Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

BENCANA AKIBAT MELETUSNYA GUNUNG ANAK KRAKATAU


TAHUN 2018

Disusun Oleh
Kelompok 3
1. Dwi Ayu Fatmala (07)
2. Yovie Audina Septia D (35)
3. Zahrotus Saidah (36)
4. Ahmad Sahrul Rokhim (04)
5. M. Aji Dwi Pangestu (17)

Kelas XI IPS 4

SMA NEGERI 1 NALUMSARI


TAHUN PELAJARAN 2018/2019
ABSTRAK

Indonesia terletak di zona “cincin api” Pasifik. Ditandai dengan banyaknya


gunung berapi yang aktif secara seismik, serta secara teratur mengalami gempa
bumi dan tsunami. Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami di Selat Sunda
merupakan satu dari 127 gunung berapi aktif di Indonesia.

Pada tanggal 22 Desember 2018, peristiwa tsunami yang disebabkan oleh


letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten dan
Lampung, Indonesia. Sedikitnya 426 orang tewas dan 7.202 terluka dan 23 orang
hilang akibat peristiwa ini. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG), tsunami disebabkan pasang tinggi dan longsor bawah laut
karena letusan gunung tersebut.

Tsunami ini diyakini disebabkan karena adanya letusan gunung berapi yang
diikuti tanah longsor di bawah laut. Sayangnya, tidak ada getaran seismik yang
signifikan untuk mengindikasikan datangnya tsunami. Juga memberikan waktu
yang sedikit bagi pihak tanggap bencana untuk memberikan peringatan kepada
masyarakat.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

ABSTRAK .............................................................................................................. ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar Belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................... 1

C. Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3

A. Sejarah Gunung Anak Krakatau ............................................................... 3

B. Bencana Tsunami Selat Sunda ................................................................. 8

C. Upaya penanggulanagan dan pencegahan permasalahan kesehatan pasca


tsunami .............................................................................................................. 11

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 13

A. Kesimpulan ............................................................................................. 13

B. Saran ....................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan pertolongan-Nya saya dapat menyelesaikan tugas mata pelajaran Geografi
yaitu Makalah BENCANA AKIBAT MELETUSNYA GUNUNG ANAK
KRAKATAU TAHUN 2018.
Tentunya ada hal-hal yang ingin saya berikan kepada pembaca dari tugas
ini. Karena itu saya berharap semoga tugas ini dapat menjadi sesuatu yang
berguna bagi kita semua .
Saya menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan dari pembaca demi
perbaikan dan pembuatan tugas berikutnya.

Nalumsari, 16 Maret 2019

Penyusun

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia menjadi
tempat bagi 127 gunung api aktif dan peristiwa gempa bumi besar setiap
tahunnya. Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, salah satu
di antara gunung api tersebut, merupakan gunung api yang muncul pada
tahun 1927 setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Letusan gunung
ini merupakan salah satu yang mematikan sepanjang sejarah,
menyebabkan megatsunami, dan gelombang awan panas, menewaskan
lebih 30.000 jiwa, serta membuat kawasan sekitar letusan gunung tertutup
abu vulkanik dan menghancurkan pesisir Banten dan Lampung.[4][5][6]
Beberapa bulan sebelum tsunami terjadi, Gunung Anak
Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan terjadinya letusan
pada 21 Desember 2018 selama 2 menit hingga menyemburkan abu
vulkanik setinggi 400 meter (1300 ft).
Pada tanggal 22 Desember 2018, peristiwa tsunami yang
disebabkan oleh letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam
daerah pesisir Banten dan Lampung, Indonesia. Sedikitnya 426 orang
tewas dan 7.202 terluka dan 23 orang hilang akibat peristiwa ini. Menurut
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tsunami
disebabkan pasang tinggi dan longsor bawah laut karena letusan gunung
tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis akan
membahasa mengenai BENCANA AKIBAT MELETUSNYA GUNUNG
ANAK KRAKATAU TAHUN 2018

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah gunung anak krakatau?
2. Sejak kapan munculnya anak gunung krakatau?
3. Apa dampak dari bencana tsunami selat sunda?

1
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui sejarah gunung krakatau
2. Dapat mengetahui munculnya anak gunung krakatau
3. Dapat menngetahui dampak dari tsunami di selat sunda

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Gunung Anak Krakatau


1. Mengenal Krakatau, induk Gunung Anak Krakatau
Seperti diketahui, bumi terbagi dalam beberapa jenis lempeng
tektonik besar. Kebanyakan aktivitas vulkanologi terjadi di lempeng ini.
salah satu zona vulkanik aktif di dunia adalah zona cincin api. Zona cincin
api membentang dari pesisir barat Amerika kemudian sepanjang Aleutian
Alaska dan turun ke pesisir timur Asia.

Zona Cincin Api


Gunung Anak Krakatau termasuk satu dari 127 gunung berapi di
Indonesia yang berada dalam cincin api tersebut. Pada masa prasejarah, para
ahli geologi memperkirakan bahwa pada masa purba, terdapat gunung yang
sangat besar di Selat Sunda. Gunung ini lantas meletus dahsyat sehingga
menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau
Purba.
Gunung Krakatau Purba meletus pada tahun 416 Masehi yang
mengakibatkan 2/3 bagian Krakatau hancur dan tenggelam. Dikutip dari
wiki, catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah
teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan
berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:

3
"Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung
Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total,
petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan
dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang
dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula....
Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua,
menciptakan pulau Sumatera "
Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya
berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung
Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara.
Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau
Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran
pantainya mencapai 11 kilometer.

Letusan Gunung Krakatau.

Letusan tersebut menyisakan tiga pulau kecil yang diberi nama


Pulau Sertung, Pulau Rakata atau Krakatau Besar, dan Pulau Panjang atau
Krakatau Kecil.

4
Letusan Gunung Krakatau Purba menyisakan tiga pulau kecil
(Youtube/Harian Kompas)

Pertumbuhan lava yang terjadi dalam kaldera Rakata


membentuk dua pulau vulkanik, yaitu Danan dan Perbuatan.
Gunung Danan dan Gunung Perbuatan ini lantas menyatu
menjadi satu pulau dengan Pulau Rakata tempat Gunung Rakata berdiri.
Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Pada 26 hingga 27 Agustus 1883 terjadi letusan amat dahsyat
yang menghancurkan hampir 60 persen tubuh Krakatau di bagian tengah
dan terbentuklah lubang kaldera. Letusan ini berkekuatan 21.574 kali bom
atom dan letusan Krakatau terdengar hingga radius 4.600 kilometer dari
pusat ledakan di Selat Sunda. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km
dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat
itu.
Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang
diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Meletusnya Krakatau
diikuti dengan tsunami yang menyapu lebih dari 295 kampung di pesisir
pantai barat Banten, dari Merak, Anyer, Labuan, Panimbang, Ujung Kulon,
hingga Cimalaya, di Karawang, Jawa Barat. Kawasan di
selatan Sumatera pun tak luput dari gelombang tsunami akibat meletusnya
Gunung Krakatau. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan

5
merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan
Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Lebih dari 36.000 orang
menjadi korban dalam bencana besar itu.
Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah
yang terdahsyat di kawasan Samudera Indonesia. Suara letusan itu terdengar
sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653
kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom
yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

2. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global.


Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu
vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun
berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta
sebagian Gunung Rakata di mana setengah kerucutnya hilang, membuat
cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter.

3. Munculnya Gunung Anak Krakatau


40 Tahun setelah Gunung Krakatau meletus,
muncullah Gunung Anak Krakatau. Anak Krakatau ditandai pada 29
Desember 1927 ketika sejumlah nelayan dari Jawa menyaksikan ada uap
dan abu muncul dari kaldera. Setiap bulan tubuhnya bertambah tinggi
sekitar 0,5 meter atau 6 meter per tahun.

6
Dr. W.G.N. (Wicher Gosen Nicolaas) van der Sleen
(Fotograaf/photographer).
Gunung Anak Krakatau diambil Mei 1929, dua tahun setelah muncul
ke permukaan.

4. Krakatau bangun kembali setelah 44 tahun tenang.


Dari Data Dasar Gunung Api Indonesia (Badan Geologi,
ESDM, 2011) disebutkan, Gunung Anak Krakatau lahir 30 Januari 1930.
Puncak dengan batuan basalt muncul ke permukaan air pertama kali pada 26
Januari 1928.(*)

Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, saat aktivitasnya meningkat pada


2010 silam. (sterilthunder.wordpress.com)

7
B. Bencana Tsunami Selat Sunda

Kendaraan roda empat teronggok di sisa-sisa reruntuhan Villa Stephanie di


kawasan wisata pantai Carita, Provinsin Banten, Selasa, 25 Desember
2018, tiga hari setelah kawasan itu diluluhlantakkan tsunami akibat erupsi
Gunung Anak Krakatau
1. Tsunami Selat Sunda

Musibah merupakan sebuah hak yang sangat umum dan bisa


terjadi kapan saja. Banyak sekali hal yang bisa kita golongkan kedalam
kategori musibah atau bencana alam. Setiap bencana akan memiliki dampak
yang berbeda-beda. setiap dampak tersebut biasanya akan berhubungan
dengan penyebab dari terjadinya bencana tersebut. Maka dari itu terkadang
kita melihat sebuah bencana yang sama, namun memiliki dampak yang jauh
berbeda.
Namun, satu hal yang pasti adalah adalah datangnya sebuah
bencana akan memberikan efek luka fisik dan luka psikologis terhadap
korban maupun keluarga yang ditinggalkan. Karena itu proses
penanggulangan bencana merupakan salah satu hal yang sangat penting dan
sangat diperhatikan dengan baik.
Jika berbicara mengenai daerah rawan gempa bumi di dunia,
maka indonesia adalah salah satu lokasi tersebut. Indonesia memiliki
banyak sekali kemungkinan bencana yang dapat terjadi kapan saja. Bencana
mulai dari letusan gunung berapi hingga gempa bumi, merupakan sebuah
hal yang sangat sering terjadi. Hal tersebut dikarenakan kawasan indonesia

8
merupakan sebuah kawasan yang dilalui oleh cincin tektonik dunia. Hal
tersebut menyebabkan banyaknya gunung berapi aktif yang ada di
indonesia.
Beberapa hari ini Indonesia mendapatkan bencana alam yang
cukup besar. Bencana tsunami selat sunda merupakan salah satu kejadian
yang cukup baru dan memiliki dampak yang cukup besar. Kali ini, kita akan
membahas mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan kejadian
tsunami ini. Beberapa hal tersebut adalah

2. PENYEBAB
Jika kita berbicara mengenai bencana tsunami maka
pembahasan yang akan kita lakukan tak jauh dari gempa bumi. Tsunami
secara umum memang biasa terjadi akibat adanya aktifitas gempa bumi
yang ada di dalam laut. Namun, bencana tsunami selat sunda ini merupakan
sebuah bencana yang cukup baru terjadi pertama kali di Indonesia.
terjadinya tsunami di kawasan selat sunda memiliki sebuah penyebab
utama. Namun, dalam prosesnya ada penyebab-penyebab tambahan lain
yang menjadikan kejadian tsunami ini menjadi sebuah hal yang sangat besar
dan berbahaya.
Satu hal yang cukup kita ketahui adalah tsunami yang terjadi di
selat sunda ini disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanik dari anak gunung
krakatau. Aktivitas tersebutlah yang memicu timbulnya efek gelombang
tsunami. Namun, yang cukup unik adalah kemudian gelombang tersebut
diperbesar daya rusaknya dengan adanya cuaca yang buruk di sekitar selat
sunda. Angin yang cukup kencang mengakibatkan gelombang menjadi lebih
tinggi. Selain itu kejadian ini juga bertepatan dengan bulan purnama.
Beberapa faktor tersebutlah yang kemudian sedikit banyak memberikan
energi tambahan kepada gelombang tsunami yang datang ke beberapa
daerah Banten dan Lampung. Meskipun bukanlah salah satu bencana
tsunami terbesar di Indonesia, namun dampak yang diberikan mamng cukup
besar dan berbahaya.

9
3. PROSES
Sebelum terjadinya kejadian tsunami tersebut, sebenarnya ada
beberapa proses yang mendahuluinya. Proses atau kejadian-kejadian ini
terjadi dalam tempo yang sangat singkat. Ada beberapa kejadian yang saling
berkaitan satu sama lain. Salah satunya adalah erupsi anak krakatau yang
terjadi pada tanggal 21 Desember 2018. Erupsi tersebut dapat terlihat dari
beberapa pos pemantauan aktivitas anak gunung krakatau. Erupsi tersebut
mengakibatkan munculnya kolom abu setinggi 400 meter di atas puncak
anak krakatau.
Kemudian pada tanggal 22 Desember 2018, pihak BMKG telah
memberikan peringatan dini tentang kondisi cuaca di selat sunda. Peringatan
ini berupa peringatan kemungkinan munculnya ombak tinggi hingga tanggal
25 desember 2018. Ketinggian ombak dalam rentan waktu tersebut bisa
mencapai 1,5-2,5 meter. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh adanya pasang
purnama pada saat itu. Peringatan ini merupakan salah satu peringatan yang
telah disebar sejak tanggal 22 pukul 07.00 WIB.
Namun, hal lain ternyata kemudian terjadi pada saat itu, pada
pukul 20.56 WIB anak krakatau erupsi kembali. Erupsi ini mengakibatkan
runtuhnya dinding gunung sebesar 64 hektar. Runtuhan inilah yang
menyebabkan terjadinya tsunami. Pada dasarnya kejadian ini tercatat di
sensor beberapa stasiun pengamatan BMKG. Namun, hal ini tidak dapat
tercatat secara otomatis, karena bukanlah sebuah kejadian gempa tektonik.
Kejadian tersebut tercatat pada pukul 21.03 WIB.
Kemudian pada pukul 21.30 WIB dilaporkan telah terjadi
kepanikan warga di daerah Banten dan Lampung. Kepanikan ini
dikarenakan adanya kenaikan ketinggian muka air yang tidak normal.
Kemudian barulah BMKG melakukan peninjauan kembali dan pembacaan
beberapa data. Kemudian pada pukul 22.30 WIB BMKG barulah
mengeluarkan keterangan resmi bahwa telah terjadi bencana tsunami di
Banten dan Lampung

10
4. DAMPAK
Jika berbicara mengenai dampak tsunami di selat sunda memang
cukup banyak dan cukup luas. Beberapa dampak yang dimiliki kejadian ini
adalah kurang lebih 426 orang telah meninggal dunia, serta korban luka-
luka kurang lebih ada 7.202 orang.. Dengan bangunan rumah yang rusak
kurang lebih 1.296 unit rumah, jumlah tersebut merupakan gabungan dari
jumlah uni t rumah rusak berat dan ringan. Tak kurang dari 40.386 orang
mengungsi dalam kejadian tersebut.
C. Upaya penanggulanagan dan pencegahan permasalahan kesehatan pasca
tsunami
Pada saat bencana mengaktivasi sistem yang sudah dipersiapkan untuk
penanggulangan bencana alam secara terpadu. Sistem yang dimaksud adalah
Klaster Nasional yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) dimana Kementerian Sosial bertugas dalam Klaster
Perlindungan dan Pengungsian dan Klaster Logistik.
Fokus penanganan adalah evakuasi pengungsi ke tempat aman, serta
kelompok rentan yang terdiri atas lansia, anak-anak, penyandang disabilitas,
dan kelompok khusus lainnya," katanya.
Pada saat terjadinya bencana dan pemerintah daerah telah menetapkan
status tanggap darurat, Kementerian Sosial mengerahkan seluruh Potensi
Penanggulangan Bencana Alam. Yakni pengerahan personel TAGANA dan
Sahabat TAGANA, KSB, Kendaraan Siaga Bencana, barang persediaan, alat
evakuasi, alat dan sistem komunikasi, dan kerja sama lembaga pemerintah
dengan NGO.
Barang persediaan terdiri dari makanan, sandang, kebutuhan keluarga
dan anak, kebutuhan khusus untuk penyandang disabilitas. Ini adalah
kebutuhan mendesak yang diperlukan warga terdampak bencana. Selain
pemenuhan kebutuan makanan, perlindungan sosial korban bencana alam
juga memprioritaskan tersedianya alat evakuasi terdiri dari tenda pengungsi,
tenda dapur umum, tenda keluarga di lokasi pengungsian ,selanjutnya, juga
memiliki alat evakuasi berupa perahu karet, perahu seafrog polytheline,

11
perahu doplhin, kapal cepat evakuasi dan logistik yang siap digunakan bila
diperlukan.
"Kendaraan Siaga Bencana juga wajib siap 24 jam sewaktu-waktu
diperlukan. Misalnya Mobil Dapur Umum Lapangan, Mobil Rescue Tactical
Unit (RTU), Truck Bak Kayu. Mobil Tangki Air, Motor Trail,
Seluruh barang persediaan dan alat evakuasi disimpan di gudang
logistik terdiri dari satu Gudang Pusat, dua Gudang Regional, 34 lokasi
Gudang Provinsi, dan 514 lokasi gudang kabupaten dan kota. Gudang Pusat
berada di Bekasi, Jawa Barat dan dua Gudang Regional terdiri dari Gudang
Regional Timur di Makassar dan Gudang Regional Barat di Palembang.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, salah satu di antara
gunung api tersebut, merupakan gunung api yang muncul pada tahun 1927
setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Letusan gunung ini
merupakan salah satu yang mematikan sepanjang sejarah, menyebabkan
megatsunami, dan gelombang awan panas, menewaskan lebih 30.000 jiwa,
serta membuat kawasan sekitar letusan gunung tertutup abu vulkanik dan
menghancurkan pesisir Banten dan Lampung.
2. Beberapa bulan sebelum tsunami terjadi, Gunung Anak Krakatau
menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan terjadinya letusan pada 21
Desember 2018 selama 2 menit hingga menyemburkan abu vulkanik
setinggi 400 meter (1300 ft).
3. Pada tanggal 22 Desember 2018, peristiwa tsunami yang disebabkan oleh
letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten
dan Lampung, Indonesia. Sedikitnya 426 orang tewas dan 7.202 terluka
dan 23 orang hilang akibat peristiwa ini. Menurut Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tsunami disebabkan pasang tinggi
dan longsor bawah laut karena letusan gunung tersebut.

B. Saran
Pemerintah sudah menambah alat peringatan tsunami dan
mendorong masyarakat sekitar gunung anak Krakatau untuk selalu siap dan
waspada terhadap kemungkinan bencana alam.
Menurut surat kabar online memberitakan bahwa kampung yang
berada di belakang hutan mangrove yang masih bagus tidak begitu terdampak
tsunami karena hantaman gelombang tsunami diredam oleh hutan mangrove.
Lain halnya dengan kampung yang hutan mangrovenya sudah tidak ada
karena dibuat menjadi tambak, kondisinya rusak parah. Oleh karena itu
disarankan untuk mereboisasi daerah bibir pantai yang menghadap gunung
anak krakatau sehingga diharapkan hutan mangrove dapat meredam
gelombang tsunami sebelum sampai ke kampung.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://aceh.tribunnews.com/2018/12/29/sejarah-gunung-anak-krakatau-letusan-
sang-ibu-hasilkan-tsunami-paling-dahsyat-di-dunia?page=4

https://kumparan.com/@kumparannews/sejarah-panjang-letusan-gunung-anak-
krakatau

https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami_Selat_Sunda_2018

https://ilmugeografi.com/bencana-alam/tsunami-selat-sunda

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46677024

https://historia.id/asal-usul/articles/gunung-anak-krakatau-dan-tsunami-selat-
sunda-P94Zr

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46684109

14