Anda di halaman 1dari 13

Artikel: Pendidikan Anti Korupsi

Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Ketika tatanan hukum dan sistem pendidikan
terpisah dari rangkaiannya. Pendidikan anti korupsi diperlukan sebagai bagian integral untuk
meluruskan demokrasi yang mengalami disfungsi. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia terbitan
Media Center diartikan sebagai hal atau keadaan tidak berfungsinya sesuatu secara wajar. Cita-cita
luhur universal demokrasi adalah memberikan ruang kebebasan bagi setiap manusia untuk
mendapatkan hak-hak kemanusiaannya itu sendiri.

Melihat kekacauan -dalam pengertian berjalannya sistem negara- maka menurut beberapa penelitian,
Indonesia memang rentan mengalami gangguan atau distorsi. Dalam sebuah masyarakat majemuk,
demokrasi dan nasionalisme memang sering menjadi sebuah dilema. Tuntutan-tuntutan
demokratissai yang idealnya memperkuat nasionalisme, realitasnya juga memunculkan konflik-koflik
etnis yang bisa membahayakan demokratisasi itu sendiri, yang bukan tidak mungkin lalu atas nama
negara kebangsaan malah melahirkan pemerintahan otoriter baik sipil atau militer (Larry Diamond &
Marc F.Platner, terjemahan "nasionalisme, konflik etnis dan demokrasi, ITB Press,1998)

Seorang Mohamad Hatta lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit
sosial yang membudaya ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Merujuk A. Mukti Fadjar
sebagaimana penelitian Donald L. Horowitz mengenai demokrasi pada masyarakat
majemukmenunjukkan bahwa demokrasi dan demokratisasi dapat mengalami kegagalan karena
berbagai alasan seperti perlawanan dari kaum sipil atau militer yang terserobot , tiadanya kondisi
sosial atau budaya kondusif, lembaga yang dirancang secara tidak tepat, dan pada banyak negara di
Afrika, Asia, dan Eropa Timur adalah konflik etnis.

Kemudian tidak terlalu salah kiranya jika pada perayaan kemerdekaan di bulan Agustus ini kita
instropeksi diri. Ternyata lebih tepat jika bangsa ini masih disebut sebagai bangsa parasit.
Masyarakat masih terlalu mudah diadu domba hingga melahirkan kerusuhan. Sikap kita masih sering
mencurigai keberadaan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan, kita tidak ambil peduli ketika
gelombang ribuan pengungsi yang harus meninggalkan tempat hidupnya karena konflik.

Dorongan untuk menegakkan demokrasi dan civil society ini harus dimulai dari gerakan yang
sungguh-sungguh untuk memerangi korupsi maupun suap. Lembaga pemerintah anti korupsi tidak
bisa berjalan dengan keterbatasannya yang disebabkan dibawah subordinasi kekukasaan. Negara ini
harus benar-benar mebentuk tim yang independen untuk memberantas korupsi. Bahkan kalau perlu
memeriksa seorang presidenpun bukannya sebatas pada Gubernur ataupun pembantu presiden saja.
Termasuk kepala kepolisian.

Kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain yang secara serius melakukan hal ini.
Contohnya badan anti korupsi yang terkemuka dinegara-negara berkembang yaitu ICAC
(independent Commision Againts Corruption ) di Hongkong. Dalam buku "Membasmi korupsi " karya
Robert Klitgaard (2001:130) dapat ditelusuri mengapa dan bagaimana ICAC didirikan, dan
bagaimana ICAC mencapai sukses dalam membersihkan korupsi dijajaran kepolisian Hongkong.
Sebagaimana di Indonesia, banyak orang Hongkong yakin bahwa korupsi itu berurat -akar dalam
kebudayaan Cina di Hongkong. Ada yang menarik kesimpulan fatalistik, dengan mengatakan bahwa
usaha-usaha untuk mengurangi krupsi itu akan sia-sia. Kaum pesimistik dapat dengan mudah
mengutip berbagai catatan kegagalan kampanye anti korupsi di masalalu.

Namun pada tahun 1971 pemerintah Hongkong meloloskan sebuah undang-undang pencegahan
suap yang brilian. Undang-undang itu memperluas kategori-kategori pelanggaran. Bagi mereka yang
dicurigai, kekayaan pribadinya melampaui pendapatan, atau yang menikmati tingkat hidup diluar apa
yang dimungkinkan oleh penghasilan, beban pembuktiannya beralih: mereka harus bisa
membuktikan diri tidak bersalah. "Dalam setiap tuntutan terhadap seorang karena pelanggaran
menurut undang-undang ini, beban memberikan pembelaan yang sah atau dalih yang dapat diterima
terletak dipihak tertuduh."(2001:139) Pendek kata ini merupakan pembalikkan dari asas praduga tak
bersalah yang lazim digunakan seperti di Indonesia. Mampukah kita menata hukum kita demikian?
Tentunya kita masih harus mengkorelasikan antara pendidikan anti suap dengan sistem hukum
nasional.

Pelaksanaan pemilu 2004 yang dilangsungkan secara aman dan relatif lebih baik daripada pemilu
masa lampau belum memberikan arti apa-apa jika tidak diikuti dengan kemauan mengkoreksi tatanan
hukum nasional. Menarik sekali mencermati apa yang dikatakan oleh Satjito Rahardjo (1990-1),
bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum (NBHI) adalah suatu bangunan
yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif". Pertanyaannya
adalah beranikah para anggota DPR beserta DPD yang terpilih merumuskan tatanan baru yang lebih
kondusif?

Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Demokrasi dinegara ini masih teramat rapuh. Ketamakan
politisi sipil telah mengalihkan fungsi legilatif dari yang sepatutnya. Pembahasan undang-undang dan
sebagainya tidak mencerminkan adanya perubahan mendasar. Sehingga kasus-kasus kudeta
terselubung terhadap demokrasi mudah saja terjadi. Coba lihat kasus impor gula. Ternyata dibalik
regulasi atau kebijakan yang seakan-akan memihak pada rakyat, penguasa negara sendiri yang
melakukan kejahatan. Belum lagi kasus pemanfaatan aparatur hukum sebagai bidak-bidak catur
politik untuk melanggengkan kekuasaan. Aparat negara negara yang berselingkuh dengan
kepentingan politik tentunya karena mendapat imbal suap.

http://amymutia.blogspot.com/2011/12/artikel-pendidikan-anti-korupsi.html
Makalah Pendidikan Anti Korupsi 1
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT, kami memuji meminta pertolongan dna mohon ampunan kepada-Nya

Serta kami berlindungkepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami.

Segala puji bagi Allah yangmemuji kami kejalan Islam dan kami tidak akan mendaptkan petunjuk itu
jikalau Allah tidak menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah
melainkan Allah. Aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah yang telah membawa kita
kejalan yang suci dan penuh dengan rahmat ilmu pengetahuan, sehingga penulis dapat
menyelsaikan tugas makalah filsafat umum denga baik.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan banyk terima kasih kepada teman-teman yang telah
memberikan dorongan berupa ide dna pengetahuannya sehingga terbentuknya makalah ini dan
tidka lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pmbimbing Pendidikan Anti Korupsi
yang telah memberikan ilmu dan motivasinya kepada kami.

Akhirnya mengharapkan saran dan kritik unuk penyempurnaann dalam pembuatan makalah diwaktu
yang akan datang.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 1

BAB II PEMBAHASAN 2

2.1 Pengertian dan Prinsip Anti Korupsi 2

Prinsip-prinsip Anti Korupsi 3

2.2 Bentuk-bentuk Korupsi dan Penyebab Korupsi 4

BAB III PENUTUP 10

A. Kesimpulan 10
B. Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan pemerintah untuk keuntungan pribadi yang dapat
merugikan pihak-pihak lain terutama uang negara.

Korupsi tidak hanya terkait dengan penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintahan, tetapi juga
oleh pihak swasta dan pejabat-pejabat ranah publik baik polisi, pergawai negeri maupun orang-
orang dekat mereka.

Dan didalam pandangan Islam korupsi dinilai sebagai perbuatan mempertukarkan Allah dengan
sesuatu yang bersifat materi karena tindakan korupsi merupakan manifestasi ketundukan seseorang
pada wujud material selain Tuhan yang bertentangan denagn nilai Tauhid.

Nabi bersabda : “Barangsiapa yang diangkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu, dan
kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang dia ambil lebih dari upah yang semestinya
adalah korupsi.

1.2 Rumusan Masalah

Seperti yang kita ketahui, korupsi adalah tindak pidana yang dapat merugikan orang banyak, oleh
karena itu penulis akan memaparkan atau menguraikan tentang :

1. Pengertian dan prinsip-prinsip anti korupsi.

2. Bentuk-bentuk korupsi serta faktor penyebab korupsi.

3. Upaya pencegahan hukum dan pemberantasan korupsi dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia.

4. Pencegahan dan pemberantasannya dilakukan melalui jalur pendidikan.

5. Kompetensi yang ingin dibangun dalam pendidikan anto korupsi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Prinsip Anti Korupsi


Definisi Korupsi

Secara etimologi korupsi berasal dari kata “korupsi” yang berarti buruk, buruk rusak dna busuk.
“korup” juga berarti dapat diogok (melalui kekuasaan untuk kepentingan pribadi”.

Secara terminologi diartikan sebagai pemberian dan penerimaan suap, baik yang memberi maupun
menerima suap keduanya termasuk koruptor.

David M. Chalmers mengatakan korupsi sebagai tindakan-tindakan manipulasi dan keputusan


menganai keungan yang membahayakan ekonomi.

J.J. Senturia menguraikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan pemrintah untuk keuntungan
pribadi.

Dari beberapa pengertian di atas baik secara etimologi maupun terminologi dapat ditarik
kesimpulan.

1. Korupsi dalam pengertian tindakan penghianatan terhadap kepercayaan.

2. Korupsi dalam pengertian semua tindakan penyalahgunaan kekuasaaan, walaupun pelakunya


tidak mendapatkan keuntungan material.

3. Korupsi dalam pengertian semua bentuk tindakan penyalahgunaan dna bukan haknya.

Jadi, korupsi merupakan suatu tindakan penyalahnyaan wewenang, kekyasaan yang dapat
merugikan dalam bidang ekonomi dan dapat merugikan dalam bidang ekonomi dan dapat
merupakan masyarkaat pada umumnya orang muslim.

Prinsip-prinsip Anti Korupsi

Prinsip ini pada dasarnya dimaksudkan gar segera kenijakan dan langkah-langkah yang dijalnkan
sebuah lembaga dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna.

Prinsip akuntabilitas sebagai prinsip pemecahan tindak korupsi membutuhkan perangkat-perankat


pendukung, baik brupa perundangan mauppun dalam bentuk kemitraan dan dukungan masyarakat.
Keberadaan undang-undang maupun peraturan secara otomatis mengharuskan adanya
akuntabilitasi prinsip akuntabilitasi. Pada SPSI lain juga mengharuskan agar setiap penganggaran
biaya dapat disusun sesuai agar setiap penganggaran biaya dapat disusun sesuai dena target atau
sasaran, akuntablitasi ini mengharuskan adanya relevansi yang konkret antaa apa yang dianggarkan
dengan kenyataan di lapangan dan dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengalokasian dana
fiktif yang selama ini sering terjadi.

Agenda-agenda yang harus ditempuh untuki mewujudkan prisnsip-prinsip akuntabilitas :


1. Mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban mekanisme.

2. Berkenaan dengan upaya-upaya evaluasi.

 Transparansi

Prinsip ii mengharuskan kebijakan dilakukan selama terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan
dapat diketahui oleh publik dan ini harus melibatkan masyarakat dan sektor-sektornya adalah :

1. Proses penganggaran yang bersifat dari bawah ke atas.

2. proses penyusunan jegiatan

3. proses pembahasan tentang pembuatan rencana peraturan yang berkaitan dengan strategi
pengolahan dana.

4. proses pembahasan tentang tata cara mekanisme penggalan proyek.

2.2 Bentuk-bentuk Korupsi dan Penyebab Korupsi

I. Bentuk-bentuk anti Korupsi

1. Penyuapan

Penyuapan merupakan sebuah bentuk perbuatan kriminal yang melibatkan sejumlah pemberian
kepada seseorang dengan maksud agar penerimaan pemberian tersebut mengubah dengan maksud
agar penerimaan pemberian tersebut mengubah perilaku sedemikian rupa sehingga bertentangan
dengan tugas dan tanggung jawab yang dapat berbebntuk, uang, rujukan, hak-hak istimewah atau
berupa barang yang berharga perilaku penyuapan mengandung tiga ciri ulama korupsi antara lain.

- Betrayal

- abuse of power

- Material benefit

Contoh penyuapan; praktik penyuapan mudah dijumpai dijalan anatara pengednara mobil atau
motor dengan seorang polisi misalnya seorang pengendara motor ditilang karena melanggar lalu
lintassehingga ia menyuap petugas (polisi) agar terhindar dari pengadilan.

2. Penggelapan dan pemalsuan

Penggelapan merupakan suatu bentuk korupsi yang melibatkan pencurian uang, properti, atau
barang berharga oleh seoerang yang diberikan amanat untuk menjaga dan mengurus uang, properti
atau barang berharga.
Contohnya dengan jalan memanipulasi jumlah orang yang membutuhkan pelayanan tertentu.

3. Pemerasan merupakan penggunaan ancaman kekerasan atau penampilan informasi yang


menghancurkan guna membujuk seseorang agar mau bekerjasama.

4. Nepotisme

Nepotisme merupakan bentuk tindak kriminal yang memilih keluarga atau teman dekat berdasarkan
pertimbangan hubungan bukan, karena kemampuannya.

II. Faktor-faktor Penyebab Korupsi

Banyak faktor yang memilu terjadinya penyimpangan korupsi baik karena faktor penyebab internal
maupun eksternal. Menurut Sarlito W. Sarwono tidak ada jawaban yang persis untuk melihatnya
tetapi ada dua hal yang dapat diamati yakni:

1) Dorongan dari dalam diri sendiri

2) Rangsangan dari teman-teman

Andi hamzah menginvestasikan beberapa penyebab korupsi antara lain:

1) Kurangnya gaji pegawai negeri di bandingkan dengan kebutuhan yang makin meningkat.

2) Latar belakang kebudyaan atau kultur Indonesia yang merupakan sumber atau sebab meluasnya
korupsi

3) Manajemen yang kurang baik dan kontrol yang kurang efektif dan efisien yang memberikan
peluang untuk korupsi.

BPKP membagi penyebab korupsi dalam tiga aspek:

1. Berkaitan dengan aspek individu pelaku

2. Berkaitan dengan aspek organisasi

3. Berkaitan dengan aspek tempat individu dan organisasi berada.

Tetapi yang lebih mendasari atau menjadi faktor pemilu seseorang melakukan korupsi adalah faktor
internal dan eksternal.

1. Faktor internal

a. Persepsi terhadap korupsi


Ada anggapan yang mengatakan bahwa korupsi bersifat fungsional karena dapat menigkatkan
derajat ekonomi sekarang karenanya uang suap dianggap dapat memberikan konstribusi positif yaitu
dapat mengatasi rigiditas dan kompeksitas sistem administrasi yang kaku.

b. Moralitas dan integrasi individu

Persoalan moralitas banyak dihubungkan dengan pemahaman dan internasional nilai-nilai


keagamaan pada seseorang sayangnya keagamaan hanya dipahami dari kulit luarnya banyak orang
yang mengaku telah menjadi penganut agama yang fanatik hanya dengan menjalankan sholat,
puasa, hari, akan tetapi dalam prilaku kehidupan sehari-hari masih tidak peduli dengan kepentingan
orang lain.

2. Faktor eksternal

a. Sistem hukum

Penyebab korupsi sering dilihat dari beberapa besar sistem hukum untuk mencegahnya. Akan tetapi
sistem tersebut hanya efektif dalam mencegah korupsi dinegara yang memiliki administrasi hukum
yang efektif dengan tradisi keadailan yang kuat.

Sedangkan sistem hukum dimana hakim memiliki banyak wewenang akan mendorong perilaku
korupsi bila diterapkan di negara yang tidak memiliki pengadilan yang indenpendent lain sistem
hukum yang tidak efektif angat berpengaruh terhadap munculnya perilaku korup.

Hukum yang tidak tegas juga membuat masyarakat menjadi biasa dengan pelanggaran-pelanggaran
yang dianggap kecil tetapi jika diukkur dengan biaya ekonomi bisa berkumpul demo yang sangat
besar.

b. Sistem Politik

Sistem politik yang berkembang lebih berorentasi pada hubungan patron klien yaitu satu hubungan
personal antara pimpinan dan bwahan yang tidak berdasarkan asas persamaan, hubungan alasan
dan bawahan lebih mencerminkan hubungan persaudaraan yang lebih banyak menggunakan
hubungan dan cara yang bersifat emosional dan cenderung untuk memberikan tolerasnis terhadap
penyelewengan.

Oleh karena itu sering kali kita mendengar korupsi disandingkan dengan kolusi dan nepotisme.

c. Budaya lembaga

Budaya lembaga kebiasaan kerja seluruh perangkat perusahaan/baik lembaga manajemen maupun
seluuruh lapisan karyawan yang dibentuk dan dibakukan serta diterima sebagai stanar perilaku
kerja, serta membuat seluruh perangkat terikat terhadap perusahaan lembaga.
d. Struktur dan sistem sosial

Struktur dan sistem politik akan emakin memberi peluang untuk korupsi jika ditingkat masyarakat
juga muncul budaya ..... karena tradisi akan memberikan peluang atau sebagai biang beladi
munculnya korupsi, demikian nilai kekeluargaan dianggap menjadi penyebab munculnya nepotisme
karena tradisi biasanya di lakukan selara sukarela kepada teman saudara atau pihak-pihak yang
membutuhkan tanpa motif – motif tertentu.

e. Faktor ekonomi

Persoalan kemiskinan yang tidak memadai menjadi faktor yang sangat klasik untuk membenarkan
tindakan korupsi contoh pegawai kelurahan mencari tambahan dengan menarik uang administrasi
seiklasnya.

3. Upaya pencegahan Hukum dan pemberantasan korupsi dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia
sejak orde lama hingga orde baru.

Upaya pemberantas korupsi telah dilakukan sejak tahun 1960-an baik dalam bentuk pembentukan
komisi-komisi yang berisfat adhok. Kelembagaan yang pernparmen mau pun melalui
penyempurnaan an embentukan eraturan perundang-undangan.

Pada masa orde lama dibwah kepemimpinansoekarno sudah dua kali dibentuk badan pemberantasa
korupsi, namun ternyata pemerintah pada waktu itu setengah hati menjalankan. Adapun perangkat
bahaya dengan produknya dengan nama panitia Retooling Aparatur negara dan dipirapin oleh Ah
nasution dan dibantu oleh 2 orang anggota yaitu prof. M. Yamin dan Roeslan Abdulgani.

Salah satu tugas adalah agar para pejabat pemerintah diharuskan mengisi formulir. Usaha pesan
akhirnya mengalami deadlock karena kebanyakan pejabat berlindung dibalik presiden.

Tahun 1963 melalui keputusan presiden No. 275 tahun 1963 diketahui oleh Nasution dan dibantu
oleh Wiryono Prodjo Dikusumo dan bertugas meneruskan kasus-kasus korupsi dimeja pengadilan
dan lembaga ini disebut “Operasi Budi” dimana sasaran adalah perusahaan-perusahaan negara serta
lembaga-lembaga lainnya Tahun 1970 didorong oleh ketidak seriusan TPK dalam memberantas
korupsi seperti komitmen Soeharto mahasiswa dan pelajar melakukan untuk rasa memprotes
keberadaaan TPK. Maraknya gelombang protes akhirnya ditanggapi Soeharto dengan membentuk
komite empat beranggotakan Prof. Sjohannes, Kasino,Milopo dan A Tjokroaminoto Tugas mereka
membersihakan epartemen Agama, Bulog, CV Waring, PT. Mantrust, Telkom, Pertamina namun
komite ini tidak direspon pemerintahan kemudian laksamana sudarmo diangkat sebgai pangkup ke
mitra dibentuklah OPTSTIB dengan tugas memberantai kerupsi. Setelah lainnay OPStib muncul
perbedaan pendapat antara Sudomo dengan nasetion akhirnya OPSTIB Hilang tanpa bekas.

Tahun 1997 awal bencana krisis ekonomi melanda Asia dan Indonesia merupakan yang paling parah.

4. Pencegahan dan pemberantasan dilakukan melalui jalur pendidikan


Dengan adanya pemberantasan korupsi yang dilakukan melalui jalur pendidikan saya berharap
supaya penerus bangsa ini tidak terpengaruh atau mengikuti langkah-langkah para pejabat yang
telah melakukan tindak korupsi kaena korupsi dapat merugikan negara terutama orang-orang
miskin. Dan jalur pendidikan adalah salah satu pilar ppenting dalam pemberantasan korupsi karena
disitulah cikal bakal pemerintahan atau sebagai penerus-peerus bangsa.

5. Kompetensi dasar yang ingin di bangun dalam pendidikan anti korupsi

Dengan adanya maka kuliah anti korupsi ini tujuan agar para generasi muda khususnya mahaisswa
tidak terpengaruh dalam soal korupsi dan diharapkan mahasiswa dapat memberikan bimbingan
kepada orang-orang yang membutuhkan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Semua bentuk korupsi dicirkan tiga aspek. Pertama pengkhianatan terhadap kepercayaan atau
amanah yang diberikan, kedua penyalahgunaan wewenang, pengambilan keuntungan material ciri-
ciri tersebut dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk korupsi yang mencangkup penyapan
pemersasn, penggelapan dan nepotisme.

Kesemua jenis ini apapun alasannya dan motivasinya merupakan bentuk pelanggaran terhadap
norma-norma tanggung jawab dan menyebabkan kerugian bagi badan-badan negara dan publik.

B. Saran

Dengan penulis makalah ini, penulis mengharapkan kepada pembaca agar dapat memilih manfaat
yang tersirat didalamnya dan dapat dijadikan sebagai kegiatan motivasi agar kita tidak terjerumus
oleh hal-hal korupsi dan dapat menambah wawasan dan pemikiran yang intelektual khususnya
dalam mata kuliah anti korupsi”.

DAFTAR PUSTAKA

MM.Khan. 2000. Political And Administrative Corruption Annota Ted Bibliography.

Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Yang Bersih Dan Bebas Dari Kolusi,
Korupsi Dan Nepotisme

Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantas Tindak Pidana Korupsi

Read more: http://www.emakalah.com/2013/01/makalah-pendidikan-anti-korupsi-


1.html#ixzz3E1xsHtOc
http://www.emakalah.com/2013/01/makalah-pendidikan-anti-korupsi-1.html

PENDIDIKAN KARAKTER ANTI KORUPSI DI SEKOLAH

PENDIDIKAN KARAKTER ANTI KORUPSI DI SEKOLAH


Korupsi di negeri ini sudah sangat mendarah daging, korupsi bukan hanya dilakukan oleh perorangan
akan tetapi juga dilakukan secara berjamaah. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk
mensejahterakan rakyat habis dimakan oleh para koruptor. Banyak masyarakat yang hidup dengan
kemiskinan, untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka harus berjuang dengan keras. Uang rakyat
habis dimakan untuk kepentingan pribadi sungguh sangat ironi negeri ini negara yang kaya akan hasil
alam yang melimpah akan tetapi banyak sekali masyarakat yang hidup serba kekurangan untuk
mengobati anak yang sakit saja mereka tidak mampu. Uang memang bisa membutakan hati nurani
seseorang korupsi sudah menjadi budaya. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh orang yang
mempunyai kekuasaan, elit politik, pemimpin, akan tetapi sampai ketingkat bawah. Hampir setiap
hari berita korupsi selalu ditayangkan di televisi. Mulai dari korupsi pengadaan daging sapi impor,
korupsi simulator SIM, korupsi pengadaan Al-Quran, korupsi wisma atlit Hambalang, dan masih
banyak lagi. Korupsi ini dilakukan oleh para petinggi partai politik, menteri, bupati, gubernur, sampai
ketingkat yang lebih bawah. Memberantas korupsi bukan hanya tugas KPK akan tetapi tugas kita
semua oleh karena itu perlu ditanamkan nilai-nilai karakter yang luhur untuk memberantas korupsi.
Penanaman karakter anti korupsi bisa ditanamkan di sekolah. Siswa diharapkan bukan hanya
mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi perlu adanya penanaman karakter pada siswa. Orang
yang intelektualnya tinggi bila tidak disertai akhlak dan karakter yang baik mereka akan melakukan
hal-hal yang tidak baik di antaranya adalah korupsi yang telah membuat rakyat menderita. Banyak
terdakwa kasus korupsi adalah orang-orang yang intelektualnya tinggi akan tetapi tidak dibarengi
dengan akhlak dan karakter yang baik. Untuk memberantas korupsi yang sudah mengakar memang
tidak semudah membalikkan telapak tangan akan tetapi kita perlu menyiapkan generasi muda yang
anti korupsi dengan cara memberikan pendidikan karakter pada siswa.

http://wacana.siap.web.id/2014/03/pendidikan-karakter-anti-korupsi-di-
sekolah.html#.VB_bPHeKD5M
Pendidikan Anti Korupsi, Itu Perlu…

Sungguh merupakan sebuah ide cemerlang yang dilakukan oleh pengelola blog
www.ceritainspirasi.net untuk mengadakan sebuah blog kompetisi yang bertemakan “Solusi
Pemberantasan Korupsi ala Blogger”. Bagaimana tidak, maraknya kasus korupsi dinegeri
ini yang hampir melanda disemua bidang dan sektor mulai dari tingkat pusat sampai ke
tingkat pemerintahan yang kecil sekalipun dipelosok daerah membuat “gerah” masyarakat
kita. Walau berbagai macam cara telah dilakukan untuk menanggulangi kasus Korupsi
dinegeri ini, mulai dari pembentukan Undang-Undang Anti Korupsi hingga pembentukan
Komisi Pemberantasan Korupsi atau yang lebih dikenal dengan sebutan KPK, namun
sepertinya beberapa kasus Korupsi masih saja terjadi dinegeri ini.

Kata “Korupsi” bukan merupakan ungkapan baru dalam peradaban manusia, bahkan
ungkapan tersebut sudah dikenal sejak 7 abad silam. Kata yang berasal dari bahasa latin yaitu
corruptio, memiliki beragam definisi dikalangan masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia arti Korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan
dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Jika diibaratkan ,Supply tidak akan terjadi jika
tidak ada demand, ungkapan ini mungkin cocok dalam menyikapi kasus korupsi di negeri ini.

Gambar diatas saya ambil pada sebuah pangkalan ojek dibilangan Jln.Karet Belakang
Setiabudi Jakarta Selatan. Sebuah bentuk ungkapan kekecewaan atas maraknya kasus korupsi
dinegeri ini yang hanya bisa dilampiaskan dalam bentuk tulisan. Sebagai contoh lain, didalam
proses pengeluaran barang import dimana sudah hampir 5 tahun ini saya geluti sebagai
perkerjaan sehari-hari, terkadang pemberian UTM (Under Table Money) masih saja harus
dilakukan kepada oknum-oknum Pelabuhan baik Sukarno hatta maupun Tanjung Priok.
Padahal jika melihat dari sisi pendidikan mereka bukanlah orang bodoh sebab untuk menjadi
seorang yang berkompeten dibidang Export Import yang beralokasi di pelabuhan perlu
kepandaian tersendiri.

Mudah memang jika kita berbicara tentang pemberantasan korupsi, berbagai macam cara dan
teoripun dilontarkan untuk mengecam para koruptor tapi bagaimana jika kondisi kita putar
balik dimana saat ini kita menjadi seorang pejabat yang mempunyai hak secara penuh untuk
memonopoli sebuah urusan tertentu juga didukung suatu keadaan dimana penggunaan
kekuasaan kita kuasai sendiri, akankah kita akan melakukan perbuatan terhina itu???

Memberantas korupsi bukan hal mudah, selain harus bersifat menyeluruh, adil, tidak
memihak, sesuai target dan kebutuhan juga harus berkesinambungan. Memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang dampak korupsi bisa menjadi alternatif pilihan lain.
Penerapan Pendidikan Anti Korupsi sejak dini sepertinya memang perlu diadakan jika
melihat kondisi negara kita saat ini dengan harapan mampu membuka mata kita akan apa
akibat yang dihasilkan dari korupsi. Pendidikan ini bisa saja diterapkan sebagai salah satu
mata pelajaran dibangku sekolah atau mungkin dilingkungan keluarga sekalipun.

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kelak anak cucu kita tidak terjerumus kedalam
prilaku korupsi yang dapat merugikan hajat hidup orang banyak. Selain mempertebal iman
dan ketaqwaan kepada Alloh SWT peran orang tua sangat menentukan kepribadian generasi
penerus kita kelak. Biarlah kasus-kasus korupsi yang sudah terjadi ataupun yang sedang
diusut menjadi sebuah catatan buku hitam perjalanan negeri ini.

http://html1155.wordpress.com/2010/02/10/pendidikan-anti-korupsi-itu-perlu/