Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MOBILITAS FISIK


PADA NY.D DI RUANG KECAK RSD MANGUSADA PADA
TANGGAL 6 S/D 8 AGUSTUS 2019

Oleh
Chandra Dewi
NIM.P07120319039

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN 2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.D DENGAN
GANGGUAN PEMENUHAN MOBILITAS FISIK

A. Konsep Dasar Kebutuhan Dasar


1. Definisi
Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam melakukan pergerakan fisik dari
satu atau lebih ekstremitas secara mandiri ( SDKI,2018). Mobilitas atau mobilisasi
merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara mudah, bebas dan teratur untuk
mencapai suatu tujuan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara mandiri
maupun dengan bantuan orang lain dan hanya dengan bantuan alat (Widuri, 2010).
Adapun pengertian dari Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu
untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (A. Aziz Alimul H. 2009).
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan
teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan
untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit
degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi,
membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal,
dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya
dalam waktu 12 jam (Mubarak, 2015). Mobilitas atau Mobilisasi adalah kemampuan
individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.

2. Fisiologi
Proses fisiologis pada tubuh terkait gangguan mobilitas fisik menurut ( Potter &
Perry, 2015 ) yaitu sebagai berikut :
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot,
skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan
tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai
sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi
isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik
menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan
atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep.
Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun
kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi
meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan
kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik.
Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit
obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan
suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot
skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan
aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus
otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Ketegangan dapat
dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja
otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya
aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang:
panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam
pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium,
berperan dalam pembentukan sel darah merah. Sendi adalah hubungan di antara tulang,
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan stabilitas.
Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini. Contoh: sakrum, pada sendi vertebra.
2) Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis dan
menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya. Sendi kartilago terdapat
pada tulang yang mengalami penekanan yang konstan, seperti sendi, kostosternal antara
sternum dan iga.
3) Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua permukaan tulang disatukan
dengan ligamen atau membran. Serat atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan,
dapat bergerak dengan jumlah yang terbatas. Contoh: sepasang tulang pada kaki bawah
(tibia dan fibula) .
4) Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan secara
bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan
dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi
pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada jari.
5) Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel
mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago.
Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif.
Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum
mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak.
6) Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang menghubungkan
otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak elastis, serta mempunyai
panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon akhiles/kalkaneus.
7) Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai vaskuler,
terutama berada disendi dan toraks, trakhea, laring, hidung, dan telinga. Bayi
mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago permanen tidak mengalami
osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis.
8) Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik volunteer utama,
berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik.
9) Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh tertentu
dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara
berkesinambungan. Misalnya proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk
memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat berdiri, ada penekanan
pada telapak kaki secara terus menerus. Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan
informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi.

3. Pohon Masalah
4. Klasifikasi Gangguan Mobilitas Fisik
Menurut (Potter & Perry, 2015) adapun klasifikasi pada gangguan kebutuhan
mobilitas fisik yaitu :
a. Mobilitas penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan
bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat
mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
b. Mobilitas sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan
jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf
motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua
jenis, yaitu :
1) Mobilitas sebagian temporer merupakan kemampun individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel
pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
2) Mobilitas sebagian permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf
yang reversibel, contohnya terjadi hemiplegia karena stroke, parapelgia karena cedera
tulang belakang, poliomielitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik
(Widuri, 2010).
c. Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
1) Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian
dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan
menggerakkan kaki pasien.
2) Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan
kakinya.
3) Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang
diperlukan.
5. Gejala Klinis
Gejala klinis pada gangguan mobilitas fisik menurut ( SDKI, 2018 ) yaitu :
a. Mayor
1) Subjektif
Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
2) Objektif
Kekuatan otot menurun
Rentang gerak ROM menurun
b. Minor
1) Subjektif
Nyeri saat bergerak
Enggan melakukan pergerakan
Merasa cemas saat bergerak
2) Objektif
Sendi kaku
Gerakan tidak terkoordinasi
Gerakan terbatas
Fisik lemah

6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Kozier, 2010) pemeriksaan diagnostic pada gangguan pemenhan
kebutuhan dasar mobilisasi yaitu :
a. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan
tulang.
b. CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang
terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau
tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang
didaerah yang sulit dievaluasi.
c. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive,
yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk
memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak
melalui tulang.
d. Pemeriksaan Laboratorium:
Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑
pada kerusakan otot.

7. Komplikasi
Menurut (Kozier, 2010) komplikasi yang ditimbulkan pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan mobilitas fisik yaitu :
a. Perubahan Metabolik
Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal, mengingat
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh.
Immobilisasi menggangu fungsi metabolic normal antara lain laju metabolic:
metabolisme karbohidarat, lemak, dan protein, keseimbangan cairan dan elektrolit,
ketidakseimbangan kalsium, dan gangguan pencernaan. Keberdaaan infeksius
padaklien immobilisasi meningkatkan BMR karena adanya demam dan
penyembuhanluka yang membutuhkan peningkatan kebutuhan oksgen selular.
Gangguan metabolic yang mungkin terjadi :
1) Defisensi kalori dan proterin merupakan karakteristik klien yangmengalamianoreksia
sekunder akibat mobilisasi. Immobilisasi menyebabkan asam amino tidak digunakan
dan akan diekskresikan. Pemcahan asam amino akan terus terjadi dan menghasilkan
nitrogen sehingga akumulasinya kan menyebbakankeseimbangan nitrogen negative ,
kehilangan berat badan , penurnan massaotot, dan kelemahan akibat katabolisme
jarinagn. Kehilangan masa otot tertutama pada hati,jantung,paru-paru, saluran
pencernaan, dan imunitas.
2) Ekskresi kalssium dalam urin ditngkatkan melalui resorpsi tulang. Hal ini terjadi
karena immobilisasi menyebabkan kerja ginjal yang menyebabkanhiperkalsemia.
3) Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan mempengaruhi system
metabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme
zat gizi. Salah satu yang terjadi adalah perubahan metabolisme protein. Kadar plasma
kortisol lebih tinggi pada usia lanjut yang imobilisasi sehingga menyebabkan
metabolisme menjadi katabolisme. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama
7 hari akan meningkatkan ekskresinitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia.
4) Gannguan gastrointestinal terjadi akibta penurunan motilitas usus. Konstipasi sebagai
gejala umum , diare karena feces yang cair melewati bagian tejpit dan menyebabkan
masalah serius berupa obstruksi usus mekanik bila tidak ditangani karena adanya
distensi dan peningkatan intraluminal yang akan semakin parah bila terjadi dehidrasi,
terhentinya basorbsi, gannguan cairan dan elektrolit.
b. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas
akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsenstrasi protein serum
berkurang sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Berkurangnya
perpindahan cairan dari intravaskular ke interstitial dapat menyebabkan edema,
sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
c. Gangguan Pengubahan Zat Gizi
Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein
dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel
menurun, dan tidak bisa melaksanakan aktivitas metabolisme,
d. Gangguan Fungsi Gastrointestinal
Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal, karena imobilitas
dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna dan dapat menyebabkan gangguan
proses eliminasi.
e. Perubahan Sistem Pernapasan
Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernapasan. Akibat imobilitas,
kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot,
f. Perubahan Kardiovaskular
g. Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas, yaitu berupa hipotensi ortostatik,
meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
h. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Gangguan Muskular: menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas, dapat
menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung.
Gangguan Skeletal: adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skeletal,
misalnya akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.
i. Perubahan Sistem Integumen
Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena
menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas.
j. Perubahan Eliminasi
Perubahan dalam eliminasi misalnya dalam penurunan jumlah urine.
k. Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas, antara lain timbulnya rasa bermusuhan,
bingung, cemas, dan sebagainya.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas pasien
Tanyakan pada pasien terkait identitas pasien kepada pasien jika kooperatf dan sadar,
atau dengan keluarga pasien seperti : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, agama, suku, alamat, tanggal masuk, tanggal
pengkajian, sumber Informasi, diagnosa masuk, penanggung jawab pasien ( beserta
hubungannya dengan pasien ).
b. Alasan di rawat
Pengkajian terkait penyebab pasien harus di rawat inap di rumah sakit.
c. Riwayat penyakit
Pengkajian terkait penyakit yang diderita pasien sejak lama hingga kini.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Pengkajian terkait penyakit keturunan , kesehatan, genogram pada keluarga yang
berkaitan dengan penyakit dan keadaan pasien saat ini.
e. Data bio-psiko- sosio- spiritual
1) Aspek biologis
a) Usia.
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan aktifitas, terkait dengan
kekuatan muskuloskeletal. Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah postur tubuh yang
sesuai dengan tahap pekembangan individu.
b) Riwayat keperawatan.
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan pada sistem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktivitas,
jenis latihan atau olahraga yang sering dilakukan klien dan lain-lain.
Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap tubuh, dan dampak
imobilisasi terhadap sistem tubuh.
c) Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana respons psikologis
klien terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya, mekanisme koping yang
digunakan klien dalam menghadapi gangguan aktivitas dan lain-lain.
f. Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampak
yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang dialami klien terhadap kehidupan
sosialnya, misalnya bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan, peran diri baik
dirumah, kantor maupun sosial dan lain-lain
g. Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan nilai yang
dianut klien dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang, seperti apakah
klien menunjukan keputusasaan, dan bagaimana pelaksanaan ibadah klien dengan
keterbatasan kemampuan fisik.
h. Pemeriksaan fisik

1) Mengkaji skelet tubuh


Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor
tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam
kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik
selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
2) Mengkaji tulang belakang
a) Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
b) Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
c) Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
3) Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya
benjolan, adanya kekakuan sendi
4) Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-
masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri
otot.
5) Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas
lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan
cara berjalan abnormal (mis.cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan
selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit
Parkinson).
6) Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari
lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut
perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
7) Mengkaji fungsional klien
a) Kategori tingkat kemampuan aktivitas
TINGKAT KATEGORI
AKTIVITAS/ MOBILITAS
0 Mampu merawat sendiri
secara penuh
1 Memerlukan
penggunaan alat
2 Memerlukan bantuan
atau pengawasan orang
lain
3 Memerlukan bantuan,
pengawasan orang lain,
dan peralatan
4 Sangat tergantung dan
tidak dapat melakukan
atau berpartisipasi
dalam perawatan
( Sumber : Kozier,2010 )
b) Rentang gerak (range of motion-ROM)
GERAK SENDI DERAJAT
RENTANG
NORMAL
Bahu Adduksi: 180
gerakan lengan
ke lateral dari
posisi samping
ke atas kepala,
telapak tangan
menghadap ke
posisi yang
paling jauh.
Siku Fleksi: angkat 150
lengan bawah ke
arah depan dan
ke arah atas
menuju bahu.
Pergelangan Fleksi: tekuk 80-90
tangan jari-jari tangan
ke arah bagian
dalam lengan
bawah.
Ekstensi: 80-90
luruskan
pergelangan
tangan dari
posisi fleksi
Hiperekstensi: 70-90
tekuk jari-jari
tangan ke arah
belakang sejauh
mungkin
Abduksi: tekuk 0-20
pergelangan
tangan ke sisi ibu
jari ketika
telapak tangan
menghadap ke
atas.
Adduksi: tekuk 30-50
pergelangan
tangan ke arah
kelingking
telapak tangan
menghadap ke
atas.
Tangan dan Fleksi: buat 90
jari kepalan tangan
Ekstensi: 90
luruskan jari
Hiperekstensi: 30
tekuk jari-jari
tangan ke
belakang sejauh
mungkin
Abduksi: 20
kembangkan jari
tangan
Adduksi: 20
rapatkan jari-jari
tangan dari
posisi abduksi
(Sumber : Kozier, 2010)
c) Derajat kekuatan otot
SKALA PERSENTASE KARAKTERISTIK
KEKUATAN
NORMAL (%)
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan,
kontraksi otot dapat
di palpasi atau dilihat
2 25 Gerakan otot penuh
melawan gravitasi
dengan topangan
3 50 Gerakan yang normal
melawan gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang
normal melawan
gravitasi dan
melawan tahanan
minimal
5 100 Kekuatan normal,
gerakan penuh yang
normal melawan
gravitasi dan tahanan
penuh
(Sumber : Kozier, 2010)
d) Katz Index
AKTIVITAS KEMANDIRIAN KETERGANTUNGAN
(1 poin) (0 poin)
TIDAK ADA Dengan pemantauan,
pemantauan, perintah, pendampingan
perintah ataupun personal atau perawatan
didampingi total
MANDI (1 poin) (0 poin)
Sanggup mandi Mandi dengan bantuan
sendiri tanpa lebih dari satu bagian
bantuan, atau tuguh, masuk dan keluar
hanya memerlukan kamar mandi. Dimandikan
bantuan pada dengan bantuan total
bagian tubuh
tertentu
(punggung, genital,
atau ekstermitas
lumpuh)
BERPAKAIA (1 poin) (0 poin)
N Berpakaian Membutuhkan bantuan
lengkap mandiri. dalam berpakaian, atau
Bisa jadi dipakaikan baju secara
membutuhkan keseluruhan
bantuan unutk
memakai sepatu
TOILETING (1 poin) (0 poin)
Mampu ke kamar Butuh bantuan menuju dan
kecil (toilet), keluar toilet,
mengganti pakaian, membersihkan sendiri atau
membersihkan menggunakan telepon
genital tanpa
bantuan
PINDAH (1 poin) (0 poin)
POSISI Masuk dan bangun Butuh bantuan dalam
dari tempat tidur / berpindah dari tempat
kursi tanpa tidur ke kursi, atau dibantu
bantuan. Alat bantu total
berpindah posisi
bisa diterima
KONTINENS (1 poin) (0 poin)
IA Mampu Sebagian atau total
mengontrol secara inkontinensia bowel dan
baik perkemihan bladder
dan buang air besar
MAKAN (1 poin) (0 poin)
Mampu Membutuhkan bantuan
memasukkan sebagian atau total dalam
makanan ke mulut makan, atau memerlukan
tanpa bantuan. makanan parenteral
Persiapan makan
bisa jadi dilakukan
oleh orang lain.

Total Poin :

6 = Tinggi (Mandiri); 4 = Sedang; <2 = Ganggaun fungsi berat; 0 =


Rendah (Sangat tergantung)
e) Indeks ADL BARTHEL (BAI)
NO FUNGSI SKOR KETERANGAN
1 Mengendalikan 0 Tak terkendali/
rangsang tak teratur (perlu
pembuangan 1 pencahar).
tinja Kadang-kadang
2 tak terkendali (1x
seminggu).
Terkendali
teratur.
2 Mengendalikan 0 Tak terkendali
rangsang 1 atau pakai kateter
berkemih Kadang-kadang
2 tak terkendali
(hanya 1x/24 jam)
Mandiri
3 Membersihkan 0 Butuh
diri (seka muka, 1 pertolongan orang
sisir rambut, lain
sikat gigi) Mandiri
4 Penggunaan 0 Tergantung
jamban, masuk 1 pertolongan orang
dan keluar lain
(melepaskan, Perlu pertolongan
memakai 2 pada beberapa
celana, kegiatan tetapi
membersihkan, dapat
menyiram) mengerjakan
sendiri beberapa
kegiatan yang
lain.
Mandiri
5 Makan 0 Tidak mampu
1 Perlu ditolong
2 memotong
makanan
Mandiri
6 Berubah sikap 0 Tidak mampu
dari berbaring 1 Perlu banyak
ke duduk 2 bantuan untuk
3 bias duduk
Bantuan minimal
1 orang.
Mandiri
7 Berpindah/ 0 Tidak mampu
berjalan 1 Bisa (pindah)
2 dengan kursi roda.
3 Berjalan dengan
bantuan 1 orang.
Mandiri
8 Memakai baju 0 Tergantung orang
1 lain
2 Sebagian dibantu
(mis: memakai
baju)
Mandiri.
9 Naik turun 0 Tidak mampu
tangga 1 Butuh
2 pertolongan
Mandiri
10 Mandi 0 Tergantung orang
1 lain
Mandiri

( Sumber : Kozier, 2010 )


Total Skor

Skor BAI :

20 : Mandiri
12 - 19 : Ketergantungan ringan
9 - 11 : Ketergantungan sedang
5-8 : Ketergantungan berat
0-4 : Ketergantungan total

i. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang mendukung diagnosa selain dari pemeriksaan fisik , tanda dan gejala
yang dimiliki pasien dengan menggunakkan alat seperti : MRI, CT-Scan, Cek
Laboratorium, dan Sinar- X.
2. Diagnosis Keperawatan
Menurut (SDKI, 2018) adapun diagnosis yang didapatkan yaitu sebagai berikut :
a. Analisis Data
DS : Pasien / Keluarga pasien mengatakan badan / ekstremitas kaku sebagian, aktivitas
dibantu keseluruhan, keluarga pasien mengatakan kulit di bagian selangkangan,
punggung terdapat luka, di bagian bibir sering mengelupas,
DO : Ekstremitas pasien tampak kaku sebelah, kekuatan otot tampak menurun, rentang
gerak ROM pada pasien menurun, sendi tampak kaku , tampak luka pada bagian
punggung dan selangkangan, terdapat luka dan keluar darah pada bagian ekstremitas
kaki kanan.
b. Rumusan Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan Mobilitas Fisik
2) Gangguan Integritas Kulit / Jaringan
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Standar Luaran Keperawatan dan Standar Intervensi Keperawatan (2018) adapun rencana asuhan keperawatan yaitu
sebagai berikut:
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan (Standar Luaran Keperawatan (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
Indonesia)
1 Gangguan Mobilitas Fisik Perawatan Tirah Baring
Mobilitas  Berat Badan 1. Observasi
Fisik dengan standar luaran :  Memonitor kondisi kulit pasien
 Memburuk (1)  Memonitor komplikasi tirah baring ( seperti: kehilangan massa otot, sakit
 Cukup Memburuk (2) punggung, konstipasi, stress, depresi, kebingungan, perubahan irama tidur, infeksi
 Sedang (3) saluran kemih, sulit buang air kecil, pneumonia).
 Cukup membaik (4) 2. Terapeutik

 Membaik (5)  Membantu dan menganjurkan pasien untuk posisi yang nyaman ( semifowler,

 Fungsi Sensori fowler, sim kanan dan sim kiri).

dengan kriteria hasil :  Mempertahankan agar sprei tetap kering, bersih dan tidak kusut.
1. Ketajaman pendengaran  Memasang siderilais , terkait kondisi tirah baring pasien.
 Menurun (1)  Mendekatkan posisi tempat tidur pasien dengan meja pasien.
 Cukup Menurun (2)  Memberikan latihan gerakan aktif atau pasif ( ROM aktif atau pasif ).
 Sedang (3)  Mempertahankan kebersihan pasien.
 Cukup meningkat (4)  Memfasilitasi kebutuhan sehari-hari pasien.
 Meningkat (5)  Memberikan stocking antiembolisme ( jika perlu).
2. Ketajaman penglihatan  Mengubah posisi setiap 2 jam.
 Menurun (1) 3. Edukasi
 Cukup Menurun (2)  Menjelaskan tujuan dilakukan tirah baring.
 Sedang (3) Edukasi Mobilisasi
 Cukup meningkat (4) 1. Observasi
 Meningkat (5)  Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
3. Stimulasi kulit  Mengidentifikasi indikasi dan kontraindikasi mobilisasi.
 Menurun (1)  Memonitor kemajuan pasien/ keluarga dalam melakukan mobilisasi.
 Cukup Menurun (2) 2. Terapeutik
 Sedang (3)  Mempersiapkan materi terkait mobilisasi, media dan alat-alat seperti bantal, galt
 Cukup meningkat (4) belt.

 Meningkat (5)  Mwnjadwalkan waktu pendidikan kesehatan sesuai kesepkatan dengan pasiendan
4. Persepsi posisi kepala keluarga.

 Menurun (1)  Memberi kesempatan pada pasien/ keluarga untuk bertanya.

 Cukup Menurun (2) 3. Edukasi

 Sedang (3)  Menjelaskan prsedur, tujuan, indikasi dan kontraindikasi mobilisasi serta dampak

 Cukup meningkat (4) imobilisasi.

 Meningkat (5)  Mengajarkan cara menidentifikasi sarana dan prasarana yang menduung untuk

5. Persepsi posisi tubuh mobilisasi dirumah.

 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)  Mengajarkan cara mnegidentifikasi kemampuan mobilisasi ( seperti : kekuatan
 Sedang (3) otot, rentang gerak).
 Cukup meningkat (4)  Mendemonstrasikan cara mobilisasi ditempat tidur ( misalnya : mekanika tubuh,
 Meningkat (5) posisi pasien digeser ke arah berlawanan dari arah posisi yang akan dimiringkan,
6. Perbedaan bau teknik-teknik memiringkan, penenmpatan posisi bantal sebagai penyangga).
 Menurun (1)  Mendemonstrasikan cara melatih rentang gerak ( misalnya: gerakan yang
 Cukup Menurun (2) dilakukan dengan perlahan dimulai dari kepala ke esktremitas, gerakkan semua

 Sedang (3) persendian sesuai dengan rentang gerak normal, cara melatih rentang gerak pada

 Cukup meningkat (4) sisi, ekstremitas yang paratase dengan menggunakkan ekstremitas yang normal,

 Meningkat (5) frekuensi tiap gerakan).

7. Perbedaan rasa  Mengajurkan pasien/ keluarga mendemonstrasikan mobilisasi miring kanan/ kiri/

 Menurun (1) latihanrentang gerak sesuai yang telah di demonstrasikan.

 Cukup Menurun (2) Dukungan Mobilisasi


Edukasi Teknik Ambulasi
 Sedang (3)
Teknik Latihan Penguatan Otot
 Cukup meningkat (4)
Terapi Aktivitas
 Meningkat (5)
Promosi Latihan Fisik
 Keseimbangan dengan
Promosi Mekanika Tubuh
kriteria hasil :
Mobilisasi Keluarga
1. Kemampuan duduk tanpa
sandaran
 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)
 Sedang (3)
 Cukup meningkat (4)
 Meningkat (5)
 Kemampuan bangkit dari
posisi duduk
 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)
 Sedang (3)
 Cukup meningkat (4)
 Meningkat (5)
 Keseimbangan saat
berdiri
 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)
 Sedang (3)
 Cukup meningkat (4)
 Meningkat (5)
 Keseimbangan saat
berjalan
 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)
 Sedang (3)
 Cukup meningkat (4)
 Meningkat (5)
 Keseimbangan saat
berdiri dengan satu kaki
 Menurun (1)
 Cukup Menurun (2)
 Sedang (3)
 Cukup meningkat (4)
 Meningkat (5)
 Pusing
 Meningkat (1)
 Cukup Meningkat (2)
 Sedang (3)
 Cukup menurun (4)
 Menurun (5)
 Perasaan bergoncang
 Meningkat (1)
 Cukup Meningkat (2)
 Sedang (3)
 Cukup menurun (4)
 Menurun (5)
 Tersandung
 Meningkat (1)
 Cukup Meningkat (2)
 Sedang (3)
 Cukup menurun (4)
 Menurun (5)
 Postur
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Konservasi Energi
dengan kriteria hasil :
1. Aktivitas fisik yang
direkomendasikan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
2. Aktivitas yang tepat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
3. Strategi untuk
menyeimbangkan
aktivitas dan istirahat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
4. Teknik konservasi
energy
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)

5. Teknik pernapasan yang


efektif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
6. Pembatasan energy
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
7. Mekanika tubuh yang
tepat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
8. Teknik
menyederhanakan
pekerjaan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
9. Penggunaan alat bantu
yang benar
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
10. Pembatasan aktivitas
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
11. Faktor-faktor yang
meningkatkan pegeluaran
energy
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Koordinasi Pergerakan
dengan kriteria hasil :
1. Kekuatan otot
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
2. Kontrol gerakan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
3. Keseimbangan gerakan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
4. Kemantapan gerakan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
5. Kehalusan gerakan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
6. Gerakan kearah yang
diingikan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
7. Gerakan dengan
kecepatan yang
diinginkan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
8. Gerakan dengan
ketepatan yang
diinginkan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
9. Tegangan otot
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
10. Kram otot
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
11. Bentuk otot
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
12. Kecepatan gerakan
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Motivasi dengan kriteria
hasil :
1. Pikiran berfokus pada
masa depan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
2. Upaya menyusun
rencana tindakan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
3. Upaya mencari sumber
sesuai kebutuhan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
4. Perilaku bertujuan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
5. Inisiatif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
6. Harga diri positif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
7. Keyakinan positif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
8. Berani mencari
pengalaman baru
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
9. Penyelesaian tugas
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
10. Pengambilan
kesempatan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
11. Bertanggung jawab
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Pergerakan Sendi
dengan kriteria hasil :
1. Rahang
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
2. Leher
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
3. Punggung
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
4. Jari ( kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
5. Jari (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
6. Ibu jari ( kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
7. Ibu jari (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
8. Pergelangan tangan (
kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
9. Pergelangan tangan
(kiri )
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
10. Siku ( kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
11. Siku ( kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
12. Bahu ( kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
13. Bahu (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
14. Pergelangan kaki (
kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
15. Pergelangan kaki (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
16. Lutut (kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
17. Lutut (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
18. Panggul (kanan)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
19. Panggul (kiri)
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Status Neurologis dengan
kriteria hasil :
1. Tingkat kesadaran
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
2. Reaksi pupil
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
3. Orientasi kognitif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
4. Status kogntif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
5. Kontrol motoric pusat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
6. Fungsi sensorik kranial
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
7. Sakit kepala
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
8. Frekuensi Kejang
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
9. Hipertermia
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
10. Diaforesis
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
11. Pucat
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
12. Kongesti konjungtiva
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
13. Kongesti nasal
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
14. Parastesia
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
15. Sensasi logam di mulut
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
16. Sindrom Horner
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
17. Pandangan kabur
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
18. Penile erection
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
19. Tekanan darah sistolik
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
20. Ukuran pupil
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
21. Gerakan mata
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
22. Pola napas
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
23. Pola istirahat tidur
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
24. Frekuensi napas
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
25. Denyut jantung apical
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
26. Denyut nadi radialis
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
27. Refleks pilomotorik
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Status Nutrisi dengan
kriteria hasil :
 Porsi makanan yang
dihabiskan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Kekuatan otot
Mengunyah
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Kekuatan otot menelan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Serum albumin
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Verbalisasi keinginan
untuk meningkatkan
nutrisi
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Pengetahuan tentang
pilihan makanan yang
sehat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Pengetahuan tentang
minuman yang sehat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Pengetahuan tentang
standar asupan nutrisi
yang tepat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Penyiapan dan
penyimpanan makanan
yang aman
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Penyiapan dan
penyimpangan minuman
yang aman
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Sikap terhadap makanan
dan minuman sesuai
dengan tujuan kesehatan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Perasaan cepat kenyang
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Nyeri abdomen
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Sariawan
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Rambut rontok
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Diare
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Berat badan
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 IMT
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Frekuensi makan
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Nafsu makan
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Bising usus
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Tebal lipatan kulit trisep
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Membran mukosa
 Memburuk (1)
 Cukup Memburuk (2)
 Sedang (3)
 Cukup membaik (4)
 Membaik (5)
 Toleransi Aktivitas
dengan standar luaran :
1. Ambulasi
 Menopang berat badan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan dengan langkah
yang efektif
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan dengan langkah
yang pelan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan dengan langkah
yang sedang
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan dengan langkah
cepat
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan menanjak
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan menurun
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan jarak pendek
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan jarak sedang
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan jarak jauh
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan mengitari
ruangan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Berjalan mengitari
rintangan
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup meningkat (4)
Meningkat (5)
 Nyeri saat berjalan
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Kaku pada persendian
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Keenganan berjalan
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
 Perasaan khawatir saat
berjalan
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup menurun (4)
Menurun (5)
2 Gangguan Integritas kulit dan jaringan
Integritas 1. Pemulihan Pasca Bedah
Kulit/
Jaringan 2. Penyembuhan Luka
3. Perfusi perifer
4. Respons Alergi Lokal
5. Status Nutrisi
6. Status Sirkulasi
7. Termoregulasi

4. Implementasi

5. Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika.

Kozier, B. 2010. Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses, praktik, edisi
7, volume 2. Jakarta: EGC.
Mubarak, W. I., Indrawati, L. & Susanto, J. 2015. Buku ajar ilmu keperawatan dasar,
Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.

Perry, Potter. 2012. Fundamental Keperawatan Buku 4 Edisi 4.Jakarta: Salemba


Medika.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik Edisi 2 cetakan II. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1
cetakan II. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi
1cetakan II. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI.
Widuri, H. 2010. Kebutuhan dasar manusia. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Anda mungkin juga menyukai