Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka memenuhi gelar Sarjana, ada beberapa tahap yang harus di lakukan. Pertama,
perkuliahan di kampus, kemudian lanjutkan dengan kerja praktek (KP), lalu terakhir
mengerjakan tugas akhir (TA), maka dari itu dalam waktu satu bulan sepuluh hari penulis
melaksanakan kerja praktek sebagai salah satu syarat untuk memenuhi gelar sarjana teknik.
Selaian dari pada itu kerja praktek juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan
mahasiswa serta memahami dan mengenal kondisi nyata di lapangan. Pemilihan tempat kerja
praktek berdasarkan ketertarikan penulis terhadap topik yang ada pada perusahaan tersebut.
Perusahan itu adalah PT. Wilmar Nabati Indonesia yang bergerak di bidang produksi minyak
kelapa sawit Crude Palm Oil (CPO). Minyak kelapa sawit yang sudah diolah menjadi CPO
oleh PKS (Perusahaan Kelapa Sawit) di produksi oleh PT. Wilmar Nabati Indonesia unit
Padang menjadi minyak murni (Olein). Kemudian Olein tadi langsung di olah menjadi sebuah
produk minyak goreng.
Selama kerja praktek di PT. Wilmar Nabati Indonesia disana penulis mendapat berbagai
banyak pengalaman dan ilmu yang sangat memuaskan meliputi safety K3, Refenery,
fractionation, maintenance dan yang paling penting adalah kerja sama team. Namun, bagian
departemen yang difokuskan adalah produksi dan fraksinasi. Ruang lingkup produksi ini
merupakan bagian proses untuk pengolahan minyak mentah yang biasa disebut Crude Palm
Oil (CPO) menjadi minyak goreng. Di dalam bagian produksi ini, penulis belajar mengenai
mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi, kondisi pengoperasian, dan juga
belajar tentang alur produksi hingga menjadi produk minyak goreng yang siap dikonsumsi dan
dipasarkan. Metode pelaksanaan program Kerja Praktek ini dilaksanakan dengan melakukan
perbandingan antara teori yang sudah diperoleh dengan kondisi di lapangan, yaitu dengan
melakukan observasi dan wawancara. Dari observasi yang dilakukan, Penulis mengamati
mesin dan peralatan yang digunakan, alur proses yang berjalan, serta macam-macam
standar yang sudah ditetapkan dan menjadi acuan dalam proses produksi oleh pihak
perusahaan. Selain itu, dengan melakukan wawancara terhadap pembimbing lapangan dan
operator yang bertugas, saya memperoleh banyak informasi dan pengetahuan yang baru
berkaitan dengan alur produksi. Dalam proses produksi minyak goreng layak konsumsi juga

1
membutuhkan bahan kimia sebagai syarat produksi. Bahan kimia itu adalah Phosporit Acid
(H3PO4) dan Bleaching Earth dan berbagai pendukung lainnya. Bagaimana pengaruhnya
terhadap hasil Produksi, Maka dari itu penulis mengangkat topik ini sebagai bahasan penulis
dalam menyelasaikan laporan kerja praktek.

1.2 Rumusan Masalah


Pada pembahasan kali ini penulis membahas tentang bagaimana pengaruh zat kimia terhadap
produksi minyak goreng.

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1 Tujuan
1. Mengenal dan mengetahui secara langsung metode tentang proses penambahan
bahan kimia dalam proses produksi.
2. Mengenal dan mengetahui proses produksi minyak goreng
3. Melengkapi salah satu syarat akademis di Teknik Mesin Institut Teknologi
Padang.

1.3.2 Manfaat
1. Dapat memahami tentang kegunaan zat kimia.
2. Dapat memahami sistem produksi minyak goreng
3. Dapat wawasan baru tentang minyak CPO.

2
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Lokasi Perusahaan


PT. Wilmar Nabati Indonesia beralamat di Jln. Belawan Kampung Baru Teluk Bayur Utara
Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Tata letak pabrik PT.
Wilmar Nabati Indonesia dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Lokasi dan Tata Letak Pabrik


Keterangan :
1. Sebelah utara berbatasan dengan jalan teluk bayur.
2. Sebelah selatan bebatasan dengan laut.
3. Sebelah barat berbatasan dengan PT. Agromuko.
4. Sebelah timur berbatasan dengan gedung Pelindo.

3
2.2 Sejarah Perusahaan
PT Wilmar Nabati Indonesia yang dulu bernama PT Mekar Bumi Andalas merupakan salah
satu perusahan minyak kelapa sawit yang tergabung di dalam Wilmar Group. Setelah sukses
dengan ekspor minyak sawit dan melihat besarnya permintaan pasar akan minyak goreng,
maka Wilmar Group mendirikan sebuah unit perusahaan pada tanggal 11 Januari 2011 di
Sumatra Barat yang beralamat di Jl. Belawan Kampung Baru Kelurahan Teluk Bayur
Kecamatan Padang Selatan Kota Padang. Unit produksi PT Wilmar Nabati Indonesia Padang
ini memiliki beberapa tangki timbun yang berguna untuk operasional penimbunan minyak
kelapa sawit dengan kapasitas tangki 250, 600, 1000, 2000, 3000 dan 5000 ton.
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan minyak kelapa sawit di pasar dunia maupun
domestik PT Wilmar Nabati Indonesia Padang ikut serta membangun unit kegiatan
operasional pabrik, refinery dan fraksinasi. Adapun fasilitas yang dibangun oleh PT Wilmar
Nabati Indonesia Padang dengan menggunakan lahan seluas 3,5 Ha adalah plant refinery
dengan kapasitas 2600 ton, kapasitas fraksinasi 2500 ton, tangki timbun dengan kapasitas
5000 ton untuk 3 unit, kapasitas 3000 ton untuk 9 unit, kapasitas 2000 ton untuk 16 unit,
kapasitas 1000 ton untuk 3 unit, kapasitas 600 ton untuk 2 unit, kapasitas 250 ton untuk 1 unit,
kantor beacukai, timbangan beserta kantornya, gudang, water treatment plant,,boiler, power
house, dan gudang bleaching earth. PT Wilmar Nabati Indonesia unit Padang merupakan
pabrik yang menghasilkan produk utama berupa minyak olein, stearin dan produk samping
palm fatty acid distilation.
Kebutuhan minyak di pasaran pada saat ini memicu PT Wilmar Nabati Indonesia untuk
meningkatkan jumlah produksi. Saat ini PT Wilmar Nabati Indonesia unit Teluk Bayur
Padang memiliki kapasitas produksi sebesar 2600 MT/D bahan baku setiap harinya.
Mengingat pentingnya menjaga kualitas produk yang dihasilkan, PT Wilmar Nabati Indonesia
unit Teluk Bayur Padang menetapkan standar mutu minyak tersendiri, seperti pada Tabel 2.1
di bawah.
Tabel 2.1 Standar Mutu Minyak Goreng
No Jenis Bahan Karakteristik Syarat
Asam Lemak Bebas 5,0% Max
1 CPO Moisture & Impuritis 0,5% Max
Dobi 1.7 Min

4
Asam Lemak Bebas 0,1 Max
2 RPO Bilangan Iodin 50-55
Warna 2.8 Max

FAD
3 Asam Lemak Bebas 85% Min

(Sumber : PT Wilmar Nabati Indonesia Padang)

2.3 Struktur Organisasi PT. Wilmar Nabati Indonesia


Struktur organisasi adalah bagian yang menggambarkan hubungan kerja antara dua orang atau
lebih dengan tugas yang saling berkaitan untuk pencapaian suatu tujuan. Struktur organisasi
bagi perusahaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan dan
memperlancar jalannya perusahaan tersebut. Adapun bentuk struktur Organisasi di PT.
Wilmar Nabati Indonesia dapat dilihat pada lampiran.

2.4 Visi Dan Misi Perusahaan


1. Visi :
Perusahaan kelas dunia yang dinamis di bisnis agrikultur dan industri terkait, dengan
pertumbuhan yang dinamis dan tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin
pasar di dunia melalui kemitraan dan manajemen baik
2. Misi :
Menjadi mitra usaha yang unggul dan layak dipercaya bagi stakeholder.

2.5 Sistematika Kerja


Pada proses produksi (Refinery) sistem kerjanya terbagi atas tiga shift:
1. Sift pertama mulai bekerja dari jam 08.00 – 16.00 WIB.
2. Sift kedua mulai bekerja dari jam 16.00 – 00.00 WIB.
3. Sift ketiga mulai bekerja daari jam 00.00 – 08.00 WIB.

5
2.6 Bahan Baku, Bahan Pembantu dan Produk
2.6.1 Bahan Baku
Bahan baku utama yang digunakan untuk pembuatan minyak goreng di PT. Wilmar Nabati
Indonesia adalah CPO (Crude Palm Oil ) atau minyak sawit mentah yang didapat dari hasil
pengepresan serabut (fiber) kelapa sawit. Bahan CPO yang diperoleh dari daerah Sumatera
Barat, Bengkulu, Jambi dan pabrik kelapa sawit lainnya yang bekerjasama dengan PT. Wilmar
Nabati Indonesia unit Padang ini dikirim melalui mobil tanki. Sebelum CPO ditampung di
tanki penampungan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kandungan Free Fatty Acid (FFA)
dan kadar airnya. Kadar FFA yang terkandung dalam CPO maksimal sebesar 5% dan kadar
airnya 0.5 maksimal.

2.6.2 Bahan Pendukung


Disamping bahan baku tersebut, ada beberapa bahan tambahan atau bahan pembantu yang
digunakan dalam proses produksi, yaitu :
1. Phosporit Acid (H3PO4)
Asam Phospat (H3PO4) berfungsi untuk mengikat posfatida (gum/getah), kandungan
logam, dan kotoran lainnya menjadi gumpalan-gumpalan dalam proses degumming,
Phosporit Acid yang dibutuhkan pada tahap degumming adalah berkisar antara 0.04 –
0.05%.
2. Bleaching Earth
Bleaching Earth berfungsi untuk mengabsorbsi kotoran-kotoran (impuirities) yang
telah terikat dari proses degumming seperti kandungan logam, karoten, kelembapan,
bahan tak larut atau zat-zat yang bersifat koloidal seperti resin, gum, protein, dan
fosfotida dalam CPO. Bleaching Earth juga berfungsi sebagai bahan pemucatan dalam
pengambilan warna CPO dalam Bleaching Section.
3. Ctrid Acid
Citrid Acid berfungsi sebagai antioksidan.

2.6.3 Produk
Produk yang dihasilkan pada PT. Wilmar Nabati Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Refinery Bleaching Deodorized Palm Oil (RBDPO), yaitu minyak yang dapat dijual
untuk produksi Minyak Goreng.

6
2. Refinery Bleaching Deodorizing Olein (RBDOL), yaitu minyak yang sudah dapat
dikonsumsi oleh konsumen.
3. Refinery Bleaching Deodorizing Stearin (RBDST), yaitu fraksi padat untuk pembuatan
kosmetik, farmasi, mentega dll.
4. Palm Fatty Acid Destilate (PFAD), yaitu hasil sampingan dari proses Refinery yang
digunakan sebagai bahan pembuatan lilin.

2.7 Proses Produksi


CPO yang didatangkan dari berbagai pabrik kelapa sawit masih mengandung komponen-
komponen yang tidak diinginkan yaitu Asam Lemak Bebas, resin, gum, protein, fosfatida,
pigmen, warna, dan bau. Agar dapat dipergunakan sebagai bahan makanan, maka CPO
tersebut harus diproses lagi di pabrik pengolahan minyak goreng. CPO yang masuk ke PT.
Wilmar Nabati Indonesia unit Padang ini disimpan di tanki timbun (Storage tank).

Cpo
Asam Phosfat
Degumminng
Bleaching Earth
Bleaching

Deodorizing

RBDPO PFAD

Kristalisasi

Filter Press

RPS ROL

Gambar 2.2 Proses produksi PT. Wilmar Nabati Indonesia

7
Secara garis besar proses produksi di PT. Wilmar Nabatai Indonesia unit Padang terdiri dari 2
proses yaitu :
1. Proses Refinery
Proses Refinery merupakan proses pemurnian minyak sawit Crude Palm Oil (CPO)
untuk menurunkan kadar Free Fatty Acid (FFA), bau, serta menurunkan warna,
sehingga memenuhi syarat mutu gunanya.
Diagram alir Refinery Section dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.3 Diagram Alir Proses Refinery

Tahapan proses pada Refinery Section terdiri dari empat section, diantaranya adalah :
a. Proses Degumming
Proses degumming bertujuan untuk mengikat gum (getah) berupa fosfatida dan
komponen logam dengan penambahan PA (Phosphoric Acid) dan CA (Citric Acid).
CPO dipompakan ke plant refinery untuk dipanaskan dengan temperatur 100–105
o
C dengan menggunakan Heat exchangger plate. Minyak yang telah dipanaskan
CPO dialirkan menuju tempat pengeringan sementara Drying yang bertujuan untuk
mengurangi kadar air pada minyak CPO. CPO yang diproses pada D002 akan
diteruskan menuju Mixer dan ditambahkan PA (Phosphoric Acid) 85% dengan dosis
0.04-0.065% dari laju alir CPO dan CA (Citric Acid) 100-200 ppm dengan dosis ±
0.02. Setelah terjadi pencampuran maka dilakukan pengadukan, pengadukan ini
bertujuan agar semua bahan kimia yang digunakan akan tercampur dan homogen,
pada proses ini menggunakan temperatur 100°C dan waktu pengadukan ± 1 menit.

8
b. Proses Bleaching
Proses bleaching atau pemucatan bertujuan untuk menghilangkan beberapa
impurities yang tidak diinginkan (logam, pigmen warna, fosfatida) dari CPO dengan
penambahan adsorben BE (Bleaching Earth). Campuran minyak dari proses
degumming akan masuk menuju Bleacher, kemudian di tambah BE (Bleaching
Earth) dengan dosis 0,6-0,8% dari laju alir CPO, agar minyak dan BE bercampur
sempurna maka dilengkapi dengan sparging steam bertekanan ±1,5 bar dengan
temperatur dalam tangki 100-105 oC. Pada tahap ini terjadi penyerapan warna, gum,
dan kotoran. Pada proses ini dilakukan sparging steam dan vakum sehingga
pencampuran antara minyak CPO dan BE jadi maksimal.
c. Filtrasi
Proses filtrasi merupakan lanjutan dari proses bleaching, dimana sisa-sisa bleaching
earth akan disaring disuatu peralatan yang dinamakan niagara filter. Niagara filter
berfungsi untuk menyaring minyak dari bahan pengotor, kotoran yang dimaksud
adalah gum-gum yang telah diikat pada proses sebelumnya, selain dari itu niagara
filter juga berfungsi untuk menyaring minyak yang bercampur dengan spent earth.
Spent earth akan memisah dan keluar melalui bagian bawah Niagara Filter, minyak
yang loss bercampur dengan spent earth maksimal 20%. Produk minyak yang
dihasilkan yaitu Bleaching Palm Oil (BPO).
d. Proses Deodorisasi
Minyak BPO yang dihasilkan dari Niagara Filter dilakukan proses deodorisasi.
Deodorisasi adalah suatu tahapan proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk
menghilangkan bau dan rasa (flavor) yang tidak enak dalam minyak.Proses untuk
penghilangan bau serta asam lemak bebas dilakukan prinsip kerja deodorisasi
deasidifikasi, dimana minyak tersebut dipanaskan dan terurai dalam bentuk uap.
Minyak BPO akan dipanaskan dengan suhu pemanasannya berkisar 250 oC -260°C
yang kemudian akan dialirkan menuju alat Deodorizer, pada alat ini minyak diberi
perlakuan vakum disertai pengadukan sparging steam. Steam yang digunakan
adalah uap air panas atau steam dengan tekanan steam ± 2,8 bar. Kondisi vakum
menyebabkan komponen volatil menguap, kemudian uap tersebut dikondensasikan
yang akan menghasilkan produk samping PFAD (Palm Fatty Acid Distilate).

9
Minyak yang tidak terkondensasi dinamakan RBDPO (Refined Bleached
Deodorized Palm Oil).
2. Proses Fraksinasi
Tahap fraksinasi merupakan proses untuk memisahkan RBDPO menjadi dua fraksi
yaitu fraksi padat (Stearin) dan fraksi cair (Olein). Kedua fraksi ini dapat dipisahkan
dengan memompa RBDPO menuju tangki crystallizer dengan bantuan pompa,
kemudian dilanjutkan ke tahap pemisahan fraksi dengan filter press.
Diagram alir Fraksinasion Section dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

RBDPO

Kristalisasi

Filtrasi

Olein Stearinnnn
nn
Gambar 2.4 Diagram Alir Proses Fraksinasi

Adapun proses fraksinasi adalah sebagai berikut:


a. Proses Kristalisasi
Kristalisasi adalah peristiwa pembentukan suatu kristal.Kristalisasi dapat terjadi
sebagai pembentukan partikel-partikel padat. Kristalisasi dapat dilakukan dengan
cara pendinginan. Kristalisasi dapat memisahkan suatu campuran tertentu dari
larutan sehingga didapat produk dalam bentuk kristal. Proses yang dilakukan pada
media kristalizer dengan cara mendinginkan RBDPO secara perlahan hingga
temperatur lebih rendah sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan sambil diaduk
hingga terbentuk butiran-butiran kristal. Media kristalizer dilengkapi dengan
cooling water yang berfungsi sebagai pendingin dan agitator yang berfungsi
sebagai pengaduk.

10
Pada proses kristalisasi menggunakan dua metoda pendinginan, yaitu :
1) Cooling
Aliran pendingin yang model spiral dipasang di dalam alat kristalizer. Tahapan
ini merupakan proses pendinginan pertama dimana air pendingin masuk berkisar
antara 28°C - 30°C. Aliran pendingin ini berasal dari cooling tower.
2) Chilling
Seperti dengan proses cooling, pendingin Chilling masuk 10°C - 11°C, pada
tahapan Chilling ini proses pengkristalan telah terjadi sempurna. Adapun dalam
proses pendinginan ini ada beberapa segment yang dilakukan penyetingan supaya
temperatur pengkristalan didapatkan. Proses fraksinasi bergantung pada suatu
recipe kristalisasi yang terdiri dari detail temperatur fluida pendingin serta lama
waktu pendinginan menggunakan fluida tersebut. Recipe kristalisasi yang
digunakan oleh PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang diformulasi
berdasarkan kualitas produk yang ingin dicapai (IV dan CP).

b. Proses Filtrasi
Filtrasi merupakan suatu proses pemisahan partikel padat (stearin) dan olein.
Adapuns proses filtrasi yang terjadi pada bagian produksi yaitu dengan cara
mekanik (press). Proses filter press bermula dari umpan yang berasal dari kristalizer
akan di ambil dengan menggunakan pompa yang kemudian akan diteruskan menuju
alat filter pres. Minyak RPO yang telah menjadi kristal akan dilakukan proses
penyaringan pada alat filter pres. Filter press merupakan alat pemisah yang terdiri
dari lapisan-lapisan terselimuti membran. Kristal stearin dan olein akan mengisi
ruang antar lapisan. Filter press akan memberikan tekanan pada lapisan-lapisan
membran, sehingga kristal stearin akan tertahan dan olein mengalir terpisah menuju
tangki penyimpanan, sedangkan stearin akan tertinggal dirongga-rongga kain filter.
Setelah rongga filter telah penuh maka pemompaan RPO ke filter pres akan
bserhenti dan dilanjutkan dengan proses penekanan filter (squeezing) yang
tujuannya agar olein yang tertinggal lolos dari kain filter. Setelah stearin memadat
maka dilanjutkan dengan proses pembukaan filter (opening), pada proses ini stearin
padat akan jatuh dan ditampung oleh melting tank.

11
2.8 Sistem Distribusi atau Pemasaran
Hasil produksi yang telah diolah di PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang yaitu berupa
Olein yang dipasarkan ke beberapa negara yang ada didunia, diantaranya Malaysia, Singapura,
Eropa, India, dan ada juga di Indonesia.
Sistem pemasaran di PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang terbagi 2 yaitu :
1. Eksport
Pengeksporan dilakukan dengan jalan Trading yang bertempat di Singapura yang akan
memberitahukan ke PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang bahwa ada pembeli.
Sehingga PT.Wilmar Nabati Indonesia unit Padang akan menyiapkan produk yang
diminta oleh perusahaan lain. Biasanya pengeksporan ini menggunakan kapal.
2. Lokal
Sistem pemasaran pada lokal ini tidak melakukan promosi, melainkan menggunakan
sistem pemberitahuan kepada toko-toko yang ada disekitar Sumatera Barat.
Pengangkutan dilakukan dengan truk tanki minyak. Pemerintah memberikan peraturan
untuk menjual ke masyarakat umum.

2.9 Sumber Daya Manusia


Sumber Daya Manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat
dilepaskan dari sebuah organisasi maupun perusahaan. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia
yang dipekerjakan sebagai penggerak, pemikir, dan perencana untuk mencapai tujuan dari
perusahaan. Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh setiap perusahaan adalah tersedianya
sumber daya manusia yang terampil, siap pakai, dan mampu melaksanakan tugasnya dengan
baik. Di PT. Wilmar Nabati Indonesia menyerap tenaga kerja yang sesuai dengan
spesifikasinya. Adapun kriteria tenaga kerja di PT. Wilmar Nabati Indonesia adalah tenaga
kerja yang memiliki kemampuan dibidang:
1. Analisis kimia
2. Pengoperasian alat instrumen analisa
3. Sistem Produksi Industri
4. Teknik mesin
5. Kimia industri
6. Teknik Industri

12
Kriteria diatas ditunjang dengan tingkat pendidikan dari SMA, SMK, Diploma, dan Sarjana.
Sumber Daya Manusia yang ada di PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang terdiri dari 16
Dapertemen yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.2 Sumber Daya Manusia

No Bagian jumlah
1 General Manager 1
2 QA 1
3 DC 1
4 Factory Head 1
5 PPIC & Ops Head 1
6 Coord Shipping Dept 1
7 Coord HRGA 1
8 Mtc & Eng Head 1
9 Head QC 1
10 Head Section Produksi 1
11 Ass.Supervisor Produksi 1
12 Shift Leader Ref & Frac 3
13 Opr Refinery 2
14 Opr Fraksinasi 4
15 Utility SPV 1
16 Shift Leader Utility 3
17 Opr Shell Boiler 4
18 Opr HP Boiler 2
19 ETP 1
20 Head Section Store 1
21 Store Staff 1
22 MIS 1
23 Staff Maintenance 2
24 Staff Electrical 4
25 Asst Spv QC 1
26 Analist & Admin 6
27 Head TF 1
28 Staff TF/PH 10
29 Head Section PPIC & Cost Control 1
30 Staff PPIC 1

13
31 Head Section Log/WB 1
32 Opr WB 5
33 Head Section Shipping 1
34 Shipping Staff 4
35 Dok Shipping 1
36 Head Section PGA 1
37 Admin PGA 1
38 Head Security 1
39 Anggota Security WINA & TBBT 8
40 Driver 1
41 Asst Spv PGA/MIS 1
Jumlah 81

2.10 Kesehatan dan Keselamtan Kerja


Wilmar Group berkomitmen untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi setiap
karyawan dan mengupayakan pengamanan yang memadai untuk melindungi karyawan dari
kecelakaan / cidera, serta melindungi perusahaan dan anak perusahaan dari kerugian atau
kerusakan aset.
Wilmar Group memprakarsai penerapan prosedur dan peraturan keamanan lingkungan kerja.
Manajemen bertanggung jawab untuk meminimalisasi semua resiko yang membahayakan
kesehatan dan keselamatan kerja bagi semua karyawan di masing-masing lokasi dan untuk
melatih semua karyawan agar dapat bekerja dengan aman.
Tanggung jawab ini diemban oleh setiap karyawan dan semua harus mengikuti peraturan dan
prosedur keselamatan kerja Grup Perusahaan Wilmar. Kerjasama dari semua karyawan dalam
program keselamatan kerja merupakan kewajiban untuk pekerjaan dan sangat penting dalam
mencegah kecelakaan kerja.
Wilmar Group tidak mentoleransi penyalahgunaan obat terlarang (narkotika, psikotropika, dan
zat aditif lainnya) dan merupakan kebijakan perusahaan untuk menjaga lingkungan kerja yang
bebas dari konsumsi alkohol, dan penyalagunaan obat terlarang dan dampaknya. Prinsip
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai berikut:
1. Semua kecelakaan dan cidera dapat dicegah
2. Keterlibatan karyawan merupakan syarat dasar

14
3. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan tanggung jawab manajemen dan semua
karyawan
4. Semua dampak dari pekerjaan dapat dijaga
5. Pelatihan karyawan untuk bekerja dengan selamat merupakan syarat dasar
6. Bekerja dengan selamat merupakan persyaratan kerja
7. Manajemen wajib melakukan audit
8. Semua kekurangan harus segera diperbaiki
9. Keselamatan di dalam dan di luar jam kerja sangat dijunjung tinggi
10. Prosedur dan peraturan kesehatan dan keselamatan kerja harus dilaksanakan dengan
baik.

2.11 Sistem Manajemen Mutu


Sistem manajemen mutu pada PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Padang sebagai berikut:
1. ISO 9001 : 2008
2. GMP+B2
3. RSPO
4. ISCC
5. Sistem Jaminan Halal
6. SMK3
7. Audit Management (Internal HO)

Gambar 2.5 Sertifikan Manajemen Mutu di PT. Wilmar Nabati Indonesia Unit Padang

15
BAB III LANDASAN TEORI

3.1 Crude Palm Oil (CPO)

Gambar 3.1 Crude Palm Oil

Minyak sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit,
umumnya dari spesies Elaeis guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea
maripa. Minyak sawit secara alami berwarna merah karena kandungan alfa dan beta-
karotenoid yang tinggi. Minyak sawit berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (Palm Kernel
Oil) yang dihasilkan dari inti buah yang sama Minyak kelapa sawit juga berbeda
dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera). Perbedaan ada
pada warna (minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga tidak berwarna merah), dan
kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung 41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%,
dan minyak kelapa 86%..ermasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi.
Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan dan memiliki beberapa
jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam
palmitat (44%). Minyak sawit juga memiliki lemak tak jenuh dalam bentuk asam
oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%). Seperti semua minyak nabati,
minyak sawit tidak mengandung kolesterol meski konsumsi lemak jenuh diketahui
menyebabkan peningkatan kolesterol lipoprotein densitas rendah dan lipoprotein densitas
tinggi akibat metabolisme asam lemak dalam tubuh. Minyak sawit juga GMO free, karena
16
tidak ada kelapa sawit termodifikasi genetik (GMO) yang dibudidayakan untuk menghasilkan
minyak sawit.
Selain sebagai bahan baku industri minyak goreng, CPO dapat digunakan untuk keperluan
industri sabun dan industri margarin. Dilihat dari proporsinya, industri yang selama ini
menggunakan CPO paling banyak adalah industri minyak goreng (79%), kemudian industri
oleokimia (14%), industri sabun (4%), dan sisanya industri margarin (3%). Secara keseluruhan
proses produksi minyak sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% Palm
Fatty Acid Distillate (PFAD), dan 0,5% bahan lainnya (Panapanaan dkk, 2009).
Bahan baku dalam proses pengolahan ini adalah minyak kelapa sawit mentah yang
diperoleh melalui proses ekstraksi dari bagian daging buah atau biasa disebut dengan nama
Crude Palm Oil (CPO), bahan utama ini sangat diperlukan dalam proses pengolahan yang
akan diterapkan. Selain itu, digunakan juga beberapa bahan lain, seperti materi bleaching
earth dan asam fosfat yang akan digunakan dalam proses pemurnian (Basiron, 2005).
Asam lemak yang bersamaan dengan gliserol adalah penyusun utama minyak nabati dan
hewani. Asam lemak yang terkandung di dalam CPO sebagian besar adalah asam lemak jenuh
yaitu asam palmitat Asam ini hanya memiliki ikatan tunggal diantara atom-atom karbon
penyusunnya, sedangkan asam lemak tak jenuh mempunyai paling sedikit satu ikatan rangkap
diantara atom-atom karbon penyusunnya. Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah
bereaksi) dari pada asam lemak tak jenuh.

3.2 Bahan Kimia


CPO yang akan diolah tidak begitu saja di produksi ada beberapa penambahan bahan kimia
agar dapat di gunakan sesuai kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Adapun untuk bahan
kimia yg di gunakan adalah Phosporic Acit, Citrit Acit, Bleaching earth.

17
3.2.1 Phosporic Acit (H3PO4)

Gambar 3.2 Struktur tiga dimensi asam fosfa

Asam fosfat biasanya dikenal sebagai asam ortofosfat atau fosfat (V) asam, adalah mineral
(anorganik) asam memiliki rumus kimia H3PO4. Asam fosfat (H3PO4) mengandung tiga ion
H+, dimana dengan kekuatan asam yang dimilikinya dari ion tersebut tidak sama. Asam fosfat
yang murni adalah kristal padat (titik leleh 42,35 °C atau 108,2 °F). Asam fosfat dapat
membentuk tiga jenis garam sesuai dengan adanya penggantian satu, dua, atau tiga atom
hidrogennya. Di antara garam fosfat yang diantaranya penting adalah natrium dihidrogen
fosfat (NaH2PO4), natrium fosfat (Na3PO4), kalsium superfosfat (Ca [H2PO4] 2), kalsium
monohidrogen fosfat (CaHPO4).(Warlinda & Zainul, n.d.). Molekul asam fosfat dapat
bergabung untuk membentuk berbagai senyawa. Di antara asam mineral lainnya, asam fosfat
memiliki status khusus seperti pada penggunaan industri anti korosi dan proses industri
makanan.

Gambar 3.3 Phosporic Acid cair dan bubuk

18
Selain menjadi reagen kimia, asam fosfat memiliki berbagai macam kegunaan, termasuk
sebagai inhibitor karat, aditif makanan, etchant gigi dan ortopedik, elektrolit, fluks,
pendispersi, etchant industri, bahan baku pupuk, dan komponen produk pembersih
rumah. Asam fosfat dan fosfat juga penting dalam biologi. Sumber yang paling umum dari
asam fosfat adalah larutan air 85%; larutan tersebut tidak berwarna, tidak berbau, dan non-
volatil. Larutan 85% adalah cairan seperti-sirup, tetapi masih dapat dituang. Meskipun asam
fosfat tidak memenuhi definisi yang ketat dari asam kuat, larutan 85% cukup asam untuk
menjadi korosif. Karena tingginya persentase asam fosfat dalam reagen ini, setidaknya
beberapa dari asam ortofosfat terkondensasi menjadi asam polifosfat. Demi pelabelan dan
kesederhanaan, 85% merepresentasikan H3PO4 seolah-olah itu semua asam ortofosfat. Larutan
asam fosfat encer ada dalam bentuk orto.( Didalam dunia industri terkhusus industry minyak
sawit, dimna minyak CPO di murnikan dengan menambahkan bahan kimia, yaitu H3PO4, atau
yg sering kita kenal dengan asam fosfat. Dalam proses refinery asam fosfat ini di campurkan
dengan CPO yg memiliki suhu yg lumayan tinggi. adapun kegunaan asam fosfat dalam
kehidupan sehari-hari adalah
1. Mayoritas asam fosfat digunakan dalam produksi pupuk di mana asam direaksikan
dengan mineral yang ditemukan di batuan fosfat untuk menghasilkan garam fosfat.
2. Asam fosfat juga digunakan sebagai refinery/penjernihan minyak goreng.
3. Untuk digunakan dalam perawatan karat, larutan asam fosfat dibuat sebagai bak mandi
atau gel untuk diterapkan ke area berkarat.
4. Asam fosfat juga digunakan untuk etsa logam dan roughing email gigi selama
perawatan gigi seperti saluran akar gigi dan pemutihan gigi.
5. Untuk rasanya yang tajam, asam fosfat digunakan sebagai penyedap dalam banyak
minuman ringan, biasanya cola.
6. Asam fosfat digunakan sebagai pembersih dengan konstruksi perdagangan untuk
menghilangkan kandungan mineral, noda semen, dan noda air keras. Hal ini juga
digunakan sebagai chelant di beberapa pembersih rumah tangga bertujuan tugas
pembersih semacam itu.
7. Phosphoric acid digunakan dalam microfabrication untuk etch nitrida siliokon (Si3N4).
Hal ini sangat selektif dalam etsa Si3N4 bukannya silikon dioksida (SiO2)

19
8. Asam fosfat digunakan sebagai fluks oleh penggemar (seperti railroaders model)
sebagai bantuan untuk penyolderan.
9. Asam fosfat juga digunakan dalam hidroponik pH solusi untuk menurunkan pH larutan
hara. Sedangkan jenis-jenis asam dapat digunakan, fosfor merupakan nutrisi yang
digunakan oleh tanaman, terutama selama berbunga, sehingga asam fosfat terutama
diinginkan. Hidroponik Umum Down pH larutan cair mengandung asam fosfat di
samping asam sitrat dan amonium bisulfat dengan buffer untuk mempertahankan pH
stabil dalam reservoir nutrisi.
10. Asam fosfat digunakan sebagai elektrolit di tembaga electropolishing untuk
menghilangkan duri dan papan serkuit planarization.
11. Asam fosfat digunakan dengan air suling (2-3 tetes per galon) sebagai elektrolit dalam
oxyhydrogen (HHO) generator.
12. Asam fosfat digunakan sebagai pengatur pH dalam kosmetik dan produk perawatan
kulit.
13. Asam fosfat digunakan sebagai agen oksidasi kimia untuk karbon aktif produksi, seperti
yang digunakan dalam Proses Wentworth.
14. Asam fosfat juga digunakan untuk performa tinggi kromatografi cair .
15. Asam fosfat dapat digunakan sebagai agen penyebaran dalam deterjen dan pengobatan
kulit.
16. Asam fosfat dapat digunakan sebagai aditif untuk menstabilkan larutan asam dalam
kisaran pH ingin dan ditetapkan
17. Asam fosfat merupakan bahan utama yang memberikan rasa menggigit dalam Coca-
Cola dan Pepsi soda.

20
3.2.2 Citrit Acit

Gambar 3.4 Citrit Acit

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan
genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami,
selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam
biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di
dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat
digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.Asam sitrat
terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi,
yang dapat mencapai 8 % bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan
jeruk purut). Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7.
Citrit acid adalah senyawa kimia yang memiliki rumus kimia H8C6O7 dan pada proses
pemurnian minyak digunakan sebagai pengawet serta penghilang kesadahan air. Kesadahan
air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya kalsium (Ca) dan
magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Garam karbonat adalah garam yang mudah
larut didalam air.

3.2.3 Bleaching Earth


Bleaching earth adalah salah satu bahan yang digunakan pada proses produksi refinery untuk
menghilangkan warna pada minyak CPO (Crude Palm Oil) dan sebagai zat yang membantu

21
dalam proses pemucatan pada bleacher. Pemucatan ini dilakukan dengan mencampur minyak
dalam sejumlah pemucatan seperti bleaching earth. Untuk proses ini dapat dipergunakan
bahan-bahan yang berbeda seperti non-activated clay dan activated carbon, yang paling
populer adalah activated bleaching earth karena dipergunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan pengotor (impurities) yang tidak diinginkan pada minyak nabati.
Berikut ini diberikan sifat-sifat bleaching earth yang dapat berfungsi sebagai:
1. Bahan penyerap (adsorbtive material)
2. Asam berbentuk padat (solit acid)
3. Katalis (catalyst)
4. Penukar kation (Cation exchange)

Jenis-Jenis Bleaching Earth


a) Simnit

Gambar 3.5 Simnit


Simnit merupakan nama dagang untuk sejenis tanah lempung yaitu kaolin. Kaolin
adalah mineral lempung berwarna putih, bersusunan kimia Al2O32SiO22H2O (hidrous
aluminium silikat) yang merupakan hasil bahan atau pelapukan dari felspar atau mika.
Kaolin memiliki nilai ekonomi cukup besar sebagai bahan keramik, pemutih dan
pengisi kertas.

22
b) Carbon Aktif

Gambar 3.6 Carbon Aktif

Carbon (arang) merupakan adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-
zat dalam larutan. Zat ini dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat warna dalam
larutan. Aktivasi carbon bertujuan untuk memperbesar luas permukaan arang dsengan
membuka pori- pori yang tertutup, sehingga memperbesar kapasitas adsorbsi terhadap
zat warna.

c) Bentonite

Gambar 3.7 Bentonite

Bentonite merupakan nama perdagangan untuk sejenis lempung yang mengandung


mineral monmorilonite (pembangun struktur bentonite). Lempung ini merupakan
batuan silica yang berasal dari kerangka organisme aquatik mikroskopik. Sisa

23
kerangka ini pertama-tama membentuk lumpur yang kemudian termampatkan.
Rumus kimia bentonite adalah (MgCa) Al2O3 5SiO28H2O.

24
BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Refining plant (Pemurnian Minyak Kelapa Sawit)


Bahan baku yang digunakan yaitu Crude Palm Oil (CPO) harus melalui tahap pemurnian
(refining) terlebih dahulu agar dihasilkan produk yang dapat diolah pada tahap selanjutnya
sehingga pada akhirnya dapat dihasilkan produk minyak goreng yang berkualitas.

Gambar 4.1 Crude Palm Oil (CPO)

Gambar 4.2 Refinery Bleaching Deodirized Palm Oil (RBDPO)

Proses pemurnian (refining) ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan produk
minyak goreng yang memiliki warna jernih dan memiliki kestabilan yang baik
terhadap oksidasi. Jika proses pemurnian (refining) tidak dilakukan terhadap bahan baku
maka dapat menyebabkan beberapa dampak buruk, yaitu dapat mempengaruhi kualitas
produk dan ketika bahan baku tidak dimurnikan terlebih dahulu atau langsung digunakan
untuk menggoreng maka dapat mengkontaminasi bahan yang akan digoreng. Rangkaian
tahapan proses pemurnian (refining) adalah degumming, bleaching, dan deodorisasi.

25
CPO

Gambar 4.3 bagan proses pemurnian (Refining)

Rangkaian tahapan proses pemurnian (refining) adalah degumming, bleaching, dan


deodorisasi.

4.1.1 Degumming
Feed material yang di alirkan dari stroge tang mengunakan sentrifugal pump ke heat
exchanger (Plate Type) disini terjadi heat transfer antara feed dengan final product refenery.
Terlebih dahulu feed material di panaskan dengan steam pada heat exchanger unuk
mempercepat reaksi pada kisaran temperatur 100-110 ºC, sebelum dilakukan dosing H3PO4.
Dosing H3PO4 dilakukan dengan menggunakan Dosing Pump, cara menentukan flow dosing
adalah dengan mensetting jumlah stroke dosing pump tersebut sesuai dengan persentase
pemakaian (0.03% - 0.05%).

26
Table 2.3 komposisi bahan pendukung
No komposisi Jumlah %/ton

1 Phosporit Acid 0.045%

2 Citrid Acid 0.02%

3 Bleaching Earth 0.65%

H3PO4 di dosingkan pada suction sentrifugal mixer, untuk menyempurnakan proses reaksi
menetralisir gum-gum yang terdapat pada feed material. Pemisahan ini dilakukan karena
fosfolipid (gum) dapat mengendap selama penyimpanan sehingga menyebabkan off-flavor
dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada produk akhir. Hal ini sesuai dengan
pernyaataan Lin & Koseoglu, (2005). Penambahan asam fosfat dapat memutus ikatan
fosfatida dengan cara memecah kompleks magnesium dan kalsium. Hasilnya, gum yang
bersifat non hydratable dapat diubah menjadi bersifat hydratable yang kemudian
membentuk kompleks kalsium dan magnesium (O’Brien, 2004).Berdasarkan Kapoor&
Nair (2005), proses selanjutnya akan mengalami kontak dengan bleaching earth maka
komponen fosfatida akan terserap dan akan terbentuk endapan lumpur.Sebenarnya, larutan
asam yang dicampurkan dapat berupa asam sitrat, tetapi dengan pertimbangan biaya maka
digunakan asam fosfat yang lebih efisien. Penambahan asam yang digunakan sangat
penting karena dosis yang terlalu sedikit ataupun dosis yang terlalu banyak dapat
menyebabkan perubahan warna menjadi lebih gelap dan dapat menyebabkan off-flavor pada
produk akhir.

4.1.2 Bleaching
Bleaching adalah proses penghilangan pigmen-pigmen warna yang terkandung di dalam
minyak dengan melakukan penambahan materi bleaching earth. Penghilangan ini
didasarkan pada mekanisme adsorpsi. Pigmen warna yang terkandung di dalam minyak
seperti karotenoid akan diserap oleh bleaching earth. Sementara itu, komponen lain yang
ikut terikat dengan bleaching earth akan dihilangkan dengan proses pemerangkapan di
dalam struktur bleaching earth. Bleaching earth merupakan mineral clay yang digunakan
untuk mengurangi intensitas warna produk (menjernihkan). Bleaching earth biasanya berupa
kalsium monmorilonit dan campuran antara kalsium monmorilonit dengan atapulgit (Taylor,

27
2005). Tujuan dari penambahan materi bleaching earth, yaitu untuk menyerap komponen
pengotor, untuk mengurangi kadar produk hasil oksidasi, untuk menyerap komponen
fosfolipid, dan untuk menghilangkan kandungan asam fosfat yang tersisa. Bleaching earth
biasanya ditambahkan secara langsung sesuai kualitas Crude Palm Oil (CPO). Dalam proses
ini, dibutuhkan pengadukan secara intensif.

Gambar 4.4 Bleacing earth

Proses bleaching dilakukan dengan menggunakan tekanan vakum sekitar 20-25 mmHg
dengan suhu 95-110 Celcius dalam waktu 30-45 menit (Basiron, 2005). Materi bleaching
earth yang tercampur dengan minyak akan dihilangkan melalui proses filtrasi. Tahap
filtrasi yang dilakukan dimulai dengan mengalirkan campuran ke suatu filter yang
berbentuk daun (leaf filter), diikuti proses filtrasi akhir menggunakan polishing filter.
Kemudian, Minyak akan dikembalikan ke dalam bleacher karena masih ada
kemungkinan mengandung materi bleaching earth. Tahap filtrasi ini sangat berpengaruh
karena jika tersisa ada sedikit kandungan spent earth pada produk, maka dapat
menyebabkan nilai peroksida meningkat sehingga kualitas mutu produk akan menurun.
Hal ini dapat disebabkan karena bleaching earth mengandung logam-logam yang dapat
mengkatalis reaksi oksidasi. Serangkaian proses yang terjadi ini sesuai dengan pernyataan
Gibon et al., (2007). Selanjutnya minyak akan dimasukkan ke dalam tangki penyimpanan.
Spent earth yang tersisa akan ditiup menggunakan steam dengan tujuan untuk
menguapkan minyak agar hasilnya efisien. Berdasarkan Basiron (2005), hasil dari proses
bleaching akan menghasilkan minyak yang memiliki warna lebih cerah dan stabil. Faktor
penting yang cukup berpengaruh adalah suhu, kelembapan, dan sifat bleaching earth

28
yang ditambahkan atau digunakan dalam proses. Bleaching earth yang bersifat netral
dapat berupa aluminium silikat. Bleaching earth ini dapat diaktivasi menggunakan
penambahan panas untuk meningkatkan kemampuan adsorpsinya.

4.1.3 Deodorisai
Pada dasarnya tahapan deodorisasi merupakan proses pelepasan steam secara vakum
dengan menggunakan suhu tinggi dan bertujuan untuk menghasilkan minyak yang tidak
memiliki rasa dan tidak memiliki bau karena teruapkannya asam lemak bebas (FFA) dan
komponen volatil berdasarkan perbedaan titik didih setiap komponennya. Berdasarkan Gibon
et al., (2007), proses deodorisasi ini melibatkan 3 operasi yang berbeda, yaitu (1) distilasi,
yaitu pelepasan komponen volatil (FFA, tokoferol, tokotrienol, dan sterol); (2) deodorisasi,
yaitu penghilangan kompenen yang berbau, dan (3) pemanasan, yaitu terjadinya perusakan
pigmen (karotenoid) karena adanya perlakuan panas tetapi mencegah reaksi isomerisasi dan
polimerisasi.

4.1.3.1 Jenis-jenis Deodorisasi


Proses deodorisasi dibagi menjadi beberapa metode, antara lain sistem batch, semi-
kontinyu, dan kontinyu. Sistem batch biasanya diaplikasikan untuk kapasitas kecil, proses
pengolahan minyak yang berbeda dalam suatu batch. Sistem semi-kontinyu biasanya
diaplikasikan untuk kapasitas yang cukup besar. Dalam sistem ini, suatu batch minyak
dipindahkan ke dalam sistem lalu digerakkan dengan bantuan gravitasi dengan waktu
tertentu melalui perantara seperti tray. Sistem kontinyu merupakan sistem yang paling
banyak diaplikasikan di suatu pabrik industri karena kapasitasnya yang cukup besar.
Keunggulan dari sistem ini adalah biaya yang efisien, memiliki kemungkinan besar
untuk melakukan pemulihan panas, dan perawatan yang diperlukan juga sederhana
(Gibon et al., 2007). Deodorizer tipe tray vertikal adalah tipe yang paling banyak
digunakan. Desain sistem ini didasarkan pada rangkaian tray tersusun secara vertikal
dalam rangka berbentuk silinder.

4.1.3.2 Kondisi Proses Deodorisasi


Proses deodorisasi dimulai ketika sudah melewati proses bleaching. Dalam tahap ini, minyak
akan dipanaskan dengan suhu 240-270 Celcius dalam suatu heat exchanger dengan
menggunakan tekanan vakum sekitar 2-5 mmHg (Basiron, 2005). Suhu yang digunakan harus

29
dikontrol, yaitu tidak melebihi 270 celcius agar tidak terjadi reaksi termokimia dan isomerasi.
Dengan adanya steam, maka asam lemak bebas di dalam produk bersama komponen lain akan
didistilasi. Tujuan dari penghilangan komponen-komponen tersebut untuk menghilangkan
komponen yang dapat menghasilkan aroma dan rasa yang tidak enak. Selain itu, karotenoid
akan terurai sehingga menghasilkan minyak yang berwarna cerah. Kemudian, minyak akan
didinginkan pada tahap selanjutnya (Basiron, 2005). Dari tahap ini dihasilkan Palm Fatty
Acid Distillate (PFAD). PFAD akan didinginkan sampai menjadi kondensat. Di dalam PFAD
terkandung sekitar 80-90% asam lemak bebas. PFAD biasanya digunakan sebagai materi
pembuatan sabun, sebagai pakan ternak, dan sebagai bahan baku untuk oleokimia (Basiron,
2005). Sistem yang berjalan dalam proses deodorisasi meliputi pemanasan, deodorisasi, dan
pemulihan panas yang dikombinasikan di suatu wadah. Sesain dari deodorisasi dapat berbeda-
beda tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menghasilkan kontak antara fase gas
dengan fase minyak. Pompa steam diaplikasikan untuk meningkatkan efisiensi dari proses
deodorisasi (Gibon et al., 2007). Kondisi deodorisasi yang berbeda memiliki kemungkinan
untuk terjadinya perubahan sifatkimi dan sifat fisik produk. Asam lemak jenis trans biasanya
akan terbentuk pada suhu 280 derajat celcius setelah melewati 4 jam waktu proses. Didalam
hasil akhir produk, kadar lemak trans tidak diperbolehkan melebihi batas 0.6%. Metode
pengilangan asam lemak bebas dan gliserida dapat merubah sifat produk (Gibon et al., 2007)

30
4.1.4 Bahan yang digunakan untuk mengecek kadar Asam pada sample

Gambar 4.5 NaOH 0.02 N Gambar 4.6 Isopropil alkohol

Gambar 4.7 Phenolpthalein Gambar 4.8 RBDPO

31
4.1.5 Alat yang digunakan untuk mengecek warna sample

Gambar 4.9 Lovibond tintometer Gambar 4.10 Hot plate


Selanjutnya berat sample ditimbang dan dijumlahkan agar dpt hasilnya ex..berat
sample (21.7 gram) dan jumlah tetesan 2.58 ml dan skala NAOH 0.0197.lalu dicari hasilnya.
25.6ml *2.58*0.0197:21.7=0.059.jadi FFA RPO 0.059 dan LC 2.3/23

32
BAB V KESIMPULAN & SARAN

5.1 Kesimpulan

1. PT. Wilmar Nabati Indonesia menggunakan metode pemurnian physical refining.


2. Proses refinery yang dilakukan meliputi pengikatan gum (degumming), pemucatan
(bleaching) dengan bleaching earth, dan penghilangan beberapa komponen
(deodorisasi).
3. Pada proses refenery tidak dapat pisahkan dari penggunaan Phosporit Acid, Citrit Acit,
dan Bleaching Eart kerena fungsinya membantu meningkatkan qualitas pemurnian
minyak goreng

5.2 Saran

Untuk menjaga keselamatan kerja di lapangan, terutama di area refenery waktu perbaikan
sangat diperhatikan harus pakai safety ketika ada minyak tumpah dan tidak segera dibersihkan
maka dapat beresiko terhadap karyawan yang bekerja di area tersebut.

33
DAFTAR PUSTAKA

Buku Panduan PT. Wilmar Nabati Indonesia

Basiron, Y. (2005). Palm Oil. In: Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. 6thed. (Ed. F.
Shahidi).A John Wiley & Sons, Inc. New Jersey.

https://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_sawit (Diakses tahun 2019)

Warlinda, Y. A., & Zainul, R. (n.d.). Asam Posfat ( H 3 Po 4 ): Ionic Transformation of


Phosphoric Acid in Aqueous Solution, (237).

http://putrarajawali76.blogspot.com/2013/03/senyawa-fosfat.html

Panapanaan, V.,Helin,T.,Kujunpaa,M.,Soukka,R.,Heinimo,J.,Linnanen,L. 2009. Sustainbility


of palm oil production and opportunities for finnish technology ang know-how
transfer. Finlandia: Lappeerranta University of Technology.

Nasution, E. Z. (n.d.). MANFAAT DARI BEBERAPA JENIS BLEACHING EARTH


TERHADAP WARNA CPO ( CRUDE PALM OIL ), 31–35.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f7/Sedimentary-clay-mountain.jpg

Lin, L. and S. S. Koseoglu. (2005). Membrane Processing of Fats and Oils.

O’Brien, R. D. (2004). Fats and Oils: Formulating and Processing for Applications. 2nded.
CRC Press LLC. New York

Kapoor, R. and H. Nair.(2005). Gamma Linolenic Acid Oils. In: Bailey’s Industrial

Taylor, D. R. (2005).Bleaching. In: Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. 6thed. (Ed. F.
Shahidi).A John Wiley & Sons, Inc. New Jersey.

Gibon, V., Wim D. Greyt, and M. Kellens. (2007). Palm Oil Refining. European
Journal of Lipid Science and TechnologyVol 109: 315-335.

34