Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN CLOSE FRAKTUR TIBIA FIBULA

I. KONSEP DASAR FRAKTUR TIBIA FIBULA


A. Pengertian
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur terjadi jika tulang
dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat
disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak dan
bahkan kontraksi otot ekstrem (Brunner & Suddarth, 2010).
Tibia dan fibula adalah dua tulang panjang yang terletak di kaki bagian
bawah. Tibia adalah tulang yang lebih besar di bagian dalam, dan fibula adalah
tulang yang lebih kecil di bagian luar. Tibia jauh lebih tebal dari fibula. Ini adalah
tulang penahan berat utama keduanya. Fibula mendukung tibia dan membantu
menstabilkan pergelangan kaki dan otot kaki bagian bawah. Fraktur Tibia dan fibula
ditandai sebagai berenergi rendah atau berenergi tinggi. Fraktur berenergi rendah,
tidak diletakkan (sejajar), kadang-kadang disebut fraktur balita, terjadi akibat jatuh
ringan dan cedera puntir. Fraktur berenergi tinggi, seperti yang disebabkan oleh
kecelakaan mobil serius atau jatuh besar, lebih sering terjadi pada anak yang lebih
besar. (John Hopkins Medicine, 2019)

(a) (b)

Gambar 1. (a) Os tibia dan fibula (b) Fraktur tibia fibula distal dengan foto X-ray
B. Jenis Fraktur
1. Menurut jumlah garis fraktur :
a. Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)
b. Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)
c. Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas)
2. Menurut luas garis fraktur :
a. Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung)
b. Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)
c. Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada
perubahan bentuk tulang)
3. Menurut bentuk fragmen :
a. Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang)
b. Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)
c. Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :
a. Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 :
1) Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan
sedikit, kontaminasi ringan, luka <1 cm.
2) Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar,
luka >1 cm.
3) Luka besar sampai ± 8 cm, kehancuran otot,
kerusakan neurovaskuler, kontaminasi besar.
b. Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar)
(Charless, 2001)
C. Tanda dan Gejala Fraktur Tibia dan Fibula
Gejala akan bervariasi bergantung pada seberapa buruk fraktur itu. Gejala yang
mungkin terjadi, termasuk :
1. Nyeri hebat di kaki bagian bawah
2. Kesulitan berjalan, berlari, atau menendang
3. Mati rasa atau kesemutan kaki
4. Ketidakmampuan untuk menanggung berat pada kaki yang terluka
5. Kelainan bentuk di daerah kaki bagian bawah, lutut, tulang kering,

atau pergelangan kaki


6. Tulang yang menonjol (angulasi)
7. Gerakan terbatas sekitar lutut
8. Bengkak di sekitar lokasi cedera
9. Memar dan kebiruan pada kaki yang terluka
10. Kadang disertai luka (fraktur terbuka)
Ketika tulang tibia retak, tulang lain di kaki bagian bawah, yang disebut dengan
fibula juga sering ikut terkena
D. Klasifikasi
Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan fraktur tibia dan fibula. Di bawah
ini adalah beberapa patah tulang tibia dan fibula yang paling umum terjadi pada
anak-anak. Kadang-kadang mereka juga melibatkan fraktur lempeng pertumbuhan
(phisis) yang terletak di setiap ujung tibia.
1. Fraktur Tibial Proksimal
Fraktur ini terjadi di ujung lutut tibia dan juga disebut fraktur tibial
plateau. Tergantung pada lokasi yang tepat, fraktur tibialis proksimal dapat
mempengaruhi stabilitas lutut serta pelat pertumbuhan. Fraktur tibialis
proksimal yang umum meliputi :
a. Fraktur Epifisis Tibial Proksimal : Jenis fraktur ini mempengaruhi bagian
atas tulang (epifisis) dan lempeng pertumbuhan. Pemisahan lempeng
pertumbuhan dari tulang biasanya disebabkan oleh kekuatan langsung ke
lutut. Sangat penting untuk memperbaiki fraktur jenis ini. Ini dapat
mempengaruhi pertumbuhan di masa depan dan menyebabkan cacat jika
tidak ditangani dengan benar. Perawatan biasanya terdiri dari pengaturan
tulang tanpa operasi, yang dalam beberapa kasus dapat disertai dengan
pemasangan pin atau sekrup khusus untuk mengamankan tibia saat
penyembuhan.
b. Fraktur Metafisis Tibial Proksimal (Fraktur Cozen) : Fraktur ini mempengaruhi
“leher” tulang (metafisis), di mana tibia mulai menyempit. Ini paling umum
terjadi pada anak-anak antara usia dua dan delapan tahun. Cedera ini dapat
terjadi ketika kekuatan diterapkan ke sisi lutut saat kaki diperpanjang. Ini
biasanya dirawat dengan mengatur tulang tanpa operasi dan menggunakan gips
untuk mengurangi gerakan. Gips biasanya dipakai selama sekitar enam
minggu. Valgus deformitas (lutut ketukan) adalah salah satu potensi komplikasi
utama setelah fraktur ini.
2. Fraktur Poros Tibial
Jenis fraktur ini terjadi di tengah, atau batang (diafisis), tibia. Ada tiga
jenis fraktur batang tibialis:
a. Nondisplaced : Fraktur di mana tulang yang patah tetap sejajar. Jenis
fraktur ini biasanya terlihat pada anak di bawah empat tahun. Ini bisa
disebabkan oleh peristiwa traumatis ringan atau cedera puntir. Seringkali,
gejala pertama adalah pincang. Pemeriksaan biasanya menunjukkan
kelembutan atau pembengkakan di bagian bawah tibia. Perawatan
biasanya melibatkan imobilisasi dalam gips pendek atau panjang. Durasi
adalah tiga hingga empat minggu untuk balita dan enam hingga 10 minggu
untuk anak-anak yang lebih besar.
b. Mengungsi, tidak terkikis : Fraktur di mana tulang patah tidak lebih dari dua
bagian (tidak terkurangi) tetapi tidak selaras. Ini adalah fraktur terisolasi tibia
dengan fibula utuh. Ini fraktur poros tibialis yang paling umum. Ini disebabkan
oleh kekuatan rotasi atau puntiran seperti cedera olahraga atau jatuh. Perawatan
termasuk pengaturan tulang tanpa operasi dan gips kaki panjang dengan lutut
ditekuk. Patah tulang yang tidak stabil mungkin memerlukan pembedahan.
c. Displaced, comminuted : Fraktur di mana tulang patah dalam beberapa fragmen
dan tidak selaras. Fraktur ini dapat disebabkan oleh trauma energi tinggi, seperti
kecelakaan mobil atau tertabrak kendaraan. Perawatan termasuk pengaturan
tulang tanpa operasi dan gips kaki panjang dikenakan selama empat hingga
delapan minggu. Gips penahan berat kaki pendek mungkin juga diperlukan pada
beberapa pasien. Fraktur yang tidak stabil mungkin memerlukan pembedahan
untuk mempertahankan keselarasan.
3. Fraktur Tibial Distal
Fraktur ini terjadi di ujung pergelangan kaki tibia. Mereka juga disebut
fraktur plafon tibialis. Salah satu tipe umum pada anak-anak adalah fraktur
metafisis tibialis distal. Ini adalah patah tulang dalam metafisis, bagian tibia
sebelum mencapai titik terlebar.
Patah tulang ini biasanya melintang (melintang) atau miring (miring) pada
tulang. Fraktur metafisis tibialis distal biasanya sembuh dengan baik setelah
dilakukan tanpa operasi dan pemberian gips. Namun, ada risiko penutupan
awal penuh atau sebagian pelat pertumbuhan. Hal ini dapat menyebabkan
penangkapan pertumbuhan dalam bentuk perbedaan panjang kaki atau
kelainan bentuk lainnya.
(John Hopkins Medicine, 2019)
E. Anatomi Fisiologi Tulang Patella
Tibia atau tulang kering ujung proksimalnya mempunyai dua bongkol kondilus medialis dan
kondilus lateralis. Pada permukaan tibia mempunyai fasies artikularis superior, dibagi dua oleh
eminensia interkondiloid madial dan lateral. Di depan eminensia terdapat lekuk kecil fosa
interkondiloid posterior. Bagian tepi permukaan sendi tibia terdapat margo inferior infraglenoid.
Tepat di bawah margo terdapat tonjolan yang disebut tuberositas tibia. Diafise tibia bentuknya
seperti prisma berisi tiga fasies yaitu fasies anterior, fasies posterior dan fasies lateralis. Ketiga fasies
ini dipisahkan oleh krista anterior tibia, krista posterior tibia dan margo tibialis media. Pada fasies
posterior terdapat line poplitea, bagian ujung distal tibia membentuk sendi kaki. Sebelah medial
menonjol sebagai maleolus medialis, sebelah lateral mempunyai lekuk berhubungan dengan fibula
insisura fibularis.
Fibula atau tulang betis terdiri dari kapitulum fibula yang melekat pada bagian belakang atas
tibia. Ujung distal yang e=menonjol dinamakan maleolus lateralis. Puncak kapitulum fibula
dinamakan apeks kapitula fibula. Diafise fibula sama dengan tibia dipisahkan oleh krista. Pada fasies
medial terdapat krista interosa tepat melekatnya membranosa yang menghubungkan tibia dengan
fibula, pada maleolus lateralis terdapat lekuk untuk urat telapak kaki. (Syaifuddin, 2014)

Gambar 2. Anatomi dan fisiologi os.tibia dan fibula


F. Etiologi Fraktur Tibia Fibula
Penyebab paling umum yang dapat menyebabkan fraktur tibia dan fibula adalah :
1. Kecelakaan, seperti melibatkan kecelakaan sepeda motor atau mobil dan dapat
menyebabkan patah tulang yang sangat parah.
2. Jatuh, terutama dari ketinggian tinggi dan melibatkan permukaan keras.
3. Gerakan memutar seperti olahraga snowboarding, ski dan olahraga kontak
Beberapa kondisi kesehatan juga dapat memmpengaruhi fraktur tibia dan fibula
termasuk diabetes tipe 2 dan gangguan tulang yang sudah ada sebelumya seperti
osteoarthritis (peradangan) atau osteoporosis (pengeroposan).
G. Patofisiologi Fraktur Tibia dan Fibula
Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma. Hantaman yang keras akibat
kecelakaan yang mengenai tulang akan mengakibatkan tulang menjadi patah dan
fragmen tulang tidak beraturan atau terjadi diskontinuitas di tulang tersebut. Pada
fraktur tibia dan fibula lebih sering terjadi dibanding fraktur batang tulang panjang
lainnya karena periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada daerah depan
yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan karena berada
langsung di bawah kulit maka sering ditemukan adanya fraktur terbuka.
Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan pada
beberapa bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat
mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum
kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan
mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli
lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih
besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah
yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.
Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu
sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat
menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan
syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan. (Harris, 2006).
H. Pathway (terlampir)
I. Pemeriksaan Diagnostik Fraktur
1. Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur
Kajian X-ray fraktur patella termasuk standart view X-ray, CT, scaning tulang, dan
tomografi
2. Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :
Darah lengkap, Golongan darah, Masa pembekuan dan perdarahan, EKG, Kimia
darah. Lekosit turun/meningkat, Eritrosit dan Albumin turun, Hb, hematokrit sering
rendah akibat perdarahan, Laju Endap Darah (LED) meningkat bila kerusakan
jaringan lunak sangat luas, Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah,
trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan
dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati
3. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
4. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler
5. CCT kalau banyak kerusakan otot

J. Penatalaksanaan Medis
Fraktur Tibia dan fibula dapat diobati dengan prosedur perawatan fraktur
tulang standar. Perawatan tergantung pada keparahan cedera dan usia anak. Ini
mungkin termasuk beberapa pendekatan berikut, digunakan baik sendiri atau dalam
kombinasi :
1. Pengurangan dan imobilisasi tertutup : Mengatur tulang pada tempatnya tanpa

operasi, dan imobilisasi pada tungkai panjang atau tungkai pendek


2. Reduksi terbuka : Mengekspos tulang dengan pembedahan untuk
mengembalikannya ke tempatnya - biasanya dilakukan pada fraktur terbuka di
mana tulang telah menusuk kulit. Prosedur ini biasanya disertai dengan fiksasi
internal atau eksternal.

3. Fiksasi internal : Menghubungkan tulang yang patah dengan sekrup, piring,


batang dan paku yang akan tetap berada di bawah kulit.

4. Fiksasi eksternal : Menggunakan pin, klem dan batang untuk menstabilkan


fraktur dari luar.

5. Pining perkutan : Memasukkan kabel melintasi fraktur untuk menahan potongan


di tempat sampai mereka sembuh. Kabel dilepas setelah fraktur sembuh.

6. Pengobatan: Ketika fraktur telah merusak kulit, obati dengan antibiotik untuk
mencegah infeksi dan analgesik untuk mengontrol rasa sakit. Tembakan tetanus
juga mungkin diperlukan.
Pengobatan Fraktur Terbuka Tibia
Fraktur terbuka terjadi ketika tulang atau bagian-bagian tulang menembus
kulit. Jenis fraktur ini biasanya hasil dari trauma energi tinggi atau luka
tembus. Fraktur terbuka tibia sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.
Perawatan fraktur tibialis terbuka dimulai dengan antibiotik dan suntikan tetanus
untuk mengatasi risiko infeksi. Kemudian luka dibersihkan untuk menghilangkan
sisa-sisa puing dan tulang. Pembedahan juga mungkin diperlukan tergantung pada
ukuran luka, jumlah kerusakan jaringan dan masalah vaskular (sirkulasi). Reduksi
terbuka dan fiksasi internal adalah operasi yang dapat digunakan untuk
memposisikan dan secara fisik menghubungkan tulang dalam fraktur terbuka.
Luka dapat diobati dengan penutupan dengan bantuan vakum . Prosedur ini
melibatkan penempatan sepotong busa di luka dan menggunakan alat untuk
memberikan tekanan negatif untuk menyatukan tepi luka. Pembersihan berulang
sebelum menutup luka dapat digunakan sebagai gantinya. Atau fixator eksternal
dapat digunakan untuk memperbaiki luka.
K. Komplikasi
1. Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam
posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring
2. Delayed union, adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal
3. Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali
4. Compartement syndrom, adalah suatu keadaan peningkatan tekanan yang
berlebihan di dalam satu ruanganyang disebabkan perdarahan masif pada suatu
tempat
5. Syok, terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapier yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi
6. Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor
resiko terjadinya emboli lemak ada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40
tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.
7. Tromboembolic complication, trombo vena dalam sering terjadi pada individu yang
imobilisasi dalam wkatu lama kerna trauma atau ketidakmampuan lazimnya
komplikasi pada perbedaan ektremitas bawah atau trauma komplikasi paling fata
bila terjadi pada bedah ortopedi
8. Infeksi, sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedicinfeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya
terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain
dalam pembedahan seperti pin dan plat
9. Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia
10. Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf
simpatik abnormalsyndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri,
perubahan tropik dan vasomotorinstability.

L. Tahap Penyembuhan Tulang


1. Stadium Pembentukan Hematom :
a. Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang
robek
b. Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot)
c. Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam
2. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi :
a. Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur
b. Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast
c. Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang
d. Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang
e. Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi
3. Stadium Pembentukan Kallus :
a. Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus)
b. Kallus memberikan rigiditas pada fraktur
c. Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu
d. Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi
4. Stadium Konsolidasi :
a. Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu
b. Secara bertahap menjadi tulang mature
c. Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan
5. Stadium Remodeling :
a. Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur
b. Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
c. Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda penebalan
tulang

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Identitas Klien
Kaji nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pekerjaan, kebangsaan,
suku, pendidikan, no register, diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Kaji keluhan pasien yang menyebabkan ia datang ke pelayanan kesehatan.
Biasanya klien dengan fraktur akan mengalami nyeri saat beraktivitas /
mobilisasi pada daerah fraktur tersebut.
c. Riwayat Penyakit
1) Riwayat Penyakit Sekarang.
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan
penyakit sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja yang memperberat
dan meringankan keluhan. Pada klien fraktur / patah tulang dapat
disebabkan oleh trauma / kecelakaan, degeneratif dan pathologis yang
didahului dengan perdarahan, kerusakan jaringan sekitar yang
mengakibatkan nyeri, bengkak, kebiruan, pucat / perubahan warna kulit
dan kesemutan.
2) Riwayat Penyakit Dahulu.
Tanyakan masalah kesehatan yang lalu yang relavan baik yang berkaitan
langsung dengan penyakit sekarang maupun yang tidak ada kaitannya.
Kaji apakah pada klien fraktur pernah mengalami kejadian patah tulang
atau tidak sebelumnya dan ada / tidaknya klien mengalami pembedahan
perbaikan dan pernah menderita osteoporosis sebelumnya.
3) Riwayat Penyakit Keluarga.
Kaji apakah pada keluarga klien ada / tidak yang menderita osteoporosis,
arthritis dan tuberkolosis atau penyakit lain yang sifatnya menurun dan
menular.
d. Pola Fungsi Kesehatan.
1) Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada
dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan
hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu
metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu
keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Kaji frekuensi/porsi makan, jenis makanan, tinggi badan, berat badan,
serta nafsu makan. Pada umumnya tidak akan mengalami gangguan
penurunan nafsu makan, meskipun menu berubah.
3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi,
tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta
bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri
dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola
ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak
4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal
ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
5) Pola Aktivitas dan Latihan
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk
kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak
dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk
aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk
pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang
lain
6) Pola Hubungan Peran
Pola hubungan dan peran akan mengalami gangguankarena keterbatasan
dalam beraktivitas.
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Kaji adanya ketakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image).
8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur
9) Pola Stres Adaptasi
Masalah fraktur femur dapat menjadi stres tersendiri bagi klien. Dalam
hal ini pola penanggulangan stress sangat tergantung pada sistem
mekanisme klien itu sendiri misalnya pergi kerumah sakit untuk
dilakukan perawatan / pemasangan traksi. Kaji cara pasien untuk
menangani stress yang dihadapi.
10) Pola reproduksi dan seksual
Bila klien sudah berkeluarga dan mempunyai anak maka akan
mengalami gangguan pola seksual dan reproduksi, jika klien belum
berkeluarga klein tidak akan mengalami gangguan. Selain itu juga, perlu
dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah
dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
e. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum: kesadaran, tanda – tanda vital, sikap, keluhan nyeri
2) Kepala: bentuk, keadaan rambut dan kepala, adanya kelainan atau lesi
3) Mata: bentuk bola mata, pergerakan, keadaan pupil, konjungtiva,dll
4) Hidung: adanya secret, pergerakan cuping hidung, adanya suara napas
tambahan, dll
5) Telinga: kebersihan, keadaan alat pendengaran
6) Mulut: kebersihan daerah sekitar mulut, keadaan selaput lendir, keadaan
gigi, keadaan lidah
7) Leher: pembesaran kelenjar/pembuluh darah, kaku kuduk, pergerakan
leher
8) Thoraks: bentuk dada, irama pernapasan, tarikan otot bantu pernapasan,
adanya suara napas tambahan
9) Jantung: bunyi, pembesaran
10) Abdomen: bentuk, pembesaran organ, keadaan pusat, nyeri pada
perabaan, distensi
11) Ekstremitas: kelainan bentuk, pergerakan, reflex lutut, adanya edema
12) Alat kelamin : Kebersihan, kelainan
13) Anus : kebersihan, kelainan
B. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut
2) Risiko perfusi perifer tidak efektif
3) Gangguan mobilitas fisik
4) Gangguan integritas kulit/jaringan
5) Risiko infeksi
6) Risiko syok
(PPNI, 2017)

Pathway

Kondisi patologis Trauma langsung Trauma tidak langsung

Fraktur

Pergeseran fragmen tlng Diskontinuitas tulang

Pelepasan histamin Perubahan jaringan sekitar

Merangsang nosiseptor
(reseptor nyeri) Pergeseran fragmen tlng Spasme otot

Nyeri Akut Deformitas Peningkatan tekanan kapiler

Ggn fungsi ekstremitas Pelepasan histamin

Ggn mobilitas fisik Protein plasma hilang

Risiko perfusi perifer tidak


Risiko infeksi Mengenai
efektif Risiko
Kehilangan
jaringan syok
Perdarahan
kutis
volumedancairan
subkutis Gangguan
PenekananEdema
integritas
Laserasi kulit kulit
pembuluh darah
C. Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No
(SDKI) (SLKI) (SIKI)
1 Nyeri Akut Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Nyeri
selama ……. X …… diharapkan Observasi
 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Penyebab : nyeri akut berkurang dengan kriteria
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
 Agen pencedera fisiologis hasil :
 Identifikasi skala nyeri
( mis : inflamasi, iskemia, Tingkat Nyeri  Identifikasi respon nyeri non verbal
neoplasma)  Keluhan nyeri menurun  Identifikasi faktor yang memperberat dan
 Agen pencedera kimiawi  Meringis menurun memperingan nyeri
 Sikap protektif menurun  Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
(mis : terbakar, bahan kimia
 Gelisah menurun
iritan) tentang nyeri
 Kesulitan tidur menurun
 Agen pencedera fisik (mis :  Identifikasi pengaruh budaya terhadap repson
 Menarik diri menurun
abses, amputasi, terbakar,  Berfokus pada diri sendiri nyeri
 Identifikasi pengaruh nyeri terhadap kualitas
terpotong, mengangkat menurun
 Diaforesis menurun hidup
berat, prosedur operasi,  Perasaan depresi (tertekan)  Monitor keberhasilan terapi komplementer
trauma, latihan fisik menurun yang sudah diberikan
berlebihan)  Perasaan takut mengalami  Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
cidera berulang menurun
 Berikan teknik non farmakologis untuk
 Anoreksia menurun
Gejala dan Tanda Mayor
 Frekuensi nadi membaik mengurangi rasa nyeri (mis : TENS,
 Mengeluh nyeri  Pola nafas membaik hypnosis, akupresure, terapi music,
 Tampak meringis  Tekanan darah membaik biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik
 Bersikap protektif (mis :  Proses berpikir membaik imajinasi terbimbing, kompres hangat atau
 Fokus membaik
waspada, posisi menghindari dingin, terapi bermain)
 Fungsi berkemih membaik
nyeri)  Perilaku membaik  Kontrol lingkungn yang memperberat rasa
 Gelisah  Nafsu makan membaik nyeri (mis : suhu ruangan, pencahayaan,
 Frekuensi nadi meningkat  Pola tidur membaik
 Sulit tidur kebisingan)
 Fasilitasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
Gejala dan tanda Minor pemeliharaan strategi meredakan nyeri
 Tekanan darah meningkat Edukasi
 Pola nafas berubah  Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
 Nafsu makan berubah  Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Proses berfikir terganggu  Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
 Menarik diri  Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
 Berfokus pada diri sendiri  Ajarkan teknik nonfarmakaologis untuk
 Diaforesis mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
 Memberikan analgetik jika perlu

Pemberian Analgetik
Observasi
 Identifikasi karakteristik nyeri ( mis:
pencetus, Pereda, kualitas, lokasi, intensitas,
frekuensi, durasi)
 Identifikasi riwayat alergi obat
 Identifikasi kesesuaian jenis analgetik (mis:
narkotika, non narkotik atau NSAID) dengan
tingkat keparahan nyeri
 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
sesudah pemberian analgetik
 Monitor efektivitas analgetik
Terapeutik
 Diskusikan jenis analgetik yang disukai untuk
mencapai analgesial optimal, jika perlu
 Pertimbangkan penggunaan infus continue,
atau bolus oploid untuk mempertahankan
kadar dalam serum
 Tetapkan target efektifitas analgetik untuk
mengoptimalakan respon pasien
 Dokumentasikan respon terhadap efek
analgetik dan efek yang tidak diinginkan
Edukasi
 Jelaskan efek terapi dan efek samping
obat
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian dosis dan
analgetik, sesuai indikasi
2 Risiko Perfusi Perifer Tidak Setelah diberikan asuhan keperawatan Pencegahan syok
Efektif selama … x … jam, diharapkan Observasi
masalah risiko perfusi perifer kembali  Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan
Faktor risiko efektif dengan kriteria hasil: kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP)
 Hiperglikemia Perfusi Perifer  Monitor status oksigenasi (oksimetri, nadi,
 Gaya hidup kurang gerak  Denyut nadi perifer meningkat AGD)
 Hipertensi  Penyembuhan luka meningkat  Monitor status cairan (masukan dan hakuaran,
 Merokok  Sesasi meningkat turgor kulit, CRT)

 Prosedur endovaskuler  Warna kulit pucat menurun  Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil

 Trauma  Edema perifer menurun  Periksa riiwayat alergi

 Kurang terpapar informasi  Nyeri ekstremitas menurun


tentang faktor pemberat  Parastesia menurun Terapeutik

(mis, merokok, gaya hidup  Kelemahan otot menurun  Berikan oksigen untuk mempertahankan
kurang gerak, obesitas,  Kram otot menurun saturasi oksigen >94%
imobilitas)  Bruit femoralis menurun  Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika
perlu
 Nekrosis menurun
Kondisi Klinis terkait  Pasang jalur IV, jika perlu
 Pengisian kapiler cukup
 Arterosklerosis  Pasang kateter urine untuk menilai produksi
membaik
 Raynaud’s disease urine, jika perlu
 Akral cukup membaik
 Trombosis arteri  Lakukan skin test untuk mencegah reaksi
 Turgor kulit cukup membaik
 Atritis rheumatoid alergi
 Leriche’s syndrome  Tekanan darah sistolik cukup
 Aneurisma membaik Edukasi

 Buerger’s disease  Tekanan darah diastolic cukup  Jelaskan penyebba/faktor risiko syok

 Varises membaik  Jelaskan tanda dan gejala awal syok

 Diabetes melitus  Tekanan arteri rata-rata cukup  Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan

 Hipotensi membaik tanda dan gejala awal syok

 Kanker  Indeks ankle-brachial cukup  Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral


membaik  Anjurkan menghindari allergen

Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian IV, jika perlu
 Kolaborasi pemberian transfuse darah, jika
perlu
 Kolaborasi antiinflamasi, jika perlu

Perawatan sirkulasi
Observasi
 Periksa sirkulasi perifer (mis, nadi perifer,
edema, pengisian kapiler, warna, suhu, ABI)
 Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi
(mis, diabetes, perokok, orang tua, hipertensi
dan kadar kolesterol tinggi)
 Monitor panas, kemerahan, nyeri atau bengkak
pada ekstremitas

Terapeutik
 Hindari pemasangan infus atau pengambilan
darah di area keterbatasan perfusi
 Hindari pengukuran tekanan darah pada
ekstremitas dengan keterbatasan perfusi
 Hindari penekanan dan pemasangan
tourniquet pada area yang cidera
 Lakukan pencegahan infeksi
 Lakukan perawatan kaki dan kuku
 Lakukan hidrasi

Edukasi
 Anjurkan berhenti merokok
 Anjurkan berolahraga rutin
 Anjurkan mengecek air mandi untuk
menghindari kulit terbakar
 Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan
darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol,
jika perlu
 Anjurkan minum obat pengontrol tekanan
darah secara teratur
 Anjurkan menghindari penggunaan obat
penyekat beta
 Aanjurkan melakukan perawatan kulit yang
tepat (mis, melembabkan kulit yang kering
pada kaki)
 Anjurkan program rehabilitasi vascular
 Ajarkan program diet untuk memperbaiki
sirkulasi (mis, rendah lemak jenuh, minyak
ikan omega 3)
 Informasikan tanda dan gejala darurat yang
harus dilaporkan (mis, rasa sakit yang tidak
hilang saat istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa)
3 Gangguan Mobilitas Fisik Setelah diberikan asuhan keperawatan Dukungan Ambulasi
Penyebab selama … x … jam, diharapkan Observasi
 Kerusakan integritas struktur masalah gangguan mobilitas fisik  Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
tulang teratasi dengan kriteria hasil: lainnya
 Perubahan metabolism Mobilitas Fisik  Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
 Ketidakbugaran fisik  Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
 Penurunan kendali otor  Pergerakan ekstremitas
sebelum memulai ambulasi
 Penurunan massa otot meningkat  Monitor kondisi umum selama melakukan
 Penurunan kekuatan otot
 Keterlambatan  Kekuatan otot meningkat ambulasi
perkembangan  Rentang gerak (ROM) Terapeutik
 Kekakuan sendi meningkat  Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
 Kontraktur
 Malnutrisi  Nyeri menurun (mis, tongkat, kruk)
 Gangguan musculoskeletal  Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika
 Kecemasan menurun
 Gangguan neuromuscular perlu
 Indeks masa tubuh diatas  Gerakan tidak terkoordinasi
 Libatkan keluarga untuk membantu pasien
persentil ke-75 sesuai usia menurun
dalam meningkatkan ambulasi
 Efek agen farmakologis  Gerakan terbatas menurun Edukasi
 Program pembatasan gerak
 Nyeri  Kelemahan fisik menurun  Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
 Kurang terpapar informasi  Anjurkan melakukan ambulasi dini
 Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
tentang aktivitas fisik
 Kecemasan dilakukan (mis, berjalan dari tempat tidur ke
 Gangguan kognitif kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar
 Keengganan melakukan
mandi, berjalan sesuai toleransi)
pergerakan
 Gangguan sensori persepsi
Dukungan Mobilisasi
Gejala dan Tanda Mayor Observasi
 Mengeluh sulit  Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
menggerakkan ekstremitas lainnya
 Kekuatan otot menurun  Identifikasi toleransi fiisk melakukan
 Rentang gerak ROM pergerakan
menurun  Monitor frekuensi jantung dan tekanna darah
sebelum memulai mobilisasi
Gejala dan Tanda Minor  Monitor kondisi umum selama melakukan
 Nyeri saat bergerak mobilisasi
 Enggan melakukan
pergerakan Terapeutik
 Merasa cemas saat bergerak  Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
 Sendi kaku
 Gerakan tidak terkoordinasi bantu (mis, pagar tempat tidur)
 Fisik lemah  Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
 Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan pergerakan

Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
 Anjurkan melakukan mobilisasi dini
 Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus
dilakukan (mis, duduk di tempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke
kursi)
4 Gangguan Integritas Kulit / Setelah diberikan asuhan keperawatan Perawatan Integritas Kulit
Jaringan selama … x … jam, diharapkan Observasi
Penyebab masalah gangguan integritas  Identifikasi penyebab gangguan integritas
 Perubahan sirkulasi kulit/jaringan teratasi dengan kriteria kulit (mis, perubahan sirkulasi, perubahan
 Perubahan status nutrisi hasil: status nutrisi, penurunan kelembaban, suhu
(kelebihan/kekurangan) Integritas Kulit dan Jaringan lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas)
 Kekurangan / kelebihan
 Elastisitas meningkat Terapeutik
volume cairan
 Penurunan mobilitas  Hidrasi meningkat  Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring
 Bahan kimia iritatif  Lakukan pemijatan pada area penonjolan
 Perfusi jaringan meningkat
 Suhu lingkungan yang tulang, jika perlu
 Kerusakan jaringan menurun  Bersihkan perineal dengan air hangat,
ekstrem
 Faktor mekanis (mis.  Kerusakan lapisan kulit terutama selama periode diare
Penekanan pada tonjolan menurun  Gunakan produk berbahan petroleum atau
tulang, gesekan) atau faktor  Nyeri menurun minyak pada kulit kering
 Gunakan produk berbahan ringan/alami den
elektris (elektrodiatermi,  Perdarahan menurun
hipoalergik pada kulit sensitive
energi listrik bertegangan  Kemerahan menurun  Hindari produk berbahan dasar alcohol pada
tinggi)  Hematoma menurun kulit kering
 Efek samping terapi radiasi
 Kelembaban  Pigmentasi abnormal menurun Edukasi
 Proses penuaan  Jaringan parut menurun  Anjurkan menggunakan pelembab (mis,
 Neuropati perifer
 Nekrosis menurun lotion, serum)
 Perubahan pigmentasi  Anjurkan minum air yang cukup
 Perubahan hormonal  Abrasi kornea menurun  Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
 Kurang terpapar informasi
 Suhu kulit membaik  Anjurkan meningkatkan asupan buah dan
tentang upaya
 Sensasi emmbaik sayur
mempertahankan/melindung  Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem
 Tekstur membaik  Anjurkan menggunakan tabir surya SPF
i integritas jaringan
 Pertumbuhan rambut membaik minimal 30 saat berada di luar rumah
 Anjurkan mandi dan menggunakan sabun
Gejala dan Tanda Mayor
secukupnya
 Kerusakan jaringan dan/atau
lapisan kulit Perawatan Luka
Observasi
Gejala dan tanda Minor  Monitor karakteristik luka (mis, drainase,
 Nyeri warna, ukuran, bau)
 Perdarahan  Monitor tanda-tanda infeksi
 Kemerahan
Terapeutik
 Hematoma
 Lepaskan balutan dan plester secara perlahan
 Cukur rambut disekitar daerah luka, jika perlu
 Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih
nontoksik, sesuai kebutuhan
 Bersihkan jaringan nekrotik
 Berikan salep yag sesuai ke kulit / lesi, jika
perlu
 Pasang balutan sesuai jenis luka
 Pertahankan teknik steril saat melakukan
perawatan luka
 Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan
drainase
 Jadwalkan perubahan posisi setiap 2 jam atau
sesuai kondiis pasien
 Berikan diet dengan kalori 30-35
kkal/kgBB/hari dengan protein 1,25-1,5
g/kgBB/hari
 Berikan suplemen vitamin dan mineral (mis,
vitamin A, vitamin C, zinc, asam amino),
sesuai indikasi
 Berikan terapi TENS (stimulasi saraf
transcutaneous), jika perlu
Edukasi
 Jelaskan tanda dan gejala infeksi
 Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi
kalori dan protein
 Ajarkan prosedur perawatan luka secara
mandiri
Kolaborasi
 Kolaborasi prosedur debridement (mis.
Enzimatik, biologis, mekanis, autolitik), jika
perlu
 Kolaborasi pemberian antibiotic, jika perlu
5 Risiko Infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan Pencegahan Infeksi
selama ……. X …… diharapkan Observasi
Faktor risiko risiko infeksi berkurang dengan  Monitor tanda dan gejala infeksi local dan
 Penyakit kronis kriteria hasil : sistemik
 Efek prosedur invasive Tingkat Infeksi Terapeutik
 Malnutrisi
 Peningkatan paparan  Demam menurun  Batasi jumlah pengunjung
 Kemerahan menurun  Berikan perawatan kulit pada area edema
organisme pathogen  Nyeri menurun  Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
lingkungan  Bengkak menurun
dengan pasien dan lingkungan pasien
 Ketidakadekuatan  Vesikel menurun
 Pertahankan teknik aseptic pada pasien
 Cairan berbau busuk menurun
pertahanan tubuh primer
 Sputum berwarna hijau berisiko tinggi
 Gangguan peristaltic
 Kerusakan integritas kulit menurun Edukasi
 Perubahan sekresi pH  Drainase purulent menurun  Jelaskan tanda dan gejala infeksi
 Penurunan kerja siliaris  Piuna menurun  Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
 Merokok  Periode malaise menurun  Ajarkan etika batuk
 Statis cairan tubuh  Periode mengigil menurun  Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau
 Ketidakadekuatan  Lelargi menurun
 Gangguan kognitif menurun luka operasi
pertahanan tubuh sekunder  Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
 Kadar sel darah putih membaik
 Penurunan hemoglobin  Anjurkan meningkatkan asupan cairan
 Kultur darah membaik
 Imunosupresi
 Leukopenia  Kultur urine membaik Kolaborasi
 Supresi respon inflamasi  Kultur sputum membaik  Kolaborasi pemberian imunisasi
 Vaksinasi tidak adekuat  Kultur area luka membaik
 Kultur feses membaik

6 Risiko Syok Setelah diberikan asuhan keperawatan Pencegahan Syok


Faktor Risiko selama … x … jam, diharapkan Observasi
 Hipoksemia masalah risiko syok tidak terjadi  Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan
 Hipoksia dengan kriteria hasil: kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP)
 Hipotensi
Tingkat Syok  Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi,
 Kekurangan volume cairan
 Sepsis  Kekuatan nadi meningkat AGD)
 Sindrom respon inflamasi  Monitor status cairan (masukan dan haluaran,
 Output urine meningkat
sistemik (systemic  Tingkat kesadaran meningkat turgor kulit, CRT)
 Saturasi oksigen meningkat  Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
inflammatory response  Akral dingin menurun  Periksa riwayat alergi
syndrome (SIRS))  Pucat menurun
 Haus menurun
 Konfusi menurun Terapeutik
Kondisi Klinis Terkait
 Letargi menurun  Berikan oksigen untuk memperthankan
 Perdarahan  Asidosis metbolik menurun
 Trauma multiple  Mean arterial pressure saturasi oksigen >94%
 Pneumothoraks  Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika
 Infark miokard membaik
 Tekanan darah sistolik perlu
 Kardiomiopati  Pasang jalur IV jika perlu
 Cedera medulla spinalis membaik  Pasang kateter urine untuk menilai produksi
 Anafilaksis  Tekanan darah diastolic urine, jika perlu
 Sepsis  Lakukan skin test untuk mencegah reaksi
membaik
 Koagulasi intravaskuler  Tekanna nadi membaik alergi
diseminata  Pengisian kapiler membaik
 Sindrom respon inflamasi  Frekuensi nadi emmbaik
 Frekuensi nafas membaik Edukasi
sistemik (systemic
 Jelaskan penyebab/faktor risiko syok
inflammatory response  Jelaskan tanda gan gejala awal syok
syndrome (SIRS))  Anjurkan melapor jika menemukan /
merasakan tanda dan gejala awal syok
 Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
 Anjurkan menghindari allergen

Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian IV, jika perlu
 Kolaborasi pemberian transfuse darah, jika
perlu
 Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu

Pemantauan Cairan
Observasi
 Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
 Monitor frekuensi nafas
 Monitor tekanan darah
 Monitor berat badan
 Monitor waktu pengisian kapiler
 Monitor elastisitas atau turgor kulit
 Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine
 Monitor kadar albumin dan protein total
 Monitor hasil pemeriksaan serum (mis,
osmolaritas serum, hematocrit, natrium,
kalium, BUN)
 Monitor intake dan output cairan
 Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis,
frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah,
tekanan darah menurun, tekanan nadi
menyempit, turgor kulit menurun, membrane
mukosa kering, volume urine menurun,
hematocrit meningkat, haus, lemah,
konsentrasi urine meningkat, berat badan
menurun dalam waktu singkat)
 Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis,
dyspnea, edema perifer, edema anasarca, JVP
meningkat, CVP meningkat, reflex
hepatojugular positif, berat bdaan menurun
dalam waktu singkat)
 Monitor tanda-tanda infeksi dan perdarahan
pada sisi insersi
 Monitor tanda-tanda komplikasi akibar
pemasangan selang (mis, pneumothoraks,
selang tertekuk, embolisme udara)

Terapeutik
 Dampingi pasien saat pemasangan dan
pelepasan kateter jalur hemodinamik
 Lakukan tes Allen untuk menilai kolateral
ulnaris sebelum kanulasi pada arteri radialis
 Pastikan set selang terangkai dan terpasang
dengan tepat
 Konfirmasi ketepatan posisi selang dengan
pemeriksaan x-ray, jika perlu
 Posisikan transduser pada atrium kanan (aksis
flebostatik) setiap 4-12 jam untuk
mengkalibrasi dan mentitiknolkan perangkat
 Pastika balon deflasi dan kembali ke posisi
normal setelah pengukuran tekanna baji arteri
paru (PAWP)
 Ganti selang dan cairan infus setiap 24-72
jam, sesuai protocol
 Ganti balutan pada area insersi dengan teknik
steril
 Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan
kondisi pasien
 Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
 Anjurkan membatasi gerak/aktivitas selama
kateter terpasang
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2010. Keperawatan Medikal Bedah. Jilid 2. Edisi Ketiga.
Jakarta: EGC

Harris, Robert M. 2006. Rockwood & Grenn’s Fractures in Adults. Lippincott Williams
& Wilkins
Inukirana, Scientia. 2019. Fraktur Tibia - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan.
Online (Available) : https://www.honestdocs.id/fraktur-tibia. Diakses pada .....
Oktober 2019 pukul .....

Johns Hopkins Medicine. 2019. Tibia and Fibula Fractures. Online (Available) :
https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/tibia-and-fibula-
fractures. Diakses pada ..... Oktober 2019 pukul .....

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi 1.
Jakarta Selatan : DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi 1
Cetakan II. Jakarta Selatan : DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1
Cetakan II. Jakarta Selatan : DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai