Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Sindroma aspirasi mekonium (SAM) merupakan sekumpulan gejala yang


diakibatkan oleh terhisapnya mekonium ke dalam saluran pernafasan bayi.
Etiologi terjadinya sindroma aspirasi mekonium adalah cairan amnion yang
mengandung mekonium terinhalasi oleh bayi. Mekonium dapat keluar di dalam
kandungan bila terjadi stres / kegawatan intrauterin. Mekonium yang terhirup bisa
menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total pada saluran pernafasan,
sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan pertukaran udara di paru-
paru. Selain itu, mekonium juga menyebabkan iritasi dan peradangan pada
saluran udara, menyebabkan suatu pneumonia kimiawi. Cairan amnion yang
terwarna-mekonium ditemukan pada 5-15% kelahiran, tetapi sindrom ini biasanya
terjadi pada bayi cukup bulan atau lewat bulan. Pada 5% bayi yang berkembang
pneumonia aspirasi, dimana 30% darinya memerlukan ventilasi mekanis dan 5-10
persennya dapat meninggal. Kegawatan janin dan hipoksia terjadi bersama
dengan masuknya mekonium ke dalam cairan amnion. 1,2,3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) merupakan sekumpulan gejala yang
diakibatkan oleh terhisapnya cairan amnion mekonial ke dalam saluran
pernafasan bayi. Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah salah satu
penyebab yang paling sering menyebabkan kegagalan pernapasan pada bayi
baru lahir aterm maupun post-term. Kandungan mekonium antara lain adalah
sekresi gastrointestinal, hepar, dan pancreas janin, debris seluler, cairan
amnion, serta lanugo. Cairan amnion mekonial terdapat sekitar 10-15% dari
semua jumlah kelahiran cukup bulan (aterm), tetapi SAM terjadi pada 4-10%
dari bayi-bayi ini, dan sepertiga diantara membutuhkan bantuan ventilator.
Adanya mekonium pada cairan amnion jarang dijumpai pada kelahiran
preterm. Resiko SAM dan kegagalan pernapasan yang terkait, meningkat
ketika mekoniumnya kental dan apabila diikuti dengan asfiksia perinatal.
Beberapa bayi yang dilahirkan dengan cairan amnion yang mekonial
memperlihatkan distres pernapasan walaupun tidak ada mekonium yang
terlihat dibawah korda vokalis setelah kelahiran. Pada beberapa bayi, aspirasi
mungkin terjadi intrauterine, sebelum dilahirkan. 1,3

B. ETIOLOGI
Etiologi terjadinya sindroma aspirasi mekonium adalah cairan amnion
yang mengandung mekonium terinhalasi oleh bayi. Mekonium dapat keluar
(intrauterin) bila terjadi stres / kegawatan intrauterin. Mekonium yang terhirup
bisa menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total pada saluran
pernafasan, sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan pertukaran
udara di paru-paru. Selain itu, mekonium juga berakibat pada iritasi dan
peradangan pada saluran udara, menyebabkan suatu pneumonia kimiawi. 3

2
Bagan 2.1 Etiologi Sindroma Aspirasi Mekonium (Clark, 2010)

C. FAKTOR RESIKO
Faktor Resiko
Faktor resiko yang terkait kejadian SAM antara lain adalah kehamilan post-
term, pre-eklampsia, eklampsia, hipertensi pada ibu, diabetes mellitus pada
ibu, bayi kecil masa kehamilan (KMK), ibu yang perokok berat, penderita
penyakit paru kronik, atau penyakit kardiovaskular. 3

D. PATOFISIOLOGI
SAM seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita
sebut fetal distress. Pada keadaan ini, janin yang mengalami distres akan
menderita hipoksia (kurangnya oksigen di dalam jaringan). Hipoksia jaringan

3
menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas usus disertai dengan
melemasnya spinkter anal. Maka lepaslah mekonium ke dalam cairan amnion.
Asfiksia dan berbagai bentuk stres intrauterin dapat meningkatkan peristaltik
usus janin disertai relaksasi sfinkter ani eksterna sehingga terjadi pengeluaran
mekoneum ke cairan amnion. Saat bayi dengan asfiksia menarik napas
(gasping) baik in utero atau selama persalinan, terjadi aspirasi cairan amnion
yang bercampur mekoneum ke dalam saluran napas. Mekoneum yang tebal
menyebabkan obstruksi jalan napas, sehingga terjadi gawat napas.
Sindroma ini biasanya terjadi pada infant full-term. Mekonium
ditemukan pada cairan amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus,
mengindikasikan beberapa tingkatan aspiksia dalam kandungan. Aspiksia
mengakibatkan peningkatan peristaltik intestinal karena kurangnya oksigenasi
aliran darah membuat relaksasi otot spincter anal sehingga mekonium keluar.
Mekonium tersebut terhisap saat janin dalam kandungan.
Aspirasi cairan amnion mekonial ini akan menyebabkan distress
pernapasan melalui 4 efek utama pada paru, yaitu: obstruksi jalan nafas (total
maupun parsial), disfungsi surfaktan, pneumonitis kimia dan hipertensi
pulmonal. 3
1. Obstruksi jalan nafas
Obstruksi total jalan nafas oleh mekonium menyebabkan
atelektasis. Obstruksi parsial menyebabkan udara terperangkap dan
hiperdistensi alveoli, biasanya termasuk efek fenomena ball-valve.
Hiperdistensi alveoli menyebabkan ekspansi jalan nafas selama inhalasi
dan kolaps jalan nafas di sekitar mekonium yang terinspirasi di jalan nafas,
menyebabkan peningkatan resistensi selama ekshalasi. Udara yang
terperangkap (hiperinflasi paru) dapat menyebabkan ruptur pleura
(pneumotoraks), mediastinum (pneumomediastinum), dan perikardium
(pneumoperikardium). 3

4
2. Disfungsi surfaktan
Mekonium menonaktifkan surfaktan dan juga menghambat sintesis
surfaktan. Beberapa unsur mekonium, terutama asam lemak bebas (seperti
asam palmitat, asam oleat), memiliki tekanan permukaan minimal yang
lebih tinggi dari pada surfaktan dan melepaskannya dari permukaan
alveolar, menyebabkan atelektasis yang luas. 3

3. Pneumonitis kimia
Mekonium mengandung enzim, garam empedu, dan lemak yang
dapat mengiritasi jalan nafas dan parenkim, mengakibatkan pelepasan
sitokin (termasuk tumor necrosis factor (TNF)-α, interleukin (IL)-1ß, I-L6,
IL-8, IL-13) dan menyebabkan pneumonitis luas yang dimulai dalam
beberapa jam setelah aspirasi. Semua efek pulmonal ini dapat
menimbulkan gross ventilation-perfusion (V/Q) mismatch. 3

4. Hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir


Beberapa bayi dengan sindroma aspirasi mekonium mengalami
hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir (persistent pulmonary
hypertension of the newborn [PPHN]) primer atau sekunder sebagai akibat
dari stres intrauterin yang kronik dan penebalan pembuluh pulmonal.
PPHN lebih lanjut berperan dalam terjadinya hipoksemia akibat sindrom
aspirasi mekonium. 3

E. MANIFESTASI KLINIK
Di dalam uterus, atau lebih sering, pada pernapasan pertama, mekonium
yang kental teraspirasi ke dalam paru, mengakibatkan obstruksi jalan napas
kecil yang dapat menimbulkan kegawatan pernapasan dalam beberapa jam
pertama setelah kelahiran dengan gejala takipnea, retraksi, stridor, dan
sianosis pada bayi dengan kasus berat. Obstruksi parsial pada beberapa jalan
napas dapat menimbulkan pneumothoraks atau pneumomediastinum, atau
keduanya. Pengobatan tepat dapat mencegah kegawatan pernapasan, yang
dapat hanya ditandai oleh takikardia tanpa retraksi. Pada kondisi gawat nafas,

5
dapat terjadi distensi dada yang berat yang membaik dalam 72 jam. Akan
tetapi bila dalam perjalanan penyakitnya bayi memerlukan bantuan ventilasi,
keadaan ini dapat menjadi berat dan kemungkinan mortalitasnya tinggi.
Takipnea dapat menetap selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.
Foto radiografi dada bersifat khas ditandai dengan bercak-bercak infiltrat,
corakan kedua lapangan paru kasar, diameter anteroposterior bertambah, dan
diafragma mendatar. Foto x-ray dada normal pada bayi dengan hipoksia berat
dan tidak adanya malformasi jantung mengesankan diagnosis sirkulasi jantung
persisten. PO2 arteri dapat rendah pada penyakit lain, dan jika terjadi hipoksia,
biasanya ada asidosis metabolik. 1

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) Pemeriksaan Laboratorium 2

Evaluasi Laboratorium untuk Distres Pernafasan pada Bayi Baru Lahir


Tes Indikasi
Kultur darah Dapat menunjukan adanya bakteremia, tetapi hasil baru
dapat diperoleh setelah ± 48 jam
Gas darah Digunakan untuk menilai derajat hipoksemia (jika sampel
diambil dari darah arteri) atau kondisi asam basa (jika
sampel diambil dari kapiler)
Glukosa darah Hipoglikemia dapat menyebabkan atau memicu takipnea
Radiografi Digunakan untuk membedakan berbagai jenis distres
dada pernapasan
Hitung darah Leukositosis atau bandemia yang menunjukkan stress atau
lengkap dan infeksi
hitung jenis Neutropenia yang berhubungan dengan infeksi bakteri
Kadar hemoglobin yang rendah menunjukkan anemia
Kadar hemoglobin tinggi terjadi pada polisitemia
Kadar platelet yang rendah terjadi pada sepsis
Pungsi lumbal Jika terduga meningitis

6
Pulse oximetry Digunakan untuk mendeteksi hipoksia dan dibutuhkan
untuk oksigen tambahan
Tabel 2.1 Evaluasi Laboratorium untuk Distres Pernafasan (Clark, 2010)

b) Pemeriksaan Radiologis
Radiografi dada diperlukan untuk hal-hal berikut:
 Memastikan cakupan kelainan intratorakal
 Mengidentifikasi area atelektasis dan sindroma blokade udara
 Memastikan posisi yang tepat untuk intubasi endotrakeal dan kateter
umbilikalis
Nantinya, pada kasus SAM, setelah kondisi bayi cukup stabil,
pemeriksaan radiologis otak seperti MRI, CT scan, atau USG cranial,
diindikasikan jika pemeriksaan neurologis bayi menunjukkan adanya
kelainan. Ekokardiografi perlu dilakukan pada kasus-kasus berat seperti
distress pernafasan yang berkepanjangan untuk mengevaluasi fungsi
jantung pada persistent pulmonary hypertension of the newborn (PPHN)
dan masalah kongenital kardiovaskular.
Radiografi dada menunjukkan hiperinflasi dengan perselubungan
yang merata. Hasil temuan menunjukkan area atelectasis dengan area
udara terperangkap. Kebocoran udara sering terjadi menyebabkan
terjadinya pneumothoraks, pneumomediastinum, pneumopericardium,
dan/atau pulmonary interstitial emphysema. Efusi pleura juga bisa terjadi4.

7
Gambar 2.1 Radiografi seri pada bayi baru lahir dengan aspirasi mekonium tanpa komplikasi.
Gambaran radiologis menunjukkan perselubungan perihilar pada paru, yang lebih berat pada daerah
kanan berbanding kiri4.

Gambar 2.2 Gambaran radiologis menunjukkan aspirasi mekonium yang berat. Gambaran radiologis
diatas menunjukkan perselubungan yang kasar pada parenkim paru dengan hiperekspansi yang berat.
Terdapat pneumomediastinum di kanan paru (ditunjukkan dengan panah), di batasi oleh lobus kanan
dari thymus (T)4

8
Radiografi Dada Bayi dengan SAM

Gambar 2.5 Radiografi dada SAM. A). Infiltrat linear sedang, menandakan aspirasi mekonium encer
dalam jumlah kecil. B). Infiltrat linear bilateral dan tidak merata, menandakan aspirasi mekonium
encer dalam jumlah sedang. C). Infiltrasi menyeluruh pada lapang paru yang tersebar tidak merata,
menandakan aspirasi mekonium encer dalam jumlah yang lebih besar. D). Atelektasis sebagian lobus
kiri atas dengan hiperaerasi paru kanan, menandakan aspirasi mekonium partikel besar dan kental.
Bayi sering mengalami kegagalan perkembangan pernapasan dan membutuhkan terapi pernapasan
yang luas. 5

9
G. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan keadaan berikut:6
 Sebelum bayi lahir, alat pemantau janin menunjukkan bradikardia (denyut
jantung yang lambat)
 Ketika lahir, cairan ketuban mengandung mekonium (berwarna kehijauan)
 Bayi memiliki nilai Apgar yang rendah.
 Dengan bantuan laringoskopi, pita suara tampak berwana kehijauan.
 Dengan bantuan stetoskop, terdengar suara pernafasan yang abnormal
(ronki kasar).
Pemeriksaan lainnya yang biasanya dilakukan: (1) Analisa gas darah
(menunjukkan kadar pH yang rendah, penurunan pO2 dan peningkatan pCO2);
(2) Rontgen dada (menunjukkan adanya bercakan di paru-paru).

H. DIAGNOSIS DIFFERENSIAL
a) Transient tachypnea of the newborn (TTN)
Gambaran radiografi sering menunjukkan patchy opacities yang
disebabkan oleh cairan pada paru yang dalam proses resorpsi. Foto radiografi
kontrol akan menunjukkan infiltrate yang menghilang, berbeda dengan
sindrom aspirasi mekonium atau pneumonia.

A B

10
C
Gambar 2.6 Radiografi dada pada TTN. A). Gambaran radiografi pada neonatus yang berusia 6
jam. Aerasi yang berlebihan, bergaris-garis, bilateral, gambaran radiopaque pada interstitial
pulmonal, perihilar interstitial markings dan kardiomegali ringan. B). Gambaran radiografi pada
neonatus yang berusia 2 hari. Kardiomegali telah hilang dan gambaran abnormalitas parenkim
paru mulai menghilang namun perihilar markings masih ada. C). Gambaran radiografi pada
neonatus yang berusia 4 hari. Ukuran jantung dan gambaran paru yang normal dapat terlihat.

b) Pneumonia neonatus
Terdapat patchy opacities yang berupa konsolidasi dan efusi pleura yang
ditemukan pada 2/3 kasus. Volume paru normal namun lapangan paru
mungkin dapat terjadi hyperinflated.7

A B

11
C
Gambaran 2.7 Radiografi dada pada pneumonia neonatus. A). Terdapat gambaran air
bronchogram yang prominen di distal. B). Terdapat gambaran infiltrat padat dan kasar yang
menutupi jantung. Didapatkan juga gambaran air bronchogram yang prominen. C). Terdapat
penumpulan sinus phrenicostalis, garis radiodense tipis sepanjang hemithoraks kanan lateral
dan garis cairan pada fissura mayor kanan yang konsisten dengan efusi pleura.

c) Respiratory distress syndrome


Pada gambaran radiologis, ditemukan gambaran radiopaque yang seragam,
ground-glass dan penurunan volume paru karena terjadi kolaps alveolus.
Gambaran air bronchogram juga dapat dilihat namun efusi pleura jarang
terjadi. Sindrom ini biasanya terjadi pada bayi preterm yang berbeda dengan
sindroma aspirasi mekonium 3.

I. PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan prenatal
Kunci penatalaksanaan aspirasi mekonium adalah penegahan selama masa
prenatal.
1. Identifikasi kehamilan beresiko tinggi. Pencegahan dimuai dengan
mengenali faktor predisposisi maternal yang dapat menyebabkan
insufisiensi uteropasental yang berujung pada hipoksia fetus selama
proses kelahiran. Pada kehamilan yang berlangsung sampai melewati

12
waktu perkiraan kelahiran, induksi yang dilakukan secepatnya pada
minggu ke-41 dapat membantu pencegahan aspirasi mekonium. 7,8
2. Pemantauan. Selama kelahiran, observasi dan pemantauan janin yang
seksama perlu dilakukan. Tanda kegawatan janin apapun (misal: adanya
cairan mekonial dan ruptur membran, takikardi fetus, atau pola
deselerasi) mengharuskan penilaian kesejahteraan janin dengan cermat,
meliputi detak jantung fetus dan pH kulit kepala fetus. Jika penilaian
menunjukkan adanya fetal kompromi, tindakan korektif diperlukan atau
fetus harus dilahirkan tepat pada waktunya. 7,8
3. Amnioifusion. Pada ibu-ibu dengan cairan amnion mekonial yang sangat
kental maupun cukup kental, amnioinfusi efektif dalam menurunkan
angka kejadian deselerasi kecepatan denyut jantung fetus yang bervariasi
dengan melepaskan kompresi pada korda umbilikalis selama persalinan.
Akan tetapi, efisiensinya dalam menurunkan resiko dan tingkat
keparahan aspirasi mekonium belum dapat dibuktikan. 8
B. Penatalaksanaan di kamar bersalin
Intervensi pediatrik yang sesuai untuk neonatus yang lahir dengan cairan
amnion mekonial tergantung pada bugar tidaknya bayi. Hal ini dapat dinilai
dengan adanya pernapasan spontan, denyut jantung > 100 x/menit, gerakan
spontan, atau ekstrimitas yang berada dalam posisi fleksi. Bagi bayi-bayi
bugar ini, hanya penanganan rutin yang diperbolehkan, tanpa melihat
konsistensi mekoniumnya. Sedangkan bagi bayi-bayi dengan distres, intubasi
secepat mungkin dan pipa endotrakealnya harus dihubungkan dengan alat
penghisap mekonium pada tekanan 100 mmHg. Ventilasi tekanan positif harus
dihindari jika memungkinkan, hingga pengisapan trakea dilakukan. 8
C. Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan aspirasi mekonium
Neonatus dengan mekonium yang terdapat di bawah korda vokalis
berpotensi mengalami hipertensi pulmonal, sindrom kebocoran udara, da
pneumonitis serta harus diobservasi secara ketat untuk melihat adanya tanda-
tanda distres pernapasan.

13
1. Penatalaksanaan respirasi
a. Pembersihan paru (pulmonary toilet). Jika pengisapan trakea belum
mampu membersihkan sekret secara maksimal, dapat disarankan
untuk membiarkan pipa endotrakeal tetap terpasang untuk
pembersihan paru pada neonatus dengan kasus simtomatik.
Fisioterapi dada setiap 30-60 menit, semampunya, dapat membantu
membersihkan jalan napas. Fisioterapi dada dikontraindikasikan
pada neonatus dengan kondisi labil jika diduga ada keterlibatan
PPHN. 8
b. Pemeriksaan kadar gas darah arteri. Pengukuran kadar gas darah
arteri dibutuhkan untuk menilai kebutuhan ventilasi dan oksigen
tambahan. 8
c. Pemantauan kadar oksigen. Pulse oxymeter dapat memberi informasi
penting mengenai status respirasi dan memantu mencegah
hipoksemi. Membandingkan saturasi oksigen pada tangan kanan
dengan ekstrimitas bawah membantu mengidentifikasi bayi dengan
pirau dari kanan ke kiri akibat hipertensi pulmonal. 7
d. Radiografi thoraks. Radiografi thoraks sebaiknya diambil setelah
kelahiran jika neonatus dalam kondisi distres. Radiografi thoraks
juga dapat membantu menentukan pasien mana yang berpotensi
mengalami distres napas. Akan tetapi, gambaran radiografi sering
tidak sebanding dengan presentasi klinis. 8
e. Pemakaian antibiotik. Mekonium menghambat potensi bakteriostatik
pada cairan mekonium normal. Karena susahnya membedakan
aspirasi mekonium dari pneumoni secara radiologis, neonatus
dengan gambaran infiltrate pada radiografi toraks, sebaiknya mulai
diberi antibiotik spektrum luas (ampisilin dan gentamisin), setelah
sampel untuk kultur telah diperoleh. 8
f. Oksigen tambahan. Salah satu tujuan utama pada kasus-kasus SAM
adalah mencegah episode hipoksia alveolar yang akan mengarah
pada vasokonstriksi pulmonal dan menjadi PPHN. Oleh karena itu,

14
oksigen tambahan diberikan sebanyak-banyaknya dengan tujuan
mempertahankan tekanan parsial O2 sebesar 80-90 mmHg, bahkan
lebih tinggi karena resiko retinopati seharusnya kecil pada bayi-bayi
aterm. Pencegahan hipoksia alveolar juga dicapai dengan penyapihan
bayi-bayi ini secara hati-hati dari terapi oksigen. Kebanyakan pasien
masih labil, sehingga penyapihan harus dilakukan secara perlahan,
terkadang dengan penurunan 1% setiap kali. Pencegahan hipoksia
alveolar juga meliputi kewaspadaan terhadap terjadinya kebocoran
udara dan meminimalisir intervensi pasien. 8
g. Ventilasi mekanik. Pasien pada kasus-kasus berat yang terancam
gagal napas yang disertai hiperkapnia dan hipoksemia persisten
membutuhkan ventilasi mekanik. Neonatus yang tidak membaik
dengan ventilasi konvensional harus diuji coba menggunakan
ventilasi berfrekuensi tinggi (HFV = high frequency ventilation).
i. Pengaturan kecepatan. Ventilasi harus disesuaikan dengan
individu masing-masing pasien. Pasien-pasien SAM umumnya
membutuhkan tekanan inspirasi dan kecepatan yang lebih tinggi
dibanding pasien dengan HMD (hyaline membrane disease).
Lebih diutamakan menggunakan model ventilasi yang
memungkinkan pasien mengatur frekuensi napasnya (ventilasi
yang hanya mendampingi atau menyokong tekanan). Masa
inspirasi yang relative singkat memungkinkan ekspirasi yang
adekuat pada pasien yang rentan mengalami terperangkapnya
udara dalam paru (air trapping). 8
ii. Komplikasi pulmonal. Kebocoran udara harus selalu diwaspadai.
Untuk setiap penurunan kondisi klinis yang tidak jelas
penyebabnya, kemungkinan pneumotoraks harus selalu
dipikirkan. Dengan timbulnya atelektasis, perangkap udara, dan
penurunan kompliansi paru, pasien yang beresiko mengalami
kebocoran udara mungkin membutuhkan tekanan saluran napas
rata-rata yang tinggi. Ventilasi ditujukan untuk mencegah

15
hipoksemia dan menyediakan ventilasi yang adekuat pada
tekanan saluran napas yang serendah-rendahnya untuk
menurunkan resiko kebocoran udara. 8
h. Ventilasi berfrekuensi tinggi (HFV = high frequency ventilation).
Ventilasi jet berfrekuensi tinggi dan ventilasi osilasi berfrekuensi
tinggi.cukup efisien bagi pasien yang gagal mencapai ventilasi
adekuat dengan metode konvensional. HFV juga telah digunakan
untuk memaksimalkan keuntungan inhalasi nitrit oksida. 8
i. Surfaktan. Neonatus dengan sindroma aspirasi mekonium yang berat
dan membutuhkan ventilasi mekanik, serta tampak secara radiologis
adanya kelainan parenkim paru, kemungkinan besar akan mendapat
efek positif dari terapi surfaktan yang dini. Karena adanya
keterkaitan hipertensi pulmonal, pemantauan ketat saat terapi
surfaktan dibutuhkan untuk mencegah obstruksi transien jalan napas
yang dapat terjadi selama penyulingan surfaktan. 8
j. Nitrit oksida inhalasi. Hipertensi pulmonal dapat diterapi secara
efektif dengan inhalasi nitrit oksida. Terjadi vasodilatasi arteriol
pulmonal yang selektif akibat nitrit oksida yang bekerja langsung
pada otot polos vascular, yaitu dengan mengaktivasi guanilat siklase,
sehingga meningkatkan siklik guanosin monofosfat. Karena diberi
per inhalasi, efek yang timbul hanya bersifat lokal. Hal ini terjadi
karena nitrir oksida akan diinaktivasi oleh hemoglobin begitu
mencapai pembuluh darah. Oleh karena itu, pengaruhnya pada
sistem-sistem lain dalam tubuh cukup minimal, akan tetapi, kadar
methemoglobin harus terus dipantau. 8
k. Oksigenasi membran ekstra korporeal (ECMO = extracorporeal
membrane oxygenation). Pasien yang gagal dengan terapi-terapi
sebelumnya dapat diusulkan untuk dilakukan oksigenasi membran
ekstra korporeal. Index oksigenasi (𝐹𝐼𝑂2 × 𝑃𝑎𝑤
̅̅̅̅ × 100 × 𝑃𝑎𝑂2 ) > 40,
̅̅̅̅ (tekanan rata-rata jalan napas) ≥ 20 cmH2O, dapat
dengan 𝑃𝑎𝑤
memprediksi neonatus yang membutuhkan ECMO. Dibandingkan

16
dengan kelompok populasi lain yang membutuhkan ECMO, bayi
dengan SAM memiliki angka kelangsungan hidup yang tinggi, yaitu
sebesar 93-100%.8
4. Penatalaksanaan umum
Neonatus dengan aspirasi mekonium yang membutuhkan resusitasi
sering kali juga mengalami kelainan metabolik, seperti hipoksia,
asidosis, hipoglikemia, dan hipokalsemia. Pasien-pasien ini
kemungkinan telah mengalami asfiksia perinatal, sehingga diperlukan
pemantauan adanya kerusakan organ. 8

Pedoman penatalaksanaan bayi yang terpapar mekonium menurut The American


Academy of Pediatrics Neonatal Resuscitation Program (NRP) Steering
Committee adalah sebagai berikut:
 Jika bayi tidak bugar (didefinisikan sebagai kondisi tonus otot yang lemah
dan usaha napas yang kurang maupun tidak ada): suction trakea langsung
setelah kelahiran. Suction dilakukan selama tidak lebih dari 5 detik. Jika
tidak didapatkan cairan mekonial, jangan ulangi intubasi dan suction.
Sebaliknya, jika didapatkan cairan mekonial tanpa adanya bradikardi,
lakukan reintubasi dan suction. Jika bradikardi, lakukan ventilasi tekanan
positif dan rencanakan suction ulang setelah beberapa waktu.
 Jika bayi bugar (didefinisikan sebagai kondisi usaha napas yang cukup,
menangis, tonus otot cukup, dan warna kulit yang baik): bersihkan sekresi
dan mekonium dari mulut lalu hidung menggunakan bulb syringe atau
selang suction yang besar. Pada kondisi apapun, langkah-langkah
resusitasi berikutnya harus mencakup: pengeringan, reposisi, dan
pemberian oksigen sesuai kebutuhan.
 Pedoman ini terus diperbaharui sesuai evidence-base terbaru.
Diet bayi dengan SAM: 8
 Distres perinatal dan distres napas yang berat merupakan halangan untuk
pemberian makanan.

17
 Terapi cairan intravena dimulai dengan infuse dekstrosa yang adekuat
untuk mencegah hipoglikemi.
 Beri tambahan elektrolit, lipid, dan vitamin secara progresif untuk
memastikan asupan nutrisi yang adekuat serta untuk mencegah defisiensi
asam amino esensial dan asam lemak.

J. PENCEGAHAN
a) Pencegahan sebelum kelahiran
Penurunan insiden SAM selama dekade terakhir telah dikaitkan
dengan penurunan kelahiran lebih bulan, manajemen intensif
pemantauan denyut jantung janin yang abnormal, dan penurunan
jumlah bayi yang memiliki nilai Apgar rendah. Pemantauan janin terus
menerus dengan alat elektronik diindikasikan untuk kehamilan yang
rumit dengan adanya cairan ketuban yang terwarnai mekonium. Pulse
oximetry fetal merupakan modalitas baru untuk surveilans janin
antepartum, tetapi efek pada hasilnya tetap dipertanyakan. Kehamilan
lewat bulan sering dikaitkan dengan hipoksia intrauterin dan cairan
ketuban yang terwarnai mekonium, dan, seperti yang disebutkan
sebelumnya, penurunan kehamilan lewat bulan telah menyebabkan
penurunan insidensi SAM. Amnioinfusion mungkin merupakan terapi
yang efektif untuk kehamilan dengan komplikasi oligohidramnion dan
gawat janin. Amnioinfusion mencairkan ketebalan mekonium dan
dapat mencegah kompresi tali pusat dan aspirasi mekonium. Namun,
penelitian telah membuktikan bahwa meskipun strategi ini mengurangi
jumlah mekonium pada bayi lahir dari ibu yang memiliki cairan
ketuban yang terwarnai mekonium, hal ini gagal untuk mengurangi
risiko SAM. Sebuah studi multicenter terbaru oleh Fraser dan rekan
menyimpulkan bahwa amnioinfusion tidak mengurangi risiko SAM
moderat sampai berat dan SAM yang terkait dengan kematian
perinatal pada bayi yang lahir melalui mekonium kental. Ada juga
bukti yang cukup menjelaskan bahwa amnioinfusion mengurangi

18
morbiditas neonatus yang terkait mekonium. Dengan demikian,
amnioinfusion tidak dianjurkan untuk wanita yang memiliki cairan
ketuban yang terwarnai mekonium sendirian kecuali ada bukti adanya
oligohidramnion dan distress janin. Karena infeksi dan korioamnionitis
dapat berhubungan dengan SAM yang parah, pemberian awal terapi
antibiotic spectrum luas dalam kasus korioamnionitis maternal dapat
mengurangi morbiditas neonatus.7
b) Pencegahan selama kelahiran
Suction orofaringeal dan nasofaring segera setelah kelahiran kepala
tetapi sebelum kelahiran bahu dan dada telah menjadi praktik umum
selama dua dekade terakhir ini, dimana ditujukan untuk mengurangi
insiden dan keparahan SAM. Namun, sebuah studi multicenter baru-
baru ini menunjukkan bahwa strategi ini tidak mencegah terjadinya
SAM. Para peneliti juga menunjukkan bahwa hal ini tidak
mengurangi angka kematian, durasi ventilasi dan terapi oksigen, atau
kebutuhan untuk ventilasi mekanik. Oleh karena itu, seperti suction
rutin tidak lagi dianjurkan, meskipun dianjurkan, hanya pada kasus-
kasus tertentu, seperti terdapatnya cairan yang bernoda mekonium
yang tebal atau berlebihan. 7
c) Pencegahan setelah kelahiran
Intubasi endotrakeal dan suction dilakukan untuk menghilangkan
mekonium pada saluran napas bagian atas sebelum berpindah ke
saluran napas bagian bawah. Mekonium dapat bermigrasi ke jalan
napas perifer melalui gerakan pernapasan spontan atau ventilasi
tekanan positif. Oleh karena itu, tampaknya logis bahwa intubasi
endotrakeal dan suction harus dilakukan sedini mungkin setelah
melahirkan, yaitu, sebelum bayi mengambil napas pertama atau
sebelum pernapasan aktif. Sampai saat ini, intubasi dan suction trakea
rutin direkomendasikan untuk kebanyakan bayi yang ketubannya
terwarnai mekonium. Namun, studi terbaru tidak mendukung
dilakukan suction yang intensif, kecuali ketika respirasi bayi

19
tertekan. Sejak tahun 2005, The American Heart Association dan The
Neonatal Resuscitation Program telah merekomendasikan suction
trakea hanya jika bayi tidak kuat, memiliki penurunan tonus otot, atau
memiliki denyut jantung kurang dari 100 denyut / menit.

K. PROGNOSIS
Diperkirakan bahwa bayi yang teraspirasi mekonium memiliki
mortalitas yang lebih tinggi daripada mortalitas bayi yang tidak teraspirasi,
dan aspirasi mekonium biasanya menyebabkan proporsi kematian
neonatus yang bermakna. Sisa masalah pada paru jarang dijumpai, tetapi
meliputi batuk bergejala, mengi, dan hiperinflasi persisten selama 5-10
tahun. Prognosis akhir bergantung pada luasnya jejas sistem saraf pusat
akibat asfiksia, dan adanya masalah-masalah terkait seperi adanya
sirkulasi janin. 1

20
BAB III

KESIMPULAN

Sindrom aspirasi mekoneum merupakan suatu kelainan yang terjadi pada


bayi baru lahir akibat terhisapnya cairan amnion yang tercemar mekoneum ke
dalam saluran pernafasan/paru-paru, yang dapat terjadi pada saat intrauterin,
persalinan, atau setelah lahir. Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan
terjadinya aspirasi mekoneum pada bayi baru lahir, yaitu: hamil lebih bulan, ibu
hamil yang menderita eklamsia atau preeklamsia, hipertensi, menderita penyakit
diabetes mellitus. Bayi kecil sesuai masa kehamilan, ibu perokok, penyakit
saluran nafas kronik, atau adanya kelainan jantung. Pengeluaran mekoneum dari
saluran cerna janin dalam kandungan sebagai respon intrauterin yang
berhubungan dengan hipoksia. Disamping itu, hipoksia juga menyebabkan bayi
melakukan gasping, sehinga mekoneun masuk ke dalam saluran nafas, hingga
alveolus. Bayi yang mengalami sindrom aspirasi mekoneum tampak mengalami
distres pernafasan (kesulitan bernafas). Tatalaksana yang harus segera dilakukan
adalah membersihkan jalan nafas dari mekoneum dengan melakukan pengisapan
sesegera mungkin. Jika dari awal sudah ada ketuban yang berwarna hijau,
tindakan pencegahan dapat dilakkuan dengan infus amnion untuk mengencerkan
mekoneum yang kental.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Arvin, B.K. diterjemahkan oleh Samik wahab. Nelson : Ilmu Kesehatan


Anak. Vol. 1 Edisi 15. ECG : Jakarta. 2000. h. 600-601.
2. Mathur, NC. Meconium Aspiration Syndrome. 2007.
http://pediatricsforyou.in/home/pdf/MECONIUM%20ASPIRATION%20
SYNDROME.pdf. Diakses tanggal 6 Agustus 2015
3. Clark, M.B. Meconium Aspiration Syndrome. 2010. www.medscape.com/
http:// portal neonatal.com.br/outras-especialidades /arquivos/ Meconium
Aspiration Syndrome.pdf Diakses tanggal 6 Agustus 2015
4. Leu M. Meconium Aspiration Imaging, 2011
http://emedicine.medscape.com/ article/410756-overview#a22. Diakses
tanggal 6 Agustus 2015
5. Hermansen, C.L., dan Kevin N. Lorah. Respiratory Distress in the
Newborn. Am Fam Physician. 2007 Oct 1;76(7):987-994.
http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p987.html. 2007. Diakses tanggal 6
Agustus 2015
6. Yeh TF, Harris V, Srinivasan G, Lilien L, Pyati S. Roentgenographic
findings in infants with meconium aspiration syndrome. JAMA. 2000. H.
60–3
7. Yeh, TF. Core Concepts: Meconium Aspiration Syndrome: Pathogenesis
and Current Management. American Association of Pediatrics.
http://neoreviews.aap publications.org. 2010. Diakses tanggal 6 Agustus
2015
8. Gomella. Neonatology : Management Procedures Call Problems Sixth
Edition. Lange Clinical Science : New York. 2009.
9. Rudolph, CD, et al. Rudolph's Pediatrics, 21th Edition. McGraw-Hill
Professional : New York. 2002.

22