Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

Guru Pembimbing : Ali Riyanto S.Pd.I

Disusun Oleh :
Lindiani

Yayasan Al-Muhibbin
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Muliasari
Madrasah Aliyah
Tahun Ajaran 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyebaran dan perkembangan Islam di Nusatara dapat dianggap sudah terjadi pada
tahun-tahun awal abad ke-12 M. Berdasarkan data yang telah diteliti oleh pakar
antropologidan sejarah, dapat diketahui bahwa penyiaran Islam di Nusantara tidak
bersamaan waktunya, demikian pula kadar pengaruhnya berbeda-beda di suatu daerah.
Berdasarkan konteks sejarah kebudayaan Islam di Jawa, rentangan waktu abad ke-15
sampai ke-16 ditandai tumbuhnya suatu kebudayaan baru yang menampilkan sintesis
antara unsur kebudayaan Hindu-Budha dengan unsur kebudayaan Islam. Kebudayaan
baru di dalam kepustakaan antara lain dikenal sebagai kebudayaan masa peralihan.
Berdasarkan temuan bukti-bukti arkeologis Islam di daerah pantai dan
pedalaman menunjukan bahwa apa yang digambarkan sebagai kebudayaan tersebut
sebagaian besar adalah hasil kebudayaan Islam yang tumbuh dan berkembang
bersamaan waktunya pada masa kejayaan hingga surutnya kerajaan Majapahit dan
tumbuhnya Demak sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa.
Pengetahuan tentang kebudayaan Islam masa peralihan di Jawa Timur kiranya
cukup penting. Sebagaimana pendapat Muhammad Habib Mustopo, ada dua hal yang
cukup penting tentang kebudayaan Islam masa peralihan di Jawa Timur. Pertama, untuk
melacak proses penyiaran Islam di lingkungan masyarakat, di bandar-bandar dan
dilingkungan keraton yang mayoritas beragama Hindu-Budha. Kedua, untuk
mengetahui latar belakang sejarah pertumbuhan seni bangunan dan tradisi sastra tulis
Islam yang masih memperlihatkan unsur-unsur budaya pra-Islam. Hasil budaya tersebut
sebagai kreatifitas yang berakar dan pengalaman kolektif sejak mengalami interaksi
dengan dan luar sekitar abad ke-4 M.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah sejarah Wali Songo, sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah tentang Walisongo?
2. Seperti apa biografi Walisongo?
BAB II
ISI

A. Sejarah Walisongo
Masuknya Islam ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir seperti Pasai, Gresik, Goa,
talo, Cirebon, Banten dan Demak. Hal ini terjadi karena pelabuhan sebagai pusat
perdagangan dan interaksi antar kawasan realitas ini mencerminkan bahwa masyarakat
Islam periode awal adalah masyarakat kosmopolit. Sebagaiman Islam didaerah lain,
Islam di Jawa juga berangkat dari daerah pesisir. Proses pergeseran menuju pedalaman,
ditengarai oleh Kuntowijoyo sebagai pergeseran Islam kosmopolit menuju Islam agraris
dan Islam yang mistik (Kuntowijoyo, 1995: 132). Sebagai pendapat Azra, ada empat hal
disampaikan histiografi tradisional. Pertama, Islam di Nusantara dibawa langsung dari
Tanah Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru atau juru dakwah profesional.
Ketiga, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah penguasa. Keempat,
sebagaian besar para juru dakwah profesional datang di Nusantara pada abad ke-12 dan
ke-13.
Perlu dibedakan pula antara kedatangan Islam, penyebaran Islam dan
pelembagaan Islam. Menurut Graaf (Graaf, 1989: 2), berdasarkan atas studinya terhadap
cerita cerita-cerita diseputar Islamisasi di Nusantara dapat dibedakan bahwa ada tiga
metode penyebaran Islam, yaitu pedagang muslim, oleh para da’i dan orang suci (wali)
yang datang dari India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang
kafir dan meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman. Masa penyebaran
Islam yang paling dominan adalah pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan
melalui perdagangan. Pendapat seperti ini diangkat oleh para sarjana Barat khususnya
Belanda, diantaranya adalah Wertheim.
Melihat proses masuknya Islam di Indonesia dari perspektif perkembangan
nampaknya dapat dikompromikan bahwa Islam di Jawa mengalami tiga tahap. Pertama,
masa awal masuknya Islam ke Wilayah Indonesia terjadi pada abad VII M. Kedua,
masa penyebaran keberbagai pelosok dilaksanakan pada abad VII sampai XIII M.
Ketiga, masa perkembangan yang terjadi mulai abad XIII M dan seterusnya. Sedangkan
sejarah Jawa akhir abad ke 15 hingga awal abad ke 16 mempunyai arti penting bagi
perkembangan Islam. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, sebagai masa
peralihan dari sistem politik Hindu- Budha yang berpusat dipedalaman Jawa Timur ke
sistem sosial politik Islam yang berpusat di pesisir utara Jawa tengah. Kedua, sebagai
puncak islamisasi di Jawa yang dilakukan oleh para wali.
Walisanga pada masa pelembagaan Islam menggunakan beberapa tahapan, yaitu
pertama mendirikan masjid. Dalam proses penyebaran Islam masjid tidak hanya
berfungsi untuk tempat beribadah tetapi juga tempat pengajian, dan dari majidlah proses
penyebaran Islam di mulai. Masa-masa awal proses islamisasi, masjid menjadi tempat
ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Islam. Di
dalam masjid segala aktifitas pengembangan Islam berlangsung. Banyak masjid yang
diyakini sebagai peninggalan Wali dan dinamakan Wali yang bersangkutan. Seperti
masjid yang didirikan oleh Raden Rahmat yang diberi nama Laqab sebagaimana tradisi
Timur Tengah – Sunan Ampel, sehingga masjidnya dinamakan Masjid Ampel, masjid
Giri didirikan oleh Sunan Giri, Masjid Drajat yang didirikan oleh Sunan Drajat dan
sebagainya. Selain nmasjid dalam pembentukan kelembagaan Islam Walisongo dalam
penyebaran Islam juga mendirikan pesantren. Didalam khazanah penyebaran Islam,
setiap Wali memiliki pesantren yang dinisbahkan dengan nama wali tersebut berada.
Seperti pesantren Ampel, pesantren Bangkuning, Pesantren Drajat, pesantren Giri dan
sebagainya.
Peranan pesantren sebagai lembaga penyebaran Islam di Jawa telah dibahas
secara mendalam oleh ahli sejarah, misalnya Soebardi (1976) dan Anthony Jhon,
sebagaimana dikutip oleh Dhofier. Lembaga pesantren itulah yang paling menentukan
watak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam dan yang memegang peranan paling
penting bagi penyebaran Islam sampai pelosok-pelosok. Dari lembaga-lembaga
pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran islam di Asia
Tenggara, yang tersedia secara terbatas. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah
Islamisasi diwilayah ini, kita harus mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut,
karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah
ini. Pesantren menjadi sangat penting tatkala pelembagaan Islam telah berjalan
sedemikian rupa. Pada abad ke-20, munculah berbagai pesantren yang menjadi lembaga
untuk pengembangan Islam dengan segala sistem pembelajaran dan pengajaran yang
khusus yaitu sorogan,wetonan dan bandongan.

B. Biografi Walisongo
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang
Sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada Sembilan, atau sanga dalam bahasa
Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang
dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sanga berasal
dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang
dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
5. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut
juga Sunan Gresik, atau Sunan Thandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo.
Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut
catatandari As-Sayyid Baharuddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya
kemudian dibukukan dalam Ensiklopedia Nasab
Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid). Dalam catatan itu tertulis: As-
Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid
Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid
Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin
As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam
Ahmad Al-Muhajir Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi
bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal
Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib,
binti Nabi Muhammad.
Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal di abad ke-14.
Babab Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan
lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy. Dalam cerita rakyat, ada yang
memanggilnya Kakek Bantal.
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama: 1. Siti Fatimah binti Ali Nurul
Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama:
Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah 2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4
anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan Jamilah binti
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memilik 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid
Fadhal Ali Murtadha (Sunan Santri/Raden Santri) dan melahirkan dua putra yaitu Haji
Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid
Ja’far Shadiq (Sunan Kudus).
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang
mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara bercocok tanam dan banyak
merangkul rakyat, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan
Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis
ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran,
Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura
Wetan, Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad,
menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa
yang bernama Dewi Cindro Wulan binti Raja Champa terakhir dari Dinasti Ming.
Nasab lengkapnya sebagai berikut: Suna Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-
Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid
Abdullah bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin
Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin
Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad
bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin
Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel dianggap sebagai sesepuh oleh para wali
lainnya.
Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabay, dan merupakan adalah satu pusat
penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang
bergelar Nyai Ageng Manila, putrid adipati Tuban bernaman Arya Teja dan menikah
juga dengan Dwi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan Sunan Ampel dengan
Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,
Siti Syari’ah, Sunan Derajat, Sunan Sedayu, Siti Muthmainah dan Siti Hafsah.
Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:
Dewi Murtasiyah, Asyiqah, Raden Hasamuddin (Sunan Lamongan, Raden Zainal
Abidin) (Sunan Demak), Pangeran Tumpel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam
Sunan Ampel terletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Bonang ((Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari
Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putrid
adipati Tuban bernaman Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian
untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai
penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.
Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan boning. yang
sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya
sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J.
Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya.
Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525.

4. Sunan Drajat.

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupsakan keturunah ke-23 dari Nabi
Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja. Sunan Drjat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia
menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat.,
sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara
mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di desa Drajat, Kecamatan Paciran,
Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaanya. Gamelan
Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.
Sunan Drajat diperkirakan wafat pada tahun 1522.

5. Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan
Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng
Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi
Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin
Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin
Ali Khali’ Qasam bin Alwi Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir
bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi
Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar
dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaiutu sebagai panglima perang, penasehat
Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di
kalangan kaum penguasa danpriyai Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya,
ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan.
Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat
pada tahun 1550.

6. Sunan Giri

Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi
Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan
Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Kedaton, Gresik. Selanjutnya, ia
berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia Timur, bahkan
sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri
Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.
7. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau
Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan
Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk
berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-
Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagain hasil karyanya. Dalam satu
riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana
Ishaq, menikah juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti
Raja Kediri.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra
dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq.
Sunan Muria menikah dengan Dwi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria
adalah adik ipar dari Sunan Kudus.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah
Umdatuddin putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak Ibu, ia masih keturunan
keratin Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja.
Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya
yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan
menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal
berdirinya Kesultanan Banten.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada
masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk menifestasi peradaban
baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke
pemerintahan.
Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat Sembilan nama yang
dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
5. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
B. Saran
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk
perbaikan di masa mendatang.