Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH

DI RUMAH SAKIT JIWA DR. SOEHARTO HEERDJAN

Jl. Prof. Dr. Latumeten No.1, RT.1/RW.4, Jelambar, Kec. Grogol Petamburan, Kota Jakarta
Barat, DKI Jakarta 11460

Disusun Oleh :

Nama : Heni Lestari

NIM : 1710711011

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

2019
A. Pengertian Konsep Diri

Konsep Diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.

B. Komponen-Komponen Konsep Diri


a. Citra Tubuh (Body Image)
Citra tubuh (body image) adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak
disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang
ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Secara berkesinambungan dimodifikasi dengan
persepsi dan pengalaman yang baru.
b. Ideal Diri (Self Ideal)
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan
standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu (Stuart & Sundeen, 1998). Sering juga
disebut bahwa ideal diri sama dengan citacita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.
c. Identitas Diri (Self Identifity)
Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab
terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu (Stuart & Sundeen,
1998). Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang
kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
d. Peran Diri (Self Role)
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan social berhubungan dengan
fungsi individu diberbagai kelompok social. Peran yang diterapkan adalah peran dimana
seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih
oleh individu (Stuart & Sundeen, 1998).
e. Harga Diri ( Self Esteem)
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi
adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri tanpa syarat, walaupun melakukan
kesalahan, kekalahan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga.
C. Perkembangan Konsep Diri

Menurut Stuart & Sundeen perkembangan konsep diri dimulai dengan perkembangan.

Usia 0 – 1 tahun Trust


Berhubungan dengan lingkungan
Usia 1 – 3 tahun Belajar dan mengontrol Bahasa
Mulai beraktivitas mandiri dan otonomi
Menyukai diri sendiri
Menyukai tubuh sendiri
Usia 3 – 6 tahun Berinisiatif
Mengenal gender
Meningkatkan kesadaran diri
Meningkatkan kemampuan Bahasa
Usia 6 – 12 tahun Berhubungan dengan kelompok sebaya
Tumbuh harga diri dengan kemampuan baru yang dimiliki
Menyadari kekurangan dan kelebihan
Usia 12 – 20 tahun Menerima perubahan tubuh
Eksplorasi tujuan dan masa depan
Merasa positif pada diri sendiri
Memahami hal-hal terkait seksualitas
Usia 20 – 40 tahun Hubungan yang intim dengan pasangan, keluarga, dan orang
terpenting
Stabil
Positif pada diri sendiri
Usia 40 – 60 tahun Dapat menerima kemunduran
Mencapai tujuan hidup
Menunjukkan proses penuaan
Usia 60 tahun keatas Perasaan positif, menemukan makna hidup
Melihat kepada kelanjutan keturunannya

D. Pengertian Harga Diri Rendah

Harga diri adalah penilaian tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri (Keliat B.A, 1992)

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan
akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.Menurut Schult dan Videback (1998),
gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan yang
diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung.
Harga diri rendah dibagi menjadi dua yaitu :

1. Harga diri rendah situasional : keadaan dimana individu yang sebelumnya memiliki harga diri
positif mengalami perasaan negatif terhadap suatu kejadian. Apabila dari harga diri rendah situasional
tidak ditangani segera, maka lama kelamaan akan menjadi harga diri rendah kronik

Contoh : dapat terjadi trauma secara tiba-tiba. Dicerai putus sekolah, putus hubungan kerja, operasi

2. Harga diri rendah kronik : evaluasi diri yang negatif yang secara langsung maupun tidak langsung
diekspresikan (Townsend, 1998)

Contoh : Sebelumnya pasien sudah punya cara berpikir negatif lalu tiba-tiba ia sakit masuk RS yang
terjadi kejadian sakit/dirawat akan menambah persepsi negative terhadap dirinya

E. Batasan Karakteristik NANDA


Harga Diri Rendah Situasional Harga Diri Rendah Kronik

 Tidak berdaya  Bergantung pada pendapat orang lain


 Perilaku bimbang  Melebih-lebihkan umpan balik negatif
 Perilaku tidak asertif tentang diri sendiri
 Tanpa tujuan  Secara berlebihan mencari penguatan
 Ungkapan negative tentang diri  Rasa bersalah
 Tantangan situasi tentang harga diri  Enggan mencoba hal baru
 Meremehkan kemampuan menghadapi  Perilaku bimbang
situasi  Perilaku tidak asertif
 Sering kali mencari penegasan
 Pasif
 Kontak mata kurang
 Menolak umpan balik positif
 Kegagalan hidup berulang
 Rasa malu
 Meremehkan kemampuan mengatasi
situasi

F. Etiologi
a) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orangtua, harapan orangtua yang
tidak realita, kegagalan yang berulang kali, tanggungjawab personal yang kurang,
ketergantungan pada oranglain dan ideal diri yang tidak realistis
b) Stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti trauma
penganiaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam
c) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu
mengalami frustasi

Ada tiga transisi peran :

a. Transisi peran perkembangan


Perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-
nilai tekanan untuk penyesuaian diri.
b. Transisi peran situasi terjadi
Dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran dan kematian
c. Transisi peran sehat-sakit
Sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Yang dicetuskan oleh
kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh,
perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan

G. Rentang Respon

Menurut Stuart and Sundeen (1998:230)

1. Aktualisasi diri : Pengungkapan perasaan/kepuasan dari konsep diri positif. Pernyataan tentang
konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman yang sukses.
2. Konsep diri positif : Bagaimana seseorang memandang apa yang ada pada dirinya, meliputi :
citra diri, ideal diri, harga diri, penampilan peran dan identitas dirinya secara positif.
3. Harga diri rendah : Perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan
merasa gagal mencapai keinginan
4. Kerancuan identitas : Ketidakmampuan individu mengintegrasikan aspek psikologis pada
masa dewasa, sifat kepribadian yang bertentangan, dan perasaan hampa. Contoh perilaku,
seperti tidak ada kode moral, sifat kepribadian yang bertentangan, perasaan mengambang
tentang diri sendiri, dan ketidakmampuan untuk empati terhadap orang lain
5. Depersonalisasi : Perasaan yang tidak realistis terhadap diri sendiri yang berhubungan
dengan kecemasan, kepanikan, dan tidak dapat membedakan dirinya dengan oranglain.
Merasa asing terhadap oranglain dan kehilangan identitas

H. Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan,
pada tahap ini semua data informasi tentang klien yang dibutuhkan dan dianalisa untuk
menentukan diagnosa keperawatan. Tahap pertama pengkajian meliputi faktor predisposisi seperti
psikologis, tanda dan tingkah laku klien dan mekanisme koping klien.

a. Faktor predisposisi
Dikategorikan menjadi empat, yaitu :
- Faktor yang memengaruhi harga diri, misalnya penolakan orangtua,harapan orang tua yang
tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain.
- Ideal diri tidak realistis
Ideal diri atau tujuan adalah asumsi yang tidak diungkapan, dan orang mungkin tidak segera
menyadari. Hal ini direfleksikan dengan harapan yang tinggi dan tidak realistis. Contohnya
seseorang mengatakan “Saya harus selalu berada dipuncak efisiensi. Saya tidak boleh lelah,
sakit atau membuat kesalahan.”
- Faktor-faktor yang memengaruhi penampilan peran
Terbagi menjadi tiga, yaitu :
a) Peran sesuai dengan gender/jenis kelamin, contohnya perempuan dianggap kurang
kompeten, kurang objektif dan kurang logis daripada pria.
b) Peran dalam pekerjaan, contohnya : perempuan dinyatakan sebagai sosok ideal dalam
hal pernikahan, anak-anak, pendidikan tinggi dan kepuasan bekerja diluar rumah.
c) Peran dalam kebudayaan, contohnya : kebudayaan sunda yang menganut budaya
patriarki, dimana seorang pria memegang peranan besar dilingkungan.
- Faktor-faktor yang memengaruhi identitas personal, yaitu orang tua yang tidak percaya pada
anak, tekanan teman sebaya, dan kultur sosial yang berubah.
b. Faktor presipitasi
Dibedakan menjadi :
- Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah stres yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu
dalam peran atau posisi yang diharapkan.
- Konflik peran adalah ketidaksesuaian peran antara yang dijalankan dengan yang diinginkan.
- Peran yang tidak jelas adalah kurangnya pengetahuan individu tentang peran yang
dilakukannya.
- Peran berlebihan adalah kurangnya sumber adekuat untuk menampilkan seperangkat peran
yang kompleks.
- Transisi perkembangan adalah perubahan normal yang terkait dengan pertumbuhan, dapat
juga diartikan sebagai perubahan norma yang berkaitan dengan nilai untuk menyesuaikan
diri.
- Situasi transisi peran adalah bertambah atau berkurangnya orang penting dalam kehidupan
individu melalui kelahiran atau kematian orang yang berarti.
- Trauma, misalnya kekerasan fisik, seksual atau psikologis.
- Transisi sehat-sakit, adalah pergerakan dari keadaan sehat ke keadaan sakit.
- Stressor biologis
Stressor fisiologis (biologis) dapat menganggu perasaan realitas seseorang, menganggu
persepsi akurat tentang dunia dan mengancam ego dan identitas. Stressor ini biasanya
menghasilkan perubahan yang bersifat sementara.

Secara umum, gangguan konsep diri Harga Diri Rendah ini dapat terjadi secara
situasional atau kronik. Secara situasional misalnya karena trauma yang muncul secara tiba-tiba
misalnya harus dioperasi , kecelakaan, perkosaan atau dipenjara termasuk dirawat di RS dapat
menyebabkan harga diri rendah disebabkan karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu
yang membuat klien tidak nyaman. Penyebab lainnya adalah harapan fungsi tubuh yang tidak
tercapai serta perlakuan petugas kesehatan yang kurang menghargai klien dan keluarga. Harga
Diri Rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah
memiliki pikiran negatif dan meningkat saat dirawat.
Baik faktor presdiposisi maupun presipitasi diatas bila memengaruhi seseorang dalam
berpikir, bersikap maupun bertindak, maka dianggap akan memengaruhi terhadap mekanisme
koping individu tersebut sehingga menjadi tidak efektif (mekanisme koping individu tidak
efektif). Bila kondisi pada klien tidak dilakukan intervensi lebih lanjut dapat menyebabkan klien
tidak mau bergaul dengan orang lain (isolasi sosial: menarik diri), yang menyebabkan klien asik
dengan dunia dan pikirannya sendiri sehingga dapat muncul risiko perilaku kekerasan.
Menurut Peplau dan Sulivan harga diri berkaitan dengan pengalaman interpersonal,
dalam tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti good me, bad me, not me, anak
sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak
oleh lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif akan menimbulkan harga diri
rendah. Menurut Caplan, lingkungan sosial akan memengaruhi individu, pengalaman seseorang
dan adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak
dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri
rendah.

c. Penilaian stressor/tanda dan gejala


Masalah konsep diri dipicu oleh stressor psikologis, sosiologis atau fisiologis, namun unsur
penting adalah persepsi klien terhadap ancaman.
Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah adalah :
- Mengejek dan mengkritik diri.
- Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
- Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan zat.
- Menunda keputusan.
- Sulit bergaul.
- Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
- Menarik diri dari realitas, cemas, panik, cemburu, curiga, halusinasi.
- Merusak diri: Harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri hidup
- Merusak/melukai orang lain
- Perasaan tidak mampu
- Pandangan hidup yang pesimistis
- Tidak menerima pujian
- Penurunan produktivitas.
- Penolakan terhadap kemampuan diri.
- Kurang memerhatikan perawatan diri
- Berpakaian tidak rapih
- Berkurang selera makan
- Tidak berani menatap lawan bicara
- Lebih banyak menunduk.
- Bicara lambat dengan nada suara lemah.
d. Sumber Koping
Perawat dan klien penting untuk mempertimbangkan sumber koping yang memungkinkan.
Semua orang, tidak peduli seberapa jauh perilaku mereka terganggu, mereka memiliki beberapa
area kelebihan personal. Kelebihan ini termasuk :
- Olahraga dan kegiatan diluar ruangan
- Hobi dan Kerajinan
- Seni ekspresif
- Kesehatan dan perawatan diri
- Pendidikan atau pelatihan
- Vokasi atau posisi
- Bakat khusus
- Intelijensi
- Imajinasi dan Kreativitas
- Hubungan interpersonal

Ketika aspek positif klien menjadi jelas, perawat harus berbagi hasil pengamatan dengan klien
untuk memperluas kesadaran diri klien dan menyarankan area yang mungkin untuk tindakan di
masa depan.
e. Mekanisme Koping
Mekanisme koping digunakan untuk menghadapi ansietas dan ketidakpastian kebingungan
identitas. Terbagi menjadi dua yaitu pertahanan jangka pendek dan pertahanan jangka panjang.
a.) Jangka Pendek
Empat kategori pertahanan jangka pendek adalah:
1) Memberikan pelarian sementara dari krisis identitas berupa kegiatan yang dilakukan
untuk lari sementara dari krisis: Pemakaian obat-obatan , kerja keras nonton TV terus-
menerus.
2) Memberikan identitas pengganti sementara berupa kegiatan mengganti identitas
sementara (ikut kelompok sosial, keagamaan, politik).
3) Sementara memperkuat atau meningkatkan rasa membaur diri berupa kegiatan yang
memberi dukungan sementara (Kompetisi oleh raga, Kontes popularitas).
4) Mewakili upaya jangka pendek untuk membuat identitas diri berarti dan pembauran
identitas untuk menegaskan bahwa makna hidup itu sendiri tidak berarti berupa kegiatan
mencoba menghilangkan identitas sementara (penyalahgunaan obat).
b.) Jangka Panjang
Salah satu pertahanan jangka pendek mungkin dikembangkan menjadi pertahanan jangka
panjang yang menghasilkan perilaku maladaptif
1) Mengenali penyitaan atau menutup identitas.
Hal ini terjadi ketika orang mengadopsi “siap pakai” jenis identitas yang diinginkan oleh
orang lain tanpa benar-benar menjadi aspirasi atau inspirasi mereka sendiri.
2) Identitas Negatif : Asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat.
Dalam hal ini orang mencoba untuk mendefinisikan diri dengan antisosial. Pilihan
identitas negatif adalah upaya untuk mempertahankan beberapa penguasaan situasi
dimana identitas positif tampaknya tidak mungkin.
I. Pohon Masalah (Theory)

J. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan gangguan status kesehatan jiwa klien baik aktual
maupun potensial yang dapat diubah melalui tindakan keperawatan yang dilakukan didalam
diagnosa keperawatan terdapat pernyataan respon klien dimana perawat bertanggung jawab dan
mampu mengatasinya.

Diagnosa Keperawatan yang ditemukan :

- Harga Diri Rendah (Kronis, Situasional, Risiko Situasional).


- Koping Individu Tidak Efektif
- Isolasi Sosial
- Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
- Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan
K. Intervensi Keperawatan

No Dx Perencanaan
Tgl
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

1 Harga diri TUM: klien tidak 1. Setelah 3kali 1. Bina hubungan saling
rendah kronis menarik diri dan interaksi, klien percaya dengan meng-gunakan
berhubungan mampu menunjukkan prinsip komunikasi terapeutik :
dengan koping berhubungan eskpresi wajah
terhadap dengan orang bersahabat, menun-  Sapa klien dengan
kehilangan lain secara jukkan rasa senang, ramah baik verbal
tidak efektif optimal ada kontak mata, maupun non verbal.
mau berjabat  Perkenalkan diri
TUK: tangan, mau dengan sopan.
menyebutkan nama,  Tanyakan nama
-klien dapat lengkap dan nama
mau menjawab
membina panggilan yang
salam, klien mau
hubungan saling disukai klien.
duduk
percaya  Jelaskan tujuan
berdampingan
dengan perawat, pertemuan.
- klien dapat
mau mengutarakan  Jujur dan menepati
mengidentifikasi
masalah yang janji.
kemampuan dan
dihadapi.  Tunjukan sikap empati
aspek positif
dan menerima klien
yang dimiliki
apa adanya.
1. Klien dapat  Beri perhatian dan
membina perhatikan kebutuhan
hubungan dasar klien.
saling percaya
dengan
perawat.

2. Klien dapat 2. Setelah 3 kali 2.1. Diskusikan dengan klien


mengidentifik interaksi klien tentang:
asi aspek menyebutkan:
positif dan  Aspek positif yang
kemampuan o Aspek dimiliki klien,
yang dimiliki. positif dan keluarga, lingkungan.
kemampuan  Kemampuan yang
yang dimiliki klien.
dimiliki 2.2 Bersama klien buat daftar
klien. tentang:
o Aspek positif  Aspek positif klien,
keluarga. keluarga, lingkungan.
o Aspek positif  Kemampuan yang
lingkung-an dimiliki klien.
klien. 2.3.Beri pujian yang realistis,
hindarkan memberi
penilaian negatif.
3. Klien dapat 3. Setelah 3 kali 3.1. Diskusikan dengan klien
me-nilai interaksi klien kemampuan yang dapat
kemampuan menyebutkan dilaksanakan.
yang dimiliki kemampuan yang 3.2. Diskusikan kemampuan
un-tuk dapat yang dapat dilanjutkan
dilaksanakan dilaksanakan. pelaksanaannya.

4. Klien dapat 4. Setelah 3 kali 4.1. Rencanakan bersama klien


merencanakan interaksi klien aktivitas yang dapat
kegiatan membuat rencana dilakukan setiap hari
sesuai dengan kegiatan harian sesuai kemampuan klien:
kemampuan
yang dimiliki  kegiatan mandiri.
 kegiatan dengan
bantuan.
4.2. Tingkatkan kegiatan
sesuai kondisi klien.
4.3. Beri contoh cara
pelaksanaan kegiatan yang
dapat klien lakukan.

5. Klien dapat 5. Setelah … kali Anjurkan klien untuk


melakukan interaksi klien melaksanakan kegiatan yang
kegiatan melakukan telah direncanakan.
sesuai rencana kegiatan sesuai Pantau kegiatan yang
yang dibuat. jadual yang dilaksanakan klien.
dibuat. Beri pujian atas usaha yang
dilakukan klien.
Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan kegiatan setelah
pulang.
6. Klien dapat 6. Setelah … kali 6.1. Beri pendidikan kesehatan
memanfaatkan interaksi klien pada keluarga tentang cara
sistem pendu- memanfaatkan merawat klien dengan
kung yang sistem harga diri rendah.
ada. pendukung yang
ada di keluarga. 6.2. Bantu keluarga
memberikan dukungan
selama klien di rawat.
6.3. Bantu keluarga
menyiapkan lingkungan di
rumah.
K. Strategi Pelaksanaan

Harga Pasien Keluarga


Diri
Rendah SP I SP I

1. Mengidenfikasi kemampuan dan 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan


aspek positif yang dimiliki pasien keluarga dalam merawat pasien
2. Membantu pasien menilai 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan
kemampuan pasien yang masih gejala harga diri rendah yang dialami
dapat digunakan pasien beserta proses terjadinya
3. Membantu pasien memilih 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien
kegiatan yang akan dilatih sesuai harga diri rendah
dengan kemampuan pasien
4. Melatih pasien sesuai kemampuan
yang dipilih
5. Memberikan pujian yang wajar
terhadap keberhasilan pasien
6. Menganjurkan pasien SP II
memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara
merawat pasien dengan harga diri
rendah
SP II 2. Melatih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada pasien harga
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan diri rendah
harian pasien
2. Melatih kemampuan kedua
3. Menganjurkan pasien SP III
memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian 1. Membantu keluarga membuat jadual
aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Menjelaskan follow up pasien setelah
pulang

a) TAK Stimulasi Persepsi: Harga Diri Rendah


Sesi 1: Identifikasi Hal Positif Pada Diri

Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya

Setting : 1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran

2. Ruangan nyaman dan tenang


Alat : 1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK

2. Kertas putih HVS sebanyak klien peserta TAK

Metode : 1. Diskusi

2. Permainan

Langkah Kegiatan

1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan harga diri rendah
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
 Salam dari terapis kepada klien
 Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama)
 Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
 Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengidentifikasi hal positif diri sendiri
 Terapis menjelaskan aturan main berikut
- Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis memperkenalkan diri: nama lengkap dan nama panggilan serta memakai
papan nama
b. Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien
c. Terapis meminta tiap klien menulis hal positif tentang diri sendiri: kemampuan yang
dimiliki, kegiatan yang biasa dilakukan di rumah dan di rumah sakit

Hal positif dapat berupa:


 Kelebihan atau kemampuan klien yang membanggakan
 Prestasi yang pernah diraih klien (saat sekolah, di tempat pekerjaan, lingkungan
rumah)
 Hal-hal yang menyenangkan dari dirinya (sifat positif, kondisi tubuh yang sehat),
dari keluarga (saling menyayangi, saling memperhatikan), dari lingkungan
(tetangga yang ramah, saling menghargai)
Catatan: terapis harus menuntun satu demi satu klien agar dapat mengidentifikasi
aspek positif diri sebanyak-banyaknya karena umumnya klien harga diri rendah
kesulitan mengidentifikasi hal positif diri.
d. Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis secara bergiliran
sampai semua klien mendapatkan giliran. Tanyakan perasaan klien setelah
teridentifikasi hal positif diri.
Catatan: dengan mampu mengidentifikasi aspek positif diri sebanyak mungkin
diharapkan akan menggantikan persepsi negative diri klien dan meningkatkan harga
diri klien secara bertahap.
e. Terapis memberi pujian pada klien.
4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
 Terapis memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.
c. Kontrak yang akan datang
 Menyepakati TAK yang akan dating, yaitu melatih hal positif diri yang dapat
diterapkan di rumah sakit dan rumah.
 Menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi:
harga diri rendah sesi 1, kemampuan klien yang diharapkan adalah menuliskan pengalaman dan
aspek positif (kemampuan) yang dimiliki. Formulir sbb.

Menulis Positif Membacakan Hal Mengekspresikan Perasaan


NO. Nama Klien
Diri Positif Diri Terhadap Aspek Positif Diri
1.
2.
3.
4.
5.
Petunjuk:

 Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
 Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menulis pengalaman yang
tidak menyenangkan dan aspek positif diri sendiri. Beri tanda(v) jika klien mampu
dan tanda (-) jika klien tidak mampu
Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap
klien. Contoh: klien mengikuti sesi 1, TAK stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien mampu
menuliskan tiga hal pengalaman yang tidak menyenangkan, mengalami kesulitan menyebutkan
hal positif diri. Anjurkan klien menuliskan kemampuan dan hal positif dirinya dan tingkatkan
reinforcement (pujian).

Sesi 2: Melatih Hal Positif pada Diri

Tujuan :

1. Klien dapat menilai hal positif diri yang dapat digunakan.


2. Klien dapat memilih hal positif diri yang akan dilatih/dilakukan.
3. Klien dapat mempergerakan hal positif diri yang telah dipilih.
4. Klien dapat menjadwalkan penggunan kemampuan/hal positif diri yang telah dilatih /
diperagakan.

Setting :

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Sesuaikan dengan kemampun yang akan dilatih.
3. Ruangan nyaman dn tenang

Alat :

1. Spidol dan papan tulis / whiteboard/flipchart.


2. Sesuaikan dengan kemampuan yang akan dilatih/ diperagakan.
3. Kertas daftar kemampuan positif pada sesi 1.
4. Jadwal kegiatan sehari-hari dan pulpen

Alat dan bahan sesuaikan dengan hal positif yang akan dilatih atau
diperagakan. Jika memungkinkan semua anggota kelompok dapat memperagakan
secara bergantian. Tetapi jika tidak memungkinkan, peragaan dilakukan secara
bergantian dalam sesi berikutnya. Satu sesi untuk dua peragaan, sementara klien lain
memberikan apresiasi positifnya kepada klien yang memperagakan.

Metode :

1. Diskusi dan tanya jawab


2. Bermain
Langkah kegiatan :

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam
 Salam dari terapis kepada klien
 Klien dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi
 Menanyakan perasaan klien saat ini.
 Menanyakan apakah ada tambahan hal positif klien
c. Kontrak
 Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu melatih/ memperagakan hal positif
pada klien
 Terapis menjelaskan aturan main berikut.
- Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Terapis meminta semua klien membaca ulang daftar kemampuan positif pada sesi
1 dan memilih satu untuk dilatih
b. Terapis meminta klien menyebutkan pilihannya dan ditulis di whiteboard
c. Terapis meminta semua klien untuk memilih satu dari daftar di whiteboard.
Kegiatan yang paling banyak dipilih diambil untuk dilatih
d. Terapis melatih/meminta klien memperagakan cara pelaksanaan
kegiatan/kemampuan yang dipilih dengan cara berikut.
- Terapis memperagakan
- Klien memperagakan ulang (semua klien mendapat giliran)
- Berikan pujian sesuai dengan keberhasilan klien.
e. Kegiatan a sampai dengan d, dapat diulang untuk kemampuan / kegiatan yang
berbeda.

Jika kemampuan positif yang dipilih oleh klien bermacam-macam,


jadwalkan dalam sesi-sesi berikutnya. Untuk hal positif yang sama dapat diberi
kesempatan dalam sesi yang sama. Untuk itu jumlah sesi dapat bervariasi, tidak
terbatas dalam 2 sesi. Terapis dapat merencanakan jumlah sesi sesuai kebutuhan.
Target yang ingin dicapai adalah semua anggota kelompok dapat memperagakan
aspek positifnya dan mendapat apresiasi dari anggota kelompok lain sehingga
“perasaan berharga” dapat ditingkatkan untuk seluruh anggota kelompok. Untuk
itu masing-masing anggota kelompok dilatih memberikan apresiasi positif kepada
anggota yang telah memperagakan hal positif diri.
Cara memberi apresiasi positif:

- Memberikan pujian untuk setiap aspek positif.


- Jika mau memberikan kritik, berikan pujian aspek positifnya, “ yang
sudah sangat bagus dari yang diperagakan adalah...” “ luar biasa / bagus
sekali untuk...” dan kritikan disampaikan dengan kata-kata: “yang perlu
ditingkatkan adalah...kalau itu dilakukan maka hasilnya akan jauh lebih
baik lagi...”

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
- Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK (terutama perasaannya
setelah memperagakan hal positif diri dan mendapatkan apresiasi dari orang lain).
- Terapis memberikan oujian kepada kelompok.
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien memasukkan kegiatan yang telah dilatih pada jadwal kegiatan
sehari-hari.
c. Kontrak yang akan datang
- Menyepakati TAK yang akan datang untuk hal positif lain.
- Menyepakati waktu dan tempat sampai aspek positif selesai dilatih.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi
harga diri rendah sesi 2, kemampuan klien yang akan dilatih dan memperagakannya. Formulir
evaluasi sebagai berikut.

Mengekspresikan Perasaan
Menulis Positif Membacakan Hal
NO. Nama Klien Terhadap Aspek Positif
Diri Positif Diri
Diri
1.
2.
3.
4.
5.

Petunjuk:

 Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
 Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan membaca ulang daftar hal
positif pada dirinya, memilih satu hal positif untuk dilatih dan memperagakan
kegiatan positif tersebut. Beri tanda (v) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien
tidak mampu.

Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap
klien. Contoh: klien mengikuti sesi 2, TAK stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien telah
melatih merapikan tempat tidur. Anjurkan dan jadwalkan agar klien melakukannya serta berikan
pujian.

Catatan:

Untuk sesi 3 dan seterusnya dapat dilakukan dengan menjadwalkan kesempatan memperagakan
aspek positif masing-masing anggota kelompok. Bahkan bisa dilakukan tidak hanya sekali, tetapi
sampai beberapa kali sampai dengan anggota kelompok merasakan harga dirinya meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Yosep, Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Fajariyah, Nur. 2012. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN HARGA DIRI


RENDAH (Strategi, Pelaksanaan HDR, Menarik Diri, Halusinasi dan Resiko Tinggi Prilaku
Kekerasan). Jakarta: CV. Trans Info Media.

Stuart, Gail.W. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan Jiwa Stuart Buku 1 Edisi Indonesia.
Jakarta: Elsevier.

Afnuhazi, Ridhyalla. 2015. Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:


Gosyen Publishing.

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa (Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: CV
ANDI OFFSET.

Sutejo. 2017.Keperawatan Jiwa Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan


Jiwa:Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta : Pustaka baru Press

Keliat, B& Akemat. (2011). Keperawatan jiwa: Terapi aktivitas fisik. Jakarta:EGC