Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PAI

CARA MEMBUMIKAN ISLAM DI INDONESIA

Disusun oleh :

Kelompok 1

1. Adelia Putri Rahmatullah


2. Almuhalia Rahmadany
3. Muhammad Akmal
4. Soraya Magfirah

Kelas : 1NF

Dosen Pembimbing :

PROGRAM STUDI DIV ADM BISNIS

JURUSAN ADM BISNIS

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


KATA PENGHANTAR

Dengan menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah dan Lagi
Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang
telah melimpahkan Hidayah, Inayah dan Rahmat-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan
penyusunan makalah pendidikan agama islam dengan judul “Cara Membumikan Islam di
Indonesia” tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah sudah kami lakukan semaksimal mungkin dengan dukungan dari
banyak pihak, sehingga bisa memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu kami pun tidak
lupa mengucapkan terima kasih dari berbagai pihak yang sudah membantu kami dalam
rangka menyelesaikan makalah ini.
Tetapi tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa dalam makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek
lainnya. Maka dari itu, dengan lapang dada kami membuka seluas-luasnya pintu bagi para
pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat berharap semoga dari makalah yang sederhana ini bisa
bermanfaat dan juga besar keinginan kami bisa menginspirasi para pembaca untuk
mengangkat berbagai permasalah lainnya yang masih berhubungan pada makalah-makalah
berikutnya.

Palembang, 6 Januari 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Penghantar …..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..….


Daftar Isi …..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…...
B. Rumusan Masalah…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…...
C. Tujuan …..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..

BAB II
PEMBAHASAN
1. Bukti islam menjadi spirit perjuangan bangsa Indonesia…..…..……
2. Tujuan modernitas …..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..
3. Islam masuk ke Indonesia…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..……
4. Cara Islam dapat masuk dan berkembang di Indonesia…..…..…..….

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..………
Daftar Pustaka…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…….
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam pada satu sisi dapat disebut sebagai high tradition, dan pada sisi lain disebut
sebagai low tradition. Dalam sebutan pertama Islam adalah firman Tuhan yang menjelaskan
syariat-syariat-Nya yang dimaksudkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat, termaktub dalam nash (teks suci) kemudian dihimpun
dalam shuhuf dan Kitab Suci (Al-Quranul Karim).
Secara tegas dapat dikatakan hanya Tuhanlah yang paling mengetahui seluruh maksud,
arti, dan makna setiap firman-Nya. Oleh karena itu. kebenaran Islam dalam dataran high
tradition ini adalah mutlak.Bandingkan dengan Islam pada sebutan kedua: Iow tradition. Pada
dataran ini Islam yang terkandung dalam nash atau teks-teks suci bergumul dengan realitas
sosial pada pelbagai masyarakat yang berbeda-beda secara kultural. Islam dalam kandungan
nash atau teksteks suci dibaca, dimengerti, dipahami, kemudian ditafsirkan dan dipraktikkan
dalam masyarakat yang situasi dan kondisinya berbeda-beda.
Kata orang, Islam akhimya tidak hanya melulu ajaran yang tercantum dalam teks-teks
suci melainkan juga telah mewujud dalam historisitas kemanusiaan. Spirit Islam telah
menggelora di bumi Ibu Pertiwi sejak dahulu. Kala nusantara belum disatukan dalam nama
“Indonesia”, beberapa kerajaan telah menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahannya.
Hingga pada masa perjuangan merebut kemerdekaan pun, ajaran Islam turut memberikan
pengaruh yang besar. Nilai Islam yang antidiskriminasi, menjiwai para pahlawan dalam
menumpas penjajah yang zalim. Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, juga tak lepas
dari nuansa keislaman. Pembacaan teks Proklamasi yang bertepatan dengan hari Jumat, 9
Ramadan 1364 H, dilakukan Bung Karno setelah mengunjungi sejumlah ulama, antara lain,
KH Syekh Musa, KH Abdul Mukti, dan KH Hasyim Asyari. Dengan dukungan ulama, Bung
Karno pun merasa mantap dan tak takut atas ancaman dan serbuan tentara sekutu pasca
Proklamasi.
Tidak berhenti pada perjuangan menggapai kemerdekaan, kontribusi pendiri bangsa
yang berkeyakinan dan berpandangan Islam, juga tampak dalam penyusunan dasar negara.
Taruhlah misalnya KH Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimejo, Drs
Mohammad Hatta, dan Mohammad Teuku Hasan. Merekalah yang turut merumuskan
Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Uraian singkat di atas membuktikan bahwa sejak dahulu, Islam telah menjadi spirit
perjuangan bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai Islam telah mengobarkan semangat para
pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan. Sampai akhirnya, Islam sebagai agama rahmatan
lil ‘alamin, juga mengilhami para pendiri bangsa dalam merancang tata negara yang
mengayomi semua anak bangsa yang plural.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang membuktikan islam menjadi spirit perjuangan bangsa Indonesia?
2. Apa tujuan modernitas islam ?
3. Bagaimana Islam masuk ke Indonesia?

C. Tujuan
1. Dapat menjelaskan bukti islam menjadi spirit perjuangan bangsa Indonesia.
2. Dapat menjelaskan tujuan modernitas islam.
3. Dapat mengetahui bagaiman islam masuk ke Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Bukti islam menjadi spirit perjuangan bangsa Indonesia

Spirit islam telah menggelora di tanah bumi ibu pertiwi ini sejak dahulu. Kala nusantara
belum disatukan dalam nama “Indonesia”, beberapa kerajaan telah menjadikan islam sebagai
dasar pemerintahannya. Hingga pada masa perjuangan merebut kemerdekaan pun, ajaran
islam turut memberikan pengaruh yang besar. Nilai islam yang antidiskriminasi, menjiwai
para pahlawan dalam menumpas penjajah yang zalim.

Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, jug tak lepas dari nuansa keislaman.
Pembacaan teks proklamasi yang bertepatan dengan hari Jumat, 9 Ramadan 1364 H
dilakukan Bung Karno setelah mengunjungi sejumlah ulama, antara lain, KH Syekh Musa,
KH Abdul Mukti, dan KH Hasyim Asyari. Dengan dukungan ulaman, Bung Karno pun
merasa mantap dan tak takut atas ancaman dan serbuan tetntara sekutu pasca Proklamasi.

Tidak berhenti pada perjuangan menggapai kemerdekaan, kontribusi pendiri bangsa yang
berkeyakinan dan berpandangan islam, juga tampak dalam penyusunan dasar Negara.
Taruhlah misalnya KH Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimejo, Drs
Mohammad Hatta, dan Mohammad Teuku Hasan. Merekalah yang turut merumuskan
Pancasila dan pembukaan UUD 1945.

Hal itu membuktikan bahwa sejak dahulu, islam telah menjadi spirit perjuangan bagi
bangsa Indonesia. Nilai-nilai islam telah mengobarkan semangat para pahlwan dalam
mewujudkan kemerdekaan. Sampai akhirnya, islam sebagai agama rahmata lil’alamin, juga
mengilhami para pendiri bangsa dalam merancang tata Negara yang mengayomi semua anak
bangsa yang plural.

2. Modernitas Islam

Keterpurukan bangsa Indonesia di berbagai sektor kehidupan, tentu menjadi sebuah


ironi. Islam sebagai agama yang membuka diri terhadap modernitas, harusnya mampu
mendorong bangsa Indonesia untuk lebih maju. Nilai islam yang abadi sepanjang zaman,
menstinya jadi modal besar dalam membangun Negara. Terlebih, islam adalah ajaran agama
yang komprehensif, yang mengandung nilai-nilai sebagai pedoman untuk seluruh aspek
kehidupan manusia.

Tak bisa disangkal bahwa kitab suci Alquran sebagai pedoman umat islam, merupaka
lumbung ilmu yang tak ada habisnya. Jawaban atas segala macam persoalan hidup, baik
untuk soal duniawai maupun ukhrawi, dapat ditemukan penduannya dalam Alquran.
Sebagaimana dibuktikan oleh hasil penelitian mutakhir, ajaran islam yang berdasar pada
Alquran dan sunnah Rasulullah, tak pernah bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Hal ini
menegaskan bahwa islam adalah agama yang modern.

Demi menjaga keberiringan Islam dengan modernitas, maka sudah saatnya Alquran dan
sunnah Rasulullah didudukkan pada posisinya yang azali, yaitu sebagai pedoman hidup
sepanjang waktu. Modernisasi yang seiring waktu, bukanlah kenyataan yang harus dihindari
dalam Islam, tetapi harus dihadapi dengan cara yang islami. Perubahan perihal fisik-materi
keduniaan, kesemuanya, harus berpedoman pada ajaran Islam dan diabdikan hanya pada
Allah SWT.

Modernitas nilai-nilai Islam dalam Alquran dan Hadis adalah mukjizat yang harus dijaga.
Karena itu, dibutuhkan sebuah kelapangan untuk senantiasa mendialogkan antara realitas
kehidupan dengan petunjuk-petunjuk keislaman. Kitabullah dan sunnah Rasululah, tak boleh
diperlakukan secara dogmatis. Tetapi sebaliknya, pedoman hidup tersebut harus diperlakukan
secara fleksibel, sebab dengan begitulah, Islam akan hidup sepanjang masa.

Paham Islam yang modernis adalah jalan keluar untuk mengatasi ketertinggalan umat
Islam akibat tafsir Alquran dan Hadis yang terlalu skriptualis dan dogmatis. Kebutuhan ini
sejalan dengan paradigma neo-modernisme dalam Islam. Paham ini tampil dengan
menonjolkan pentingnya ijtihad yang kontemporer, yang mampu berakselerasi dengan
perkembangan zaman. Sebuah ijtihad yang membuka ruang bagi rasionalitas, kebebasan, dan
kontekstualisasi

3. Masuknya Islam ke Indonesia

Waktu masuknya Islam ke Indonesia (Nusantara) masih diperdebatkan. Ada yang


berpendapat bahwa sejak sebelum hijrah telah ada orarng Arab yang tinggal di kepulauan ini.
Lalu pada abad ke-13 munculah untuk pertama kali sebuah komunitas Islam,
yang selanjutnya mengalam perkembangan pesat pada abad ke-15. Pada abad ke17/ ke-l8
bahkan mayoritas penduduk Jawa dan Sumatera telah memeluk Islam.
Mulanya Islam masuk ke Indonesia mlalui pedagang dari Gujarat dan Malabar India.
Lalu belakangan masuk pula pedagang dan dai-dai Islam dari Hadramaut, di samping
saudagar-saudagar Islam dari Cina. Islam disebarkan dengan cara-cara damai dengan aliansi
politik dan pembiaran terhadap budaya-budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, selama
sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Unsur-unsur budaya lokal non-lslam (Arab) bahkan
melekat dalam karakter, pemikiran, dan praktik keagamaan umat Islam Indonesia. Hal itu
mengingat Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam sufistik yang memang memiliki
karakteristik terbuka, damai, dan ramah terhadap perbedaan.
Model akulturasi budaya lokal dengan Islam ini sering dianggap sebagai penyebab
munculnya karakter Islam abangan di kalangan masyarakat Jawa. Sebagian orang bahkan
menilai bahwa para Wali Songo sebagai ikon dai-dai awal Islam di Indonesia dianggap belum
berhasil sepenuhnya untuk mengislamkan Jawa. Beberapa bukti disodorkan untuk
memperkuat tesis lersebut, di antaranya paham sinkretisme yang tampak masih dominan di
kalangan masyarakat Jawa. Walaupun bagi pihak yang mendukung metode dakwah Wali
Songo di atas. praktik-praktik yang sering dituduh sebagai sinkretisme tersebut bukan
sepenuhnya amalan yang bertentangan dengan islam dan dapat dijelaskan melalui perspektif
mistisisme Islam.
Sejalan dengan itu, muncul pertanyaan, bagaimana seharusnya kita mampu
memosisikan diri terkait dengan hubungan agama dan budaya lokal? Handaknya kita
memosisikan keduanya secara proporsional, jangan sampai kita hanya mengakui nilai-nilai
agama sebagai satu-satunya konsep yang mengarahkan perilaku tanpa peduli pada nilai-nilai
budaya lingkungan sekitar. Sebaliknya, jangan pula kita hanya berpakem pada budaya dan
tradisi tanpa pertimbangan- pertimbangan yang bersumber dari agama. Tanyakan pada teman
Anda pandangan mereka tentang proporsionalitas hubungan antara agama dan budaya lokal
di atas
Adanya akulturasi timbal-balik antara Islam dan budaya lokal (local genius) dalam
hukum Islam secara metodologis harus diakui eksistensinya. Dalarn kaidah ushol fiqh kita
tamukan misalnya kaidah, al-addah muhkamah adat itu bisa dijadikan hukum). atau kaidah
"al- addah syari'atun muhkamah' (adat adalah syariat yang dapat dijadikan hukum). Kaidah
ini memberikan justifikasi yuridis bahwa kebiasaan suatu masyarakat bisa dijadikan dasar
penetapan hukum ataupun sumber acuan untuk bersikap.
Hanya saja tidak semua adat tradisi bisa dijadikan pedoman hukum karena tidak
semua unsur budaya pasti sesuai dengan ajaran Islam. Unsur budaya lokal yang tidak sesuai
dengan ajaran Islam akan diganti atau disesuaikan dengan semangat tauhid.
Rasul telah mencontohkan cara melakukan akulturasi antara ajaran lslam dan tradisi bangsa
Arab pada abad ke-7. Ada tiga mekanisme yang dikkukan beliau untuk menyikapi tradisi
yang telah berkembang kala itu.
Pertama, menerima dan melestarikan tradisi yang dianggap baik: seperti tradisi musyawarah,
kumpul-kumpul pada hari Jumat, dan khitan. Kedua, menerima dan memodifikasi tradisi
yang secara substansi sudah baik, tetapi dalam beberapa aspek implemantasinya
bertentangan dengan semangat tauhid, misalnya ritus haji dan umroh, kurban, dan poligami.
Ketiga menolak tradisi yang dianggap melanggengkan nilai, moralitas, dan karakter jahiliah,
dan menggantikannya dengan tradisi baru yang mengembarkan dan memperkuat nilai,
moralitas, dan karakter islami, seperti tradisi berjudi, berhala. minum-minurnan keras, dan
kawin kontrak.
Berbicara tentang karakteristik muslim Indonesia, artinya berbicara tentang relasi
antara budaya Indonesia dan ajaran Islam. Juga perlu kita ketahui bahwa antara agama dan
kebudayaan tidak bisa dipisahkan karena agama tidak akan memanifestasi tanpa media
budaya, dan budaya tidak akan bemlnilai luhur tanpa agama. Semula lslam memanikstasi
dalam budaya Arab, lalu seiring dengan penyebaran Islam, ia pun termanifestasi dalam
budaya-budaya lainnya.
Pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, keterlibatan Indonesia dengan
dunia Islam lainnya meningkat secara signifikan. Jumlah orang yang berhaji ke Mekah
meningkat, jumlah sarjana Indonesia yang pergi ke Timur Tengah untuk belajar agama juga
meningkal secara signifikan.
Pada periode itu berkembang
pemikiran revivalisme Islam dengan semangat mengembalikan
kemurnian Islam untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Beberapa pelajar Islam
Indonesia yang belajar di Timur-Tengah mengadopsi gagasan revivalisme ini lalu membuat
serangan kuat terhadap pemikran keagamaan di Indonesia. Model keberagamaan Islam
Indonesia yarig "sinkretis" mendapat kecaman pedas dari kelompok ini. Menurut mereka,
praktik keagamaan yang sinkretis membuat umat Islam kehilangan identitas keislaman yang
murni dan terjerumus pada campur aduk antara Islam dan paganisme atau animisme-
dinamisme. Manifestasi ekstrem dari kelompok ini bahkan menolak setiap bentuk
persinggungan ajaran Islam dengan unsur unsur budaya yang tidak berasal dari lslam itu
sendiri.
Mereka juga menolak adanya pengaruh Hindu-Buddha, Kristen- Katolik, bahkan
pengaruh budaya lokal yang sudah mapan di tengah masyarakat. Semua ekspresi
keberagamaan yang merupakan perpaduan antara Islam dan budaya-budaya lain dianggap
sudah tidak mumi dan berbau bidah bahkan berbau syirik. Namun, ironisnya kelompok ini
terjebak pada simplifikasi teologis karena menganggap bahwa budaya Islam adalah budaya
Arab.
Revivalisme dengan gerakan purifikasinya kerap kali menjadi biang munculnya
radikalisme. Radikalisme agama telah menjadi
kekhawatiran bangsa karena praktik keberagamaan tersebut merapuhkan kebhinekaan dan
kedamaian. Gerakan purifikasi ini mengingkari unsur lokalitas yang turut membentuk Islam
Indonesia. Oleh karena itu, keberagamaan ini menafikan pluralisme sedemikian rupa
sehingga cenderung intoleransi, eksklusifisme, anti-keragaman (multikulturalisme) dan pada
titik krtis bisa melahirkan teronisme.
Dengan demikian, ditengah adanya dua corak utama keberagamaan umat Islam
Indonesia,.yaitu sufistik tradisionalis dan revivalis fundamentalis. Kelompok pertama sangat
akomodatif terhadap perbedaan dan pengaruh luar, bahkan toleran terhadap praktik-praktik
keagamaan yang tidak sejalan dengan rasionalitas dan norma-norma Islam sendiri.
Sebaliknya. klompok kedua lebih rasional dalam menyikapi tradisi kagamaan, namun
cenderung eksklusif dan agresif terhadap praktik-praktik yang dianggap tidak memiliki dasar
hukum dalam ajaran Islam.
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Daftar Pustaka

https://www.nonetips.me/2019/02/makalah-bagaimana-membumikan-islam-di.html
Fananie Anwar, 2009, Politik Islam: Politik Kasih Sayang, Masmedia Buana Pustaka:
Sidoarjo, hlm. 2.
Ibid., hlm. 3.
http://sarubanglahaping.blogspot.com/2017/05/membumikan-islam-di-indonesia.html
Syarif Hidayatullah, 2010, Islam “Isme-isme”: Aliran dan Paham Islam di Indonesia,
Pustaka Pelajar: Yogyakarta, hlm. 44.