Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan penunjang :

Virus Genetik Sinar Radioaktif 1. Pemeriksaan sumsum tulang Leukemia


(Enzyme Retrovirus Transcriptase) Limfositik Akut (BMP/Bone Marrow Punction)
2. Pemeriksaan darah tepi Leukemia Limfositik
Akut
Kelainan Kromosom 21 Perubahan Ionisasi Sumsum 3. Biopsi hati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji
Invasi ke Sumsum (Syndroma Down) Tulang Belakang keterlibatan/infiltrasi sel kanker ke organ
Tulang tersebut
4. Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan
mediastinum
5. Sitogenik
Definisi : Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
adalah suatu keganasan pada sel-sel prekursor LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT Manifestasi klinis :
limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan 1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
berdiferensiasi menjadi limfosit T dan limfosit 2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni Sel neoplasma berproliferasi 3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel
75%
di dalam sumsum tulang leukemia)
Kemoterapi (Zat zat 4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari (hipermetabolisme)
kimia sitotoksik) 5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering
Imunosupresi Sumsung Tulang adalah gram negatif usus
6. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
7. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
Asam Lambung (HCl) Merusak folicel rambut 8. Massa di mediastinum (T-ALL)
meningkat 9. Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial
Rambut rontok Leukosit imature Hematopoiesis
naik, muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik
berkelanjutan meningkat terhambat
Mual dan muntah Jumlah
fokal, dan perubahan status mental.

alopecia Maligna sel Trombosit,


Anoreksia leukosit leukosit dan Trombosit menurun Eritrosit menurun
leukosit
Gangguan eritrosit (<100.000 10^3/uL) menurun
Risiko Defisit Nutrisi Citra Masuk pembuluh darah Anemia
tubuh Faktor Pertahanan
Beredar ke seluruh tubuh pembekuan darah tubuh/ Imunitas Hipoksia
terhambat menurun
Sendi Tulang Lambung Usus Paru-paru Risiko Perdarahan Kelelahan,
Risiko Infeksi
lemah, pucat,
Peradangan Peradangan Peradangan Peradangan pada Kerusakan Risiko akral dingin
pada mukosa dinding usus pembuluh darah Hipovolemia
Kerusakan Kerusakan lambung kapiler paru Intoleransi Aktivitas
Sendi Tulang Eksudasi cairan
Erosi dinding Penyumbatan
lambung usus akut Penyumbatan usus
Nyeri Nyeri tulang Edema paru
sendi parsial menahun
Anoreksia, Nyeri perut Sembelit
nausea, vomit Penyerapan Dispneu /
nutrisi terganggu takipneu
Resiko Perdarahan gastrointestinal
gangguan nutrisi
Risiko Defisit Gangguan difusi gas
Risiko Defisit Adanya Adanya Feses berwarna Nutrisi
Nutrisi darah pada darah pada hitam
feses muntahan Gangguan Pertukaran Gas

Gangguan Tumbuh
Kembang
Beredar di seluruh
tubuh

Hati Kelenjar Limfa Meninges Pankreas Gusi

Peradangan Peradangan Peradangan Peradangan Peradangan

Hepatomegali Limfadenitis Meningitis Periodontitis


Kerusakan jaringan,
terbentuk jaringan parut
Menekan rongga
lambung Benjolan pada Kerusakan SSP
kulit kemerahan Perdarahan Nyeri gusi
gusi
Pembesaran Nyeri abdomen
Anoreksia, nausea,
Penurunan Kematian Pankreas
vomit Nyeri tekan
Kesadaran
Menekan
Rongga
Lambung CAHYA TRI UTAMI
P1337420919052
PROFESI NERS
Risiko Defisit Nutrisi Risiko Hipovolemia Risiko Infeksi

Kriteria hasil : Kriteria hasil : Kriteria hasil :


1) Porsi makanan yang dihabiskan 1) Turgor kulit meningkat 1) Demam menurun (skala 5)
meningkat (skala 5) (skala 5) 2) Rasa nyeri menurun (skala
2) Frekuensi makan dan nafsu 2) Dispnea dan ortopnea 5)
makan membaik (skala 5) menurun (skala 5) 3) Kadar sel darah putih
3) Intake cairan membaik membaik (skala 5)
4) Kebersihan tangan dan
Intervensi :
(skala 5) badan meningkat (skala 5)
1. Monitor asupan dan
keluarnya makanan dan Intervensi :
cairan serta kebutuhan kalori 1. Periksa tanda dan gejala Intervensi :
2. Identifikasi alergi dan hipovolemia 1. Monitor tanda dan gejala
intoleransi makanan 2. Identifikasi faktor risiko infeksi lokal dan sistemik
3. Identifikasi makanan yang ketidakseimbangan cairan 2. Ajarkan cara mencuci tangan
disukai 3. Monitor intake output dengan benar
4. Diskusikan perilaku makan 4. Htung kebutuhan cairan 3. Cuci tangan sebelum dan
dan jumlah aktivitas fisik 5. Kolaborasi pemberian cairan sesudah kontak dengan klien
yang sesuai IV isotonis (NaCl, RL) dan lingkungan klien
5. Ajarkan ketrampilan koping 6. Monitor elastisitas dan turgor 4. Pertahankan teknik aseptik
untuk penyelesaian masalah kulit pada klien yang berisiko
perilaku makan tinggi
6. Lakukan oral hygiene 5. Jelaskan tanda dan gejala
sebelum makan jika perlu infeksi
6. Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi

Gangguan Tumbuh
Kembang Intoleransi Aktivitas Gangguan Pertukaran Gas Gangguan Citra
tubuh
Kriteria hasil : Kriteria hasil : Kriteria hasil : Kriteria hasil :
1) Ketrampilan/perilaku sesuai 1) Kemudahan dalam 1) Dipsnea menurun (skala 5) 1) Verbalisasi perasaan negatif
usia meningkat (skala 5) melakukan aktivitas sehari- 2) Sianosis tidak ada/membaik tentang perubahan tubuh
2) Respon sosial meningkat hari meningkat (skala 5) (skala 5) menurun (skala 5)
(skala 5) 2) Dipsnea setelah aktivitas 3) Pola napas membaik (skala 2) Respon nonverbal pada
3) Berat badan dan tinggi menurun (skala 5) 5) perubahan tubuh membaik
badan sesuai usia meningkat 3) Frekuensi napas membaik (skala 5)
(skala 5) (skala 5) 3) Hubungan sosial membaik
(skala 5)
Intervensi :
Intervensi : Intervensi : 1. Monitor frekuensi, irama,
1. Identifikasi kebutuhan 1. Identifikasi defisit tingkat kedalaman, dan upaya napas
Intervensi :
khusus anak dan kemampuan akivitas 2. Atur interval pemantaun
1. Identifikasi harapan citra
adaptasi anak 2. Monitor kelelahan fisik dan respirasi sesuai kondisi klien
tubuh berdasarkan tahap
2. Pertahankan lingkungan emosional 3. Siapkan dan atur peralatan
perkembangan
yang mendukung 3. Anjurkan melakukan pemberian oksigen
2. Identifikasi kemampuan
perkembangan optimal aktivitas secara bertahap 4. Monitor saturasi oksigen
yang dimiliki
3. Motivasi anak berinteraksi 4. Ajarkan strategi koping 5. Kolaborasi penggunaan
3. Gunakan pendekatan yang
dengan anak lain untuk mengurangi kelelahan oksigen saat aktivitas
tenang dan meyakinkan
4. Dukung anak 5. Sediakan lingkungan dan/atau tidur
4. Diskusikan perbedaan
mengekspresikan diri nyaman dan rendah stimulus 6. Monitor tanda-tanda
penampilan fisik terhadap
melalui penghargaan positif 6. Libatkan keluarga dalam hipoventilasi
harga diri
atau umpan balik atas aktivitas 5. Anjurkan mengungkapkan
usahanya 7. Berikan penguatan positif gambaran diri terhadap citra
5. Pertahankan kenyamanan atas partisipasi dalam tubuh
anak aktivitas 6. Motivasi untuk menentukan
6. Fasilitasi anak melatih harapan yang realistis
ketrampilan pemenuhan
kebutuhan secara mandiri

Referensi :
1. Hockenberry, Wilson, and Rodgers. (2016). Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing Teenth Edition. St. Louis, Missouri : ELSEVIER
2. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
3. PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
4. PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnosis, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
5. Marcdante K.J, dkk. (2014). Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi
Keenam. Singapore : Saunders Elsevier.