Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PEMBAGIAN KEKUASAAN
DALAM SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

Disusun Oleh :
1. Uswatun Khasanah
2. Tammiyatun Nayyirotul M.
3. Nor Anisa
4. Fita Riyantika Lestari

Kelas : XI AP 3

YAYASAN ISLAM MANBA’UL ULUM


“SMK ISLAM MANBA’UL ULUM”
Jl. Mayong-Pule KM. 04 Kedungombo Buaran Mayong Jepara
Telp.  (0291) 7512057 e-mail : manbaululumsmk@yahoo.com

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ilmiah tentang Pembagian Kekuasaan Dalam Sistem Pemerintahan Indonesia.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Pembagian Kekuasaan
Dalam Sistem Pemerintahan Indonesia ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi
terhadap pembaca.

Jepara, 7 Agustus 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1

A. Latar Belakang............................................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 2

A. Makna Sistem Pemerintahan Indonesia dan Distribusi Kekuasaan ............................ 2

B. Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Indonesia ............................................................. 4

C. Sistem Pembagian Kekuasaan Dalam Pemerintahan Indonesia ................................. 6

BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 10

A. Kesimpulan ............................................................................................................... 10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem ketatanegaraan Republik Indonesia menurut UUD 1945, tidak
menganut suatu sistem negara manapun, tetapi adalah suatu sistem khas menurut
kepribadian bangsa indonesia, namun sistem ketatanegaraan Republik indonesia tidak
terlepas dari ajaran Trias Politica Montesquieu. Ajaran trias politica tersebut adalah
ajaran tentang pemisahan kekuasaan negara menjadi tiga yaitu Legislatif, Eksekutif,
dan Judikatif yang kemudian masing-masing kekuasaan tersebut dalam
pelaksanaannya diserahkan kepada satu badan mandiri, artinya masing-masing badan
itu satu sama lain tidak dapat saling mempengaruhi dan tidak dapat saling meminta
pertanggung jawaban.
Apabila ajaran trias politika diartikan suatu ajaran pemisahan kekuasaan
maka jelas Undang-undang Dasar 1945 menganut ajaran tersbut, oleh karena memang
dalam UUD 1945 kekuasaan negara dipisah-pisahkan, dan masing-masing kekuasaan
negara tersebut pelaksanaannya diserahkan kepada suatu alat perlengkapan negara.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis memberi judul
“Pembagian Kekuasaan Dalam Sistem Pemerintahan Indonesia ‘’.

B. Rumusan Masalah
1. Apa makna sistem pemerintahan Indonesia dan distribusi kekuasaan?
2. Bagaimana pelaksanaan sistem pemerintahan Indonesia?
3. Bagaimana sistem pembagian kekuasaan dalam pemerintahan Indonesia?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Makna Sistem Pemerintahan Indonesia dan Distribusi Kekuasaan


Secara teori, berdasarkan UUD 1945, Indonesia menganut sistem
pemerintahan presidensiil. Namun dalam prakteknya banyak bagian-bagian dari
sistem pemerintahan parlementer yang masuk ke dalam sistem pemerintahan di
Indonesia. Sehingga secara singkat bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan yang
berjalan i Indonesia adalah sistem pemerintahan yang merupakan gabungan atau
perpaduan antara sistem pemerintahan presidensiil dengan sistem pemerintahan
parlementer.
Menurut UUD 1945, sistem pemerintahan negara kita tidak menganut sistem
pemisah kekuasaan (Trias Politica) murni, akan tetapi menganut sistem pembagian
kekuasaan (Distribution Power). Hal ini dikarenakan dalam UUD 1945.
Tidak membatasi secara tegas bahwa setiap kekuasaan itu harus dilakukan oleh
suatu organisasi/badan tertentu yang tidak boleh saling campur tangan.
1. Tidak membatasi kekuasaan itu dibagi atas 3 bagian saja dan juga tidak membatasi
kekuasaan dilakukan oleh 3 orang saja.
2. Tidak membagi habis kekuasaan rakyat yang dilakukan MPR, Pasal 1 ayat 2,
kepada lembaga-lembaga negara lainnya.
Dalam struktur ketatanegaraan terjadi penambahan nama lembaga negara dan
sekaligus penghapusan satu lembaga negara. Cermatilah bagan berikut.

Berikut ini adalah perbedaan sistem pemerintahan sebelum terjadi amandemen


dan setelah terjadi amandemen pada UUD 1945 :
Sebelum terjadi amandemen :
 MPR menerima kekuasaan tertinggi dari rakyat
 Presiden sebagai kepala penyelenggara pemerintahan
 DPR berperan sebagai pembuat Undang - Undang
 BPK berperan sebagai badan pengaudit keuangan
 DPA berfungsi sebagai pemberi saran/pertimbangan kepada presiden /
pemerintahan

2
 MA berperan sebagai lembaga pengadilan dan penguki aturan yang diterbitkan
pemerintah.

Setelah terjadi amandemen :


 Kekuasaan legislatif lebih dominan
 Presiden tidak dapat membubarkan DPR
 Rakyat memilih secara langsung presiden dan wakil presiden
 MPR tidak berperan sebagai lembaga tertinggi lagi
 Anggota MPR terdiri dari seluruh anggota DPR ditambah anggota DPD yang
dipilih secar langsung oleh rakyat

Dalam sistem pemerintahaan presidensiil yang dianut di Indonesia, pengaruh


rakyat terhadap kebijaksanaan politik kurang menjadi perhatian. Selain itu,
pengawasan rakyat terhadap pemerintahan juga kura begitu berpengaruh karena pada
dasarnya terjadi kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan
yang ada di tangan presiden. Selain itu, terlalu sering terjadi pergantian pejabat di
kabinet karena presiden mempunyai hak prerogatif untuk melakukan itu.

Bagan diatas adalah struktur ketatanegaraan sebelum amandemen UUD 1945.


Adapun struktur amandemen setelah amandemen UUD 1945 adalah sebagai berikut.

3
B. Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Indonesia
Sejak tahun 1945 Indonesia pernah berganti sistem pemerintahan. Indonesia
pernah menerapkan kedua sistem pemerintahan ini. Selain itu terjadi juga perubahan
pokok-pokok sistem pemerintahan sejak dilakukan amandemen UUD
1945. Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 Indonesia adalah negara yang
menerapkan sistem pemerintahan presidensial. Namun dalam perjalannannya,
Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan parlementer karena kondisi dan
alasan yang ada pada waktu itu. Berikut adalah sistem pemerintahan Indonesia dari
1945-sekarang.

Tahun 1945 – 1949


Sistem Pemerintahan: Presidensial
Semula sistem pemerintahan yang digunakan adalah presidensial tetapi sebab
kedatangan sekutu (agresi militer) dan berdasarkan Maklumat Presiden no X tanggal
16 November 1945 terjadi pembagian kekusaaan dimana kekuasaan eksekutif
dipegang oleh Perdana Menteri maka sistem pemerintahan indonesia menjadi Sistem
Pemerintahan Parlementer
Terjadi penyimpangan dari ketentuan UUD ’45 antara lain:
1. Berubah fungsi komite nasional Indonesia pusat dari pembantu presiden menjadi
badan yang diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan GBHN yang
merupakan wewenang MPR.

4
2. Terjadinya perubahan sistem kabinet presidensial menjadi kabinet parlementer
berdasarkan usul BP – KNIP.

Tahun 1949 – 1950


Sistem Pemerintahan : Quasy Parlementer
Didasarkan pada konstitusi RIS. Pemerintahan yang diterapkan saat itu adalah
system parlementer Kabinet semu (Quasy Parlementary). Sistem Pemerintahan yang
dianut pada masa konstitusi RIS bukan cabinet parlementer murni karena dalam
system parlementer murni, parlemen mempunyai kedudukan yang sangat menentukan
terhadap kekuasaan pemerintah.

Tahun 1950 – 1959


Sistem Pemerintahan: Parlementer
Landasannya adalah UUD ’50 pengganti konstitusi RIS ’49. Sistem
Pemerintahan yang dianut adalah parlementer cabinet dengan demokrasi liberal yang
masih bersifat semu.
Ciri-ciri:
1. presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat.
2. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan.
3. Presiden berhak membubarkan DPR.
4. Perdana Menteri diangkat oleh Presiden.

Tahun 1959 – 1966 (Demokrasi Terpimpin)


Sistem Pemerintahan: Presidensial
Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat untuk
melenyapkan kekuasaan-kekuasaan yang menghalanginya sehingga nasib parpol
ditentukan oleh presiden (10 parpol yang diakui). Tidak ada kebebasan mengeluarkan
pendapat.
Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 yang isinya
1. Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945.
2. Pembubaran Badan Konstitusional
3. Membentuk DPR sementara dan DPA sementara

5
Tahun 1966 – 1998
Sistem Pemerintahan: Presidensial
Orde baru pimpinan Soeharto lahir dengan tekad untuk melakukan koreksi
terpimpin pada era orde lama. Namun lama kelamaan banyak terjadi penyimpangan-
penyimpangan. Soeharto mundur pada 21 Mei ’98.

Tahun 1998 – 2014 (Reformasi)


Sistem Pemerintahan: Presidensial
Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak memberikan
ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi pemerintah secara kritis dan
dibenarkan untuk unjuk rasa.

C. Sistem Pembagian Kekuasaan Dalam Pemerintahan Indonesia


Mekanisme pembagian kekuasaan di Indonesia diatur sepenuhnya di dalam
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penerapan pembagian kekuasaan di
Indonesia terdiri atas dua bagian, yaitu pembagian kekuasaan secara horizontal dan
pembagian kekuasaan secara vertikal.
1. Pembagian kekuasaan secara horizontal
Pembagian kekuasaan secara horizontal yaitu pembagian kekuasaan menurut
fungsi lembaga-lembaga tertentu (legislatif, eksekutif dan yudikatif). Berdasarkan
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara horizontal pembagian
kekuasaan negara di lakukan pada tingkatan pemerintahan pusat dan
pemerintahan daerah.
Pembagian kekuasaan pada tingkatan pemerintahan pusat berlangsung antara
lembaga-lembaga negara yang sederajat. Pembagian kekuasaan pada tingkat
pemerintahan pusat mengalami pergeseran setelah terjadinya perubahan UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pergeseran yang dimaksud adalah
pergeseran klasifikasi kekuasaan negara yang umumnya terdiri atas tiga jenis
kekuasaan (legislatif, eksekutif dan yudikatif) menjadi enam kekuasaan negara,
yaitu:
a. Kekuasaan konstitutif, yaitu kekuasaan untuk mengubah dan menetapkan
Undang-Undang Dasar. Kekuasaan ini dijalankan oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1)
6
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa
Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan
Undang-Undang Dasar.
b. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang
dan penyelenggraan pemerintahan Negara. Kekuasaan ini dipegang oleh
Presiden sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Presiden Republik
Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang
Dasar.
c. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang.
Kekuasaan ini dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 20 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun
1945 yang menyatakan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang
kekuasaan membentuk undang-undang.
d. Kekuasaan yudikatif atau disebut kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Kekuasaan ini dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Kekuasaan kehakiman
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di
bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan
oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
e. Kekuasaan eksaminatif/inspektif, yaitu kekuasaan yang berhubungan dengan
penyelenggaraan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab tentang
keuangan negara. Kekuasaan ini dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 23 E ayat (1) UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu
Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
f. Kekuasaan moneter, yaitu kekuasaan untuk menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran,
serta memelihara kestabilan nilai rupiah. Kekuasaan ini dijalankan oleh Bank
Indonesia selaku bank sentral di Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam
7
Pasal 23 D UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan
bahwa negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan,
kewenangan, tanggung jawab, dan indepedensinya diatur dalam undang-
undang.
Pembagian kekuasaan secara horizontal pada tingkatan pemerintahan daerah
berlangsung antara lembaga-lembaga daerah yang sederajat, yaitu antara
Pemerintah Daerah (Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah) dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pada tingkat provinsi, pembagian kekuasaan
berlangsung antara Pemerintah provinsi (Gubernur/wakil Gubernur) dan DPRD
provinsi. Sedangkan pada tingkat kabupaten/kota, pembagian kekuasaan
berlangsung antara Pemerintah Kabupaten/Kota (Bupati/wakil Bupati atau
Walikota/wakil Walikota) dan DPRD kabupaten/kota.

2. Pembagian kekuasaan secara vertikal


Pembagian kekuasaan secara vertikal merupakan pembagian kekuasaan
menurut tingkatnya, yaitu pembagian kekuasaan antara beberapa tingkatan
pemerintahan. Pasal 18 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
daerahdaerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah,
yang diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan ketentuan tersebut, pembagian kekuasaan secara vertikal di
negara Indonesia berlangsung antara pemerintahan pusat dan pemerintahan
daerah (pemerintahan provinsi dan pemerintahan kabupaten/kota). Pada
pemerintahan daerah berlangsung pula pembagian kekuasaan secara vertikal yang
ditentukan oleh pemerintahan pusat. Hubungan antara pemerintahan provinsi dan
pemerintahan kabupaten/kota terjalin dengan koordinasi, pembinaan dan
pengawasan oleh Pemerintahan Pusat dalam bidang administrasi dan
kewilayahan.
Pembagian kekuasaan secara vertikal muncul sebagai konsekuensi dari
diterapkannya asas desentralisasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan asas tersebut, Pemerintah Pusat menyerahkan wewenang pemerintahan
kepada pemerintah daerah otonom (provinsi dan kabupaten/kota) untuk mengurus
dan mengatur sendiri urusan pemerintahan di daerahnya, kecuali urusan
8
pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, yaitu kewenangan
yang berkaitan dengan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, agama,
moneter dan fiskal.
Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 18 ayat (5) UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan Pemerintah daerah menjalankan otonomi
seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan
sebagai urusan Pemerintah Pusat.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Menurut UUD 1945, sistem pemerintahan negara kita tidak menganut sistem
pemisah kekuasaan (Trias Politica) murni, akan tetapi menganut sistem
pembagian kekuasaan (Distribution Power).
2. Sejak tahun 1945 Indonesia pernah berganti sistem pemerintahan. Indonesia
pernah menerapkan kedua sistem pemerintahan ini. Selain itu terjadi juga
perubahan pokok-pokok sistem pemerintahan sejak dilakukan amandemen UUD
1945.
3. Penerapan pembagian kekuasaan di Indonesia terdiri atas dua bagian, yaitu
pembagian kekuasaan secara horizontal dan pembagian kekuasaan secara vertikal.

10