Anda di halaman 1dari 4

Oleh: Liliani Labitta

Kelas: X (10)

SMA TUNAS BANGSA TAHUN 2009/2010


Jl Arteri Supadio Kubu Raya 78391
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada bulan Agustus 2009 murid-murid kelas 10 SMA Tunas Bangsa mengadakan aktivitas
menonton dalam rangka memenuhi materi pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah. Ibu
Guru Titin memberikan tugas untuk membuat laporan kegiatan dari aktivitas menonton film
berjudul ‘Sangkuriang’, yang bercerita tentang legenda Tangkuban Perahu. Kami memilih
menonton film yang memiliki tema cerita rakyat sehubungan dengan mulai terlupakannya
kisah-kisah dan legenda Indonesia terutama dalam kalangan remaja Indonesia.

Tujuan
1. Memenuhi tugas mata pelajaran bahasa Indonesia
2. Mengumpulkan informasi untuk laporan kegiatan
3. Mengingatkan siswa-siswi terhadap cerita dan legenda negara Indonesia
4. Mengingatkan siswa-siswi terhadap asal mula Tangkuban Perahu

B. ISI
Proses Kegiatan
Kegiatan menyaksikan film ‘Sangkuriang’ dilaksanakan di jam pelajaran bahasa Indonesia
pada hari Selasa, 25 Agustus 2009 dan hari Jumat, 28 Agustus 2009. Tepatnya di ruang kelas
Bahasa SMP/SMA Tunas Bangsa. Kegiatan ini dilakukan hingga dua kali pada dua hari yang
berbeda dikarenakan padamnya listrik, waktu yang tidak cukup, serta kualitas DVD yang
kurang bagus sehingga menyebabkan beberapa kali macet di tengah-tengah film.

Isi Cerita/ Sinopsis


Berdasarkan cerita di film tersebut, terdapatlah seekor babi hutan dan seekor anjing
bernama si Tumang. Mereka merupakan jelmaan dari seorang Dewa dan Dewi yang dikutuk
karena telah melanggar hukum dengan menjalin hubungan cinta diantara mereka berdua.
Suatu saat si babi hutan meminum sisa air kelapa dari Raja Sungging Perbangkara. Karena
itu pun ia hamil dan melahirkan seorang bayi cantik yang ditemukan oleh Raja Sungging,
diberi nama Dayang Sumbi dan dirawat hingga dewasa.

Setelah itu, Dayang Sumbi tinggal menyendiri di sebuah bukit bersama si Tumang. Ketika
sedang asyik bertenun, torak yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah.
Dayang Sumbi merasa malas dan lalu berkata bahwa siapa pun yang mengambilkan torak
yang terjatuh, bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Ternyata si Tumang
mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya menikahi
si Tumang yang ternyata adalah seorang Dewa dan melahirkan bayi laki-laki diberi nama
Sangkuriang.

Suatu ketika Sangkuriang berburu hati babi betina di dalam hutan atas perintah ibunya.
Disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina yang ternyata adalah neneknya.
Mengetahui hal itu, si Tumang pun membiarkan babi itu kabur. Sangkuriang yang kesal
bukan main membunuh si Tumang dan hatinya diberikan kepada Dayang Sumbi. Lalu
dimasak dan dimakannya.Begitu Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya
adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang
dipukulnya dengan keras sehingga luka.

Sangkuriang yang merasa kecewa pergi dan bertemu dengan seorang guru sakti. Setelah
sekian lama mengembara mencari ilmu dan beguru, tanpa sadar ia telah tiba kembali di
tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya
adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Namun ketika
Dayang Sumbi mengelus kepala Sangkuriang dan melihat bekas luka, sadarlah ia bahwa
Sangkuriang adalah anaknya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk
menikahinya. Dayang Sumbi akhirnya memberi syarat pada Sangkuriang untuk
membuatkan perahu raksasa dalam waktu satu malam. Dengan bantuan para raksasa yang
ia jadikan teman saat masa pengembaraannya, Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut.

Untuk menggagalkan usaha Sangkuriang, Dayang Sumbi menumbuk padi dan membakar
jerami. Ia menyuruh temannya si ayam untuk berkokok dan membuat seakan suasana
sudah pagi. Sangkuriang menjadi gusar. Di puncak kemarahannya, ditendangnya perahu
raksasa yang hampir jadi kearah utara dan berubah menjadi gunung Tangkuban Perahu.
Lalu terjadi gempa dasyat dan Sangkuriang pun jatuh kedalam retakan tanah yang sangat
dalam.

C. PENUTUP
Kesimpulan Kegiatan

Kegiatan menonton film Sangkuriang berlangsung selama dua kali pertemuan pelajaran
Bahasa Indonesia. Film Sangkuriang ini sebenarnya sangat bermanfaat untuk disaksikan
karena mengandung unsur-unsur legenda, tutur bahasa, dan kebudayaan Indonesia yang
setidaknya dapat mengingatkan anak-anak Indonesia pada cerita-cerita tanah air kita.
Namun, melihat ekspresi teman-teman di kelas serta perasaan mengantuk dari diri saya
sendiri, dapat disimpilkan bahwa film ini kurang menarik hati para penonton dan
membosankan. DVDnya terkadang tersendat-sendat dan lagu-lagunya tidak sesuai dengan
latar tempat dan waktu pada cerita.

Kritik dan Saran


Berdasarkan keseluruhan kegiatan yang telah dijelaskan di atas, saya mempunyai beberapa
kritik, antara lain:

- DVD yang sering macet

- Film yang membosankan dan lagu-lagu yang tidak cocok dengan latar cerita.

- Anak-anak sudah hampir tidak tertarik sama sekali dengan kisah-kisah tanah air kita,
Indonesia, dan lebih memilih untuk menikmati film-film animasi luar negeri.

dan berdasarkan kritik diatas, saya dapat memberikan saran sebagai berikut:

- DVD yang akan digunakan di cek telebih dahulu sebelum kegiatan.

- Untuk pembuatan film-film kartun Indonesia zaman sekarang yang sudah mulai berkurang
peminatnya, lebih baik di buat lebih seperti kartun-kartun luar negeri yang bergambar
mulus, berwarna terang, suaranya jelas dengan bahasa Indonesia yang sedikit di
modifikasi agar tidak terkesan terlalu kuno, serta lagu-lagunya sesuai.

- Anak-anak Indonesia seharusnya sadar akan mulai melemahnya kebuyaan dan legenda
Indonesia. Maka dari itu, kita seharusnya membantu untuk melestarikan kembali
kekentalan budaya tersebut walau hanya dimulai dari hal-hal kecil seperti menonton cerita
rakyat.