Anda di halaman 1dari 10

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa

LAPORAN PENDAHULUAN
“HALUSINASI”

Disusun oleh:

SUMITARIANTI BAHRIS
R01418 2046

PRESEPTOR LAHAN PRESEPTOR INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
1. KASUS (MASALAH UTAMA)
Halusinasi
2. PROSES TERJADINYA MASALAH
a. Definisi
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu obyek tanpa
adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensori ini meliputi seluruh
pancaindra. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang
pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan sensasi
palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan, atau penciuman.
Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada.
Pasien gangguan jiwa mengalami perubahan dalam hal orientasi
realitas. Salah satu manifestasi yang muncul adalah halusinasi yang
membuat pasien tidak dapat menjalankan pemenuhan dalam kehidupan
sehari-hari (Yusuf, PK, & Nihayati, 2015).
b. Rentang Respon Neurobiologi

Halusinasi merupakan gangguan dari persepsi sensori, waham


merupakan gangguan pada isi pikiran. Keduanya merupakan gangguan dari
respons neorobiologi. Oleh karenanya secara keseluruhan, rentang respons
halusinasi mengikuti kaidah rentang respons neorobiologi.
Rentang respons neorobiologi yang paling adaptif adalah adanya
pikiran logis dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis. Rentang
respons yang paling maladaptif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk
isolasi sosial menarik diri. Berikut adalah gambaran rentang respons
neorobiologi (Yusuf, PK, & Nihayati, 2015).
Rentang respon :

Respon Adaptif Respon Maladptif


Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan pikir/delusi
Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan Sulit berespon emosi
Pengalaman atau kurang Perilaku disorganisasi
Perilaku sesuai Perilaku aneh/tidak biasa Isolasi sosial
Berhubungan sosial Menarik diri

c. Klasifikasi Halusinasi
Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif
Halusinasi dengar/suara  Menutup telinga.  Mendengar suara-suara
 Bicara atau tertawa sendiri. atau kegaduhan.
 Marah-marah tanpa sebab.  Mendengar suara yang
 Mengarahkan telinga ke mengajak bercakap-cakap.
arah tertentu.  Mendengar suara
menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya.
Halusinasi penglihatan  Menunjuk-nunjuk ke arah  Melihat bayangan, sinar,
tertentu. bentuk geometris, bentuk
 Ketakutan pada sesuatu kartun, melihat hantu, atau
yang tidak jelas. monster.
Halusinasi penciuman  Mencium seperti sedang  Membaui bau-bauan
membaui bau-bauan seperti bau darah, urine,
tertentu. feses, dan kadang-kadang
 Menutup hidung. bau itu menyenangkan.
Halusinasi pengecapan  Sering meludah  Merasakan rasa seperti
 Muntah darah, urine, atau feses.
Halusinasi perabaan  Menggaruk-garuk  Mengatakan ada serangga
permukaan kulit. di permukaan kulit.
 Merasa seperti tersengat
listrik.
d. Intensitas Level Halusinasi
Fase halusinasi Karakteristik Perilaku klien
Tahap I  Mengalami ansietas kesepian,  Tersenyum/tertawa sendiri
Memberi rasa rasa bersalah, dan ketakutan.  Menggerakkan bibir tanpa suara
nyaman.  Mencoba berfokus pada pikiran  Pergerakkan mata yag cepat
Tingkat ansietas yang dapat menghilangkan  Respon verbal yang lambat
sedang. ansietas.  Diam dan berkonsentrasi
Secara umum  Pikiran dan pengalaman sensori
halusinasi masih ada dalam kontrol
merupakan suatu kesadaran (jika kecemasan
kesenangan. dikontrol).
 Pengalaman sensori  Peningkatan sistem saraf otak,
Tahap II menakutkan. tanda-tanda ansietas, seperti
Menyalahkan.  Mulai merasa kehilangan peningkatan denyut jantung,
Tingkat kontrol. pernapasan, dan tekanan darah.
kecemasan berat  Merasa dilecehkan oleh  Rentang perhatian menyempit.
Secara umum pengalaman sensori tersebut.  Konsentrasi dengan pengalaman
halusinasi  Menarik diri dari orang lain. sensori.
menyebabkan  Kehilangan kemampuan
rasa antipati. Non Psikotik
membedakan halusinasi dan
realita
 Pasien menyerah dan menerima  Perintah halusinasi ditaati.
Tahap III pengalaman sensorinya.  Sulit berhubungan dengan orang
Mengontrol  Isi halusinasi menjadi atraktif. lain.
tingkat  Kesepian bila pengalaman  Rentang perhatian hanya beberapa
kecemasan berat sensori berakhir. detik atau menit.
pengalaman
Psikotik
sensori tidak
dapat ditolak  Gejala fisik ansietas berat
lagi. berkeringat, tremor, dan tidak
mampu mengikuti perintah.
Tahap IV  Pengalaman sensori menjadi  Perilaku panik.
Menguasai ancaman.  Potensial tinggi untuk bunuh diri
tingkat  Halusinasi dapat berlangsung atau membunuh.
kecemasan selama beberapa jam atau hari  Tindakan kekerasan agitasi,
panik secara (jika tidak diinvensi). menarik diri, atau katatonia.
umum diatur  Tidak mampu berespons terhadap
Psikotik berat
dan dipengaruhi perintah yang kompleks.
oleh waham.  Tidak mampu berespons terhadap
lebih dari satu orang.

3. a. Pohon Masalah

Risiko tinggi perilaku kekerasan

Perubahan persepsi sensori: Halusinasi

Isolasi social: Menarik diri

b. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji

Faktor Predisposisi

1) Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal
yang dapat meningkatkan stres dan ansietas yang dapat berakhir dengan
gangguan persepsi. Pasien mungkin menekan perasaannya sehingga
pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
2) Faktor sosial budaya
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang merasa
disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga
timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi.
3) Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, serta peran ganda atau
peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas berat terakhir
dengan pengingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.
4) Faktor biologis
Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien gangguan orientasi
realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, pembesaran ventrikel,
perubahan besar, serta bentuk sel kortikal dan limbik.
5) Faktor genetik
Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya ditemukan
pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada
keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia,
serta akan lebih tinggi jika kedua orang tua skizofrenia.
Faktor Presipitasi

1) Stresor sosial budaya


Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas
keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari
kelompok dapat menimbulkan halusinasi.
2) Faktor biokimia
Berbagai penelitian tentang dopamin, norepinefrin, indolamin, serta zat
halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk
halusinasi.
3) Faktor psikologis
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya
kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkembangnya
gangguan orientasi realitas. Pasien mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.
4) Perilaku
Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan orientasi realitas
berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi, motorik, dan
sosial.

4. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a. Perubahan persepsi sensori: halusinasi
b. Isolasi social
c. Resiko tinggi perilaku kekerasan
5. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tindakan Keperawatan untuk Pasien
a. Tujuan
1) Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya.
2) Pasien dapat mengontrol halusinasinya.
3) Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal.
b. Tindakan
SP1P
1) Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
2) Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3) Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4) Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5) Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
6) Mengidentifikasi respons pasien terhadap halusinasi
7) Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8) Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi
dalam jadwal kegiatan harian
SP2P
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-
cakap dengan orang lain
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP3P
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan
kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan pasien)
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP4P
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara
teratur
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
a. Tujuan
1) Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di rumah sakit
maupun di rumah.
2) Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien.
b. Tindakan
SP1K
1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
2) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenis
halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
SP2K
1) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan
Halusinasi
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
Halusinasi
SP3K
1) Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat (discharge planning)
2) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
Evaluasi
a. Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah dilakukan untuk
pasien halusinasi adalah sebagai berikut.
1) Pasien mempercayai perawat.
2) Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada objeknya dan
merupakan masalah yang harus diatasi.
3) Pasien dapat mengontrol halusinasi.
b. Keluarga mampu merawat pasien di rumah, ditandai dengan hal berikut.
1) Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami oleh
pasien.
2) Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien di rumah.
3) Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap pasien.
4) Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan
untuk mengatasi masalah pasien.
5) Keluarga melaporkan keberhasilannnya merawat pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Nita. 2009. Prinsip dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan untuk S1: Salemba Medika: Jakarta
Tomb, D. A. (2003). Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC.
Yusuf, A., PK, R. F., & Nihayati, H. E. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan
jiwa. Jakarta: Salemba Medika.