Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Penyakit Hipertensi


2.1.1 Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik kurang lebih 140 MmHg
dan tekanan darah diastolik kurang kebih 90 MmHg. Hipertensi tidak
hanya menyerang di usia tua saja, tetapi remaja dan dewasa muda
mengakibatkan mereka cenderung mengalam gangguan tidur yang
merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kenaikan tekanan
darah(Luthfi.B, Azmi, & Erkadius, 2017).
Sekitar 80% Hipertensi menjadi salah satu masalah utama di
Indonesia maupun luar negara. Hipertensi adalah tekanan darah tinggi,
penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah tang ditandai dengan
peningkatan tekanan darah, hipertensi tidak bisa disembuhkan, tetapi
bisa di kendalikan (Fatmawati, Juni 2019)
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah di arteri yang bersifat
sistemik dan berlangsung terus-menerus untuk jangka waktu yang lama,
hipertensi datang secara tiba-tiba, didefinisikan sebagai rata-rata
tekanan darah 140 untuk sistolik, 90 untuk diastolik (Sari & Usman,
Januari 2019).
Hipertensi atau tekanan darah adalah suatu peningkatan abnormal
tekanan darah dalam pembuluh darah aeteri secara terus-menerus lebih
dari suatu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-artriole kontriksi.
Kontriksi artriole membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan
ekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja
jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan
jantung dan pembuluh darah. Hipertensi juga didefinisikan sebagai
tekanana darah sistolik > 90 MmHg yang terjadi pada seorang klien
pada tiga kejadian terpisah. Menurut WHO, batasan tekanan darah yang
masih dianggap normal 140/90 MmHg, sedangkan tekanan darah
>160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi (Sari & Usman, Januari
2019).

2.1.2 KLASIFIKASI
2.1 Kategori Tekanan Darah (Prasetyaningrum, 2014).
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

<120 <80
Normal
120-139 80-89
Prehipertensi
140-159 90-99
Hipertensi Stadium 1
≥160 ≥100
Hipertensi Stadium 2

Tabel 2.2Klasifikasi Hipertensi pada klien berusia ≥18 tahun (Udjianti,


2010).
Batasan Tekanan Darah Kategori
(mmHg)
Diastole
< 85 Tekanan Darah Normal
85-89 Tekanan Darah Normal-Tinggi
90-104 Hipertensi Ringan
105-114 Hipertensi Sedang
≥115 Hipertensi Berat
Sistolik
< 140 Tekanan Darah Normal
140-159 Garis Batas Hipertensi Sistolik
Terisolasi
≥ 160 Hipertensi Sistolik Terisolasi

2.1.3 ETIOLOGI
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer
Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi
esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang
tidak diketahui penyebabnya, beberapa faktor diduga berkaitan
dengan berkembangnya hipertensi esensial seperti berikut ini.

ii
a. Genetik, individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan
hipertensi, berisiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.
b. Jenis kelamin dan usia, laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita
pasca menopause berisiko tinggi untuk mengalami hipertensi.
c. Diet, konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung
berhubungan dengan berkembangnya hipertensi
d. Berat badan obesitas (> 25% di atas BB ideal) dikaitkan dengan
berkembangkan hipertensi
e. Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan
tekanan darah, bila gaya hidup menetap (Udjianti, 2010).
2. Hipertensi sekunder
Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah
hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai peningkatan
tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya
seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Faktor pencetus
munculnya hipertensi sekunder antara lain, penggunaan kontrasepsi
oral, tumor otak, gangguan psikiatris, kehamilan, peningkatan
volume intraveskuler, luka bakar, dan stres.Etiologi hipertensi
sekunder pada umumnya diketahui. Berikut ini beberapa kondisi
yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
a. Penggunaan kontrasepsi hormonal (eterogen).
Oral kontrasepsi yang berisi esterogen dapat menyebabkan
hipertensi melalui mekanisme Renin-aldosteron-mediated
volume expansion. Dengan penghentian oral kontrasepsi,
tekanan darah kembali normal setelah beberapa bulan.
b. Penyakit parenkim dan vaskular ginjal
Merupakan penyebab utama hipertensi sekunder. Hipertensi
renovaskular berhubungan dengan penyempitan satu atau lebih
arteri besar yang secara langsung membawa darah ke ginjal.
Sekitar 90% lesi arteri arteri renal pada klien dengan hipertensi
disebabkan oleh aterosklerosis atau fibrous displasia
(pertumbuhan abnormal jaringan fibrous). Penyakit parenkim

iii
ginjal terkait dengan infeksi, inflamasi, dan perubahan struktur,
serta fungsi ginjal (Handayani, 2019).
c. Gangguan Endokrin
Disfungsi medula adrenal atau korteks adrenal dapat
menyebabkan hipertensi sekunder. Adrenal-mediated
hypertension disebabkan kelebihan primer aldosteron, kortisol,
dan katekolamin. Pada aldosteronisme primer, kelebihan
aldosteron menyebabkan hipertensi dan hipokalemia.
Aldosteronisme primer biasanya timbul dari benign adenoma
korteks adrenal. Pheochromocytomas pada medula adrenal
yang paling umum dan meningkatkan sekresi katekolamin
yang berlebihan. Pada sindrom Cushing, kelebihan
glukokortikoid yang diekskresi dari korteks adrenal. Sindrom
Cushing mungkin disebabkan oleh hiperplasi adrenokortikal
atau adenoma adrenokortikal (Handayani, 2019).
d. Coarctation Aorta
Penyempitan aorta kongenital yang mungkin terjadi beberapa
tingkat pada aorta torasik atau aorta abdominal. Penyempitan
menghambat aliran darah melalui lengkung aorta dan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah diatas area
kontriksi(Handayani, 2019).
e. Neurogenik, tumor otak, encephalitis, dan gangguan psikiatrik
Kehamilan, penyebab hipertensi pada kehamilan belum
diketahui secara jelas, hipertensi pada kehamilan bukam hanya
membahayakan ibu, namun juga janin dalam kandungan.
Dalam hal ini, hipertensi pada kehamilan dapat berdampak
pada pertumbuhan janin dan terganggu pelepasan plasenta
karena risiko beracun kehamilan (Handayani, 2019).
f. Luka bakar (Handayani, 2019).

iv
2.1.4 TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala Hipertensi yaitu: gejala yang dialami pasien
yaitu, kepada terasa berat, adanya palpitasi, kelelahan, nause,
vomiting, adanya kecemasan, tremor pada otot, pandangan kabur,
serta adanya masalah kesulitan tidur (Udjianti, 2010).
Tanda-tanda hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Tidak ada gejala yang pesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak
akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tiak terukur.
b. Gejala yang lazim sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang
menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan, dalam
kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis(Nurhidayat, 2015).
Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak
menimbulkan gejala-gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa
gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan
darah tinggi padahal sesungguhnya tidak, gejala yang dimaksud
yaitu sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan
dan kelelahan yang bisa terjadi baik pada penderita hiertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika
hipertensinya berat atau menahun atau tidak terobati, bisa timbul
gejala yaitu: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas,
gelisah(Manuntung, 2018).

2.1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
b. Pemeriksaan retina
Jika nilai tekanan darah meningkat, maka kemungkinan kerusakan
yang berat pada mata, dinding pembuluh darah pada retina menebal,

v
dan menyempit dan aliran darah ke retina berkurang, dan bisa
merusak pada saraf penglihatan.
c. Pemeriksaan labolatorium
1. Darah Lengkap, yaitu hemoglobin, hematokrit, untuk menilai
viskositas dan indicatorfaktor resiko seperti hiperkoagulabilitas
dan anemia
2. Lab Kimia, BUN, kreatinin: Peningkatan kadar menandakan
penurunan atau tidak, Serum glukosa: hiperglikemia (diabetes
Mellitus adanya presipitator hipertensi) akibat dari peningkatan
kadar katekolamin, Kadar kolesterol: adanya peningkatan kadar
mengidentifikasi predisposisi pembentukan plaque atheromatus,
Asam urat: implikasi faktor risiko hipertensi, Studi Tiroid:
menilai adanya hipertiroidisme yang berkontribusi terhadap
vasokontriksi dan hipertensi
d. EKG
untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri, dan adanya disritmia
e. Urin
1. Analisis urin adanya darah, protein, glukosa dalam urin
mengindikasikan disfungsi renal atau diabetes
2. Catecholamine metabolite, peningkatan kadar, dan
mengidentifikasi adanya pheochromaacytoma
3. Steroid urine, peningkatan kadar mengindikasikan
hiperadrenalisme, dan lain-lain.
f. Foto dada dan CT scan
Untuk menilai adanya klasifiksdi obstruksi katup jantung, deposit
kalsium pada aorta, dan pembesaran pada daerah
jantung(Nurhidayat, 2015).

vi
2.1.6 PENATALAKSANAAN
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan
dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90
mmHg.
Menurut (Nurhidayat, 2015). Penatalaksanaan dibedakan menjadi 2
yaitu:
1. Penatalaksanaan Non Farmakologis
a. Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam, penurunan BB
dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan
aktivitas renin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
b. Aktifitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan
sesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan
seperti berjalan, jogging, bersepeda, dan berenang
2. Penatalaksanaan Farmakologis
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau pemilihan obat anti
hipertensi, yaitu sebagai berikut:
a. Mempunyai efektivitas yang tinggi
b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral
d. Tidak menimbulkan intoleransi
e. Harga obat relativ murah, sehingga terjangkau oleh klien
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang

2.1.7 KOMPLIKASI
Adapun beberapa komplikasi Hipertensi yaitu:
a. Kolesterol Tinggi
Adalah lemak darah yang tinggi yang dapat meningkatkan
pembuluh arteri, dan dapat menyempitkan arteri dan sulit untuk
mengembangkan (Udjianti, 2010).

vii
b. Diabetes Melitus
Produksi gula darah akan merusak jaringan tubuh, sehingga
dapat terjadi penyempitan pada arteri, penyakit ginjal,itu
tersebut dapat meningkatkan tekanan darah (Udjianti, 2010).
c. Apnea Pada Saat Tidur
Jika seseorang berhenti nafas otomatis kekurangan oksigen
sementara waktu yang disertai apnea saat terjadi Hipertensi. Jika
seorang pada malam hari tidak bisa tidur, dan mengantuk pada
siang hari segera hubungi tim medis, dan segera mendapat
oksigen pada saat mau tidur(Udjianti, 2010).
d. Stroke
Dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang
terpanjan tekanan tinggi. Stoke dapat terjadi pada hipertensi
kronik apabila arteri-arteri yang mempengaruhi otak mengalami
hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah
yang dipengaruhinya berkurang. Arteri-arteri otak yang
mengalami asterosklerosis dapat melemah sehingga
meningkatkankemungkinan terbentuknya
aneurisma(Manuntung, 2018).
e. Aneurisma
Pembuluh darah terdiri dari beberapa lapisan, tetapi ada yang
terpiah sehingga ada ruangan yang memungkinkan darah masuk.
Pelebaran pembuluh darah timbul karena dinding pembuluh
darah aorta terpisah atau disebut aorta disekans. Ini dapat
menimbulkan penyakit aeurisme (Manuntung, 2018).
f. Gagal Ginjal
Terjadi akibat kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada
kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran
darah ke unit fungsional ginjal, yaitu neufron akan terganggu
dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kehamilan. Dengan
rusaknya membran glomerulus, protein akan berkurang dan

viii
menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada
hipertensi(Manuntung, 2018).
g. Kejang
Dapat terjadi pada wanita pre-eklamsi. Bayi baru lahir mungkin
memiliki berat lahir kecil pada masa kehamilan akibat perfusi
plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami
hipoksia dan asidosis jika ibu mengalami kejang selama proses
persalinan(Corwin,E,J, 2009).
h. Ensefalopati
Terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang
meningkat lebih cepat dan berbahaya). Tekanan yang sangat
tingi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan
kapiler dan mendorong cairan ke ruangg intertisial diseluruh
susunan saaraf pusat. Nefron-nefron yang ada disekitarnya
kolaps dan terjadi koma serta adanya kematian(Corwin,E,J,
2009).

2.1.8 PATOFISIOLOGI
Hipertensi essensial melibatkan interaksi yang sangat rumit antara
faktor genetik dan lingkungan yang dihubungkan oleh pejamu mediator
neorohormonal. Secara umum, hipertensi disebabkan oleh peningkatan
tahanan perifer atau peningkatan volume darah. Gen yang berpengaruh
pada hipertensi primer (faktor herediter diperkirakan menjadi 30%
sampai 40% hipertensi primer) meliputi reseptor angiotensin II, gen
angiotensin dan renin, gen sintetase oksida nitrat endotelial, gen protein
reseptor kinnase gen reseptor adrenergic, gen kalsium transport dan
natrium hidrogen antiporter (mempengaruhi sensivitas garam) dan gen
yang berhubungan dengan resistensi insulin, obesitas, hyperglikemia, dan
hipertensi sebagai kelompok bawaan.
Teori terkini mengenai hipertensi primer meliputi peningkatan
aktivitas sistem saraf simpatis yaitu terjadi respon maladaftif terhadap
stimulasi saraf simpatis dan perubahan gen pada reseptor ditambah kadar

ix
katekolamin serum yang menetap, peningkatan aktivitas sistem renin
angiotensin aldosteron, secara langsung menyebabkan vasokontriksi,
tetapi juga meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis dan menurunkan
kadar prostaglandin vasodilator dan oksida nitrat, memediasi remodeling
arteri (perubahan struktural pada dinding pembuluh darah), memediasi
kerusakan organ akhir pada jantung (hipertropi), pembuluh darah dan
ginjal. Defek pada transport garam dan air menyebabkan gangguan
aktivitas peptide nautriuretik otak, peptide natriuretik atrial,
adrenomedulin, urodilatin, dan endotelin dan berhubungan dengan
asupan diet kalsium, magnesium, dan kalium yang rendah. Interaksi
kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi indotel,
hipertensi sering terjadi pada penderita diabetes, dan resistensi insulin
ditemukan pada banyak pasien hipertensi yang tidak memiliki diabetes
klinis. Resistensi insulin berhubungan dengan penurunan pelepasan
endothelial oksida nitrat dan vasodilitor lain serta mempengaruhi fungsi
ginjal. Resistensi insulin dan kadar insulin yang tinggi meningkatkan
aktifitas SNS dan RAA.
Beberapa teori tersebut dapat menenrangkan mengenai
peningkatan tahanan perifer akibat peningkatan vasokontriktor atau
pengurangan vasodilator (adrenomedulin, urodilatalin, oksida nitrat) dan
kemungkinan memediasi perubahan dalam apa yang disebut hubungan
tekanan natriunesis yang menyatakan bahwa individu penderita
hipertensi mengalami ekskresi natrium ginjal yang lebih rendah bila ada
peningkatan tekanan darah.
Pemahaman mengenai patofisiologi mendukung intervensi terkini
yang diterapkan dalam penatalaksanaan hipertensi, seperti asupan garam,
penurunan berat badan, pengontrolan diabetes, diuretik, obat-obatan
eksperimental baru yang mengatur ANF dan endotelin(Manuntung,
2018).

x
2.1.9 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Hipertensi
1. Obesitas
Laki-laki maupun perempuan memeliki kemungkinan yang sama
untuk mengalami hipertensi selama kehidupannya. Namun, laki-
laki lebih beresiko hipertensi dibandingkan perempuan saat berusia
sebelum 45 tahun. Sebaliknya saat usia 65 tahun keatas, perempuan
lebih beresiko hipertensi dibandingkan laki-laki. Kondisi ini
dipengaruhi oleh hormon, wanita yang memasuki masa menopause
lebih beresiko obesitas yang akan mengalami hipertensi
(Prasetyaningrum, 2014).
2. Kurang Aktifitas Fisik
Pergerakan otot anggota tubuh yang membutuhkan
energi/pergerakan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan,
seperti berenang, berkebun, bersepeda. Aktifitas fisik sangat
bermanfaat bagi kesehatan tubuh, khususnya organ jantung dan
paru-paru. Aktifitas fiik juga menyehatkan pembuluh darah dan
mencegah hipertensi. Usaha pencegahan hipertensi akan optimal
jika aktif beraktifitas fisik dengan dibarengi diet sehat dan berhenti
merokok (Prasetyaningrum, 2014).
3. Umur
Orang yang berumur 40 tahun biasanya rentan terhadap
meningkatnya tekanan darah yang lambat laut dapat menjadi
hipertensi seiring dengan bertambahnya umur (Manuntung, 2018).
4. Ras/suku
Diluar negeri banyak orang kulit hitam > kulit putih. Karena
adanya perbedaan status/derajat ekonomi, orang hitam dianggap
rendah dan pada jaman dahulu dijadikan budak, sehingga banyak
menimbulkan tekanan batin yang kuat hingga menyebabkan stres
timbullah hipertensi(Manuntung, 2018).
5. Ubanisasi
Hal ini akan menyebabkan perkotaan menjadi padat penduduk yang
merupakan salah satu pemicu timbulnya hipertensi. Secara otomatis

xi
akan banyak kesibukan diwilayah tersebut, dan banyak tersedia
makanan-makanan siap saji yang menimbulkan hidup kurang sehat
memicu timbulnya hipertensi(Manuntung, 2018).
6. Geografis
Jika dilihat dari segi geografis, daerahpantai lebih besar
presentasenya garamnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan
daerah pegunungan atau daerah yag lebih jauh pantai. Selain itu
keadaan suhu juga menjadi suatu alasan mengapa hipertensi banyak
terjadi didaerah pantai(Manuntung, 2018).
7. Jenis Kelamin
a. Wanita lebih risiko pria: di usia kurang lebih 50 tahun. Karena
di usia seorang wanita sudah mengalami menopause dan
tingkat stres lebih tinggi. Seperti contohnya Penggunaan
kontrasepsi hormonal (eterogen), Oral kontrasepsi yang berisi
esterogen dapat menyebabkan hipertensi melalui mekanisme
Renin-aldosteron-mediated volume expansion. Dengan
penghentian oral kontrasepsi, tekanan darah kembali normal
setelah beberapa bulan, dan seperti contohnya kurang
beraktifitas secara teratur.
b. Pria: di usia kurang lebih 50 tahun. Karena di usia tersebut
seorang pria mempunyai lebih banyak aktivitas dibandingkan
wanita.
Berdasarkan faktor akibat hipertensi terjadi peningkatan
tekanan darah diarteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
a. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan
lebih banyak cairan pada setiap detiknyaa
b. Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri
akibat usia, arteri besar kehilangan kelenturannya
menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang
pada saat hantung memompa darah melalui arteri
tersebut.

xii
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat
kelainan fungsi ginjal, sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah
dalam tubuh akan meningkat, sehingga tekanan darah
juga meningkat (Manuntung, 2018).

2.1.10 Obat AntiHipertensi

1. Diuretik, obat anti hipretensi ini menurunkan tekaknan darah dan


mengeluarkan kelebihan air dan garam dari dalam tubuh melalui
ginjal
2. Beta Blockers, obat ini membantu kerja jantung, perlamabat
detaknya sehingga darah yang dipompa jantung lebih sedikit
dibandingkan pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun
3. ACE Ahibitor,obat jenis ini mencegah tubuh membentuk hormon
angiotensin II yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah
4. Angiostensin II Reseptor Blockers, obat jenis ini memberikan
perlindungan terhadap pembuluh darah dari hormon angiotensin II
yang menyebabkan pembuluh darah rilex dan melebar
5. Kalsium Channell, obat ini obat yang mengatur kalsium agar
masuk kedalam sel jantung dan pembuluh darah sehingga
pembuluh darah rilex
6. Alpha Blocker, obat ini bertugas menguranggi implus saraf yang
menyebabkan pembuluh darah mengencang sehingga aliran darah
lancar
7. Inhibitor Sistem Saraf, bertugas meningkatkan implus daraf dari
otak yang bersantai dan memperlebar pembuluh darah
8. Fasodilatator, berfungsi untuk mengendorkan otot-otot
dindingpembuluh darah sehingga tekanan darah
menurun(Prasetyaningrum, 2014).

xiii
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep
diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini biasanya disebut sebagai
suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik dan
keterampilan interversional dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
pasien (Manuntung, 2018).
Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan
melalui kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat
untuk mengetahui berbagai permasalahan yang ada.

2.2.1. Pengkajian 13 Domain Nanda


1. Domain 1: Health Promotion
a. Keluhan utama
Keluhan utama merupakan keluhan yang paling dirasakan oleh
pasien, seperti kepala terasa pusing dan bagian kuduk berat/ nyeri,
sulit tidur. sehingga menganggu aktivitas pasien. Pada pasien
hipertensi didapatkan keluhan fatique, lemah dan sulit bernafas.
Temuan fisik meliputi peningkatan frekuensi denyut jantung
disritmia dan takipnea (Udjianti, 2010).
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan yang dominan meliputi: nyeri kepala, merasa lelah, sulit
bernafas, mual, gelisah, kesadaran menurun, penglihatan kabur,
telinga berdenging, papitasi/berdebar-debar, kaku kuduk, tekanan
darah cenderung tinggi, mudah marah, dan sulit untuk memulai
tidur(Nurarif & Kusuma, 2015).
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Terdapat riwayat penyakit hipertensi sebelumnya atau adanya
penyakit lainnya seperti gagal ginjal (Udjianti, 2010).
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada keluarganya pasien pernah menderita hipertensi, diabetes, dan
stoke(Nurarif & Kusuma, 2015).

xiv
e. Pola Kesehatan Sehari-hari
a) Olahraga
Kurang olahraga banyak dijumpai pada seseorang. Dengan
alasan kurangnya waktu luang untuk olahraga. Akibatnya jika
tidak berolahraga akan menyebabkan badan menjadi kurang
gerak, kolesterol tinggi, peningkatan berat badan dan tekanan
darah.
b) Konsumsi garam banyak
Dapat menyebabkan tekanan darah. Karena garam membantu air
dalam tubuh, akan meningkatkan volume darah tanpa adanya
penambahan ruang.
c) Stres akan menimbulkan resistensi pembuluh darah perifer dan
curah jantung, sehingga merangsang saraf simpatis (Kurniadi,
2015).
d) Merokok
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung
melalui mekanisme merangsang saraf simpatis, bekerja
melepaskan hormon norepinefrin man meningkatkan hormon
katekolamin yang keluar melalui medulla adrenal.
2. Domain 2: Nutrisi
Gejala makanan yang disukai mencakup makanan tinggi garam,
lemak, serta kolesterol, mual muntah dan terdapat perubahan obat-
obatan diuretic
Tanda: berat badan normal atau obesitas terdapat edema, glikosuria
(Nurhidayat, 2015).
3. Domain 3: Eliminasi Bak/BAB
Terdapat gangguan ginjal saat ini seperti obtruksi atau riwayat
penyakit ginjal pada masa yang lalu (Nurhidayat, 2015).
4. Domain 4: Aktifitas/istirahat tidur
Biasanya terdapat kesulitan tidur karena terdapat nyeri kepala yang di
sebabkan karena adanya resistensi pada pembuluh darah otak
meningkat.

xv
Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda: Frekuensi jantung meningkat,perubahan irama jantung,
takipnea(Nurhidayat, 2015).
5. Domain 6: Persepsi Diri
Gejala: Stress, perasaan tak berdaya diri sendiri, tak ada harapan
Tanda: ansietas, perasaan takut, mudah marah, perubahan kepribadian
6. Domain 9: Koping
Prinsip–prinsip yang mendasari perilaku, pikiran, dan keyakinan
budaya
7. Domain 10: Prinsif Hidup
Gejala: kelemahan, letih, nafas pendek(Doenges, 2012).
Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan iama jantung
8. Domain 12: Kenyamanan
Gejala: nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat
seperti terjadi sebelumnya, nyeri abdomen(Doenges, 2012)

2.2.2. Diagnosa Keperawatan


1. Penurunan curah jantung terhadap berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemik miokardia, hipertropi
2. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
3. Vaskuler serebal berhubungan dengan melaporkan tengan nyeri
berdenyut yang terletak pada regio suboksipital. Terjadi pada saat
bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu
4. Gangguan pola tidur dengan nyeri kepala berhubungan dengan
hipertensi
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dengan
laporan verbal tentang kelebihan dan kelemahan
6. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan dengan kebutuhan metabolik dengan berat
badan
7. Koping, individual, infeksi berhubungan dengan krisis
situasional/maturasional, perubahan hidup

xvi
8. Kurang pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan
berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat dengan
menyatakan masalah, meminta informasi (Manuntung, 2018).

xvii
24

2.2.3. Rencana Asuhan Keperawatan


Rencana asuhan keperawatan adalah proses berbagai solusi atau tindakan keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah,
menghilangkan atau menggurangi masalah pada pasien
Rencana asuhan keperawatan dapat menyimpulkan beberapa komponen, diantaranya prioritas masalah, kriteria hasil,
rencana intervensi dan dokumentasi. Itu sangat menentukan kondisi pasien dengan pendokumentasikan dengan tepat dan jelas
(Manuntung, 2018).

Tabel 2.3 IntervensiKeperawatan


No.
Diagnosa Keperawatan Classification NOC (Nursing Outcomes) NIC (Nursing Intervention Classification)

1. Penurunan curah jantung terhadap Setelah dilakukan tindakan ...x... NIC: Manajemen Risiko Jantung
berhubungan dengan peningkatan diharapkan pasien dapat:
afterload, vasokontriksi, iskemik 1. Skrining pasien mengenai kebiasaan yang
miokardia, hipertropi NOC: Keefektifan Pompa Jantung berisiko yang berhubungan dengan
kejadian yang tidak diharapkan pada
Definisi: Ketidakadekuatan darah 1. Tekanan darah diastol normal jantung
yang dipompa oleh jantung 2. Tekanan sistol 2. Identifikasi kesiapan pasien untuk
memenuhi kebutuhan metabolik 3. Denyut jantung apikal mempelajari gaya hidup yang
tubuh. 4. Freksi efeksi dimodifikasi.
5. Denyut nadi perifer 3. Beri dukungan olahraga pada pasien
Batasan Karakteristik: 6. Ukuran jantung jantung
7. Urin output 4. Instruksikan pasien dan keluarga tanda dan
1. Perubahan frekuensi/irama 8. Keseimbangan intake dan output gejala penderita penyakit jantung
jantung

24
a. Bradikardia dalam 24 jam 5. Prioritaskan hal-hal yang mengurangi
b. Palpitasi jantung 9. Tekanan vena sentral resiko jantung dengan kolaborasi dengan
c. Perubahan 10. Distensi vena leher keluarga
elektrokardiogram (EKG) 11. Disritmia 6. Instruksikan kepada keluarga untuk
d. Takikardia 12. Suara jantung normal memonitor tekanan darah dan denyut
2. Perubahan preload 13. Angina jantung dengan olahraga
a. Distensi nena jugular 14. Edema perifer 7. Berikan dukungan akan olahraga yang
b. Edema 15. Edema paru diindikasikan untuk pasien yang memiliki
c. Keletihan murmur jantung 16. Diaforesis faktor resiko jantung
d. Peningkatan BB 17. Mual 8. Instruksikan pasien melakuan olahraga
e. Peningkatan JVP 18. Kelelahan rutin harian selama 30 menit
f. Penurunan tekanan vena 19. Dyspnea pada saat istirahat 9. Instruksikan pasien dan keluarga
sentral 20. Dyspnea dengan aktivits normal mengenai kebutuhan untuk mencapai
3. Perubahan Afterlod 21. Peningkatan berat badan tujuan latihan dengan periode peningkatan
a. Dispepsia 22. Asites 10 menit yang berkali-kali setiap hari, jika
b. Penurunan nadi perifer 23. Hematomegali tidak bisa mempertahankan aktivitas
4. Perubahan kontraktilitas 24. Gangguan kognisi selama 30 menit
a. Batuk 25. Itoleransi aktivitas 10. Intruksikan pasien dan keluarga
b. Bunyi nafas tambahan 26. Pucat mengenai gejala jantung yang mulai
5. Perilaku/emosi 27. Sianosis terganggu
a. Ansietas 28. Wajah kemerahan 11. Intruksikan pasien dan keluarga
b. Gelisah mengenai strategi untuk membatasi atau
mengurangi rokok
Faktor yang berhubungan 12. Dukung pasien untuk menjaga asupan
kalori sampai tahap pencapaian berat
a. perubahan afterload badan yang diharapkan
b. perubahan Frekuensi 13. Sediakan informasi verbal dan tertulis
jantung kepada pasien, keluarga

25
c. perubahan irama jantung 14. Fokuskan tujuan perawatan dan
d. perubahan kontraktilitas pengobatan agar pasien mampu
e. perubahan preload mempertahankan kontrol berat badan
f. perubahan volume 15. Rujuk ke program rehabilitasi gagal
sekuncup jantung untuk merubah gaya hidup
16. Kurangi kecemasan dengan menyediakan
informasi yang akurat dan mengoreki
segala konsep yang tidak tepat
17. Skrining pasien mengenai kemungkinan
adanya kecemasan dan depresi
18. Identifikasi metode pasien dalam
menghadapi stres
19. Dukung teknik yang efektif untuk
mengurangi stres

2. Nyeri akut, sakit kepala Setelah dilakukan tindakan NIC: Manajemen Nyeri
berhubungan dengan peningkatan keperawatan selama...x... diharapkan
tekanan vaskuler serebal nyeri pasien berkurang 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif yang meliputi lokasi,
Definisi: Pengalaman sensori dan NOC: Kontrol Nyeri karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
emosional tidak menyenangkan kualitas intensitas atau beratnya nyeri dan
yang muncul akibat kerusakan 1. Klien dapat mengenali kapan faktor pencetus
jaringan aktual atau potensial nyeri terjadi 2. Observasi adanya petunjuk non verbal
2. Klien mampu mengambarkan mengenai ketidaknyamanan terutama pada
Batasan Karakteristik: faktor penyebab mereka yang tidak dapat berkomunikasi
3. Menggunaka jurnal harian untuk secara efektif
a. Bukti nyeri dengan memonitor gejala dari waktu ke 3. Pastikan perawatan analgesik
menggunakan standar daftar waktu 4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik

26
b. Diaforesis 4. Mampu menggunakan tindakan 5. Gali pengetahuan dan kepercayaan
c. Dilatasi pupil pencegahan nyeri mengenai nyeri
d. Ekspresi wajah nyeri fokus 5. Menggunakan tindakan 6. Evaluasi nyeri
menyempit pengurangan nyeri tanpa 7. Evaluasi mengenai efektifitas tindakan
e. Fokus pada diri analgesik pengontrolan nyeri yang pernah digunakan
sendiriperubahan selera makan 6. Menggunaka analgesik yang di 8. Bantu keluarga dalam mencari dukungan
f. Keluhsn tentang intensitas rekomendasikan 9. Gunakan metode penilaian yang sesuai
menggunakan skala nyeri 7. Melaporkan perubahan terhadap dengan tahanan perkembangan
g. Keluhan tentang karakteristik gejala nyeri pada profesional 10. Tentukan kebutuhan frekuensi untuk
nyeri dengan menggunakan kesehatan melakukan pengkajian ketidaknyamanan
instrumen nyeri 8. Menggunakan sumber daya yang 11. Beri informasi mengenai nyeri
h. Laporkan tentang perilaku tersedia 12. Kendalikan faktor lingkungan yang
nyeri/perubahan aktivitas 9. Melaporkan nyeri yang terkontrol mempengaruhi pasien
i. Mengekspresikan perilaku pada profesional kesehatan 13. Pertimbangkan keinginan pasien untuk
(gilisah, menangis) 10. Menggunakan sumber daya berpartisipasi
j. Perilaku distraksi yang tersedia 14. Implementasikan farmakologi dan non
k. Perubahan posisi untuk 11. Mengenali apa yang terkait farmakologi
menghindari nyeri dengan gejala nyeri 15. Ajarkan prinsip manajemen nyeri
l. Perubahan selera makan 12. Edukasi pasien untuk 16. Gali penggunakan metode farmakologi
m. Putus asa mengontrol nyeri untuk menurunkan nyeri
n. Sikap melindungi area nyeri 13. Melaporkan apa yang terkait 17. Dorong pasien untuk menggunakan obat
Faktor yang berhubungan: dengan gejala nyeri penurun nyeri
a. Agens cedera biologis 14. Skala nyeri 18. Kolaborasi dengan pasien, keluarga
b. Agens cedera fisik untuk memilih implementasi
c. Agens cedera kimiawi 19. Berikan individu penurun nyeri yang
optimal
20. Gunakan pengontrolan nyeri sebelum
nyeri bertambah berat

27
21. Berikan obat sebelum melakukan
aktifitas untuk meningkatkan partisipasi
22. Periksa ketidaknyamanan bersama pasien
23. Evaluasi keefektifan dari tindakan
pengontrolan nyeri
24. Dukung istirahat/tidur yang adekuat
untik penurunan nyeri
25. Gunakan penekatan multi disiplin untuk
manajemen nyeri
26. Beri tahu dokter jika tindakan tidak
berhasil atau ada perubahan signifikan
mengenai nyeri
27. Pertimbangkan untuk merujuk pasien
28. Berikan informasi yang akurat untuk
meningkatkan pengetahuan dan respon
keluarga terhadap pengalaman nyeri
29. Libatkan keluarga dalam modalitas
penurunan nyeri
30. Monitor kepuasan pasien terhadap
manajemen nyeri dalam interval yang
spesifik

Gangguan pola tidur dengan nyeri


3. kepala berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan NIC: Peningkatan Tidur
hipertensi keperawatan selama...x... diharapkan
pola tidur pasien cukup 1. Jelaskan pentingnya tidur yang cukup
Definisi: Interupsi jumlah waktu 2. Perkiraan tidur/siklus bangun pasien
dan kualitas tidur akibat faktor NOC: Tidur didalam perawatan perencanaan
3. Jelaskan pentingya tidur yang cukup

28
eksternal 1. Jumlah jam tidur normal selama kehamilan
2. Jam tidur yang diobservasi 4. Tentukan efek dari obat yang dikonsumsi
Batasan Karakteristik: 3. Pola tidur normal pasien
4. Kualitas tidur 5. Monitor pola tidur dan jumlah jam tidur
a. Kesulitan berfungsi sehari- 5. Efisiensi tidur 6. Monitor pola tidur pasien, dan catat
hari 6. Tidur rutin kondisi fisik
b. Kesulitan memulai tidur 7. Tidur dari awal sampai habis 7. Anjurkan pasien untuk memantau pola
c. Kesulitan mempertahankan dimalam hari secara konsisten tidur
tetap tidur 8. Perasaan segar setelah tidur 8. Monitor partisipasi kegiatan yang
d. Ketidakpuasan tidur 9. Mudah bangun pada saat yang melelahkan selama terjaga untuk
e. Tidak merasakan cukup tepat mencegah penat yang berlebih
istirahat 10. Tempat tidur yang nyaman 9. Sesuaikan lingkungan
Faktor yang berhubungan: 11. Suhu ruangan yang nyaman 10. Dorong pasien untuk menetapkan
a. Gangguan karena cara tidur 12. Hasil electroencephalogram rutinitas tidur
pasangan tidur 13. Hasil electroromyogram 11. Bantu untuk menghilangkan situasi stres
b. Kendala lingkungan 14. Hasil electro-oulogram sebelum tidur
c. Kurang privasi 15. Kesulitan menulai tidur 12. Monitor makanan sebelum dan sesudah
d. Pola tidur tidak menyehatkan 16. Tidur yang terputus tidur
e. Imobilisasi 17. Tidur yang tidak tepat 13. Anjurkan pasien menghindari makanan
18. Apnea saat tidur sebelum tidur dan yang menganggu tidur
19. Ketergantungan pada bantuan 14. Bantu meningkatkan jumlah jam tidur
tidur 15. Sesuaikan jadwal pemberian obat yang
20. Mimpi buruk mendukung tidur
21. Buang air kecil dimalam hari 16. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai
22. Mengorok faktor yang berkontribusi terjadinya
23. Nyeri gangguan pola tidur
Status Kenyamanan: Lingkungan 17. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
1. Suplai dan peralatan yang pasien

29
dibutuhkan berada dalam 18. Dorong penggunaan obat tidur yang
jangkauan tidak mengandung zat penekan tidur
2. Suhu ruangan 19. Atur rangsangan lingkungan untuk
3. Lingkungan yang kondusif untuk mempertahankan siklus siang malam
tidur yang normal
4. Kepuasan dengan lingkungan 20. Diskusikan dengan pasien keluarga
fisik mengenai teknik untuk meningkatkan
5. Ketertiban lingkungan tidur
6. Kebersihan lingkungan 21. Berikan pamflet dengan informasi
7. Tidak ada yang berserakan di mengenai teknik untuk meningkatkan
lantai tidur
8. Perangkat keselamatan digunakan Manajemen Lingkungan Kenyamanan
dengan tepat 1. Tentukan tujuan pasien dan keluarga
9. Pencahayaan ruangan dalam mengelola limgkungan dan
10. Privasi kenyamanan yang optimal
11. Ketersediaan ruang untuk 2. Mudahkan transisi pasien dan keluarga
pengunjung dengan adanya sambutan hangat
12. Tempat tidur yang nyaman dilingkungan yang baru
13. Perabotan rumah yang nyaman 3. Pertimbangkan penempatan pasien
14. Adaptasi lingkungan yang dikamar dengan beberapa tempat tidur
dibutuhkan 4. Sediakan kamar terpiah jika terdapat
15. Lingkungan yang damai preferensi dan kebutuhan pasien
16. Kontrol terhadap suara ribut 5. Cepat bertindak jika ada panggilan bel
17. Pengontrolan bau-bauan 6. Hindari gangguan yang tidak perlu dan
berikan waktu untuk istirahat
Tingkat Depresi 7. Ciptakan lingkungan yang mendukung
1. Perasaan depresi 8. Berikan pilihan untuk dapat melaakukan
2. Kehilangan minat pada kegiatan kegiatan kunjungan sosial

30
3. Peristiwa kehidupan yang negatif 9. Berikan/singkirkan selimat untuk
4. Kurangnya kesenangan pada meningkatkan kenyamanan terhadap
kegiatan suhu,
5. Gangguan konsentrasi 10. Hindari paparan dan aliran udara yang
6. Kelelahan tidak perlu
7. Perasaan tidak berada 11. Sesuaikan pencahayaan
8. Insomnia 12. Fasilitas tindakan kebersihan untuk
9. Kesedihan menjaga kenyamanan
10. Kemarahan 13. Posisikan pasien untuk meningkatkan
11. Iritabilitas kenyamanan
12. Kesendirian 14. Monitor kulit terutama daerah tonjolan
13. Nafsu makan menurun dan tubuh adanya iritasi
meningkat 15. Berikan sumber-sumber edukasi yang
14. Berat badan menurun dan relavan dan berguna mengunai
menigkat manajemen penyakit dan cedera pada
15. Hipersomnia pasien dan keluarga jika sesuai
16. Peningkatan penggunaan
alkohol Pengurangan Kecemasan
17. Pengunaan narkoba 1. Gunakan pendekatan yang tenang
18. Kebersihan pribadi yang buruk 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
19. Agitasi psikomotorik klien
20. Tidak dapat membuat keputusan 3. Jelaskan prosedur termasuk sensani yang
dirasakan klien
4. Berikan informasi aktual terkait perawatan
5. Dorong keluarga untuk mendampingi
klien
6. Lakukan usapan punggung dan leher
dengan tepat

31
7. Dorong verbalisasi perasaan persensi dan
ketakutan
8. Identifikasi saat terjadi perubahan tingkat
kecemasan
9. Kontrol stimulus untuk kebutuhan klien
10. Atur penggunaan obat-obatan untuk
mengurangi kecemasan
11. Kaji untuk tanda verbal dan non verbal
kecemasan

(Bulecheck, 2016), (Herdman & Kamitsuru, 2018-2020), ) (Butcher & Bulechek, 2018).

32
33

2.2.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi atau pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana
untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai
setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada rencana
tindakan yang spesifik untuk membantu komunitas mencapai
tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, intervensi yang spesifik
dilaksanakan untuk faktor-faktor yang mempengaruhi masalah
pada pasien. Tujuan implementasi adalah membantu komunitas
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan
kesehatann, dan memfasilitasi koping. Perencanaan tindakan
keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika komunitas
mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam implentasi
tindakan keperawatan. Setelah tahap pelaksanaan, perawat terus
melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan keperawatan
yang paling sesuai dengan kebutuhan komunitas (Nursalam,
Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
2015)
34

2.2.5 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi
proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosis
keperawatan, rencana tindakan, dan implementasinya sudah
berhasil dicapai. Evaluasi memungkinkan perawat untul
memonitor keadaan yang terjadi selam tahap pengkajian, analisis,
perencanaan, dan implementasi tindakan. Bertujuan untuk melihat
kemampuan klien untuk mencapai tijuan. Hal ini bisa dilaksanakan
dengan mengadakan hubungan dengan pasien berdasarkan respon
pasien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga
perawat dapat mengambil keputusan. Proses evaluasi terdiri atas
dua tahap yaitu mengukur pencapaian tujuan pasien baik kognitif,
afektif, psikomotor, dan perubahan fungsi tubuh serta gejalanya,
dan membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan
pencapaian tujuan (Nursalam, Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan Pendekatan Praktik, 2016).

2.3.1. Konsep Masalah Gangguan Pola Tidur


2.3.1 Defisini Gangguan Pola Tidur
Gangguan pola tidur adalah kekacuan waktu tidur
menyebabkan rasa tidak nyaman atau mempengaruhi gaya hidup
yang diinginkan. Etiologi atau berhubungan dengan faktor
perubahan sensori karena penyakit, stres psikososial, perubahan
lingkungan, batasan karakteristik, keluhan verbal tentang kesulitan
untuk jatuh tidur, terbangun lebih pagi atau lebih lambat sari yang
diinginkan, tidur terputus-putus, keluhan verbal tentang tidak
merasakan istirahat yang cukup, ptosis kelopak mata, lingkaran
gelap dibawah mata, sering menguap, perubahan pada postur,
berbicara cepat dengan pengucapan yang salah dan kata-kata yang
tidak tepat (Setiawan, 2016).
35

Tidur merupakan sebuah periode istirahat bagi tubuh dan


pikiran pada saat kita tidur seluruh otot dan pikiran masuk ke
periode tidak aktif. Artinya segala aktivitas fisik yang
mengeluarkan energi banyak di tiadakan. Hanya beberapa aktivitas
tubuh yang tetap berjalan selama kita tidur seperti bernafas.
Aktivitas organ dalam seperti jantung, paru-paru, dan beberapa
organ yang terkait tetap bekerja meski dalam kecepatan lambat.
Tubuh dan pikiran menurunkan segala aktivitasnya untuk
menghemat energi saat tidur. Perlu diingat, saat tidur pun
mengeluarkan energi tetapi dalam jumlah sangat sedikit.
Aktivitas tubuh fisik maupun metabolisme didalam tubuh
juga melambat sensoris yang menghubungkan kita dengan dunia
luar akan diturunkan. Kita semakin tidak sadar dengan lingkungan
kita. Semakin dalam kita tidur, semakin sulit kita dibangunkan.
Begitu pula dengan dengan fungsi-fungsi tubuh, denyut jantung
dan pernafasan akan semakin lambat dan teratur. Semua dilakukan
hingga menghemat pengeluaran energi oleh tubuh. Penghematan
energgi tubuh saat tidur merupakan salah satu manfaat dari tidur.

2.3.2 Fungsi Tidur


1. Selama tidur seseorang akan mengulang kembali kejadian-
kejadian sehari-hari, memproses, menyusun kembali,
menyimpan dan menggunakannya untuk masa depan
2. Tingkah laku, tidur juga diyakini dapat menjaga keseimbangan
mental dan emosional serta kesehatan (Atoilah & Kusnadi,
2013).

2.3.3 Tahap tahap tidur


1. Tahap 1:
a. Seseorang baru saja terlena
b. Seluruh otot menjadi lemas
c. Kelopak mata menutupi mata
36

d. Kedua bola mata bergerak bolak balik kesamping


e. Pada EEG didapatkan penurunan voltasi gelombang alpha
f. Dapat di bangunkan dengan mudah
g. Berlangsung selama 5 menit
h. Frekuensi nadi dan pernafasan menurun
2. Tahap II:
a. Kedua bola mata mulai berhenti bergerak
b. Suhu tubuh menurun
c. Tonus otot berlahan-lahan menurun
d. Berlangsung selama 10-15 menit
e. Pada EEG timbul gelombang Thaeta, gelombang ini disebut
sepindless
3. Tahap III
a. Keadaan fisik lemah lunglai, tonus otot lenyap secara
smenyeluruh
b. Terjadi perubahan gelombang dasar Theta
c. Sesekali timbul sleep spindless
d. Sulit untuk dibangunkan
4. Tahap IV
a. Keadaan fisik lemah lunglai
b. EEG hanya terlihat gelombang deltha, tanpa sleep spindless
c. Dapat terjadi mimpi
d. Denyut jantung dan pernafasan menurun 20%-30%
e. Otot-otot rilek, jarang bergerak dan sangat susah di
bangunkan
f. Memulihkan keadaan tubuh
5. Tahap V
a. Keadaan bola mata bergerak kembali dengan kecepatan lebih
tinggi
b. Paradogsal sleep: sifat tidurnya nyeyak sekali tetapi sifat
fisiknya terutama mata bergerak aktif
c. Mimpi terjadi saat ini
37

d. Tidur tahap IV nyata berkurang


e. Periode REM pertama lebih lama
f. Dapat terbangun lebih sering pada malam hari (Atoilah &
Kusnadi, 2013).

2.3.4 Macam-Macam Tidur


a. REM (Rapid Eyes Movement/gerakan mata capat ditandai
dengan:
1. Mimpi yang bermacam-macam
2. Otot-otot kendor
3. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih
cepat
4. Perubahan tekanan darah
5. Gerakan otot tidak teratur
6. Gerakan mata cepat
7. Sekresi lambung meningkat
Syaraf simpatik bekerja selama tidur REM dan
diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang
digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori
juga dapat meningkatkan proses sintetic diotak sehingga dapat
memulihkan fungsi tubuh, dan manusia kesegarannya. Tanda-
tanda seseorang mengalami kurang tidur REM:
1. Individu cenderung hiperaktif
2. Kurang dapat mengendalikan diri dan emosinya
3. Nafsu makan bertambah
4. Binggung dan curiga
5. Emosi stabil
b. NREM (Non Raoid Eyes Movement/gerakan mata tidak cepat)
Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam, terdapat
gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih
lambat dan gelombang alpha dan betha pada orang yang sadar
atau tidak dalam keadaan tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM:
38

1. Mimpi berkurang
2. Keadaan istirahat
3. Tekanan darah turun
4. Kecepatan pernafasan turun
5. Metabolisme turun
6. Gerakan mata lambat
Tanda-tanda seseorang mengalami kurang tidur NREM:
1. Menarik diri, respon menurun
2. Merasa tidak enak badan
3. Ekspresi wajah kuyu
4. Malas bicara
5. Kantuk yang berlebihan (Atoilah & Kusnadi, 2013).

2.3.5 Patofisiologi Tidur


1. Tidur merupakan aktifitas susunan saraf pusat yang
berperansebagai lonceng biologi.
2. Irama seiring dengan rotasi bola dunia irama sirkadian
3. Tidur didak dapat di artikan sebagai deaktifasi susunan syaraf
pusat, karena selama tidur susunan syaraf pusat tetap aktif
dalam mengadakan sinkronisasi terhadap neuron substansia
retikularis dari batang otak.
4. Dengan EEG kegiatan susunan syaraf pusat selama tidur dapat
diungkapkan (Atoilah & Kusnadi, 2013).

2.3.6 Gangguan Tidur


1. Insomnia
Ketidakmampuan untuk mencukupi baik kwalitas maupun
kuantitas, jenis insomnia yaitu insomnia inisial (seseorang sulit
memulai tidur), insomnia terminal (seseorang terbangun lebih
dini dan sulit tisur lagi). Ada beberapa tindakan atau upaya-
upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia:
39

a. Memakan makanan berprotein tinggi sebelum tidur, seperti


keju atau susu. Diperkirakan bahwa triprofan, yang
merupakan suatu asam amino dari protein yang dicerna
dapat membantu agar mudah tidur
b. Usaha agar selalu beranjak tidur pada waktu yaang sama
c. Hindari tidur diwaktu di siang atau sore hari
d. Berusaha untuk tidur hanya apabila merasa benar-banar
kantuk dan tidak pada waktu kesadaran penuh
e. Hindari kegiata-kegiatan yang membangkitkan minat
sebelum tidur
Insomnia juga dibagi menjadi:
a. Insomnia primer: penderita bisa tidur bahkan tidurnya
sambil mendengkur tapi ia tidak bisa menikmati tidur. Masa
REM sangat kurang, sedangkan NREM cukup.
b. Insomnia sekunder psikoneurotik: orgn-organ psikineurotik
pada umumnya banyak problem dan keluhan. Banyak
fikiran dan perasaan yang menganggu individu sampai saat
tidur. Misalnya, pusing, sakit kepala , perut kembung, badan
terasa pegal-pegal
c. Insomnia Sekunder Penyakit Organik: karena terganggu
oleh suatu penyakit misalnya, nyeri dan sesak nafas(Atoilah
& Kusnadi, 2013).
2. Hipersomnia
Suatu keadaan dimana jumlah tidur berlebihan dari normal
dan lebih dari 9 jam dimalam hari, hipersomnia biasanya
berhubungan dengan gangguan psikologis (depresi, gelisah)
dan penyakit fisik ( DM, ginjal, atau obat-obatan)(Atoilah
& Kusnadi, 2013).
3. Narkolepsi
Serangan ngantuk yang mendadak terjadi disiang hari,
penderita dapat tertidur pada setiap saat ia mendapatkan
serangan tidur. Biasanya terjadi setelah makan, suasana
40

lingkungan monoton dan sunyi. Penyeban narkolepsi secara


pasti belum jelas, tetapi diduga terjadi akibat kerusakan
genetika sistem saraf pusat dimana periode REM tidak
dapat dikendalikan, serangan narkolepsi ini dapat
menimbulkan bahaya apabila terjadi pada waktu
mengendarahi kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-
alat yang berputar, atau ditepi jurang(Atoilah & Kusnadi,
2013).
4. Parasmnia
Suatu gangguan uang mempengaruhi tidur anak-anak.
Misalnya, somnabulisme (berjalan-jalan aat tidur), enuresis
(ngompol), Noktural ereksi, night terrors (mimpi buruk),
mengigau, bruxisme (mengesek-gesek gigi
geraham)(Atoilah & Kusnadi, 2013).
5. Suddem Infant Death Syndrome/SIDS
Yang terjadi pada bayi usia 12 bulan pertama yang bisa
menyebabkan kematian. Penyebab belum diketahui tapi
diperkirakan sytem syaraf belum matang(Atoilah &
Kusnadi, 2013).

2.3.7 Faktor yang Mempengaruhi Istirahat dan Tidur


Pemenuhan kebutuhan istirahat yang tidursetiap orang
berbeda-beda. Ada yang kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Ada
pula yang mengalami gangguan. Seseorang bisa tidur ataupun tidak
diengarruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Gaya Hidup
Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Kelelahan
tingkat menengah dapat orangtidur dengan nyenyak. Sedangkan
pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan periode tidur
REM yang lebh pendek(Haroen, 2010).
41

2. Status Kesehatan
Seseorang kondisinya tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat
tidur dengan nyenya. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa
nyeri, maka kebutuhan istirahat dan tidurnya tidak dapat
dipenuhi dengan baik sehingga ia tidak dapat tidur dengan
nyenyak (Haroen, 2010).
3. Penyakit, banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan hidup,
misalnya penyekit yang disebabkan infeksi(Sumarna & Rosidin,
2019).
4. Latihan dan kelelahan, keletihan akibat aktifitas yang tinggi
dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga
keseimbangan energi yang telah dikeluarkan (Sumarna &
Rosidin, 2019).
5. Stres Psikologis, kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang
akibat ketegangan jiwa, dimana seseorang mengalami
kegelisahan(Sumarna & Rosidin, 2019).
6. Obat, beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur
adalah jenisgolongan obat diuretik menyebabkan seseorang
insomnia, antidepresan dapat menekan REM(Sumarna &
Rosidin, 2019).
7. Nutrisi, protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya
proses tidur(Sumarna & Rosidin, 2019).
8. Lingkungan, lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang
dapat mempercepat terjadinya proses tidur(Sumarna & Rosidin,
2019).
9. Motivasi, merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang
untuk tidur(Sumarna & Rosidin, 2019).

2.3.8 Cara Mengatasi Gangguan Pola Tidur


Ada beberapa aspek yang perlu dikaji pada gangguan pola
tidur seseorang, diantaranya:
42

c. Gangguan tidur yang sering dialami klien dengan cara


mengatasinya
d. Kebiasaan tidur siang
e. Lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur
klien, apakah kondisinya bising, gelap atau suhunya dingin
f. Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat
mempelajari apakah peristiwa, yang dialami klien, yang
menyebabkan klien mengalami gangguan tidur
g. Stutus emosi dan mental klien, juga mempengaruh terhadap
kemampuan klien untuk istirahat dan tidur (Haroen, 2010).
h. Hidroterapi kaki, berfungsi untuk meningkatkan kualitas tidur
(Indrawat & Andriyat, 2018 ).

2.3.9 Batasan Karakteristik Gangguan Pola Tidur


1. Kesulitan berfungsi sehari-hari
2. Kesulitan memulai tidur
3. Kesulitan mempertahankan tetap tidur
4. Ketidakpuasan tidur
5. Tidak merasa cukup istirahat
6. Terjaga tanpa jelas penyebabnya (Herdman & Kamitsuru, 2018-
2020).
43

2.3.10 Indikator Gangguan Pola Tidur


Penilaian ini menggunakan NOC: Tidur
Tabel 2.4 Indikator Gangguan Pola Tidur
Indikator Sangat Cukup Tidak
terganggu terganggu terganggu
1 2 3

3-4 jam 5-6 jam 7-9 jam


Jam Tidur
Tidak teratur Cukup Nyenyak,
Pola Tidur teratur sulit
terbangun

Tidak Cukup Nyenyak,


Kualitas Tidur nyenyak nyenyak, sulit
mudah kadang terbangun
terbangun terbangun
Sering Kadang Tidak
Tidur dari awal terbangun terbangun, terbangun
habis malam hari tidak cukup konsisten
secara konsisten konsisten konsisten
Lesu Kurang Segar
Perasaan tidur segar
sebelum bangun
tidur
Sangat sulit Cukup Mudah
Kesulitan untuk kesulitan tertidur
memulai tidur
Sangat sering Kadang Tidak ada
Apnea saat tidur
Sangat sering Kadang Tidak
Mimpi buruk pernah

>3kali 2 kali 1 kali


Buang air kecil
dimalam hari
Sangat sering Kadang Tidak ada
Nyeri
Sklera Sklera Tidak ada
Fisik mata kemerahan kemerahan kemerahan
semua sebagian
11 22 33
Total Score

(Moorhead,, 2013), (Herdman & Kamitsuru, 2018-2020).


44

Keterangan Nilai: Keterangan Score:


Nilai 1: Sangat terganggu Sangat terganggu : 11
Nilai 2: Cukup terganggu Cukup terganggu : 22
Nilai 3: Tidak terganggu Tidak terganggu : 33

2.3.11 Faktor yang berhubungan Gangguan Pola Tidur


1. Gangguan karena cara tidur pasangan tidur
2. Kendala lingkungan
3. Kurang privasi
4. Pola tidur menyehatkan
Kondisi terkait:
Imobilisasi(Herdman & Kamitsuru, 2018-2020).

2.3.12 Kebutuhan Pola Tidur


1. Bayi baru lahir (0-3 bulan): durasi tidur diperkecil menjadi 14-
17 jam per hari, sebelumnya 12-18 jam.
2. Bayi usia 4-11 bulan: durasi tidur ditambah menjadi 12-15 jam,
sebelumnya 14-15 jam
3. Balita (1-2 tahun): durasi tidur dipersempit menjadi 10-13 jam,
sebelumnya berjumlah 12-14 jam
4. Balita (3-5 tahun): durasi tidur dipersempit menjadi 10-13 jam,
sebelumnya berjumlah 11-13 jam
5. Anak-anak usia 6-13 tahun: durasitidur ditambah satu jam
menjadi 9-11 jam per hari, sebelumnya hanya 10-11 jam
6. Remaja usia 14-17 tahun: durasi tidur mereka juga ditambah
satu jam sehingga menjadi 8-10 jam per hari, sebelumnya 8,5-
9,5 jam
7. Orang menuju dewasa (18-25 tahun): kategori ini merupakan
kategori baru, durasi tidurnya yakni 7-9 jam per harinya
8. Orang dewasa (26-64 tahun): durasi tidur tetap, yakni 7-9 jam
45

9. Orang lanjut usia (65 tahun ke atas): kategori batu, durasi tidur
7-8 jam per hari (Waringin, 2018).

2.3.13 Intervensi
A. ‘’Peningkatan Tidur’’
1. Jelaskan pentingnya tidur yang cukup
2. Perkiraan tidur/siklus bangun pasien didalam perawatan
perencanaan
3. Jelaskan pentingya tidur yang cukup
4. Monitor pola tidur dan jumlah jam tidur
5. Monitor pola tidur pasien, dan catat kondisi fisik
6. Anjurkan keluarga untuk memantau pola tidur
7. Dorong pasien untuk menetapkan rutinitas tidur
8. Monitor makanan sebelum dan sesudah tidur
9. Anjurkan pasien menghindari makanan sebelum tidur dan
yang menganggu tidur
10. Bantu meningkatkan jumlah jam tidur
11. Melakukan hidroterapi kaki pada air hangat pada kedua
kaki
B. ‘’Manajemen Lingkungan Kenyamanan’’
1. Tentukan tujuan pasien dan keluarga dalam mengelola
lingkungan dan kenyamanan yang optimal
2. Cepat bertindak jika ada panggilan keluarga
3. Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan waktu
untuk istirahat
4. Fasilitas tindakan kebersihan untuk menjaga kenyamanan
5. Posisikan pasien untuk meningkatkan kenyamanan
Indikator
‘’Tidur’’
1. Jumlah jam tidur normal
2. Pola tidur normal
3. Kualitas tidur
46

4. Tidur dari awal sampai habis dimalam hari secara


konsisten
5. Perasaan segar setelah tidur
6. Kesulitan memulai tidur
7. Apnea saat tidur
8. Mimpi buruk
9. Buang air kecil dimalam hari
10. Nyeri
11. Fisik mata