Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HEPATITIS
DI RUANG 28 RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Di susun oleh:
1) Dimas Bagus Kurniawan (17212195024)
2) Murtin Ismail (17212195017)
3) Yenne Purnamaning Tyas (17212195047)

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT


RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan Acara Penyuluhan ini disusun untuk memenuhi tugas praktek


Keperawatan Medikal Bedah dengan kasus HEPATITIS di Ruang 28 RSUD Dr.
Saiful Anwar Malang. Pada hari ini Jum’at tanggal 20-12-2019. Telah
dikonsultasikandan disetujui sebagai laporan praktek profesi.

Malang, ………...2019

Ketua Kelompok Pembimbing Ruangan

(…………………………….) (…………………………….)
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Penatalaksanaan Hepatitis


Sasaran : Pasien dan Keluarga di Ruang 28 RSSA MALANG
Hari/Tanggal : Jum’at / 20 desember 2019
Jam : 10.00 WIB - selesai
Waktu : 45 menit
Tempat: Ruang 28 RSSA MALANG

1. LATAR BELAKANG

Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, tapi


perhatian dunia masih terbatas, sampai adanya resolusi Word Hepatitis Alliance
(WHA). Diperkirakan 2 milyar orang di dunia pernah terinfeksi hepatitis B, 240
juta orang diantaranya pengidap kronis, upaya pencegahan yang dilakukan, selain
imunisasi Hepatitis B, yaitu promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
untuk mencegah penyebaran virus hepatitis, penapisan darah donor oleh PMI
terhadap hepatitis B dan C serta pengmbangan jaringan surveilans epidemiologi
(Tjandra, 2013). Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar sepertiga
dari populasi dunia atau sekitar 2 milyar orang saat ini terinfeksi oleh salah satu
dari virus yang menyebabkan hepatitis, dengan angka kematian 250.000 orang per
tahun menurut organisasi tersebut, sekitar dua juta orang menderita hepatitis dan
sebagian besar dari mereka tidak menyadari jika mereka terkena virus tersebut
dan bisa menularkannya kepada orang lain (Adhitana, 2013). Indonesia
menempati peringkat ke 3 penderita hepatitis terbanyak di dunia setelah india dan
cina. Penderita hepatitis B dan C di indonesia diperkirakan mencapai 30 juta
orang. Setengahnya diduga memiliki penyakit liver. Indonesia adalah negara
dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yaitu lebih dari 8
persen yang sebanyak 1,5 juta orang indonesia yang berpotensi mengidap kanker
hati. Indonesia, telah mulai memantau penyakit hepatitis sejak lama melalui upaya
pengendalian penyakit mulai dari upaya promotif, preventif, dan kuratif,
diantaranya melalui 2
imunisasi hepatitis untuk bayi sejak 1997, di indonesia, hepatitis termasuk salah
satu penyakit berbahaya sehingga termasuk dalam lima imunisasi yang biasanya
digratiskan pemerintah selain BCG, DPT, polio dan campak (Adhitama, 2013).

2. TUJUAN
2.1. Tujuan Umum
Peserta penyuluhan dapat mengetahui tentang Hepatitis dan
penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hepatitis.

2.2. Tujuan Khusus


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang Hepatitis di Ruang 28
Rumah Sakit Sakit Syaiful Anwar selama 45 menit, diharapkan seluruh pasien dan
keluarga
dapat :
2.2.1 Memahami tentang Pengertian Hepatitis
2.2.2 Memahami Penyebab Hepatitis
2.2.3 Memahami Manifestasi Klinis Hepatitis
2.2.4 Memahami Klasifikasi Hepatitis
2.2.5 Memahami Pencegahan Hepatitis
2.2.6 Memahami Komplikasi Hepatitis
2.2.7 Memahami Diet untuk pasien Hepatitis

3. MEDIA
1. Leaflet
2. LCD
4. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
5. PENGORGANISASIAN & URAIAN TUGAS
1. Penanggung Jawab Acara :
Uraian tugas :
a. Penanggung Jawab Acara dari pre PKRS sampai laporan PKRS
b. Controling Acara
2. Protokol / Pembawa Acara:
Uraian tugas :
a. Membuka acara penyuluhan, memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta
b. Mengatur proses dan lamanya penyuluhan
c. Memotivasi peserta untuk bertanya
d. Menutup acara penyuluhan
3. Penyuluh / Pematerir :
Uraian tugas :
1. Menjelaskan materi penyuluhan dengan jelas dan dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh peserta
2. Memotivasi peserta untuk tetap aktif dan memperhatikan proses
penyuluhan
3. Memotivasi peserta untuk bertanya
4. Fasilitator dan Dokumentasi :
Uraian tugas :
a. Memfasilitasi kebutuhan peserta sesuai fasilitas yang diberikan.
b. Memotivasi peserta untuk bertanya materi yang belum jelas
c. Mendokumentasikan acara dalam bentuk foto atau video.
5. Observer:
Uraian Tugas :
a. Ikut bergabung dan duduk bersama diantara peserta
b. Mengamati perilaku verbal dan nonverbal peserta selama proses
penyuluhan
c. Menyampaikan evaluasi kepada semua penyuluh/panitia selama
penyuluhan yang dirasa tidak sesuai dengan rencana penyuluhan
6. Notulen:
Uraian tugas :
d. Mencatat nama, alamat dan jumlah peserta, serta menempatkan diri
sehingga memungkinkan dapat mengamankan jalannya proses
penyuluhan
e. Mencatat pertanyaan yang diajukan peserta

7. KEGIATAN PENYULUHAN
No Tahap Waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan sasaran
1 Pendahuluan 5 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Memperhatikan
3. Menjelaskan pokok bahasa, 3. Memperhatikan
manfaat
dan tujuan penyuluhan
2 Penyajian 15 menit 1. Memahami tentang Pengertian 1. Mendengarkan dan memperhatikan
2. Mendengarkan dan memperhatikan
Hepatitis
3. Mendengarkan dan memperhatikan
2. Memahami tentang penyebab 4. Mendengarkan dan memperhatikan
5. Mendengarkan dan memperhatikan
Hepatitis
6. Mendengarkan dan memperhatikan
3. Memahami Manifestasi Klinis 7. Mendengarkan dan memperhatikan
Hepatitis
4. Memahami Klasifikasi
Hepatitis
5. Memahami Pencegahan
Hepatitis
6. Memahami Komplikasi
Apendisitis
7. Memahami Diet pasien
Hepatitis
3 Evaluasi 20 menit 1. Memberikan kesempatan 1. Peserta dapat
untuk menyampaikan bertanya hal yang
pendapat dan bertanya belum dipahami
2. Mengevaluasi dari materi 2. Peserta dapat menjawab semua
yang disampaikan pertanyaan yang disampaikan
oleh pemateri

4 Penutup 5 menit 1. Menyimpulkan apa yang 1. Memahami


2. Mendengarkan
telah disampaikan
3. Menjawab salam
2. Mengucapakan terimakasih
atas perhatian dan
partisipasi peserta
3. Mengucapkan salam
penutup

8. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta hadir ditempat penyuluhan.
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di ruang 28 Rumah Sakit
Syaiful Anwar Malang
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
b. Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai
c. Peserta dapat mengulang pengertian, penyebab, tanda dan gejala,
penatalaksanaan, serta komplikasi
d. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
3. Evaluasi Hasil
a. 90% keluarga dapat memahami dan mengerti apa yang disampaikan
b. Keluarga aktif dalam menanyakan apa yang disampaikan.
c. Keluarga dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemateri.
d. Keluarga dapat mengambil manfaat penatalaksanaan hepatitis dan bisa
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari komplikasi
yang berlanjut.
.
MATERI
PENYULUHAN PADA PASIEN HEPATIITIS

1. Pengertian Hepatitis
Hepatitis adalah suatu peradangan pada hati yang terjadi karena toksin
seperti; kimia atau obat atau agen penyakit infeksi (Asuhan keperawatan pada
anak, 2002; 131). Hepatitis yaitu keadaan radang atau cedera pada hati, sebagai
reaksi terhadap virus, obat atau alkohol (FKAUI, 2006). Hepatitis yaitu nanah
sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas
(Wening Sari 2008). Hepatitis merupakan infeksi pada hati, baik disebabkan oleh
virus atau tidak. Hepatitis yang disebabkan oleh virus ada tiga tipe, yaitu tipe A,
tipe B, tipe C. Hepatitis yang tidak disebabkan oleh virus biasanya disebabkan
oleh adanya zat-zat kimia atau obat, seperti karbon tetraklorida, jamur racun, dan
Vinyl klorida (Asep Suryana abdurahmat, 2010: 153).
2. Penyebab Hepatitis
1. Hepatitis A
Disebut hepatitis infeksiosa merupakan virus RNAdari famili
entrovirus penularan melalui fekal oral yaitu melalui makanan dan
minuman yang tercemar. Virus hepatitis A ditemukan pada tinja pasien
yang terinfeksi sebelum gejala muncul dan selama beberapa hari pertama
menderita sakit. Masa inkubasi 1-7 minggu, rata-rata 30 hari. Gejala
anoreksia, ikterus, nyeri epigastrium, nyeri ulu hati, platulensi.
2. Hepatitis B
Virus DNA ditularkan melaului darah (mukosa) ditemukan pada
darah saliva, secret, semen, cairan vagina ditularkan melalui membrane
mukosa dan luka pada kulit. Masa inkubasi 1-6 bulan. Gejalanya panas,
anoreksia, nyeri abdomen, pegal-pegal menyeluruh, tidak enak badan dan
lemah.
3. Hepatitis C
Hepatitis C bukan merupakan hepatitis A,B, atau D. hepatitis C
adalah bentuk primer yang berkaitan dengan tranfusi.Ditularkan dari donor
komersil dan donor relawan. Masa inkubasi 15-160 hari
4. Hepatitis D
Hepatitis D atau agen atau virus delta terdapat pada beberapa kasus
hepatitis B, dijumpai pada obataoabatan intravena, pasien hemodialisis,
penerima tranfusi darahb dengan donor multiple. Masa inkubasi 21-40 hari
5. Hepatitis E ( hepatitis terbaru)
Ditularkan melalui fekal oral. Masa inkubasi 15-65 hari. Metode
pencegahan untuk menghindari kontak dengan virus melalui hygiene.
( Brunner dan Suddart, 2000 )
3. Manifestasi Klinik Hepatitis
1. hepatitis virus akut
umumnya pada bayi dan anak kecil asimtomatik. Pada anak besar
dan remaja dapat terjadi prodormal infeksi viral sistemik seperti anoreksia,
nausea, vomiting, fatigue, malaise, artralgia, mialgia, nyeri kepala,
fotofobia, faringitis, batuk dan koriza. Dapat mendahului timbulnya
ikterus selama 1-2 minggu. Apabila hepar sudah membesar pasien dapat
mengeluh nyeri perut kanan atas. Dibedakan menjadi 4 stadium yaitu :
a. Masa inkubasi: Masa inkubasi berlangsung 18- 20 hari, dengan
rata-rata kuran dari 28 hari. Gejalanya fatique, malaise, nafsu
makan berkurang, mual, muntah, rasa tidak nyaman didaerah
kanan atas, demam (biasanya <39derajat celcius), merasa dingin,
sakit kepala,flu, nasal discharge, sakit tenggorok dan batuk.
b. Pra ikhterik (prodromal): Masa prodormal terjadi selama 4 hari
sampai 1 minggu atau lebih
c. Ikterik: dimulai urin berwarna kuning tua, seperti the atau gelap,
feses berwarna seperti dempul, Warna sclera dan kulit menjadi
kuning Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, ikhterik menghilang
dan warna feses kembali normal dalam 4 minggu setelah enset.
d. Fase penyembuhan
2. Hepatitis bacterial
a. Penderita mengeluh panas, terutama pada malam hari
b. Nafsu makan berkurang
c. Kadang-kadang tidak dapat BAB
d. Air kencing berwarna seperti the dan bola mata tampak kekuningan
e. Lidah tampak kotor disertai tremor halus
f. Bibir penderita kering dan tampak kotor
3. Hepatitis obat-obatan
tanda dan gejalanya menggigil, pabnas, gatal-gatal yang tidak
diketahui penyebabnya dan juga mengeluh rasa pegal-pegal di sendi, dan
otot-otot yang lain dapat pula diketahui gejala prodormal seperti hepatitis
virus akut.
4. Klasifikasi Hepatitis
a) Hepatitis A
Virus Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang paling menular dan
mempunyai karakteristik sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri.
Hepatitis ini ditularkan melalui terutama rute-fekal oral, dan dapat juga
ditularkan melalui pengolahan makanan yang kurang bersih, makanan
yang terkontaminasi, dan kerang-kerangan dari air yang telah
terkontaminasi limbah.
b) Hepatitis B dan Hepatitis C
Virus hepatitis B dan hepatitis C ditularkan melalui darah atau
produk darah dan secret tubuh (Eksudat luka, semen, liur, air susu ibu,
urine).
c) Hepatitis D
Virus hepatitis D hanya dapat menimbulkan infeksi dan manifestasi
klinis jika terdapat infeksi hepatitis B. Virus tersebut hidup sebagai parasit
pada hepatitis B.
d) Hepatitis E
Hepatitis E adalah epidemik atau hepatitis non-A, non-B yang
ditularkan secara enterik. Penularan terjadi melalui rute fekal-air yang
terkontaminasi dan sering terjadi setelah bencana alam di negara-negara
berkembang.
e) Hepatitis G
Penyebab utama infeksi hepatitis G adalah melalui transfusi dan
transplantasi organ (Betz, C.L. 2009. Hal 221).
5. Pencegahan
a) Upaya untuk pencegahan dan pengobatan hepatitis A
Upaya pencegahan dan pengobatan untuk hepatitis A dapat
dilakukan dengan pemberian vaksinasi atau imunisasi hepatitis A bisa
dilakukan dengan bentuk sendiri/havrix atau bentuk kombinasi dengan
vaksin hepatitis B (twinrix). Imunisasi juga diberikan kepada balita dan
anak-anak mulai dari usia 2-18 tahun sebanyak 2 kali. Sedangkan pada
orang dewasa dapat dilakukan dengan imunisasi ulang (booster) setelah 6-
12 bulan imunisasi pertama. Pemberian imunisasi ini dapat bertahan 15-20
tahun. Apabila seseorang telah di imunisasi dapat terjangkit kembali
hepatitis A, kemungkinan disebabkan karena terinfeksi VBA yang terjadi
antara 2-4 minggu setelah di imunisasi, karena pada saat itu tubuh belum
menghasilkan anti bodi dalam jumlah yang cukup.
b) Upaya untuk pencegahan dan pengobatan hepatitis B
Pemberian imunisasi lengkap pada penderita hepatitis B ini dapat
mencegah infeksi VHB selama 15 tahun. Imunisasi hepatitis B ini
dilakukan sebanyak 3 kali, yakni imunisasi pertama dan kedua diberikan
dalam jarak 1 bulan. Sedangkan imunisasi ketiga diberikan 6 bulan setelah
imunisasi kedua. Sebaiknya pemberian imunisasi kedua. Sebaiknya
pemberian imunisasi hepatitis B ini dilakukan sedini mungkin yakni yakni
ketika bayi lahir dan setelah beberapa hari diberikan vaksin atau imunisasi
sebelum pulang dari rumah bersalin.
c) Upaya untuk pencegahan dan pengobatan hepatitis C
Sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah hepatitis
C. Sedangkan pencegahan lainnya yang dapat dilakukan dengan cara
pemberian vaksinasi atau imunisasi hepatitis dengan tujuan untuk
menekan angka resiko dari meningkatnya jumlah penderita dan
menurunkan angka kematian yang disebabkan karena hepatitis B.
6. Cara Penularan
 Hepatitis A yang ditularkan melalui tinja dari orang yang terinfeksi, serta
lewat makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi. Penyakit ini pun
bisa sembuh total asalkan rajin melakukan perawatan.
 hepatitis B, ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya yang telah
terinfeksi. Penularan juga bisa dimulai dari ibu kepada anak. Virus ini
sebenarnya bisa dicegah, sayangnya penyakit ini bila tidak cepat ditangani
akan menjadi kanker hati.

 Hepatitis C pun dapat ditularkan melalui darah, namun dengan cara


berbeda, seperti transfusi darah, jarum suntik yang tidak steril, serta
hubungan seksual.

7. Komplikasi
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan
penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal
sebagai hepatitiskronis persisten. Sekitar 5% dari pasien hepatitis virus akan
mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungan dengan
alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan. Setelah hepatitis virus akut
sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif
dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (Piece meal) dan
perkembangan sirosis. Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang
cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
1. Pengobatan Pasien Hepatitis

Pengobatan yang diberikan kepada penderita hepatitis bergantung kepada


penyebabnya. Pemantauan kondisi fisik pasien selama masa penyembuhan
hepatitis sangat diperlukan agar proses pemulihan bisa berjalan dengan baik.
Aktivitas fisik yang melelahkan harus dihindari selama masa penyembuhan
hingga gejala mereda.

Pengobatan hepatitis A, B, dan E akut umumnya tidak membutuhkan


pengobatan spesifik, pengobatan difokuskan untuk meredakan gejala-gejala
yang muncul, seperti mual muntah dan sakit perut. Perlu diingat pada kasus
hepatitis akut, pemberian obat-obatan harus dipertimbangkan dengan hati-hati
karena fungsi hati pasien sedang terganggu. Pasien hepatitis akut harus
menjaga asupan cairan tubuh, baik dengan minum air maupun dengan
pemberian cairan lewat infus, untuk menghindari dehidrasi akibat sering
muntah. Khusus untuk hepatitis C akut, akan diberikan obat interferon.

Pengobatan hepatitis kronis memiliki tujuan untuk menghambat


perkembangbiakan virus, serta mencegah kerusakan hati lebih lanjut dan
berkembang menjadi sirosis, kanker hati, atau gagal hati. Beda dengan hepatitis
B kronis, pengobatan hepatitis C kronis juga bertujuan untuk memusnahkan
virus dari dalam tubuh. Pengobatan terhadap hepatitis kronis melibatkan obat-
obatan antivirus seperti ribavirin, simeprevir, lamivudine, dan entecavir, serta
suntikan interferon. Pasien hepatitis kronis diharuskan untuk berhenti minum
alkohol dan merokok untuk mencegah kerusakan hati bertambah parah.

Infeksi hepatitis D dapat terjadi bersamaan atau setelah terdapat infeksi


hepatitis B. Pengobatan infeksi hepatitis D sampai saat ini belum diteliti lebih
lanjut.

Pengobatan hepatitis autoimun umumnya melibatkan obat imunosupresan,


terutama golongan kortikosteroid seperti prednisone dan budesonide. Selain
itu, pasien penderita hepatitis autoimun juga dapat diberikan azathioprine,
mycophenolate, tacrolimus, dan cyclosporin.
2. Perawatan di Rumah

a. Ajak Anggota Keluarga yang Tidak Terinfeksi untuk Vaksinasi

Kamu bisa membantu keluarga menghindari tertularnya virus


hepatitis A dan B dengan vaksin. Vaksin adalah langkah terbaik
sebagai cara mencegah hepatitis, tetapi kamu harus bertanya pada
dokter mengenai ini terlebih dahulu. Anggota keluarga kamu bisa
diberikan vaksin dalam beberapa injeksi atau dalam kombinasi
vaksin.

b. Ingatkan Setiap Anggota Keluarga untuk Selalu Mencuci Tangan

Kamu dan keluarga harus membuat kebiasaan mencuci tangan


sebagai prioritas hidup. Kamu bisa mengingatkan mereka untuk
mencuci tangan dengan seksama setelah dari kamar mandi, saat
mengganti popok, dan sebelum menyiapkan makanan. Air hangat
dan sabun adalah kombinasi yang baik bagi tangan untuk
membunuh bakteri dan virus. Beri tahu keluarga untuk menggosok
tangan selama minimal 10-15 detik sebelum membilasnya.

c. Teliti dengan Benda-Benda di Rumah

Virus Hepatitis bisa ditularkan lewat darah yang mungkin


bercaknya tertinggal di jarum suntik medis, jarum pentul,
peniti, alat cukur di rumah yang pernah digunakan oleh
pengidap hepatitis. Jika anggota keluarga yang sehat
menggunakan atau tertusuk jarum yang terinfeksi darah ini,
mereka rentan tertular hepatitis. Itulah mengapa kamu dan
keluarga harus berhati-hati dengan benda-benda tajam tersebut.

Usahakan tidak saling bergantian menggunakan sikat gigi


dengan orang rumah. Ketika pengidap hepatitis menggosok
gigi dan mungkin ada darah yang tertinggal di sikat dari gusi
yang berdarah, orang selanjutnya yang mungkin memakai sikat
gigi itu tanpa sadar bisa tertular virus darinya. Oleh karena itu,
berikan setiap anggota keluarga masing-masing satu sikat gigi
khusus dan jangan satukan tempat penyimpanannya agar tidak
keliru saat mengambilnya.

d. Perhatikan Konsumsi Makan dan Minuman Keluarga

Mencuci tangan sebelum dan setelah dari kamar mandi tidaklah


cukup jika makanan disiapkan oleh pengidap hepatitis yang
tidak berhati-hati dalam membersihkan bahan makanan.
Karenanya, kamu dan keluarga masih berisiko terkena
hepatitis.

Pada umumnya, buah-buahan segar, roti lapis, salad, dan


makanan mentah lainnya lebih mungkin menjadi sumber
penyebaran hepatitis jika dibandingkan dengan makanan
matang. Makanan laut seperti kerang, remis, tiram, dan udang
bisa diambil dari air yang terkontaminasi. Maka dari itu, lebih
baik bagi kamu dan keluarga untuk berpikir dua kali sebelum
mengonsumsi makanan mentah tersebut.

e. Jaga Kebersihan Rumah

Jika rumah kamu tidak dibersihkan secara teratur, kamu dan


keluarga memiliki risiko tinggi untuk tertular penyakit
hepatitis. Sebagai cara mencegah penularan hepatitis, keluarga
kamu harus merencanakan untuk membersihkan rumah setiap
hari, terutama permukaan di rumah yang bisa tersentuh darah
atau feses yang terinfeksi. Kamu bisa menggunakan satu per
empat cangkir pemutih yang dicampurkan ke dalam 3,8 liter air
untuk memastikan bahwa semuanya bersih.

Itulah yang bisa kamu lakukan jika terdapat anggota keluarga


yang sedang mengidap hepatitis. Perawatan di atas perlu
dilakukan supaya anggota keluarga lainnya tidak tertular tanpa
harus mengasingkan keluarga yang mengidap hepatitis

Diet untuk pasien Hepatitis


1. Beberapa pantangan yang harus dihindari antara lain:
2. Semua makanan yang mengandung lemak tinggi seperti daging
kambing dan babi, jerohan, otak, es krim, susu full Cream, keju,
mentega/margarine, minyak serta makanan bersantan seperti gulai, kare,
atau gudeg.
3. Makanan kaleng seperti sarden dan korned
4. Kue atau camilan berlemak, seperti kue tart, gorengan, fast food.
5. Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kacang merah,
kool, sawi, lobak, mentimun, durian, nangka
6. Bumbu yang merangsang seperti cabe, bawang, merica, cuka, jahe.
7. Minuman yang mengandung alkohol dan soda
Sedangkan makanan yang baik dikonsumsi oleh pasien yang
menderita hepatitis adalah:
1. Sumber hidrat arang seperti nasi, havermout, roti putih, ubi-ubian.
2. Sumber protein antara lain telur, ikan, daging, ayam, tempe, tahu,
kacang hijau, sayuran dan buah-buahan yang tidak menimbulkan gas.
3. Makanan yang mengandung hidrat arang tinggi dan mudah dicerna
seperti gula-guka, sari buah, selai, sirup, manisan dan madu.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Tjandra Yoga. (2013). Rokok dan tuberkulosis paru. Jakarta: bagian
pulmonologi dan kedokteran respirasi FKUI/RS persahabatan.
Arif, Mansjoer, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Medica
Aesculpalus, FKUI, Jakarta.
Betz, C.L dan Linda A.S. (2009). Mosby’s Pediatric Nursing Reference by Cecily
Lynn Betz dan Linda A. Sowden. New York: Elsevier.
Brunner & Suddarth. (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.
Terjemahan Suzanne C. Smeltzer. Edisi 8. Vol 8. Penerbit buku kedokteran EGC;
jakarta.
Smeltzer, C. Suzanne. (2002). Brunner & Suddarth: Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 2. Alih bahasa: Woluyo agung, dkk,
Editor monica Ester, Jakarta: EGC.
Sudoyo A, et al. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta; FKUI.
Wening Sari, L. I. (2008). Care Yourself Hepatitis. Jakarta: penebar Plus.