Anda di halaman 1dari 104

Strategi Internasional untuk Universitas Kyoto Uni Eropa

Pengurangan Bencana
(International Strategy for
Disaster Reduction/ISDR)

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana:


Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-
pengalaman di Kawasan Asia-Pasifik

2008

1
“Uni Eropa adalah organisasi yang beranggotakan 27 Negara Anggota yang telah
memutuskan untuk secara bertahap menggabungkan pengetahuan, sumber daya dan
tujuan-tujuan bersama mereka. Dalam perkembangan organisasi selama 50 tahun, secara
bersama negara-negara ini telah membangun sebuah kawasan yang stabil, demokratis dan
menerapkan pembangunan berkelanjutan, sambil tetap mempertahankan keberagaman
budaya, toleransi dan kebebasan individu.

Uni Eropa berkomitmen untuk membagikan pencapaian-pencapaian dan nilai-nilai yang


dianutnya kepada negara-negara dan bangsa-bangsa yang berada di luar batas-batas
wilayahnya.”

Catatan
“Publikasi ini diterbitkan dengan dukungan Uni Eropa. Isi publikasi ini menjadi tanggung
jawab sepenuhnya sekretariat UN/ISDR dan bagaimana pun juga tidak dapat dianggap
sebagai mencerminkan pandangan-pandangan Uni Eropa.”

Tim Editor: Rajib Shaw, Noralene Uy, dan Jennifer Baumwoll


Desain Grafis oleh Mario Barrantes

Foto pada halaman sampul memperlihatkan sebuah Dhani, suatu tempat kediaman
tradisional keluarga di distrik Barmer di Rajasthan, India. Kualitas bangunan Dhani telah
ditingkatkan dengan menggunakan teknologi modern yang disebut teknologi bata press
saling terikat (Stabilized Compressed Interlocking Block technology/SCEB). Untuk
informasi lebih lanjut, lihat “Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi
Solusi untuk Permukiman yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan
Banjir di India” dalam publikasi ini.
(Sumber Foto Halaman Sampul: SEEDS)

Silahkan mengirimkan umpan balik dan saran-saran anda (termasuk studi-studi kasus
lebih lanjut yang dapat kami pertimbangkan) kepada:
Christel Rose
Regional Program Officer
UN ISDR Asia dan Pacific
rosec@un.org
www.unisdr.org

Catatan:
Informasi dan pandangan-pandangan yang terdapat dalam publikasi ini tidak dengan
sendirinya mencerminkan kebijakan-kebijakan sekretariat UN/ISDR

2
Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana:
Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-
pengalaman di Kawasan Asia-Pasifik

Bangkok, Juli 2008

Foto oleh Steve Evans, Thailand, Suku-suku Perbukitan

3
Sambutan

Penelitian-penelitian dalam bidang pembangunan memperlihatkan bahwa keberhasilan


dan keberlanjutan upaya pembangunan di tingkat masyarakat tergantung pada sejumlah
faktor, antara lain, pada adanya budaya, pengetahuan dan praktik-praktik asli masyarakat
setempat yang dapat diselaraskan dengan gagasan-gagasan baru untuk menciptakan
inovasi. Kearifan lokal tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan upaya pembangunan,
tetapi lebih-lebih pada keberlanjutan upaya tersebut dalam jangka panjangnya. Partisipasi
dan integrasi upaya masyarakat dalam semua proses kebencanaan merupakan salah satu
sarana penting untuk mewujudkan Kerangka Aksi Hyogo dan ini menggarisbawahi
pentingnya kearifan lokal dalam membantu mengarusutamakan kebijakan-kebijakan dan
praktik-praktik pengurangan risiko bencana.

Bahkan sebelum kita mengenal sistem-sistem peringatan dini berbasis teknologi tinggi,
atau prosedur-prosedur operasional standar dalam tanggap darurat, banyak masyarakat
tradisional di seluruh dunia telah mempersiapkan diri, melakukan upaya, bertindak dan
merespons bencana alam dengan menggunakan cara-cara tradisional yang diturunkan dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa beranggapan bahwa
kearifan lokal merupakan sesuatu yang penting dan memasukkannya dalam Prioritas
ketiga dari Kerangka Aksi Hyogo, yang menitikberatkan pendidikan dan ilmu
pengetahuan. Salah satu kegiatan utama yang teridentifikasi di bawah prioritas aksi ini
berfokus pada pentingnya pengelolaan dan pertukaran informasi, dan menggarisbawahi
penggunaan “kearifan lokal, pengetahuan tradisional dan warisan budaya yang relevan”
yang dapat dibagikan dan diadaptasi oleh masyarakat di tempat lain.

Untuk mencapai tujuan ini, kita semua perlu memahami, mengakui dan menghormati
kearifan lokal sebagai salah satu sumber informasi yang sangat berharga dan kontributor
utama bagi upaya pengurangan risiko di banyak tempat di seluruh dunia.

Publikasi ini, “Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang
Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-pengalaman di Kawasan Asia-
Pasifik” bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kearifan lokal sebagai
suatu alat yang efektif untuk mengurangi risiko bencana alam. Dengan meningkatkan
pemahaman akan kearifan lokal dan menyajikan contoh-contoh nyata bagaimana
memanfaatkannya, saya berharap publikasi ini dapat memberi inspirasi bagi para praktisi
dan pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan pengetahuan yang dimiliki oleh
masyarakat-masyarakat lokal dan memadukan kekayaan pengetahuan ini ke dalam kerja-
kerja kebencanaan di masa yang akan datang.

Jerry Velasquez
Senior Regional Coordinator
UN/ISDR Asia Pacific

Foto oleh Maureen Keogh, Kamboja

4
Kata Pengantar

Publikasi ini menyajikan 18 praktik kearifan lokal yang selama ini berkembang di
masyarakat-masyarakat yang tinggal di kawasan Asia-Pasifik. Jenis-jenis bencana yang
dihadapi termasuk gempa bumi, angin siklon (topan), kekeringan, tanah longsor, erosi
tanggul sungai, tsunami dan zud (kondisi iklim yang ekstrim). Kasus-kasus yang
ditampilkan dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut: asal-usul pengetahuan yang
bersangkutan, tingkat adaptasi relatifnya selama ini, hubungannya dengan keterampilan
dan bahan-bahan lokal, keberhasilannya dalam tetap bertahan atau mengatasi bencana
selama ini, dan kemungkinan untuk menerapkan praktik-praktik tersebut pada masyarakat
lain yang menghadapi situasi serupa.

Setiap kasus yang dimuat dalam publikasi ini disajikan dalam format umum yang sama,
yaitu sebuah abstrak singkat, informasi latar belakang untuk memberi arah kepada
pembaca tentang aspek demografis dan lokasi dari masyarakat yang diulas, penjelasan
tentang kisah atau peristiwa spesifik di mana masyarakat bersangkutan berhasil
memanfaatkan dengan baik pengetahuan yang dimilikinya, penggambaran tentang
kearifan lokal yang dimiliki masyarakat, dan akhirnya ulasan tentang pelajaran-pelajaran
yang dapat dipetik dari kasus spesifik yang diuraikan. Walau setiap kasus bersifat
spesifik, susunan urutan cerita yang seragam akan memudahkan kasus-kasus dianalisis
dan didiskusikan sebagai suatu kelompok, dengan membandingkan dan mengkontraskan
unsur-unsurnya yang berbeda.

Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu,
dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, penyebarluasan
praktik-praktik kearifan lokal tertentu seringkali menjadi sebuah tantangan. Publikasi ini
menekankan bahwa prinsip-prinsip kearifan lokal dapat diterapkan di tempat-tempat lain,
tentu saja dengan penyesuaian dengan budaya lokal setempat. Penerapan kearifan lokal
merupakan sebuah proses dan membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan
yang lebih luas serta dukungan kebijakan. Bagian itu akan menjadi fokus kita di masa
yang akan datang.

Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua


penyumbang tulisan, dan saya berharap para pembaca akan memperoleh pemahaman
tentang bagaimana cara menghargai kearifan lokal dan mempraktikkannya untuk
mengurangi risiko dari berbagai jenis bencana.

Rajib Shaw
Universitas Kyoto

Foto oleh Sean Hawkey, Bangladesh

5
Pendahuluan

Setelah Tsunami Samudera Hindia tahun 2004, ada dua kisah sukses yang muncul, yang
membangkitkan minat baru pada konsep kearifan lokal. Masyarakat Simeulue yang
tinggal di lepas pantai Sumatra, Indonesia dan kaum Moken, yang hidup di Kepulauan
Surin di lepas pantai Thailand dan Myanmar sama-sama memanfaatkan pengetahuan
mereka yang diturunkan secara lisan dari nenek moyang mereka untuk menyelamatkan
diri dari tsunami yang menghancurkan. Kedua kasus tersebut dalam beberapa tahun
belakangan ini menjadi kasus yang paling sering disebut, tetapi masih ada banyak contoh
yang belum banyak diketahui umum dari masyarakat-masyarakat yang juga telah
memanfaatkan kearifan lokal mereka untuk menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian
bencana dan menghadapi kondisi-kondisi lingkungan hidup yang sulit. Penerapan
kearifan lokal oleh masyarakat-masyarakat ini dalam mengurangi risiko, menghadapi dan
menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini telah
memberikan banyak pelajaran berharga bagi para praktisi dan pengambil kebijakan akan
pentingnya kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana.

Kearifan lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok
masyarakat, yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat,
yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secara turun-temurun. Pengetahuan
semacam ini mempunyai beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari jenis-
jenis pengetahuan yang lain. Kearifan lokal berasal dari dalam masyarakat sendiri,
disebarluaskan secara non-formal, dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan,
dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi, serta tertanam di dalam
cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup.

Pada tahun-tahun belakangan ini semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari
hubungan antara kearifan lokal dan bencana alam. Diskusi-diskusi terkini dalam hal ini
berfokus pada potensi kearifan lokal dalam meningkatkan kebijakan-kebijakan
pengurangan risiko bencana melalui integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan
kebencanaan dan sistem peringatan dini. Dalam khasanah pustaka pengurangan risiko
bencana, ada empat argumen dasar yang mendukung pentingnya kearifan lokal. Pertama,
berbagai praktik dan strategi spesifik masyarakat asli yang terkandung di dalam kearifan
lokal, yang telah terbukti sangat berharga dalam menghadapi bencana-bencana alam,
dapat ditransfer dan diadaptasi oleh komunitas-komunitas lain yang menghadapi situasi
serupa. Kedua, pemaduan kearifan lokal ke dalam praktik-praktik dan kebijakan-
kebijakan yang ada akan mendorong partisipasi masyarakat yang terkena bencana dan
memberdayakan para anggota masyarakat untuk mengambil peran utama dalam semua
kegiatan pengurangan risiko bencana. Ketiga, informasi yang terkandung di dalam
kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pelaksanaan proyek dengan memberikan
informasi yang berharga tentang konteks setempat. Terakhir, cara penyebarluasan
kearifan lokal yang bersifat non-formal memberi sebuah contoh yang baik untuk upaya
pendidikan lain dalam hal pengurangan risiko bencana. Walaupun publikasi ini lebih
berfokus pada upaya mengumpulkan strategi-strategi dan mekanisme-mekanisme spesifik
masyarakat tertentu yang dapat ditransfer dan diadaptasi oleh masyarakat-masyarakat

6
lain, pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah ini menekankan keseluruhan
empat bidang ini.

Publikasi ini disusun untuk menggugah kesadaran akan nilai berharga dari kearifan lokal
dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bermacam jenis ancaman dalam berbagai
lingkungan dan lingkup budaya berbeda yang terdapat di kawasan Asia dan Pasifik.
Upaya penerbitan ini merupakan bagian dari sebuah prakarsa lebih besar di kawasan ini
untuk menganalisis pentingnya kearifan lokal dan mengembangkan cara untuk
memadukan lebih lanjut pengetahuan ini ke dalam kebijakan dan praktik pengurangan
risiko bencana. Publikasi ini adalah langkah pertama, yang diharapkan dapat menjadi
sebuah forum untuk saling berbagi pengetahuan sehingga pengalaman-pengalaman dan
strategi-strategi dari berbagai masyarakat yang ada di kawasan ini dapat dikomunikasikan
kepada para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana utama. Selain itu,
koleksi ini diharapkan juga akan mendorong adanya analisis lebih lanjut akan pentingnya
kearifan lokal, yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan serta
pengembangan kurikulum. Akhirnya, publikasi ini diharapkan dapat mendorong juga
kawasan-kawasan lain untuk mulai mengumpulkan kasus-kasus dari negara-negara di
dalam wilayah mereka dan berkontribusi pada upaya untuk menjajaki manfaat global dari
kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana.

Banyak dari masyarakat yang menjadi subjek diskusi dalam publikasi ini hanya mendapat
sedikit perhatian dalam mekanisme perencanaan penanggulangan bencana pada
umumnya dan mereka telah memanfaatkan pengetahuan mereka untuk menolong diri
mereka sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit. Banyak pengetahuan yang mereka
miliki seringkali dianggap oleh pihak luar sebagai inferior dan diabaikan karena dianggap
sebagai milik orang-orang yang “terbelakang” dan “kurang terdidik”. Walaupun
demikian, banyak dari masyarakat ini telah mengembangkan pelajaran-pelajaran dan
strategi-strategi yang jitu untuk menghadapi bencana-bencana yang berulang kali terjadi
serta berhasil menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian ekstrim yang bahkan peralatan
berteknologi tinggi pun tidak dapat membantu. Semua masyarakat ini pada umumnya
memiliki kemampuan untuk bergantung pada diri mereka sendiri dalam situasi bencana
dan mempunyai pemahaman akan ancaman-ancaman setempat serta bagaimana
mengurangi risiko-risiko ini. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari masyarakat-
masyarakat ini.

Jennifer Baumwoll
Ko-editor

7
Daftar Isi

Sambutan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
Kata Pengantar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . v
Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . vii

Cina Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina.. 1


Weihua Fang, Fei He, Jingning Cai dan Peijun Shi
India Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman
Gempa di Kashmir. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
Amir Ali Khan
India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi
Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun
yang Rawan Banjir di India. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
Anshu Sharma dan Mihir Joshi
India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah
Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat
Nandeswar, Assam. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
Irene Stephen, Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath
Indonesia Legenda, Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api. . . . 17
Koen Meyers dan Puteri Watson
Jepang Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di
Jepang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23
Yukiko Takeuchi dan Rajib Shaw
Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada
Masyarakat Penggembala Shiver. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27
Bolormaa Borkhuu
Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk
Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan
Pengetahuan Para Ahli . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30
Man B. Thapa, Youba Raj Luintel, Bhupendra Gauchan dan Kiran
Amatya
Nepal/Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi
Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan. . . . . . . . . . . . . . . . . 35
Julie Dekens
Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan
Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram, Provinsi Perbatasan
Barat Laut, Pakistan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41
Takeshi Komino
Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas, Papua Nugini. . . . . . . . . . . . . . . . . 46
Jessica Mercer dan Ilan Kelman
Filipina Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam
Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 52
Lorna P. Victoria
Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava

8
Gunung Berapi Mayon . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 55
Gerardine Cerdena
Filipina Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di
Kepulauan Batanes, Filipina . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 59
Noralene Uy dan Rajib Shaw
Kepulauan Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan
Solomon Solomon tahun 2007. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 64
Brian G. McAdoo, Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore
Sri Lanka Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk
Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di
Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 68
C.M. Madduma Bandara
Thailand Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang
Tajam: Kasus Kaum Moken, Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut
di Thailand . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 73
Narumon Arunotai
Vietnam Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya
Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam . . . 79
Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw

9
Turpan, Xinjiang, Cina Barat Laut
Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina
Weihua Fang, Fei He, Jingning Cai dan Peijun Shi

Abstrak

Karez adalah sebuah sistem pengairan tradisional yang mampu memanfaatkan air bawah
tanah dengan efisien. Sistem Karez telah memiliki sejarah yang panjang di daerah
Xinjiang di Cina. Sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, Karez tersusun dari empat
komponen utama: sumur-sumur vertikal, saluran-saluran air bawah tanah, saluran air di
atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil. Berkat adanya sistem
Karez, Turpan, sebuah lembah yang terdapat di kawasan kering di Cina bagian Barat
Laut, menjadi terkenal akan berbagai jenis produk pertaniannya. Di daerah Turpan yang
merupakan bagian dari Xinjiang, sistem Karez masih dipergunakan untuk mensuplai
sumber-sumber air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. Saat ini, teknologi modern
telah pula dipadukan dengan sistem Karez yang tradisional untuk semakin meningkatkan
daya guna dari praktik tradisional yang menguntungkan tersebut.

Latar Belakang

Cekungan (depresi) Turpan, yang memiliki ketinggian 32,8 m, terdapat di lembah Turpan
yang merupakan lembah terendah kedua di dunia. Kawasan ini dikelilingi oleh beberapa
daerah pegunungan tinggi (3500-5000 m) yang diselimuti gletser atau salju permanen.
Ketinggian minimum Danau Aiding, yang berada di bagian selatan lembah ini, adalah
sekitar -155 m, sehingga danau ini menjadi danau yang terendah di Cina. Pada lapisan
penampung air bawah tanah yang dekat permukaan terdapat air berlimpah. Bentang tanah
pegunungan di sekitar lembah Turpan terutama terbentuk oleh pergerakan hercynian pada
akhir masa Paleozoic. Bentang tanah tersebut bersifat keras dan terpatah-patah dan oleh
karenanya mudah terbentuk celah-celah yang menampung air. Batu-batuan terpapar dari
Pegunungan Flaming terutama terdiri dari konglomerat berpasir dan batu-batu lumpur
dari masa Jurassic, berkapur (cretaceous) serta periode jaman Tersier. Oleh karena itu,
kondisi geologis distrik Turpan cocok untuk konstruksi saluran air bawah tanah dengan
hanya sedikit penguatan untuk mengumpulkan sumber air yang cukup memadai.
Kawasan Turpan terkenal akan berbagai jenis buah-buahan yang dihasilkannya seperti
anggur, semangka, dan muskmelon Hami.

Kisah/Peristiwa

Dalam semua musim Turpan sangatlah kering dan sangat panas terutama selama musim
semi, musim panas dan musim gugur. Suhu udara tertinggi yang tercatat adalah 47,7° C
pada musim panas. Tingginya suhu udara dan kuatnya radiasi sinar matahari di daerah
tersebut menyebabkan tingkat penguapan tahunan yang tinggi, yang mencapai 2800-3000
mm.1 Kawasan Turpan berada di pedalaman daratan dan memiliki tingkat curah hujan

1
Ji ZHAO (2001).

10
tahunan yang hanya sekitar 16-17 mm. Karena kuatnya penguapan yang terjadi atau
proses evapotranspirasi, curah hujan (air atau salju) yang jatuh di lereng-lereng gunung
akan menguap atau merembes ke bawah pasir dan tanah sebelum akhirnya bersatu dan
membentuk aliran-aliran air kecil, dan mencapai daerah-daerah pertanian datar di sekitar
kaki gunung. Air permukaan tanah sangat sulit didapatkan di hampir seluruh kawasan
tersebut. Di bawah lingkungan yang keras ini hanya sedikit tumbuhan maupun hewan
yang dapat bertahan hidup.

Kearifan Lokal

Karez merupakan suatu sistem irigasi tradisional yang telah memiliki sejarah panjang di
kawasan Xinjiang di Cina, yang menggunakan air tanah dengan sangat efisien. Jika tanah
pertanian berlokasi di daerah pegunungan, tanah tersebut dibangun pada kipas atau
dataran alluvial. Sebagian besar sistem Karez yang ada sekarang pada umumnya
dibangun antara abad ke-17 dan ke-20. Sistem-sistem Karez yang saat ini masih
berfungsi tersebar di daerah-daerah kering lereng selatan dari Pegunungan Tianshan di
Xinjiang timur, di distrik Hami dan Turpan, distrik Shanshan dan Toksun di lembah
Turpan. Di distrik Turpan ada 1.016 sistem Karez yang 686 dari antaranya masih
operasional. Total panjangnya mencapai sekitar 3.000 kilometer. Rata-rata kedalaman
saluran air bawah tanah adalah 20 meter, sementara yang paling dalam mencapai 90
meter. Total aliran dari sistem-sistem Karez di lembah Turpan adalah 10 meter kubik per
detik yang merupakan sekitar 20% dari keseluruhan air dalam saluran-saluran di lembah
itu.2 Saat ini fasilitas-fasilitas modern seperti sumur-sumur elektromekanis mulai
dipadukan dengan sistem Karez.

Struktur sebuah sistem Karez bisa kompleks, tetapi struktur dasarnya pada hakikatnya
tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal, saluran-saluran air bawah
tanah, saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil
(Gambar 1).

Sumur Vertikal

Panjang saluran bawah tanah bervariasi antara sekitar 3 km sampai 30 km. Hampir tidak
mungkin menggali saluran air di bawah tanah sepanjang ini tanpa lebih dulu menggali
sumur vertikal, terutama pada jaman-jaman pertanian di masa yang lalu ketika peralatan
modern belum dikenal. Jadi, sumur vertikal terutama digunakan untuk membantu dalam
menggali saluran-saluran di bawah tanah. Dalam pembuatan sumur digunakan bantuan
tenaga hewan untuk mengeluarkan pasir dan tanah dari dalam lubang galian.

Fungsi utama dari sumur-sumur vertikal adalah untuk ventilasi, penetapan arah yang
benar dari saluran air dalam pembangunannya dan untuk mengawasi serta memperbaiki
saluran-saluran air setelah dibangun. Jarak antara sumur-sumur vertikal biasanya sekitar
60-100 meter di bagian atas, 30-60 meter di bagian tengah, dan 10-30 meter di bagian
bawah. Kedalaman sumur berkisar antara 40-70 meter, 100 meter di bagian atas, 30-40

2
ZHONG dan CHU (1993); www.karez.org

11
meter di tengah, dan 3-15 meter di bagian bawah. Sumur-sumur vertikal dimanfaatkan
tidak hanya untuk membantu proses penggalian saluran-saluran air di bawah tanah, tetapi
juga untuk menimba air dari saluran-saluran tersebut setelah keseluruhan sistem Karez
selesai dibangun. Gambar 2 menyajikan foto udara dari sumur-sumur vertikal.

Saluran-saluran Air Bawah Tanah dan Permukaan Tanah

Dari kedua jenis saluran air, mayoritas adalah saluran bawah tanah. Saluran air di bawah
permukaan tanah pada umumnya merupakan bagian dari sebuah jaringan yang
memungkinkan terkumpulnya air bawah tanah (seperti ditunjukkan pada Gambar 3a).
Biasanya lapisan tanah dalam di sekitar saluran bawah tanah sangat kuat dan tidak mudah
runtuh. Namun, pada saluran-saluran yang lebih dekat ke permukaan, tanah di sekitarnya
lebih longgar. Agar tidak mudah runtuh, saluran air bawah tanah biasanya diperkuat
dengan tonggak-tonggak kayu. Pada bagian bawah sumur, kedua sisi digali untuk saluran
air bawah tanah. Jika saluran air bawah tanah mencapai tanah pertanian, saluran tersebut
menjadi saluran permukaan dan dihubungkan dengan sebuah tempat penampungan air
kecil atau langsung dihubungkan dengan sistem saluran pengairan untuk irigasi (Gambar
3b). Biasanya saluran permukaan lebih pendek untuk membatasi penguapan.

Gambar 1. Komponen-komponen tipikal sistem Karez

Tempat Penampungan Air

Air dikumpulkan di dalam tempat-tempat penampungan air kecil yang dapat disesuaikan
tingkat ketinggian dan suhu airnya. Pembangunan tempat-tempat penampungan air ini
meningkatkan tinggi permukaan air sehingga dapat mengairi lahan pertanian yang lebih
luas. Selain itu, air yang disimpan di dalam tempat-tempat penampungan ini memperoleh
cahaya matahari sehingga suhunya meningkat. Air yang lebih hangat lebih sesuai untuk
keperluan irigasi, karena rendahnya suhu air yang disebabkan oleh cairnya salju atau air
yang berasal dari kedalaman dapat menimbulkan dampak merugikan bagi tanaman
pangan.

Bermacam-macam peralatan sederhana digunakan untuk membangun sistem Karez. Alat-


alat tersebut antara lain pacul untuk menggali, palu untuk memalu, keranjang, roda
pengerek dan lampu minyak (seperti diperlihatkan pada Gambar 4). Pacul dan palu
digunakan untuk menggali terowongan-terowongan di bawah tanah. Keranjang dan roda
pengerek digunakan untuk mengeluarkan tanah dan pasir. Lampu minyak besi yang
dilengkapi dengan sebuah panah untuk orientasi arah digunakan untuk menggali saluran-
saluran di dalam tanah. Lampu tersebut juga dapat dengan mudah ditancapkan pada
dinding-dinding saluran. Saat ini di kota Hami di Cina digunakan juga sebuah kaca yang
dapat memantulkan sinar matahari.

Dalam membangun berbagai komponen berbeda dari sistem Karez, penting untuk
menjamin agar sumber daya air yang tersedia di sepanjang saluran air bawah tanah cukup
memadai. Langkah pertama yang penting adalah menemukan sumber-sumber air di
bagian atas dan mengetahui kedalaman air sesuai dengan lokasi lahan pertanian.

12
Selanjutnya lokasi penggalian sumur dapat ditetapkan. Setelah itu, sumur-sumur dan
saluran-saluran air dapat mulai dibangun secara bertahap mulai dari bagian bawah sampai
ke bagian atas mengikuti sumber air.

Gambar 2. Foto udara sumur-sumur vertikal di kawasan Turpan, Cina. Sumber:


www.sunnychina.com
Gambar 3. (a) saluran air bawah tanah diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Sumber:
www.chinahw.net; dan (b) penjangkauan saluran air bawah tanah ke saluran permukaan.
Sumber: www.travelchinaguide.com
Gambar 4. (a) lampu minyak tradisional dengan panah samping, (b) pacul untuk
menggali, (c) keranjang dan (d) sebuah katrol modern digunakan dalam membangun
sistem Karez. Sumber: www.karez.org, dan cersp.com

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Sistem Karez merupakan teknologi masyarakat asli dalam mengurangi dampak


kekeringan yang telah terbukti efektif dan masih dipergunakan. Kearifan lokal ini
memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:

1. Dukungan Gravitasi Bumi. Karena sistem Karez memanfaatkan topografi lahan


untuk mengalihkan aliran air dalam tanah di bawah permukaan melalui saluran air
bawah tanah ke permukaan tanah untuk irigasi dengan memanfaatkan gravitasi bumi,
biaya yang dibutuhkan untuk peralatan menaikkan air dan perawatan sistem menjadi
sangat sedikit sekali.

2. Aliran yang Stabil. Sumber air utama sistem Karez adalah salju yang mencair dan
air bawah tanah. Saluran air bawah tanah dapat meminimalkan penguapan yang tinggi
di distrik Turpan yang berangin banyak, sehingga sistem ini tidak akan terlalu
terpengaruh oleh dampak perubahan iklim. Selain itu, saluran-saluran air bawah tanah
juga tidak akan terkena badai debu. Semua ini menyebabkan sistem Karez mampu
menyediakan sumber-sumber air yang stabil, walaupun jumlah keseluruhan volume
air yang dihasilkan tidak terlalu besar. Seperti dapat kita lihat, selama beribu-ribu
tahun kawasan yang memiliki Karez telah didiami oleh populasi penduduk yang
stabil, walau adanya perubahan-perubahan lingkungan hidup yang terus terjadi dari
masa ke masa.

3. Kualitas Air yang Tinggi. Air yang berasal dari salju yang mencair masuk ke dalam
sistem dan tanah berfungsi menjadi penyaring yang baik yang menyingkirkan bahan-
bahan yang telah terpolusi. Tidak seperti saluran-saluran air yang berada di atas
permukaan tanah, saluran-saluran air bawah tanah meminimalkan polusi air dan pada
saat yang sama sangat kaya akan mineral-mineral. Kualitas air yang dihasilkan
memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai air minum dan untuk keperluan rumah
tangga.

13
4. Konstruksi dengan Peralatan yang Sederhana. Sebagian besar sistem Karez
dibangun dengan alat-alat pertukangan yang sederhana dan tidak membutuhkan
peralatan yang kompleks.

Walaupun demikian, sistem Karez pun memiliki keterbatasan-keterbatasan.


Pembangunan dan penggunaan sistem ini terbatas secara spasial pada daerah-daerah
tertentu saja. Sistem hanya dapat diterapkan di daerah-daerah yang memiliki suplai air
bawah tanah yang stabil dan memiliki jenis tanah yang keras. Beberapa sistem Karez
dibangun di sekitar Dataran Guanzhong di Cina Tengah pada masa Dinasti Han tetapi
tidak dapat bertahan karena saluran-saluran air bawah tanahnya runtuh. Selain itu,
volume air pada sistem Karez dapat berubah sesuai dengan musim walau tidak ada
banyak perubahan dalam volume hariannya. Pada musim panas akan tersedia cukup
sumber air bila airnya berasal dari salju yang mencair. Pada musim semi, jumlah volume
air Karez terbatas, sementara pada musim gugur dan musim dingin jumlahnya banyak.
Hal ini seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan air untuk pertanian.

Dengan demikian saat ini ada kebutuhan untuk memperkuat sistem Karez yang
tradisional dengan teknologi modern. Nilai sistem ini sebagai sebuah teknologi
pengurangan dampak kekeringan yang efisien yang berbasis kearifan lokal tidak dapat
diabaikan. Sebaliknya, pengetahuan tradisional ini harus ditingkatkan dan diperkuat
dengan teknologi modern. Penggunaan sistem ini harus dipromosikan dalam menghadapi
bencana kekeringan yang kian parah di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

- SI Maqian, SHIJI (catatan sejarah), 91 S.M.


- Shouyi BAI (eds.), General history of China (Sejarah Umum Cina), 2004, Shanghai
People’s Press.
- Xingqi ZHONG dan Huaizhen CHU (eds.), Turpan Karez Sistem (Sistem Karez di
Turpan), Xinjiang University Press, Halaman 5-19, 1993.
- Ji ZHAO, Geography of China (Geografi Cina), 2001, Higher Education Press.
- http://travelguide.sunnychina.com/travel_image/14441/1420/1
- http://it.chinahw.net/homepage/2006/baman/homepage/08xinjiang/01xinjiang/01.htm.
- http://www.travelchinaguide.com/attraction/xinjiang/turpan/karez.htm.
- www.karez.org
- http://blog.cersp.com/2005/11/06/165519.jpg.

14
Negara Bagian Jammu dan Kashmir, India Utara
Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir
Amir Ali Khan

Abstrak

Karena kawasan Kashmir seringkali mengalami gempa bumi, masyarakat yang tinggal di
daerah ini mengembangkan praktik-praktik konstruksi setempat untuk pembangunan
rumah yang aman gempa. Teknik tersebut, yang dikenal sebagai sistem “Taq” dan
“Dhajji-Dewari”, telah terbukti benar-benar tahan gempa. Studi kasus berikut ini hendak
mempelajari kearifan lokal dalam praktik-praktik pembangunan rumah yang aman gempa
di daerah-daerah pedesaan dan perkotaan di negara bagian Jammu dan Kashmir di India
bagian Utara.

Latar Belakang

Negara bagian Jammu dan Kashmir, yang memiliki total wilayah seluas 222.236 km2,
terletak di India bagian utara. Kawasan ini berbeda dari bagian-bagian lain negara
tersebut dalam beberapa hal, termasuk di antaranya dari segi topografi, iklim,
perekonomian, dan struktur sosial. Daerah ini pada dasarnya merupakan kawasan
pegunungan, di mana tingkat kepadatan penduduk di daerah lembah-lembahnya tinggi,
sementara di daerah perbukitan rendah. Secara administratif, negara bagian ini dibagi
menjadi tiga bagian berbeda, yakni daerah Jammu di selatan dan tenggara, perbukitan
Kashmir di barat dan daerah Ladakh di utara dan timur laut. Dari segi topografi, negara
bagian ini dibagi menjadi empat kawasan geografis, utamanya: kawasan dataran tinggi
pegunungan dan semi semi pegunungan, perbukitan-perbukitan yang lebih rendah
(Deretan Perbukitan Shiwalik), pegunungan di lembah Kashmir dan Deretan Pegunungan
Pir Panjal dan Pegunungan-pegunungan Ladakh dan Kargil di daerah Tibet.

Kondisi iklim bervariasi dari gurun arktik yang dingin di daerah Ladakh sampai
temperatur sedang di lembah Kashmir dan subtropis di daerah Jammu. Serupa dengan itu,
pola curah hujan tahunan juga bervariasi dari 92 mm di Leh di daerah Ladakh, 650,5 mm
di Srinagar di kawasan Kashmir dan 1.115,6 mm di Jammu di daerah Jammu. Kondisi
tanah di lembah Kashmir buruk dan sangat tidak baik untuk konstruksi bangunan.

Kisah/Peristiwa

Kawasan Kashmir terletak di zona yang memiliki tingkat ancaman gempa bumi yang
tinggi. Gempa-gempa yang dahsyat terjadi secara rutin. Pada tanggal 8 Oktober 2005,
terjadi gempa dengan kekuatan 7,6 Mw pada kedalaman 26 km, dengan pusat gempa
(episenter) terletak pada 34.60 LU, 73.00 BT dekat kota Muzaffarabad, yang getarannya
dirasakan di seluruh Pakistan dan India. Di India bagian utara, dampak terbesar gempa
tersebut dirasakan di negara bagian Jammu dan Kashmir. Distrik yang paling parah
terkena adalah distrik Poonch di daerah Jammu dan distrik Baramula dan Kupwara di
daerah Kashmir. Gempa bumi tersebut melumpuhkan kehidupan sehari-hari yang normal
sampai cukup lama karena kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkannya pada rumah-

15
rumah dan infrastruktur di kawasan tersebut, serta gangguan yang ditimbulkannya pada
komunikasi dan pelayanan-pelayanan masyarakat penting lainnya. Jumlah penduduk
yang terkena dampak gempa mencapai lebih dari setengah juta. Sekitar 90.000 rumah
tangga di Daerah Kashmir dan 8.000 di Jammu tertimpa dampak parah dari gempa ini.
Walaupun tingkat kerusakan dan kehancuran begitu tinggi, teknik-teknik konstruksi
setempat yang berdasarkan kearifan lokal telah membantu menyelamatkan nyawa banyak
orang.

Kearifan Lokal

Kawasan Kashmir terkenal akan praktik-praktik konstruksi tradisionalnya yang aman


gempa, di mana ada dua jenis praktik konstruksi yang banyak digunakan: sistem Taq
(bangunan tembok yang diikat dengan kayu-kayu) dan sistem Dhajji-Dewari (kerangka
kayu dengan dinding pengisi).

Sistem Taq

Sistem Taq menggunakan balok-balok kayu besar atau kayu gelondongan sebagai balok-
balok horisontal yang ditanam ke dalam dinding-dinding bata/batu. Balok-balok pengikat
ini ditempatkan pada lantai dasar dan di atas jendela-jendela. Balok-balok ini mengikat
semua unsur bangunan atau rumah menjadi satu dan menjaga keseluruhan struktur agar
bergerak sebagai satu kesatuan, dan dengan demikian mencegah melar serta pecahnya
tembok. Balok-balok pengikat ini dihubungkan antara satu sama lainnya dengan
potongan-potongan kayu yang lebih kecil, sehingga membentuk semacam tangga yang
diletakkan/ditempelkan pada tembok menutup dua muka luar dari tembok. Gambar 1
memperlihatkan rumah-rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Taq.

Dalam bahasa setempat Taq berarti tembok. Pada umumnya ini mengacu pada tata letak
modular dari balkon kecil dan jendela menjorok yang menjadi ciri dari tipe konstruksi ini.
Balkon kecil yang menggantung biasanya memiliki luasan hampir 1,5–2 kaki persegi dan
jendela yang menggantung lebarnya sekitar 3,5 kaki. Tidak ada kebiasaan untuk
menggunakan kerangka kayu sepenuhnya. Balok-balok pengikat berfungsi sebagai
penguat horisontal yang pada akhirnya mengikat seluruh bangunan tembok menjadi satu
kesatuan.

Gambar 1. Rumah-rumah dengan tipe konstruksi khas Taq di Srinagar. Foto: Amir Ali
Khan

Sistem Dhajji-Dewari

Sistem Dhajji-Dewari menggunakan kerangka-kerangka kayu untuk mengikat tembok


dalam bagian-bagian kecil. Kerangka kayu tidak hanya memiliki unsur vertikal tetapi
juga unsur-unsur diagonal yang membagi tembok dalam berbagai bentuk panel-panel
yang kecil. Ciri yang paling penting dari tipe konstruksi semacam ini adalah penggunaan
lapisan lumpur yang tipis sebagai campuran tembok (mortar). Di daerah yang banyak
menggunakan konstruksi ini, sistem Dhajji-Dewari biasanya digunakan untuk tembok-

16
tembok di lantai atas, terutama untuk bagian tembok yang menjorok ke luar atau
menggantung. Beberapa contoh rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe
konstruksi Dhajji-Dewari dapat anda lihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Rumah-rumah dengan sistem konstruksi khas Dhajji-Dewari di Srinagar. Foto:


Amir Ali Khan

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Setelah Gempa Bumi Kashmir pada tahun 2005, praktik-praktik konstruksi yang umum
dilaksanakan di daerah itu dipelajari untuk mencari fitur-fitur relevan yang membuatnya
aman gempa. Berikut ini beberapa hasil observasi yang didapat:

1. Penelitian mendapatkan bahwa kondisi-kondisi bangunan pada umumnya sangat


buruk karena kurangnya fitur-fitur aman gempa pada rumah-rumah dan bangunan-
bangunan yang ada. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang dibangun dengan
memanfaatkan kearifan lokal, baik dengan menggunakan sistem Taq ataupun teknik
Dhajji-Dewari, terbukti mampu menahan gempa. Ada banyak contoh di mana bagian-
bagian rumah atau bangunan yang dibangun dengan sistem Dhajji-Dewari dan Taq
mampu mengatasi goncangan gempa, bahkan walaupun bagian lain dari rumah yang
tidak menggunakan sistem tersebut telah runtuh (Gambar 3 a dan b).

2. Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas seperti tembok yang


mampu menahan beban, dengan batu yang diplester semen dan campuran kapur dan
bata yang diplester semen, terbukti tidak dapat bertahan terhadap gempa jika
dibangun tanpa bantuan pengetahuan profesional yang tepat dan memadai. Tanpa
adanya bimbingan profesional, struktur-struktur bangunan yang menggunakan beton
bertulang menjadi sangat berbahaya dan dapat berakibat pada runtuh totalnya struktur
bersangkutan jika mendapat goncangan yang besar. Gempa Bumi Kashmir jelas-jelas
memperlihatkan keunggulan praktik-praktik tradisional dalam membangun rumah
atau bangunan lain dibandingkan dengan teknik-teknik modern yang diterapkan tanpa
menggunakan pengetahuan profesional yang memadai.

3. Teknik-teknik tradisional sistem Dhajji-Dewari dan Taq untuk membangun rumah


belakangan ini menjadi semakin kurang populer. Teknik-teknik tersebut perlu
diperkenalkan lagi agar masyarakat mengetahui keunggulan-keunggulannya
dibandingkan dengan teknik-teknik modern. Lebih banyak lagi tukang di kawasan
Kashmir perlu mendapat pelatihan dalam pembangunan rumah dengan menggunakan
teknik-teknik ini.

Gambar 3. a) Bagian-bagian rumah yang menggunakan sistem Dhajji-Dewari (bagian


balkon kecil) dan b) sistem Taq (seluruh struktur kecuali bagian balkon) yang selamat
dari kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi tahun 2005.

Sumber: Durgesh C Rai dan C V R Murty (IIT Kanpur, India) – Laporan awal dari
Gempa Bumi Kashmir Utara 2005 pada 8 Oktober 2005.

17
Barmer, Rajasthan, India
Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim
yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India
Anshu Sharma dan Mihir Joshi

Abstrak

Pada bulan Agustus tahun 2006 beberapa desa di Distrik Barmer yang merupakan bagian
dari kawasan gurun dari negara bagian Rajasthan di India Barat yang selalu mengalami
kekeringan mengalami hujan deras dan kebanjiran. Hujan yang berlangsung selama terus-
menerus lebih dari seratus jam menggenangi beberapa desa sampai ketinggian tiga puluh
kaki. Berdasarkan catatan sejarah, selama dua ratus tahun terakhir hujan dan banjir
semacam itu tidak pernah terjadi dan masyarakat serta pemerintah setempat tidak siap
untuk menghadapi situasi darurat sedahsyat itu.

SEEDS, sebuah LSM nasional, segera melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang


terkena bencana tersebut dan melakukan pengkajian kerusakan serta sebuah studi tentang
lingkungan hidup alamiah setempat dan lingkungan yang telah dibangun. Tim mengkaji
praktik-praktik konstruksi tradisional di daerah tersebut, yang bentuk dasarnya berupa
dinding-dinding lumpur dan atap jerami/alang-alang, dengan desain rumah yang bundar.
Rumah-rumah semacam ini memiliki banyak keuntungan dalam menghadapi kondisi-
kondisi lingkungan hidup yang dialami saat ini. Namun, walaupun struktur tradisional
yang utamanya terdiri dari lumpur ini memang cocok untuk jenis-jenis bencana seperti
gempa bumi dan badai pasir, struktur semacam ini tidak memiliki kapasitas anti air dan
oleh karenanya menderita kehancuran yang parah selama banjir.

Kearifan lokal memang telah memberikan nilai tambah yang tinggi selama beberapa
generasi, tetapi dibutuhkan adanya dukungan teknologi yang dapat memperkuat agar
kearifan lokal dapat menghadapi tantangan bencana-bencana yang tidak pernah
diperkirakan sebelumnya yang berkaitan dengan perubahan iklim, yang akan semakin
sering terjadi di masa yang akan datang. SEEDS dan para mitranya membantu
mengembangkan suatu teknologi baru yang memadukan kearifan lokal dengan tambahan
masukan teknologi yang terbatas. Dengan bantuan Panitia-panitia Pembangunan Desa
dibangun beberapa bangunan baru yang dapat beradaptasi dengan ancaman-ancaman
bencana yang ada saat ini.

Latar Belakang

Distrik Barmer merupakan sebuah distrik yang terletak pada bagian paling barat dari
negara bagian Rajasthan, India. Terletak di sepanjang perbatasan India dan Pakistan,
distrik ini sepenuhnya berada di kawasan Gurun Thar. SEEDS bekerja di daerah/blok
Sheo dari distrik Barmer di mana mereka membangun 300 hunian untuk keluarga-
keluarga yang paling parah terkena dampak banjir, dengan sasaran terutama kelompok-
kelompok yang secara sosial terpinggirkan dan tidak memiliki kapasitas untuk dapat
membangun rumah mereka kembali secara mandiri.

18
Masyarakat setempat tinggal terpencar-pencar dan dalam jumlah yang sangat sedikit.
Dalam satu klaster/kelompok permukiman biasanya ada empat sampai lima bangunan
bundar yang dikelilingi oleh sebuah tembok rendah, dan ini menjadi tempat tinggal
sebuah keluarga yang dalam bahasa setempat disebut Dhani. Setiap bangunan digunakan
untuk berbagai kegiatan berbeda seperti tidur, menyimpan barang, memasak dan
kegiatan-kegiatan harian lainnya. Sekelompok Dhani membentuk sebuah desa.
Komunitas-komunitas ini tinggal dalam kondisi iklim yang sangat keras dan mereka
harus menggunakan dengan bijaksana sumber-sumber daya yang sangat terbatas di
sekitar mereka untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membangun rumah-rumah mereka.
Tingkat kepadatan penduduk di distrik Barmer termasuk yang paling rendah di India. Air
merupakan masalah utama di daerah ini. Perempuan-perempuan desa harus berjalan jauh
dengan kendi-kendi di atas kepala untuk mengambil air untuk minum, seringkali lebih
dari satu kali dalam sehari. Kehidupan di kawasan ini benar-benar sangat berat. Sarana
penghidupan yang tersedia sangat terbatas sekali.

Kisah/Peristiwa

Hujan yang terjadi terus-menerus di gurun di negara bagian Rajasthan menimbulkan


salah satu banjir terburuk dalam dua abad terakhir di Rajasthan. Hujan lebat di musim
penghujan yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2006 mendera sekitar seratus desa dari
12 distrik yang ada di Rajasthan. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 2006, Barmer telah
menerima curah hujan sebesar 577 mm hanya dalam waktu tiga hari, 300 mm lebih
banyak daripada rata-rata curah hujan tahunannya. Beberapa desa yang paling parah
terkena meliputi Kavas, Malua, Bhadkha dan Shiv. Tinggi permukaan banjir mencapai
hampir tiga puluh kaki di atas permukaan tanah. Laporan resmi menyebutkan banjir ini
menelan korban jiwa 103 orang, dan sekitar 95 persen keluarga yang berada di desa-desa
yang terkena (lebih dari 50.000 orang) terpaksa kehilangan rumah tempat tinggal mereka.
Dampak banjir semakin diperparah oleh kenyataan bahwa daerah tersebut memiliki
penduduk yang sangat sedikit dan fasilitas-fasilitas infrastruktur pun sangat terbatas
sekali, sehingga akses warga terhadap pelayanan pemerintah menjadi sangat sulit.

Banjir juga menimbulkan kehancuran parah karena sebagian besar rumah di kawasan ini
pada umumnya dibangun di daerah cekungan yang terletak di sela-sela perbukitan pasir
untuk melindungi diri dari badai pasir. Dalam situasi banjir hal ini sangat merugikan
karena tempat tinggal warga menjadi semacam kantung-kantung yang letaknya rendah
dan dengan menjadi arah tujuan larinya air banjir. Juga karena jenis lapisan tanah bagian
dalam yang tidak menyerap air, air banjir menggenang selama berminggu-minggu.
Bahkan rumah-rumah yang masih berdiri tegak di banyak tempat menjadi tidak layak
untuk dihuni lagi. Karena sebagian besar bangunan terbuat dari lumpur, banyak yang
rusak parah dan hancur akibat banjir. Masyarakat setempat sebelumnya tidak pernah
mengalami bencana banjir sedahsyat itu dan mereka begitu terkejut serta tidak tahu harus
berbuat apa untuk menghadapi situasi seperti itu. Beberapa warga setempat berpikiran
bahwa bencana merupakan hukuman dari dewa-dewi yang kurang berkenan terhadap
kehidupan mereka, sementara mereka yang lebih ilmiah mengaitkan banjir itu dengan
perubahan iklim.

19
Kearifan Lokal

Kearifan lokal untuk kenyamanan dan keberlanjutan permukiman

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di Rajasthan selama beberapa generasi telah
terbiasa membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan setempat dan teknologi
tradisional mereke. Untuk membangun dhani mereka, semua anggota keluarga
memainkan peranan penting dan semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Kaum
lelaki mengumpulkan tanah yang berkualitas baik dari tempat-tempat terdekat, sementara
kaum perempuan mengumpulkan kotoran sapi, yang kemudian dicampur dengan adonan
lumpur menjadi bahan bangunan dasar untuk keperluan konstruksi. Kaum perempuan
mengerjakan pemlesteran rumah baru dan selanjutnya mereka juga bertanggung jawab
atas perawatan rutin tembok-tembok dan lantai. Atap dibuat dari anyaman ranting-ranting
dan jerami dari tanaman Jowar.

Rumah dibangun dengan arah sedemikian rupa sehingga arah angin dan jalan sinar
matahari dapat menjamin adanya ventilasi yang baik dan suhu rumah tetap terjaga agar
nyaman, yang merupakan sesuatu yang penting di daerah ini karena suhu pada musim
panas dapat mencapai 500 C. Pada umumnya ukuran bukaan pintu-jendela sangat kecil
untuk mengurangi panas yang masuk dan melindungi dari badai pasir yang sering terjadi
di daerah tersebut.

Masyarakat biasanya membangun rumah berbentuk bundar dan memilih lokasi di daerah
yang tidak terlalu tinggi. Ini terutama dilakukan karena adanya Kawasan Angin dengan
Kecepatan Tinggi yang sering mengalami angin kencang terutama di musim panas.
Rumah yang bundar akan mempermudah aliran udara dengan hambatan yang minimum.
Gambar 1 menyajikan diagram struktur sebuah dhani.

Karena kawasan ini juga berlokasi di kawasan rawan gempa sedang sampai tinggi,
berdasarkan Peta Kerawanan Gempa India, bentuk yang bundar juga dapat memberi
rumah kekuatan daya tahan lateral. Pada gempa bumi tahun 2001 di Kutch, Gujarat, yang
sangat dekat dengan Barmer, hanya sedikit rumah dengan desain serupa di kawasan ini
yang mengalami kerusakan.

Gambar 1. Diagram struktur sebuah dhani

Bertahannya dan penyebarluasan kearifan lokal dalam hal konstruksi

Teknologi yang berdasarkan kearifan lokal untuk membangun rumah kediaman warga
digunakan secara meluas di kawasan tersebut. Para anggota masyarakat sendiri menjadi
penyebar dari teknologi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena seluruh
anggota keluarga menjadi bagian dari kegiatan pembangunan rumah, mereka memiliki
rasa kepemilikan terhadap rumah kediaman mereka dan pemahaman akan bahan-bahan
bangunan serta cara memprosesnya.

20
Ada lima faktor utama yang menyebabkan teknologi pembangunan rumah tradisional
semacam ini dapat bertahan di kawasan gurun yang terpencil dan bagaimana teknologi ini
disebarluaskan ke masyarakat lain di wilayah yang lebih luas. Hal ini diperlihatkan pada
Gambar 2 dan diterangkan di bagian berikut ini.

1. Para pemimpin masyarakat memberi contoh dengan menggunakan Teknologi ini


Salah satu tradisi penting yang sangat umum yang diikuti oleh sebagian besar
masyarakat pedesaan di India adalah adanya sekelompok orang terhormat di desa
yang memberikan contoh bagi seluruh masyarakat. Para anggota masyarakat
seringkali meniru para pemimpin ini dalam hal perilaku, pilihan-pilihan, dan cara
hidup pada umumnya. Di desa-desa di Barmer, sebagian besar orang terhormat di
masyarakat hidup di Dhani-dhani. Menyaksikan hal tersebut, para anggota
masyarakat lainnya terdorong untuk mengikuti.

2. Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan rumah


Seluruh masyarakat dan para anggota keluarga terlibat dalam berbagai kegiatan dalam
rangka pembangunan rumah. Keterlibatan para anggota keluarga serta saudara-
saudara dekat mengurangi beban biaya pembangunan rumah dan memperkuat
semangat bermasyarakat. Inilah juga hal yang menjadi salah satu alas an mengapa
teknologi ini dapat bertahan dan terus digunakan di kawasan pedesaan dan pusat
tradisi ini.

3. Kondisi-kondisi iklim yang ekstrim


Di Barmer, suhu udara pada musim panas dapat mencapai 500 C dan pada musim
dingin suhu udara di malam hari mendekati titik beku. Rumah-rumah yang terbuat
dari beton menjadi seperti oven di kala udara panas dan dalam suhu dingin menjadi
seperti lemari es. Tidak ada listrik dan bahan bakar sangat langka serta harganya tak
terjangkau untuk digunakan sebagai pengontrol suhu udara. Untuk dapat bertahan
hidup dalam kondisi iklim yang ekstrim seperti ini dibutuhkan sebuah rumah yang
sesuai. Walaupun beberapa orang telah mulai memilih membangun rumah dengan
bahan-bahan bangunan modern, rumah modern yang mereka bangun tidak senyaman
seperti rumah-rumah tradisional.

4. Tersedianya bahan-bahan bangunan lokal yang gratis


Adanya bahan-bahan bangunan lokal, yang bebas biaya dan bebas transportasi,
merupakan faktor penarik utama bagi masyarakat yang telah dibuat menjadi miskin
oleh tidak adanya pilihan-pilihan untuk memperoleh penghidupan dan oleh iklim
yang sangat keras.

5. Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan


Bentuk yang bundar mampu menahan tekanan angin yang ditimbulkan oleh badai
pasir dan tekanan gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Dinding yang
dibuat memiliki kualitas untuk mengisolasi panas atau dingin dan tebal, sehingga
memberikan suhu udara yang nyaman di dalam rumah baik dalam situasi panas
ataupun dingin yang ekstrim. Atap rumah Dhani juga tersambung baik dengan sistem
tembok, sehingga tercipta tingkat keamanan struktural yang lebih tinggi bagi rumah

21
sebagai suatu unit. Gabungan dari keamanan dan kenyamanan ini telah menghasilkan
teknologi pembangunan rumah yang teruji sepanjang masa dan dihargai di tingkat
lokal atas manfaat langsung ataupun manfaat jangka panjang yang telah diberikannya.

Para
pemimpin
masyarakat
memberikan
contoh

Desain yang Keterlibatan


baik untuk masyarakat
keamanan dalam
dan konstruksi
kenyamanan Teknologi rumah
konstruksi
rumah asli
masyarakat

Tersedia
Kondisi bahan
Iklim yang bangunan
ekstrim lokal yang
gratis

Gambar 2. Faktor-faktor yang menentukan kebertahanan dan penyebarluasan teknologi


pembangunan rumah milik masyarakat setempat.

Dukungan ilmu pengetahuan

SEEDS mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana segera setelah


banjir dan melakukan kajian kerusakan serta sebuah studi atas lingkungan setempat, baik
lingkungan hidup alami maupun lingkungan bentukan manusia. Tim pengkaji menilai
dan mendokumentasikan praktik-praktik pembangunan rumah di daerah tersebut, yang
terbukti memiliki beberapa nilai tambah. Tim mendapati bahwa struktur bangunan
ternyata sangat ramah lingkungan karena bahan-bahan bangunan yang dicapai sama
sekali tidak menciptakan jejak ekologis atau karbon; rumah-rumah yang dibangun sangat
kondusif dan memiliki suhu ruang yang sangat nyaman dalam kondisi cuaca ekstrim yang
sering terjadi di kawasan tersebut; desain yang bundar melindungi struktur bangunan dari
angin kencang dan gempa bumi; dan proses pembangunannya sederhana serta cocok
dengan tingkat ketrampilan masyarakat setempat.

SEEDS dan berbagai mitranya membantu dalam pembangunan 300 hunian di bawah
Program Barmer Ashray Yojana (Program Perumahan Barmer). Program dimulai dengan
penelitian tentang teknologi tepat guna yang dapat mendukung sistem pembangunan
tradisional yang sudah ada, dan penelitian ini membawa pada penggunaan teknologi bata
press saling terikat yang distabilisasikan (Stabilized Compressed Interlocking Earth

22
Block/SCEB). Dalam teknologi SCEB, lumpur lokal distabilisasikan dengan semen
sebanyak lima persen, kemudian dipress menjadi bentuk bata yang memiliki kekuatan
struktural tinggi dan kemampuan anti air.

Bekerja sama dengan Christian Aid, dan dengan pendanaan dari Departemen Bantuan
Kemanusiaan Komisi Eropa, rumah-rumah dibangun dengan menggunakan teknologi
tepat guna ini, yang merupakan campuran dari kearifan lokal dan sedikit masukan ilmiah
untuk membuatnya semakin tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru
(Gambar 3a dan 3b). Panitia Pembangunan Desa (Village Development Committee/VDC)
dibentuk di setiap desa untuk mengambil keputusan dan mengarahkan serta memantau
proses pembangunan. Panitia ini terdiri dari kaum lelaki, perempuan, para pemimpin
masyarakat setempat, para guru sekolah, perwakilan-perwakilan LSM dan personil tim
proyek bekerja sama erat dengan para pejabat pemerintah setempat. Desain tradisional
yang bundar dan atap jerami yang “bisa bernafas” tetap dipertahankan. Sebuah sistem
yang efisien dibangun untuk memproduksi SCEB secara massal untuk menyediakan
rumah kepada keluarga-keluarga yang terkena bencana dalam rentang waktu hanya enam
bulan. Pembangunan rumah sebagian besar dikerjakan oleh para pemilik rumah sendiri
dengan hanya sedikit dukungan dari tim proyek. Pengetahuan dan ketrampilan dalam
membangun rumah-rumah ini diturunkan kepada para tukang bangunan setempat
sehingga dapat direplikasi dan disebarluaskan di seluruh kawasan. Setelah pembangunan
rumah selesai, masyarakat setempat lebih memilih struktur-struktur bangunan tradisional
ini daripada rumah yang dibangun dengan teknologi beton modern yang disediakan oleh
donor lain, yang berubah menjadi seperti oven di bawah matahari gurun yang panasnya
begitu menyengat.

Gambar 3. Rumah dhani tradisional

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari intervensi proyek dan pendokumentasian


studi kasus ini berkaitan dengan teknologi pembangunan rumah, ilmu bahan bangunan,
serta sistem-sistem dan proses-proses sosial. Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik
disarikan pada bagian di bawah ini:

1. Program-program pembangunan rumah pasca-bencana harus memanfaatkan kearifan


lokal yang ada dalam hal bahan-bahan bangunan dan teknologi konstruksi, karena hal
ini telah teruji dari generasi ke generasi dan paling sesuai dengan lingkungan hidup
serta budaya setempat.

2. Jika dibutuhkan teknologi dapat diperkenalkan, tetapi secara minimal saja, untuk
memberi nilai tambah kepada sistem-sistem tradisional yang ada dan membuat
sistem-sistem tersebut menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman
baru seperti yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

3. Bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunan rumah haruslah sedapat


mungkin ramah lingkungan dan berasal dari daerah setempat. Ini akan membuat biaya

23
yang dibutuhkan untuk membangun rumah menjadi rendah, dan juga meminimalkan
jejak karbon dari intervensi proyek.

4. Partisipasi dari para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan berkaitan


dengan pemilihan tempat, desain dan rincian konstruksi merupakan hal yang sangat
menentukan bagi keterlibatan dan kepemilikan masyarakat terhadap proses ini.

5. Keterlibatan keluarga-keluarga pemilik dalam proses pembangunan rumah sangat


berguna dalam menghemat biaya, memperkuat rasa memiliki, dan membuat desain
serta proses pembangunan rumah menjadi cukup fleksibel bagi setiap keluarga agar
mereka dapat mengatur sendiri unsur-unsur kecil dari pembangunan rumah yang
sesuai dengan pilihan dan kebutuhan mereka.

6. Alih teknologi kepada para tukang bangunan setempat merupakan sesuatu hal yang
sangat berguna demi menjamin keberlanjutan pendekatan konstruksi, replikasinya
dan peningkatannya di kawasan bersangkutan.

7. Hubungan dengan para pemangku kepentingan lokal termasuk pemerintah, kaum


akademisi dan sektor swasta merupakan sesuatu hal yang berguna demi melancarkan
pelaksanaan proyek-proyek semacam ini, dan juga untuk mendorong agar para
pemangku kepentingan menerima pendekatan yang ditawarkan, yang pada jangka
panjangnya akan membantu keberlanjutan pendekatan tersebut.

8. Hubungan dengan sektor-sektor lain seperti sektor air, sanitasi, penghidupan dan
pendidikan dapat membantu menciptakan paket yang lebih menyeluruh yang
berkaitan dengan rumah hunian, lingkungan hidup dan gaya hidup serta akan
memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Daftar Pustaka

- Dewan Promosi Bahan dan Teknologi Bangunan (Building Materials and Technology
Promotion Council), Pemerintah India, 2006. Peta Kerentanan India (Vulnerability
Atlas of India). 2006.
- SEEDS. 2007. “Barmer Aashray Yojna – Program Restorasi Hunian Pasca Banjir”,
Dokumen Proyek, SEEDS, Delhi.

24
Desa Nandeswar, Distrik Goalpara, Assam, India
Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik
Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar, Assam
Irene Stephen, Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath

Abstrak

Penanaman pohon bambu di sepanjang tanggul saluran air oleh para warga setempat di
Desa Nandeswar dalam banyak hal telah menguntungkan desa mereka. Dengan ditanami
bambu, salah satu vegetasi Assam yang paling dapat ditemukan di mana-mana di daerah
tersebut, tanggul-tanggul saluran air jadi terlindungi dan tanah terhindar dari erosi lebih
lanjut. Walaupun banjir terjadi setiap tahun di Assam, teknik ini telah memelihara dan
menjaga tanggul-tanggul serta melindungi jembatan-jembatan dan jalan-jalan raya dari
kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi.

Latar Belakang

Desa Nandeswar terletak di Distrik Goalpara (Gram Panchayat–Karipara di bawah


Daerah/Blok Pembangunan Matia), Assam, India. Sebagian besar warga Desa Nandeswar
adalah petani. Penghidupan mereka tergantung pada lahan dan kegiatan-kegiatan berbasis
pertanian. Assam dan negara-negara bagian timur laut lainnya seringkali mengalami
banjir selama musim-musim penghujan dari bulan Juni sampai September.

Kisah/Peristiwa

Walau daerah ini mengalami kejadian banjir yang parah pada tahun 2002, 2004 dan 2007,
tahun-tahun antara 1953-1998 merupakan saat-saat kejadian banjir yang terburuk.
Kondisi fisik kawasan dan faktor-faktor seperti penggundulan hutan, tekanan penggunaan
lahan, tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dan tekanan-tekanan pada aliran-aliran
sungai telah menyebabkan adanya perubahan aliran-aliran dan saluran-saluran sungai
secara terus-menerus, dan erosi pada tepi sungai di daerah aliran sungai Brahmaputra.
Selama masa-masa curah hujan tinggi, daerah luas di sekitar Assam tergenang, dan ini
mengakibatkan banyak desa dan kota-kota di Assam menjadi terisolasi. Secara khusus,
runtuhnya tanggul sungai dan jalan, putusnya jembatan dan tanah longsor biasanya
menyebabkan warga terperangkap. Selama bertahun-tahun, masyarakat di kawasan ini
berulang kali harus menghadapi hari-hari kebanjiran yang panjang.

Kearifan Lokal

Masyarakat telah belajar menghindari kerugian dengan menggunakan metode-metode


yang terjangkau dan telah dipraktikkan selama beberapa generasi. Beberapa teknik
tradisional dapat membantu sungai dan saluran-saluran air agar terhindar dari
pendangkalan dan peluberan yang berlebihan jika hujan deras. Banjir seringkali
membobol tanggul dan merusak jalan-jalan yang merupakan penghubung penting antara
satu desa dengan desa lainnya. Penanaman bambu membantu melindungi tanggul agar
tidak tergerus dan mencegah banjir bandang dari aliran sungai bila sungai meluber pada

25
hari-hari hujan deras (Gambar 1). Selain itu, penanaman bambu di sekitar kolam-kolam
ikan dan sawah-sawah dapat mencegah erosi tanah serta menjaga agar air tidak
menenggelamkan daerah-daerah yang letaknya rendah selama puncak hari-hari banjir.

Sebagai persiapan untuk menghadapi datangnya hari-hari hujan dari bulan Desember
sampai Februari, para warga di Desa Nandeswar biasanya membersihkan aliran-aliran
sungai dari endapan dan pasir. Bahan-bahan yang didapat dari pembersihan ini ditumpuk
di sepanjang sungai dan saluran air sebagai gundukan tanggul dari tanah. Permukaannya
ditanami rumput untuk mencegah erosi (Gambar 2). Akar-akar rumput membantu
mengikat lapisan tanah di bagian atas. Setelah satu bulan, di sepanjang tanggul tanah
dibuat lubang berjarak 24 inchi yang kemudian ditanami bibit/anakan bambu. Proses ini
dilakukan dengan menggunakan metode penanaman lokal yang disebut teknik penekanan
akar bambu. Sejalan dengan tumbuhnya bambu, akar-akarnya yang dalam akan menjalar
ke segala arah dan menumbuhkan anakan-anakan bambu yang baru serta mengikat tanah.
Akar-akar bambu menjalar di permukaan (dekat lapisan tanah bagian atas) masuk 2,5
sampai 3 kaki ke dalam tanah dan pada bagian tanah yang lebih dalam bahkan sampai 5
kaki.

Gambar 1. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai di Assam.


Gambar 2. Tanggul-tanggul tanah dibangun dari tanah endapan dan pasir serta ditanami
rumput.

Para warga setempat memperoleh banyak manfaat dari teknik penanaman semacam ini.
Selain mengurangi tingkat erosi tanah, tanaman bambu yang sudah berumur 5 tahun
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan dasar untuk kerajinan dan pembuatan
kertas. Kegiatan-kegiatan ini membantu menciptakan lapangan kerja tambahan bagi
masyarakat. Biaya untuk memperbaiki dan memelihara tanggul tanah juga sangat
ekonomis. Endapan lumpur yang diambil dari sungai juga dapat digunakan untuk
berbagai keperluan pertanian.

Pelajaran yang Dapat Dipetik


Para warga masyarakat Desa Nadeswar telah belajar bagaimana menyiasati banjir dan
erosi tanah. Mereka telah menggunakan penanaman bambu untuk mencegah kerusakan-
kerusakan yang besar. Tidak seperti di masa lalu, di mana bambu ditanam hanya untuk
keperluan komersial, teknik ini menjadi suatu cara yang ekonomis yang dapat membantu
warga setempat dalam menjaga kelestarian air dan menghentikan erosi lapisan tanah
bagian atas serta tebing sungai. Metode yang digunakan membutuhkan investasi yang
lebih sedikit untuk perbaikan dan pemeliharaan tanggul, mengurangi pengendapan yang
dibawa oleh hujan deras serta mencegah peluberan air sungai. Masyarakat juga telah
banyak memetik manfaat dari berbagai kegunaan bambu melalui teknik konservasi yang
dikembangkan secara lokal ini. Penanaman bambu telah memegang peranan yang penting
dalam hal penghidupan dan upaya bertahan hidup masyarakat di Nandeswar, Assam.
Gambar 3. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai melindungi sebuah jembatan
penting.

26
Simeulue, Nias, dan Siberut, Indonesia
Dongeng, Ritual, dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api
Koen Meyers dan Puteri Watson

Abstrak

Praktik-praktik kearifan lokal terbukti telah mengurangi dampak bencana alam di tiga
pulau Sumatra, yakni Simeulue, Nias, dan Siberut. Dengan kebudayaan yang berbeda-
beda, ketiga pulau itu, yang dalam kurun waktu lima tahun mengalami bencana gempa
bumi dan tsunami, telah mengangkat ke permukaan pelbagai praktik kearifan lokal yang
sebelumnya luput dari perhatian masyarakat internasional yang peduli pada upaya
pengurangan risiko bencana. Praktik-praktik itu mencakup antara lain sarana komunikasi
tradisional, metode pembangunan dan perencanaan hunian, serta upacara ritual yang
terkait. Praktik-praktik itu akan dibahas secara terinci supaya diperoleh pemahaman yang
utuh mengenai dampaknya dan bagaimana relevansi praktik dan kearifan lokal bagi
pembangunan modern.

Latar belakang

Simeulue

Simeulue adalah bagian dari Provinsi Aceh. Wilayahnya berupa kepulauan yang terdiri
dari 1 pulau besar, yaitu Pulau Simeulue, dan sekitar 40 pulau kecil. Luasnya sekitar
205.148,63 ha dan terletak kira-kira 155 km dari pulau utama Sumatra.

Nias

Nias terdiri dari sekumpulan pulau yang terletak antara Simeulue dan kepulauan
Mentawai, kira-kira 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra Utara. Luas wilayahnya
4.771 km². Secara administratif kepulauan Nias termasuk dalam Provinsi Sumatra Utara,
terdiri dari dari dua kabupaten, yaitu Nias dan Nias Selatan. Menurut data sensus tahun
2006, jumlah penduduk Nias diperkirakan 713.045 jiwa.1 Gambar 1 memperlihatkan
pemandangan sebuah perkampungan di Nias.

Siberut

Dengan luas 400.030 ha, Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai yang
terdiri dari sekurang-kurangnya 70 pulau, besar dan kecil. Letaknya di sebelah barat lepas
pantai Sumatra Barat. Lebih dari 35.000 penduduk asli tinggal di Siberut. Mereka
termasuk dalam kelompok etnik Mentawai dan merupakan salah satu dari sedikit
kelompok masyarakat di Asia Tenggara yang cara hidupnya masih banyak bergantung
pada lingkungan alam. Di banyak tempat di Siberut masih tampak pola ekonomi yang
subsisten, di mana pengelolaan lingkungan secara tradisional dan sistem-sistem
kepercayaan yang terkait berperan penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orangnya.
Contoh perkampungan khas Siberut dapat dilihat dalam Gambar 2.
1
Badan Pusat Statistik Sumatera Utara

27
Kisah/Peristiwa

Dalam lima tahun terakhir, Simeulue, Nias, dan Siberut mengalami beberapa kejadian
gempa bumi dan tsunami. Pada Desember 2004 tsunami melanda Simeulue dan Nias.
Kendati demikian, di Simeulue hanya jatuh sedikit korban bila dibandingkan dengan di
daerah lainnya. Laporan resmi pemerintah setempat menyebutkan hanya ada tujuh korban
dari keseluruhan populasi yang jumlahnya sekitar 78.000, di mana 95% di antaranya
hidup di wilayah pantai.2 Ketika terjadi gempa pada 26 Desember 2004, penduduk
Simeulue tahu bahwa mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena ada
kemungkinan terjadi tsunami. Reaksi ini telah meminimalkan dampak kerusakan akibat
tsunami. Selain faktor kearifan lokal itu, topografi pulau yang berbukit-bukit juga
menjadi faktor penting lain yang memperkecil jumlah korban. Perbukitan hanya berjarak
ratusan meter dari perkampungan dan garis pantai.

Pulau Nias mengalami dampak serius akibat gempa 26 Desember 2004 dan tsunami yang
terjadi setelahnya. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat
tinggal.3 Beberapa bulan kemudian, tepatnya 28 Maret 2005, terjadi lagi gempa
berkekuatan 8,7 skala Richter dan merenggut 839 jiwa.4 Dampak gempa sangat dahsyat
sehingga di beberapa tempat menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari 2 meter, dan
menyembulkan karang pantai hingga 100 meter dari garis pantai semula. Kehidupan 90%
penduduk terkena dampaknya, 15.000 rumah harus diperbaiki dan 29.000 lainnya harus
dibangun kembali.

Pada tanggal 12 September 2007 sebuah gempa berkekuatan 7,9 skala Richter terjadi di
dekat Siberut. Namun, hanya jatuh satu korban jiwa. Salah satu sebab kecilnya angka
korban adalah karena semua orang, begitu merasakan gempa, bergegas meninggalkan
rumah dan lari ke tempat terbuka. Reaksi yang kompak semacam itu dapat dimungkinkan
antara lain karena adanya pengetahuan masyarakat yang dikomunikasikan melalui
dongeng dan legenda.

Kearifan Lokal

Simeulue

Salah satu penyebab rendahnya angka korban tewas di Pulau Simeulue adalah kearifan
lokal yang dimiliki masyarakat setempat. Menurut mereka, kearifan atau pengetahuan itu
berasal dari “pengalaman nenek moyang” pada tahun 1907, ketika terjadi sebuah gempa
besar yang menimbulkan tsunami hingga menewaskan banyak penduduk pulau. Cerita-
cerita tentang peristiwa 1907 ini kemudian diterjemahkan menjadi kisah-kisah, monumen
peringatan, dan pengingat lainnya, yang lalu diteruskan kepada anak cucu mereka dengan
pola yang bermacam-macam.

2
UNORC (2005)
3
Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias, (2005, Oktober)
4
BRR (2005, Oktober)

28
Masyarakat Simeulue menggunakan kata smong untuk menyebut peristiwa itu, yang
artinya sama dengan tsunami. Adanya istilah lokal untuk menyebut peristiwa tsunami
membuktikan bahwa masyarakat setempat memiliki pengetahuan hingga tingkat tertentu
berkaitan dengan fenomena alam itu. Tidak jelas apakah sebelum tsunami tahun 1907
istilah smong memang sudah ada, tetapi banyak orang Simeulue amat yakin bahwa istilah
itu sudah ada. Konon, kata smong diturunkan dari ni semongan yang berarti percikan
(air), sebagaimana ditemukan dalam satu dari tiga bahasa setempat. Menurut pemahaman
penduduk sekarang ini, smong adalah rentetan peristiwa yang diawali oleh gempa yang
besar, lalu diikuti oleh surutnya air laut, kemudian gelombang raksasa dan banjir.

Peristiwa yang terjadi pada tsunami tahun 1907 diwariskan dari mulut ke mulut dalam
masyarakat tanpa struktur yang baku. Cerita-cerita itu dikisahkan tidak dengan tujuan
menyiapkan anak cucu menghadapi bencana serupa di masa datang, melainkan untuk
memberikan gambaran tentang suatu kejadian dalam sejarah. Peristiwa itu rupanya
meninggalkan trauma yang amat dalam sehingga darinya muncullah cerita-cerita
individual, yang kemudian diceritakan turun-temurun di dalam keluarga atau di
masyarakat. Tiap-tiap cerita memiliki kisahnya sendiri-sendiri dan tak jarang
menyebutkan tentang penderitaan dan kematian anggota keluarga. Karena tsunami 1907
terjadi pada hari Jumat, ketika orang-orang sedang kembali ke rumah seusai
melaksanakan ibadah di masjid, peristiwa itu kemudian memperoleh makna simbolik
religius, yakni sebagai murka Tuhan. Orang kerap menyebut peristiwa itu sebagai cara
Tuhan untuk meluruskan kembali cara hidup mereka yang telah melanggar norma-norma
sosial dan religius. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan juga tentang monumen alam dari
peristiwa tsunami, misalnya adanya bebatuan karang laut di lahan pertanian di daratan.

Nias

Gempa tanggal 28 Maret 2005 sangat berdampak terhadap penduduk dan infrastruktur
Pulau Nias. Di tengah segala kerusakan itu justru tampaklah contoh yang sangat kentara
tentang bagaimana praktik tradisional dapat mengurangi dampak bencana. Setelah
gempa, kebanyakan rumah kayu tradisional yang jumlahnya terus berkurang itu ternyata
dapat bertahan terhadap goncangan gempa.

Seperti tampak pada Gambar 3, rumah tradisional Nias terbuat dari kayu, di mana unsur-
unsur strukturnya dikaitkan satu sama lain, bukan dipaku. Teknik sambungan ini
menyebabkan bangunan fleksibel. Rumah ditopang oleh tonggak-tonggak vertikal
(enomo), yang bertumpu pada balok-balok batu dan sejumlah balok diagonal (ndriwa).
Ndriwa diletakkan di antara enomo, dengan arah memanjang dan melintang bangunan,
dan dengan demikian berfungsi sebagai pengikat longitudinal dan lateral sekaligus.
Mereka saling bertumpu satu sama lain pada bagian bawah, juga pada bagian atas yang
tepat bertemu dengan balok horizontal di bawah lantai rumah. Teknik pengikatan ndriwa
secara diagonal ke dua arah ini memungkinkan bangunan bertahan terhadap goncangan
gempa yang sangat kuat sekalipun.

Atap bangunan memiliki konstruksi yang serupa dengan struktur alasnya. Atap terdiri
dari beberapa lapis balok diagonal yang ditepatkan pada posisi lateral. Kedua ujungnya

29
bertumpu pada balok-balok vertikal dan diagonal. Struktur alas dan atap semacam ini
membentuk struktur tiga dimensi yang meningkatkan elastisitas dan stabilitas bangunan
ketika terjadi gempa. Teknik yang khas itu hingga kini tetap dinilai sebagai contoh yang
teruji mengenai arsitektur yang tahan gempa di Pulau Nias.

Siberut

Pengalaman masyarakat Mentawai atas fenomena alam seperti gempa bumi telah mereka
terjemahkan ke dalam pelbagai strategi, secara kasat mata maupun tidak, yang berhasil
mengurangi dampak bencana gempa. Sebagai misal, salah satu strategi yang tak kasat
mata adalah kisah dongeng yang menekankan adanya kaitan metafisik antara manusia
dan peristiwa gempa bumi. Dongeng itu mengisahkan secara detail tentang gempa yang
pertama kali terjadi di muka bumi. Selain membangkitkan kesadaran masyarakat atas
bahaya gempa, cerita ini juga mengingatkan pendengar bahwa gempa bumi mempunyai
asal-usul manusia juga dan berkaitan dengan emosi manusia.

Berikut ini adalah salah satu versi dongeng di Attabai, sebuah dusun kecil di Siberut
selatan:

“Pada zaman dahulu kala, di sebuah lembah di pantai barat Pulau Siberut, hiduplah
sebuah keluarga besar. Mereka ingin membangun sebuah rumah panjang (uma) yang
baru dan megah. Segala persiapan dilakukan: pohon-pohon besar ditebang untuk
dijadikan tonggak, daun sagu dikumpulkan untuk anyaman atap, kayu dipotong-potong
untuk dijadikan papan lantai, dan kulit rotan mereka serut untuk dijadikan tali. Mereka
meminta bantuan sanak saudara dan kenalan yang tinggal di lembah lainnya.

Setelah segalanya siap, tibalah waktu untuk menggali lubang bagi tonggak pertama.
Setelah lubang selesai digali, sang pemilik uma menjatuhkan cangkulnya ke dalam
lubang, kemudian meminta saudara tirinya agar mengambilkan cangkulnya itu. Sang
pemilik rumah sesungguhnya tidak menyukai saudara tirinya ini. Ketika si saudara tiri
sudah berada di dalam lubang, sang pemilik rumah memerintahkan para saudara
lainnya untuk menghunjamkan tonggak kayu yang besar ke dalam lubang. Sesaat
terdengar jerit kesakitan, namun begitu tonggak kayu besar itu tertanam, hanya ada
kesunyian.

Akhirnya, uma itu selesai dibangun dan termasyhur di seluruh pulau karena
keindahannya. Lalu, tiba saatnya untuk menyelenggarakan pesta besar-besaran sebagai
upacara peresmiannya. Sang pemilik rumah mengundang sanak saudara dan kenalan
untuk ikut pesta. Puluhan babi dan ratusan ayam disembelih dan dimasak.

Sementara itu, arwah sang saudara tiri tidak dapat beristirahat dengan tenteram. Ia
sangat dendam terhadap sang pemilik rumah dan semua yang ikut berpesta. Sebelum
perayaan berlangsung, sang arwah memperingatkan saudara perempuannya dan anak-
anaknya agar selama pesta mereka tidak makan di dalam uma, melainkan harus
bersembunyi di bawah pohon pisang.

30
Ketika orang-orang sedang berpesta pora dan menyantap hidangan di dalam uma, tiba-
tiba saja tanah bergoncang amat keras. Gempa bumi itu ungkapan balas dendam sang
arwah. Uma yang indah dan megah itu runtuh. Semua orang di dalamnya mati, kecuali
keluarga sang arwah. Hanya merekalah yang selamat dari kejadian itu.

Semenjak hari itu, menurut kisah itu, orang-orang Mentawai menyebut gempa bumi
sebagai teteu yang berarti ‘kakek’.”

Ada dua istilah dalam bahasa Mentawai untuk menyebut gempa bumi, yaitu sigegeugeu
dan teteu. Sigegeugeu dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai ‘goncangan’ [dan
memiliki makna persis sama dengan kata earthquake dalam bahasa Inggris]. Sementara
itu, teteu atau ‘kakek’ memiliki makna yang metafisik, yang menyiratkan
antropomorfisasi terhadap fenomena alam yang perlu dihadapi dengan rasa hormat dan
gentar. Menurut sistem kepercayaan di sana, setiap kali orang hendak mendirikan rumah,
mereka harus memberikan sesaji bagi roh penguasa tanah (Taikabaga) agar teteu (kakek)
tidak murka dan marah. Sesaji diletakkan di dekat tonggak-tonggak utama dengan tujuan
menenangkan hati para roh penguasa tanah, serta agar rumah itu dilindungi apabila suatu
hari nanti teteu datang lagi. Tindakan menyiapkan sesaji berguna untuk menanamkan
kesadaran kolektif tentang risiko gempa dan membuatnya tetap hidup dalam kesadaran
masyarakat. Gambar 4 memperlihatkan tokoh adat yang berperan sebagai shaman atau
medium. Lewat merekalah sistem kepercayaan tradisional diturunkan dan diteruskan.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Simeulue

Ada beberapa hal yang layak disoroti mengenai tradisi penyampaian cerita di Simeulue
yang telah berhasil menyelamatkan banyak jiwa pada tahun 2004. Pertama-tama, cerita-
cerita itu mengenai informasi setempat. Kedua, penyampaian cerita terjadi di dalam
rumah dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya. Dua faktor ini
merupakan metode komunikasi yang efektif untuk menginformasikan kepada suatu
masyarakat tentang risiko bencana di daerah mereka. Cara-cara komunikasi modern
kurang memperhatikan informasi lokal, melainkan cenderung menyebarkan informasi
dengan cara yang jauh lebih luas. Seiring dengan masuknya saluran komunikasi modern
seperti radio, televisi, dan telepon, terjadilah peluasan horizon masyarakat dan
mengalirnya informasi yang lebih banyak dan luas. Mulailah orang lebih cenderung
mengambil pelajaran dari tempat dan peradaban nun jauh di sana, bukan dari pengalaman
masa lalu atau konteks lokal mereka sendiri. Dalam contoh ini, perlu dicari cara-cara baru
untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana di daerah
mereka. Cara-cara baru ini harus mengandung informasi yang relevan dan harus dapat
meniru keberhasilan tradisi cerita lisan dalam daya sebar dan relevansinya bagi
masyarakat lokal. Di Simeulue, dongeng sebelum tidur tentang peristiwa di masa lampau
terbukti dapat menyelamatkan ratusan jiwa. Program-program pembangunan yang
modern, yang berupaya mempersiapkan masyarakat melalui penyebaran brosur atau
diskusi focus-group, kiranya masih perlu menimba hikmah dari tradisi cerita rakyat.

31
Hal yang juga patut diingat adalah peran topografi Pulau Simeulue. Penduduk kampung,
dengan bekal pengetahuan tentang kemungkinan datangnya tsunami, berhasil segera
mencapai perbukitan hingga dapat menyelamatkan diri. Ini menunjukkan betapa
pentingnya faktor perencanaan permukiman dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Seandainya saja akses ke tempat yang aman itu tidak tersedia, pengetahuan tentang
legenda tahun 1907 tidak akan menyelamatkan sedemikian banyak orang. Ini pelajaran
penting bagi upaya pengurangan risiko bencana di masa mendatang—suatu pendekatan
yang menyeluruh perlu diambil demi melindungi kelompok masyarakat terhadap
bencana. Strategi pengurangan risiko harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek
kehidupan masyarakat tersebut.

Nias

Sejak gempa Maret 2005, praktik-praktik asli masyarakat dalam membangun rumah
tradisional di Nias diteliti kembali dan telah mendapat pengakuan karena sifat tahan
gempanya. Namun, walaupun hal itu layak disyukuri, kerusakan hebat yang diakibatkan
oleh gempa Maret 2005 terhadap penduduk dan ekonomi Nias tidak boleh dilupakan.
Memang ini terasa ironis karena Pulau Nias pada saat itu dan masih sampai hari ini
merupakan tempat ditemukannya salah satu arsitektur tahan gempa yang terbaik di dunia.
Ironi ini memperlihatkan kepada kita, pertama-tama, bahwa satu praktek kearifan lokal
saja tidak dapat berperan banyak dalam mengurangi risiko bencana. Kedua, terbukti
bahwa ketika yang tradisional digeser oleh yang modern, masyarakat dapat menjadi lebih
rentan terhadap risiko bencana. Modernisasi merupakan faktor penting yang
menyebabkan makin berkurangnya arsitektur tradisional Nias. Salah satu simbol status di
masyarakat adalah menganut desain dan gaya hidup modern, yang menyebabkan banyak
orang memilih membangun rumah dengan gaya Melayu yang sebetulnya lebih rentan
terhadap gempa. Deforestasi juga membuat keadaan makin parah. Kayu keras yang
diperlukan untuk membangun rumah tradisional sekarang makin sulit didapatkan.
Akibatnya, pelbagai metode dan teknik pembangunan rumah tradisional secara perlahan
mulai dilupakan orang karena beton dan batu bata telah menggantikan kayu sebagai
bahan bangunan.

Siberut

Cerita tentang teteu merupakan bagian dari sitem kepercayaan tradisional masyarakat
Mentawai. Mereka kerap merujuk pada dongeng dan lagu-lagu tradisional yang
menyebabkan mereka bereaksi secara tepat ketika gempa mulai terasa. Dalam banyak
kasus, orang-orang terselamatkan karena pengetahuan yang mereka peroleh dari dongeng
dan lagu.

Dongeng yang telah berperan mengurangi jatuhnya korban gempa mungkin memang
tidak dapat dianggap sebagai metode pengurangan risiko bencana karena pengaruhnya
terkait erat dengan ritual pembangunan rumah tradisional. Namun, sistem kepercayaan
tradisional dan dongeng-dongeng yang terkait tak bisa disangkal berperanan mengurangi
risiko bencana. Akibat tekanan program pembangunan, semua ini dapat kehilangan
makna dan dampaknya dalam masyarakat lokal. Masuknya agama-agama monoteistik

32
membuat orang kehilangan kepercayaan pada arwah leluhur, termasuk teteu, sehingga
pemberian sesaji semakin jarang dilakukan. Telah kita lihat bagaimana praktek
menyediakan sesaji menguatkan pengetahuan akan gempa dalam ingatan kolektif
masyarakat setempat. Kini, karena kebiasaan ini mulai digantikan oleh kepercayaan yang
lebih modern, pengetahuan tersebut pun mulai terlupakan. Oleh karena itu, agar
pengetahuan itu tidak lenyap, diperlukan alternatif-alternatif modern yang mampu meniru
proses penyampaian pengetahuan itu dengan tingkat kepentingan yang sama bagi
masyarakat setempat.

Benang merah dari uraian tentang ketiga contoh praktik asli masyarakat yang diuraikan di
atas adalah: semuanya ditemukan di wilayah-wilayah pedalaman dan terbelakang,
sebagaimana yang lazim terjadi pada kebanyakan, meski tidak semua, praktik asli. Dalam
kasus Simeulue, Nias, dan Siberut, contoh-contoh itu masih dipraktikkan hingga hari ini
justru karena pulau-pulau itu terpisah dari daratan Sumatra yang sudah lebih maju, dan
dalam banyak hal dapat dikatakan belum tersentuh perkembangan modern. Pulau-pulau
itu hanya sedikit saja bersentuhan dengan infrastruktur, pendidikan, komunikasi, dan
transportasi modern. Program pembangunan baru perlahan-lahan masuk, tetapi
pengaruhnya sudah langsung terlihat berkaitan dengan praktik dan kearifan lokal dalam
mengurangi risiko bencana. Pertanyaan yang mencuat di sini adalah bagaimana pengaruh
pembangunan dan modernisasi terhadap praktik masyarakat asli ketika proses
pembangunan itu berjalan terus di masa depan? Sehubungan dengan upaya pengurangan
risiko bencana, apakah peran praktik masyarakat asli dalam modernisasi ketiga pulau ini?
Perlukah diambil langkah-langkah untuk melestarikan contoh praktik masyarakat asli ini,
atau sungguh naifkah menganggap praktik-praktik ini sebagai solusi yang mudah
dikemas yang dapat direproduksi demi kebaikan generasi mendatang?

Kecepatan dan ciri pembangunan modern tidak selalu memberikan ruang bagi praktik-
praktik masyarakat asli. Ketika praktik asli tidak digantikan dengan alternatif yang
modern, kelompok masyarakat menjadi lebih rentan terhadap bencana. Selama berabad-
abad, praktik-praktik asli telah memungkinkan banyak kelompok masyarakat hidup
berdampingan dengan bencana, dan ketika modernisasi bergerak terlampau cepat, makna
dan nilai praktik asli itu di dalam konteks modern tidaklah selalu dapat dipahami. Hanya
ketika kemajuan pembangunan disela oleh alam dengan bentuk bencana alam, barulah
praktik-praktik asli itu diperhatikan lagi dan diingat-ingat.

Daftar Pustaka

- Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. http://sumut.bps.go.id/pop/2006/pop05.html


- Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR), NAD – Nias, 2005, Oktober.
Meletakkan Fondasi. Membangun Harapan. 6 month Report.
- Herry Yogaswara and Eko Yulianto, 2006. SMONG, Pengetahuan Lokal Pulau
Simeulue: Sejarah dan Kesinambungannya. Jakarta: UNESCO and LIPI.
- Sieh, K., 2007. The Sunda Megathrust: Past, Present and Future. For presentation at
the National University of Singapore, March 7-9. Diunduh dari:
www.gps.caltech.edu/~sieh/pubs_docs/submitted/Snu.pdf

33
- UNORC, 2005. Total Population per Simeulue Village District. Diunduh dari:
www.humanitarianinfo.org/sumatra/mapscentre/docs/81_Simeulue/30_Population/SU
M81-020_Simeulue_Population_Village_HIC_2005_04_18_ A4.pdf

34
Prefektur Gifu, Jepang
Langkah-Langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang
Yukiko Takeuchi and Rajib Shaw

Abstrak

Kearifan lokal dalam penanggulangan bencana banjir di Jepang telah dikembangkan dan
diuji dari waktu ke waktu, dan terbukti efektif. Suatu perpaduan antara teknologi
pencegahan banjir, pengendalian erosi, dan pengurangan kerusakan tengah diteliti di
prefektur Gifu, Jepang tengah, yang rawan banjir. Dengan mendokumentasikan
pengalaman ini, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kearifan dan teknologi lokal
mensyaratkan adanya dukungan kebijakan yang sesuai dan kesadaran dari para peneliti di
satu pihak, serta perekaman, verifikasi, dan pengujian teknologi tersebut di pihak lain.

Latar Belakang

Jepang adalah sebuah kepulauan di wilayah iklim muson yang mengalami udara hangat
dan lembap pada musim panas dan udara sejuk di musim dingin. Udara lembap dari air
terserap dan terkeringkan di daratan berkat topan di musim panas, hujan salju di musim
dingin, aliran udara “Bai-u” pada bulan Juni dan Juli, serta peralihan depresi dan aliran
udara pada semua musim. Rata-rata curah hujan 1.800 milimeter per tahun, berarti dua
atau tiga kali lipat dari rata-rata daerah lainnya dengan ketinggian yang sama. Di wilayah
pantai selatan yang menghadap ke Samudera Pasifik, curah hujan mencapai 4.000
milimeter. Karena bentuk kepulauan Jepang yang sempit dengan topografi yang
bervariasi, perbedaan iklim udara menjadi sangat besar.

Tiga perempat daratannya berupa pegunungan dengan relief yang cukup tajam. Deretan
pegunungan, beberapa di antaranya hingga 3.000 meter di atas permukaan laut,
memanjang di tengah daratan negeri yang panjang dan sempit ini. Akibatnya, sungai-
sungai di sana pada umumnya pendek dan agak curam. Erosi dan pengikisan tanah terjadi
sangat cepat di wilayah pegunungan. Segera setelah turun hujan lebat, sungai-sungai
membanjir. Tambahan lagi, Jepang terletak di area gempa Sabuk Pasifik dan kerap
mengalami dampak akibat aktivitas gunung berapi dan gempa yang dahsyat. Jumlah
gunung berapi di Jepang kira-kira sepersepuluh gunung berapi di dunia. Mayoritas
penduduk dari total 100 juta jiwa memadati wilayah dataran yang sempit. Proses
urbanisasi yang deras dan kurang terkendali mengakibatkan juga pemakaian lahan secara
tidak sesuai. Berbagai pengubahan lingkungan alam terjadi secara cepat dan besar-
besaran, seiring dengan meningkat pesatnya kegiatan dan eksploitasi ekonomi.1
Kebanyakan kota di Jepang terkumpul di dataran pantai. Mengingat 10% lahan di sana
rentan terhadap banjir, sekitar 50% populasi dan hampir 75% tanah milik penduduk
terletak di area banjir.2 Secara khusus, prefektur Gifu, salah satu daerah di Jepang yang
paling rentan terhadap bencana banjir, terletak pada pertemuan tiga sungai: Kiso, Nagara,
dan Ibi. Ketiga sungai ini mengitari dataran Noubi, sebuah wilayah dataran rendah yang
kerap diserang banjir.

1
T. Nakano et al. (1974).
2
Japan Water Forum (JWF) (2006).

35
Kisah/Peristiwa

Bencana banjir terjadi setiap tahun di dataran aluvial dan daerah delta prefektur Gifu.
Karena lokasi dan topografinya, dataran Noubi mengalami sejumlah bencana banjir.
Selama lebih dari 200 tahun, masyarakat di sana berjuang untuk melindungi jiwa dan
harta milik dari bencana banjir.

Kearifan Lokal

Di masa lalu, masyarakat tidak dapat mengendalikan sungai, tetapi jiwa dan harta milik
dapat dilindungi dengan teknologi sederhana, pengetahuan, tradisi, dan gotong royong
dalam komunitas. Sebagai contoh, pada awal abad ke-19 (zaman dinasti Edo), aktivitas
pengurangan risiko bencana banjir dilakukan melalui goninggumi, suatu sistem saling
bantu, gotong royong, dan saling mengawasi yang meliputi lima keluarga pada kelompok
masyarakat tertentu. Program lain mencakup penanaman bambu sebagai persiapan dan
pengurangan risiko bencana banjir, serta pengelolaan hutan di dataran banjir.

Pada akhir abad ke-19 (zaman dinasti Meiji), berbagai teknologi pengendalian banjir
diterapkan dengan bantuan para insinyur dari Belanda. Orang dapat melindungi hidup
dan harta milik dengan lebih baik berkat masuknya teknologi seperti, antara lain, tanggul
beton, check dam, pintu air, dan peralatan pompa.

Dulu, luapan banjir dari sungai dianggap sebagai gejala alam. Orang tidak berusaha
menghalanginya, melainkan membuat perangkat berbasis-pengetahuan untuk mengurangi
dampak kerusakan. Tiga jenis pengetahuan dan teknologi tradisional yang dimiliki
masyarakat Gifu diterangkan pada Gambar 1 dan dalam pembahasan di bawah ini.

Pencegahan Banjir

Untuk mengurangi dampak banjir, masyarakat membangun tanggul cincin tradisional


yang berfungsi melindungi beberapa rumah dan lahan pertanian (Gambar 2). Penduduk
menamainya Waju (cincin dalam). Dalam peta sejarah, tanggul cincin semacam ini
ditemukan di beberapa lokasi, dan di banyak tempat saling terhubung. Setiap kampung
membentuk pengurus khusus dengan tugas memelihara tanggul cincin itu. Kerja sama ini
membantu tumbuhnya rasa percaya diri dan memperkuat ikatan komunitas setempat.
Akibat kebijakan yang dilaksanakan pemerintah pada abad ke-18 terhadap aliran sungai
Kiso, Nagara, dan Ibi, frekuensi banjir di daerah ini berkurang. Oleh sebab itu,
keberadaan tanggul cincin itu mulai dirasakan kurang berguna dan di beberapa tempat
bahkan dibongkar agar tanahnya dapat digunakan untuk keperluan lain.

Pengendalian Erosi

Untuk meminimalkan erosi, masyarakat membangun beberapa struktur sederhana di


tepian sungai, khususnya pada area kelokan sungai. Struktur ini disebut Hijiri-ushi yang
berarti Sapi Besar, agaknya karena bentuknya yang secara sepintas mirip dengan seekor

36
sapi. Tujuan struktur ini adalah mengurangi kekuatan arus air sungai sehingga
memperkecil dampak erosi. Ada beberapa jenis Hijiri-ushi berdasarkan bahan yang
digunakan. Jenis yang paling umum tampak pada Gambar 3 dan 4. Biasanya satu set
Hijiri-ushi terdiri dari 5 struktur. Pada tiap kelokan sungai (bergantung pada panjang
pendeknya kelokan) biasanya diletakkan sekitar 13-15 set Hijiri-ushi (Gambar 4).

Patut diperhatikan bahwa teknologi yang sama masih digunakan hingga hari ini dengan
sedikit perubahan pada jenis bahan yang dipakai. Kini beton lebih lazim digunakan
daripada kayu sehingga umur pakainya lebih lama.

Pengurangan Kerusakan

Untuk mengurangi kerusakan akibat banjir, orang membangun rumah yang ditinggikan,
yang disebut Mizuya (Gambar 5). Keluarga-keluarga yang cukup makmur biasanya
mempunyai Mizuya di samping bangunan rumah utama, sebagai cadangan hunian pada
saat banjir. Pada awalnya, Mizuya dibangun sebagai ruang penyimpanan harta benda
rumah tangga. Ketika terjadi peristiwa banjir besar tahun 1896, ketinggian Mizuya hanya
sekitar 2 meter. Setelah itu, para pemilik rumah membangun Mizuya dengan menambah
ketinggiannya 1,3 meter dari ketinggian semula (Gambar 6). Dalam perjalanan waktu
fungsi Mizuya mulai diubah sehingga dapat dihuni orang untuk waktu yang lebih lama.
Mizuya yang sudah dimodifikasi terdiri dari dua ruang, sebuah gudang penyimpanan dan
sebuah kamar mandi. Keluarga yang cukup kaya biasanya juga mempunyai perahu
darurat untuk keperluan evakuasi (Gambar 7).

Gambar 3. Hijiri-ushi dari beton (Foto oleh NIED-KU, 2007)


Gambar 4. Hijiri-Ushi di Sungai Nagara (Foto oleh NIED-KU, 2007)

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Walaupun pengetahuan dan teknologi tradisional semakin tersingkir dan semakin jarang
diterapkan di kebanyakan wilayah Jepang, ada beberapa kelemahan jika orang melulu
bergantung pada teknologi modern untuk mengurangi dampak bencana. Pengetahuan
tradisional telah terbukti bermanfaat dalam konteks kebudayaan dan sosio-ekonomi lokal.
Prinsip-prinsip tradisional dipertahankan, kendati mengalami perubahan dalam perjalanan
waktu, sehingga meningkatkan kemandirian masyarakat. Terlebih lagi, keterlibatan
masyarakat merupakan unsur penting dalam praktik kearifan lokal. Ketergantungan
terhadap teknologi modern membuat orang terlalu bergantung pada sumber daya luar,
sehingga justru mengurangi kapasitas dan kemampuan mereka untuk menolong diri
sendiri. Kejadian-kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini banyak memperlihatkan
kegagalan sistem tersebut dalam menolong kelompok masyarakat yang terkena bencana,
membuat mereka tak berdaya dan menyebabkan kerugian yang lebih banyak. Karena itu,
langkah ideal dalam upaya pengurangan bencana seharusnya memuat kombinasi yang
seimbang antara teknologi modern dan pengetahuan tradisional.

Di satu pihak, kita perlu memusatkan perhatian pada pengembangan teknologi


pengurangan bencana. Di pihak lain, penting jugalah memusatkan perhatian pada

37
implementasi teknologi, menjalani proses hingga ujung dan menjembatani jurang antara
teori dan praktik. Untuk ini, khazanah kearifan lokal memainkan peran yang amat penting
karena berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat. Agar pengetahuan tradisional
dapat dimanfaatkan secara efektif, perlu ada kebijakan yang jelas pada berbagai
tingkatan, dalam upaya pengurangan bencana dan dalam penelitian dan pendidikan, demi
menunjang pemanfaatannya. Pentinglah mendokumentasikan pengetahuan tradisional itu
secara sistematis. Langkah-langkah pendokumentasian mencakup: (i) pengumpulan
informasi dasar, (ii) verifikasi tentang kekuatan dan kelemahannya, (iii) telaah atas
kemungkinan penerapannya pada berbagai konteks (fisik, sosial, budaya, dan ekonomi),
dan (iv) klasifikasi teknologi berdasarkan kriteria tertentu.

Komunikasi risiko adalah perangkat interaktif dua arah untuk saling berbagi informasi
tentang risiko di antara aparat pemerintah, peneliti, dan masyarakat setempat. Untuk
mengoptimalkan komunikasi risiko, pemerintah, peneliti, dan masyarakat setempat harus
saling berbagi pengetahuan. Lembaga-lembaga pemerintah dan komunitas peneliti
umumnya memiliki ‘informasi risiko’ yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok
masyarakat setempat. Kendati demikian, masyarakat setempat kaya akan kearifan lokal.
Informasi risiko perlu dilengkapi dengan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional agar
dapat secara efektif mengurangi risiko bencana dalam komunitas masyarakat lokal.
Bahkan, seandainya ada kebutuhan untuk menerapkan suatu teknologi baru untuk
pengurangan bencana, masyarakat setempat perlu dilibatkan agar mereka dapat
memahami kelebihan dan kekurangan teknologi itu (mencakup rincian bahan yang
digunakan, modal yang harus dipenuhi, waktu yang diperlukan, dan sebagainya).
Pemerintah, juga kalangan akademis, perlu menghargai praktik dan teknik tradisional
yang masih diterapkan masyarakat agar dapat mengajukan upaya perbaikan yang
berdasarkan konteks dan paling sesuai bagi wilayah tertentu.

Daftar Pustaka

- Nakano, T., H. Kadomura, T. Mizutani, M. Okuda, and T. Sekiguchi, 1974. “Natural


hazards: Report from Japan.” In Natural Hazards: Local, National, Global, edited by
White, G. and I. Burton, 231-245. Oxford: Oxford University Press.
- Japan Water Forum (JWF), 2006. Flood Fighting in Japan: 15.
- Settu City, 2007. http://www. city.settsu.osaka.jp/section/222_ shougaigaku-
sports/p106-107. pdf

38
Masyarakat Penggembala Shiver, Mandal, Selenge, Mongolia
Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat
Penggembala Shiver
Bolormaa Borkhuu

Abstrak

Masyarakat penggembala Shiver di aimag (provinsi) Selenge, Mongolia, sepanjang


waktu berhadapan dengan bahaya bencana zud (bencana musim dingin yang khas
Mongolia), kekeringan, kebakaran hutan, hujan badai, dan serangan serangga hutan.
Masyarakat secara bersama-sama menerapkan kearifan lokal yang dapat digunakan untuk
pengurangan risiko bencana. Peta penggunaan lahan, pengetahuan tentang bencana alam,
kalender musim, dan organisasi sosial adalah beberapa bidang kearifan lokal yang
membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana sepanjang tahun,
khusunya pada musim dingin.

Latar Belakang

Mongolia terdiri atas ibu kota dan 21 aimag atau provinsi, dengan pembagian lebih rinci
aimag ke dalam beberapa soum, soum ke dalam beberapa bag, ibu kota ke dalam
beberapa distrik, dan distrik ke dalam beberapa horoo. Masyarakat penggembala Shiver
tinggal di soum Mandal. Pusat soum Mandal terletak di wilayah utara, 160 km dari
Ulaanbaatar (ibu kota Mongolia), 200 km dari pusat aimag Selenge. Masyarakat Shiver
terdiri dari kira-kira 30 keluarga penggembala. Sejak zaman dahulu, kaum penggembala
di Mongolia biasanya tergabung dalam khot ail, yakni kelompok 4–5 keluarga yang
terikat hubungan darah atau kekerabatan.

Kisah/Peristiwa

Masyarakat pedalaman di Mongolia sangat bergantung pada kondisi iklim dan sering
terpapar bencana alam, yang paling sering adalah zud, kekeringan, kebakaran hutan,
hujan badai, dan serangan serangga hutan. Karena perubahan iklim dan ekologi, frekuensi
peristiwa kekeringan dan zud cenderung meningkat. Zud adalah bencana alam yang
paling sering terjadi, yakni sejenis bencana musim dingin khas Mongolia yang
mengganggu kesejahteraan dan keamanan pangan masyarakat penggembala itu akibat
tingginya angka korban jiwa manusia dan juga korban ternak. Penyebab langsung
bencana zud adalah meningkatnya fenomena alam, termasuk (i) kekeringan parah yang
meluas pada musim panas, (ii) temperatur yang luar biasa dingin pada musim gugur dan
musim dingin (di bawah -40°C), (iii) salju tebal (lebih dari 70 cm), (iv) lapisan es di
tanah, dan (v) rendahnya kandungan nutrisi pada rerumputan. Semua kondisi ini, di
samping meningkatnya bencana alam, sangat berdampak pada ekonomi negara dan
kehidupan penduduk pedalaman.

Kearifan Lokal

39
Masyarakat penggembala Shiver secara bersama-sama menemukan kearifan lokal yang
bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana (Gambar 1). Beberapa jenis pengetahuan
yang penting pun muncul, antara lain peta penggunaan lahan, pengetahuan tentang sebab
dan akibat bencana, kalender musim, dan jejaring sosial.

Peta Penggunaan Lahan

Dengan melakukan survei, para penggembala membuat sebuah peta tentang tempat
tinggal mereka, lengkap dengan deskripsi penggunaan lahan (Gambar 2). Pada peta
tergambarkan antara lain letak permukiman musiman, ladang jerami, ladang
penggembalaan, sungai, mata air, hutan, hutan yang terbakar, jalan, jembatan, lahan
pertanian, serta area runtuhan salju selama berlangsung zud. Permukiman musim dingin
terletak agak berjauhan di lembah gunung, antara lain lembah Chavgants, Urtuunii am,
Khuurai Shaazgait, Marz, Shar Khad, Tsagaan, dan terusan Nariin. Permukiman pada
musim panas dapat ditemukan di tepian sungai Ar bulag, Galsan bulag, dan Saalinch.
Permukiman pada musim gugur terletak berdekatan dengan lokasi permukiman musim
dingin.

Peta menunjukkan 30 rumah tangga yang tinggal di 13 permukiman musim dingin (1-5
rumah tanggap pada tiap permukiman), 43 rumah tangga di 8 permukiman musim panas
(2-9 rumah tangga tiap permukiman). Jumlah rumah tangga di permukiman musim panas
lebih banuyak daripada musim dingin karena banyak keluarga dari perkotaan datang ke
daerah pada musim panas dan lalu pulang pada musim gugur. Ladang jerami memenuhi
daerah lembah sungai Shiver dan berdekatan dengan permukiman musim gugur.

Pengetahuan tentang Bencana dan Sebab Akibatnya

Para penggembala menyebutkan zud, kekeringan, keakaran hutan, hujan adai, dan
serangan serangga hutan sebagai bencana alam yang paling banyak terjadi di wilayah itu.
Mereka tahu, bencana-bencana itu disebabkan oleh macam-macam kondisi semisal
kurangnya penegakan hukum, permasalahan seputar lahan penggembalaan,
penggundulan hutan, dan perubahan iklim. Dampaknya pun bermacam-macam, misalnya
kematian ternak, perubahan komposisi tumbuhan, dan kekurangan lahan penggembalaan.

Kalender Musim

Kalender musim digunakan untuk menentukan kapan tiba dan berapa lama bencana
berlangsung. Berikut ini hasil pengamatan mereka:
Zud dan kekeringan: Juni-September
Kebakaran hutan: April-Juni pada musim semi, September-Oktober pada musim gugur
Hujan lebat: Juni-Agustus
Serangan serangga hutan: Mei (awal musim tanam)-September

Organisasi Sosial

40
Di wilayah pedalaman, kaum penggembala dan penduduk lainnya membentuk unit-unit
swadaya dan koperasi untuk secara bersama-sama menangani masalah yang diakibatkan
oleh kekeringan, zud, dan kebakaran stepa. Sewaktu terjadi bencana, sumber pertolongan
yang utama berasal dari para tetangga, anggota keluarga, sanak saudara, dan pemerintah
soum. Bantuan dan dukungan juga datang dari organisasi Palang Merah setempat dan
anggota parlemen. Tujuan utama masyarakat penggembala adalah penggunaan ladang
penggembalaan secara rasional, pencegahan dan pengurangan risiko bencana alam, dan
peralihan ke ekonomi pasar. Pintu dibuka lebar bagi munculnya inisiatif dari tingkat akar
rumput berkenaan dengan perkara yang bukan sekadar soal perlindungan air dan padang
rumput, melainkan lebih luas hingga ke persoalan tentang perlindungan lingkungan
hidup, penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan manajemen bencana.

Praktik kearifan lokal menjadi penting karena adanya kebutuhan untuk memobilisasi
tindakan manajemen bencana di tingkat akar rumput. Masyarakat lokallah yang terkena
bencana, maka mereka pulalah yang sangat perlu tahu tentang risiko bencana dan mampu
mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana yang akan terjadi.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari masyarakat Shiver berkenaan
dengan kearifan lokal untuk mengurangi bencana.

1. Di Mongolia, kaum penggembala di wilayah pedalaman telah berhasil mengambil


inisiatif dan membangun semangat untuk bergabung dalam kelompok-kelompok agar
dapat bekerja, melakukan aktivitas bisnis, dan menyelesaikan berbagai persoalan dan
kesulitan melalui usaha bersama.
2. Masyarakat Shiver dapat mengenali bencana-bencana alam yang umum dialami di
Mongolia seperti zud, kekeringan, kebakaran hutan dan stepa, serta hujan badai. Ciri
khas bencana alam di sana: durasi cukup lama, kerugian yang ditimbulkan amat
banyak dan luas. Masyarakat pedalaman harus mampu memahami kerentanan mereka
terhadap bencana yang merugikan ekonomi dan terjadi secara terus-menerus.
3. Penghidupan kaum penggembala Mongolia, permukiman dan pekerjaan mereka,
sangat berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain. Oleh sebab itu, sistem
manajemen bencana yang akan diterapkan di sana harus terlebih dahulu disesuaikan
dengan kondisi lokal.
4. Sistem manajemen bencana secara lokal pada tingkat akar rumput diperlukan supaya
memampukan para penggembala untuk mengatasi bencana dengan kerugian sekecil
mungkin.
5. Manajemen bencana tidak boleh hanya terpaku pada mengupayakan ladang
penggembalaan dan ladang jerami yang mencukupi agar para penggembala dapat
melewati musim dingin dengan tenang. Pentinglah agar manajemen juga mencakup
cara-cara pemakaian sumber daya alam di daerah itu secara berkelanjutan.
6. Pemanfaatan kearifan lokal pada masyarakat pedalaman dalam upaya pengurangan
risiko bencana adalah metode yang terbukti hemat biaya dan efisien, serta sangat
penting untuk mengurangi risiko bencana yang paling sering terjadi dan paling
merusak ekonomi, yakni zud, kekeringan, serta kebakaran hutan dan stepa.

41
7. Lembaga-lembaga negara perlu menerapkan langkah-langkah yang komprehensif
dengan tujuan meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya upaya
pengurangan risiko bencana, terutama justru di kalangan masyarakat miskin. Di
samping itu, inisiatif dari akar rumput harus didukung. Persepsi masyarakat tentang
kerentanan diri mereka terhadap bencana alam haruslah diubah. Pemahaman mereka
tentang manajemen bencana sebagai upaya bantuan pasca-bencana belaka perlu
diperluas hingga mencakup pula upaya pengurangan risiko dan pencegahan bencana.

42
Distrik Bardiya, Chitwan, Syangja, dan Tanahu, Nepal
Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling
Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli
Man B. Thapa, Youba Raj Luintel, Bhupendra Gauchan, dan Kiran Amatya

Abstrak

Nepal rentan terhadap beberapa bencana alam, antara lain tanah longsor, banjir, gempa
bumi, kebakaran, dan kekeringan, karena beberapa faktor antara lain topografi
wilayahnya, pembangunan yang tak terencana, dan pesatnya pertumbuhan penduduk.
Akibatnya, banyak masyarakat terpencil di pedalaman memanfaatkan pelbagai macam
praktik tradisional mitigasi dan persiapan untuk mengurangi dampak negatif bencana
terhadap nyawa dan harta milik mereka.

Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang kearifan lokal dalam penanggulangan
bencana adalah hal yang langka di Nepal. Proyek Program Penanggulangan Bencana
Partisipatif yang didukung oleh UNDP memberikan perhatian banyak pada teknik-teknik
mitigasi tanah longsor sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat di distrik Bardiya,
Chitwan, Syangja, dan Tanahu di Nepal. Tujuan proyek ini adalah mendorong para
pengambil kebijakan agar memasukkan unsur-unsur kearifan lokal yang amat kaya ke
dalam upaya penanggulangan bencana negara itu.

Latar Belakang

Program Penanggulangan Bencana Partisipatif (Participatory Disaster Management


Program, disingkat PDMP) mulai dilaksanakan pada tahun 2000 di delapan kampung di
empat distrik Nepal. Kampung-kampung itu antara lain Bhandara dan Kathar di Distrik
Chitwan, Risti dan Kyamin di Distrik Tanahu, Kahule dan Oreste di Distrik Syangja,
serta Guleria dan Padnaha di Distrik Bardiya. Program ini, yang didasari oleh
pengalaman sebelumnya dalam program Peningkatan Kapasitas Penanggulangan
Bencana di Nepal, bertujuan memadukan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal
dalam upaya mitigasi dan kesiagaan terhadap bencana, dengan sasaran membangun
kapasitas masyarakat secara partisipatif, berkelanjutan, dan hemat biaya.

Kisah/Peristiwa

Tanah longsor biasa terjadi di banyak tempat di Nepal. Longsor dapat terjadi di hilir
(aliran sungai) atau di hulu (pegunungan). Beberapa kondisi dan perilaku masyarakat
turut memperburuk keadaan. Sebagai contoh, semakin banyaknya pengambilan bebatuan
dan pasir dari dasar sungai dalam skala besar-besaran telah memperparah masalah.
Meningginya dasar sungai di hilir, akibat pengendapan lumpur, dapat juga
mengakibatkan tanah longsor.

Kurangnya manajemen kehutanan yang baik juga berperan menimbulkan longsor.


Memangkas dan menebang pohon pada waktu yang tidak tepat juga merupakan faktor
yang menambah persoalan. Penggundulan hutan secara hebat dan praktik pertanian yang

43
buruk ikut memperburuk keadaan. Dandhelo (kebakaran hutan) mempercepat menipisnya
sumber daya hutan. Dandhelo terjadi bukan hanya karena kelalaian manusia pada musim
kering, melainkan juga karena dilakukan secara sengaja akibat kepercayaan pada mitos
bahwa pembakaran hutan membantu proses regenerasi tumbuhan. Praktik khoria
(peladangan tebang-dan-bakar) juga mempercepat proses menipisnya sumber daya hutan.

Di samping itu, erosi parit di punggung bukit dapat menimbulkan tanah longsor. Parit-
parit alam di punggung bukit terbentuk karena penggundulan rumput oleh ternak secara
berlebihan, sistem drainase natural yang kurang tepat, dan bertambahnya pembangunan
jalan (rel, aspal, dll.) yang tidak ramah terhadap lingkungan alam sekitar. Terakhir, dalam
banyak kasus, tanah longsor menyebabkan banjir. Oleh sebab itu, ada kaitan erat antara
tanah longsor dan banjir.

Kearifan Lokal

Masyarakat setempat memiliki serangkaian langkah tradisional untuk menanggulangi


tanah longsor. Selain itu, penduduk setempat mengamati tanda-tanda alam yang
memungkinkan mereka berjaga-jaga sebelum terjadi bencana.

Sistem penanaman

Daripada menanam pepohonan besar, masyarakat di perbukitan lebih suka menanam


pepohonan kecil, semak, atau rumput-rumputan di dan sekitar perkampungan. Para petani
beranggapan bahwa pepohonan kecil, semak, dan rerumputan di kelokan sungai dan di
area yang curam dapat melindungi lahan pertanian terhadap risiko erosi dan tanah
longsor. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pepohonan kecil dan semak dapat
mencegah hilangnya humus dan tidak berisiko tumbang jika terjadi hujan lebat. Petani di
Terai menanam tumbuhan seperti itu di lahan pinggiran yang tidak cocok untuk ditanami.
Mereka juga menanam amriso (bouquet grass dalam bahasa Inggrisnya) dan babiyo
(eulaliopsis) untuk melindungi pematang terasering. Semua tanaman ini mengakar secara
dalam dan melebar sehingga memperkuat tanah. Demikian juga, orang menanam bambu
di parit, cekungan, untuk mengendalikan larinya air. Akar bambu juga melebar dan saling
bertautan dengan akar bambu lainnya sehingga membentuk suatu sistem penguat tanah
alami. Praktik penanaman dengan cara demikian itu tidak hanya memberikan makanan,
bahan bakar dan kandang bagi hewan ternak, tetapi juga menambah pendapatan bagi
petani.

Memperbaiki terasering

Di daerah yang kurang subur, kadang orang terpaksa bercocok tanam di tanah yang
curam. Seringkali tanah semacam itu rentan terhadap bencana tanah longsor. Tetapi,
selama ratusan tahun para petani berhasil membangun terasering untuk mengurangi laju
aliran air dan hilangnya lapisan humus, juga untuk mempermudah cocok tanam. Mereka
juga berhasil membangun dan mengelola terasering dengan sedikit kemiringan pada
pojoknya, bukan pada tepinya. Dengan meletakkan bebatuan dan lumpur pada tepi
terasering, air yang tertahan di teras dapat mengalir melalui pojok itu. Dengan cara itu,

44
tanah di lahan curam diubah menjadi lahan pertanian terasering (Gambar 1). Walau
tujuan utamanya untuk memperluas area pertanian, teknik tersebut berhasil
meminimalkan hilangnya lapisan humus dan mengurangi laju aliran air yang pada
akhirnya mengurangi kemungkinan terjadinya longsor.

Di samping itu, para petani juga membiarkan rerumputan tumbuh di dinding terasering.
Akar rumput berfungsi menjaga ikatan tanah dan mengurangi laju aliran air hujan
maupun air irigasi. Sebagai akibatnya, menanam rumput membantu mengendalikan
hilangnya lapisan humus dan mengurangi kemungkinan longsornya dinding terasering.

Pembuatan pagar

Membangun pagar adalah salah satu cara yang paling populer untuk melindungi tanaman
dari serangan binatang hama dan memungkinkan tanaman dan rerumputan tumbuh pada
tanah pinggiran. Tanaman dewasa dan rerumputan mencegah pengikisan tanah dan
longsor. Dua jenis pagar yang umum ditemui adalah dinding pagar kering dan pagar
hidup.

Dinding pagar kering. Di daerah perbukitan, petani mendirikan dinding batu pada sisi
lahan pertanian atau di dekat aliran sungai dan parit. Pagar semacam ini efektif dalam
meminimalkan pengaruh banjir, longsor, pengikisan tanah, dan ambruknya lereng, selain
juga dapat mengalihkan banjir dan menjaga agar binatang liar tidak masuk ke dalam
lahan pertanian. Struktur pagar terdiri dari bebatuan besar yang ditumpangkan di atas
galian pondasi, di atas bebatuan kecil yang diletakkan di atas permukaan tanah. Biasanya,
petani menanam bambu atau tumbuhan lain di samping dinding itu supaya strukturnya
lebih kokoh dan awet.

Di area dekat lahan pertanian, jika bebatuan mudah didapat, petani mendirikan struktur
semacam ini pada tepian sungai yang arusnya deras. Karena mengangkut batu-batu besar
bukanlah pekerjaan mudah, orang-orang biasanya bergotong royong untuk
membangunnya. Meskipun mendirikan pagar batu merupakan pekerjaan yang mahal dan
memerlukan perawatan teratur, cara ini efektif karena mampu membelokkan aliran
sungai dari lahan pertanian.

Pagar hidup. Banyak petani di Terai dan di perkampungan perbukitan lainnya


mempraktikkan pembuatan pagar hidup. Pagar semacam ini merupakan alternatif jikalau
bebatuan besar sukar didapatkan di sana. Yang sering digunakan sebagai pagar hidup
antara lain sajiwan, pohon neem, khirro, dan simali. Beberapa jenis tanaman pakan
hewan juga kadang digunakan (secara tersendiri atau dikombinasikan dengan pepohonan
pagar) semisal badhar, dabdabe, gindari, koiralo, kutmiro, phaledo, siris, dan tanki.
Tanaman-tanaman ini berakar dalam dan merontokkan daun pada musim dingin sehingga
menyediakan sinar matahari bagi tanaman musiman lainnya. Daun-daunnya yang mati
juga berfungsi sebagai zat organik yang menyuburkan tanah. Lebih jauh lagi, tanaman
berakar dalam ini tidak berebut nutrisi dan udara dengan tanaman pangan seperti
gandum.

45
Tumpangsari

Petani di perbukitan dan di Terai meningkatkan perolehan tanaman pangan dengan cara
tumpangsari. Di perbukitan mereka menanam jagung dengan kedelai, finger millet
dengan masyang (black gram), gandum dengan kentang, dan sebagainya. Salah satu
tujuan utama intensifikasi ini adalah meningkatkan dan meragamkan panen. Sekaligus
juga cara itu efektif untuk mengurangi hilangnya lapisan humus karena menahan laju
peluruhan permukaan tanah. Menanam satu jenis tanaman pada satu waktu berarti tidak
membiarkan lahan pertanian menganggur dan terbuka. Pengalaman petani selama
bertahun-tahun membuktikan bahwa lahan yang terbuka rentan terhadap pengikisan oleh
angin, air dan longsor.

Selain bermacam-macam teknik mitigasi tersebut, kelompok-kelompok masyarakat juga


memiliki kemampuan untuk mengenai tanda-tanda bahaya jika akan terjadi longsor,
sehingga mereka dapat mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. Misalnya, jika
tampak rekahan baru di permukaan tanah, ada kemungkinan itu pertanda akan terjadinya
longsor dalam waktu dekat. Pancaran air di tempat baru juga merupakan pertanda
lainnya. Berubahnya posisi pohon secara vertikal ataupun horizontal juga menandakan
terjadinya longsor di daerah itu atau di sekitarnya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Nepal adalah sebuah negeri yang kecil, bertekstur pegunungan, dan sangat rentan
terhadap bencana. Kapasitas negara itu untuk menangani banjir dan bencana alam
sangatlah lemah, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat masyarakat. Beberapa
laporan tersedia tentang nilai kearifan lokal bagi pengelolaan sumber daya alam di Nepal.
Namun, literatur tentang kearifan lokal bagi persiapan dan mitigasi bencana amatlah
jarang dan tercerai-berai. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang mitigasi
bencana pada umumnya dan kearifan lokal pada khususnya, bisa dikatakan tidak ada.

Lebih jauh lagi, telaah atas literatur yang ada memperlihatkan bahwa praktik dan kearifan
lokal yang dimiliki masyarakat setempat ternyata tidak diajarkan di sekolah dan juga
tidak dicatat. Pengetahuan lokal itu tetap bertahan karena dua sebab: Pertama,
pengetahuan itu mempunyai manfaat fungsional dalam masyarakat yang berkepentingan;
Kedua, pengetahuan itu secara dinamis disampaikan dari generasi ke generasi melalui
tradisi lisan dan praktik.

Setelah hampir setahun lamanya melakukan observasi dan berinteraksi dengan penduduk
di delapan perkampungan, menjadi jelaslah bahwa tidak semua kelompok masyarakat
memiliki khazanah pengetahuan yang sama luasnya mengenai mitigasi bencana—
sebagaimana bisa diduga. Pengetahuan semacam itu lebih kental di dalam kelompok suku
yang homogen daripada dalam kelompok-kelompok pendatang (seperti Brahmin dan
Chhetri di distrik Terai). Masyarakat yang tinggi kesadarannya akan solidaritas dan
harmoni, seperti Gurung dan Tharu, memiliki pengetahuan lebih banyak tentang mitigasi
bencana. Semakin mandiri dan relatif endogen suatu kelompok, semakin besarlah
kemungkinan bahwa kelompok itu memiliki khazanah kearifan lokal yang kaya.

46
Bagaimanapun juga, semua kelompok terancam bahaya makin terkikisnya kearifan lokal
antara lain karena pengaruh modernisasi.

Masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang amat luas dan beragam tentang
mitigasi bencana berdasarkan kearifan lokal. Karena mereka hidup di tebing atau lembah
yang terpencil dan sulit dijangkau, mereka mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi
bencana yang harus mereka hadapi. Perkawinan atau penyatuan kearifan lokal ini dengan
pengetahuan ilmiah modern akan dapat meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat
dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Telaah yang mendetail, sistematis, dan
intensif tentang kearifan lokal dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif
dan penghargaan mengenai peran kearifan lokal demi peningkatan kualitas dan keamanan
hidup penduduk. Oleh sebab itu, sangatlah perlu dilakukan upaya untuk mengumpulkan,
menyusun, dan mensistematisasikan khazanah kearifan lokal yang amat beragam ini
sebelum lenyap ditelan waktu. Pencatatan pengetahuan semacam itu akan tampak jika
saja ada upaya untuk menjadikan prakarsa peningkatan kapasitas penanggulangan
bencana dalam kelompok masyarakat bukan saja hemat biaya, tetapi juga berkelanjutan
dan selaras dengan alam dan budaya.

Daftar Pustaka

- Carter, A.S. and D.A. Gilmour.1989. “Increase in tree cover on private farm land in
Central Nepal,” Mountain Research and Development, 9(4), pp. 381-391.
- Chand, S.P. Gurung, B.D. and P.G.Rood.1991. Farmers’ traditional wisdom: where
does it stand within the present agricultural research system of Nepal? Pakhribas
Agricultural Center Occasional Paper No. 4, Dhankuta.
- Fisher, R.J.1989. Indigenous Systems of Common Property Forest Management in
Nepal, Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. 18, East-West
Center, Honolulu.
- Gautam, K.H.1991. “Indigenous Forest Management Systems in Nepal,” an
unpublished M. Sc. thesis. Australian National University.
- Gilmour, D.A. and R.J.Fisher.1991. Villagers, Forests and Foresters: The Philosophy,
Process and Practice of Community Forestry in Nepal, Kathmandu: Sahayogi Press.
- Gilmour, D.A.1989. Forest Resources and Indigenous Management in Nepal,”
Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. 17, East-West Center,
Honolulu.
- Jackson, W.J.1990.“Indigenous Management of Community Forest Resources in
Middle Hills of Nepal: A Case Study,” an unpublished graduate diploma essay,
Australian National University.
- Metz, John J.1990.“Conservation practices at an upper-elevation village of West
Nepal,” Mountain Research and Development, 10(1), pp. 7-15.
- Rai, Navin K. and Man B.Thapa.1992. Indigenous Pasture Management Systems in
High Altitude Nepal: A Review, Research Report Series, HMG Ministry of
Agriculture and Winrock International, Kathmandu.
- Rusten, E.P.1989. “An Investigation of an Indigenous Knowledge System and
- Management Practices of Tree Fodder Resources in the Middle Hills of Nepal,” an
unpublished PhD thesis, Michigan State University, Michigan.

47
Terai Timur di Nepal dan Distrik Chitral di Pakistan
Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-
contoh dari Nepal dan Pakistan
Julie Dekens

Diambil dan diringkas dari “The Snake and the River Don’t Run Straight. Local
Knowledge on Disaster Preparedness in the Eastern Terai of Nepal” dan “Herders of
Chitral. The Lost Messengers? Local knowledge on Disaster Preparedness in Chitral
District, Pakistan” Kathmandu: ICIMOD, 2007.

Abstrak

Kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir telah dicatat dalam dua studi
kasus yang dilakukan di beberapa masyarakat pedalaman di Terai Timur, Nepal, dan di
Distrik Chitral, Pakistan. Informasi dikumpulkan mengenai kemampuan orang untuk
mengamati, mengantisipasi, beradaptasi dengan, dan berkomunikasi tentang risiko-risiko
banjir. Contoh-contoh yang diteliti memperlihatkan bahwa dalam perjalanan waktu pada
umumnya masyarakat mengembangkan banyak praktik dan kearifan lokal mengenai
kesiapsiagaan menghadapi banjir, dan pengetahuan ini berperan menyelamatkan jiwa dan
mengurangi kerugian harta benda. Walau demikian, kearifan lokal ini sering dipandang
sebelah mata saja oleh pihak-pihak luar, baik nasional maupun internasional, yang
cenderung hanya memperhatikan pengetahuan ilmiah dari luar. Kearifan lokal juga makin
terkikis berkat perubahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosio-ekonomi.
Studi kasus ini menunjukkan perlunya telaah lebih lanjut atas praktik dan kearifan lokal
untuk memperkuat praktik lokal yang baik (yang berkelanjutan dan seimbang) dan,
sebaliknya, mengurangi praktik yang tidak berkelanjutan. Pada akhirnya, pemahaman
atas praktik dan kearifan lokal merupakan prasyarat jika hendak mengintegrasikan
konteks dan kebutuhan lokal ke dalam program PRB. Proyek PRB niscaya akan memetik
manfaat dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah eksternal dan kearifan lokal demi
terciptanya solusi-solusi yang inovatif dan berkelanjutan.

Latar belakang

Studi kasus dilakukan di distrik Dhanusa, Mahottari, Rautahat, and Sarlahi di Terai
Timur, Nepal, serta di distrik Chitral di Provinsi Tapal Batas Barat Laut, Pakistan.
Kelompok-kelompok masyarakat pedalaman dalam studi kasus ini kerap menggabungkan
pertanian mandiri dan pekerjaan di luar ladang. Seperti lazim di seluruh Himalaya, kedua
masyarakat menghadapi peruahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosio-
ekonomi, yang mempengaruhi kerentanan mereka terhadap risiko bencana alam serta
cara mereka menanggapinya.

Terai Timur

Diibandingkan dengan masyarakat lain di Nepal, sebagian besar kelompok masyarakat di


Terai tergolong konservatif. Sistem kasta dalam agama Hindu mempengaruhi hubungan
sosioekonomis secara cukup kuat. Segelintir orang berkasta tinggi di kampung

48
kebanyakan adalah tuan tanah atau rentenir. Maka, orang-orang yang miskin dan berkasta
rendah seringkali menggantungkan hidup mereka pada orang berkasta tinggi karena tidak
tersedia jalan untuk memperoleh kekayaan. Perbedaan besar dalam hal kerentanan
tampak di antara kasta-kasta dan tingkat sosio-ekonomis berbeda, di antara kalangan
kelompok umur yang berbeda, dan juga di dalam rumah tangga. Terlebih lagi, kerentanan
gender lebih mencolok di wilayah yang diteliti karena perempuan dalam kebudayaan
Maithali, yang dominan di perkampungan, terutama tinggal dan bekerja di rumah.
Namun, seiring bertambahnya migrasi kaum lelaki, semakin banyak lelaki yang bekerja
di luar kampung atau bahkan luar negeri sehingga lebih banyak perempuan kini harus
juga bekerja di luar rumah.

Distrik Chitral

Kesenjangan sosio-ekonomis di antara penduduk Chitral tidaklah semencolok di Nepal.


Yang unik dalam kasus ini adalah lingkungan fisik masyarakat pegunungan yang
terpencil itu. Kondisi geografis di Chitral secara umum tidak menawarkan banyak pilihan
yang aman untuk hidup. Nyaris hanya 3,5% wilayah Chitral cocok untuk pertanian.
Lereng pegunungan banyak yang curam, tandus, dan tidak cocok untuk permukiman.
Daerah lembah sungai terkena banjir berulang-ulang sehingga sama-sama tidak cocok
untuk permukiman. Orang sering dihadapkan pada situasi di mana mereka harus memilih
tempat yang paling kecil risikonya. Pada umumnya, tempat itu adalah di sisi pada ujung
bilah pegunungan. Bilah-bilah itu kemudian diubah menjadi oasis ketika orang
membangun saluran irigasi. Tanah yang mengandalkan irigasi air hujan ini sangatlah
subur karena perubahan konstan sedimen yang terkikis. Para petani menanam gandum,
pohon buah-buahan, dan sayuran, terutama untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk
membajak tanah, mereka menggunakan kerbau.

Kisah/Peristiwa

Dalam kedua studi kasus, banjir merupakan peristiwa yang selalu berulang hampir setiap
tahun. Angka korban tewas akibat banjir memang tergolong rendah, tetapi kerusakan
yang menimpa lahan pertanian dan harta benda di rumah warga cukup tinggi, sehingga
amat berdampak pula pada penghidupan banyak orang karena sebagian besar warga
hidup dari pertanian.

Terai Timur di Nepal beriklim muson yang ditandai dengan musim panas yang panas dan
lembap, musim dingin yang agak agak lembut dan kering, dengan akibat besarnya
perbedaan curah hujan antarmusim. Hujan terkonsentrasi pada bulan Juni hingga
Agustus. Pada musim muson ini hujan yang deras atau berlangsung agak lama dapat
menimbulkan banjir di tanah yang sudah jenuh itu. Sama halnya, hujan lebat di
pegunungan dapat memicu terjadinya banjir bandang. Orang dapat dengan mudah
menarik garis batas antara banjir tahunan normal dan banjir luar biasa yang lebih
merusak tetapi dengan siklus kejadian lebih panjang.

Kearifan Lokal

49
Kearifan lokal yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berperan meningkatkan
kapasitas mereka untuk mengurangi risiko bencana mencakup, sekurang-kurangnya,
aspek-aspek berikut ini:

- Pengetahuan sejarah dan lingkungan: Masyarakat setempat memiliki pengetahuan


tentang sejarah dan sifat banjir di daerah merka sendiri dengan mengamati dan
mengalami sendiri peristiwa banjir, dengan dasar pengamatan sehari-hari atas
lingkungan di sekitar mereka, adanya ikatan erat dengan lingkungan hidup agar dapat
bertahan hidup, dan akumulasi pemahaman tentang lingkungan hidup yang
disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Ini penting karena pengalaman
dan pemahaman masa lalu tentang banjir pasti akan mempengaruhi pengalaman dan
pemahaman di masa kini. Salah satu contoh berkaitan dengan kapasitas orang untuk
mengamati lingkungan sekitarnya di Chitral. Di sana, salah satu strategi beradaptasi
dengan banjir bandang diperoleh dengan dasar pengetahuan lokal, yakni kemampuan
untuk membaca lingkungan alam, dan karenanya membuat interpretasi tentang di
mana tempat membangun, atau tidak membangun, rumah, kantor, dsb. Akibatnya,
permukiman di Chitral didirikan di daerah yang relatif aman kendati risiko sangat
tinggi akibat banjir bandang dan bencana alam lainnya di distrik itu.
- Pengetahuan organisasional: Kemampuan merencanakan, mengawasi, dan menilai
didasari oleh pelbagai transaksi, persepsi, kepercayaan, dan pengalaman masa lalu
tentang banjir. Orang sering dapat mengantisipasi banjir dengan cara mengamati
tanda-tanda peringatan alam (misalnya perubahan warna air, perubahan awan).
Mereka juga dapat mengidentifikasi tempat-tempat mana saja yang aman bagi
manusia dan ternak peliharaan, serta pengaturan waktu (misalnya, jika tiba saatnya
untuk memasukkan kayu bakar dan makanan lebih duu, singkirkan harta milik
berharga, lalu tinggalkan rumah).
- Pengetahuan tentang proyek pembangunan: Kepercayaan orang tentang akan adanya
pihak-pihak dari daerah, negara, atau internasional yang akan mengulurkan tangan
ketika mereka mengalami bencana akan berpengaruh pada bagaimana orang akan
menanggapi keterlibatan pihak-pihak itu.
- Pengetahuan teknis: Contoh strategi teknis sebagai upaya beradaptasi dengan banjir
antara lain langkah-langkah yang berkaitan dengan pembangunan rumah, langkah
perlindungan dinding, gudang atas, air minum, dan transportasi, serta langkah-
langkah yang diambil untuk mengalihkan aliran sungai. Sebagai contoh, di Terai
Timur, Nepal, orang menerapkan berbagai strategi sederhana untuk mendirikan
rumah (misalnya meninggikan undakan, memperkuat dan memperkokoh dinding
dengan timbunan lumpur, pagar bambu, dsb.), membangun gudang penyimpanan
makanan, atau membangun lantai untuk menghindarkan barang-barang kecil,
makanan, ternak kecil, dan juga manusia dari air banjir. (Gambar 1)
- Pengetahuan non-teknis: Contoh strategi adaptasi yang bersifat nonteknis antara lain
tindakan yang diambil berkaitan dengan mobilitas ruang dan sosial (mis. kemampuan
untuk mengandalkan dukungan sanak saudara dan tetangga, strategi-strategi
diversifikasi usaha), keamanan pangan, penyelenggaraan sistem keuangan mikro,
pengelolaan sumber daya alam (mis. peraturan tentang menggembalakan ternak dan
penebangan pohon, reorganisasi pola tanam dan pengolahan tanah, penerapan strategi
baru bercocok tanam semisal menanam di sepanjang sungai, atau menanam sayuran

50
di tepian sungai untuk mengurangi dampak banjir, kepercayaan dan sikap batin
terhadap perubahan sehingga mampu belajar dari kesalahan masa lampau dan dari
peristiwa bencana banjir, serta terbangunnya relasi-relasi institusional dengan pihak
di luar lingkaran masyarakat setempat).
- Strategi komunikasi: Ini mencakup komunikasi secara lisan maupun tertulis tentang
peristiwa banjir di masa lampau maupun tentang yang akan datang, serta adanya
sistem peringatan dini (misalnya siulan, teriakan, lari menuruni bukit).

Semua orang mempunyai pengetahuannya sendiri, yang bersifat keseharian dan lokal,
tentang lingkungan sekitar mereka. Tingkat pengetahuan lokal juga bergantung pada sifat
suatu masyarakat (misalnya, masyarakat migran mempunyai pengetahuan lebih sedikit
daripada masyarakat yang telah tinggal di suatu daerah secara turun-temurun. Namun,
kelompok masyarakat nomad bisa jadi mempunyai pengetahuan lokal tentang lebih dari
satu daerah saja). Orang-orang yang dianggap ahli dalam kelompok masyarakat dan
beberapa kelompok sosial tertentu juga memiliki pengetahuan spesialis lokal, yakni
mereka memiliki keahlian penting tertentu yang tidak diketahui semua orang dan yang
dapat bermanfaat bagi kesiapsiagaan menghadapi bencana. Contohnya antara lain
masyarakat nelayan yang setiap hari hidup berdekatan dengan air. Dengan demikian, tak
aneh jika mereka mahir berenang dan peka terhadap perubahan air. Kelompok lainnya
lagi mungkin memiliki pengetahuan tentang perkayuan dan anyaman bambu,
keterampilan yang berguna dalam pengerjaan meninggikan lantai demi menghindari
banjir seperti yang ditemukan di Terai, Nepal. Beberapa pemimpin adat disegani dan
memiliki keterampilan berkomunikasi yang membuat mereka mampu berbicara di depan
publik dan menyampaikan pesan peringatan (misalnya “harap Anda meninggalkan rumah
sekarang juga!”) yang akan dipercayai dan diikuti semua penduduk.

Masyarakat di Chitral juga telah menerapkan strategi-strategi untuk meningkatkan


ketahanan mereka terhadap serangan banjir bandang. Sebagai contoh, penduduk setempat
telah mampu mempelajari tanda-tanda awal akan terjadinya banjir bandang yang
merusak. Tanda-tanda itu semisal warna, bau, dan ciri-ciri air sungai pegunungan, di
samping juga kemampuan meramalkan berdasarkan konstelasi bintang. Pada tahun 2005,
sebanyak 106 rumah di kampung Brep hancur karena Luapan Banjir Danau Es (Glacial
Lake Outburst Flood, GLOF). Kendati demikian, tidak ada korban jiwa satu pun karena
penduduk berhasil menafsirkan perilaku aliran sungai sebagai pertanda awal, dan seisi
kampung berhasil menyelamatkan diri tepat pada waktunya (Gambar 2).

Pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir diwariskan secara lisan dengan


cara belajar sambil melakukan (learning by doing), setiap hari mengamati keadaan alam
sekitar, menceritakan dongeng, dan internalisasi praktik-praktik tertentu secara turun-
temurun. Penyebaran pengetahuan ini berlangsung pada dua tingkatan: di antara anggota
masyarakat (mis. peringatan dini tentang akan datangnya banjir) dan di antara generasi
(mis. menyampaikan pengetahuan dan pelajaran yang dipetik dari peristiwa banjir di
masa lalu). Dalam studi kasus ini, seperti halnya di wilayah lain di Himalaya, kelompok-
kelompok masyarakat tidak mencatat sejarah dalam buku; kisah masa lalu disampaikan
secara lisan oleh orang-orang tua dengan cara bercerita. Dengan demikian, peran para
sesepuh amat penting karena merekalah yang kerap kali menjadi ingatan sosial bagi

51
masyarakat atau kelompok tertentu. Pada masyarakat yang banyak mengandalkan tradisi
lisan, peristiwa masa lampau, termasuk bencana banjir, ditanamkan ke dalam ingatan
melalui cerita dongeng, lagu, syair, peribahasa, kegiatan dan upacara ibadat, ritual, dan
sebagainya. Sebagai contoh, biasanya, lagu dan puisi merupakan bagian penting dalam
kebudayaan Nepali dan Terai. Salah satu contohnya adalah peribahasa: “Ular dan sungai
tidak pernah berjalan lurus”. Bentuk sungai di Terai Timur, Nepal, bisa dibandingkan
dengan gerak ular, yang merujuk pada sifat sungai di daerah itu: saluran-saluran air
sangat tidak stabil, setiap saat bisa berubah arah dan mengubah keadaan. Beberapa lagu
yang dikumpulkan dalam studi kasus di Nepal seluruhnya bercerita tentang banjir,
sementara lainnya menyebut soal banjir di samping masalah-masalah lain yang dihadapi
penduduk. Pada beberapa kasus, lagu dan peribahasa menjadi gudang simpanan (atau
bisa juga dilihat sebagai relay, penerus) atas peristiwa banjir di masa lampau dan dapat
membantu merangsang pembelajaran, ingatan, dan kreativitas penduduk (Gambar 3).

Lagu dan peribahasa juga berperan dalam penyampaian strategi penanganan bencana,
membentuk pengetahuan bersama, dan membagikan pemahaman yang sama tentang
perubahan sehubungan dengan peristiwa banjir yang kadang sering kadang jarang. Lagu
dan peribahasa juga dapat membantu membangun kesadaran berkomunitas dan
solidaritas di dalam kampung dan/atau dalam beberapa kelompok yang terkait. Para
penyanyi dan pengarang lagu setempat adalah tokoh kunci pembawa pengetahuan dan
agen perubahan yang memainkan peran vital dalam pembentukan kesadaran kelompok
masyarakat. Ibadat, sesaji, dan upacara tertentu membantu mereka dalam memahami dan
mengingat kejadian banjir di masa lampau serta meredakan kegelisahan akan bahaya
bencana di masa mendatang. Sebagai contoh, masyarakat Kalash, salah satu etnik
minoritas di Distrik Chitral, Pakistan, menyelenggarakan upacara bersama yang disebut
lavak natek yang agaknya menstimulasikan unsur-unsur peristiwa banjir melalui gerak-
gerik dan adegan simbolik (mis. berlari menuruni bukit sambil berteriak) sebagai
peristiwa katarsis bagi seluruh kelompok masyarakat.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Secara keseluruhan, dua studi kasus itu membuktikan bahwa praktik masyarakat asli
seringkali, tapi tidak selalu, memiliki kelebihan-kelebihan berikut jika dibandingkan
dengan kebanyakan strategi yang datang dari luar dan bersifat dari-atas-ke-bawah:

- Strategi hemat biaya, menggunakan sumber daya dan keterampilan lokal


- Mudah diterima, dipercaya, dan dimengerti (dihayati)
- Dimiliki oleh kelompok masyarakat
- Tanggap terhadap budaya
- Pengawasan berlangsung terus-menerus
- Keandalannya teruji oleh waktu
- Selaras dengan konteks dan kebutuhan setempat
- Memberdayakan masyarakat, termasuk kelompok-kelompok yang paling rentan dan
paling kurang beruntung, untuk mampu mengambil tindakan dan bukan sekadar
mengharapkan bantuan dari luar saja

52
- Bersifat holistik, menyeluruh (mempertimbangkan hal-hal dan prioritas lain yang
dapat mempengaruhi kerentanan kelompok masyarakat, rumah tangga, atau individu)

Berdasarkan dua studi kasus di atas, kiranya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

- Dalam perjalanan waktu, penduduk setempat biasanya telah mengembangkan cukup


banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir yang
berperan memperbesar peluang selamat dan mengurangi kerugian harta benda
- Relasi sosial, khususnya sistem kasta, merupakan unsur penting yang membantu
pemahaman kearifan lokal

Banyak keterbatasan dan hambatan bagi digunakannya kearifan lokal dalam penanganan
bencana. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Masih dominan kepercayaan bahwa pengetahuan ilmiah “lebih tinggi” daripada


kearifan lokal
2. Kearifan lokal sulit untuk diidentifikasi, digunakan, dinilai, diuji, digeneralisasi, dan
ditiru
3. Kearifan lokal sering dimonopoli oleh kelompok yang dominan di dalam masyarakat
4. Beberapa kebiasaan, kepercayaan, dan strategi adaptasi lokal tidak berkelanjutan
dan/atau tidak berimbang secara sosial
5. Akibat perubahan yang cepat, praktik dan kearifan lokal semakin menjadi tidak pas,
tidak relevan, atau tidak bisa diketahui lagi seiring perjalanan waktu
6. Kearifan lokal semakin tidak dipercaya di dalam kelompok masyarakat sendiri,
terutama di kalangan generasi muda
7. Fokus terhadap kearifan lokal dapat dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan
nasional dan struktur politik, khususnya di mata rezim yang otoriter
8. Bahaya dan bencana alam telah dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan
ketahanan dan keamanan nasional, sehingga upaya desentralisasi dalam bidang ini
menjadi semakin sulit
9. Dokumentasi dan pemanfaatan kearifan lokal dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak
luar untuk menguasai masyarakat tersebut dan sumber daya yang mereka miliki

Menambah data dan teknologi belaka tidak akan membantu meningkatkan kehidupan
masyarakat jika tidak dibarengi pemahaman atas konteks dan kebutuhan setempat.
Seringkali campur tangan dari pihak luar mengabaikan kearifan lokal (dalam arti, mereka
tidak mengerti dan tidak mengakui konteks dan kebutuhan setempat). Dengan cara itu
sesungguhnya pihak-pihak luar itu sedang menciptakan kerentanan dan bencana baru
akibat tidak adanya gambaran yang menyeluruh dan analisis yang mendalam tentang
konteks kerentanan setempat.

Oleh sebab itu, kearifan lokal, jika dikombinasikan dengan pengetahuan ilmiah,
memungkinkan organisasi-organisasi pelaksana untuk menciptakan solusi-solusi yang
inovatif dan berkesinambungan dalam upaya mengurangi risiko bencana. Contoh
penerapan kearifan lokal dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana antara lain sebagai
berikut:

53
1. Memadukan kearifan lokan dengan pengetahuan ilmiah untuk membuat peta bahaya,
survei, dan pendataan lainnya untuk verifikasi informasi
2. Mempertimbangkan nasihat dari penduduk setempat tentang tempat-tempat yang
aman, lokasi pembangunan bangunan dan jalan—karena kearifan lokal dapat
memberikan informasi yang berkaitan dengan keragaman dan kekhususan lingkungan
alam setempat
3. Memahami dan mempertimbangkan persepsi masyarakat setempat mengenai bahaya
alam yang mempengaruhi bagaimana orang menilai dan bertindak terhadap bahaya,
risiko, dan bencana alam
4. Memahami dan mempertimbangkan kompromi (tradeoff) antar risiko yang dilakukan
orang dalam kondisi di bawah banyak tekanan
5. Mengidentifikasikan, memahami, dan mempertimbangkan kelompok-kelompok dan
individu-individu yang rentan, tokoh elite setempat, dan hubungan kekuasaan
6. Memahami dan mempertimbangkan perubahan dalam kerentanan penduduk terhadap
bencana alam seiring berjalannya waktu
7. Mengidentifikasikan mekanisme apa yang dapat diusulkan pada tingkat lokal (mis.
mana strategi penanganan yang berkelanjutan, seimbang, dan perlu diperkuat),
bagaimana menghentikan praktik yang tidak berkelanjutan, dan bagaimana mengajak
orang untuk turut serta dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Fokus pada
praktik dan kearifan lokal membantu mengidentifikasikan dan memanfaatkan
kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat dan institusi-institusi setempat (daripada
membuat institusi baru yang sejenis)
8. Belajar dari kearifan lokal untuk menciptakan konsep, metode, dan strategi yang baru
demi perbaikan penanganan bencana dan demi penguatan mekanisme lokal yang
relevan dan berkelanjutan untuk menangani bencana
9. Membangun kepercayaan masyarakat bahwa kearifan dan praktik lokal yang mereka
miliki masih tetap relevan dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Sistem
pendidikan yang sekarang berjalan perlu ditimbang ulang supaya terbentuk kaitan
yang jelas antara sekolah dan masyarakat setempat sehingga kurikulum sekolah
disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan setempat, serta memelihara praktik dan
kearifan lokal
10. Menyesuaikan strategi komunikasi dengan pemahaman dan persepsi orang-orang
setempat, dan memasukkan nilai-nilai lokal ke dalam proses pengambilan keputusan
(misalkan sistem peringatan dini)

Perubahan lingkungan dan sosio-ekonomi yang berlangsung secara cepat dihadapi oleh
banyak kelompok masyarakat sebagai sumber kelemahan baru, namun sekaligus juga
peluang baru untuk mengeksplorasi cara-cara baru penganggulangan risiko. Seberapa
jauh praktik dan kearifan lokal dapat berperan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat
dalam menghadapi bencana tentulah tidak hitam putih, tetapi yang pasti tidak dapat
diabaikan.

54
Distrik Mansehra and Battagram, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Pakistan
Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik
Mansehra dan Battagram, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Pakistan
Takeshi Komino

Abstrak

Penduduk di distrik Mansehra dan Battangram di Pakistan telah mengembangkan


mekanisme bertahan yang bersifat sosial, fungsional, dan sekuensial untuk menghadapi
dampak bencana yang kerap berulang, terutama tanah longsor. Semua mekanisme ini
bergantung pada kemampuan orang-orang. Oleh sebab itu, tujuan penanggulangan
bencana seharusnyalah meningkatkan kemampuan orang agar dapat menghadapi situasi
buruk dengan lebih baik. Ini dapat dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan
memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada sehingga dampak bencana dapat
diperkecil.

Latar belakang

Distrik Mansehra dan Battagram di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan (Gambar 1)
sangat rentan terhadap pelbagai risiko buruk yang disebabkan oleh kondisi lingkungan,
iklim, geografis, dan sosial di wilayah itu. Masyarakat di sana (i) rentan secara fisik
akibat ketinggian lokasi dari permukaan laut, cuaca yang ganas, kontur wilayah yang
pegunungan, dan tanah yang tidak subur untuk pertanian, (ii) rentan secara arsitektural
karena buruknya bangunan dan infrastruktur, (iii) rentan secara ekonomi akibat
kemiskinan, pengangguran, dan penurunan hasil pertanian, (iv) rentan secara demografis
akibat bertambahnya populasi dan masalah kesehatan, dan (v) rentan secara politik dan
administratif karena di sana tidak ada struktur penanggulangan bencana, bahkan
kehendak politik untuk menerapkannya pun tidak ada. Selama berabad-abad, penduduk di
wilayah-wilayah ini menghadapi banyak bencana yang terjadi berulang-ulang seperti
tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, dan cuaca yang ekstrem semisal hujan lebat,
badai, badai salju, dan hujan es.

Karena seringnya kejadian bencana, penduduk setempat menjadi percaya bahwa bencana
adalah bagian kehidupan mereka yang tak dapat dihindari dan mungkin merupakan suatu
bentuk hukuman dari Tuhan. Dampak bencana amat dirasakan oleh kelompok-kelompok
masyarakat di pedalaman karena efek jangka panjangnya terhadap penghidupan mereka.
Ada beberapa hal lain yang membedakan wilayah ini. Iklim bervariasi sepanjang tahun,
di mana Desember, Januari, dan Februari merupakan bulan-bulan terdingin, sementara
Juni dan Juli bulan-bulan terpanas. Hujan dan salju umum terjadi di wilayah ini.
Topografinya pegunungan. Nyaris sulit ditemukan dataran kecuali petak kecil yang
biasanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Pertanian skala kecil, membuka warung,
dan menjadi pegawai swasta (mis. guru sekolah, karyawan bank) adalah sumber
penghasilan utama bagi penduduk Mansehra dan Battagram. Seluruh penduduk beragama
Islam, tetapi terbagi-bagi ke dalam berbagai klan dan aliran semisal gujjar, sayed, swati,
tanuli, dan pashtoon. Karena alasan keagamaan, orang tidak menjalankan keluarga
berencana. Sebagai akibatnya, anak-anak menikah pada usia muda, 18-25 dan 15-22,

55
yang menjadi faktor penyebab pesatnya pertambahan penduduk. Pengangguran dan
kemiskinan ada di mana-mana. Kaum lelaki kerap bermigrasi ke pusat-pusat
perekonomian di negara itu.

Kelompok-kelompok masyarakat memiliki sistem sosial dan organisasi yang kuat. Di


samping kelompok-kelompok berbasis komunitas setempat, ada empat pranata sosial:
kekerabatan, hasshar, jirga, dan “semangat kampung” (village hood). Pertama,
kekerabatan memungkinkan orang memperoleh dukungan lebih luas berkenaan dengan
suatu masalah atau situasi darurat. Misalnya, sanak saudara membantu kerabat mereka
membangun rumah yang roboh dengan cara menyumbangkan tenaga, makanan, atau
material. Kedua, Hasshar adalah saling memberikan bantuan tenaga untuk menyelesaikan
masalah dan dalam keadaan darurat, di mana orang dapat meminta bantuan dari kenalan
atau kampung tetangga. Ketiga, Jirga biasanya dilakukan untuk menyelesaikan
perselisihan dan mencari solusi bagi permasalahan bersama. Terakhir, “semangat
kampung” memungkinkan orang membeli dari warung dengan cara mengutang.

Kisah/Peristiwa

Tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di Mansehra and Battagram
(Gambar 1). Peristiwa bencana yang terakhir terjadi pada 14 Februari 2004, ketika gempa
menyerang wilayah itu dan menyebabkan tanah longsor serta kerusakan parah di banyak
tempat.

Tidak ada upaya penanggulangan bencana dari pihak pemerintah di Mansehra dan
Battagram ketika gempa terjadi. Masyarakat menggunakan strategi yang mereka peroleh
turun-temurun untuk menangani dampak bencana.

Kearifan Lokal

Kearifan lokal di sana dapat dibagi ke dalam tiga kategori berbeda: mekanisme bertahan
secara sosial, fungsional, dan sekuensial. Tiap-tiap kategori digunakan oleh masyarakat
di Mansehra and Battagram pada beberapa tingkatan masyarakat (individu, rumah tangga,
dan komunitas) untuk menanggulangi bencana.

Mekanisme Bertahan secara Sosial

Ada struktur-struktur dan relasi formal maupun non-formal yang dapat mengerahkan
sumber daya dan membantu menyelesaikan masalah pada tingkat lokal. Di dalamnya
tercakup struktur-struktur internal maupun eksternal seperti unit-unit kemasyarakatan,
lembaga keagamaan, organisasi politik, dan sistem ekonomi. Komisi Bra-e-Tahaffuz-e-
Jangalat, misalnya, mengambil bagian dalam penanggulangan bencana dengan cara
bekerja sama dengan departemen kehutanan berkaitan untuk menangani masalah
penebangan hutan demi mencegah banjir dan erosi tanah akibat hujan lebat. Lebih jauh
lagi, kelompok-kelompok masyarakat sering mengawasi ketinggian air selama turun
hujan. Jika ada bahaya, penduduk yang tinggal di tempat yang rentan terkena bencana
segera dikabari dengan teriakan atau ketukan pintu. Ketika air mencapai batas kritis,

56
penghuni rumah yang terancam bahaya segera memindahkan barang ke rumah kerabat
atau kampung tetangga. Anggota keluarga, khususnya perempuan, anak-anak, dan orang
cacat, mengungsi ke tempat yang aman. Umumnya mereka lebih memilih tempat saudara,
kenalan, atau tetangga. Di kampung Paras, tugas ini dilakukan secara bergilir di antara
warga masyarakat sepanjang musim penghujan.

Pada saat perbaikan pasca-bencana, ikatan sosial yang kuat merupakan bantuan bagi
keluarga-keluarga miskin yang menjadi korban. Mereka dapat meminjam uang atau
bahan makanan dari sanak saudara, teman, tetangga, atau pemilik warung. Di beberapa
kampung, diselenggarakan upacara keagamaan, semisal pembacaan Al-Quran dan doa
bersama setelah peristiwa bencana besar.

Mekanisme Bertahan secara Fungsional

Untuk meminimalkan risiko tanah longsor, masyarakat menerapkan teknik-teknik


pembangunan infrastruktur yang dikembangkan selama ratusan tahun.

Rumah-rumah di perkampungan pada umumnya dibangun dengan jarak 2 sampai 3 kaki


satu sama lain. Rumah-rumah yang dibangun berdempetan biasanya paling banyak
mengalami kerusakan akibat bencana dan memakan lebih banyak korban jika batu-batu
berguguran dari gunung. Di kampung Gantar, bilah-bilah kayu digunakan pada
konstruksi dinding batu untuk menambah kekuatan. Konstruksi dinding batu berukuran 2
x 2,5 kaki menghasilkan kohesi dan mengurangi dampak kerusakan pada infrastruktur.
Penduduk yang termasuk golongan lebih kaya, khususnya di kampung Paras, menambah
jumlah tiang dan balok kayu untuk lebih memperkuat rumah mereka.

Selain itu, atap berukuran lebar 1 hingga 2 kaki dibuat dengan perhitungan matang.
Mula-mula dibangun tonggak-tonggak kayu pendukung. Kemudian, berton-ton tanah
disebarkan ke atas atap untuk menahan rembesan air (Gambar 2). Beberapa orang
terlebih dahulu menutupi atap dengan lembaran plastik, jute, atau nilon sebelum
ditumpangi tanah agar atap lebih aman. Sebelum musim muson, rerumputan yang
tumbuh di atap disiangi karena akar rumput berperan menyebabkan perembesan air.
Bagian tengah atap dibuat sedikit lebih tinggi, sementara sisi-sisinya menyilang dari tepi
sehingga memudahkan air mengalir. Bilah logam agak panjang dipasang di bawah tanah
pada tiap tepi atap agar memudahkan aliran air dari atap. Sama halnya, tepi atap
dipanjangkan agar air dari atap tidak membasahi dinding. Kadang-kadang batu
dipasangkan pada tepi atap untuk menjaga agar atap tidak rusak. Atap dan bagian
sepanjang dinding kemudian dipukuli dengan alat kayu bernama dabkan untuk mencegah
rembesan air dan juga untuk memantapkan fondasi rumah.

Akibat bencana yang berulang kali terjadi, penduduk sangat berhati-hati ketika memilih
lokasi bangunan rumah. Mereka biasanya memilih untuk mendirikan rumah pada area
datar, jauh dari sumber air, dekat jalan, dan di atas tanah putih, yang menurut
kepercayaan setempat berkualitas baik karena lebih padat. Untuk mengatasi kerentanan
tanah, mereka menanam pohon walnut, sherol, dan kikar di sekitar rumah. Akar pohon

57
menghunjam sampai jauh sehingga memperkuat ikatan tanah. Beberapa orang menggali
pondasi rumah hingga kedalaman 2 kaki, khususnya di bawah bagian dinding bangunan.

Untuk rumah lumpur, warga menggunakan bahan bangunan tradisional yang dicampur
dengan lumpur agar stabil, untuk kemudian mereka jadikan atap atau dinding. Bahan
bangunan tradisional itu antara lain kotoran kerbau, kapas, jerami, bulu kambing, daun
cemara, karung goni yang telah digiling, dan serbuk gergaji. Mereka yang kurang mampu
biasa menggunakan lembaran seng sebagai atap dan dengan demikian menghemat tenaga,
waktu, dan perawatan (Gambar 3). Kadang kala, bebatuan sengaja diletakkan di atas atap
seng agar tidak terbawa angin ketika terjadi badai. Dahulu arsitektur rumah lumpur
didirikan tanpa sambungan antara pilar dan batar, atau bilah-bilah kayu di atap. Setelah
Februari 2004, perangkat besi bernama kalab digunakan untuk mengikat pilar dan bilah-
bilah kayu atap.

Lembaga pemerintah, Departemen Pekerjaan Umum, kerap mengunjungi wilayah itu


selama musim penghujan untuk memantau risiko tanah longsor. Departemen ini juga
membangun turap-turap penahan tanah di sepanjang tepi jalan yang rentan longsor
(Gambar 4).

Mekanisme Bertahan secara Sekuensial

Pada saat bencana terjadi, kelompok-kelompok masyarakat mengerahkan pelbagai


sumber daya menurut urutan berdasarkan tingkat kerugian dan kemampuan. Karena yang
paling utama adalah penghidupan, mereka menerapkan strategi untuk mengamankan
penghidupan. Mereka yang miskin segera mengubah pola dan jenis makanan. Pada
kejadian bencana hebat, kadang orang pindah sementara ke kampung lain, terutama jika
keluarga yang terkena dampak bencana belum mendapat pertolongan dan tidak mau
tinggal di rumah tetangga, kenalan, atau teman. Kadang-kadang anak-anak lelaki dikirim
ke pusat perkotaan terdekat atau ke kota-kota besar untuk bekerja. Ketika dampak
bencana sangat luas, keluarga yang tidak mampu, sebagai jalan terakhir, biasanya
memilih menjual harta milik mereka (mis. ternak, perhiasan, tanah).

Ketika warga masyarakat sendiri mengembangkan pengetahuan dalam ketiga kategori itu
melalui pelbagai macam pengalaman, pengetahuan itu semakin tertanam di dalam
kebudayaan, semakin dikenal, semakin mudah diterapkan. Pengetahuan berevolusi di
tempat aslinya, selalu dinamis dan kreatif, terus-menerus tumbuh dan menyesuaikan diri
dengan keadaan-keadaan baru. Pengetahuan ini tertanam dalam suatu sistem yang
dinamis, di mana spiritualitas, kekerabatan, politik lokal, dan faktor-faktor lainnya saling
terhubung dan mempengaruhi satu sama lain.

Tidak ada sistem formal di masyarakat untuk menyebarluaskan kearifan lokal ini.
Walaupun demikian, pengetahuan ini berhasil diwariskan secara informal, turun-temurun
dari generasi ke generasi melalui perantaraan individu-individu dalam masyarakat. Tidak
ada seorang pun yang memberikan perhatian pada penerapan strategi tradisional ini
sebelum bencana tahun 2004, karena memang saat itu tidak ada struktur pemerintah
formal yang bertugas menanggulangi bencana. Masyarakat sendirilah yang

58
menyebarluaskan dan menerapkan teknik-teknik kearifan lokal dalam beragam cara
untuk menangani bencana.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Kearifan lokal, seperti yang dapat dilihat di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan,
menyediakan mekanisme yang penting untuk mengurangi risiko bencana, dan secara
khusus amat berharga bagi penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. Para
pengambil kebijakan sepatutnya mempertimbangkan untuk melestarikan mekanisme
tradisional yang sedemikian efektif itu, dan kemudian mengembangkannya dan
memastikan bahwa pembangunan tidak menyebabkan masyarakat semakin rentan
terhadap bencana alam. Lebih dari itu, mendorong kelompok masyarakat untuk terlibat
melalui cara praktik tradisional merupakan strategi yang lebih realistis dan khas-daerah-
tertentu karena masyarakat setempat memahami situasi mereka berdasarkan pengalaman
bencana di masa lalu.

Mekanisme-mekanisme asli ini saja tentu tidaklah mencukupi untuk menanggulangi


bencana secara efektif. Sementara pengetahuan ini membantu mengurangi risiko
bencana, tetapi pengetahuan macm ini tidak memadai untuk menghadapi bencana-
bencana baru yang dialami masyarakat. Sebagai misal, pengalaman gempa tahun 2004
menunjukkan bahwa teknik pencegahan rembesan air ternyata berperan meningkatkan
jumlah bangunan yang rusak akibat beban tanah di atas atap. Mekanisme-mekanisme
bertahan tradisional bisa jadi tidak selalu pas, dan senantiasa rentan terhadap perubahan
lingkungan internal dan eksternal. Misalnya lagi, mengubah kondisi sosial, politik, dan
ekonomi di suatu daerah niscaya akan mempengaruhi efektivitas mekanisme-mekanisme
itu. Ada kebutuhan yang meningkat untuk mengembangkan mekanisme bertahan ini
dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif terhadap
masyarakat.

Mekanisme-mekanisme bertahan di Mansehra and Battagram amat bergantung pada


kemampuan masyarakat yang bersangkutan. Memang kemandirian dan solidaritas dalam
keluarga dan masyarakat amat sangat bernilai ketika orang menghadapi bencana,
kapasitas dukungan sosial juga merupakan faktor yang tak ternilai; kendati demikian,
adanya sistem pendukung yang kuat merupakan tulang punggung keberhasilan
mekanisme bertahan di Mansehra dan Battagram. Tujuan penanggulangan bencana
haruslah untuk meningkatkan kemampuan orang untuk menangani kejadian-kejadian
buruk. Program pembangunan dan penanggulangan bencana semestinya mendukung
aktivitas yang menggerakkan dan memperkuat sumber daya lokal pada tingkat keluarga
dan komunitas. Ini bisa dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat
mekanisme bertahan yang sudah ada dengan cara yang mengurangi dampak bencana.

Terbatasnya sumber daya dan persepsi masyarakat tentang bencana sering mempengaruhi
diterima atau tidak diterimanya suatu mekanisme tertentu. Sebagai contoh, pemahaman
atas sistem-sistem penghidupan masyarakat asli adalah syarat yang penting agar upaya
pembangunan tidak malah menghilangkan kemandirian, menggoyahkan nilai-nilai
budaya, atau merongrong sistem-sistem penghidupan tradisional.

59
Pendekatan yang berbasis komunitas—yang bertujuan memahami bagaimana cara
komunitas-komunitas menangani bencana yang berbeda-beda, bagaimana tingkat
pemahaman mereka tentang bencana, dan bagaimana kemampuan mereka untuk
menanggulanginya secara efektif dan berkesinambungan—adalah cara terbaik untuk
menerapkan program penanggulangan bencana. Partisipasi kelompok masyarakat tidak
selayaknya dianggap sebagai proses konsultasi belaka, melainkan juga sebagai proses
pemberdayaan yang efektif untuk mengetahui akar-akar penyebab kerentanan mereka.
Akan sangat membantu jika ada suatu sistem untuk memantau dampak bencana pada
tingkat komunitas dan nasional. Adanya peta risiko dan bahaya yang disempurnakan,
kesadaran akan bencana, dan sistem peringatan dini pada tingkat komunitas niscayalah
juga akan berguna.

Yang paling penting, baik analisis sosio-ekonomi maupun pendekatan penghidupan


berbasis komunitas perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan dan program-program
penanggulangan bencana pada kelompok-kelompok masyarakat yang terancam oleh
risiko bencana.

60
Desa Singas, Papua Nugini
Hidup bersama Banjir di Singas, Papua Nugini
Jessica Mercer dan Ilan Kelman

Abstrak

Pengalaman penduduk yang tinggal di desa Singas, yang terletak di Provinsi Morobe,
Papua Nugini menggambarkan bagaimana kearifan lokal berperan penting dalam upaya
mengurangi risiko bencana. Desa Singas terdiri dari masyarakat yang tinggal di
sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini, yaitu Sungai Markham.
Sebagai akibatnya, desa tersebut terkena dampak banjir tahunan yang disebabkan oleh
hujan deras yang melanda selama musim penghujan. Contoh ini sangat penting terutama
karena sungai tersebut tidak hanya menyimpan potensi bencana namun juga karena
sungai tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar dan dengan demikian
sungai itu sangat penting artinya bagi masyarakat tersebut. Akibatnya, masyarakat desa
Singas sangat proaktif dalam upaya-upaya mitigasi dampak bencana banjir. Kearifan
lokal di lima bidang khusus, yaitu metode pembangunan, hubungan sosial, perencanaan
penggunaan lahan, strategi pangan dan lingkungan, telah membantu meningkatkan peran
masyarakat dalam mitigasi dampak banjir yang rutin terjadi setiap tahun.

Latar Belakang

Desa Singas terletak di sebuah daerah kantong di Distrik Markham di Provinsi Morobe
sepanjang bantaran sungai Markham di Papua Nugini.

Kota terdekat adalah Mutzing Station, yang merupakan pusat Distrik Markham, terletak
di seberang sungai dari desa Singas. Di Mutzing Station terdapat gedung-gedung
pemerintahan, sekolah menengah, klinik kesehatan dan pasar terdekat dari Singas. Lebar
Sungai Markham bervariasi dari 3-8 km kalau ditempuh ke arah hilir, dan penyeberangan
di desa Singas merupakan titik terlebar. Perjalanan menyeberangi sungai dari Singas ke
Mutzing Station makan waktu kurang lebih 2 jam tergantung pada arus sungai (Gambar
1). Rute ini hanya dapat dilewati pada musim kemarau dan bahkan pada saat itupun
masih sering berbahaya untuk dilewati. Selama musim penghujan, penduduk desa harus
berjalan selama dua hari untuk mencapai tempat di mana ada jembatan yang dapat
mereka lewati. Namun, itupun sering rusak atau bahkan tidak dapat dilewati sama sekali.

Penduduk desa Singas berjumlah 296 orang dan terbagi menjadi lima kelompok keluarga.
Masyarakat ini dulunya menggantungkan sumber pendapatan pada pohon pinang, yang
buahnya dikunyah seperti tembakau. Namun, akibat adanya suatu penyakit baru yang
membunuh pohon tersebut, masyarakat sekarang sangat menggantungkan mata
pencaharian mereka pada penjualan hasil kebun, kelapa, mangga (kalau sedang musim)
dan ikan. Tingkat pendidikan di desa tersebut sangat rendah, karena orangtua tidak
mampu membayar uang sekolah, terutama sebagai akibat dari hilangnya pendapatan dari
panen buah pinang. Meskipun demikian, sumber-sumber pendapatan semakin beragam
dengan diperkenalkannya sumber pemasukan pendapatan yang dihasilkan dari panenan
seperti kacang dan kopi. Di dekat desa Singas, terdapat tiga sekolah dasar tempat anak-

61
anak bersekolah, meskipun akses ke sekolah ini sering terbatas karena banjir yang
melanda, dan para murid seringkali harus menyeberangi sungai Markham untuk
mencapai sekolah.

Kisah/Peristiwa

Karena tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini,
masyarakat Singas selalu terancam bahaya banjir, terutama sepanjang musim hujan.
Biasanya, desa ini dilanda banjir untuk beberapa waktu setiap tahun, tergantung pada
volume curah hujan yang diterima. Beberapa banjir besar terakhir yang terekam dalam
ingatan warga desa adalah banjir di tahun 1998 dan 2002 ketika air naik mencapai tiang
penyangga rumah panggung dan sampai masuk ke dalam rumah (Gambar 2). Selama
tahun-tahun inilah kearifan lokal yang mereka terapkan sungguh-sungguh bermanfaat
dalam upaya mengurangi risiko bencana bagi diri mereka sendiri maupun bagi
penghidupannya.

Penduduk desa Singas telah dihimbau untuk memindahkan pemukiman mereka dari
bantaran sungai ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit sebagai bagian dari solusi ’top-
down’ bagi masalah banjir yang selalu mereka hadapi. Namun, tidak ada penduduk desa
yang bersedia pindah. Ada berbagai macam alasan mengapa mereka tidak mau pindah,
antara lain karena (i) sungai tersebut berharga bagi penghidupan mereka misalnya
sebagai tempat mencari ikan, pertanian, persediaan air dan tanah liat untuk membuat
bejana untuk memasak. (ii) mereka dekat dengan fasilitas umum (gedung-gedung
provinsi terletak di seberang sungai) dan (iii) mereka telah bermukim selama bertahun-
tahun dan mampu bertahan dari banjir-banjir terdahulu. Meskipun ada risiko tersebut,
masyarakat desa sepenuhnya sadar akan situasi yang mereka hadapi dan sangat proaktif
dalam menanggapi banjir agar keberlangsungan hidup mereka di tepi sungai tersebut
dapat terjamin.

Kearifan Lokal

Strategi utama pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh masyarakat Singas
dalam menangani masalah banjir dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori umum
yang mencakup metode pembangunan, hubungan sosial, perencanaan penggunaan lahan,
strategi pangan dan lingkungan. Dalam berbagai kasus strategi-strategi ini melekat dalam
budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari, sehingga tidak dipandang oleh masyarakat
sebagai strategi khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana. Situasi semacam itu
memang tidak aneh dalam sebuah masyarakat lokal, namun pada kasus Singas nampak
jelas bahwa masyarakat menganggap sungai pertama-tama dan terutama sebagai sumber
penghidupan dan menempatkan sungai sebagai ancaman di tempat kedua. Akibatnya,
strategi pengurangan risiko bencana masyarakat pribumi menyatu dalam kegiatan hidup
sehari-hari karena mereka bergulat tiap hari dengan sungai.

Metode Pembangunan

62
Budaya-budaya pedesaan memiliki jenis rumah tradisional mereka sendiri yang sesuai
dengan kondisi lingkungan setempat. Masyarakat Singas juga demikian. Mereka
menggunakan pengetahuan lingkungan mereka yang sangat dalam untuk mencari tempat
yang kering dan kokoh untuk membangun rumah mereka. Karena sadar akan
kemungkinan bahaya banjir, masyarakat ini membangun rumahnya di atas tiang
penyangga (panggung), yang secara bertahap telah diperpanjang setiap tahun untuk
mengakomodasi air yang meluap dan insiden banjir yang semakin sering terjadi. Mereka
juga membangun gundukan tanah yang tinggi di bawah rumah-rumah mereka untuk
membendung air sungai yang meluap. Lahan dibuka untuk membangun rumah-rumah di
tempat tersebut, kemudian digunakan sebagai parit untuk menimbun sampah di mana
nantinya sedikit demi sedikit sampah akan menggunung sampai terbentuk gundukan
besar. Gundukan ini kemudian ditutup dengan tanah dan ditanami dengan pohon-pohon
sebagai pengencang sebelum memulai pembangunan rumah (Gambar 3). Rumah-rumah
tersebut dibangun dengan menggunakan bahan-bahan kayu tradisional yang tidak hanya
mudah diangkut dan diperbaiki, namun juga murah dan mudah diakses. Rumah-rumah
dibangun pada musim kemarau untuk memberi waktu tiang-tiang penyangga agar dapat
tertancap dengan mantap di atas tanah, dan dengan demikian memperlambat proses
pembusukan. Bangunan rumah yang dibangun di atas tanah terdiri dari dapur yang
terbuat dari bahan-bahan kayu yang ringan dan mudah dilepas untuk mengurangi
kemungkinan hanyut dalam banjir.

Hubungan Sosial

Di masa lalu, jarang terjadi masyarakat yang mengalami stres akibat banjir atau bahaya
lingkungan lainnya, karena seringkali mereka tidak tergantung pada sumber daya mereka
sendiri.1 Meskipun ada konsekuensi dari masuknya masyarakat desa ke dalam ekonomi
global – termasuk dampak-dampak dari peningkatan jumlah penduduk, tingkat
kemiskinan, emigrasi dan bentuk-bentuk perdagangan yang lain selain bentuk-bentuk
tradisional seperti barter antar desa – Singas sangat tergantung pada sumber daya yang
mereka punyai. Jika di masa lalu perhatian lebih ditekankan pada lahan dan perencanaan
penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat, maka saat ini hal tersebut secara
bertahap menghilang seiring dengan munculnya kebun-kebun yang ditanami warga
secara sembarangan tanpa mengikuti perencanaan tradisional. Meski demikian, ketika
kebun mereka hancur diterjang banjir, seluruh anggota masyarakat bergotong-royong ikut
membantu menggali dan menanam tanaman yang baru.

Singas merupakan masyarakat yang sangat rukun. Mereka saling membantu pada saat
susah seperti pada kerusakan yang diakibatkan oleh kejadian banjir. Sumber daya dan
pengalaman dibagikan pada tingkat masyarakat, sehingga pada saat bencana semua
anggota masyarakat sadar akan rencana tindakan terbaik atau di mana mereka akan
berkumpul kembali jika perlu. Kerukunan masyarakat ini mungkin karena adanya
pemimpin yang berpengaruh dan aktif dalam menjamin terselenggaranya pertemuan
warga rutin untuk membahas hal-hal yang relevan dan cara-cara yang harus ditempuh
untuk maju (Gambar 4). Ada juga sikap positif yang kuat untuk menjamin

1
Campbell (1990).

63
keberlangsungan hidup warganya sendiri, karena kalaupun bantuan akan diterima dengan
penuh syukur, namun bantuan yang diharapkan mungkin tidak ada.

Perencanaan Penggunaan Lahan

Lokasi desa-desa dan perkampungan telah sering terkena dampak kerentanan bahaya.
Jika mungkin, masyarakat memilih tinggal di pemukiman yang berada di tempat tinggi
jauh dari serangan badai dan banjir, yang tidak rawan bahaya tanah longsor, dan di pulau-
pulau vulkanik yang tidak terjangkau oleh aliran lava dan di mana angin kencang tidak
akan meninggalkan timbunan abu atau hujan asam yang merusak hasil panen.2 Warga
masyarakat Singas yang menyadari adanya ancaman banjir memiliki sistem saluran air
yang digali mengelilingi kebun dan lahan mereka sehingga air banjir dialirkan menjauhi
tempat-tempat penting. Penggunaan lahan dan waktu penanaman direncanakan untuk
menghindari musim penghujan untuk memperkecil peluang kerusakan dan kehancuran
karena kebun ditanami sepanjang bantaran sungai dengan memanfaatkan tanah yang
paling subur. Terdapat juga lokasi aman yang ditandai untuk tempat warga masyarakat
mengungsi pada saat banjir besar terjadi.

Pepohonan, tanaman bunga dan tumbuh-tumbuhan ditanam secara teratur untuk


melindungi dan menstabilkan tanah, terutama yang ada di sekitar pemukiman warga.
Penanaman dan pemantauan wilayah sekitar yang cermat juga dilakukan untuk mencari
bahan-bahan kayu yang dapat dipakai. Misalnya, hanya pohon tertentu saja yang
ditebang, yaitu pohon-pohon yang paling kuat yang cocok untuk membangun dan pohon-
pohon yang tidak berdampak buruk pada stabilisasi tanah. Strategi ini memberi waktu
bagi pohon-pohon muda untuk tumbuh besar sambil memastikan ketersediaan bahan-
bahan bangunan ketika diperlukan pada saat banjir.

Strategi Pangan

Masyarakat pribumi pedesaan telah mengembangkan berbagai macam varietas panen


yang tahan bahaya, yang berkontribusi pada ketahanan masyarakat dalam masa-masa
sulit atau sewaktu bencana. Di antara hasil panen bencana desa Singas adalah pisang,
tanaman panen tangguh yang bertahan hidup di air luapan banjir. Warga desa Singas
membungkus pisang dengan daun agar terlindung dari incaran burung-burung. Untuk
penanaman ubi talas, saluran dibuat untuk mengeringkan tanah. Bambu digunakan untuk
menyimpan air dan untuk keperluan memasak. Tanaman khusus juga digunakan untuk
menampung air hujan sepanjang musim penghujan agar penduduk tidak minum air dari
sungai ketika banjir dan menjadi jatuh sakit karenanya. Menjelang musim hujan dan
potensi terjadinya banjir, makanan disimpan di bejana tanah liat sederhana untuk
memastikan bahwa makanan tersedia ketika warga terpaksa tidak bisa meninggalkan
rumah mereka. Makanan ini dapat bertahan sampai beberapa bulan dalam bejana tanah
liat tersebut dan masih dapat dimakan. Makanan dan benih tanaman juga dikeringkan dan
disimpan di bawah sinar matahari sampai mencapai jumlah yang cukup untuk dipakai
pada masa tanam tahun depan. Makanan tradisional di daerah tersebut juga digunakan
pada saat-saat kekurangan pangan, misalnya umbi dan talas ditanam di lereng
2
South Pacific Applied Geo-Science Commission (2004).

64
pegunungan sebagai tanaman selama masa bencana untuk berjaga-jaga apabila warga
desa harus mencari perlindungan sementara di atas bukit.

Banjir tidak memungkinkan warga mencari ikan di sungai karena air meluap dengan
cepat sehingga penduduk desa menggunakan dua danau pedalaman untuk persediaan ikan
mereka. Ibu-ibu kampung bekerja sama membentuk lingkaran yang besar untuk
menggiring ikan-ikan ke tengah danau kemudian menangkap ikan-ikan tersebut dengan
tangan. Di dalam keluarga masing-masing, ketika makanan langka sebagai akibat dari
bencana banjir, anggota keluarga yang sudah dewasa seringkali membatasi asupan makan
mereka agar anak-anak dapat makan lebih banyak. Para ibu sampai rela membuat ikat
pinggang yang terbuat dari kain atau kulit kayu yang diikatkan di sekeliling pinggang
mereka untuk mengurangi rasa sakit karena kelaparan.

Strategi Lingkungan

Karena warga masyarakat Singas tergantung pada lingkungan untuk mata pencaharian
mereka, penduduk desa sudah mengembangkan pengetahuan yang luas yang membuat
mereka mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya yang akan datang. Misalnya, jika
warga dewa mengetahui hujan yang lebat di atas bukit mereka mulai bersiap-siap akan
datangnya banjir dengan memberesi barang-barang milik mereka dan memastikan bahwa
persediaan makanan cukup banyak. ”Telik Sandi/intel” sering dikirim ke daerah hulu
untuk membaca perilaku sungai dan melaporkan kembali dengan mengirim pesan
berantai dari orang yang satu ke orang yang lainnya sehingga pesan dapat sampai ke desa
dengan cepat. Penanda juga digunakan untuk menentukan perubahan ketinggian air
sungai dan warga desa sendiri selalu dalam keadaan siaga dengan rencana matang siap
dilaksanakan untuk mengantisipasi bencana banjir yang mungkin terjadi. Di Papua
Nugini, tradisi budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk
legenda, visi dan cerita-cerita rakyat banyak jumlahnya dan warga masyarakat sangat
tergantung pada legenda, visi dan cerita ini sebagai panduan tentang apa yang harus
mereka lakukan jika bencana terjadi.

Pelajaran yang dapat dipetik

Praktik-praktik kearifan lokal yang digambarkan di atas dan diterapkan oleh masyarakat
desa Singas untuk mengurangi risiko bencana telah terbukti berhasil memperkecil risiko
yang dihadapi warganya dan sekaligus memudahkan mereka untuk terus memanfaatkan
sungai sebagai sumber penghidupan yang berharga. Kearifan lokal yang diterapkan oleh
warga desa Singas untuk mengurangi risiko bencana terus menerus diperkaya dalam
masyarakat tersebut. Dengan saling berbagi sumber daya dan pengalaman pada tingkat
masyarakat, jika banjir melanda, dipastikan semua warga desa akan mampu membantu
satu sama lain. Kerukunan warga masyarakat desa dan kerelaan untuk saling membantu
merupakan faktor mendasar yang kuat dibalik keberhasilan warga desa Singas dalam
mengurangi risiko bencana banjir. Lebih lanjut lagi, sikap dan kerukunan sosial ini telah
memungkinkan terjadinya penyebaran pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
dalam masyarakat melalui pertemuan umum dan berbagi pengalaman.

65
Pengalaman warga desa Singas sangat bertentangan dengan apa yang terjadi di banyak
masyarakat di Papua Nugini. Yang umum terjadi di Papua Nugini, terjadi sikap mudah
menyerah di antara warga setempat akibat kurangnya dukungan pemerintah, budaya
’turunan’ dan persepsi bahwa tingkat kerentanan tidak mungkin untuk ditangani. Dalam
kasus desa Singas, sementara pada taraf tertentu memang ada unsur sikap ‘kami tidak
dapat berbuat apa-apa’, tetapi warga desa bersikap proaktif dalam strategi mereka
menangani bahaya lingkungan. Yang diperlukan saat ini adalah perlunya pengalaman-
pengalaman warga desa Singas diketahui oleh masyarakat lain, para pembuat keputusan,
kantor-kantor pemerintahan (misalnya kantor penanggulangan bencana tingkat distrik)
dan lembaga swadaya masyarakat. Dengan mengakui keberhasilan masyarakat desa
Singas memudahkan warganya untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan
yang tepat untuk selanjutnya memanfaatkan kemampuan mereka dalam usaha
mengurangi risiko bencana. Selanjutnya, interaksi ini akan memudahkan terjadinya
penyebarluasan kearifan lokal dan memudahkan warga masyarakat lain untuk
mengidentifikasi pelajaran-pelajaran apa yang dipetik dan mengembangkan pengetahuan
pengurangan risiko bencana mereka sendiri.

Masyarakat desa sangat sadar akan situasi yang mereka hadapi, namun mereka merasa
yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menangani bahaya
tersebut. Solusi ’top down’ yang disarankan tidak mempertimbangkan gambaran besar
masalah maupun kebutuhan masyarakat, sehingga warga masyarakat menolaknya karena
mereka mendukung strategi mereka sendiri. Hal ini menegaskan kembali pentingnya
pengetahuan yang sudah ada mengenai kebencanaan dan menunjukkan perlunya rasa
memiliki pada tingkat lokal. Secara bertahap, disarankan bahwa masyarakat yang terkena
dampak bahaya lingkungan seharusnya menjadi pihak yang mengambil keputusan dan
mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan hal tersebut.3

Hal ini menyatakan bahwa cara pandang paternalistik masih sering dipaksakan dengan
tidak mendengarkan atau bahkan membungkam suara mereka yang lemah. Seperti yang
dapat dilihat dari contoh berikut ini, rasa memiliki perlu diatur dari ’bawah-ke-atas
(bottom-up)’ dan bukannya disusupkan dari ’atas-ke-bawah (top-down)’ oleh pihak-pihak
yang tidak memahami situasi masyarakat yang sebenarnya. Harus ada sistem pendukung
yang ada bersamaan dengan strategi masyarakat bilamana dukungan yang lebih banyak
diperlukan. Meskipun hal ini merupakan strategi yang cukup relevan dalam mengurangi
risiko bencana, proses-proses anthropogenik dan non-anthropogenik semakin
meningkatkan kemungkinan adanya efek kebalikan dari bahaya-bahaya lingkungan
terhadap masyarakat lokal.4 Masyarakat lokal seperti masyarakat Singas selanjutnya
dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap bahaya banjir melalui perpaduan kearifan
lokal dan pengetahuan ilmiah. Pengenalan, pencatatan, dan promosi mekanisme
penanganan bencana lokal dengan strategi ilmiah yang kompatibel secara budaya hanya
dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat lokal untuk mitigasi,
persiapan dan pemulihan dari bahaya-bahaya lingkungan.5 Jika itu tercapai, maka

3
Wisner et al. (2004).
4
Hay, 2002; Wilbanks dan Kates (1999).
5
Mercer et al. (2007).

66
praktik-praktik pengurangan risiko bencana dianggap telah berhasil mengatasi kerentanan
masyarakat lokal terhadap ancaman-ancaman lingkungan.

Gambar
Gambar 1: Menyeberangi Sungai Markham
Gambar 2: Lumpur yang ditinggalkan banjir
Gambar 3: Perumahan tradisional di desa Singas – foto ini menggambarkan rumah
panggung, dengan penyangga yang lebih tinggi digunakan lebih sering sekarang terlihat
dari rumah yang lebih baru yang ada di latar belakang foto ini dan permulaan dari
gundukan tanah yang dikelilingi oleh parit saluran air yang ada di halaman depan
sebelum bangunan rumah.
Gambar 4: Pertemuan warga membahas pengurangan risiko bencana

Daftar Pustaka

- Campbell, J.R., 1990. Disasters and development in historical context: tropical


cyclone response in the Banks Islands, Northern Vanuatu. International Journal of
Mass Emergencies and Disasters 8 (3), 401-424.
- Dekens, J., 2007. Local Knowledge for Disaster Preparedness: A Literature Review.
International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) Kathmandu,
Nepal.
- Hay, J.E., 2002. Integrating disaster risk management and adaptation to climate
variability and change: needs, benefits and approaches, from a South Pacific
perspective. United National Development Program Expert Group Meeting –
Integrating Disaster Reduction and Adaptation to Climate Change, Havana, Cuba.
- Mercer, J., Dominey-Howes, D., Kelman, I. dan Lloyd, K., 2007. The Potential for
combining indigenous and western knowledge in reducing vulnerability to
environmental hazards in small island developing states. Environmental Hazards 7
(4), 245-256.
- National Disaster Centre, 2005. Papua New Guinea National Disaster Risk Reduction
and Disaster Management Framework for Action 2005-2015. National Disaster
Centre Port Moresby, PNG.
- South Pacific Applied Geo-Science Commission, 2004. Implementing the Yokohama
strategy and plan for action: Pacific Islands Regional Progress Report (1994-2004).
South Pacific Applied Geo-Science Commission, Fiji.
- United Nations, 2004. PNG Map
(http://www.un.org/Depts/Cartographic/map/profile/papua.pdf). Diakses pada tanggal
29 Oktober 2007.
- United Nations International Strategy for Disaster Reduction, 2005. Hyogo
Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and
Communities to Disasters (http://www.unisdr.org/eng/hfa/docs/Hyogo-framework-
for-action-english.pdf). Diakses pada tanggal 08 Desember 2007.
- United Nations International Strategy for Disaster Reduction, 2007. Papua New
Guinea: Disaster Profile (http://www.unisdr.org/eng/country-inform/papua-new-
guinea-disaster.htm). Diakses pada tanggal 08 Desember 2007.

67
- Wilbanks, T.J. dan Kates, R.W., 1999. Global Change in local places: how scale
matters. Climatic Change 43, 601-628.
- Wisner, B., Blaikie, P., Cannon, T. dan Davis, I., 2004. At Risk: Natural Hazards,
People’s Vulnerability and Disasters, 2nd Ed. Routledge, London.

68
Kota Dagupan, Pangasinan, Filipina
Memadukan Kearifan Lokal dan Ilmiah ke dalam Sistem Peringatan Banjir Kota
Dagupan.
Lorna P. Victoria

Abstrak

Kanungkong adalah alat tradisional dari bambu yang sudah sejak dahulu digunakan untuk
memanggil warga masyarakat untuk berkumpul di kantor desa, dan memperingatkan
warga desa atau untuk memanggil anak-anak pulang dari bermain. Sistem peringatan dini
banjir yang dipasang di delapan desa di Kota Dagupan, Filipina, telah menghidupkan
kembali penggunaan kanungkong bersama dengan tiang pengukur penanda banjir di
lokasi-lokasi yang strategis di semua desa di Kota Dagupan. Kearifan lokal dipadukan
dengan pengetahuan ilmiah modern dan peralatan modern digunakan dalam upaya-upaya
pengurangan risiko bencana.

Latar Belakang

Delapan barangay (desa) yang rawan banjir di Kota Dagupan di Provinsi Pangasinan
sebelah barat laut Filipina adalah Mangin, Salisay, Tebeng, Bacayao Norte, Bacayao Sur,
Lasip Grande, Lasip Chico dan Pogo Grande, telah menerapkan penggunaan kanungkong
untuk menyampaikan pesan peringatan secara berantai ke tiap-tiap rumah di delapan desa
tersebut, terutama ke rumah-rumah yang terletak di sepanjang bantaran sungai. Desa-desa
ini memprioritaskan kegiatan-kegiatan kesiapan dan mitigasi banjir di bawah naungan
proyek yang bernama Program Mitigasi Bencana Hidrometerorologi di kota-kota kecil di
Asia (Program for Hydro-meteorological Disaster Mitigation in Secondary Cities in
Asia/PROMISE). Warga masyarakat mengadakan lokakarya untuk membahas sistem
peringatan diri dan melaksanakan latihan penanganan bencana untuk para warganya.

Kisah/Peristiwa

Kota Dagupan merupakan kota yang rawan terhadap banjir besar. Di tahun 2007, angin
puyuh dengan hujan muson melanda Luzon Utara dan Tengah di sepanjang bulan
Agustus dan November yang menyebabkan meluapnya sistem sungai di Kota Dagupan.
Peristiwa ini menguji efektivitas sistem peringatan dini yang berbasis pada kanungkong.
Karena Badan Koordinasi Bencana Barangay (Barangay Disaster Coordinating
Council/BDCC) memantau penanda banjir dan melaporkan hal ini kepada Pusat Operasi
Darurat Badan Koordinasi Bencana Kota (Emergency Operations Center of the City
Disaster Coordinating Council/CDCC), maka desa-desa tersebut sudah disiagakan untuk
mengantisipasi banjir besar yang akan melanda. Sistem tersebut berhasil memberi warga
cukup waktu untuk bersiap-siap dalam menanggapi kedatangan bencana.

Kearifan Lokal

Kanungkong atau kentongan merupakan peralatan komunikasi yang di masa lalu


digunakan untuk berbagai macam keperluan oleh masyarakat warga Kota Dagupan, yang

69
dekat dengan kota dan provinsi di Luzon Utara (Gambar 1a dan b). Kanungkong
dipergunakan untuk memanggil warga untuk berkumpul di balai desa, memperingatkan
warga akan adanya kejadian perampokan di malam hari, memanggil dukun bayi untuk
membantu persalinan ibu hamil yang siap melahirkan, dan memanggil anak-anak pulang
dari bermain. Dengan adanya cara komunikasi modern, penggunaan kanungkong menjadi
terlupakan.

Kanungkong berasal dari kata mangkanungkong yang bermakna harafiah ’menimbulkan


suara’. Kanungkong terbuat dari bambu yang jika dipukul akan menghasilkan suara kung,
kung, kung. Sistem peringatan dini tingkat desa menggunakan kanungkong sebagai
media komunikasi pembawa pesan berantai lokal. Untuk pemantauan banjir, dan sebagai
dasar untuk penyampaian pesan, tiang penanda atau penanda banjir telah diletakkan dan
dipantau di lokasi-lokasi yang strategis di desa-desa tersebut.

Saat ini, masyarakat telah terbiasa dengan kode peringatan yang dipakai di kota yang
sesuai dengan standar warna bencana internasional. Untuk memasukkan kanungkong ke
dalam sistem, persetujuan tentang ritme dan bunyi (misalnya jumlah pukulan
kanungkong pada interval waktu yang ditentukan) dibuat sesuai dengan tindakan khusus
yang dilakukan. Satu kanungkung di tiap 5 rumah menyampaikan peringatan berantai ke
rumah-rumah yang ada di sepanjang bantaran sungai. Tabel 1 menjelaskan kode-kode
peringatan.

Tongkat penanda telah dibangun pada titik-titik terendah di barangay (desa) untuk
menyesuaikan dengan peringatan siaga, berdasarkan pada informasi dari banjir-banjir
yang melanda desa-desa tersebut di masa lalu (Gambar 2a, b dan c). Titik nol tadinya
disarankan untuk distandarisasi oleh pemerintah kota namun saat ini masing-masing desa
memiliki penanda banjir sendiri-sendiri yang disetujui bersama yang diletakkan di
tempat-tempat strategis di desa. Pengukur menunjukkan sampai tingkat kritis mana para
warga harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah dan mengungsi ke pusat-pusat
evakuasi.

Tabel 1. Kode peringatan yang dipakai di Kota Dagupan

Warna Tingkat Siaga Sinyal Peringatan dengan


Kanungkong
Putih (Siaga I) Normal
Kuning (Siaga II) Siaga (peringatan bahaya) 5 kali pukulan kanungkung
dengan interval 20 menit
Oranye (Siaga III) Bersiap untuk evakuasi atau 10 pukulan dengan interval 20
menuju ke tempat menit
pengungsian (banjir besar
datang)
Merah Evakuasi penuh (evakuasi Non-stop (15 pukulan dengan
dari rumah-rumah menuju ke interval 10 menit)
tempat aman yang telah Non-stop (20 pukulan pada
ditentukan) Evakuasi paksa interval 5 menit)

70
Hijau Situasi kembali normal

Pemantauan dan penyampaian pesan berantai tentang tingkat banjir yang diperoleh dari
tongkat penanda dilakukan oleh tim peringatan dan komunikasi barangay dengan
menggunakan radio komunikasi (HT) ke pihak BDCC. Kanungkung kemudian
dibunyikan dan disampaikan secara berantai dari satu titik ke titik yang lain (setiap 5
rumah) (Gambar 3). Masing-masing BDCC memiliki hubungan radio dengan CDCC, dan
informasi disampaikan satu sama lain melalui radio yang ada di Pusat Operasi Darurat
(Posko Darurat).

Diagram alur dari sistem peringatan dini dijelaskan di Gambar 4.

Tanggap Darurat dan/atau Rencana Managemen Risiko Bencana merinci tanggungjawab


dari panitia dan personil CDCC dan BDCC dalam hubungannya dengan peringatan dan
evakuasi. Sebagai bagian dari rencana, sistem peringatan dini telah disusun melalui
serangkaian konsultasi, kunjungan studi dan lokakarya.

Penyiapan
Rencana
Tanggap Darurat Pemasangan Penanda Pemantauan Tingkat Air
Kota dan/atau Banjir (Tiang sungai oleh tim Peringatan
Rencana Badan penanda) dan Komunikasi
Koordinasi
Manajemen
Risiko Bencana
Penyampaian informasi
berantai ke BDCC dan
CDCC melalui radio VHF

- Tindakan diambil oleh BDCC dan CDCC;


- Tindakan yang dilakukan warga berdasarkan
pada tingkat kesiagaan

Gambar 4: Penyampaian informasi berantai ke warga desa dengan menggunakan


kanungkung.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Sistem peringatan banjir Kota Dagupan yang merupakan perpaduan antara kearifan lokal
dan pengetahuan ilmiah modern merupakan tanggapan efektif terhadap masalah klasik
banjir yang terjadi di kota tersebut. Dalam merumuskan sistem ada beberapa pelajaran
penting sebagai berikut:
1. Penggunaan kanungkong telah memobilisasi kapasitas lokal sambil menghidupkan
kembali dan melestarikan praktik-praktik lokal untuk digunakan kembali dalam
kesiapsiagaan bencana.
2. Melibatkan masyarakat dalam pengkajian risiko (misalnya pengkajian bahaya,
kerentanan dan kapasitas) dan merancang sistem peringatan dini sangat penting
dilakukan.
3. Pengujian sistem peringatan dan prosedur evakuasi penting dilakukan melalui
simulasi dan latihan praktis yang melibatkan semua anggota masyarakat.

71
4. Belajar dari praktik-praktik baik dengan mengunjungi warga masyarakat yang terlibat
dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Ini akan mendorong
warga masyarakat dan pemerintah untuk terus melanjutkan kerja keras mereka.
Kunjungan studi oleh pejabat setempat dan tokoh masyarakat ke proyek-proyek yang
sama menumbuhkan refleksi kritis tentang bagaimana meningkatkan kegiatan-
kegiatan yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi mereka.

Gambar 1a dan b. Kanungkong adalah sarana komunikasi yang digunakan dalam sistem
peringatan dini tingkat desa.
Gambar 2a dan b. Tiang penanda yang menunjukkan tingkat peringatan yang dipantau
oleh tim peringatan dan komunikasi.
Gambar 3. Badan Koordinasi Bencana tingkat Desa memberikan peringatan awal dengan
menggunakan kanungkung.
Gambar 4: Penyampaian informasi secara berantai kepada masyarakat dengan
menggunakan kanungkung.

72
Barangay Matanag, Kota Legazpi, Albay, Filipina
Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi
Mayon
Gerardine Cerdena

Abstrak

Tinggal di gunung tidak selalu berarti masyarakat yang tidak dapat berkembang dengan
lingkungan sekitarnya. Dalam kasus desa Matanag, penduduk desa tegar dalam
menantang bencana yang ditimbulkan oleh gunung berapi, tetapi masih menganggap
gunung berapi sebagai tempat tinggal yang nyaman. Kearifan lokal yang dimiliki
masyarakat tentang tanda-tanda peringatan dan bagaimana meramalkan letusan gunung
api berperan dalam upaya memperkecil risiko dan menangani bahaya yang ditimbulkan
oleh gunung berapi Mayon.

“Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, itu tandanya Mayon akan meletus.
Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi
selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang pertama-
tama mendengarnya,” Domingo Arias, penduduk desa Matanag.

Latar Belakang

Sebagai salah satu gunung berapi yang aktif di pulau Luzon, Filipina, Gunung Mayon
dianggap oleh beberapa orang sebagai gunung berapi yang berbentuk paling sempurna
karena kerucutnya yang sangat simetris (Gambar 1). Sebagai salah satu gunung berapi
yang berada dalam “Sabuk Gunung Api”, Mayon terletak di bibir Samudera Pasifik di
mana kegiatan vulkanik dan gempa sering terjadi. Gunung berapi itu terletak 15
kilometer ke arah barat laut Kota Legazpi, Albay, Filipina di wilayah Bicol.

Gunung Berapi Mayon merupakan gunung berapi basal-andesit yang terletak antara
lempengan Eurasian dan Filipina yang terbentuk melalui asap tebal dan guguran lava
yang memuntahkan abu selama 400 tahun terakhir (Gambar 2).

Lereng bagian atas dari gunung berapi tersebut terjal dan kasar, dengan sudut rata-rata
35-40 derajat, dan ditutup dengan kawah kecil. Lereng-lerengnya mengandung lapisan-
lapisan lava dan material vulkanik lainnya. Magma terbentuk ketika batuan meleleh dan
letusan biasanya terjadi ketika guguran lava seperti air panas menyembur keluar dari
rekahan panjang di kawah. Desa Matanag di Kota Legazpi adalah sebuah desa pertanian
yang didiami oleh 1.400 penduduk dan merupakan salah satu dari wilayah yang mengapit
lereng gunung berapi Mayon yang rawan terlanda lava. Daerah tersebut dinyatakan
sebagai zona berbahaya oleh ahli vulkanologi dari Institut Vulkanologi dan Seismologi
Filipina dengan menggunakan penginderaan jauh dan satelit.

Kisah/Peristiwa

73
Mayon tercatat telah meletus sebanyak 47 kali. Letusan yang paling dahsyat terjadi pada
tanggal 1 Februari 1814 yang memakan korban jiwa sebanyak 2.200 orang dan abu
vulkanik mengubur kota Cagsawa. Letusan Mayon terakhir yang dahsyat terjadi pada
tahun 1993 ketika lava pijar menelan 77 korban jiwa, kebanyakan para petani.

Letusan gunung berapi Mayon sering membuat orang takut kehilangan rumah dan sawah
mereka. Ditanya tentang dampak letusan Mayon, Bienvenido Belga Sr., Kepala Desa
Matanag menyatakan, ”An niyog tapos mga gulayon nagkakaaralang tapos
nagkakagaradan pag nagtutuga an Mayon. Su mga gapo nagdadalagasan nin mga
kalayo hali sa Mayon kaya minsan nagigipit kami sa negosyo pagmay eruption. – Kelapa
dan sayur mayur layu dan mati akibat letusan gunung Mayon. Batuan panas jatuh
berguguran dari gunung Mayon sehingga bisnis kami terganggu.” Kota tersebut sangat
tergantung pada hasil panenan kelapa dan padi sebagai sumber pendapatan maupun
sebagai makanan pokok. Terlebih lagi, lahar dingin yang membawa abu vulkanik serta
batuan besar yang meluncur turun dari gunung Mayon dapat membunuh ratusan jiwa dan
membawa lumpur yang sangat banyak sehingga dapat menimbun atap rumah.
Sebaliknya, letusan dapat juga dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena
penduduk tahu bahwa abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi dapat
memperkaya tanah, sehingga dapat menghasilkan panen yang lebih baik. Bahkan,
ancaman aktivitas gunung berapi yang meningkat dan letusan selama bertahun-tahun
tidak menyurutkan semangat para penduduk desa Matanag.

Kearifan Lokal

Ketika ditanya tentang kearifan lokal mereka yang berhubungan dengan letusan gunung
berapi Mayon, beberapa penduduk desa menyatakan: Dakulon an palatandaan na aram
mi tungkol sa pagtuga kang Mayon. – Ada banyak tanda-tanda peringatan menjelang
letusan.” Mereka menyebutkan bahwa jika sungai dan anak sungai menjadi kering, ini
menunjukkan tanda-tanda awal kapan Mayon akan memuntahkan lava yang mematikan.
”Pag ubas an tubig na talagang diretso sa pirang bulan, aram mi na ma tuga na an
Mayon. Tapos an lava an pighahaditan ming maray. – Jika air menjadi kering selama 8
bulan penuh, maka kita tahu bahwa Mayon akan segera meletus. Dan lava yang terbentuk
dari gunung berapi itulah satu-satunya yang kita takutkan.”

Warga desa juga menyebutkan tentang percikan yang berasal dari gunung berapi yang
dengan cepat menciptakan lembah berapi di antara rekahan-rekahan dan menandakan
terjadinya letusan gunung Mayon.

Selain dari itu, para petani setempat dapat mendengar suara gemuruh dan merasakan
gempa bumi yang tidak bisa dirasakan oleh penduduk yang tinggal jauh dari gunung.
Seperti dinyatakan oleh Domingo Arias, seorang polisi desa, ”Pag may naguusok na
kalayo hali sa Mayon, yan an sinales na matuga na. Minsan nahahadit kami, minsan dai
man. Sigeng tagog kang bulkan asin nakakadangong inot su mga para tanom ky maluang
daguldol. – Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, artinya Mayon akan
meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung
berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang

74
pertama-tama mendengarnya.” Tiang batu dipakai sebagai tanda untuk melihat apakah
angin mengandung abu.

Lebih dari itu, binatang seperti baboy-damo (babi hutan liar) dan ayam mengikuti indra
perasa elektromagnetiknya. Penduduk desa menyaksikan binatang-binatang ini melarikan
diri dari gunung berapi. Ketika binatang-binatang lari menuruni gunung Mayon, ini
merupakan pertanda bagi warga bahwa sudah saatnya mengungsi karena binatang-
binatang ini dapat merasakan suhu tinggi yang berasal dari gunung api.

Menurut salah satu warga, penglihatan gaib dan tahayul yang berhubungan dengan
Gunung api Mayon selalu menunjukkan kebenaran. Ditanya tentang apakah mereka
khawatir tentang kiamat yang semakin dekat yang disebabkan oleh gunung api ketika
mereka melihat dan merasakan tanda-tanda peringatan, mereka menjawab bahwa mereka
sudah terbiasa dengan situasi tersebut. ”Tiud na kami pagnagtutuga an Mayon, -Kami
sudah kebal dengan naiknya suhu Mayon.” Romeo Nantes, seorang petani kelapa dan
bapak tiga anak, mengatakan. ”Kami tidak akan mengungsi sekarang kecuali kalau situasi
sudah sangat gawat dan ada letusan yang besar,” Rosario Nantes, istri Romeo Nantes,
berkata sambil menjaga toko kecilnya. Itulah kenapa meskipun ada perintah evakuasi,
banyak warga desa yang tetap tinggal diam di sawah-sawah sekitar gunung api Mayon
untuk merawat sawah, kebun dan ternak sambil menjaga rumah dan harta benda milik
mereka.

Seorang penduduk Matanag yang sudah lama tinggal di sana, Geronimo Toledo,
mengatakan, ”Pag mauran, baha ang mas delikado pag natugna an Mayon. Pero pag
maray an oras wara man dapat haditan. – Jika Mayon meletus, banjir jika terjadi hujan
itulah yang lebih berbahaya. Namun jika cuaca baik, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan.”

Pengetahuan tentang tanda-tanda gunung api ketika memuntahkan gumpalan asap dan
abu yang tinggi berkontribusi terhadap pengurangan risiko bencana. Dengan mengikuti
kepercayaan ini, para penduduk setempat mengumpulkan tanda-tanda peringatan bahaya
dari ancaman di depan mata dan dengan demikian segera bersiap-siap menghadapinya.
Orang-orang ini biasanya bersyukur karena para tetua mereka mewariskan pengetahuan
ini kepada mereka.

”An mga gurang mi an nagturo samuya kang gabos na dapat ming maaraman. Maski aki
mi aram an mga sinales. – Para tetua kami yang mengajarkan apa yang perlu kami
pelajari. Bahkan anak-anak kami pun dapat membaca tanda-tanda bahaya.” Arias
menegaskan.

Ketika ditanya apakah mereka masih memperhatikan pengumuman yang berdasarkan


pada pertimbangan ilmiah, Belga, seorang penduduk desa lainnya menjawab: ”Dai kami
nagtutubod sa awtoridad ta sala sinda minsan. Masabi na matuga pero wara man
kaming napapansin na palatandaan o babala kaya dai kami mina hiro nangad hanggang
sigurado kami. Pero pag aram ming tama, ma hali man sana kami siyempre. – Kadang-
kadang kami tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh pihak berwenang.

75
Mereka mengatakan bahwa Mayon akan meletus, namun kami tidak melihat tanda-
tandanya sehingga kami memutuskan untuk tidak mengungsi jika kami tidak yakin sekali.
Namun, jika kami yakin Mayon akan meletus, tentu saja kami akan mengungsi.”

”Mga para tanom sana kadklan samo digdi pero aram mi kung ano an dapat hibuhan
and tubodan. Sa pagtuga kang Mayon, sadiri ming kahiruan an kaipuhan. Aram mi yan,
kaito pa. – Banyak di antara kami yang hanya petani namun kami tahu apa yang harus
dilakukan dan apa yang harus kami percayai. Tentang letusan gunung Mayon, kami
hanya bergantung pada naluri kami sendiri. Kami sudah tahu hal itu sejak lama,” kata
Belga dengan tegas. Dengan kearifan lokal yang mereka miliki, para penduduk desa tahu
kapan harus menghindari bahaya ketika letusan besar terjadi.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Para aparat pemerintahan sering tidak kuasa membujuk penduduk desa untuk
meninggalkan zona bahaya meskipun ada kerentanan alam dan bencana. Para penduduk
tidak mendengarkan para petugas yang berwenang, ahli geologi dan vukanologi, tetapi
bergantung pada bimbingan penasehat spiritual dan kepercayaan gaib. Penolakan warga
untuk mengungsi ketika gunung berapi memuntahkan lava panas dan mengandung
magma yang bergolak murka hanya karena pendirian yang keras kepala kadang-kadang
sama saja dengan kekonyolan.

Meskipun demikian, tidak semua budaya memandang letusan gunung api sebagai sesuatu
yang menghancurkan. Bahkan sebaliknya, banyak warga yang tinggal dekat gunung api
Mayon memandang letusan sebagai keadaan yang menguntungkan untuk terjadinya
penciptaan dan evolusi. Tinggal dekat dengan gunung api tidak berarti mereka tidak
dapat sukses hidup dengan alam sekitarnya. Warga masyarakat setempat tahu bahwa
gunung api tidak memuntahkan sesuatu tanpa alasan. Gunung api kadang dianggap
sebagai entitas penting yang melampiaskan dendam dan ketidakadilan pada dunia, dan
membawa keadilan bagi ketidakpastian dan kekhilafan umat manusia.

Cara pandang yang berbeda tentang letusan gunung api menghasilkan adanya salah
pengertian antara ilmuwan dan warga masyarakat yang terkena dampak langsung.
Pandangan-pandangan ini mengherankan masyarakat ilmiah namun pandangan ini tidak
bisa begitu saja dihilangkan. Sejujurnya, kearifan lokal yang telah diwariskan secara
turun-temurun membantu mereka memperkecil risiko, menghadapi bahaya yang
ditimbulkan oleh alam dan belajar bagaimana bertahan hidup. Tingkat risiko yang akan
dihadapi orang karena kearifan lokal mereka mungkin tidak mudah untuk dipercaya.
Namun cerita dan ritual yang tidak masuk akal ini juga membantu mereka menghadapi
bencana. Para ahli ilmu sosial mengamati bahwa hal ini bukan lagi merupakan pandangan
naif tentang alam. Takhayul dan mitos masih menancap dengan kuat dalam kepercayaan
masyarakat. Kepercayaan ini membuat mereka mempunyai pengharapan dan tidak mudah
menyerah dalam menghadapi bahaya.

Para ilmuwan yang menggunakan teknologi mutakhir dapat menjembatani kesenjangan


antara masyarakat yang berkeras pada pendiriannya agar memanfaatkan hasil yang

76
mereka ciptakan. Namun, mereka tidak boleh meremehkan kearifan lokal yang dimiliki
oleh masyarakat dan harus memahami bagaimana karya mereka akan diterima oleh
masyarakat yang sudah sangat akrab mengalami dan menghadapi letusan gunung berapi.

Gambar 1: Gunung api Mayon dengan kerucut simetris sempurna. Foto: Jenny Exconde
Gambar 2: Awan panas yang menuruni lereng puncak Gunung api Mayon.

77
Kaum Ivatan di Kepulauan Batan, Filipina
Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan
Batan, Filipina.
Noralene Uy dan Rajib Shaw

Disarikan dan diambil dari Hornedo, Florentino H, 2000. Menjinakkan Angin: Sejarah
Etno-Budaya tentang Kaum Ivatan di Kepulauan Batan

Abstrak

Kaum Ivatan yang tinggal di Kepulauan Batan telah memiliki sejarah panjang dalam
berjuang dan menyesuaikan diri terhadap badai, lautan yang ganas dan sumber daya yang
minim. Meskipun menghadapi kesulitan seperti ini, kearifan lokal yang menyatu dalam
teknik pembuatan rumah tradisional dan perahu, serta dinamika sosialnya terbukti
mampu bertahan di tengah bencana. Budaya yang luar biasa ini menunjukkan adanya
hubungan yang sangat erat antara masyarakat Ivatan dan lingkungannya sebagai sarana
bertahan hidup dalam menghadapi bermacam-macam tekanan lingkungan alam mereka.

Maka datanglah badai yang menghantamnya. Kemudian datanglah guntur bergemuruh,


kemudian datanglah petir menyambar-nyambar, dan kemudian turunlah hujan dengan
lebatnya, namun petir adalah oborku, guntur memukul irama langkahku, dan hujan
menjadi tongkat jalanku.
Syair Cerita Rakyat Ivatan

Latar Belakang

Kepulauan Batan merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau yang terletak di bagian
paling utara negara Filipina. Terletak antara 121o 45’ sampai 122o 15’ Bujur Timur dan
pada 20o 15’ Lintang Utara, pulau tersebut lebih dekat dengan Taiwan (hanya 218 km)
daripada dengan daratan Luzon. Batan merupakan provinsi terkecil di Filipina dalam hal
jumlah penduduk (15.656 di tahun 2000) dan luas wilayah (hanya 230 m2). Batan terdiri
dari 10 pulau-pulau kecil dan hanya tiga di antaranya yang dihuni, yaitu Pulau Batan,
Sabtang dan Itbayat. Pulau itu dikelilingi oleh terusan Balintang di bagian selatan.

Iklim dan topografi di Batan berbeda dari provinsi lainnya di Filipina. Cuacanya agak
sejuk dan berangin. Kepulauan Batan memiliki suhu yang agak sedang yang dapat turun
sampai 7o C. Provinsi itu selalu dihempas badai, hujan dan topan. Musim hujan dan
musim kemarau tidak terlalu berat, namun selalu hujan minimal 8 hari dan maksimal 21
hari dalam sebulan. Kepulauan tersebut juga memiliki bentang alam yang sangat unik.
Tebing yang curam, bukit yang melandai, lembah yang dalam, dataran tinggi yang naik
turun serta pantai-pantai yang dibatasi oleh batuan besar menjadi ciri alam di kepulauan
itu. Sedikit banyak, provinsi ini mengingatkan kita pada Irlandia atau Selandia Baru.

Masyarakat yang mendiami kepulauan Batan disebut kaum Ivatan. Kurang lebih 75%
penduduk Ivatan adalah petani dan nelayan. Bawang putih dan ternak adalah sumber
pendapatan panen utama namun ada pula hasil bumi lain seperti beras, jagung dan umbi-

78
umbian. Karena desa-desa dan kota-kota di kepulauan tersebut terletak di sepanjang garis
pantai, kondisi alamnya cocok untuk mencari ikan. Budaya Ivatan secara keseluruhan
dibangun atas dasar swa-sembada karena letaknya yang terisolir dari kebudayaan lain.

Kisah/Peristiwa

Angin merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kaum Ivatan dan telah
ikut membentuk gaya hidup masyarakat Ivatan; terutama angin yang paling menakutkan.
Anin, atau angin puyuh, adalah angin yang paling sering terjadi di kepulauan Batan
karena kepulauan tersebut terletak di sepanjang sabuk angin puyuh. Rata-rata 20 angin
topan menyerang Filipina setiap tahun, dengan 8 di antaranya melewati Kepulauan Batan
dalam perjalanan dari Filipina selatan menuju ke arah barat laut.

Setiap warga Ivatan memiliki cerita sendiri-sendiri tentang Topan. Pada tahun 1905 angin
yang dahsyat menghempaskan ternak sampai mati. Pada tahun 1918, perahu nelayan
tersapu dari Annam, sebuah daerah yang sekarang letaknya di sebelah selatan Vietnam.
Pada tahun 1921, angin besar merontokkan atap gereja katedral dan membengkokkan
menara tanpa kabel. Pada tahun 1952, seorang warga nekat mengejar atap yang terbuat
dari seng yang diterbangkan angin dan akhirnya berhasil menangkapnya sampai gedung
balai kota. Sayangnya, seng itu telah berubah bentuk menjadi bola yang menggelinding
ke sana ke mari seperti rumput kering yang dipermainkan angin. Pada tahun 1987, kapal
tanker Angkatan Laut Filipina kandas di Basco, ibukota provinsi, dan sebuah bangunan
sekolah roboh terbawa angin di Mahatao, salah satu kota di Pulau Batan. Beberapa waktu
yang lalu, seorang nelayan terapung-apung menuju ke Taiwan. Terakhir, gubernur
provinsi itu menceritakan beberapa malam sebelumnya ketika ada badai, sebuah keluarga
sedang berkumpul menunggu badai datang. Atap rumah mereka jebol dan seekor sapi
jatuh menimpa rumah mereka. Paginya, mereka berpesta daging sapi.1

Kearifan Lokal

Arsitektur, teknik pembuatan perahu, pertanian dan lembaga sosial masyarakat Ivatan
telah disesuaikan dengan cuaca yang keras dan berubah-ubah. Rumah tradisional kaum
Ivatan dibangun dengan tembok yang tebal yang terbuat dari batu dan gamping dan diberi
atap lapisan tebal rumput cogon (sejenis ilalang yang tinggi yang hanya ada di Filipina)
untuk menahan terjangan topan yang ganas. Perahu yang lebih kokoh yang dinamakan
paluwas berfungsi sebagai moda transportasi utama dari satu pulau ke pulau lainnya.
Masyarakat menanami bagian tepi ladang dengan pohon-pohon yang dapat memecah
kemurkaan angin sehingga tanaman yang berakar dapat tumbuh. Koperasi Ivatan dan
lembaga bantuan sosial memperkuat ikatan antar anggota masyarakat. Rumah tradisional,
perahu air dan dinamika sosial masyarakat kaum Ivatan akan dijelaskan secara terinci
pada bagian berikut ini.

Rumah Tradisional

1
Feleo (2006)

79
Evolusi dari apa yang disebut rumah tradisional kaum Ivatan adalah cerita turun-temurun
tentang perjuangan masyarakat dalam mempertahankan diri dari segala macam cuaca.
Cerita itu juga memuat gambaran tentang adaptasi, asimilasi dan penggunaan kreatif dari
bahan-bahan setempat yang tersedia di alam.

Di Filipina, masyarakat yang memiliki arsitektur rumah tradisional yang terbuat dari batu
hanyalah di Kepulauan Batan (Gambar 1). Rumah masyarakat lain kebanyakan terbuat
dari bahan-bahan khas daerah tropis semi-permanen (misalnya kayu, bambu dan atap
daun nipah) yang secara luas dipakai sebagai atap di seluruh pelosok negeri. Sejak
berabad-abad yang lalu, kaum Ivatan telah tinggal di tempat tinggal batu tradisional
untuk melindungi diri dari alam, dengan menggunakan batu untuk mempertahankan diri
dari angin dan tekanan curah hujan muson. Sebuah rumah Ivatan dibangun dengan
dinding batu gamping dengan tebal sekitar 2-4 kaki dan sebagai atapnya ditumpul
berlapis-lapis rumput cogon dan alang-alang. Struktur ini cukup kokoh untuk menahan
serangan angin puyuh yang menerjang kepulauan. Jendela dan pintu dibuat sangat kecil
dan sempit. Daun jendela terbuat dari aneb (daun pintu) kayu yang sangat tebal yang
diengselkan ke kusen pintu dengan yembra y machu (engsel) yang tebal pula dan dikunci
dari arah dalam dengan panahtah (palang kayu). Hanya tiga dinding rumah yang
memiliki jendela sedangkan dinding yang tidak memiliki jendela menghadap ke arah di
mana angin biasa bertiup paling kuat. Suhu dalam ruangan dapat disesuaikan agar cukup
sejuk selama musim panas dan hangat sepanjang musim badai dingin.

Kebanyakan rumah-rumah Ivatan memiliki dua unit yang terpisah, yaitu rakuh (ruang
keluarga) dan kusina (dapur). Kusina yang merupakan bagian paling penting di rumah,
dibangun mengelilingi kompor besar menyerupai api unggun. Bangunan ini
melambangkan kehangatan, keamanan dan sumber kesejahteraan komunal. Kaum Ivatan
tahu kapan saatnya mengisi dapur dengan persediaan ketika daun pohon aruyo telah
tumbuh sangat panjang dan lembut. Ini merupakan pertanda bahwa angin puyuh akan
menerjang mereka dalam hitungan hari. Ketika angin puyuh datang, seluruh anggota
keluarga tinggal di dalam rumah.2

Tata letak pemukiman juga menyesuaikan dengan keadaan alam. Pemukiman di desa-
desa tersebut kebanyakan berupa rumah-rumah batu yang beratap rendah dan bertembok
tebal ditutup dengan atap jerami tebal dan dibangun berhimpitan dalam kelompok-
kelompok untuk melindungi rumah-rumah sesama warga dari sapuan angin puyuh yang
ganas. Jalan-jalan yang memisahkan rumah-rumah tersebut dibuat lurus dan sempit,
kadang-kadang begitu sempitnya sehingga hampir tidak cukup untuk lewat kendaraan.3

Perahu air yang unik dan pengetahuan tentang laut

Kaum Ivatan adalah pelaut dan pembuat kapal. Pembuatan kapal adalah tradisi dan teknik
perahu air telah diketahui selama berabad-abad dengan tidak ada perubahan teknologi
sampai pertengahan abad 20. Teknik yang unik ini adalah hasil dari usaha untuk
menyempurnakan perahu air agar dapat mengurangi risiko hilangnya jiwa di laut karena

2
Feleo (2006)
3
Villalon (2000).

80
adanya badai yang sering terjadi terutama selama musim angin badai. Perahu air
tradisional Ivatan disebut dengan tataya, chinarem, chinedkeran dan paluwa. Paluwa
adalah jenis perahu air yang paling umum dijumpai. Karena navigasi antar pulau masih
sulit karena arus air yang kuat cenderung tidak dapat diduga, bentuk paluwa tidak sama
dengan banca bergandung khas Asia Tenggara (perahu motor). Paluwa adalah perahu
kayu dengan dasar bundar yang terlempar dan bergulung bersama dengan gelombang dan
meluncur dalam ombak laut yang dahsyat. Sekarang ini, paluwa yang digunakan untuk
transportasi mempertahankan bentuk tradisionalnya tetapi telah dilengkapi dengan motor.
(gambar 2).

Sebagai pelaut yang terdidik, Ivatan membaca wajah laut. Mereka tahu kecepatan arus
hanya dengan melihat tekstur dan irama ombak. Mereka mengamati waktu dalam sehari
dan fase bulan untuk meramalkan pasang surut dan pasang naik. Ketika menyeberangi
selat, mereka menandai kemajuan perjalanan mereka dengan muncul atau menghilangnya
pepohonan di pulau yang mereka lewati. Dengan menggunakan arah dan suhu udara,
mereka meramalkan watak lautan. Idaud (angin utara) biasanya kasar dan avayat (angin
barat) biasanya tidak tentu, sehingga laut bisa menjadi sangat bergolak. Pangadiran
(angin timur) dan sumla (angin selatan) cenderung lebih lembut. Pengetahuan yang luar
biasa tentang lautan ini mencegah warga masyarakat, terutama para nelayan, untuk
berkelana jauh ke tengah laut ketika kondisi cuaca sedang buruk dan dengan demikian
memperkecil kecelakaan laut yang mungkin terjadi.

Dinamika Sosial Ivatan

Keterasingan Batan telah menyebabkan masyarakat kaum Ivatan menjadi masyarakat


yang sangat kental satu sama lain yang terbiasa dengan kerasnya hidup dan jauh dari
kemewahan yang dianggap normal bagi orang lain. Bayanihan4 merupakan contoh yang
jelas. Ketika alam memporakporandakan kepulauan mereka, warga Ivatan tetap saling
berhubungan dan membantu satu sama lain, seperti gotong royong memperbaiki rumah
tetangga, membersihkan kampung, atau memanen hasil bumi.5

Untuk memastikan adanya kesempatan yang lebih besar dalam memenangkan


perlombaan dengan alam, warga Ivatan telah menciptakan berbagai macam bentuk
koperasi buruh yang berdasarkan pada satu prinsip utama: ”Anda tidak perlu bekerja hari
ini, jika yang Anda investasikan pada saudara yang membutuhkan hari ini, maka akan
dikembalikan pada Anda ketika Anda membutuhkannya di masa yang akan datang”. Ini
merupakan kode beroperasinya kelompok kerja tetap maupun musiman semacam
kayvayvanan, payuhwan, kapaychahwan, dan kapanidungan. Koperasi mandiri
masyarakat yang disebut yaru di mana setiap rumah tangga mengirimkan setidaknya satu
wakil yang sehat secara jasmani untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, sangat
terbukti berperan penting pada saat bencana seperti angin badai.

Pola pendidikan yang menularkan kearifan lokal turun temurun, terutama mengenai
pembangunan rumah tradisional dan pembuatan perahu air, pada dasarnya dilakukan
dengan magang dan pengamatan partisipatif. Ketrampilan bagi pembangunan rumah
dengan cara tradisional tidak diajarkan di sekolah namun dipelajari dari praktik dan

81
magang kepada para veteran pembangun rumah di masyarakat. Hal yang sama juga
berlaku pada pembangunan perahu air Ivatan.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Terlepas dari kaum Ivatan, tidak ada budaya satu pun di Filipina yang dengan gemilang
berhasil menjinakkan kemarahan angin musiman. Budaya Ivatan merupakan produk dari
sejarah panjang perjuangan dan penyesuaian diri dengan angin badai, laut yang ganas dan
sumber daya yang terbatas. Hal ini mencontohkan hubungan yang selaras antara
masyarakat dan lingkungannya.6

Beberapa pelajaran dapat dipetik dan kesimpulan dapat diambil dari kasus kaum Ivatan.

1. Khasanah kearifan lokal yang kaya tentang masyarakat kaum Ivatan yang
memanfaatkan sumber daya setempat dan dengan demikian sangat murah karena
hanya memanfaatkan keterampilan dan materi yang tersedia di alam sekitar.
2. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan alam, kelompok masyarakat yang
tinggal di kepulauan yang kecil dan terasing mencapai swasembada dengan
menggunakan kearifan lokal mereka.
3. Merupakan kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum Ivatan untuk saling
membantu. Pada saat bencana, lembaga-lembaga sosial yang ada membuat upaya-
upaya komunitas yang terorganisir dan terpadu menjadi mudah.
4. Kaalamang Bayan (kearifan masyarakat), cara hidup, metode melakukan sesuatu, dan
kepercayaan bahwa semua berdasarkan pada kearifan lokal dan kebiasaan setempat
merupakan ajaran penting dari budaya Ivatan. Budaya tradisional ini telah sangat
membantu masyarakat Ivatan dalam berjuang mempertahankan hidup selama
berabad-abad. Meskipun demikian, sejarah dan situasi sekarang menunjukkan bahwa
memang budaya tradisional dapat menjamin keberlangsungan hidup, tetapi tidak lebih
dari itu, karena nyatanya tingkat kemiskinan di Batan tidak pernah kunjung turun.
Ada kebutuhan untuk melaksanakan program pembangunan yang bermakna di Batan
yang mengakui keunikan budaya setempat dan menyediakan dukungan bagi kondisi
yang ada, yaitu sumber daya yang terbatas dan kondisi cuaca yang sangat buruk.
5. Pada umumnya, kearifan lokal masyarakat kaum Ivatan dianggap sebagai primitif dan
sering tidak direkomendasikan atau tidak dianggap penting. Misalnya, gedung
sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan kearifan lokal. Proyek menjadi
percobaan yang sia-sia karena tidak ada bangunan yang tersisa setelah angin badai
menyapu desa. Memang penting untuk mengakui nilai-nilai dari kearifan lokal,
terutama yang sudah terbukti selama berabad-abad dan efektif, meskipun sudah ada
teknologi modern.

Daftar Pustaka
- Cafe Ivatan. Batan: A Historical and Descriptive Profile of the Ivatans.
http://uproar.fortunecity.com/sports/490/Batan/Batanestoday.htm. Diakses pada
tanggal 6 Maret 2008.

82
- Carballo, Bibsy M. Batan on the Rise.
http;//www.batanesonline.com/Features/Batan_On_The_Rise.htm. Diakses tanggal 6
Maret 2008.
- Datar, Francisco A., 2002. The Batan Islands. http://www.ncca.gove.ph/about-
culture-and -arts/articles-on-c-n-a/article.php?igm=4&i=226. Diakses tanggal 29 Mei
2008.
- Feleo, Anita. Batan: Another World, 2006.
http;//www.livinginthephilippines.com/philculture/Philippine_articles/batanes.html.
Diakses tanggal 6 Maret 2008.
- Hornedo, Florentino H., 2000. Taming the Wind: Ethno-Cultural History on the
Ivatan of the Batan Isles. UST Publishing House, Manila, Philippines.
- Ignacio, Jose F. Challenges in Preserving the Heritage Houses of Batan, Philippines.
http;//rizal.lib.admu.edu.ph/conf2005/conf/ARCH.%20JOSE%20IGNACIO%20PAP
ER%20FOR%20ATENEO.pdf. Diakses tanggal 6 Maret 2008.
- Lainez, Aileen. Batan: Sea and Storm Shape the Islands.
http;//www.seasite.niu.edu/Tagalog/Tagalog_Default_files/Philippine_Culture/Regio
nal%20Cultures/northern_luzon_cultures.htm. Diakses tanggal 6 Maret 2008.
- Navarro, Celerina M. Something Different Up North.
http://www.batanesonline.com/Features/UpNorth.htm/ Diakses tanggal 6 Maret 2008.
- Villalon, Augusto F, 2000. Batan: Majestic Harmony between People and Nature.
Bandillo Batan. http://www.batanesonline.com/Features?Majestic.htm. Diakses
tanggal 6 Maret 2008.

83
Provinsi Barat, Kepulauan Solomon
Kearifan Lokal Menyelamatkan Banyak Jiwa dalam Tsunami Kepulauan Solomon
tahun 2007
Brian G. McAdoo, Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore

Abstrak

Pada tanggal 2 April 2007, sebuah gempa bumi berkekuatan 8,1 skala Richter dan disusul
tsunami menerjang kepulauan Solomon dan menelan 52 korban jiwa. Jumlah tersebut
kemungkinan akan bertambah banyak jika para penduduk yang tinggal di tepi pantai
tidak mengambil tindakan yang tepat. Walau tinggal di daerah-daerah dengan tingkat
kerusakan serupa, jumlah penduduk pendatang yang meninggal jauh lebih tinggi daripada
warga setempat, karena para pendatang tidak mengenali tanda-tanda kedatangan tsunami.
Baik penduduk lokal maupun pendatang hanya memiliki waktu singkat untuk bertindak
karena desa mereka letaknya sangat dekat dengan pusat gempa. Meskipun sistem
peringatan dini berbasis pelampung sangat diperlukan dalam mitigasi dampak tsunami
antar samudera yang menerjang garis pantai berjam-jam setelah gempa, sistem tersebut
terbatas pada wilayah yang dekat dengan pusat gempa, terutama wilayah-wilayah yang
sarana dan prasarananya sudah memadai. Rencana mitigasi tsunami yang ditujukan untuk
melatih penduduk setempat harus mempertimbangkan tidak hanya lingkungan fisik
wilayah tersebut, tetapi juga lingkungan masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam
tingkat ekonomi dan budaya, serta pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat.

Latar Belakang

Antara tahun 1955 dan awal tahun 1960-an, demografi etnis Provinsi Barat berubah
ketika kelompok etnis Gilbertese bermigrasi dari tempat tinggal asal mereka di Kiribati,
sebuah Negara yang terletak di Samudera Pasifik barat daya di kawasan karang-karang
atol yang jauh dari sumber gempa aktif. Karena menipisnya sumber daya dan kenaikan
jumlah penduduk di Kiribati, para warga mendatangi wilayah Provinsi Barat sebagai
bagian dari rencana pemukiman kembali oleh pemerintah Kolonial Inggris.1 Menurut
sensus pemerintah Pulau Solomon tahun 2002, penduduk Gilbertese secara turun-
temurun merupakan penghuni karang atol yang sangat tergantung pada sumber daya laut,
sehingga mayoritas pemukiman penduduknya berada di dekat daerah laguna. Sejak
orang-orang Gilbertese pindah ke daerah tersebut mereka belum pernah mengalami
gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.2

Kisah/Peristiwa

Pada tanggal 2 April 2007 pukul 7:39 pagi waktu setempat, sebuah gempa dengan skala
8,1 Richter menggoncang Provinsi Barat Kepulauan Solomon.3 Gempa tersebut

1
Matthew (1996)
2
Frits dan Kalligeris (2008) melaporkan keterangan saksi mata tentang adanya tsunami kecil di Ranongga
yang ditimbulkan oleh gempa lokal berskala 7,2 Richter pada tahun 1959, dan di Honiara di Guadalcanal
pada tahun 1952 yang kemungkinan berasal dari gempa yang terjadi jauh di Kachatka di Pasifik Barat laut.
3
USGS (2007)

84
menyebabkan goncangan hebat (cukup hebat sampai banyak orang tidak mampu berdiri
tegak) yang berlangsung lebih dari satu menit, memporak-porandakan bangunan dan
mengoyak koloni terumbu karang,4 sementara pada saat yang sama memperingatkan
warga akan potensi terjadinya tsunami. Bangunan di wilayah tersebut rusak parah dan
banyak korban luka karena kejatuhan reruntuhan bangunan dan tersiram air mendidih
dari kompor.5 Gempa juga memicu lebih dari 1.000 tanah longsor di pulau vulkanik yang
terjal di Ranongga – satu gempa terjadi di desa Mondo menelan dua korban jiwa
manusia.6 Goncangan hebat dan kenaikan seismik juga menghancurkan terumbu karang
yang ringkih di laguna, yang akan membawa dampak lama bagi pemulihan perikanan,
sektor yang menjadi andalan suku Melanesia pribumi dan pendatang Gilbertese.

Segera sesudah goncangan berhenti, menurut saksi mata, air meluap dari karang laguna
yang dangkal, memperlihatkan dasar laut. Tsunami datang antara 3-10 menit setelah
goncangan berhenti. Bukti dari sana-sini yang didukung oleh pengamatan geologis
memperlihatkan ada dua atau tiga gelombang yang saling bersusulan dengan kekuatan
rendah, yang naik dengan cepat dan bukan gelombang pasang yang bergolak liar.7 Koloni
terumbu karang yang tidak begitu padat dengan permukaan luas yang dasarnya telah
dikoyak gempa bergeser ke dekat posisi asal tumbuhnya dan akan berpindah jika diseret
arus yang sangat kuat. Tsunami menyeret kendaraan dan rumah, menghempaskannya ke
pedalaman dan menjatuhkannya dengan sedikit kerusakan – gelombang pasang yang kuat
cenderung menggulingkan kendaraan dan merobohkan bangunan. Tsunami kali ini
menelan korban jiwa sebanyak 50-52 orang. Gambar 1 menjelaskan distribusi geografis
ketinggian air ketika naik dalam hubungannya secara spasial dengan jumlah korban jiwa.

Gambar 1. Distribusi ketinggian air naik (run-up heights) tsunami Kepulauan Solomon
tanggal 2 April 2007 yang secara spasial berhubungan dengan jumlah korban jiwa. Desa
yang ada di peta adalah desa-desa yang rusak parah, dan desa-desa yang dicetak tebal
adalah yang menderita korban jiwa. Semakin besar tsunami, jumlah korban jiwa juga
cenderung lebih besar, tetapi kebanyakan korban jiwa ini terjadi pada penduduk
pendatang yang minoritas (Dikutip dari McAdoo dkk., di harian Natural Hazards).

Kearifan Lokal

Survei geologis menemukan bahwa tsunami yang menerjang daratan pada ketinggian
yang sama di lingkungan fisik yang sama di wilayah dengan demografi yang berbeda
menghasilkan pola kematian yang tidak konsisten yang tidak dapat dijelaskan oleh
bahaya fisik semata. Pendatang Gilbertese meninggal dengan tingkat yang tidak sepadan
dibandingkan dengan penduduk Melanesia pribumi.8 Sementara desa pendatang
cenderung memiliki jumlah penduduk yang lebih tinggi, tindakan mereka menghadapi
gempa yaitu menyelidiki laguna yang tiba-tiba habis airnya, menunjukkan kurangnya
pemahaman tentang sifat tsunami. Masing-masing desa memiliki tebing

4
McAdoo et al. (2008)
5
Fritz dan Kalligeris
6
McAdoo et al. (2008)
7
McAdoo et al. (2008)
8
McAdoo dkk (di harian)

85
karang/penyangga laguna yang bagus, dan salah satu dari desa pendatang yang terkena
dampak (New Manra) bahkan memiliki rumpun bakau tambahan yang tidak dimiliki oleh
desa pribumi. Bukti ini menegaskan bahwa faktor utama yang menyumbang pada tingkat
kematian yang tinggi adalah tindakan yang tepat berdasarkan pada kebiasaan warga yang
tinggal di lengkungan pulau aktif dekat dengan zona penunjaman (sukduksi).

Masyarakat desa pendatang Titiana jauhnya hanya 3 kilometer ke arah timur Pailongge di
pantai selatan Pulau Ghizo yang terkena hantaman tsunami terberat. Laguna yang lebar
(100-400 meter) terletak pada bagian depan tebing karang, seperti Pailongge, dan
memantulkan sebagian energi ombak kembali ke laut.9 Menurut mereka yang selamat,
ketika goncangan berhenti dan air laut menyusut dari laguna, anak-anak yang penasaran
berlarian dari desa menuju laguna untuk menyelidiki dasar laut yang tersibak. Di desa-
desa Gilbertese di New Manra, Titiana dan Nusa Mbaruku, sebanyak 67,7% penduduk
yang meninggal karena tsunami adalah anak-anak. Di Titiana saja, 8 dari 13 orang yang
meninggal adalah anak-anak yang belum cukup kuat untuk berenang melawan ombak
yang datang. Seperti terlihat dari gambar 2, desa-desa pendatang tercatat memiliki jumlah
kematian yang lebih tinggi di Pulau Ghizo.

Bukti dari sana-sini menyatakan bahwa kebanyakan orang dewasa di sini kewalahan
menghadapi tsunami sambil menyelamatkan anak-anak mereka.

Di pihak lain, tidak terdapat kematian penduduk pribumi di desa Pailongge di Pulau
Solomon (jumlah penduduk 76 orang) yang terletak di pantai selatan Ghizo. Air laut surut
hampir segera sesudah goncangan gempa berakhir, menurut saksi mata. Bukti geologis
menyatakan bahwa bagian depan tebing yang terjal dan laguna yang lebar (100-500 m)
memperlambat tsunami yang datang,10 namun ombak masih cukup besar ketika mencapai
daratan, membanjiri daratan sekitar tiga meter tingginya.11 Setelah goncangan reda, para
tetua desa memperhatikan bahwa laguna telah kosong, lalu mereka membantu menyuruh
semua orang naik ke pedalaman, dan setiap kepala keluarga memastikan semuanya
termasuk anak-anak baik-baik saja dan mengungsi.

Gambar 2. Penduduk Gizo terdiri dari penduduk asli Kepulauan Solomon (kuning) dan
pendatang Gilbertese (merah) yang tinggal di desa-desa terpisah. Desa pribumi Pailongge
yang terletak di pantai selatan sangat rawan serangan tsunami yang hebat, seperti juga
halnya desa pendatang Titiana dan kedua desa tersebut memiliki tanah tinggi yang dapat
dijangkau untuk menyelamatkan diri. Tidak seorang pun yang meninggal dunia di
Pailongge, dan hanya dua orang yang meninggal di desa Ghizo yang lebih banyak
penduduknya, di mana masing-masing desa pendatang mencatat adanya kematian tanpa
perduli letak geografisnya. New Manra, sebuah desa pendatang, tidak hanya memiliki
tebing karang yang melindungi, namun juga hutan bakau di depan desa, namun 8 orang
dari 206 penduduk desa menjadi korban tsunami. (McAdoo dkk., dilaporkan ke Natural
Hazards)

9
McAdoo dkk (2008)
10
McAdoo dkk (2008)
11
Fritz dan Kalligeris (2008)

86
Pelajaran yang Dapat Dipetik

Dari 52 orang yang meninggal dunia selama gempa dan tsunami Kepulauan Solomon, 31
orang diantaranya (59,6%) adalah pendatang Gilbertese dari Titiana, New Manra dan
Nusa Mbaruku yang tidak mengambil tindakan tepat karena mereka tidak memiliki
ingatan akan kejadian serupa dalam tradisi mereka.12 Kiribati adalah Negara karang atol,
yang terletak jauh dari sumber gempa rutin mana pun. Karena tidak pernah ada gempa
besar yang menyebabkan tsunami selama 50 tahun perpindahan mereka ke tempat yang
baru, maka mereka benar-benar tidak memiliki kearifan lokal tentang lingkungan baru
mereka yang mungkin dapat menyelamatkan jiwa. Anak-anak Gilbertese terutama
merupakan pihak yang paling rentan karena tidak saja mereka terlalu lemah untuk
berenang melawan arus tsunami yang menyeret pelan namun dalam, akan tetapi mereka
juga tidak memiliki kearifan lokal yang membuat mereka mengurungkan niat menelusuri
mengapa air laguna tiba-tiba surut. Sebaliknya, penduduk asli Kepulauan Solomon,
sebagian besar mengambil tindakan yang tepat sehingga korban jiwa dapat dikurangi.

Kearifan lokal masyarakat Kepulauan Solomon, di mana gunung api aktif dan gempa
adalah hal yang biasa, telah mengurangi dampak tsunami. Di desa-desa asli yang terletak
di Pulau Ghizo yang terkena terjangan tsunami paling dahsyat, dampak tsunami
dimitigasi dengan menggabungkan 1) tebing koral sehat dengan penghalang yang curam
dan lebar di bagian depan, laguna yang dangkal yang memantulkan serta melemahkan
kekuatan gelombang tsunami, 2) rute penyelamatan diri yang terjangkau dan efektif serta
dataran tinggi yang dibentuk oleh topografi yang ada, dan 3) kearifan lokal tentang apa
yang harus dilakukan selama terjadinya gempa besar yang diikuti oleh surutnya air
laguna.13 Desa tempat tinggal pendatang Gilbertese yang sama-sama memiliki fisiografi
yang sama dan yang diterjang tsunami dengan intensitas yang sama, tidak memiliki
kearifan lokal yang kemudian menyebabkan mereka menderita banyak korban jiwa.
Banyak orang meninggal dunia di desa asli Tapurau, yang tidak memiliki penghalang
tebing koral karena bentuk alam yang berevolusi pada lambung di bawah angin Pulau
Simbo.

Kearifan lokal dapat menjadi alat pengurangan risiko bencana tsunami yang efektif jika
dapat menggabungkan antara pendidikan dan fisiografi. Lokasi-lokasi dengan dataran
pantai yang luas akan mengalami kesulitan dalam mengevakuasi warga dari pantai,
terutama jika kepadatan penduduk sangat tinggi seperti yang terjadi di Banda Aceh,
Indonesia pada tsunami Samudera Hindia tahun 2004. Namun, tebing koral, laguna yang
lebar dan hutan bakau tidak cukup untuk melindungi penduduk New Manra karena
mereka tidak memiliki pengetahuan tentang tsunami di daerah ini.

Daftar Pustaka

- Fritz H, dan N. Kalligeris, 2008. Ancestral heritage saves tribes during 1 April 2007
Solomon Islands tsunami. Geophys Res Lett. Doi:10.1029/2007GL031654

12
McAdoo dkk (dalam laporan pers)
13
McAdoo dkk (2008)

87
- Galathea Expedition Gizo Tsunami Assistance Fund, 2005. Dapat diakses di
http://www.ilfhaus.com.sb/galatheaassist/. Diakses tanggal 7 Januari 2007
- Matthew, P., 1996. Solomon Islands, Western Province overview. Dalam: Sant G,
Hayes E (eds) The Oceania Region’s Harvest, Trade and Management of Sharks and
Other Cartilaginous Fish: An Overview, Volume II. Traffic Network, Cambridge,
UK.
- McAdoo B., L., Dengler, V. Titov, dan G. Prasetya, 2006. Smong: how an oral
history saved thousands on Indonesia’s Simeuleu Island. Eathquake Spectra 22 (S3):
661-669
- McAdoo B dkk., 2008. Solomon Islands Earthquake and tsunami damages reef,
affects local economy. EOS
- McAdoo B dkk., laporan pers. “Kearifan Lokal Menyelamatkan Jiwa selama Tsunami
Kepulauan Solomon tahun 2007,” Natural Hazards
- National Geophysical Data Center, Tsunami Database. 2008. Dapat diakses di
http://www.ngdc.noaa.gov/seg/hazard/tsu.shtml. Diakses tanggal 17 Januari 2008.

88
Kepulauan Surin, Thailand
Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus
Kaum Moken, Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand
Narumon Arunotai

Abstrak

Ada sebuah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kasus kaum Moken, kaum
nomaden/pengembara yang tinggal di laut di Thailand – bahwa kaum Moken memiliki
kearifan lokal yang dapat membantu mereka mengurangi risiko bencana. Dapat dikatakan
bahwa kaum Moken telah diselamatkan oleh sebuah legenda kuno, pengamatan yang
tajam akan laut dan perasaaan berhati-hati yang kuat, pengetahuan mendalam akan
lingkungan laut dan hutan mereka, cara mereka memilih lokasi pembangunan desa yang
cerdik, dan keterampilan mereka yang tinggi dalam mengendalikan perahu. Tulisan
berikut ini mengkaji pelajaran-pelajaran dari kearifan lokal kaum Moken dalam
pengurangan risiko bencana dan implikasi dari penerapan pelajaran-pelajaran ini pada
kebijakan dan praktik-praktik yang terkait.

“Kami menyebut gelombang besar ini ‘laboon”. Gelombang tersebut merupakan


gelombang pembersih yang datang untuk membersihkan pantai yang kotor. Ia adalah
dewa dari gelombang, dewa yang marah yang menghabiskan dan menghancurkan apa
saja. Saya belum pernah melihat gelombang semacam itu, hanya mendengar tentang itu
dari orang-orang tua. Mereka membicarakan ‘gelombang tujuh ombak’ yang
mengunjungi kami sekali setiap dua generasi.”
Salama Klatalay, seorang tetua Moken

Latar Belakang

Kaum Moken, para “pengembara laut” atau “kaum gipsi yang tinggal di laut” yang
tinggal di Laut Andaman, adalah kelompok nomaden yang tinggal di laut yang di
Thailand umumnya dikenal sebagai Chao Lay (orang laut). Selama musim penghujan
timur laut yang kering laut cenderung tenang dan kaum Moken tinggal dalam perahu-
perahu mereka yang disebut kabang, bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya di
Gugusan Kepulauan Mergui di Laut Andaman untuk mencari penghidupan. Struktur
sosial kaum ini berupa kelompok-kelompok kekerabatan yang terdiri dari dua sampai
sepuluh keluarga yang bepergian bersama. Selama musim penghujan barat daya, laut
menjadi ganas dan sulit diprediksi perilakunya, oleh karenanya kaum Moken beradaptasi
dengan situasi ini dengan tinggal di pondok-pondok sementara di teluk-teluk yang
terlindung dan mencari penghidupan mereka dari sekitar desa-desa yang mereka diami.

Komunitas Moken yang besar di Thailand dapat ditemukan di Pulau-pulau seperti Lao,
Sinhai, Phayam, dan Chang di Provinsi Ranong, Kepulauan Surin di Provinsi Phang-nga,
dan Pantai Rawai di Provinsi Phuket. Kaum Moken yang berasal dari Kepulauan Surin
relatif tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang tradisional dibandingkan dengan
kelompok-kelompok lainnya. Walaupun mereka telah tinggal di tempat yang sama

89
selama bertahun-tahun, mereka masih menggunakan bahan-bahan dari hutan untuk
membangun pondok-pondok mereka dan kadang-kadang memindahkan desa mereka ke
lokasi-lokasi yang lain. Saat ini terdapat sekitar 2.000 warga Moken yang tinggal di
Gugusan Kepulauan Mergui di Myanmar dan about 800 orang Moken di Thailand.1

Kepulauan Surin telah menjadi tempat kediaman dan tempat mencari penghidupan bagi
kaum Moken selama berabad-abad. Gugusan kepulauan ini terletak di Laut Andaman,
sekitar 60 kilometer lepas pantai barat daya Thailand. Secara administratif Kepulauan
Surin merupakan bagian dari Distrik Khuraburi di Provinsi Phang-nga, yang terletak kira-
kira 720 kilometer sebelah barat daya Bangkok.2 Phang-nga merupakan satu di antara
enam provinsi yang terkena dampak terburuk dari tsunami.

Fitur alami utama Kepulauan Surin adalah terumbu karang dan hutan. Terumbu karang
yang mengelilingi Kepulauan Surin merupakan yang terbesar dan terluas di Thailand.
Hutan hujan tropis merupakan fitur alami utama lainnya di kepulauan tersebut. Luas
hutan hujan ini mencapai lebih dari 90 persen dari kawasan hutan yang ada. Kawasan
hutan di kepulauan tersebut sangat terjaga baik dan memainkan peranan yang penting
dalam cara hidup kaum Moken yang tradisional.3 Kepulauan Surin dideklarasikan
sebagai taman laut nasional Thailand kedua puluh sembilan pada tahun 1981. Fasilitas-
fasilitas untuk turis telah secara bertahap dibangun dan selama tahun 2003 Taman ini
menerima lebih dari 36.000 turis selama waktu bukanya yang hanya 6 bulan (dari
pertengahan November sampai pertengahan Mei).

Sebelum tsunami, ada dua komunitas Moken di Kepulauan Surin. Salah satu komunitas,
yang terdiri dari 16 rumah tangga, berdiam di Teluk Sai-En di Pulau Surin Utara.
Komunitas lainnya, yang terdiri dari 30 rumah tangga, berdiam di Teluk Bon Kecil di
Pulau Surin Selatan. Populasi kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin berfluktuasi
berdasarkan musim dan secara tahunan. Beberapa individu dan keluarga sering
berpindah-pindah di antara Kepulauan Surin dan pulau-pulau lainnya di perairan
Myanmar dan di antara kedua komunitas yang berdiam di Kepulauan Surin. Selama
tahun 2004, ada 184 orang Moken tinggal di Kepulauan Surin. Dari jumlah ini, 77 laki-
laki dan 107 perempuan. Sekitar setengah dari populasi ini berusia 18 tahun ke bawah,
dan sepertiga dari populasi adalah anak-anak berusia di bawah sepuluh tahun.4 Sampai
dengan bulan Februari 2008, ada sekitar 220 orang Moken di Pulau Surin Selatan, yang
berdiam di sebuah desa besar di Teluk Bon Besar.

Kisah/Peristiwa

Pada pagi hari Minggu tanggal 26 Desember 2004, kaum Moken yang tinggal di
Kepulauan Surin mengamati adanya perubahan mendadak pada permukaan laut. Hal ini
terjadi tanpa adanya perubahan cuaca dan mereka menganggap ini sebagai suatu gejala
yang sangat tidak biasa. Bagi beberapa tetua Moken, hal ini menandakan kedatangan

1
Arunotai (2006): 140
2
Arunotai, Wongbusarakum, dan Elias (2007): 8-9.
3
Arunotai, Wongbusarakum, dan Elias (2007): 8-9
4
Arunotai, Wongbusarakum, dan Elias (2007): 12.

90
“tujuh gelombang”, sebuah legenda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Seluruh warga masyarakat dengan cepat berlari menaiki bukit-bukit di balik desa mereka,
dan mereka semua dapat terselamatkan dari bencana tsunami, walaupun seluruh desa
tersapu habis berikut beberapa perahu warga.

Pada saat yang sama, lebih dari 20 warga Moken telah bekerja di Taman Nasional.
Mereka yang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang mengamati adanya
perubahan pada arus air dan memutuskan untuk mengarahkan perahu menjauh dari
pantai. Berkat insting mereka yang tajam dan keterampilan mengendalikan perahu yang
tinggi, mereka telah menyelamatkan nyawa banyak turis. Sekali lagi, kaum Mokenlah
yang mengarahkan staf Taman Nasional dan para turis naik ke atas jalur di hutan di mana
mereka sering mencari makanan untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam
sambil menanti sebuah kapal yang lebih besar yang akan membawa mereka ke daratan.

Setelah kedua desa mereka tersapu oleh tsunami, kaum Moken di Kepulauan Surin
pindah ke daratan dan mengungsi di sebuah kuil setempat. Dalam waktu dua minggu
mereka sudah merindukan pulau mereka dan laut, dan sudah merasa cukup percaya diri
untuk pulang kembali ke Kepulauan Surin. Karena mereka adalah kelompok warga yang
hanya memiliki sedikit harta-benda, mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan,
tetapi langsung melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka seperti pada hari-hari sebelum
tsunami.

Gambar 1. Kaum Moken dan kabang mereka. Foto: Paladej Na Pombejra

Kearifan Lokal

Kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin telah menjadi sangat terkenal di Thailand
maupun di tingkat internasional sebagai kelompok masyarakat yang dapat terluput dari
tsunami tanpa kerugian berarti. Kaum Moken mampu bertahan hidup tidak hanya karena
mereka mengenal legenda tentang tujuh gelombang, tetapi juga karena pengamatan
mereka yang tajam, kewaspadaan dan sikap kehati-hatian mereka, pengetahuan
mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka, pemilihan yang cerdas akan di mana
mereka akan membangun desa, dan ketrampilan mereka dalam mengendalikan perahu.
Secara rinci, pengetahuan, perasaan yang tajam dan ketrampilan-ketrampilan terkait
Kaum Moken adalah sebagai berikut:

1. Legenda tujuh gelombang. Masyarakat Moken adalah suatu kelompok yang buta
huruf tetapi “sastra lisan” mereka kreatif dan kaya. Setelah hidup di kawasan pulau-
pulau dan pantai selama berabad-abad, nenek moyang mereka telah mengalami
kejadian-kejadian tsunami, dan dengan cerdas mereka menuangkan bahaya dari
bencana tsunami ke dalam sebuah legenda tentang laboon atau gelombang yang
besar. Legenda ini mengajarkan bahwa laboon biasanya datang sebagai serangkaian
gelombang, oleh karenanya disebut “tujuh gelombang”. Walaupun membicarakan
laboon secara terbuka dilarang karena takut akan mengundang gelombang mematikan
tersebut kepada mereka, semua orang mengetahui bahwa jika air laut di pantai tiba-
tiba surut, mereka harus segera berlari ke daratan yang lebih tinggi untuk

91
menyelamatkan nyawa mereka. Pengetahuan ini menjadi sistem peringatan bencana
alam yang paling efektif, tanpa bantuan teknologi modern sama sekali.5 Tanda
peringatan akan bahaya tsunami tertanam di dalam sistem kognitif mereka, sehingga
mereka semua mampu menyelamatkan diri walaupun sebagian besar dari mereka
sebelumnya belum pernah melihat tsunami.

2. Pengamatan yang tajam dan sikap kehati-hatian. Kaum Moken memiliki pengamatan
yang tajam, terutama berkaitan dengan perubahan-perubahan pada cuaca dan
kejadian-kejadian tidak biasa lainnya. Mereka menerapkan prinsip kehati-hatian dan
selalu waspada. Hal ini disebabkan oleh banyaknya risiko yang harus mereka hadapi
dalam kehidupan mereka sehari-hari – mulai dari risiko-risiko alam seperti badai
yang datangnya tiba-tiba, hewan-hewan laut dan hutan yang berbahaya, sampai
risiko-risiko yang ditimbulkan oleh manusia yang dapat ditelusur balik kepada sejarah
panjang kaum Moken yang telah menjadi korban pelecehan dan eksploitasi oleh
pihak-pihak luar – para bajak laut, pedagang budak, para perampok dan bandit, dsb.6
Oleh karena itu, segera setelah air laut surut secara tidak wajar pada tanggal 26
Desember 2004, kaum Moken saling memberitahu satu sama untuk melarikan diri
dan mengungsi ke bukit di balik desa, dan mereka yang sedang mengantarkan turis
untuk menyelam di terumbu karang segera mengarahkan perahu-perahu mereka
menjauh dari daratan untuk menghindari hempasan gelombang.

3. Pengetahuan mendalam akan lingkungan laut. Hidup sebagai “orang laut” yang hidup
di, dari dan oleh laut, kaum Moken memiliki pengetahuan yang mendalam akan
ritme-ritme alam, suatu kemampuan untuk mengenali tanda-tanda alam dan
membedakan antara gejala-gejala yang “biasa” dan “tidak biasa”. Bagi mereka, massa
air laut dalam jumlah besar yang tiba-tiba surut dengan cepat merupakan sesuatu yang
aneh, dan datangnya ombak putih menunjukkan dengan pasti tanda-tanda datangnya
laboon karena hal-hal ini terjadi tanpa adanya perubahan angin atau tanpa adanya
tanda perubahan di langit.

Gambar 2. Kiri: Tanda peringatan tsunami yang dapat dilihat di sepanjang pantai selatan
Thailand. Kanan: Tanda peringatan semacam ini dapat “ditanamkan” pada diri kaum
muda melalui kearifan lokal.

4. Pengetahuan akan jalur-jalur jalan di hutan dan cara bertahan hidup di alam bebas.
Setelah berlari mendaki bukit untuk menyelamatkan diri dari dampak tsunami, kaum
Moken mengetahui “ke mana” mereka harus berlari karena mereka sangat mengenal
lingkungan dan jalan-jalan di hutan.

5. Pemilihan lokasi desa yang cerdik. Kaum Moken yang tinggal di berbagai pulau di
Laut Andaman Thailand memilih lokasi yang tepat bagi desa-desa mereka dengan
sangat berhati-hati, yakni kawasan di bagian timur dari pulau-pulau tersebut. Sebuah
kajian perbandingan antara permukiman-permukiman masyarakat asli (antara kaum
Moken dan Urak Lawoi) membawa pada kesimpulan bahwa setiap permukiman

5
Arunotai (2006): 143
6
Hinshiranan (1996): 131-133

92
berada dalam teluk yang terlindungi di bagian timur. Hal ini disebabkan karena
pulau-pulau di Laut Andaman dipengaruhi oleh dua musim penghujan, musim
penghujan barat daya yang membawa hujan, angin kencang, gelombang besar dan
badai-badai; dan musim penghujan timur laut yang membawa cuaca yang lebih
kering dan angin yang lebih lemah. Dengan membangun permukiman di bagian timur
pulau warga akan relatif terlindung dari angin barat daya (dan oleh karenanya juga
terlindung dari tsunami dari laut lepas).7 Bagi kaum Moken di Kepulauan Surin,
gunung tinggi di balik desa juga memberikan dataran tinggi yang cukup untuk
evakuasi.

Permukiman tradisional kaum Moken, desa, dan pondok-pondok mereka, termasuk


kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan
pembangunan pondok, semuanya mencerminkan kearifan lokal yang membantu kaum
Moken hidup dengan nyaman dan aman di lingkungan pantai. Selain itu, bentuk desa
yang kecil dengan pondok-pondok panjang rumah panggung yang dibangun di atas
air telah menjadi sebuah bagian penting dari identitas budaya kaum Moken.8 Harus
diperhatikan di sini bahwa selamatnya mereka dari tsunami sebagian disebabkan oleh
“pengamatan mereka yang tajam” – dari tata letak desa tradisional mereka, sebagian
besar kaum Moken dapat mengamati laut langsung dari pondok mereka.

6. Keterampilan mengendalikan perahu dan keterampilan terkait laut lainnya. Para lelaki
Moken memiliki keterampilan yang tinggi dalam mengendalikan perahu karena sejak
sangat muda mereka telah terbiasa menggunakan perahu dayung dan mengoperasikan
perahu motor yang lebih besar. Dalam perairan yang bergolak, para lelaki ini dapat
dengan terampil mengarahkan perahu menjauh dari daratan. Baik kaum lelaki
maupun kaum perempuan juga menguasai keterampilan-keterampilan lainnya yang
berkaitan dengan laut seperti berenang dan menyelam. Lebih lanjut, kaum lelaki dan
perempuan, muda dan tua, relatif dapat mempertahankan kebugaran fisik mereka
karena pekerjaan mereka biasanya berkaitan dengan tenaga fisik. Bahkan kaum lanjut
usia dan anak-anak mampu berlari dan memanjat ke dataran yang lebih tinggi tanpa
banyak kesulitan.

Terkait dengan penerusan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya,
tidak ada sarana untuk mendokumentasikan atau merubah pengetahuan ke dalam
bentuk tekstual sehingga orang dapat membaca atau mengikutinya karena bahasa
kaum Moken hanya memiliki bentuk lisan, tanpa bahasa tulis. Dari perspektif
pendidikan modern, hal ini menimbulkan keterbatasan tertentu karena tidak ada cara
untuk merekam pengetahuan dan tidak ada “jalan pintas” lain kepada pengetahuan itu
kecuali dengan belajar langsung dari mereka yang mengetahui melalui 1)
pengamatan, 2) hafalan atau mengingat-ingat, 3) coba-coba atau pengalaman terapan,
4) penemuan-eksplorasi-penemuan kembali, dan 5) praktik serta peninjauan.

Di mata para warga Thailand yang menetap dan hidup di daratan serta memiliki
rumah permanen, kehidupan nomaden dan sederhana kaum Moken tampak kuno,

7
Arunotai dan Elias (2005).
8
Arunotai dan Elias (2005).

93
terbelakang dan tidak ada potensi untuk maju.9 Ini telah menjadi representasi sosial
yang diadopsi oleh kaum Moken sendiri dari masyarakat yang lebih luas.10 Sebagai
akibatnya, kearifan lokal kaum Moken jarang dikenal atau dihargai.

Gambar 3. Pondok-pondok sebelum tsunami, dengan pintu masuk menghadap ke arah


dalam pulau tetapi bagian beranda belakang terbuka ke arah laut.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Pelajaran utama yang dapat dipetik di sini adalah bahwa kearifan lokal kaum Moken
yang sebelumnya dianggap sebagai “biasa” atau bahkan “kuno” telah memungkinkan
kaum Moken (dan orang-orang lainnya) untuk menyelamatkan diri dari bencana tsunami.
Sayangnya bentuk-bentuk kearifan lokal ini sekarang hanya terbatas dimiliki oleh orang-
orang dewasa dan para tetua. Kearifan lokal ini secara perlahan-lahan dilupakan dan
jarang diteruskan kepada generasi-generasi yang lebih muda.

Terkait dengan legenda dan cerita-cerita rakyat, “Beberapa dari cerita-cerita ini hanyalah
versi pendek dari cerita-cerita yang lebih panjang, dan sastra lisan tidak lagi memiliki
banyak arti bagi mereka.”11 “Kearifan tradisional kaum Moken tidak dianggap sebagai
pengetahuan atau ilmu; sehingga arah perubahan lebih mengarah pada jenis
pembangunan yang didefinisikan dan diperkenalkan oleh pihak-pihak luar yang
memandang mereka sebagai terbelakang dan miskin.”12

Ada beberapa implikasi untuk menerapkan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan
praktik-praktik terkait.

1. Menghargai dan mempromosikan kearifan lokal melalui pengembangan kurikulum


lokal yang sesuai dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Anak
harus mendapat kesempatan untuk belajar dari para tetua di masyarakat, untuk
menyerap dan mempraktikkan “pengamatan yang tajam” dan “prinsip kehati-hatian”,
dan belajar serta menghargai pengetahuan yang mendalam akan lingkungan laut dan
hutan. Pendidikan formal menekankan pengetahuan “eksplisit”, tetapi pengetahuan
dan keterampilan-keterampilan yang “tersembunyi” telah terbukti sangat penting bagi
keberlangsungan hidup fisik dan budaya kaum Moken.

2. “Menginternalisasikan” tanda-tanda peringatan dini dan rencana-rencana


kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana seperti evakuasi, rute melarikan diri dan
mencapai tempat penampungan darurat. Bagi kaum Moken, kedatangan laboon telah
aktual tercetak di dalam sistem kognitif mereka walau sebelumnya lebih berupa
setengah mitos dan setengah kenyataan. Mereka tidak hanya mampu mengenali
tanda-tanda peringatan, tetapi juga sangat mengenal jalan-jalan setapak di hutan yang
mereka gunakan sebagai jalur penyelamatan diri dan tinggal/hidup di alam bebas juga

9
Arunotai (2003): 116–117.
10
Arunotai (2006): 141.
11
Ivanoff (2001): 3.
12
Arunotai (2006): 148

94
bukan masalah besar bagi mereka. Untuk masyarakat-masyarakat lain, selain
penyebarluasan bahan-bahan pendidikan tentang bencana alam kepada komunitas dan
sekolah-sekolah, dibutuhkan adanya praktik dan dril-dril teratur untuk berbagai
bentuk bencana yang mungkin terjadi di suatu daerah.

3. Mempelajari pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang penting untuk


menyelamatkan diri seperti berenang, memanjat, pertolongan pertama pada
kecelakaan, dll. Agar selalu siap siaga seseorang harus memiliki kebugaran fisik yang
prima. Komunitas kaum Moken biasanya kecil, sehingga mereka saling mengenal
satu sama lain dan mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan khusus. Untuk
masyarakat-masyarakat lain, harus diupayakan adanya pemetaan kaum lanjut usia,
mereka yang cacat, dan orang-orang lainnya yang membutuhkan bantuan khusus
sehingga mereka dapat memperoleh perhatian khusus dalam situasi darurat.

Daftar Pustaka

- Arunotai, Narumon. 2003. “For a Better Understanding of the Moken Knowledge and
Myth about Chao Lay Ethnic Groups” in Ethnic Groups and Mystification (Untuk
Pemahaman yang Lebih Baik akan Pengetahuan Kaum Moken dan Mitos tentang
Kelompok-kelompok Etnis Chao Lay, dalam Kelompok-kelompok Etnis dan
Mistifikasi). (bahasa Thai). Bangkok: Dewan Budaya Nasional, Departemen
Kebudayaan.
- Arunotai, Narumon. 2006. “Moken traditional knowledge: an unrecognised form of
natural resources management and conservation” (Kearifan tradisional kaum Moken:
suatu bentuk manajemen dan konservasi sumber daya alam yang tidak dihargai).
Jurnal Internasional Ilmu Sosial, 187: 139-150.
- Arunotai, N. dan D. Elias. 2005. “Moken –Their changing huts and village” (Kaum
Moken – pondok-pondok dan desa mereka yang berubah). Sebuah makalah tidak
diterbitkan yang ditulis untuk Proyek Pilot Andaman.
- Arunotai, N., S. Wongbusarakum, dan D. Elias. 2007. Bridging the gap between the
rights and needs of indigenous communities and the management of protected areas:
Case Studies from Thailand (Menjembatani kesenjangan antara hak-hak dan
kebutuhan-kebutuhan masyarakat asli dan pengelolaan kawasan-kawasan yang
dilindungi: Studi-studi kasus dari Thailand). Bangkok: UNESCO Bangkok.
- Hinshiranan, N. 1996. The Analysis of Moken Opportunistic Foragers’ Intragroup
and Intergroup Relations (Analisis Hubungan Oportunistik Intragrup dan Antargrup
Kaum Pengembara Moken). Disertasi Doktoral tidak diterbitkan. Universitas
Hawai’i.
- Ivanoff, Jacques. 2001. Rings of Coral (Lingkar-lingkar Terumbu Karang). Bangkok:
White Lotus.
- Paladej Na Pombejr, 2003. The World According to the Moken: Reflection from
traditional ecological knowledge on marine environment (Dunia Menurut Kaum
Moken: Refleksi dari pengetahuan ekologis tradisional atas lingkungan laut). Thesis
Master tidak diterbitkan, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Chulalongkorn, Bangkok.
- Wongbusarakum, Supin. 2005. Loss of traditional practices, loss of knowledge, and
the sustainability of cultural and natural resources: a case of Urak Lawoi people in the

95
Adang Archipelago, Southwest Thailand (Hilangnya praktik-praktik tradisional,
hilangnya kearifan lokal, dan keberlanjutan sumber daya budaya serta alam: sebuah
kasus dari kaum Urak Lawoi di Kepulauan Adang, Thailand Barat Daya). Dari
http://www.iucn.org/themes/ceesp/WAMIP/Aichi%20Paper%20submitted%2031%20
Aug%2005.doc. Diundun pada 7 Februari 2008.

96
Komunitas An Hai, Distrik Ninh Phuoc, Provinsi Ninh Thuan, Vietnam
Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-
kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam
Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw

Abstrak

Daerah pesisir provinsi Ninh Thuan merupakan salah satu kawasan yang paling kering di
Vietnam. Tingkat curah hujan tahunan biasanya berkisar antara 600 mm sampai 800 mm
per tahun dengan distribusi yang tidak merata antar bulan. Karena di beberapa daerah
yang masih belum berkembang pelayanan peramalan cuaca hanya tersedia secara
terbatas, penggunaan kearifan tradisional untuk peramalan cuaca sangat berguna untuk
kepentingan pertanian tanaman pangan di masyarakat. Khususnya, metode pengamatan
bulan dan pengamatan capung untuk meramalkan perubahan cuaca telah memainkan
peranan penting dalam kegiatan-kegiatan pertanian komunitas An Hai.

“Capung terbang tinggi, langit cerah


Terbang rendah, hujan
Terbang tidak tinggi dan tidak rendah, langit berawan”
(Lirik lagu daerah yang digunakan untuk meramal cuaca)

Latar Belakang

An Hai merupakan satu dari beberapa komunitas pesisir yang berdiam di sebelah Timur
Provinsi Ninh Thuan. Total luas geografis kawasan ini adalah 2.091,98 ha dengan
1.057,37 ha lahan untuk pertanian, 4239 ha lahan untuk hutan, 4833 ha untuk tempat
tinggal dan sisanya untuk keperluan budidaya perikanan air tawar serta keperluan-
keperluan lainnya. Pada tahun 2005, jumlah total penduduk An Hai adalah 12.890,
terbagi dalam sekitar 2.596 rumah tangga dalam total 6 dusun.

Penghidupan utama masyarakat adalah pertanian, terutama pertanian padi, anggur dan
sayur-mayur dengan waktu tanam yang pendek (seperti tomat, wortel, cabe dan kentang)
sebagai tanaman utama. Usaya peternakan juga menjadi salah satu kekuatan dari
komunitas An Hai, yang sebagian besar terfokus pada ternak sapi, domba dan kambing.

Daerah-daerah yang memiliki irigasi dapat menanam padi sebanyak tiga kali: Musim
Dingin-Musim Semi dari awal Desember sampai awal April; Musim Panas-Musim Gugur
dari akhir April sampai awal Agustus dan waktu tanam utama dari bulan September
sampai awal Desember.

Sumber air utama dalam musim kering adalah air sungai dan air sumur. Pada musim
penghujan masyarakat terutama memanfaatkan air hujan untuk kegiatan bercocok tanam
mereka.

Kisah/Peristiwa

97
Suhu di daratan Vietnam semakin meningkat dan cuaca menjadi semakin ekstrim dan
sulit diramalkan. Rata-rata suhu udara saat ini 1º C lebih tinggi daripada 100 tahun yang
lalu. Perubahan-perubahan dalam pola curah hujan menjadi kompleks dan bervariasi serta
sangat tergantung pada lokasi; namun demikian, kecenderungan terbesar adalah menuju
musim-musim kering yang lebih panas, lebih panjang dan lebih kering dan sebaliknya
hujan yang lebih intensif selama musim-musim penghujan.

Ninh Thuan adalah satu dari antara sembilan provinsi yang paling terpengaruh oleh
kekeringan di Vietnam. Provinsi ini telah mengalami kekeringan tahunan sejak tahun
2002. Ada dua musim di kawasan ini: musim penghujan dari bulan Juli sampai
November dan musim panas/kering dari bulan Desember sampai Juni. Umumnya jumlah
curah hujan di daerah-daerah pesisir sangatlah rendah. Curah hujan tahunan di kota
pesisir Phan Rang – Thap Cham (sangat dekat dengan komunitas An Hai) adalah
sebanyak 712 mm. Musim penghujan terutama sangat intensif selama tiga bulan antara
bulan September sampai Desember.

Provinsi ini terlanda kekeringan yang parah pada bulan Agustus tahun 2004 dengan
tingkat curah hujan yang turun sampai 50% dari normal. Kekeringan terus berlanjut pada
tahun 2005 dan 2006 dengan curah hujan yang sangat sedikit pada dua musim tanam
pertama. Semakin panjangnya hari-hari kering telah menimbulkan kerusakan yang
signifikan pada pertanian merubah tingkat salinitas air tanah sehingga merusak budidaya
perikanan air tawar. Meningkatnya kejadian-kejadian kekeringan di Provinsi Ninh Thuan
telah menjadi masalah besar baik bagi pemerintah maupun masyarakat setempat.

Sementara tingkat curah hujan tahunan terus-menerus meningkat, para petani mengalami
kekeringan karena hujan sekarang datang dengan sangat intensif dalam waktu yang lebih
pendek. Mereka harus merubah jenis tanaman yang mereka tanam dan jadwal penanaman
untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi cuaca dan iklim yang keras. Masyarakat selalu
mencari cara-cara baru untuk beradaptasi. Para petani bekerja bersama untuk menanam
tanaman pangan dan memelihara ternak kambing dan domba keturunan Sultan dari India,
yang dapat tahan dengan suhu udara tinggi. Petani juga telah mulai beralih dari menanam
padi kepada jelai atau tanaman-tanaman pangan jangka panjang lainnya serta
menggunakan varietas-varietas yang lebih tahan kekeringan. Mereka telah menemukan
cara-cara untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air limbah. Pada saat-saat
yang sangat sulit, beberapa anggota keluarga terpaksa bermigrasi ke kota-kota untuk
mencari pekerjaan. Beberapa teknik adaptasi ini memang produktif, tetapi beberapa
lainnya juga ada dampak negatifnya. Pindahnya kaum muda ke kota meningkatkan beban
kerja pada mereka yang lebih lanjut usia yang terpaksa tinggal di desa. Kaum perempuan
seringkali terpaksa harus mengalah dalam penggunaan air dan memberikannya untuk
para suami dan anak-anak mereka.

Kearifan Lokal

Melalui peramalan cuaca didapatkan rekomendasi-rekomendasi berkaitan dengan


tanggal-tanggal untuk penanaman dan perubahan varietas tanaman pangan yang harus
ditanam agar beras dan tanaman-tanaman pangan lainnya dapat tumbuh dengan baik.

98
Karena pada jaman dahulu peramalan cuaca belum tersedia, banyak petani menanam
tanaman pangan mereka berdasarkan pengamatan atas bulan dan mengamati perilaku
serangga-serangga.

Pengamatan atas Bulan

Komunitas An Hai memiliki sebuah peribahasa kuno yang telah digunakan dalam
observasi cuaca untuk meramalkan kekeringan dan jadwal penanaman. Peribahasa ini
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat. Peribahasa ini
menyatakan:

“Trang quang thi han, Trang tan thi mira”

Lebih kurang berarti, “Mahkota di sekitar bulan, akan ada tahun kekeringan; Cincin/Halo
di sekitar bulan, hujan akan segera turun.”

Bulan Bermahkota

Mahkota atau corona adalah sejenis “atmosfir” plasma dari matahari atau benda-benda
langit lainnya, yang menjangkau jutaan kilometer di angkasa, paling mudah disaksikan
ketika terjadi gerhana matahari total, tetapi juga dapat diamati dengan coronagraf. Akar
kata bahasa Latin dari kata corona berarti mahkota.

Tingginya temperatur corona memberinya fitur-fitur spektrum yang tidak biasa, yang
mengakibatkan beberapa orang pada abad ke-19 beranggapan bahwa benda ini
mengandung unsur yang sebelumnya tidak dikenal, “Coronium”. Fitur-fitur spektrum ini
sekarang telah diketahui berasal dari unsur Besi yang mengandung ion tinggi (Fe (XIV))
yang menunjukkan adanya suhu plasma yang melebihi 10° Kelvin (Aschwanden, 2004).

Bulan Bercincin

Bulan bercincin atau ber-halo adalah bulan yang dikelilingi oleh sebuah cincin cahaya
yang mengelilingi matahari atau bulan dan biasanya tampak sebagai cincin-cincin putih
yang terang benderang. Namun, beberapa cincin juga dapat memiliki pola-pola warna
tertentu. Halo merupakan suatu gejala optikal yang konsepnya lebih kurang mirip dengan
pelangi tetapi sekaligus juga sangat berbeda. Halo terbentuk jika sinar matahari atau sinar
bulan direfraksikan atau dibelokkan oleh kristal-kristal es yang ada di awan-awan tipis
yang berada di ketinggian, seperti awan cirrus atau cirrostratus. Jenis halo yang paling
umum adalah halo 22 derajat. Pada halo ini, sebuah cincin cahaya 22 derajat dari
matahari atau bulan diproyeksikan oleh kristal-kristal es heksagonal (dengan enam sisi)
yang berdiameter kurang dari 20,5 mikrometer.1 Seringkali, sebuah halo yang ada di
sekitar bulan atau matahari merupakan penunjuk akan cuaca yang berawan atau akan
hujan karena awan-awan cirrus dan cirrostratus yang berada di ketinggian yang
menyebabkan adanya halo tersebut cenderung melayang di depan sistem frontal
(terutama front-front yang hangat) yang memproduksi curah hujan.
1
NASA (2003)

99
Pengamatan Capung

Komunitas An Hai juga menggunakan sebuah lagu rakyat lain untuk meramalkan cuaca.
Mereka mengamati perilaku capung untuk mengetahui kapan akan hujan dan kapan akan
ada sinar matahari. Lirik bahasa Vietnam dari lagu rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

“Chuon Chuon bay thap thi mira,


Bay cao thi nang,
Bay vira thi ram”

Artinya kira-kira: “Capung terbang tinggi, langit cerah; Terbang rendah, hujan; Terbang
tidak tinggi dan tidak rendah, langit berawan”

Para petani menjelaskan bahwa jika capung-capung terbang pada jarak kurang dari 80 cm
dari tanah, hari akan segera hujan. Berdasarkan hal tersebut, para petani kemudian
mempersiapkan tanah dan bibit-bibit tanaman pangan mereka. Dengan menggunakan
metode pengamatan capung para petani dapat memutuskan waktu untuk menabur dan
menanam, serta menyusun jadwal penanaman mereka dengan semestinya.

Gambar 1. Bulan Bermahkota


Sumber: http://www8.ttvnol.com/forum/f_533/862476.ttvn

Gambar 2. Bulan Bercincin


Sumber: http://www8.ttvnol.com/forum/f_533/862476.ttvn

Gambar 3. Seekor Capung


Sumber: http://www.scientificillustrator.com/illustration/insect

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Pengamatan serangga dan gejala-gejala di atmosfir seperti halo telah digunakan sebagai
suatu sarana empirik untuk peramalan cuaca sebelum ilmu meteorologi berkembang.
Kearifan lokal ini telah diteruskan selama ribuan tahun oleh masyarakat dari satu generasi
ke generasi lainnya. Ini semua didasarkan pada pengalaman praktis yang telah digunakan
selama kurun waktu yang sangat panjang. Di beberapa daerah yang penduduknya tidak
memiliki akses terhadap teknologi tinggi, peramalan cuaca tradisional berdasarkan
pengamatan bulan dan serangga memainkan peranan yang penting bagi kegiatan-kegiatan
pertanian.

Masalah utama pada komunitas An Hai adalah kurangnya air bersih untuk budidaya
pertanian. Pengetahuan akan musim hujan dan peramalan akan tahun-tahun kemarau
yang tepat akan membantu para petani untuk memilih jenis tanaman pangan, benih dan
waktu untuk menabur serta menanam. Karena kearifan lokal ini sangat berguna di
kawasan-kawasan yang tidak memiliki akses terhadap metode-metode meteorologis
untuk meramal cuaca, strategi-strategi ini dapat dan harus disebarluaskan kepada

100
masyarakat-masyarakat lain yang masih tinggal di daerah-daerah yang belum begitu
berkembang.

Daftar Pustaka

- Aschwanden, M. J., 2004. Fisika Mahkota Matahari, Sebuah Pengantar (Physics of


the Solar Corona, An Introduction). Praxis Publishing Ltd. ISBN 3-540-22321-5.
- Huy, Nguyen Ngoc, Rajib Shaw, Prabhakar SVRK, Provash Mondal, 2007. Adaptasi
terhadap Kekeringan: Sebuah Studi Kasus atas Provinsi Ninh Thuan, Vietnam,
Simposium Internasional tentang Mitigasi dan Adaptasi terhadap Bencana-bencana
Alam yang Ditimbulkan oleh Perubahan Iklim 20–21 September 2007, Hue city,
Vietnam
- Shaw, Rajib, Prabhakar SVRK, Huy Nguyen, Rovash Mondal, 2007. Pertimbangan-
pertimbangan Manajemen Kekeringan untuk Adaptasi Perubahan Iklim: Fokus pada
Kawasan Mekong. Dapat diakses di:
http://www.oxfam.org.uk/resources/policy/climate_change/downloads/ninh_thaun_re
search.pdf
- Forum Online Sejarah dan Budaya Vietnam. Penjelasan atas peribahasa “Trang quang
thi han, Trang tan thi mua” http://www8.ttvnol.com/forum/f_533/862476.ttvn

101
Untuk informasi lebih lanjut tentang praktik-praktik yang baik yang disajikan dalam
publikasi ini, silahkan menghubungi langsung para penyumbang tulisan di bawah ini:

Cina: Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina


Weihua Fang
fang@ires.cn

India: Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir


Amir Ali Khan, Assistant Professor, National Institute of Disaster Management
Departemen Dalam Negeri, Pemerintah India, New Delhi, India
alikhanamir@gmail.com

India: Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Tempat
Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India
Anshu Sharma, SEEDS India, Direktur: Strategi
anshu@seedsindia.org

India: Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik
Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar, Assam
Irene Stephen, UNDP India, Program Manajemen Risiko Bencana
Irene.stephen@undp.org
Rajiv Dutta Chowdhury, Bidang Penanggulangan Bencana, Kantor Deputi Komisioner,
Goalpara, Assam, India
rdchowdhury@gmail.com
Debashish Nath, Pejabat Pengembangan Pertanian, Blok Pembangunan Matia, Goalpara,
Assam, India

Indonesia: Legenda, Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api


Koen Meyers, UNESCO Jakarta, Penasihat Teknis untuk Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup
k.meyers@unesco.org

Jepang: Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang


Yukiko Takeuchi, Universitas Kyoto
y.takeuchi@fw7.ecs.kyoto-u.ac.jp
Rajib Shaw, Universitas Kyoto
shaw@global.mbox.media.kyoto-u.ac.jp

Mongolia: Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat


Penggembala Shiver
Bolormaa Borkhuu, Kementerian Alam dan Lingkungan Hidup Mongolia, Pejabat,
Bagian Pembangunan Berkelanjutan dan Perencanaan Strategis
bolorbor@yahoo.co.uk

Nepal: Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling
Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli

102
Man B. Thapa, UNDP Nepal, Program Penanggulangan Bencana Partisipatif
man.b.thapa@undp.org

Nepal/Pakistan: Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir:


Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan
Julie Dekens, Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu
(International Centre for Integrated Mountain Development/ICIMOD)
jdekens@icimod.org

Pakistan: Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di


Distrik Mansehra dan Battagram, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Pakistan
Takeshi Komino, Christian World Service Pakistan
takeshi@cwspa.org.pk

Papua Nugini: Hidup bersama Banjir di Singas, Papua Nugini


Jessica Mercer, Departemen Geografi Manusia, Divisi Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup dan
Kehidupan, Universitas Macquarie University, Sydney, New South Wales, Australia
Jessica-mercer@hotmail.com

Filipina: Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem


Peringatan Banjir Kota Dagupan
Lorna P. Victoria, Pusat Kesiapsiagaan Bencana (Center for Disaster Preparedness)
Oyvictoria@yahoo.com

Filipina: Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung


Berapi Mayon
Gerardine Cerdena, Yayasan Dios Mabalos Po

Filipina: Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan
Batanes, Filipina
Noralene Uy, Universitas Kyoto
noralene.uy@ky7.ecs.kyoto-u.ac.jp
Rajib Shaw, Universitas Kyoto
shaw@global.mbox.media.kyoto-u.ac.jp

Kepulauan Solomon: Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan


Solomon tahun 2007
Brian G. McAdoo, Vassar College, Poughkeepsie, New York
brmcadoo@vassar.edu

Sri Lanka: Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi
Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri
Lanka
C.M. Madduma Bandara, Profesor Emeritus, Universitas Peradeniya, Sri Lanka
madduband@yahoo.com

103
Thailand: Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus
Kaum Moken, Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand
Narumon Arunotai, Universitas Chulalongkorn, Thailand
hnarumon@chula.ac.th

Vietnam: Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di


Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam
Nguyen Ngoc Huy, Universitas Kyoto
huy.nguyen@ky7.ecs.kyoto-u.ac.jp
Rajib Shaw, Universitas Kyoto
shaw@global.mbox.media.kyoto-u.ac.jp

Sekretariat Asia dan Sekretariat Jenewa Laboratorium Uni Eropa


Pasifik, Bangkok isdr@un.org Lingkungan Hidup dan Delegasi Komisi Eropa
c/o UNESCAP - UN www.unisdr.org Penanggulangan Bangkok, Thailand
Conference Centre Bencana, Jurusan Pasca Tel: +66 2305
Building Sekretariat Afrika, Sarjana Ilmu-ilmu 2600/2700
Rajdamnern Nok Nairobi Lingkungan Hidup, Fax: + 66 2255 9113
Avenue isdr-africa@unep.org UNIVERSITAS website:
Bangkok 10200 - www.unisdr.org/africa KYOTO http://ec.europa.eu/euro
Thailand Yoshida Honmachi, peaid/index_en.htm
Tel: +66 (0)2 288 2745 Sekretariat Amerika, Sakyo-ku,
isdr-bkk@un.org Panama Kyoto 606-8501,
eird@eird.org JAPAN
www.eird.org Tel/ Fax: 81-75-753-
5708 (Langsung)
Sekretariat Eropa, Web:
Jenewa http://www.iedm.ges.ky
albrito@un.org otou.ac.jp/
www.unisdr.org/europe

Sekretariat Asia Barat


dan Afrika Utara,
Cairo
info@unisdr-wana.org
www.unisdr-wana.org

104