Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PKN

MENGEVALUASI KEBEBASAN PERS DAN


DAMPAK PENYALAHGUNAAN KEBEBASAN
MEDIA MASA DALAM MASYARAKAT
DEMOKRASI DI INDONESIA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6 :
1. SITI AROFAH (31)
2. SRI ASTUTIK (32)
3. SYERLY SIANA SARI (33)
4. TIA ADELIA (34)
5. TUTUT DWI CAHYATI (35)
6. YOGA PRATAM (36)
KELAS : XII IPS 3

SMA NEGERI 1 MAYONG


2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah yang telah


melimpahkan taufik dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Penulis berusaha semaksimal mungkin agar penyajian makalah ini
dapat bermanfaat mengenai
pengetahuan tentang Mengevaluasi Kebebasan Pers Dan Dampak
Penyalahgunaan Kebebasan Media Masa Dalam Masyarakat Demokrasi Di
Indonesia,baik bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu penulis menerima kritik
dan saran yang membangun, sehingga kesalahan yang sekarang dapat
dijadikan tolak ukur pembelajaran. Akhir kata, kami ucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terbentuknya makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menjadi penunjang kegiatan belajar. Amiin.

Mayong, 14 Januari 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................ i


KATA PENGANTAR .....................................................................................................ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................................... 1
B.Rumusan Masalah .................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 2
A.Kebebasan Pers Indonesia ........................................................................................ 2
B.Pers, Masyarakat dan Pemerintah ............................................................................. 3
C.Dampak penyalahgunaan kebebasan media Massa ................................................. 7
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 11
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peranan pers dalam masyarakat demokrasi memiliki andil yang
cukup besar. Segala Kritik tentunya bisa di muat dan dibaca oleh
semua orang tanpa kecuali.Kebebasan bersuara dan mengeluarkan
pendapat yang telah diatur undang – undang tentunya akan menjadi
Istilah pers berasal dari kata persen bahasa Belanda atau press
bahasa Inggris, yang berarti
menekan yang merujuk pada mesin cetak kuno yang harus
ditekan dengan keras untuk menghasilkan karya cetak pada
lembaran kertas.Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia kata
suatu koreksi dalam kepemimpinan demokrasi. Tentu saja peranan
pers seperti inilah yang akan menjadi suatu tombak raksasa yang
bisa menghantam siapa saja atau sebaliknya. pers berarti:
1) alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar,
2) alat untuk menjepit atau memadatkan,
3) surat kabar dan majalah yang berisi berita,
4) orang yang bekerja di bidang
Menurut UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, pers adalah
lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan
kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik
dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data
dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan
media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang
tersedia
B. Tujuan
1. Menjelaskan kebebasan pers di Indonesia.
2. Menjelaskan dampak penyalahgunaan kebebasan Pers di Indonesia.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kebebasan Pers Indonesia


Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baik
secara tulisan maupun lisan, melalui media pers, seperti harian, majalah,
dan buletin. Kebebasan pers dituntut tanggung jawabnya untuk
menegakkan keadilan, ketertiban dan keamanan dalam masyarakat,
bukan untuk merusakkannya. Kebebasan harus disertai tanggung jawab,
sebab kekuasaan yang besar dan bebas yang dimiliki manusia mudah
sekali disalahgunakan dan dibuat semena-mena. Demikian juga pers
harus mempertimbangkan apakah berita yang disebarkan dapat
menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak positif pada
masyarakat dan bangsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, pers
diberi kebebasan dengan disertai tanggung jawab sosial.
Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang
menjadi tuntutan masyarakat modern terhadap pers, yang merupakan
ukuran pelaksanaan kegiatan pers, yaitu sebagai berikut :
1. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari
secara jujur, mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan kepada
pers untuk menulis secara akurat dan tidak berbohong.
2. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan
kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di
kalangan masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan
pengelola pers itu sendiri.
3. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representative
kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada
segelintir kelompok minoritas dalam masyarakat yang juga
memiliki hak yang sama dalam masyarakat untuk didengarkan.
4. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan
penguraian tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat.
5. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk
memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan

2
informasi yang diminta masyarakat.
Adapun landasan hukum kebebasan pers Indonesia termaktub dalam :
1. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan
Menyampaikan Pendapat di Muka Umum
2. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers
3. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
B. Pers, Masyarakat dan Pemerintah
Hal terpenting yang harus diperhatikan berkaitan antara pers,
masyarakat dan pemerintah adalah sebagai berikut :
1. Interaksi harus dikembangkan sekreatif mungkin untuk tercapainya
tujuan pembangunan, yaitu kesejahteraan manusia dan masyarakat
Indonesia seutuhnya. Interaksi positif antara ketiga komponen tidak
bisa lain berlangsung dalam perangkat dan pranata Pancasila,
norma dan etika dasar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan
Negara Republik Indonesia. Karena itu, sebelum menjabarkan lebih
lanjut, bagaimana interaksi positif antara ketiga komponen itu bisa
dikembangkan secara maksimal, perlu lebih dulu dipahami hakekat
Pancasila bagi kehidupan nasional Indonesia.
2. Negara-negara demokrasi Liberal Barat mendasarkan kehidupan
dan dinamiknya pada individu dan kompetisi secara antagonis,
sedangkan negara-negara komunis berdasarkan kepada
pertentangan kelasya ng bersifat dialektis materiil. Adapunnegara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila, berpaham pada keseluruhan
dan keseimbangan, baik antara individu dan masyarakat maupun
antara berbagai kelompok sosialnya. Dinamika dikembangkan
bukan dari pertarungan menurut paham “singa gede menang
kerahe”
(singa besar pasti menang bertarung), melainkan atas paham hidup
menghidupi, simbiosis mutualis. Pola dasar dan sistem nilai yang
demikian itu juga menjadi dasar dan semangat dari hubungan
antara pemerintah, pers dan masyarakat. Hubungan itu tidak
disemangati oleh sikapapriori atau saling curiga, apalagi saling
memusuhi. Hubungan itu adalah hubungan perkerabatan yang
fungsional.

3
3. Antara pemerintah, pers dan masyarakat, harus dikembangkan
hubungan fungsional sedemikian rupa, sehingga semakin
menunjang tujuan bersama yaitu terwujudnya masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dimungkinkan adanya perbedaan pendapat dalam
proses hubungan tersebut. Namun perbedaan pendapat tidak harus
ditafsirkan sebagai konflik melainkan sebagai proses kreatif dan
dinamis dalam usaha mencapai harmoni dan keseimbangan yang
setiap kali semakin maju, kuantitatif dan kualitatif.
4. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, sesungguhnya
merupakan pengejawa- ntahan dari nilai-nilai Pancasila. Itulah
sebabnya, salah satu pendekatan kultural terhadap segala persoalan,
lebih cocok dengan identitas Indonesia, lagipula pendekatan
kultural ini telah dibuktikan kharisma dan daya mampunya dalam
periode perjuangan kemerdekaan nasional, sehingga mampu
membangkitkan semangat patriotisme, pengorbanan tanpa pamrih
dan dedikasi total terhadap kepentingan rakyat banyak. Pendekatan
kultural juga dapat memperlancar proses kembar, yaitu kontinuitas
dan perubahan yang menjadi ciri- ciri kehidupan setiap bangsa,
apalagi bangsa yang sedang membangun. Pembangunan berarti
perubahan yang terarah seca bertahap tapi konsisten. Sedangkan
perubahan itu agar kokoh, harus berakar dan akar itu adalah
kontinuitas. Kontinuitas dari nilai kebudayaan bangsa yang paling
mulia, termasuk di antaranya warisan nilai-nilai empat puluh lima.
5. Baik untuk menjamin tercapainya sasaran maupun karena sesuai
dengan asas demokrasi Pancasila, maka dalam hubungan
fungsional antara pemerintah, pers dan masyarakat,
perludikembangkan kultur politik dan mekanisme yang
memungkinkan berfungsinya sistem kontrol sosial dan kritik secara
efektif dan terbuka. Tetapi kontrol sosial itu pun substansi dan
caranya tidak terlepas dari asas keselarasan dan keseimbangan,
kekerabatan dan hidup menghidupi.
6. Pembangunan masyarakat bisa berlangsung dalam pola evolusi,
reformasi dan revolusi. Jika kita menempatkan pembangunan

4
nasional Indonesia ke dalam salah satu dari ketiga
kategori itu, maka yang paling tepat ialah pada pola reformasi.
Pembangunan dalam pola reformasi berarti perobahan terarah yang
fundamental sesuai dengan konsep masyarakat Pancasila, namun
dilaksanakan secara bertahap dan menurut asas prioritas.
7. Seluruh bidang kehidupan masyarakat hendak dibangun, tetapi
pelaksanaannya bertahap dan selektif, semakin hari semakin maju
dan menyeluruh sehingga akhirnya seluruh bidang kehidupan
masyarakat bangsa dan negara dijamahnya, ditransformir menjadi
masyarakat Pancasila. Pendekatan bertahap, berprioritas, berencana
merupakan pendekatan yang tepat, mengingat serta keterbatasan
yang ada pada kita, tetapi seluruh prosesnya perlu dipercepat
(diakselarasi), karena sebagai bangsa dihadapkan dengan faktor
waktu yang semakin mengejar. Pemerintah, pers dan masyarakat
harus mampu membangun diririnya sendiri agar menjadi lembaga
yang lebih baik dan lebih ampuh untuk melaksanakan
pembangunan.
8. Adanya kekurangan merupakan gejala umum yang harus kita
terima bersama. Bukan agar kita menyerah dan menjadi dalih dari
berbagai kemungkinan penyalahgunaan, melainkan agar kita
mampu melihat segala sesuatunya dengan proporsi yang tepat dan
konstruktif. Agar dalam melakukan koreksi, kita tidak
menimbulkan apatisme dan antipati melainkan justru
menggairahkan usaha-usaha perbaikan dan pembangunan itu
sendiri. Di samping menunjukkan kekurangan-kekurangan, pers
harus bisa juga menunjukkkan hal-hal positif. Berlaku kembali di
sini asas keselarasan dan keseimbanganyang merupakan tipe ideal
masyarakat kita, sekali pun merupakan nilai dalam proses
pendekatan. Interaksi berarti proses pengaruh- mempengaruhi
sebagai dasar dari konsensus bersama yang merupakan hasil
komunikasi dua arah timbal balik.

9. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat merupakan


hubungan kekerabatan dan fungsional yang terus menerus

5
dikembangkan dalam mekanisme dialog. Di samping mekanisme
dialog, juga perlu dikembangkan mekanisme lain, yaitu
diselenggarakan seminar sebagai kegiatan rutin yang kreatif dalam
usaha mengembangkan konsepsi, nilai- nilai dan mekanisme.
Dalam usaha memelihara kontinuitas yang kreatif, juga dipandang
bermanfaat untuk menerbitkan buku-buku dalam bidang pers,
sehingga menjadi bahan bacaan bagi para wartawan, pejabat
pemerintah maupun perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa kini
telah diterbitkan tiga buku hasil panitia Dewan Pers, yaitu “Sejarah
Pers Indonesia, Pornografi dan Pers Indonesia dan Naskah
Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia”.
10. Dalam hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat,otonomi
masing-masing lembaga sesuai dengan asas Demokrasi Pancasila,
dihormati dan perlu dikembangkan. Salah satu karya otonomi ialah
apa yang dengan baik bisa dilakukan sendiri oleh lembaga
masyarakat, tidak perlu pemerintah mencampurinya. Dalam
konteks ini, misalnya perlu dikembangkan adanya mekanisme
efektif oleh masyarakat pers sendiri untuk mengatur perilaku
kehidupannya. Pelaksanaan kode etik dan sanksi atas pelanggaran,
misalnya perlu ditingkatkan. Disarankan agar dipelajari
kemungkinan dibentuknya suatu Dewan Kehormatan, yang terdiri
dari tiga pihak; pers, masyarakat, pemerintah. Dewan kehormatan
yang demikian itu agar dibentuk di pusat maupun di daerah sesuai
dengan kebutuhannya.
11. Jadi, bila dibahas lebih spesifik lagi, pers memang “lahir” di
tengah-tengah masyarakat, sehingga pers dan masyarakat
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pers
“lahir” untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh
informasi yang aktual dengan terus-menerus mengenai peristiwa-
peristiwa besar maupun kecil. Pers sebagai lembaga
kemasyarakatan tidak dapat hidup sendiri, akan tetapi pers
dipengaruhi dan mempengaruhi lembaga kemasyarakatan yang lain.
12. Menurut Wilbur Schramm, pers bagi masyarakat adalah “Watcher,
forum and teacher” (pengamat, forum dan guru). Maksud

6
pernyataan di atas adalah, bahwa setiap hari pers memberikan
laporan dan ulasan mengenai berbagai macam kejadian dalam dan
luar negeri, menyediakan tempat (forum) bagi masyarakat untuk
mengeluarkan pendapat secara tertulis dan turut mewariskan nilai-
nilai kemasyarakatan dari generasi ke generasi.
C. Dampak penyalahgunaan kebebasan media Massa
Kebebasan yang telah dibuka oleh pemerintah bagi insan pers
memberi peluang kepadanya untuk memperoleh informasi seluas-luasnya
secara tepat dan cepat. Tetapi di balik itu ada oknum yang
menyalahgunakan kebebasan pers, antara lain :
1. Digunakan sebagai alat poitik bagi oknum tertentu untuk mencapai
tujuan tertentu, berarti pers tidak lagi lagi mampu menjadi alat kontrol
yang baik,
2. Melalui opini / pendapat yang bersumber dari SMS, orang dapat
menyampaikan pendapatnya secara lugas, dimana dapat merugikan
pihak-pihak tertentu,

3. Media elektronik / TV, sering menayangkan acara yang jauh dari nilai-
nilai pendidikan, bahkan bertabrakan dengan norma-norma masyarakat,
4. Pejabat atau orang kaya yang diduga melakukan KKN, memperalat
media massa untuk tidak mengekspos / memberitakan dengan imbalan
tertentu.
Dampak negatif dari penyalahgunaan kebebasan media massa dapat
dibedakan secara intern dan ekstern, yaitu:
1. Secara intern
a. Pers tidak obyektif, menyampaikan berita bohong, lambat atau cepat
akan ditinggal pembacanya,
b. Ketidaksiapan masyarakat untuk menggunakan hak jawab akan
menimbulkan kejengkelan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh
pemberitaan pers, akan melakukakan tindakan yang anarkhis dengan
merusak kantor, bahkan tindakan fisik terhadap wartawan yang
memberitakan.
2. Secara ekstern
a. Mempercepat kerusakan akhlak dan moral bangsa,

7
b. Menimbulkan ketegangan dalam masyarakat,
c. Menimbulkan sikap antipati dan kejengkelan terhadap pers,
d. Menimbulkan sikap saling curiga dan perpecahan dalam masyarakat,
e. Mempersulit diadakannya islah / merukunkan kembali kelompok
masyarakat yang sedang konflik.
Dalam kaintannya dengan kebebasan Pers, perlu disimak apa yang
dikemukakan oleh jurnalis dan ahli sejarah Amerika serikat Paul
Johnson. Ia mensinyalir adanya praktik menyimpang dalam kebebasan
pers yang disebut “Tujuh Dosa Yang mematikan “(Seven Deadly Sins),
yaitu :
1. Distorsi Informasi
Lazim dilakukan dengan menambah atau mengurangi informasi, baik
yang menyangkut opini maupun ilustrasi faktual yang tidak sesuai
dengan sumber aslinya. Akibatnya makna menjadi berubah.
2. Dramatisasi Fakta Palsu
Dipraktekkan denngan memberikan ilustrasi verbal, auditif atau visual
yang berlebihan tentang suatu obyek. Dalam media cetak cara ini dapat
dilakukan secara naratif (dalam bentuk kata-kata)
atau melalui penyajian foto/gambar tertentu dengan tujuan membangun
suatu citra negatif dan stereotip.
3. Menganggu “Privacy”
Dilakukan peliputan kehidupan kalangan selebritis dan kaum elite,
terutama yang diduga terlibat dalam suatu skandal. Cara yang dilakukan
antara lain melalui penyadapan telepon, penggunaan kamera dengan
telelens, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi,
memaksa atau menjebak.
4. Pembunuhan Karakter
Praktik ini umumnya dialami secara individu, kelompok atau organisasi /
perusahaan, yang diduga terlibat dalam perbuatan kejahatan. Biasanya
dilakukan dengan mengekspolitasi, menggambarkan dan menonjolkan
sisi “buruk” mereka saja. Padahal sebenarnya mereka memiliki segi
baiknya.
5. Eksploitasi Seks
Praktik eksploitasi seks tidak hanya menjadi monopoli dunia periklanan.

8
Praktek tersebut juga dilakukan dalam pemberitaan dengan cara
menempatkan di halaman depan surat kabar, tulisan yang bermuatan
seks.
6. Meracuni Benak / Pikiran Anak
Praktik ini dilakukan dengan cara menempatklan figur anak-anak. Akhir-
akhir ini, praktik serupa semakin meningkat denngan penonjolan figur
anak-anak sebagai sasaran atau pelaku dalam memasarkan berbagai
macam produk.
7. Penyalahgunaan Kekuasaan
Penyalahgunaan kekuasaan tidak saja dapat terjadi di lingkungan pejabat
pemerintahan, tetapi juga di kalangan pemegang kontrol kebijakan
editorial / pemberitaan media massa.
Ketujuh “Dosa jurnalistik itu menurut ahli komunikasi dari
Universitas Indonesia, Sasa Djuarsa Senjaya, terjadi juga di Indonesia,
terutama dilakukan media massa yang baru terbit. Beliau menyebutnya
sebagai “Praktik Jurnalistik yang Menyimpang”, yaitu :
1. Eksploitasi Judul
Judul tidak sesuai dengan isi beritanya. Biasanya judul tersebut
bernada agitatif, emosional, dan tidak jarang “seronok”. Tujuannya
untuk menarik perhatian pembaca dan untuk meningkatkan sirkulasi.
2. Sumber Berita “Konon Kabarnya”
Tidak jarang pula sumber berita “konon kabarnya” atau ‘menurut
sumber berita yang tidak mau disebut namanya” dipraktikkan. Padahal
salah satu implikasi dari prinsip obyektifitas adalah adanya kejelasan
identitas dari berbagai sumber berita yang dirujuk.
3. Dominasi Opini Elite dan Kelompok Mayoritas
Pada umumnya media massa di Indonesia masih cenderung
mengutamakan pemuatan opini, pendapat atau pernyataan kalangan
elite dan mayoritas saja, misalnya para pakar, tokoh politik, kalangan
selebritis, pejabat pemerintah, tokoh agama atau pengusaha.Aspirasi
masyyarakat bawah atau minorotas kurang mendapatkan perhatian.
4. Penyajian Informasi yang Tidak Investigatif
Penyajian informasi kurang bersifat investigatif, hanya menjual issue,
tetapi kurang melengkapinya dengan pemberian makna dan

9
interpretasi yang obyektif, komprehensif, dan mendalam.
Dampak positif kebebasan pers/ beberapa manfaat yang diperoleh dengan
adanya kebebasan pers yaitu:
1. Pers menjadi penyalur aspirasi rakyat;
2. Pers bebas mencari/mendapatkan kebenaran, sehingga dapat mewujudkan
keadilan;
3. Pers menjadi kontrol sosial yang bebas memberikan kritik, saran dan
pengawasan;
4. Pers menjadi penyebar informasi yang dapat memenuhi hak masyarakat;
5. Pers menjadi wahana komunikasi massa;
6. Pers menjadi penghubung antar sesama manusia;
7. Pers menjadi pendidik karena bebas menyebarkan IPTEK;
8. Pers menjadi pemberi hiburan kepada masyarakat.

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dampak kebebasan
pers dapat ditinjau dari berbagai kepentingan, antara lain :
1. Bagi Kepentingan Pribadi
Jasa Pers dapat meningkatkan citra positif seseorang. Sebaliknya
karena pers, reputasi seseorang hancur. Padahal kenyataan dapat
sebaliknya. Jadi, nama baik seseorang dapat dirugikan apabila
terjadi penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan penyampaian
informasi.
2. Bagi Kepentingan masyarakat
Dengan bantuan media massa, fakta dapat dikamuflase dengan
tulisan lain yang berkesan membenarkan. Masyarakat dapat tertipu
karena mendapat informasi yang tidak benar. Misalnya kebijakan
seorang tokoh tidak tepat bila dikaji secara ilmiah. Namun karena
informasi yang diberikan berulang-ulang dan diekspos secara besar-
besaran, masyarakat jadi terpengaruh.
3. Bagi kepentingan Negara
Penyalahgunaan kebebasan pers dapat merugikan kepentingan
negara, karena tulisan-tulisan yang kurang mempeertimbangkan
kepentingan nasional. Hal semacam itu akan menimbulkan dampak
antara lain :
a. Tingkat kepercayaan masyarakat menjadi berkurang. Masyarakat
menjadi apatis terhadap program pemerintah.
b. Kepercayaan luar negeri menjadi luntur. Akibatnya minat kerjasama,
terutama kerjasama ekonomi, penanaman investasi, pemberian
bantuan, pemberian pinjaman akan menurun.
c. Timbulnya pergesekan hubungan antara pers dengan institusi
tertentu, yang menyebabkan renggangnya hubungan karena
pemberitaan yang tidak seimbang. Misalnya, TNI saat melakukan
operasi militer menumpas GAM di Aceh.

11
DAFTAR PUSTAKA

http://pknsman3purworejo.blogspot.com/2013/05/mengevaluasi-
kebebasan-pers-dan- dampak.html
http://www.slideshare.net/fadhlisyar/makalah-pkn-2#btnNext
https://sites.google.com/site/smankarangrayung/materi-
pkn/mutiara-hikmah
http://alexreihan.blogspot.com/2012/06/peranan-pers-dalam-
masyarakat-demokrasi.html
http://www.anneahira.com/peranan-pers-dalam-masyarakat-
demokrasi.htm

12