Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN DISKUSI REFLEKSI KELOMPOK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.I DENGAN


GANGGUAN NAFAS SEDANG
DI RUANG PBRT RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH :
1. CAHYA TRI UTAMI
2. APRILIA ALDILA ENGGARDINI
3. FIRA DEWI CAHYANI
4. HIDAYATUL FAIZZAH
5. TSANIYA SALSABILA

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2020
ABSTRAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.I DENGAN
GANGGUAN NAFAS SEDANG
DI RUANG PBRT RSUP dr. KARIADI SEMARANG

Sindrom Gawat Napas (RDS) adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis,


dan histology yang terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit
perrnapasan yang kecil dan sulit mengembang dan tidak menyisakan udara di
antara usaha napas. Tujuan dari makalah ini adalah memberikan asuhan
keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan napas sedang. Setelah dilakukan
beberapa tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam dan didapat hasil objektif :
Bayi menggunakan alat bantu nafas (nasal kanul), S: 36oC, N: 132x/menit, RR:
47x/menit; kulit bayi berwarna coklat, BAB (+), BAK (+), posisi supinasi,
terpasang penghangat incubator. Pada bayi dengan gangguan napas sedang,
dikarenakan fungsi paru yang belum bekerja dengan optimal sehingga perlunya
bantuan napas menggunakan HFNC dengan flow 5liter/menit. Sehingga perlunya
dievaluasi setiap 4 jam meliputi mukosa, cuping hidung, retraksi dada, kedalaman
nafas, respiratory rate, gerakan bayi dan saturasi oksigen.

Kata kunci :Gangguan Napas Sedang, Neonatus, Ketidakefektifan Pola Napas


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Bayi baru lahir prematur adalah persalinan sebelum usia kehamilan
37 minggu atau berat badan lahir antara 500-2499 gram. Kejadianya masih
tinggi dan merupakan penyebab utama kematian neonates, di Amerika Serikat
kejadianya 8- 10%, sementara di Indonesia 16-18% dari semua kelahiran
hidup. Ibu yang pernah melahirkan bayi prematur beresiko 20-30%
melahirkan bayi prematur kembali di kehamilan berikutnya. Akan tetapi, 50%
itu yang mengalami prematur tidak mempunyai faktor resiko (Bobak, 2005).
Bayi Prematur beresiko karena sistem-sistem organnya tidak matur
dan cadangannya kurang. Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga
sampai empat kali dari pada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat
dibandingkan. Masalah-masalah potensial dan kebutuhan perawatan bayi
premtur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi
aterm, pascaterm, atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama
(Bobak, 2005).
Bayi prematur beresiko terkena penyakit Sindrom Gawat
Pernafasan, yang diduga disebabkan oleh kanguru defisiensi surfaktan.
Kemampuan paru untuk mensitesis surfaktan berkembang lambat pada masa
kehamilan, yakni pada sekitar bulan ketujuh, dan dengan demikian bayi
prematur tidak memiliki surfaktan ( Perry & potter, 2005 ).
Sindrom Gawat Napas (RDS) adalah sekumpulan temuan klinis,
radiologis, dan histology yang terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru
dengan unit perrnapasan yang kecil dan sulit mengembang dan tidak
menyisakan udara di antara usaha napas. Istilah-istilah Hyaline Membrane
Disease (HMD) sering kali digunakan saling bertukar dengan RDS, Tetapi
sebenarnya oksigenasi sendi dan nafas pada cedera paru tertentu
pembentukan membranhialin, yakni bekuan plasma yang berisi fibrin,
kandungan plasma lain, dan debris seluler.
Persentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi
pada bayi yang lagir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu, 15-30%
pada bayi antara 32-36 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi cukup
bulan(matur). Insidens pada bayi premature kulit putih lebih tinggi dari pada
bayi kulit hitam dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki dari pada bayi
perempuan (Nelson,1999). Selain itu kenaikan frekuensi juga ditemukan pada
bayi yang lahir dari ibuyang menderita gangguan perfusi darah uterus selama
kehamilan misalnya,ibu penderita diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta
perdarahan antepartum.
Selain Ilmu anatomi, subtansi biokimia juga penting untuk
keselamatan bayi waktu lahir. Hal yang paling penting untuk paru-paru janin
ialah surfaktan, yaitu suatu campuran lipoprotein aktif dengan permukaan
yang melapisi alveoli dan mencegah alveoli kolaps pada akhir ekspirasi.
Sebagai bola yang cendrung kolaps dengan sendirinya. Jika alveoli kolaps
saat ekspirasi, akan diperlakukan banyak tekanan yang lebih tinggi untuk
membukanya saat inspirasi. Surfaktan berfungsi mengurangi tekanan
permukaan pada alveoli sehingga dapat menurunnya tekanan yang diperlukan
untuk membuka alveoli selama pengembangan ekspirasi.
Pada usia gestasi sekitar 16-20 minggu,beberapa sel epitel yang
melapisi jalan napas mulai berdiferensiasi menjadi sel-sel tipe II. Selsel
tersebut bertangguang jawab terhadap produksi asi ibu dan sintesis surfaktan
pada awal kehamilan, sel-sel itu menonjol pada setiap ibu nifas yang
memiliki bayi premature tidak meneluarkan surfaktan ke dalam lapisan
alveolar sampai 10 minggu kemudian. Dengan demikian, bayi sehat yang
tidak mengalami asfikasi pada usia gestasi 30 minggu memiliki kemungkinan
lebih rendah untuk tekanann penyakit paru dari pada bayi yang dilahirkan
pada kehamilan lebih dini (Bobak, 2005).
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk membahas
mengenai asuhan keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan napas sedang
di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
B. Tujuan Umum
Melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan
napas sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang..
C. Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian bayi Ny.I dengan gangguan napas sedang di ruang
BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
2. Menetapkan diagnosa keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan
napas sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
3. Melakukan intervensi keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan
napas sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
4. Melakukan implementasi keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan
napas sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan napas
sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang.
D. Manfaat
1. Untuk Klien dan Keluarga
Asuhan keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan napas
sedang di ruang BBRT RSUP dr.Kariadi Semarang dapat dijadikan suatu
intervensi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dalam mengelola
bayi dengan gangguan napas sedang, sehingga ibu dapat memberikan
asuhan pada bayi seoptimal mungkin.
2. Untuk Institusi Pelayanan
Diharapka asuhan keperawatan pada bayi dengan gangguan napas
sedang dapat menjadi referensi dalam memberikan asuhan keperawatan
sehingga dapat mengembangkan kualitas pelayanan perawat.
3. Institusi Pendidikan
Asuhan keperawatan pada bayi Ny.I dengan gangguan napas
sedang dapat dijadikan sumber informasi dan pengetahuan dalam
mengelola klien secara langsung di dalam rumah sakit,sehingga dapat
menyelaraskan antara teori dan praktik dalam memeberikan asuhan
keperawatan seoptimal mungkin.
BAB II
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.I DENGAN
GANGGUAN NAFAS SEDANG
DI RUANG PBRT RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Tanggal Pengkajian : 30 Januari 2020, 14.30


Ruang/RS : Ruang PBRT RSUP Dr. Karaidi Semarang

A. Data Demografi
1. Klien / Pasien
Inisial klien : Bayi Ny. I
Tanggal lahir :17 Desember 2019
Agama : Islam
Alamat : Panggung Kidul, Semarang Utara
Diagnosa Medis : Gangguan Nafas Sedang
2. Orang Tua / Penanggung Jawab
Ibu
Nama : Ny. I
Umur : 33tahun
Hub. Dengan klien : Ibu
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : S1
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Panggung Kidul, Semarang Utara
Ayah
Nama : Tn. T
Umur : 38tahun
Hub. Dengan klien : Ayah
Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Agama : Panggung Kidul, Semarang Utara
Alamat : Semarang

B. Riwayat Klien
1. Riwayat Kehamilan
ANC :Ibu klien mengatakan rutin memeriksakan kehamilanya ke dokter
Sp.Og ( lebih dari 4x)
Riwayat penggunaan obat – obatan :Ibu rajin minum tablet Fe dengan nilai
Hb yang normal.
Klien pernah demam pada kehamilan 28minggu
2. Riwayat persalinan
Usia gestasi : 31 minggu
BB lahir : 1100 gram
Jenis Persalinan : Normal
Apgar score :7-8-9
0 1 2 APGAR-SCORE 1 menit 5 menit 10 menit
Tak ada < 100 >100 Denyut jantung 2 2 2
Tak ada Tak teratur Baik Pernafasan 2 2 2
Lemah Sedang Baik Tonus otot 1 1 2
Tak ada Meringis Menangis Peka rangsang 1 2 2
Biru/ putih Merah jambu Merah Warna 1 1 1
Ujung2 biru jambu
Total 7 8 9
7-10 : Beradaptasi baik
4-6 : Asfiksia ringan-sedang
0-3 : Asfiksia berat
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu klien sempat demam pada usia kehamilan 28 minggu dan klien
memeriksakan diri di RS Hermina, namun saat periksa tidak ada masalah
pada kandungan serta hasil lab baik, pada usia kehamilan 31 minggu ibu
klien mengalami kontraksi sehingga klien dibawa ke dokter kandungan dan
di rujuk ke RSUP Dr.Kariadi. Ibu klien bersalin normal di VK RSUP
Dr.Kariadi, klien lahir daan merupakan bayi kembar. Klien lahir dengan
berat badan 1100gram, kemudian klien dirawat di PBRT karena klien
mengalami gangguan nafas sedang.
4. Riwayat alergi
Tidak ada alergi pada ibu klien

C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat penyakit dalam keluarga
Ibu klien mengatakan tidak menderita penyakit keturunan seperti
DM, Hipertensi, dll dan tidak menderita penyakit menular seperti TBC,
Hepatitis,dll. Nenek klien dari ibu menderita hipertensi.
2. Genogram
D. Riwayat Penyakit Sekarang
1. Penampilan umum
a. Keadaan Umum
KU baik, bayi bergerak kurang aktif
b. Pemeriksaan Tanda – tanda vital
RR : 45x/menit
Suhu : 36.2oC
Nadi : 145x/menit
SpO2 : 99 %
2. Oksigenasi
Klien terpasang alat bantu nafas HFNC dengan Flow 5L/menit
Irama nafas : Regular (teratur)
Kedalaman nafas : dangkal
Penggunaan alat bantu nafas :ada
Penggunaan otot bantu napas :ada otot bantu nafas , tidak ada sianosis,
pernafasan cuping hidung (-)
3. Nutrisi
a. Berat Badan lahir : 1100 gr
b. Berat Badan Sekarang : 1245gr
c. Panjang badan : 40 cm
d. Lingkar kepala : 27 cm
e. Lingkar dada : 26 cm
f. Jenis nutrisi : Asi Ibu
g. Terpasang OGT : terpasang OGT no. 5
h. Residu OGT : 5 cc
i. Ada reflek menghisap
4. Cairan
a. Jenis minuman : ASI
b. Turgor kulit : kembali dengan segera < 2 detik
c. Bibir : lembab, berwarna merah muda
d. Ubun ubun : tidak cekung
e. Mata : conjungtiva tidak anemis
f. Kapilary refil : < dari 2 detik
5. Istirahat tidur
a. Status tidur – terjaga : klien tertidur terus, bangun saat terasa lapar,
BAB dan BAK
b. Kualitas tidur : kuat, baik, bayi tidur 15 jam perhari.
6. Aktivitas
a. Gerakan : kurang aktif
b. Tangisan : kuat
c. System Muskuloskeletal: Tonus otot baik, tidak terjadi gangguan

E. Pemeriksaan Head to toe


1. Integumen
- Suhu : 36.2o C,akral hangat
- Warna kulit : coklat kemerahan
- Integritas kulit
 Utuh
 Coklat kemerahan
 Seluruh kulit
2. Kepala dan leher
- Tengkorak : simetris , tidak ada kelainan
- Warna dan distribusi rambut : hitam
- Kelopak mata : betuk simetris , gerak simetris
- Warna konjungtiva : tidak anemis
- Sklera : tidak ikterik
- Telinga : bentuk simetris , bersih
- Hidung : bentuk simetris , tidak ada serumen , bersih
- Leher : bentuk normal
3. Dada, Paru-paru dan jantung
- Pengembangan dada simetris, ada retraksi
- Ictus cordis tidak teraba
- suara paru vesikuler
- suara jantung s1 s2 murni
4. Abdomen
- Bentuk simetris
- Tidak terdapat distensi abdomen
- Sudah BAB
5. Alat Kelamin
- Tidak ada kelainan
- Bayi berjenis kelamin laki-laki
- Tidak ada kemerahan/iritasi
6. Ekstermitas
- Atas : Terpasang infus pada tangan kanan, tidak ada oedema, akral
hangat
- Bawah : Tidak ada kelainan, tidak ada oedema, akral hangat
7. Perkembangan refleks
Bayi memiliki reflek moro yang baik, reflek menggengam ada,
refleks menghisap belum begitu kuat namun sudah bisa, menangis ketika
di stimulasi.

F. Pengkajian Psikososial
1. Respon Hospitalisasi
Tidak dapat dikaji
2. Pengetahuan orang tua tentang kondisi bayi
Orang tua klien tahu tentang kondisi klien
3. Kunjungan orang tua terhadap bayi
Ibu menengok bayi 2-3 kali dalam sehari
4. Interaksi orang tua dan bayi
Klien dengan ibu bertemu 2-3 kali dalam sehari, namun ibu tidak menyusui
klien karena klien masih terpasang OGT.
5. Suasana hati orang tua
Orang tua senang anaknya telah lahir kedunia dan senang melihat anaknya
mulai tampak sehat walaupun anaknya memiliki kelainan pada parunya.
G. TERAPI OBAT
Infus

 D10%+Na 18ml +K 4ml

 Aninosteril 6%

 Ivelip 0,8ml/jam

Obat Dosis Pemberian

Ca Glukonas 0,6ml/12jam Intravena

Aminofilin 4ml/8jam Intravena

Gentamicin 6ml/36jam Intravena

Cefotaxim 60ml/12jam Intravena

Paracetamool 15ml/6jam Intravena

Meropenem 30ml/8jam Intravena

Amikasin 12,5ml/24jam Intravena


H. DATA PENUNJANG
Hasil Lab 23 Desember 2019
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal Keterangan
Hematologi
Hemoglobin paket
Hemoglobin 15,7 g/dL 12,4-19,9
Hematocrit 47,7 % 32-44 H
Eritrosit 4,42 10^6/uL 3,8-5,2
MCH 35,5 pg 24-34 H
MCV 107,9 fL 83-110
MCHC 32,9 g/dL 29-3 H
Leukosit 9,9 10^3/uL 9-30
Trombosit 277 10^3/uL 150-400
RDW 16,1 % 11,5-14,8 H
MPV 11,7 fL 4-11
Hitung jenis
Eosinophil 4 % 2-4
Basophil 0 % 0-4
Batang 1 % 2-5 L
Segmen 60 % 70-80 L
Limfosit 26 % 36-46 L
Monosit 8 % 3-12
Kimia Klinik
Glukosa sewaktu 92 mg/dL 80-160
Calcium 1,82 mmol/L 2,12-2,52 H
Elektrolit
Natrium 148 mmol/L 138-145 H
Kalsium 2,4 mmol/L 3,5-5,0 L
Chloride 101 mmol/L 95-105
CRP 0,00 mg/dL 0-0,30
I. DAFTAR MASALAH
No Tgl/jam Data fokus Masalah Ttd
1. 30/12/2019 DS : - Ketidakefektifan
pola napas
14.50
DO :
berhubungan dengan
hiperventilasi
 Klien terpasang alat bantu nafas
HFNC Flow 5L/menit
 Nadi: 149x/menit; RR: 46x/menit
 Nampak klien menggunakan otot
bantu nafas

2 30 /12/ DS : - Ketidakseimbangan
2019
nutrisi kurang dari
DO :
14.55 kebutuhan tubuh bd
intake yang kurang
- BB saat lahir 1100 gram
- BB saat ini 1245 gram
- Klien diberikan diit ASI 2ml/jam
- Klien terpasang infus D10% + NaCl
3% 16ml + KCl 8ml dengan dosis
18ml/jam

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola nafas bd hiperventilasi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang kurang
K. INTERVENSI

NO. TGL/JAM DP TUJUAN INTERVENSI TTD


1. 30/12/2019 Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Monitor tanda tanda vital
pola nafas tindakan keperawatan dan warna kulit
15.00 WIB
berhubungan selama 3x24 jam 2. Posisikan supinasi
dengan diharapkan masalah pola 3. Pasang nassal kanul bayi
hiperventilasi nafas tidak efektif dapat 4. Tempatkan bayi baru
teratasi dengan kriteria lahir dibawah
hasil : penghangatan (dalam
inkubator)
- Bayi bernafas spontan
5. Kaji status pernafasan
- Oksigen adekuat
6. Berikan informasi
kepada keluarga
mengenai perawatan
bayi dengan gangguan
nafas sedang
2 30/12/2019 Ketidakseimban Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji refleks menghisap
gannutrisi keperawatan selama dan menelan
15.05 WIB
kurang dari 3x24 jam, kebutuhan 2. Ajarkan pada ibu untuk
kebutuhan nutrisi pada bayi merangsang bayi minum
tubuh Intake terpenuhi dengan kriteria ASI
yang kurang hasil : 3. Berikan ASI setiap 2 jam
sekali
1. Tidak terjadi
4. Timbang BB setiap hari
penurunan
BB/terjadi kenaikan
BB bayi
L. IMPLEMENTASI

NO. TGL/JAM DP IMPLEMENTASI RESPON TTD


1. 30/ 12/ 2019 Ketidakefekti 1. Memonitor tanda tanda 1. S : 36,2oC, RR:
fan pola vital dan warna kulit 45x/menit, Nadi:
16.00 WIB
nafas 2. Memposisikan supinasi 149x/menit
berhubungan 3. Memasang nassal kanul Kulit berwarna
dengan bayi pada klien kuning
hiperventilasi 4. Menempatkan bayi baru kemerahan, akral
lahir dibawah dingin
penghangatan (dalam 2. Bayi terpasang
inkubator) nassal kanul
5. Mengkaji status pernafasan dengan posisi
6. Menimbang BB bayi setiap supinasi
hari 3. BB Bayi hari ini :
1245 gram
30/ 12/ 2019 Ketidakseimb 1. Mengecek residu pada OGT 1. Bayi memiliki
angannutrisi klien residu pada OGT
16.00 WIB
kurang dari nya berwarna
kebutuhan kecoklatan
tubuh b.d sebanyak ±5ml
intake yang
kurang 2. Mengkaji refleks 2. Klien mampu
menghisap dan menelan menghisap namun
tidak kuat
2 30/ 12/ 2019 Ketidakefektif 1. Memonitor tanda tanda 1. S : 36oC, RR:
an pola nafas vital dan warna kulit 47x/menit, Nadi
16.30 WIB
berhubungan 2. Memposisikan supinasi 149x/ menit,
dengan 3. Menonitor pemasangan warna kulit
hiperventilasi nasal kanul pada bayi coklay
kemerahan
4. Menempatkan bayi baru 2. Bayi sudah tidak
lahir dibawah terpasang nasal
penghangatan (dalam kanul
inkubator) 3. Kulit berwarna
5. Mengkaji status pernafasan coklat
dan meposisikan ventilasi kemerahan, akral
yang maksimal pada bayi hangat
dengan ganjal pada bahu 4. Posisi supinasi
dan pemberian
ganjal pada bahu
agar
memaksimalkan
ventilasi
31/ 12 /2019 Ketidakseimb 1. Memonitor residu pada 1. Hasil residu bayi
angannutrisi OGT bayi berwarna
17.00WIB
kurang dari kecoklatan ±5ml
kebutuhan
tubuh b.d
intake yang
kurang
3 1/ 1/ 2010 Ketidakefekti 1. Memonitor tanda tanda 1. S : 37.4oC, RR:
fan pola vital dan warna kulit 51x/menit, Nadi
10.30 WIB
nafas 166x/ menit,
berhubungan warna kulit coklat
dengan kemerahan
hiperventilasi 2. Mengkaji status pernafasan 2. Posisi supinasi
dan meposisikan ventilasi dan pemberian
yang maksimal pada bayi ganjal pada bahu
dengan ganjal pada bahu agar
memaksimalkan
ventilasi
1/ 1 /2020 Ketidakseimb 1. Memonitor residu pada 1. OGT bayi tidak
angannutrisi OGT bayi ada residu
11.00 WIB
kurang dari 2. Memberikan diit ASI 2ml 2. Diit masuk, bayi
kebutuhan melalui OGT setiap 3jam tidak muntah
tubuh b.d sekali
intake yang
kurang
M. EVALUASI

Diagnosa
No Tanggal Catatan Perkembangan TTD
Keperawatan
1. 2/1/2020 Ketidakefektifan S:-
pola nafas
07.00 WIB O : Bayi menggunakan alat bantu nafas (nasal
berhubungan
kanul), S: 36oC, N: 132x/menit, RR:
dengan
47x/menit; kulit bayi berwarna coklat, BAB
hiperventilasi
(+), BAK (+), posisi supinasi, terpasang
penghangat incubator

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi:

1. Monitor tanda tanda vital dan warna kulit


2. Posisikan supinasi
3. Pasang nassal kanul bayi
4. Tempatkan bayi baru lahir dibawah
penghangatan (dalam inkubator)
5. Kaji status pernafasan
6. Berikan informasi kepada keluarga
mengenai perawatan bayi dengan gangguan
nafas sedang

2 2/1/2020 Ketidakseimbangan S:-


nutrisi kurang dari
07.10 WIB O : residu pada OGT bayi sudah tidak ada, bayi
kebutuhan tubuh
telah diberikan program diit pemberian ASI
b.d intake yang
12ml/3 jam, BB saat ini gram
kurang

A : Masalah teratasi sebagian


P : Lanjutkan intervensi

1. Kaji refleks menghisap dan menelan


2. Ajarkan pada ibu untuk merangsang bayi
minum ASI
3. Berikan ASI setiap 3 jam sekali
4. Timbang BB setiap hari
BAB III

PEMBAHASAN

Usia kehamilan ibu 31 minggu, BBL 1100 gr kembar, apgar score 7-8-9,
suhu badan 36,2oC, menggunakan otot bantu pernafasan dan pernafasan klien
dangkal, SpO2 99%, klien terpasang HFNC 5 lpm. Apabila bayi mengalami sesak
napas begitu lahir, biasanya disebabkan adanya kelainan jantung atau paru-paru.
Hal ini terjadi pada bayi dengan riwayat kelahiran normal atau bermasalah (lahir
prematur).
Pada bayi premaur, sesak napas bisa terjadi karena adanya kekurang
matangan dari organ paru-paru. Paru-paru yang seharusnya berfungsi saat bayi
pertama kali menangis, sebab saat ia menangis, saat itulah bayi mulai bernapas.
Tapi pada bayi lahir prematur (kurang dari 37 minggu) organ tubuhnya belum
matang, misalnya gelembung paru-paru tidak dapat mengembang, sehingga udara
tidak dapat masuk dan tidak terjadi pertukaran gas. Biasanya bayi dengan
gangguan pernafasan sedang ini gerakannya kurang aktif, dan tak jarang bayi
tampak sianosis. Oleh karena itu diberikan terapi alat bantu nafas High Flow
Nasal Canul sebanyak 5 lpm dan dievaluasi setiap 4 jam meliputi mukosa, cuping
hidung, retraksi dada, kedalaman nafas, respiratory rate, gerakan bayi dan saturasi
oksigen.
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan laporan asuhan keperawatan yang telah dipaparkan dan data
fokus yang dikumpulkan, didapatkan 2 diagnosa yaitu ketidakefektifan pola
nafas b.d hiperventilasi dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d intake yang kurang. Pada diagnosa pertama, telah dilakukan
beberapa tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam dan didapat hasil objektif :
Bayi menggunakan alat bantu nafas (nasal kanul), S: 36oC, N: 132x/menit, RR:
47x/menit; kulit bayi berwarna coklat, BAB (+), BAK (+), posisi supinasi,
terpasang penghangat incubator. Masalah teratasi sebagian, dan lanjutkan
intervensi salah satunya, kaji status pernafasan.
Pada diagnosa kedua, setelah dilakukan beberapa tindakan keperawatan 3
x 24 jam, didapatkan data objektif : residu pada OGT bayi sudah tidak ada,
bayi telah diberikan program diit pemberian ASI 12ml/3 jam. Masalah teratasi
sebagian, dan lanjutkan intervensi antara lain kaji refleks menghisap dan
menelan dan timbang BB setiap hari.

B. Saran
1) Bagi Rumah Sakit
Diharapkan tenaga medis dapat melakukan tindakan keperawatan yang
lebih bervariatif untuk mengatasi masalah keperawatan : ketidakefektifan
pola nafas b.d hiperventilasi dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d intake yang kurang.

2) Bagi Keluarga Klien


Diharapkan keluarga dapat membantu pemulihan kesehatan bayinya
dengan cara memenuhi nutrisi bayi berupa pemberian ASI rutin setiap 2-3
jam.
3) Bagi Pendidikan
Diharapkan laporan kasus asuhan keperawatan ini dapat menjadi referensi
dan pembanding bagi penulis asuhan keperawatan selanjutnya mengenai
GNS (Gangguan Nafas Sedang).
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, L.(2005). Keperawatan Maternitas,Edisi 4. Jakarta: EGC.
Clair, C.S. (2008). The Prbability of Neonatal Respiratory Distress Syndrome as
Functin of gestastional age. And lechitin sphyngomyelin ratio. American
Journal Perinatology.Vol 25(8): 473-480.
Indriati, MT. (2006). Kehamilan,Persalinan dan Perawatan Bayi. Jogjakarta:
Diglossia Media.