Coherence terhadap frekuensi

Grafik 12. Grafik nilai coherence terhadap frekuensi


2.3 Hasil Apparent Resistivity

 Metode NW

Gambar 53. Apparent resistivity NW

 Metode RV
Gambar 54. Apparent resistivity RV

 Metode OC

Gambar 55. Apparent resistivity OC

2.4 Hasil Coherence

 Metode OC
Gambar 56. Coherence OC

 Metode RV

Gambar 57. Coherence RV

 Metode OC
Gambar 58. Coherence OC

2.5 Pembahasan

Pengolahan data Magnetotelluric menggunakan dua software, yaitu SSMT2000 dan MT editor.
Data yang terekam selama pengukuran adalah Hx, Hy, Ex, dan Ey. Pada pengolahan
menggunakan SSMT2000 bertujuan untuk mengubah domain waktu ke domain frekuensi dengan
menggunakan Transformasi Fourier. Data domain waktu ini terdiri dari medan listrik dan medan
magnet, karena pada metode Magnetotelluric medan yang terukur adalah medan listrik dan
medan magnet. Pada pengolahan dengan SSMT2000 ini merupakan proses robust. Nilai
crosspower yang digunakan adalah 100, dimana setiap 1 data dikuatkan menjadi 100 partisi.
Semakin besar nilai crosspower, maka kurva yang dihasilkan akan lebih bagus.

Pengolahan selanjutnya menggunakan MT editor, dimana pada MT editor ini kita menghapus
noise yang ada dan membuat data menjadi sesuai dengan trend. Noise biasanya ditimbulkan oleh
adanya gangguan-gangguan yang datang, seperti adanya badai matahari ataupun variasi harian.
Proses editing ini melibatkan Apparent resistivity Magnitude dan Apparent Resistivity Phase.
Proses editing dilakukan pada kotak Partial Apparent Resistivity Magnitude maupun kotak
Partial Apparent Resistivity Phase yang harus membuat data menjadi sesuai dengan trend.
Parameter yang digunakan adalah Apparent Resistivity dan LOC H. Sebenarnya terdapat dua
jenis Reference, yaitu LOC H dan LOC E, tetapi yang digunakan adalah LOC H. LOC H
merupakan Local H yang merupakan medan magnet sedangkan LOC E merupakan medan listrik.
Digunakan LOC H karena pada medan magnet, noise yang tertangkap lebih sedikit dibandingkan
dengan pada medan listrik.

Metode yang digunakan berjumlah 3 , yaitu metode NW (no weight), RV (rho variance), dan OC
(ordinary coherence). Dari ketiga metode tersebt, metode yang paling bagus adalah metode OC,
karena pada metode ini data terlihat bagus dibandingkan dengan dua metode lainnya. Terdapat
perbedaan dari ketiganya saat melakukan proses editing. Pada metode NW, data terlihat lebih
kompleks dbandingkan metode RV dan metode OC. Pada metode OC, data sudah terlihat lebih
smooth, sehingga mudah melakukan proses editing data.
Gambar 59. Sebelum editing OC

Gambar 59. Sesudah editing OC

Dari gambar diatas terdapat dua garis, yaitu garis berwarna hijau dan kuning. Garis berwarna
hijau merupakan fase TM dan garis berwarna kuning merupakan fase TE. Seharusnya titik antara
fase TM dan fase TE haruslah berdekatan, tetapi karena bumi bersifat anisotropis, maka
kurvanya menjadi berjauhan. Kurva tersebut sudah terlihat smooth dibandingkan dengan
sebelum di edit. Tetapi pada frekuensi ke 68, terdapat lonjakan. Seharusnya apabila ada
perbedaan jarak titik, tidak boleh dari 450 karena itu merupakan noise yang sangat besar atau
salah terjadi pengukuran. Pada grafik yang telah dihasilkan dengan excel, didapatkan 4 buah
grafik. Dimana ketiga dari empat grafik tersebut hampir sama hasilnya, dikarenakan skala yang
digunakan terlalu besar. Terdapat pula grafik nilai coherence terhadap frekuensi. Nilai coherence
merupakan salah satu parameter yang digunakan selain apparent resistivity.

Apabila dilihat dari kurva, semakin besar urutan data ke-n, semakin kecil nilai frekuensinya.
Pada urutan awal-awal, nilai frekuensinya hingga melebihi 10.000 Hz dan semakin jauh
urutannya semakin kecil frekuensinya hingga mencapai 0,001 Hz. Semakin kecil frekuensi maka
semakin dalam pula jarak yang ditempuh oleh gelombang elektromagnetik tersebut. Pada metode
MT, frekuensi yang terukur berada pada rentang 10-4 hingga 105 Hz. Semakin dalam kedalaman,
semakin cepat cepat rambat gelombang serta semakin kompak batuannya. Maka dapat
diasumsikan bahwa semakin kedalam, jenis batuannya adalah batuan beku yang bisa dikatakan
sebagai batuan induk.
BAB III
KESIMPULAN

Pada pengukuran MT, data yang didapatkan adalah medan magnet dan medan listrik, yaitu Ex,
Ey, Hx, dan Hy. Proses robust digunakan untuk menentukan jumlah crosspower yang digunakan
untuk meningkatkan hasil yang telah diperoleh. Semakin besar nilai crosspower, maka semakin
bagus data dan semakin kuat data. Proses robust juga digunakan untuk menghilangkan noise
yang ada. Pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan MT editor. MT editor ini berguna untuk
melihat kurva TE da TM serta untuk menghilangkan noise yang ada. Apabila kurva TE dan TM
berdekatan, maka nilai error yang didapatkan akan semakin kecil. Metode yang paling cocok
digunakan adalah metode OC. Dengan metode ini, didapatkan hasil yang bagus serta kurva yang
smooth dan sesuai dengan garis trend.
DAFTAR PUSTAKA

 Praromadani, Z.S. 2012. Pemodelan Sistem Geotermal Daerah Telomoyo Dengan


menggunakan Data Magnetotellurik [skripsi]. Depok : Universitas Indonesia

 Ramdhani Fitra. 2017. Pemodelan 2 Dimensi Data Magnetotelluric Berdasarkan Analisis


Tensor dalam Penentuan Geoelectrical Strike dan Dimensionalitas di Lapangan Panas
Bumi “X”. Semarang : Universitas Diponegoro

 Zanuar, R. 2009. Pemodelan 2-Dimensi Data Magnetotellurik Daerah Prospek Panasbumi


Guning Endut, Banten [skripsi]. Depok : Universitas Indonesia