Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MAKALAH

PERAN MIKROGLIA PADA KASUS PARKINSON

Disusun oleh:

dr. Hana Humaira Fachir

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS NEUROLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

Desember 2019
Penyakit Parkinson (PP) adalah kondisi neurodegeneratif yang progresif dan dihasilkan

oleh kematian sel-sel dari substansia nigra yang mengandung dopamin. PP adalah gangguan

degeneratif sistem saraf pusat yang sering merusak keterampilan motorik penderita, bicara, dan

fungsi lain. (Nandar dan Dalhar, 2017).

Onset PP paling banyak ditemukan antara umur 45 dan 70 tahun, dan usia puncak onset

pada dekade keenam. Kejadiannya 16-19 per 100.000 orang pertahun. Insidensi meningkat secara

progresif dengan meningkatnya usia. (Nandar dan Dalhar, 2017).

Etiologi PP belum sepenuhnya dimengerti. Meskipun berbagai kemungkinan mekanisme

patogenetik telah diusulkan selama bertahun-tahun, termasuk pelepasan radikal bebas yang

berlebihan selama pemecahan emzim dopamine, gangguan fungsi mitokondria, aktivitas abnormal

kinase, gangguan homeostasis kalsium, disfungsi degradasi protein dan neuroinflamasi,

pathogenesis PP masih sangat belum jelas. Namun, muncul bukti yang mengindikasikan bahwa

respon inflamasi yang terus-menerus, infiltrasi sel T dan aktivasi sel glia adalah hal yang sering

ditemukan pada pasien-pasien PP manusia maupun model hewan dengan PP dan memainkan peran

penting pada degenerasi neuron dopaminergic. (Wang et al, 2015)

Mikroglia merupakan sel imun di sistem saraf pusat (SSP) dan berjumlah 10% dari total

sel glia di otak. Penelitian awal tentang mikroglia berasal dari Rio-Hortega di awal abad terakhir.

Dia mendeskripsikan mikroglia sebagai tipe sel unik di SSP. Ketika terjadi cedera kepala berat,

sel mikroglia merubah morfologi sel mereka secara drastis, bermigrasi ke daerah lesi, dan

berproliferasi. Mikroglia yang telah berproliferasi memfagosit sel-sel mati dan merilis sitokin

untuk mempertahankan hemostasis microenvironment dan membantu neuron yang terluka. Itu

semua bermanfaat untuk kelangsungan hidup neuron. Namun, dalam beberapa dekade terakhir
semakin banyak bukti peran neurotoksik mikroglia ketika mereka terlalu aktif pada kasus cedera

berat dan penyakit neurodegeneratif. (Luo et al, 2010).

(Joe et al, 2018)

Mikroglia adalah salah satu sel utama yang terlibat dalam respon inflamasi SSP. Tahun

1988 McGeer et al. menunjukkan kehadiran reaktif mikroglia di substansia nigra pars compacta

(SNpc) manusia pada saat post mortem yang merupakan bukti pertama yang menunjukkan

keterlibatan neuroinflamasi sebagai pathogenesis PP. (Luo et al, 2010).

Mikroglia biasanya tetap dalam keadaan diam ketika tidak ada yang memicu, dan biasanya

mereka disebut dengan resting microglia. Ketika ada yang rangsangan yang sesuai, mikroglia

secara cepat berubah dari keadaan diam menjadi aktif. Sebagai sensor aktif dan monitor di otak,

mikroglia adalah neuroprotektif. Namun, respon mikroglia yang tidak terkontrol bisa

membahayakan neuron yang terluka atau bahkan bisa merusak neuron yang normal dengan

inflamasi berlebihan. (Luo et al, 2010).

Aktivasi mikroglia biasanya dikontrol oleh kondisi fisiologis dari SSP melalui kontak

neuron-glia, alur CD200R-CD200, aktivitas elektris neuron, dan atau beberapa neurotransmitters

yang dapat pecah/larut. Meskipun mekanisme mikroglia diam, peningkatan aktivasi mikroglia

pada otak orang tua yang sehat telah dilaporkan dalam beragam spesies mamalia seperti manusia,

monyet, dan tikus. Masih belum jelas apa yang memicu aktivasi mikrogial pada otak tua yang
sehat, apakah itu disebabkan degenerasi neuron atau oleh agregasi protein abnormal yang

ditemukan di orang tua yang secara klinis normal masih belum diketahui. (Luo et al, 2010).

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa apakah mikroglia bersifat neuroprotektif

atau neurotoksik terhadap dopaminergik neuron tergantung pada usia di mana mikroglia diaktifkan

dari neuroprotektif pada otak neonatal menjadi neurotoksik di otak orang tua. Sepertinya penuaan

bisa menjadi faktor penentu fungsi mikroglia. Pada otak orang tua, area yang secara signifikan

lebih besar pada substantia nigra ditempati oleh badan sel mikroglial dan proses dibandingkan

dengan subjek yang lebih muda. Bahkan, neuron dopaminergic lebih sensitif terhadap stress

oksidatif yang disebabkan mikroglia dibandimgkan neuron tipe lain. Dengan demikian,

peningkatan aktivasi mikroglia pada otak orang tua telah membuat neuron dopaminergik berada

apa daerah yang lebih berbahaya dibandingkan pada otak yang muda. (Luo et al, 2010).

Luo et al berpendapat bahwa pada pasien dengan PP fungsi mikroglianya berubah seiring

dengan bertambah usia dengan menghasilkan lebih banyak sitokin atau stress oksidatif, yang

utamanya mikroglia di substantia nigra untuk berada dalam keadaan aktif dan menyebabkan

mikroglia yang tidak teratur merespon rangsangan patogen dari lingkungan. Sesuai skenario ini

neutropik mikroglia yang sebelumnya berubah menjadi neurotoksik dan melepaskan produk

oksidatif yang kurang terkontrol dan memproduksi sitokin inflamasi secara berlebihan yang pada

akhirnya mengarah ke neurodegenerasi dopaminergik. (Luo et al, 2010).


DAFTAR PUSTAKA

Joe, E.H., Choi, D.J., An, J., Eun, J.H., Jou, I. and Park, S., 2018. Astrocytes, microglia,

and Parkinson's disease. Experimental neurobiology, 27(2), pp.77-87.

Luo, X.G., Ding, J.Q. and Chen, S.D., 2010. Microglia in the aging brain: relevance to

neurodegeneration. Molecular neurodegeneration, 5(1), p.12

Nandar S. dan Dalhar M., 2017. Buku Ajar Neurologi, Sagung Seto, Jakarta, p.155.

Wang, Q., Liu, Y. and Zhou, J., 2015. Neuroinflammation in Parkinson’s disease and its

potential as therapeutic target. Translational neurodegeneration, 4(1), p.19.