Anda di halaman 1dari 6

DINAS KESEHATAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN

UPT PUSKESMAS SAYURMATINGGI


Jl.MANDAILING KM.34 kode pos 22774
KECAMATAN SAYURMATINGGI

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO KLINIS

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manajemen risiko merupakan hal yang rutin dilakukan untuk
meminimalkan risiko terjadinya tuntutan hukum.Keberhasilan program
manajemen risiko bagaimanapun tergantung pada sistem pembuatan dan
monitoring keselamatan yang dirancang untuk mengurangi risiko dan
meningkatkan kinerja sumber daya manusia.
Puskesmas memiliki sistem untuk pelaporan pasien jatuh, persalinan,
pertolongan terlambat, salah diagnosis kesalahan pengobatan, kesalahan
identifikasi pasien dan yang lainnya yang merupakan Bagian dari ‘gunung es’
yang tidak terlihat belum diteliti dan dilaporkan.sehingga puskesmas harus
tetap mengoptimalkan upaya untuk meminimalisir terjadinya risiko tersebut.
.Keselamatan pasien puskesmas adalah suatu sistem dimana
puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil (Kemenkes RI, 2011).
Risiko Klinik adalah bahaya, kesalahan, musibah atau potensi
terjadinya hal - hal yang merugikan pasien, terkait dengan atau sebagai
dampak asuhan klinik yang diberikan kepadanya
Manajemen resiko klinis adalah suatu upaya sistematis puskesmas
dalam rangka mengurangi risiko akibat pelaksanaan pelayanan medik.
Manajemen risiko klinik secara spesifik fokus pada peningkatan kualitas dan
keselamatan pelayanan kesehatan dengan cara mengidentifikasi faktor
kemungkinan yang mengakibatkan pasien berisiko cedera dan kemudian
tindakan yang dilakukan untuk mengontrol risiko tersebut.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
1) Meminimumkan terjadinya ‘medical error’, ‘adverse events’ , dan ‘harms’
pada pasien
( Membuat asuhan pasien lebih aman )
2) Meminimumkan kemungkinan terjadinya klaim dan mengendalikan
biaya klaim yang harus menjadi tanggungan institusi (Mencegah
kerugian finansial bagi puskesmas) dan dokter
2. Tujuan Khusus
1) Membuat sekecil mungkin cidera yang tidak diinginkan
2) Meningkatkan keamanan pasien dan mutu asuhan
3) Meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan staf
4) Menjaga reputasi
5) Meminimumkan resiko finansial dengan manajemen yang lebih baik
6) Memenuhi objektif secara optimal dengan pemanfaatan sebaik-baiknya
sumber daya yang ada
7) Meningkatkan kepercayaan publik bahwa dengan program manajemen
resiko klinis yang baik, keamanan menjadi lebih terjamin.
II. SASARAN
Dengan adanya pedoman manajemen risiko klinis ini rumah sakit diharapkan
mampu melaksanakan manajemen risiko klinis dengan memperhatikan 3 aspek
yaitu :
1. Pencegahan risiko klinis
2. Pengendalian risiko klinis
3. Penanganan jika sudah terjadi musibah klinis

III. PELAKSANAAN
Apabila terjadi adverse event atau insiden yang mengakibatkan cidera (harm),
kehilangan (loss), atau kerusakan (damage) maka potensi yang mungkin terjadi adalah
:
1. Adanya kasus medikolegal dimana kasus adverse event atau yang dianggap
sebagai adverse event akibat asuhan klinis/medis, yang dibawa ke pengadilan
oleh pasien atau keluarga (biasanya diwakili oleh advokat) dengan klaim ganti
rugi.
2. Dokter dapat dituduh melakukan malpraktek
3. Manajemen Puskesmas dapat dituduh lalai (negligence)
Untuk itu perlu dilakukan langkah untuk melakukan manajemen risiko klinis sebagai
berikut :
a. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi yang dapat
menyebabkan cedera, tuntutan atau kerugian secara finansial. Identifikasi
akan membantu langkah-langkah yang akan diambil manajemen terhadap
risiko tersebut.
Instrumen yang diperlukan :
1) Keluhan Pasien
Data keluhan pasien ini dapat diperoleh dari keluhan tertulis pada lembar
kesan pelanggan yang disediakan di masing-masing unit / bagian di
Puskesmas Pasar Usang maupun dari keluhan secara lisan.
2) Klaim
3) Laporan Insiden (Incident Report)
Laporan insiden (incident report) terdiri atas :
o Pelaporan setiap masalah atau kejadian yang menyimpang dari yang
direncanakan atau secara normal seharusnya tidak terjadi dan
berdampak pada keselamatan pasien
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang menghadapkan pasien
pada keadaan beresiko
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang bertendensi / berpotensi
menghadapkan rumah sakit pada tuntutan hukum
o Masalah / kejadian tidak harus selalu sudah menyebabkan cedera.
Tetapi termasuk juga suatu keadaan yang potensial menyebabkan
cedera.
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang dapat dijadikan pelajaran
untuk mengeliminasi atau menurunkan risiko
o Pelaporan dari masalah / kejadian yang mempunyai dampak
terhadap anggaran dan risiko ketersediaan keuangan, peralatan
maupun supplies.

4) Audit Medik, diselenggarakan oleh Sub komite Mutu Komite Medik.


b. Analisa Risiko
Analisa risiko merupakan upaya untuk menentukan estimasi risiko secara
kuantitatif atau kualitatif berdasarkan tehnik-tehnik evaluasi maupun
matematis. Dan merupakan proses untuk mengenali bahaya yang mungkin
terjadi dan bagaimana potensi kegawatan dari bahaya tersebut. Analisa risiko
dilaksanakan untuk menentukan :
1) Risiko apa yang dapat terjadi.
2) Kapan risiko tersebut dapat terjadi.
3) Faktor yang berhubungan dengan
Instrumen yang diperlukan :
1) Severity Assessment
Memilih kejadian untuk dilakukan investigasi.

2) Root Cause Analysis (RCA)


RCA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Investigasi kejadian
o Menentukan masalah
o Mengumpulkan bukti-bukti yang nyata
o Melakukan wawancara
o Meneliti lingkungan kejadian
o Mengenali faktor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kejadian
o Menggambarkan rantai terjadinya kejadian

b. Rekonstruksi kejadian
o Mengenali kejadian-kejadian yang mengawali terjadinya adverse event
ataupun near miss
o Melakukan analisis dengan menggunakan pohon masalah untuk
mengetahui kegiatan atau kondisi yang menyebabkan timbul kejadian
o Lanjutkan sehingga dapat dikenali sistem yang melatar belakangi
timbulnya kejadian atau sampai tidak beralasan lagi untuk
melanjutkan

c. Analisis sebab
o Mengidentifikasi akar-akar penyebab yang dapat bersumber dari :
1. Manusia
- Kelelahan
- Kurang terlatih
- Komunikasi yang buruk
- Kekuasaan / pengendalian
- Keterbatasan waktu
- Poor Judgement
- Keraguan (heuristic)
- Logic error
- Over confidence
2. Organisasi
- Rancang bangun ruang kerja
- Perencanaan kebijakan
- Administrasi / pembiayaan
- Insentif / dinsentif / kepemimpinan
- Manajemen suplai
- Supervisi / umpan balik
- Ketidakjelasan tugas
- Salah menempatkan personil
3. Teknikal
- Poor automation
- Peralatan yang buruk
- Keterbatasan peralatan
- Tidak memiliki decision support
- Kompleksitas
- Kurang terintegrasi
- Terlalu banyak informasi
- Tidak menggunakan checklist
o Rumuskan pernyataan akar masalah
d. Menyusun rencana tindakan
o Menetapkan strategi yang tepat untuk mengatasi penyebab yang
diidentifikasi, dan dapat diterima oleh pihak yang terkait dengan
kejadian.
o Rencana tindakan disusun untuk tiap akar penyebab kejadian dan
pengukuran untuk menilai efektifitas tindakan thd akar penyebab
o Dapatkan persetujuan dari kepemimpinan dalam organisasi
e. Melaporkan proses analisis dan temuan
o Catat proses dan alat yang digunakan
o Biaya yang dibutuhkan
o Ringkasan kejadian
o Proses investigasi dan analisis
o Temuan

3) Failure Mode And Effect Analysis (FMEA)


FMEA adalah Suatu alat mutu untuk mengkaji suatu prosedur secara rinci,
dan mengenali model-model adanya kegagalan/kesalahan pada suatu
prosedur, melakukan penilaian terhadap tiap model kesalahan/kegagalan,
dengan mencari penyebab terjadinya, mengenali akibat dari
kegagalan/kesalahan, dan mencari solusi dengan melakukan perubahan
disain/prosedur.
FMEA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Bentuk tim FMEA: orang-orang yang terlibat dalam suatu proses
b. Tetapkan tujuan, keterbatasan, dan jadual tim
c. Tetapkan peran dari tiap anggota tim
d. Gambarkan alur proses yang ada sekarang
e. Kenalilah Failure modes pada proses tersebut

Tipe medical eror :


1. Kekeliruan konsep meliputi :
- Wrong concept of disease (Kekeliruan konsep penyakit)
- Wrong concept of treatment (Kekeliruan konsep perawatan)
2. Kekeliruan Diagnostik
- Misdiagnosis
- Late diagnosis
- Gagal melakukan prosedur diagnosis
- Menggunakan prosedur yang usang
- Gagal melakukan pemantauan dan follow-up hasil pemeriksaan
penunjang
3. Kekeliruan Terapi
- Kesalahan melakukan tindakan medik / operasi
- Kekeliruan dalam memberikan terapi
- Kekeliruan dalam menetapkan dosis
- Kekeliruan dalam menetapkan cara pemberian obat
- Terlambat memberikan terapi padahal indikasi berdasarkan
hasil diagnostik sudah jelas
- Melakukan tindakan medik tidak adekuat dan tanpa
indikasi
- Teknik yang keliru
4. Kekeliruan Pencegahan
- Gagal melakukan terapi pencegahan sesuai yang diperlukan
- Tidak adekuat melakukan pemantauan hasil terapi
5. Lainnya
- Gagal dalam berkomunikasi dengan pasien atau tenaga
kesehatan lainnya
- Kegagalan peralatan
- Kegagalan sistem laiinya
f. Kenalilah penyebab terjadinya failure untuk tiap model
kesalahan/kegagalan
g. Kenalilah apa akibat dari adanya failure untuk tiap model
kesalahan/kegagalan
h. Lakukan penilaian untuk tiap model kesalahan/kegagalan:
 Sering tidaknya terjadi (occurrence): (Occ)
0 : tidak pernah, 10 sangat sering
 Kegawatannya (severity): (SV)
0 : tidak gawat, 10 sangat gawat
 Kemudahan untuk terdeteksi: (DT)
0 : mudah dideteksi, 10 : sangat sulit dideteksi
i. Hitung Risk Priority Number (RPN) dengan mengkalikan: Occ x SV x DT
j. Tentukan batasan (cut-off point) RPN yang termasuk prioritas
k. Tentukan kegiatan untuk mengatasi (design action/solution)
l. Tentukan cara memvalidasi apakah solusi tersebut berhasil
m. Gambarkan alur yang baru dengan adanya solusi tersebut

c. Pembahasan
Pembahasan berupa diskusi event-event yang berisiko yang ada di puskesmas
dan memilih mana yang paling prioritas.Yang terlibat dalam pembahasan
manajemen risiko klinis adalah semua petugas Puskesmas Sayurmatinggi

Jika terjadi adverse event, hal yang harus dilakukan adalah :


1. Merespons terhadap kebutuhan segera dari pasien dan pihak-pihaklain yang terlibat,
termasuk petugas
2. melakukan tindakan koreksi untuk menciptakan kembali suasana yang aman.
3. Semua bahan bukti dibiarkan sebagaimana adanya dan segera diamankan untuk
pemeriksaan kemudian. Semua obat dan alat yangrusak dihentikan penggunaannya
dan juga diamankan.
4. Berkomunikasi dengan pasien atau keluarga, mereka yang mengurus pasien, teman,
dll tentang apa yang sudah terjadi dalam waktuyang tepat.
5. Berkomunikasi secara lisan dan melalui laporan tertulis denganpejabat kesehatan
setempat sesuai dengan asas positif dan bukanuntuk menghukum siapapun (non-
punitive).
6. Berkomunikasi dengan dokter keluarga atau dokter spesialis yangmengirim pasien.
7. Memberi informasi kepada stakeholder eksternal yang relevan.
8. Menghadapi pers dengan baik.
9. Belajar dari musibah agar kejadian yang sama tidak lagi terulang,dengan melakukan
analisis mendalam (root cause analysis) untuk mencari penyebab sebenarnya dari
adverseevent yang telah terjadi. Menyusun strategi dan rencana kegiatan (baru)
untuk perbaikan.
10. Memantau dan mengevaluasi efektifitas tindakan-tindakan perbaikan yang dilakukan.
11. Membangun ‘budaya melapor’ pada pasien dan staf tentang adverse incidents, adverse
events, dan near misses yang dialami, agar dapat dilakukan analisis mendalam
tentang kejadian-kejadian tetentu itu.

IV. PENUTUP.
Demikian pedoman manajemen risiko klinis ini disusun agar dapat menjadi acuan
penyelenggaraan manajemen risiko klinis di Puskesmas Sayurmatinggi.
Daftar Pustaka

1. J Manth, A Gatherer. Editorials: Managing Clinical Risks. BMJ vol 308. Juni 1994.
Disitasi dari www.bmj.com tanggal 22 Februari 2009.
2. NHS QI Scotland. Clinical Governance & Risk Management: Achieving safe,
effective, patient-fokused care and service. 2005. Disitasi dari
www.nhshealthquality.org tanggal 22 februari 2009.
3. Bury Primary Care Trust. Risk management policy & strategy. 2007. Disitasi dari
www.burypct.nhs.uk tanggal 22 februari 2009.
4. Clinical governance into practice. Disitasi dari www.nhs.org tanggal 22 februari
2009.
5. Kerringan, Helen. NHS direct: Corporate Risk management and Policy. Desember
2008. Disitasi dari www.nhsdirect.nhs.uk tanggal 22 februari 2009.
6. ARC. NHS QI Scotland- Risk management report. Agustus 2004. Disitasi dari
www.nhs.scot.org tanggal 22 februari 2009.
7. NHS ambulance service trust. Risk management strategy. 2007. Disitasi dari
www.nhs.org.
8. Owles Jr, Robert E. Karim H Vellani. Vulnerability and risk assessment in the
environment of care. 2006. Disitasi dari www.jcaho.org tanggal 22 februari 2009.
9. Steele, chris. An introduction to clinical risk management. 2001.disitasi dari
www.optometry.co.uk tanggal 22 februari 2009.
10. Educational resources clinical governance. How do I asses or analyse risk. Disitasi
dari www.clinicalgovernance.scot.nhs.uk tanggal 22 februari 2009.