Anda di halaman 1dari 25

Kata Pengantar

Rasa puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah mata kuliah Maternitas.

Shalawat dan salam penulis kirimkan kepada arwah junjungan umat yakni nabi besar
Muhammad SAW yang telah berjuang untuk membawa umatnya dari zaman kebodohan hingga
zaman yang berilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini.

Penulis juga mengucapkan rasa terima kasih kepada orang tua yang menyayangi dan
memberi dukungan kepada penulis hingga saat sekarang ini dapat duduk di bangku jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Kemudian dosen pembimbing atas saran-sarannya serta teman-
teman yang telah membantu proses pembuatan makalah. Penulis minta maaf apabila dalam
penyusunan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan.
Akhirnya penulis ucapkan sekian dan terima kasih.
Daftar Isi

Kata Pengantar 1

Daftar isi 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 3

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penulis 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Good Governance 5

2.2 Prinsip-Prinsip Pokok Good And Clean Governance


6

2.3 Good And Clean Governance dan Kontrol Sosial 14

2.4 Good and Clean dan Gerakan Anti Korupsi


14

2.5 Tata Kelola Kepemerintahan Yang Baik 14

2.6 Reformasi Birokrasi 15

2.7 Pilar-pilar Good Governance


18

2.8 Manfaat Tata Pemerintahan Yang Baik 20

2.9 Ciri-Ciri Tata Pemerintahan yang Baik dan Buruk 21

BAB II PENUTUP

3.1 Kesimpulan 22

Daftar Pustaka 23

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Endometriosis merupakan kelainan ginekologik jinak yang sering diderita perempuan


usia produksi yang ditandai dengan adanya gladula dan stroma endometrium diluar letaknya
yang normal. Endometriosis yang pertama kali diidentifikasi pada pertengahan abad ke 19 (Von
Rockintansky,1860). Endometriosis sering didapatkan pada peritonium pubis tetapi juga
didapatkan pada ovarium, sepum rektovaginalis,ureter,tetapi jarang pada vesika urinaria,
perikardium,dan pleura. Endometriosis merupakan penyakit yang penyembuhan tergantung pada
hormon estrogen.

Endometriosis uteri adalah suatu keadaan dimana jaringan endometriosis yang masih
berfungsi terdapat diluar kavum uteri, Jaringan ini yang terdiri dari atas kelenjar-kelenjar dan
stroma terdapat didalam miometrium ataupun diluar uterus, bila jaringan endometrium terdapat
didalam miometrium disebut adenomiosis. Endometriosis paling sering ditemukan pada
perempuan yang melahirkan diatas usis 30 tahun disertai dengan gejala menoragia dan
dismenorea yang progresif. Kejadian adenomiosis bervariasi antara 8- 40% dijumpai pada
pemeriksaan diri semua spesimen histerektomi. Dari 30% pasien ini ditemukan adanya
endometrium dalam rongga peritoneum secara bersamaan.

Induksi endometriosis sulit dikuantifikasi oleh karena sering gejalanya asimtomasis dan
pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakan diagnosis sensitifitasnya rendah. Perempuan
dengan Endometriosis bisa tanpa gejala, subfertil atau menderita rasa sakit pada daerah pelvis
terutama pada waktu menstruasi (dismenorea). Pada perempuan endometriosis yang asimtomatis
pravelensinya sekitar 2 sampai 22% tergantung pada polusinya. Oleh karena berkaitan dengan
inertilitas dan rasa sakit dirongga panggul prevalensinya bisa meningkat 20 sampai 50%.

1.2 Tujuan Penulis

Tujuan umum

Memahami apa yang disebut endometrium,lapisan-lapisannya, perubahan-perubahan


yang terjadi selama siklus haid, siklus ovarium, hormone-hormon yang mengontrol siklus
hadi, perubahan pola mucus serviks dan perubahan-perubahan siklus lainnya.

Tujuan khusus

1. Mendefisikan apa yang disebut endometrium


2. Menjelaskan perubahan-perubahanpada endometrium selama siklus haid
3. Menjelaskan hormone-hormon yang mengontrol siklus haid
4. Menjelaskan apa yang disebut siklus ovarium
5. Menjelaskan perubahan-perubahan mucus serviks selama siklus haid
BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Endometriosis

Endometriosis adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya focus jaringan


endometrium di panggul (ovarium, kavum douglas, ligamentum uterine, tuba fallopi, dan septum
rektovagina), kadang-kadang di bagian rongga peritoneum yang lebih jauh, serta disekitar
umbilicus. ( Robbins. 2007 : 771)

Endometrium adalah lapisan epitel yang melapisi rongga rahim. Permukaannya terdiri
atas selapis sel kolumnar yang bersiliadengan kelenjer sekresi mukosa rahim yang berbentuk
invaginasi ke dalam stroma selular. Kelenjar dan stroma mengalami perubahan yang siklik,
bergantian antara pengelupasan antara pengelupasan dan pertumbuhan baru setiap sekitar 28
hari. Ada dua lapisan yaitu fungsional letaknya superfisional yang akan mengelupas setiap bulan
dan lapisan basal tempat lapisan fungsional berasal yang tidak ikut mengelupas. Epitel lapisan
fungsional menunjukkan prubahan proliferasi yang aktif setelah periode hadi sampai terjadi
ovulasi, kemudian kelenjer endometrium mengalami fase sekresi. Kerusakan yang permanen
lapisan basal akan menyebabkan amenore. Kejadian ini dipakai sebagai dasar teknik ablasi
endometrium untuk pengobatan menorragi. Perubahan normal dalam histology endometrium
selama siklus hadi ditandai dengan perubahan sekresi dari hormone steroid ovarium. Jika
endometrium terus terpapar oleh stimulasi estrogen, atau eksogen akan menyebabkan hiperplesi.
Hiperplasi yang benigna bisa berubah menjadi maligna.(Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Keempat
2016 : 130)

Aspek evolusi

Manusia merupakan salah satu spesies yang mempunyai siklus reproduksi bulanan, atau
setiap 28 hari. Siklus haid sebagai akibat pertumbuhan dan pengelupasan lapisan endometrium
uterus. Pada akhir fase haid endometrium menebal lagi atau fase proloferasi. Setelah ovulasi
pertumbuhan endometrium berhenti, kelenjer atau glandula menjadi lebih aktif atau fase sekresi.
Perubahan endometrium dikontrol oleh siklus ovarium. Rata-rata siklus 28 hari dan terdiri atas :
(!) fase folikular (2) ovulasi (3) pasca ovulasi atau fase luteal. Jika siklusnya memanjang, fase
folkularnya memanjang, sedangan fase lutealnya setiap 14 hari.Siklus haid normal karena (1)
adnya hipotalamus pituilari ovarium endokrin axis (2) adanya respon folikel dalam ovarium dan
(3) fungsi uterus. (Prawirahardjo, Sarwono. Edisi Keempat 2014 : 131)

Hormon yang mengontrol siklus haid

Pematangan folikel dan ovulasi dikontrol oleh hipotalamus pituilari ovarium endokrin
axis. Hiptalamus mengontrol siklus, tetapi ia sendiri dapat dipengaruhi oleh senter yang lebih
tinggi di ot, misalnya kecemasan dan stress dapat mempengaruhi siklus. Hiptalamus memacu
kelenjer hipofisis dengan menyekresi gonadotropin releasing hormone (GnRH) suatu dekan
peptide yang disekresi secara pulsatil oleh hipotalamus.
Pulsasi sekitar 90 menit, menyekresi GnRH melalui pembuluh darah kecil disistem portal
kelenjer hipofisis ke hipofisis anterior, gonadotropin hipofisis memacu sintesis dan pelepasan
follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), meskipun ada dua
gonadotroopin, ada satu relealising hormone untuk keduanya.

FSH adalah hormone glikoprotein yang memacu pematangan folikel selama fase folikular
dari siklus. FSH juga membantu LH untuk memacu sekresi hormone steroid terutama estrogen
oleh sel granulose dari folikel matang.

LH juga termasuk glikoprotein. LH ikut dalam steroidogenesis dalam folikel dan


berperan penting dalam ovulasi yang tergantung pada mid cycle surge dari LH. Produksi
progesterone oleh korpus luteum juga dipengaruhi oleh LH.

FSH dan LH dan dua hormone glikoprotein lainnya yaitu thyroid stimulating hormone
(TSH) dan human chorionic gonadotropin (Hcg) dibentuk olhe dua subunit protein , rantai alfa
dan beta. Aktivitas siklik dalam ovarium atau siklus ovarium dipertahankan oleh mekanisme
umpan balikyang bekerja antara ovarium, hipotalamus dan hipofisi. (Prawirahardjo, Sarwono.
2008 : 131)

Siklus ovarium

Hari ke 1-8

Pada Awal siklus, kadar FSH dan LH lebih tinggi dan memacu perkembangan 10-28 hari
folikel dengan satu folikel dominan. Folikel dminan tersebut tampak pada fase mid filicular, sisa
folikel mengalami atresia. Relative tingginya kadar FSH dan LH merupakan trigger turunnya
estrogen dan progesterone pada akhir siklus. Selama dan segera sedudah haid kadar estrogen
relative rendah tapi mulai meningkatkan karena terjadi perkembangan folikel.

Hari ke 9-14

Pada saat ukuran folikel meningkat lokalikasi akumulasi cairan tampak sekitar sel pada
mukosa dan menjadi konfluen, memberikan peningkatan pengisian cairan diruangan yang
disebut antrum yang merupakan transformasi folikel primer menjadi sebuah grafun folikel
dimana oosit menempati posisi eksetrik, dikellingi oleh 2 sampai lapis sel granulose yang disebut
cumulus ooforus.

Perubahan hormone hubungannya dengan pematangan folikel adalah ada kenaiakan yan
progresif dalam produksi estrogen (terutama estradiol) oleh sel granulose dari folikel yang
berkembang.mencapai puncak 18 jam sebelum ovulasi. Karena kadar estrogen meningkat,
pelepasan kedua gonaditropin ditekan( umpan balik negative)yang beguna untuk mencegah
hiperstimulasi dari ovarium dan pematangan banyak folikel.Sel granulose juga meghasilkan
inhibin dan mempunyai implikasi sebagai factor dalam mencegah jumlah folikel yang masing-
masing. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Keempat 2016 : 132)
Ovulasi

Ovulasi adalah pembesaran folikel secara ceoat yang diikuti dengan protusi dengan
permukaan korteks varium dan pecahnya folikel dengan ekstrusinya oosit yang ditempel oleh
cumulus oofurus. Pada beberapa perempuan saat ovulasi dapat dirasakan dengan adanya nyeri
difosa iliaka. Pemeriksaan USG menunjukkan adanya rasa sakit yang terjadi sebelum folikel
pecah.

Perubahan horomon : estrogen meningkatkan sekresi LH (melalui hipotalamus)


mengakibatkan meningkatnya produksi androgen dan estrogen (umpan balik positif). Segera
sebelum ovulasi terjadi dalam 8 jam dari mid-cycle surge LH. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi
Keempat 2016 : 134)

Fase Lateral

Hari ke 15-25

Sisa folikel tertahan dalam ovarium dipentrasi oleh kapilar dan fibroblast dari teka. Sel
granulose mengalami letuinasi menjadi korpus luteu. Korpus luteum merupakan sumber utama
hormone steroid seks, estrogen dan progesterone disekresi oleh ovarium pada fase pasca-ovulasi.
Kospus luteum dalam ovarium dipenitrasi progesteron dan estradiol. Kedua hormon tersebut
diproduksi dari perkusor yang sama.

Selama fase luteal kadar gonatotropin mencapa nadir dan tetap rendah sampai terjadi
regresi korpus luteum yang terjadi pada hari ke 26-28. Jika terjadi konsepsi dan impluntasi ,
korpus luteum tidak mengalami regresi karena dipertahakan oleh gonadotrofin yang dihasilka
oleh trofoblas. Jika konsepsi dan implantasi tidak terjadi korpun luteum akan diikuti disikuti
peningkatan adar gonadotropin untuk inisiasi siklus berikutnya. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi
Keempat 2016 : 134)

Siklus uretra

Dengan diproduksinya hormone steroid secara ovarium secara siklik akan menginduksi
perubahan penting pada uterus, yang melibatkan endometrium dan mukosa servis.

1. Endometrium

Endometrium terdiri atas 2 lapis, yaitu lapisan superficial yang akan mengelupas saat
haid dan lapisan basal yang tidak ikut dalam proses haid, tetapi ikut dalam proses regenerasi
lapisan superficial untuk siklus berikutnya. Batas antara 2 lapis tersebutditandai dengan
perubahan dalam karakteristik arteriola yang memasok endometrium. Basal endometrium kuat,
tapi karena pengaruh hormon menjadi berkeluk dan memberikan kesempatan a, spiralis
berkembang. Susunan anatomi terebut sangat penting dalam fisiologi pengelupasan lapisan
superfisial endometrium. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Keempat 2016 : 134)
1) Fase proliferasi

Selama fase folikular di ovarium, endometrium dibawah pengaruh estrogen. Pada


akhir haid proses regenerasi berjalan dengan cepat. Saat ini disebut fase proliferasi,
kelenjer tubular yang tersusun tapi sejajar dengan sedikit sekresi.

2) Fase sekretoris

Setelah ovulasi, produksi progesterone menginduksi perubahan sekresi


endometrium. Tampak sekretori dari vacuole dalam epitel kelenjer dibawah nucleus,
sekresi maternal ke dalam kelenjer lumen kelenjer dan menjadi berkelok-kelok.
(Prawirahardjo, Sarwono. Edisi Keempat 2016 : 135)

3) Fase haid

Normal fase luteal berlangsung selama 4 hari. Pada akhir fase ini terjadi regresi
korpus luteum yang ada hubungannya dengan menurunnya produksi estrogen dan
progesterone ovarium. Penurunan yang diikuti oleh kontraksi spasmodic yang intens dari
bagian arteri spiralis kemudian endometrium menjadi iskemik dan nekrosis , terjadi
pengelupasan lapisan superficial endometrium dan terjadilah pendarahan.

Vasospasmus terjadi karena adanya produksi local prostaglandin. Prostaglandin juga


meningkatkan kontraksi uterus bersamaan dengan aliran darah haid yang tidak membeku
karena adanya aktivitas fibrinolitik local dalam pembuluh darah endometrium yang
mencapai puncaknya saat haid.

Mucus serviks

Pada perempuan ada kontuinitas yang langsung antara alat genital bagian bawah dengan
kavum peritonei. Kontiniutas ini sangat penting untuk akses spermatozoon menuju ke ovum ,
fertilisasi terjadi dalam tuba falopii. Ada resiko infeksi yang asendens, tetapi secara alami resiko
tersebut divegah dengan adanya mucus serviks sebagai barier yang permeabilitasnya bervariasi
selama siklus haid.

1. Awal fase folikular mucus serviks viskus dan impermeable


2. Akhir fase folikular kadar estrogen meningkat memacu perubahan dan komposisi
mucus, kadar airnya meningkat secara progresif, sebelum ovulasi terjadi mucus servik
banyak mengandung air dan mudah dipenetrasi oleh spermatozoon. Perubahan ini
dikenal dengan istilah “ spinnbarkheit”
3. Setelah ovulasi progresteron diproduksi oleh korpus luteum yang efeknya berlawanan
dengan estrogen, dan mucus serviks menjadi impermeable lagi, orifisium uteri
eksternumkontraksi.
4. Perubahan-perubahan ini dapat dimonitor oleh perempuan sendiri jika ingin
menggunakan “ rhythm method” kontrasepsi. Dalam klinik perubahan ini dapat
dimonitor dengan memeriksa mucus serviks dibawah mikroskop tampak gambaran
seperti daun pakis atau fern-like pattern yang parallel dengan kadar estrogen sirkulasi,
maksimum pada saat sebelum ovulasi, setelah itu perlahan-lahan hilang.

2. Perubahan-perubahan siklik lain

Meskipun tujuan perubahan siklik pada hormone ovarium berpengaruh pada alat
genital, hormone tersebut ikut sirkulasi keseluruh tubuh dan berpengaruh pada organ-organ lain.

( Prawirohardjo, Sarwono.Edisi Keempat 2016:136)

1) Suhu badan basal

Kenikan suhu badan basal sekitar 1 derajat F atau 0.5 derajat C terjadi pada saat ovulasi
dan terus bertahan sampai terjadi haid. Hal ini disebabkan oleh efek termogenik
progesterone pada tingkat hipotalamus. Bila terjadi konsepsi kenaikan suhu badan basal
akan dipertahankan selama kehamilan. Efek yang sama jika diinduksikan dengan
pemberian progesterone.

2) Perubahan pada mamae

Kelenjer mamae manusia sangat sensitive terhadap pengaruh estrogen dan progesterone.
Pembesaran mamae merupakan tanda pertama puberitas, merupakan respon peningkatan
estrogen ovarium. Estrogen dan progesterone berefek sinergis pada mamae selama siklus
pembesaran mamae pada fase luteal sebagai respon kenaikan progesterone. Pembesaran
mamae disebabkan oleh perubahan vascular. Bukan karena perubahan kelenjar.

( Prawirohardjo, Sarwono.Edisi keempat 2016 :137)

3) Efek psikologis

Pada beberapa perempuan ada perubahan mood selama siklus haid. Pada fase luteal akhir
ada peningkatan labilitas emosi. Perubahan ini langsung karena penurunan progesterone .
meskipun demikian, perubahan mood tidak sinkron dengan fluktuasi hormone.

Beberapa hal yang penting :

1. Pada saat permulaan siklus, kadar FSH dan LH relative tinggi dan merangsang
perkembangan 10-20 folikel. Sebuah folikel dominan yang masuk memproduksi
estrogen. Sisanya mengalami atresia. Pada saat kadar estrogen naik, terjadi
penekananpelepasan kedua gonadotropin (umpan balik negative) sehingga
mencegah terjadinya hiperstimulasi ovarium dan pemasakan banyak folikel.

2. Estradiol praovulasi yang tinggi memacu umpan balik positif mid-cycle surge
LH dan FSH yang dalam gilirannya memacu ovulasi. Sisa Folikel matang
membentuk korpus luteum sumber utama progresteron

3. Jika konsepsi dan implantasi terjadi, korpus luteum dipertahankan oleh


gonadotropin yang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan implantasi tidak
terjadi, korpus luteum mengalami regresi, kadar hormone steroid turun, kadar
gonadotropin naik dan terjadi haid ( Prawirohardjo, Sarwono.Edisi Keempat,
2016 :138)

Gejala knilis

Terdapat dua masalah yang sering terjadi keluhan perempuan dengan endometriosis, yaitu
dan infestilitas atau kesulitan punya anak. Berdasarkan eksplorasi yang dilakukan beberapa studi
pada penderita endometriosis dihasilkan suatu daftar panjang keluhan dan tanda endometriosis
antara lain nyeri haid, nyeri panggul, nyeri senggama, keluhan intestinal siklik, capai/kelelahan
dan infertilitas. Keluhan nyeri tersebut biasanya berhubungan dengan siklus haid. Tergantung
pada lokasi lesi endometriosis tetapi tidak pada stadium (1,3). Kadang kala keluhan diatas tidak
spesifik karena tumpang tindih dengan kedaan lain, missal penyakit radang panggul, irritable
bowel syndrome, interstitial cystitis dan gangguan otot tulang.

Keluhan endomestriosis :

1. Nyeri haid (disminore)


2. Nyeri panggul

3. Nyeri senggama (dispareuni)

4. Nyeri saat ovulasi

5. Nyeri berkemih

6. Nyeri defekasi terutama saat haid

7. Infertilitas/kesulitan punya anak

(Hendarto, Hendy. 2016:23)

2.2 Patofisiologi

Pertumbuhan endometriosis menembus membrans basalis. Pada pemeriksaan histologi


sebagian menunjukan pertumbuhan endometrium menyambung kedalam fokus adenomiosis ,
sebagian ada didalam miometrium dan sebagian lagi ada yang tidak tampak adanya hubungan
antara permukaan endometrium dengan fokus adenomiosis. Hal ini mungkin disebabkan oleh
hubungan ini terputus oleh adanya fibrosis. Sering dengan perkembanganya adenomiosis, uterus
membesar secara di fus dan terjadi hipertrofi otot polos. Kadang-kadang elemen kelejar berada
dalam lingkup tumor otot polos yang menyerupai mioma. Kondisi ini disebut sebagai
adenomioma. Fundus uteri merupakan tempat yang paling umum dari adenomiosis. Pola
mikroskopik dijumpai adanya pulau-pulau endometrium yang tersebar dari miometrium.
Endometrium ektopik dapat memperlihatkan adanya perubahan seiring dengan adanya siklus
haid, umumnya jaringan ini bereaksi dengan estrogen tapi tidak dengan progesteron. Penyebab
adenomiosis sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Kemungkinan disebabkan adanya
erobsi dari membrana basalis dan disebabkan oleh trauma berulang ulang, persalinan berulang,
operasi sesar atau kuratase. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 240)

2.3 Diagnosi/ Gejala

Seiring dengan pertambah beratnya adenomiosis gejala yang timbul adalah.

 Sebanyak 50% mengalami menoragia kemungkinan disebabkan oleh gangguan


kontraksi miometrium akibat adanya fokus-fokus adenomiosis ataupun makin
bertambahnya vaskularisasi didalam rahim
 Sebanyak 30% dari pasien mengeluh dismenorea ini semakin lama semakin berat, hal
ini akibat gangguan kontraksi miometrium yang disebabkan oleh pembengkakan pra
haid dan perdarahan haid dididalam kelenjar endometrium.
 Subfertilitas. Dengan makin beratnya ademiosis biasanya pasien makin sulit
mendapatkan keturunan.
 Pada pemerikasaan dalam dijumpai rahim yang membesar secara merata . Rahim
biasanya nyeri tekan tekan dan sedikit lunak bila dilakukan pemeriksaan bimanual
seblum pra haid(tanda Halban). (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 240)

2.4 Pemeriksaan

1) Ultrasonografi(USG)

Dengan melakukan USG kita dapat melihat adanya uterus yang membesar secara
difus dan gambaran penebalan dinding rahim terutama pada bagian posterior dengan fokus-
fokus ekogenik, rongga endometrios eksentrik, adanya penyebaran dengan hiperokoik,
kantung-kantung kistik 5-7 mm yang menyebar menyerupai sarang lebah

2) MRI

Terlihat adanya penebalan dinding miometrium yang difus

3) Pemeriksaan patologi anatomi

Diagnosis pasti adenomiosis adalah pemeriksaan patologi dari bahan spesimen


histetektomi ditemukan adanya pulau-pulau endometrium yang tersebar dalam miometrium.
Konsistomiosis uterus keras dan tidak beraturan pada potongan permukaan terlihat cembung
dan mengeluarkan serum, jaringan berpola trabekula atau gambaran kumparan dengan isi
cairan kuning kecoklatan atau darah.

Penanganan adenomiosis

Secara medik agak sulit . Bila pasien masih ingin mempunyai anak dan usia muda
maka pertimbangan yang perlu dilakukan adalah melakukan pengobatan hormonal GnRH
agonis selama 6 bulan dengan atau disertai penangan bedah reseksi minimalisasai jaringan
adenomiosis dilanjulatkan dengan program teknologi berbantu. Penanganan secara medik
sehubungan dengan keluahan perdarahan atau nyeri dapat dilakukan dengan:

 Pengobatan harmonal GnRH agonis


 Diberikan selama 6 bulan, tapi ini bersifat sementara dalam beberapa waktu
kemudian akan kambuh kembali
 Pengobatan dengan suntikan progsteron
Pemberian suntikan progesteron seperti suntikan KB dapat membantu mengurangi
gejala nyeri dan pendarahan
 Penggunaan IUD yang mengandung hormon progesteron
Penelitian menunujukan penggunaan IUD yang mengandung hormon dapat
mengurangi gejala dismenorea dan meneregia seperti mirena yang mengandung
lefonolgestrel yang dilepaskan secara perlahan lahan kedalam rongga rahim
 Aromatase inhibitor
Fungsinya menghambat enzim aromatase yang menghasilakan esterogen seperti
anastrazole dan letrozole.
 Histerektomi
Dilakukan pada perempuan yang tidak membutuhkan funsgi reproduksi
(Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 241)

Prognosis
Adenomiosi merupakan suatu penyakit yang progresif selam masa reproduksi dan akan
mengalami regresi bila memasuki masa menopose. Tidak mempunyai kecendrungan menjadi
ganas. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 242)

2.5 Endomentriosis Eksterna


Endomentriosis eksterna adalah suatu kelainan di mana dijumpai adanya kelenjar dan
stroma endometrium diluar rongga uterus. Endometriosis eksterna terutama tumbuh di rongga
pelvik,ovarium,kavum Douglasi dan jareang seklai dapat tumbuh sampai ke rektum dan kandung
kemih. Ada yan dapat timbul diluar rongga panggul (ekstrapelvik)sampai ke rongga
paru,pleura,umbilikus. Kejaidan endometriosis 10-20% pada usia reproduksi perempuan. Jarang
sekali terjadi pada perempuan yang haidnya banyak dan lama,perempuan yang menarkenya pada
usia dini,perempuan dengan kelainan sealuran Mulleri, lebih sering dijumpai pada ras Asia
daripada Kaukasia. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 242)

1. Patofisiologi
1) Teori refleks haid dan implementasi sel endometrium di dalam rongga peritomium, hal
ini pertama kali diterangkan oleh Jhon Sampson (1921). Teori ini dibuktikan dengan
ditemukan adanya darah haid dalam rongga peritonium pada waktu haid dengan
laparaskopi, dan sel endometrium yang ada dalam haid pada sel menotel peritoneum
2) Teori koelemik metaplasia, di mana akibat stimulus tertentu terutama hormon, sel mesotel
dapat mengalami perubahan menjadi sel endometrium ektopik. Teori ini terbukti dengan
ditemukannya endometriosis pada perempuan pramenarke dan pada daerah yang tidak
berhungan langsung dengan refluks haid seperti dirongga paru disamping
itu,endometrium eutopik adalah dua bentuk yang jelas berbeda baik secara morfologi
maupun fungsional.
3) Penyebaran melalui aliran darah (hematogen) dan limfogen
4) Pengaruh genetik . Pola penurunan penyakit endometriosis terlihat berperan secara
genetik. Risiko menjadi 7 kali lebih besar ditemukan endometriosis pada ibu atau atau
saudara kandung
5) Patoimunologi
Reaksi abnormal imunologi yang tidak berusaha membersihkan refluks haid dalam
rongga peritoneum, malah memfasilitasi terjadinya endometriosis Apoptosis sel-sel
endometrium ektopik menurun. Pada endometriosis ditemukan adanya peningkatan
junmlah makrofag dan monosis didalam cairan peritoneum, yang teraktivitasi
menghasilkan faktor pertumbuhan dan sitokin yang merangsang tumbuhnya endometrium
ektopik. Dijumpai adanya penigkatan aktivitas aromatase intrinsik pada sel endometrium
ektopik terhadap progesteron menurun. Peningkatan sekresi molekul neurogenik seperti
nerve growth factor dan reseptornya yang merangsang tumbuhnya syaraf sensoris pada
endometrium. Pengangkatan interleukin-1(II-1) dapat meningkatkan perkembangan
endometriosis dan merangsang pelepasan faktor angiogenik (VEGF), intelerleukin-6,
interleuikin-8 dan merangsang pelepasan intercelular adhesion molecule-1 (ICAM-1)
yang membantu sel endometrium yang refluks ke dalam rongga peritoneum terlepas dari
pengawasan imunologis. Interleukin-8 merupakan suatu sitokin angiogenik yang kuat.
Interleukin-8 merangsang perlengketan sel stroma sendometrium ke protein matrix
intracelular,meningkatan aktivitas matrix metaloproteinase yang membantu implantasi
dan pertumbuhan endometrium ektopik. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 :
242)

2. Diagnosis/Gejala Klinik

1) Dismenorea

Nyeri haid yang disebakan oleh reaksi peradangan akibat sekresi sitokin dalam rongga
peritonium,akibat pendarahan lokal pada sarang endometrium dan adanya infiltrasi
endometriosis ke dalam syaraf pada rongga panggul.

2) Syok Pelvis

Akibat perlengkatan, lama –lama dapat mengakibatkan nyeri pelvik yang kronis, rasa
nyeri sampai bisa menyebar jauh ke dalam panggul,punggung dan paha dan bahkan
menjalar sampai rektum dan diare. Duapertiga perempuan dengan endometrium
mengalami nyeri intermenstrual.

3) Dispareunia

Paling sering timbul terutama bila endometriosis sudah tumbuh disekita Kavum Douglasi
dan ligamentum sakroterinas dan terjadi perlengketan sihingga uterus dalam posisi
retrofleksi

4) Diskezia

Keluah sakit buang air besar bila endometriosis sudah tumbuh dalam dinding
rektosigmoid dan terjadi hematokezia pada saat siklus haid

5) Subfertilitas

Perlengketan pada ruang pelvis yang diakibatkan endometriosis dapat mengganggu


pelepasan oosit dari ovarium atau menghambaat perjalanan ovum untuk bertemu dengan
sperma.
Endometiosis meninngkatkan volume cairan peritoneal, peningkatan konsentrasi
makrofag yang teraktivasi, prostagladin, interleukin-1, rumor nekrosis faktor dan protase.
Cairan peritonerum mengandung inhibitor penangkap ovum yang menghambat interaksi
normal fimbrial kumulus. Perubahan ini dapat memberikan efek bruk bagi oosit, sprma,
embrio, dan fungsi tuba. Kadar tinggi nitrix oksidase akan memperburuk motilitaas
sperma, implantasi, dan fungsi tuba.

Antibodi IgA dan IgG dan limfositdapat meningatkan di endometrium perempuan


yang terkena endometriosis. Abnormalitas ini dapat mengubah reseptvitas endometrium
dan implantasi embrio. Autoantibodi terhadap antigen endometrium meningkat dalam
serum, implan endometrium, dan cairan peritoneum dari penderit endometriosis. Pada
penderita endometrium dapat terjadi gangguan hormonal (hyperprolaktinemia) dan
ovulasi, termasuk sindroma luteinized unruptured follicle(LUF), defek fase luteal,
pertumbuhan folikel abnormal, dan lonjakan LH dini. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi
Ketiga, 2014 : 243)

3. Pemeriksaan

1) Ultrasonografi ( USG)

USG hanya dapat digunakan untuk mendiagnosis endometriosis ( kista endometriosis


> 1 cm, tidak dapat digunakan untuk melihat binti – bintik endometriosis ataupun
perlengketan. Dengan menggunakan USG transvaginal lkita dapat melihat gambaran
karakteristik kista endometriosis dengan bentuk kistik dan adanya interval eko
didalam kista.

2) Megnetic resonance imaging (MRI)

MRI tidak menawarkan pemerksaan yang lebih superior dibandingkan dengan USG.
MRI dapat digunakan untuk melihat kista, massa ekstraperitoneal, adaanya onvasi ke
usus dan septum rektovagina.

3) Pemeriksaan serum CA 125

Serum CA 125 adalah pertanda tumor yang sering digunakan pada kanker ovarium.
Pada endometriosis juga terjadi peningkatan kadar CA 125. Namun, pemeriksaan ini
mempunyai nilai sensitifitas yang rendah. Kadar CA 125 juga meningkat pada
keadaan infeksi radang panggul, mioma, dan trimester awal kehamilan. CA 125 dapat
digunakan sebagai monitor prognostik pascaoperatif endometriosis bila nilainya
tinggi berarti prognostik kekambuhannya tinggi. Bila didapati CA 125 > 65 m IU / ml
praoperatif menunjukkan derajat beratnya endometriosis.
4) Bedah laparoskopi

Laparoskopi merupakan alat diagnosis endometriosis, lesi aktif yang baru berwarna
merah terang, sedangkan lesi aktif yang sudah lama berwarna merah kehitaaman. Lesi
nonaktif terlihat berwarna putih dengan jaringan parut. Pada endometriosis yang
tumbuh di ovarium dapat terbentuk kista yang disebut endometrioma. Biasanya isinya
berwarna coklat kehitaman sehingga juga diberi nama kista coklat. Sering
endometriosis ditemukan pada laparoskopik diagnostik, tetapi pasien tidak mengeluh.

5) Pemeriksaan patologi anatomi

Pemeriksaan pasti dari lesi endometriosis adalah didapatkan adanya kelenjar dan
stroma endometrium.

Klasisfikasi

Klasifikasi tingkat endometriosis didasarkan pada revised american fertility society


(AFS) yang diperbaharui. Namun kelemaahan pembagian ini adalah derajat beratnya
klasifikasi endometriosis tidak selalu merujuk beratnya derajat nyeri yang
ditimbulkan aataupun efek infertilitanya.

(Prawirahardjo, Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 245)

4. Penanganan

1) Penanganan medis

Pengobatan endometriosis sulit mengalami penyembuhan karena adanya resiko


kekambuhan. Tujuan pengobatan endometriosis lebih disebabkan oleh akibat
endometriosis itu, seperti nyeri panggul dan infertilitas.

2) Pengobatan simtomatik

Pengobatan dengan memberikan anti nyeri seperti paracetammo 500 mg 3 kali


sehari, non stervidal anti imflammatory drugs (NSAID) seperti ibuprofen 400 mg 3
kali sehari, asam mefenamat 500 mg 3 kali sehari. Tramadol ,paracetamol dengan
code in, GABA inhibitor seperti gaba pentin.

3) Kontrasepsi oral

Penangan terhadap endometriosis dengan pemberian pil kontrasepsi dosis rendah.


Kombinasi monofasik (1kali sehari dalam 6-12 bulan ) merupakan pilihan pertama
yang sering dilakukan untuk menimbulkan kondisi kehamilan palsu dengan
timbulnya amenorea dan desisualisasi jaringan endometrium Kontrasepsi oral
merupakan pengobatan dengan biaya lebih rendah dibandingkan dengan yang
lainnya dan bisa sangat membantu terrhadap penanganan endometriosis jangka
pendek, dengan potensi keuntungaan yang bisa dirasakan jangka panjang.

4) Progestin

Progestin memungkinkan efek anti endometriosis dengan menyebabkan


desisualisasi awal pada jaringan endometrium dan diikuti dengan atrofi . progestin
bisa dianggap sebagai pilihan utama terhadap penanganan endometriosis karena
efektif mengurngi rasa sakit seperti danazol, lebih murah tetapi mempunyai efek
samping lebih ringan daripada danazol. Hasill dari pengobatan telah dievaluasi pada
3 -6 bullan setelah terapi. Medroxyprogesteron acetate (MPA) adalah hal yang
paling sering diteliti dan sangat efektif dalam meringankan rasa nyeri. Dimulai
dengan dosis 30 mg per hari dan kemudian ditingkatkan sesuai dengan respons
klinis daan pola perdarahan. MPA 150 mg yang diberikan intramuskular setiap 3
bulan, juga efektif terhadap penanganan rasa nyeri pada endometriosis. Pengobatan
dengan suntikan progesteron, pemberian suntikan progesteron depot seperti
suntikan KB dapat membantu mengurangi gejala nyeri dan perdarahan. Efek
samping progestin adalah peningkatan berat badan, perdarahan lecut, dan nausea.
Pilihan lain dengan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang
mengandung progesteron, levonorgestrel,dengan efek timbulnya amenorea dapat
digunakan untuk pengobatan endometriosis. Strategi pengobatan lain meliputi
didrogestron (20-30 mg/ hari baik itu terus menerus pada hari ke 5-25) lenstreno 10
mg/ hari. Efek samping progestin meliputi nausea, bertambahnya bb, depresi, nyeri
payudara, dan perdarahan leccut.
5) Danazol Cara praktis penggunakan danazol adalah memulai pearwatan dengan 400-
800 mg perhari, dapat dimulai dengan memberikan 200 mg 2 kali sehari selama 6
bulan. Efek samping yang paling umum adalah peeningkatan berat badan, akne,
hirsutisme, vaginetas atrofik, kelelahan, pengeciilan payudara, gangguan emosi,
peningkatan kadar LDL kolesterol dan kolesterol total.
6) Gestrinon
Bekerja sentral dan perifer untuk meningkatkan kadar testosteron dan mengurangi
kadar SHBG mengurangi kadar hormon LH dan menghalangi lonjakan LH.
Amenorea sendiri terjadi pada 50-100% perempuan. Gestrinon diberikan dengan
dosis 2,5-10 mg, 2-3 kali seminggu selama 6 bulan. Efek sampingnya sama dengan
danazol tapi lebih jarang
7) Gonadotropin releasing hormone aagaint (GnRHa)
GnRHa menyebabkan sekresi terus menerusFSH dan LH dengan hipofisa
mengalami disensitisasi dengan menurunnya sekresi FSH dan LH mencapai
keadaan hipogonadotropik hipogonadisme, dimana ovarium tidak aktif sehingga
tidak terjadi siklus haid. GnRHa dapat diberikan intramuskular, subkutan,
intranasal. Biasanya dalam bentuk depot satu bulan ataupun depot tiga bulan. Efek
samping antara lain, rasa semburan panas, vagina kering, kelelahan, sakit kepala,
pengurangan libido, depresi atau penurunan densitas tulang. Berbagai jenis GnRHa
antara lain leuprobide busereline dan gosereline. Untuk mengurangi efek samping
dapat disertai dengan terapi addback, dengan estrogen dan progesteron alamiah.
GnRHa diberikan selama 6-12 bulan.
8) Aromatase inhibitor
Fungsinya menghambat perubahan C19 androgen menjadi C18 estrogen. Aromatase
P450 banyak ditemukan pada perempuan dengan gaangguan organ reproduksi
seperti endometriosis, adenomiosis dan mioma uteri. (Prawirahardjo, Sarwono.Edisi
Ketiga, 2014 : 247-248)

5. Penanganan pembedahan pada endometriosis

1) Penanganan pembedahan konservatif


Pembedahan ini bertujuan untuk mengangkat semua sarang endometriosis
dn melepaskan perlengketan dan memperbaiiki kembli sruktur anatomo reproduksi.
Penanganan pembedahaan dapat dilakukan secara laparatomi ataupun
laparaskopi.penaganan koservatif ini menjadi piliihan pada perempuan yang masih
muda, menginginkan keturunan, menginginkan hormo n reproduksi, endometriosis
ini merupakan suatu panyakit yang lambat progesif, tidak cenderung ganas dan
akan regresi bila menopose.

2) Penanganan pembedahan radikal


Dilakukan dengan histerektomi dan bilateral salvingo-
ooveroktomi.Ditujukan pada perempuan yang mengalami penanganan medis
ataupun bedah konservatif gagal dan tidak membutuhkan fungsi reproduksi. Setelah
pembedahan radikal diberikn terapi subtitusi hormon.

3) Penanganan pembedahan simtomatis


Dialkukan untuk meenghilangkan nyeri dengan presacral neurektomi
Prognosis.Endometriosis sulit disembuhkan kecuali perempuan sudah menopause.
Setelah diberikan penanganan bedah konservatif, angka kesembuhan 10-
20%/tahun.Endometriosis sangat jarang menjadi ganas. (Prawirahardjo,
Sarwono.Edisi Ketiga, 2014 : 249)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ENDOMETRITIS

3.1 Pengkajian

1. Riwayat Kesehatan Dahulu


Pernah terpapar agen toksin berupa pestisida, atau pernah ke daaerah pengolahan katu
dan produksi kertas, serta terkena limbah pembakaran sampah medis dan sampah
perkotaan.

2. Riwayat kesehatan sekarang

a) Dysmenore primer ataupun sekunder

b) Nyeri saat latihan fisik

c) Dispareun

d) Nyeri ovulasi

e) Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada
bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.

f) Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual.

g) Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter.

h) Hipermenorea.

i) Menoragia.

j) Feces berdarah

k) Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi.

l) Konstipasi, diare, kolik

3. Riwayat kesehatan keluarga

Memiliki ibu atau saudara perempuan (terutama saudara kembar) yang menderita
endometriosis.

4. Riwayat obstetri dan menstruasi

Mengalami hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi pendek, darah menstruasi


yangberwarnagelapyangkeluarsebelummenstruasiatau di akhirmenstruasi.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen Biologis

2.
3.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)

1. Nyeri Akut berhubungan Setelah diberikan asuhan Manajemen nyeri


dengan agen biologis keperawatan pasien (198)
dapat mengatasi nyeri
1. Lakukan
Kriteria Hasil : pengkajian
nyeri
Kontrol Nyeri (247) komprehensif
1. Mengenali kapan yang meliputi
nyeri terjadi lokasi,karakteri
stik, onset atau
2. Menggunakan durasi,
tindakan frekuensi,
pnecegahan kualitas
intensitas atau
3. Menggunakan
beratnya nyeri
tindakan
dan factor
pemnggunaan
pencetus
nyeri tanpa
anlgesik 2. Gunakan
strategi
4. Mengenali apa
terapeutik
yang terkait
untuk
dengan gejala
mengetahui
nyeri
pengalaman
Status kenyamanan nyeri dan
:sosiokultural (532) sampaikan
penerimaan
1. Dukungan social pasien terhadap
dari keluarga nyeri
2. Dukungan social 3. Tentukan akibat
dari teman-teman dari
pengalaman
3. Kepercayaan
nyei terhadap
dalam hubungan
kualitas hidup
keluarga
pasien
4. Kepercayaan (misalnya tidur,
dalam hubungan nafsu makan,
denga teman pengertian,
perasaan,
5. Mampu hubungan,
mengkomunikasi performa kerja,
kan kebutuhan. dan tanggung
Tingkat Nyeri (577) jawab peran)

1. Nyeri yang 4. Gunakan


dipaorkan metode
penilaian yang
2. Ekspresi nyeri sesuai dengan
wajah tahapan
perkembangan
3. Menyeringit
yang
4. Kehilangan nafsu memungkinkan
makan untuk
memonitor
5. Mengerang dan perubahan
menangis nyeri dan akan
dapat
membantu
mengidentifika
si factor
pencetus actual
dan potensial
( misalnya
catatan
perkembangan,
catatan harian)

5. Kurangi atau
eliminasi
factor-faktor
yang dapat
mencetuskan
atau
meningkatkan
nyeri
( misalnya
ketakutan,
kelelahan,
keadaan
monoton dan
kurang
pengetahuan.

6. Ajarkan
prinsip-prisip
manajemen
nyeri

7. Dorong pasein
untuk
memonitor
nyeri dan
menangani
nyeri nya
dengan tepat

8. Dorong pasien
untuk
memonitor
nyeri dan
menangani
nyerinya
dengan tepat

9. Ajarkan teknik
non
farmakologi(ter
api relaksasi,
terapi dll)

10. Gali
penggunaan
metode
farmakologi
yang dipaki
pasien saat ini
untuk
menurunkan
nyeri

11. Ajarkan metode


farmakologi
untuk
menguangi
nyeri

12. Dorong pasien


untuk
menggunakan
obat-obatan
adekuat

13. Kolaborasi
dengan pasien
dan tim
kesehatan
lainya untuk
penurunan
nyeri

14. Dukung
istirahat dan
tidur untuk
membantu
penurunan
nyeri

15. Dorong pasien


untuk
mendiskusikan
pengalaman
nyerinya,
sesuai dengan
kebutuhan

16. Libatkan
keluarga dalam
modalitas
penurunan
nyeri, jika
memungkinkan

2
Pathway Endometriosis

Faktor Internal
Faktor ekternal

Genetik (Keturunan) Merokok, Minuman alcohol,


kurang berolahraga, stress

Gen Abnormal
Menstruasi tidak teratur
Kista Endometrosis

Gangguan Mentruasi

Post op
Luka Operasi

Pre Op
Dikontuinitas Jaringan imobilisasi

Menekan alat disekitar Gangguan rasa Sirkulasi darah


endometrium nyaman nyeri menurun

Rasa sebah pada abdomen


Hemoglobin Imunitas tubuh
menurun
Anoreksia, mual, muntah
Menekan VU
Resiko Infeksi
Resiko Nutrisi Kurang
Gangguan miksi dari Kebutuhan
Tubuh

Retensi Urine

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan