Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PUBLIC SPEAKING

DISPEPSIA
OLEH : MUHAMMAD RAHMAT AKMAL
Program Studi S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit
Universitas Respati Indonesia

DISPEPSIA
Assalamualaikum Wr Wb
Yang Terhormat Ketua Camat Kecamatan Cipayung
Yang Terhormat Kepala Puskesmas Kecamatan Cipayung
Yang Terhormat Ibu-ibu Kader Kecamatan Cipayung
Yang terhormat Masyarakat kecamatan Cipayung yang berbahagia

HADIRIN YANG SAYA HORMATI

Puji syukur tak lupa kita panjatkan atas kehadiran Allah SWT atas berkat
rahmat dan hidayahnya sehingga pada kesempatan ini kita dapat berkumpul di
tempat ini dalam rangka penyuluhan kesehatan pada hari ini. Hari ini saya akan
membicarakan masalah kesehatan yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia
yaitu Dispepsia.

HADIRIN YANG SAYA HORMATI


APA ITU DISPEPSIA?
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata (dys) buruk dan peptei (pencernaan). Secara
lebih jelas, arti kata dispepsia adalah sekumpulan gejala nyeri, perasaan tidak enak pada perut
bagian atas yang menetap, atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat
makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada
terasa panas, yang berlangsung sejak 3 bulan terakhir, dengan awal gejala timbul 6 bulan
sebelumnya.
APA SAJA GEJALA DISPEPSIA?

Gejala Dispepsia antara lain

1. Perut kembung

2. Sensasi panas di dada atau heart burn, biasanya terjadi tepat setelah makan dan dapat
bertahan selama beberapa jam. Rasa nyeri ini akan bertambah ketika pasien berbaring
atau membungkuk

3. Nyeri bagian ulu hati

4. Sering bersendawa, yang disebabkan oleh naiknya asam lambung, sering menyertai
nyeri ulu hati

5. Sensasi panas pada perut

6. Sering merasa lapar

7. Nafsu makan menurun diakibatkan rasa panas di bagian dada dan perut, serta asam
lambung naik, yang menekan keinginan untuk makan

8. Perut mual

9. Cepat kenyang saat makan

10. Muntah

11. Keluarnya cairan dari lambung (regurgitasi)

12. Berat badan menurun

Gejala dispepsia selalu hadir dalam kelompok gejala, sehingga tidak ada satu gejala yang
mendominasi.

APA SAJA PENYEBAB GEJALA DISPEPSIA?

Gejala-gejala dispepsia dapat disebabkan oleh:

1. Peningkatan asam lambung, adanya masalah pada aliran makanan di dalam usus,
adanya perlukaan pada lambung atau yang berada pada usus halus bagian awal,
bahkan hadirnya suatu keganasan pada lambung.

2. Pada kelompok orang dengan intoleransi laktosa dalam susu ataupun produk susu
(mayoritas orang Asia) hal serupa juga akan dialami. Gejala yang sama pun akan
tampak pada seseorang yang mengalami gangguan psikologis berupa kecemasan dan
depresi.

3. Peminum alkohol, atau penikmat kopi serta pada pasien yang sedang mengkonsumsi
obat-obatan seperti aspirin, antibiotik, dan beberapa jenis obat lainnya.

4. Peradangan pada kantung empedu (kolesistitis) atau nyeri yang berkaitan dengan
kantung empedu ataupun salurannya (nyeri bilier).

Yang menjadi masalah adalah ketika kita berpikir bahwa gejala dispepsia mayoritas
disebabkan karena kelainan di bagian lambung, sehingga terkadang ada yang sudah
menggunakan obat maag dalam jangka waktu yang lama, tetapi tidak dapat menghilangkan
gejala.

KAPAN ANDA HARUS MENGHUBUNGI DOKTER

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

 Muntah darah
 Feses berwarna gelap, hitam seperti aspal atau petis
 Sesak napas
 Nyeri yang menjalar ke rahang, leher, atau lengan

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya,
konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu
konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

APA SAJA PEMERIKSAAN YANG AKAN DILAKUKAN OLEH DOKTER?

Dokter akan melihat ciri-ciri dan gejala serta melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes
diagnostik dapat membantu dokter menentukan penyebab rasa tidak nyaman, seperti:

 Tes darah. Tes darah dapat membantu mengeliminasi kemungkinan penyakit lain yang dapat
menyebabkan tanda-tanda atau gejala yang menyerupai sakit perut non-ulkus.
 Tes bakteria. Dokter dapat menyarankan tes untuk melihat bakteri Helicobacter pylori (H.
pylori) yang dapat menyebabkan gangguan pada perut. Tes H. pylori dapat menggunakan
darah, feses, atau napas Anda.
 Menggunakan scope untuk memeriksa sistem pencernaan Anda. Alat tipis, fleksibel dengan
sinar (endoskop) dipasang melalui tenggorokan agar dokter dapat melihat esofagus, lambung
dan bagian awal usus kecil (duodenum).

Sakit perut non-ulkus yang berlangsung lama dan tidak dikendalikan dengan perubahan gaya
hidup bisa saja membutuhkan pengobatan tertentu. Jenis perawatan yang Anda terima
tergantung pada tanda-tanda dan gejala yang Anda alami. Pengobatan yang diberikan dapat
mengombinasikan obat-obatan dan terapi perilaku.

BAGAIMANA PENGOBATAN/PENATALAKSANAAN DISPEPSIA?

Pengobatan yang dapat membantu mengatasi tanda-tanda dan gejala dari sakit perut non-
ulkus meliputi:

 Obat gas yang dijual bebas. Obat-obatan yang mengandung simethicone dapat meredakan
dengan mengurangi gas. Contoh obat-obatan yang mengurangi gas meliputi Mylanta
 Pengobatan untuk mengurangi produksi asam. Disebut sebagai H-2 receptor blockers, obat-
obatan ini tersedia di apotek dan meliputi cimetidine (Tagamet HB), famotidine (Pepcid AC),
nizatidine (Axid AR) dan ranitidine (Zantac 75). Versi yang lebih kuat tersedia dalam bentuk
resep.
 Pengobatan yang menghambat “pompa” asam. Proton pump inhibitors mematikan “pompa”
asam dalam sel perut yang mensekresikan asam. Proton pump inhibitors mengurangi asam
dengan menghambat kerja pompa-pompa kecil tersebut. Proton pump inhibitors yang dijual
bebas meliputi lansoprazole (Prevacid 24 HR) dan omeprazole (Prilosec OTC). Proton pump
inhibitors yang lebih kuat juga tersedia dengan resep.
 Pengobatan untuk memperkuat sphincter esofagus. Agen prokinetik membantu lambung
kosong dengan lebih cepat dan memperketat katup di antara lambung dan esofagus,
mengurangi kemungkinan rasa tidak nyaman pada perut atas. Dokter dapat memberikan
pengobatan metoclopramide (Reglan), namun obat ini belum tentu dapat digunakan semua
orang dan dapat memiliki efek samping yang signifikan.
 Antidepresan dosis rendah. Antidepresan trisiklik dan obat-obatan yang dikenal sebagai
serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), diminum dalam dosis rendah, dapat membantu
membatasi aktivitas neuron yang mengendalikan nyeri pada usus.
 Antibiotik. Apabila hasil tes mengindikasikan adanya bakteri penyebab ulkus yang disebut H.
pylori pada lambung Anda, dokter dapat memberikan antibiotik.
Bekerja sama dengan konselor atau terapis dapat membantu meredakan tanda-tanda dan
gejala yang tidak dapat dibantu dengan pengobatan. Konselor atau terapis dapat mengajari
Anda teknik relaksasi yang dapat membantu Anda mengatasi tanda-tanda dPerubahan pola
makan dan bagaimana Anda makan dapat mengendalikan tanda-tanda dan gejala. Cobalah
untuk:

 Mengonsumsi makanan lebih sering dengan porsi lebih sedikit. Perut yang kosong kadang
dapat menyebabkan sakit perut non-ulkus. Perut yang kosong dengan asam dapat membuat
Anda mual. Cobalah untuk mengonsumsi camilan, seperti cracker atau buah-buahan.
 Hindari melewatkan waktu makan. Hindari porsi besar dan makan berlebihan. Makan porsi
kecil dengan lebih sering.
 Hindari makanan yang dapat memicu sakit perut non-ulkus, seperti makanan berlemak dan
pedas, asam, minuman bersoda, kafein, juga alkohol.
 Kunyah makanan dengan perlahan hingga halus. Luangkan waktu untuk makan dengan
perlahan.

Teknik pengurang stres dapat membantu Anda mengendalikan tanda-tanda dan gejala. Untuk
mengurangi stres, habiskan waktu melakukan hal yang Anda sukai, seperti hobi atau
olahraga. Terapi relaksasi atau yoga juga dapat membantu.

SAMPAI DISINI, SAYA AKAN BUKA SESI PERTANYAAN. APAKAH HADIRIN


SEKALIAN ADA YANG INGIN BERTANYA?

PERTANYAAN...

Apabila tidak ada pertanyaan lagi, Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga
penyuluhan ini bermanfaat dan berguna untuk kita semua. Mohon maaf apabila ada kesalahan
dalam bertutur kata yang kurang berkenan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr Wb