Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGANPEMBERIAN OBAT-OBATAN

DISUSUN OLEH:

SELFA HARSAI

PO.71.20.2.19.004

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI

PRODI PROFESI NERS

T.A 2019/2020
A. Pemberian obat-obatan
1. Pengertian
Pemberian obat adalah suatu tindakan untuk membantu proses
penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan salah satunya melalui
mulut (oral) dan dengan injeksi (suntikan) lain sesuai dengan program
pengobatan dari dokter. Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang
harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril.
Obat adalah alat utama terapi yang di gunakan dokter untuk mengobati
klien yang memiliki masalah kesehatan. Obat adalah substansi yang
diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau
pengobatan, bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi
di dalam tubuhnya.

2. Jenis Pemberian Obat


a. Oral
Memberikan obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu proses
penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai
dengan program pengobatan dari dokter.
b. Pemberian obat secara parental
Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui
injeksi atau infus. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan
ini diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra
Spinal (IS), Intra Muskular (IM), subcutan (SC), dan Intracutan (IC). Obat
yang diberikan secara parenteral akan di absorbs lebih banyak dan
bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan obat yang diberikan secara
topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa pemberian obat parenteral
dapat menyebabkan resiko infeksi. Resiko infeksi dapat terjadi bila
perawat tidak memperhatikan dan melakukan tekhnik aseptic dan
antiseptik pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian obat
parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan
kulit. Komplikasi yang sering terjadi adalah bila pH osmolalitas dan
kepekatan cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat
penusukan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar
tempat injeksi.
Pada umumnya pemberian obat secara parenteral di bagi menjadi 4,
yaitu:
1) Pemberian obat via jaringan intracutan merupakan cara memberikan
atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit. Intracutan biasanya
digunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang di
suntikkan. Pemberian obat intracutan bertujuan untuk melakukan skin
test atau tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan.
Pemberian obat melalui jaringan intracutan ini dilakukan dibawah
dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan
tangan bagian ventral.
Daerah penyuntikan:
- Dilengan bawah:bagian depan lengan bawah 1/3 dari lekukan siku
atau 2/3 dari pergelangan tangan pada kulit yang sehat, jauh dari
PD.
- Dilengan atas: 3 jari di bawah sendi bahu, ditengah daerah
muskulus deltoideus
2) Pemberian Obat Via Jaringan subkutan
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang
dapat dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau
sepertiga bagian dairi bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan
sekitar umbilicus (abdomen). Pemberian obat melalui jaringan sub
kutan ini pada umumnya dilakukan dengan program pemberian insulin
yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin
terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya
penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga
termasuk tipe lambat.

Daerah penyuntikan:
- Otot bokong (musculus gluteus maximus) kana dan kiri; yang tepat
adalah 1/3 bagian dari Spina Iliaca Anterior Superior ke tulang ekor
( os. Coxygeus)
- Otot paha bagian luar ( muskulus quadriceps femoris)
- Otot pangkal lengan ( muskulus deltoideus)
3) Pemberian obat Intra vena:
a) Pemberian obat via jaringan intra vena lansung
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya
vena mediana kubiti/vena cephalika (lengan), vena sephanous
(tungkai), vena jugularis (leher), vena frontalis/temporalis
(kepala).Pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar
obat dapat bereaksi langsung dan masuk ke dalam pembuluh
darah.
b) Pemberian obat via jaringan intra vena secara tidak langsung
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau
memasukkan obat ke dalam wadah cairan intra vena. Pemberian
obat intra vena secara tidak langsung bertujuan untuk
meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar
terapeutik dalam darah.
Daerah penyuntikan:
- Pada lengan (v. Mediana cubiti / v. Cephalika)
- Pada tungkai ( v. Spahenous)
- Pada leher ( v. Jugularis)
- Pada kepala ( v. Frontalis atau v. Temporalis) khusus anak-anak
4) Pemberian obat via intramuskular
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi
penyuntikan dapat dilakukan pada daerah paha (vastus lateralis)
dengan posisi ventrogluteal (posisi berbaring), dorsogluteal (posisi
tengkurap), atau lengan atas (deltoid).Agar obat di absorbs tubuh
dengan cepat.
Daerah penyuntikan:
- Bagian lateral bokong ( vastus lateralis)
- Butoks (bagian lateral gluteus maksimus)
- Lengan atas ( deltoid)

3. Prosedur
Pemberian obat harus memperhatikan prinsip 6 benar obat agar aman bagi
pasien yaitu sebagai berikut:
a. Klien yang benar
Klien yang benar dapat di pastikan dengan cara memeriksa gelang
identifikasi klien yaitu: No. Register, nama lengkap klien, alamat klien, dll,
jika pasien sadar suruh pasien menyebut namanya sendiri.
b. Obat yang benar
Untuk memastikan benar obat pastikan obat yang di berikan harus sesuai
yang di resepkan oleh dokter yang merawat, dan pastikan membaca label
obat sampai 3 kali yaitu saat : melihat kemasan obat, saat menuangkan
obat dan sesudah menuangkan obat.
c. Dosis yang benar
Untuk mendapatkan dosis yang benar perawat harus melihat dosis yang
diresepkan dokter, dan harus mengkaji ulang berat badan pasien agar
mendapatkan dosis yang tepat jika obat tersebut di berikan berdasarkan
mg/kg BB.
d. Waktu yang benar
Agar tepat waktu maka perawat harus tau waktu paruh (t) obat panjang
atau pendek, jika (t) panjang pemberian 1x24 jam, jika (t) pendek 3x24
jam dan (t) sedang 2x24 jam, perawat juga harus memperhatikan kapan
waktu obat diberikan setelah makan atau sesudah makan. Misal obat
untuk menetralisir getah lambung harus diminum sebelum makan, dan
obat dengan reaksi kuat harus di minum sesudah makan.

e. Rute yang benar


Maksudnya adalah kita harus mengetahui lewat rute mana obat tersebut
harus diberikan oral atau parentral, jika oral apakah : oral, buccal,
sublingual. Dan jika parentral/injeksi apakah harus: IV, IM, SC, IC.
f. Dokumentasi yang benar
Dokumentasi sangat penting jadi setelah memberikan obat kita harus
segera memasukkan obat ke format dokumentasi dengan benar. Fungsi
dokumentasi adalah sebagai catatan perkembangan pasien dan sebagai
alat untuk bukti melakukan suatu tindakan.
Berikut beberapa prosedur pemberian obat:
1. Oral
a. Oral Langsung
Pemberian obat melalui mulut merupakan cara paling mudah dan
paling sering digunakan. Obat yang digunakan biasanya memiliki
onset yang lama dan efek lebih lama.
Metode pemberian obat :
1) PERSIAPAN ALAT
- Cek intruksi pengobatan pada kartu kardek atau formulir
pencatatan obat
- Cups obat sekali pakai
- Segelas air
- Tissue
- Sedotan untuk minum
2) PERSIAPAN LINGKUNGAN
- Jaga privasi klien
3) PERSIAPAN KLIEN
- Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
- Beri posisi fowler di tempat tidur atau duduk dikursi
4) LANGKAH – LANGKAH
- Cuci tangan
- Menyiapkan obat secara benar berdasarkan intruksi pengobatan
a) Jika obat berbentuk tablet atau kapsul
- Letakkan tablet atau kapsul yang telah dikemas ke dalam
cangkir/cup obat. Jangan lepas pembungkusnya
- Jika klien mempunyai kesulitan menelan, haluskan tablet dalam
bentuk bubuk
b) Jika obat bebentuk cair/liquid
- Buka penutupnya
- Pegang cangkir obat setinggi mata dan tuang isi sampai batas
yang diinginkan
- Periksa kembali obat yang sudah disiapkan dengan intruksi
pemberian obat
- Membantu klien dalam pemberian obat per oral
- Rapikan alat dan klien
- Cuci tangan
- Dokumentasi
- Evaluasi respon klien terhadap obat yang akan diberikan setelaah
15 menit sampai 30 menit setelah pemberian

b. Sublingual
Obat yang diberikan melalui sublingual, dirancang agar segera
diabsorbsi setelah diletakan dibawah lidah. Obat ini tidak boleh ditelan,
karena jika ditelan efek yang diharapkan tidak dapat dicapai. Selain itu
klien tidak diperkenankan minum sebelum obat menjadi larut.
Metode pemberian obat :
1) PERSIAPAN ALAT
- Tablet sublingual
- Sarung tangan
- Bengkok
- Tissue
- Kom kecil (tempat obat)
- Buku intruksi obat
2) PERSIAPAN LINGKUNGAN
- Jaga privasi klien
3) PERSIAPAN KLIEN
- Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
- Beri klien posisi senyaman mungkin
4) LANGKAH – LANGKAH
- Cuci tangan
- Gunakan sarung tangan bersih
- Cek intruksi obat klien
- Menyiapakan obat dengan benar sesuai intruksi pengobatan
- Intruksikan klien untuk tidak mengunyah atau meneguk obat
- Tunggu selama 2-5 menit, jika sudah 5 menit tidak ada perubahan
pada rasa nyeri gunakan lagi tablet lain
- Rapikan alat dan klien
- Lepas sarung tangan
- Cuci tangan
- Dokumentasi
- Kembali untuk mengevaluasi respon klien terhadap obat dalam 15
sampai 30 menit

c. Pemberian Obat Melalui Bukal


Pemberian obat secara bukal adalah memberika obat dengan cara
meletakkan obat diantara gusi dengan membran mukosa diantara pipi.
Tujuannya yaitu mencegah efek lokal dan sistemik, untuk memperoleh
aksi kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara oral, dan untuk
menghindari kerusakan obat oleh hepar.
Metode pemberian obat :
1) PERSIAPAN ALAT
- Tablet obat bukal
- Bengkok
- Tissue
- Kom kecil (tempat obat)
- Buku intruksi obat
2) PERSIAPAN LINGKUNGAN
- Jaga privasi klien
3) PERSIAPAN KLIEN
- Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
- Beri klien posisi senyaman mungkin
4) LANGKAH – LANGKAH
- Cuci tangan
- Cek intruksi obat klien
- Menyiapakan obat dengan benar sesuai intruksi pengobatan
- Memberikan obat kepada pasien.
- Memberitahu pasien agar meletakkan obat diantara gusi dan
selaput mukosa pipi sampai habis diabsorbsi seluruhnya.
- Menganjurkan pasien agar tetap menutup mulut, tidak minum dan
berbicara selama obat belum terlarut seluruhnya.
- Rapikan alat dan klien
- Lepas sarung tangan
- Cuci tangan
- Dokumentasi
- Evaluasi respons terhadap obat yang diberikan

Pemberian obat melalui oral tidak diperbolehkan pada klien yang


memiliki gangguan fungsi gastrointestinal, motilitas menurun (misalnya
setelah anestesigeneral), serta pasca operasi sistim gastrointestinal.
Selain itu medikasi oral juga tidak diperkenankan pada klien dengan
gastric suction.
Kerugian yang terdapat pada medikasi oral adalah klien yang tidak
sadar sepenuhnya, tidak dapat menelan atau meletakan obat dibawah
lidah. Medikasi oral dapat menimbulkan rasa tidak enak dan dapat
merusak lintasan gastrointestinal, perubahan warna pada gigi.

2. Injeksi
a. Injeksi Intra Cutan (IC)
1) Definisi
Injeksi IC/ID adalah pemberian obat dengan cara memasukan obat
ke dalam jaringan dermis di bawah epidermis kulit dengan
mengunakan spuit.
2) Tujuan
- Memasukkan sejumlah toksin atau obat yang disimpan dibawah
kulit untuk di absorbsi.
- Metode untuk test diagnostic terdapat alergi atau adanya penyakit-
penyakit tertentu.
3) Tempat injeksi
- Lengan bawah bagian dalam
- Dada bagian atas
- Punggung di bawah spatula
4) Peralatan
- Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
- Kapas alkohol
- Sarung tangan
- obat yang sesuai
- Spuit 1 ml
- Pulpen/spidol
- Bak spuit
- Baki obat
- Bengkok
5) Prosedur kerja
- Cuci tangan
- Siapkan obat dengan 6 benar
- Identifikasi klien
- Beri tahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
- Atur kien pada posisi yang nyaman
- Pakai sarung tangan
- Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan,
peradangan, atau rasa gatal. Menghindari gangguan absorbsi obat
atau cedera dan nyeri yang berlebihan
- Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter
sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
- Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan.
- Buka tutup jarum
- Tempatkan ibu jari dengan tangan non dominan sekitar 2,5 cm
dibawah area penusukan, kemudian tarik kulit.
- Dengan ujung jarum menghadap keatas dan menggunakan tangan
dominan, masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 150
- Masukkan obat perlahan-lahan, perhatikan adanya jendalan
(jendalan harus terbentuk)
- Cabut jarum dengan sudut yang sama seperti saat dimasukkan
- Usap pelan-pelan area penyuntikkan (jangan melakukan massage
pada area penusukan).
- Buat lingkaran dengan diameter 2,5 cm disekitar jendalan dengan
menggunakan pupen. Intruksikan klien untuk tidak menggosok area
tersebut.
- Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak jika test alergi,
observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas,
berkeringat dingin, pingsan, mual, muntah).
- Kembalikan posisi klien .
- Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan.
- Buka sarung tangan.
- Cuci tangan.
- Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
- Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit, 15 menit dan
selanjutnya secara periodik.

b. Injeksi Intra Muskular(IM)


1) Definisi
Injeksi intramuskular adalah pemberian obat dengan cara
memasukkan obat kedalam jaringan otot dengan menggunakan
spuit.
2) Tujuan
Memasukkan sejumlah obat pada jaringan otot untuk di absorbsi.
3) Tempat injeksi
- Pada daerah lengan atas (Deltoid)
- Pada daerah Dorsogluteal (Glupeusmaximus)
- Pada daerah bagian luar (Vastus Lateralis)
- Pada daerah bagian depan (Rectus Femoris)
4) Peralatan
- Buku catatan atau pemberian obat
- Kapas alkohol
- Sarung tangan disposibel
- Obat yang sesuai
- Spuit 2-5 ml
- Needle
- Bak spuit
- Baki obat
- Plester
- Kassa steril
- Bengkok
5) Prosedur kerja
- Cuci tangan
- Siapkan obat sesuai dengan prinsip 6 benar
- Identifikasi klien
- Beri tahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
- Atur klien pada posisi yang nyaman sesui dengan kebutuhan
dengan menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera
dan nyeri yang berlebihan
- Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan,
peradangan atau rasa gatal
- Pakai sarung tangan
- Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas dengan
menggunakan dengan gerakan sirkuler dan arah keluar dengan
diameter sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan
untuk membuang sekresi dari kulit yang mengandung
mikroorganisme.
- Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan
- Buka tutup jarum
- Tarik kulit ke bawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penusukan
dengan tangan non dominan
- Dengan cepat masukkan jarum dengan sudut 90 0 dengan tangan
dominan, masukkan sampai pada jaringan otot
- Melakukan aspirasi dengan tangan non dominan menahan barel
dari spuit dan tangan dominan menarik plungger.
- Observasi adanya darah pada spuit
- Jika tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan
- Jika ada darah :
a) Tarik kembali jarum dari kulit
b) Tekan tempat penusukan selama 2 menit
c) Observasi adanya hematoma atau memar
d) Jika perlu berikan plaster
e) Siapkan obat yang baru, mulai dengan langkah awal, pilih area
penusukan yang baru
- Cabut jarum perlahan-lahan dengan sudut yang sama seperti saat
dimasukkan, maka tekan area tersebut dengan menggunakan
kassa steril sampai darah berhenti.
- Kembalikan posisi klien
- Buang perlahan yang tidak diperlukan sesuai dengan tempatnya
masing-masing.
- Buku sarung tangan
- Cuci tangan
- Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

c. Injeksi Intra Vena (IV)


a) Definisi
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara
memasukkan obat kedalam pembuluh darah vena dengan
menggunakan spuit.
b) Tujuan
- Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat di absorbsi dari pada
dengan injeksi parenteral lain.
- Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
- Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar
c) Tempat injeksi
- Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)
- Pada tungkai (vena saphenous)
- Pada leher (vena jugularis)
- Pada kepala (vena frontalis atau vena temperalis)
d) Peralatan
- Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
- Kapas alkohol
- Sarung tangan
- Obat yang sesuai
- Spuit 2 ml- 5 ml
- Bak spuit
- Baki obat
- Plester
- Perlak pengalas
- Pembendung vena (torniquet)
- Kassa steril (bila perlu)
- Bengkok
e) Prosedur kerja
- Cuci tangan
- Siapkan obat dengan prinsip 6 benar
- Identifikasi klien
- Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
- Atur klien pada posisi yang nyaman
- Pasang perlak pengalas
- Bebaskan lengan klien dari baju atau kemeja
- Letakkan pembendung
- Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekauan, peradangan,
atau rasa gatal. Menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera
dan nyeri yang berlebihan
- Pakai sarung tangan
- Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter
sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
- Pegang kapas alkohol, dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan
- Buka tutup jarum
- Tarik kulit kebawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penusukkan
dengan tangan non dominan. Membuat kulit menjadi lebih kencang
dan vena tidak bergeser, memudahkan penusukan.
- Pegang jarum pada posisi 300sejajar dengan vena yang akan
ditusuk perlahan dan pasti
- Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum kedalam
vena
- Lakukan aspirasi dengan tangan non dominan menahan baral dari
spuit dan tangan dominan menarik plunger.
- Observasi adanya darah pada spuit
- Jika ada darah, lepaskan terniquet dan masukkan obat perlahan-
lahan
- Keluarkan jarum dengan sudut yang sama seperti saat
dimasukkan, sambil melakukan penekanan dengan menggunakan
kapas alkohol pada area penusukan.
- Tutup area penusukan dengan menggunakan kassa steril yang
diberikan betadin
- Kembalikan posisi klien
- Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan
- Buka sarung tangan
- Cuci tangan
- Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

d. Injeksi Sub Cutan (SC)


1) Definisi
Injeksi subcutan adalah pemberian obat dengan cara memasukkan
obat kedalam jaringan subcutan dibawah kulit dengan
menggunakan spuit.
2) Tujuan
Memasukkan sejumlah obat kedalam jaringan subcutan dibawah
kulit untuk diabsorbsi.
3) Tempat injeksi
- Lengan bagian atas luar
- Paha depan
- Daerah abdomen
- Area scapula pada punggung bagian atas
- Daerah ventrogluteal dan dorsogluteal bagian atas
4) Peralatan
- Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
- Kapas alkohol
- Sarung tangan
- Obat yang sesuai
- Spuit 2ml
- Bak spuit
- Baki obat
- Plester
- Kassa steril(bila perlu)
- Bengkok
5) Prosedur kerja
- Cuci tangan
- Siapkan obat sesuai dengan prinsip 6 benar
- Identifikasi klien
- Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
- Atur klien pada posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan
- Menghindari gangguan absorbsi obat atau cidera dan nyeri yang
berlebihan
- Pilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan,
peradangan, atau rasa gatal. (area penusukan yang utama adalah
pada lengan bagian atas dan paha anterior).
- Pakai sarung tangan.
- Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol
dengan gerakan sirkular dan arah keluar dengan diameter sekitar
5cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
- Pegang kapas alkohol dengan jari-jari tengah pada tangan non
dominan.
- Buka tutup jarum
- Tarik kulit dan jaringan lemak dengan ibu jari dan jari tangan non
dominan
- Dengan ujung jarum menghadap keatas dan menggunakan tangan
dominan masukkan jarum dengan sudut 450 atau menggunakan
sudut 900 (untuk orang gemuk). Pada orang gemuk jaringan
subcutannya lebih tebal
- Lepaskan tarikan tangan non dominan
- Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit.
- Jika tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan
- Jika ada darah :
a) tarik kembali jarum dari kulit
b) Tekan tempat penusukan selama 2 menit
c) Observasi adanya hematoma atau memar
d) Jika perlu berikan plester
e) Siapkan obat yang baru,mulai dengan langkah a, pilih area
penusukan baru
- Cabut jarum perlahan-lahan dengan sudut yang sama seperti saat
dimasukkan, sambil melakukan penekanan dengan menggunakan
kapas alkohol pada area penusukan
- Jika terdapat perdarahan,maka tekan area tersebut dengan
menggunakan kassa steril sampai darah berhenti.
- Kembalikan posisi klien
- Buang peralatan yang tidak diperlukan sesuai dengan tempatnya
masing-masing
- Buka sarung tangan dan cuci tangan
- Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
e. Pemberian injeksi intra vena lewat saluran infus
1) Pengertian
Memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah
vena dengan melalui saluran infus.
2) Tujuan
Sebagai tindakan pengobatan
3) Prosedur
a) Pra Tahap Interaksi
- Mengecek status pasien dan mengkaji kebutuhan pasien
terkait pemberian obat
- Menyiapkan alat
a. Baki berisi :
 Obat yang akan diberikan
 Spuit atau disposibel spuit steril
 Desinfektan : Alcohol 70% dan Povidon iodine 10%
 Kapas alcohol atau kassa swap
 Lidi kapas dan kassa steril pada tempatnya
 Pengalas
 Bengkok dan galiot (kom kecil)
 Jam tangan yang ada detikan
b. Alat pelindung diri : sarung tangan
c. Alat tulis, form dokumentasi atau buku catatan injeksi
- Menjaga lingkungan :
a. Atur pencahayaan
b. jaga privacy klien
c. tutup pintu dan jendela/horden
b) Tahap orientasi
- Memberikan salam
- Mengklarifikasi kontrak atau pemberian obat
- Menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian obat
- Memberi kesempatan klien untuk bertanya
- Mendekatkan alat ke klien
c) Tahap Kerja
- Perawat mencuci tangan
- Memakai sarung tangan bersih
- Menyiapkan obat sesuai dengan prinsip 6 benar.
- Mengatur posisi pasien untk penyuntikan
- Memasang perlak dan pengalasnya pada area dibawah yang
terpasang infus
- Mengecek kelancaran tetesan infuse sebelum obat
dimasukkan
- Memastikan tidak ada udara pada suit disposibl yang berisi
obat
- Mematikan atau mengklame infuse
- Melakukan disinfektan pada area karet saluran infuse set
pada saluran infuse
- Menusukkan jarum ke bagian karet saluran infuse dengan
hati-hati degan kemiringan jarum 15-45 derajat
- Melakukan aspirasi atau menghisap spuit disposable untuk
memastikan bahwa obat masuk ke saluran vena dengan baik.
Jika saat aspirasi terlihat darah keluar ke selang infuse maka
obat siap untuk dimasukkan
- Memasukkan obat secara perlahan dengan mendorong
pegangan disposable spuit sampai obat habis
- Mencabut jarum dari bagian karet saluran infuse dengan
mendidih kapas pada lokasi tusukan jarum tadi
- Membuka klem cairan infuse dan mengobservasi kelancaran
tetesan aliran infuse
- Membuang disposable spuit ke bengkok
- Menghitung tetesan infuse sesuai dengan ketentuan program
pemberian cairan
- Membereskan pasien
- Membereskan alat-alat
- Melepas sarung tangan
- Mencuci tangan
d) Tahap Terminasi
- Mengevaluasi respon klien
- Menyimpulkan hasil kegiatan
- Memberi pesan (menjaga posisi dan kelancaran)
- Melakukan kontrak selanjutnya (waktu, tempat, topik/kegiatan)

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pribadi klien
b. Data subyektif
1) Klien mengatakan tidak tahu tentang kerja obat.
2) Klien mengatakan tidak tahu tentang efek samping obat.
3) Klien mengatakan kepalanya pusing.
4) Klien mengatakan mudah lupa dengan apa yang akan dia kerjakan.
c. Data obyektif
1) Klien tampak menanyakan tentang obat yang diberikan oleh perawat.
2) Klien tampak bingung dengan obat yang diberikan oleh perawat.
3) Klien tampak memegangi kepalanya.
4) Klien tampak sering menguap.
5) Klien tampak bingung dengan apa yang akan dia kerjakan.

2. Diagnosa keperawatan
a. Kurang pengetahuan tentang kerja obat, pemberian obat dan efek
samping obat berhubungan dengan kesulitan bahasa/kurang informasi.
b. Resiko cidera berhubungan dengan efek samping obat ditandai oleh
pusing, rasa kantuk.
c. Perubahan dalam proses berpikir berhubungan dengan ketidaksesuaian
obat ditandai oleh pelupa.

3. Intervensi keperawatan

No Dx Tujuan/Kriteria hasil Intervensi


1. Klien tidak mengalami - Berikan informasi tentang kerja obat
kurang informasi tentang yang diberikan.
kerja, pemberian, dan efek - Berikan informasi tentang pemberian
samping obat. obat.
- Berikan informasi tentang efek samping
obat yang diberikan.

- Anjurkan klien untuk istirahat selama


2. Klien tidak mengalami masa pemberian obat.
cedera akibat efek samping - Anjurkan klien untuk tidak beraktifitas
obat. selama masa pemberian obat.
- Anjurkan klien untuk melakukan
kompres hangat.

3. - Anjurkan anggota keluarga untuk tetap


Klien tidak mengalami
berkomunikasi dengan klien.
perubahan dalam proses
- Bantu klien dalam aktifitasnya.
berpikir
Daftar Pustaka

Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.

Perry & Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik.Edisi 4. Jakarta : EGC.

Tarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC
dan kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

Hidayat, AAA., Musifatul Uliyah. 2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: EGC.

Smeltzer, S.C., Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& suddarth, Edisi 8, Jakarta: EGC

Nanda 2005-2006. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Prima Medika.

Wilkinson, Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Syaifudin.2006.Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan.Jakarta: EGC

Kircher & Callanan (2003),Near Death Experiences and DeathAwareness in the


Terminally