Anda di halaman 1dari 45

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

PERBEDAAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH ANTARA


COLOADING RINGER LAKTAT DAN NACL 0,9%
PADA ANESTESI SPINAL

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh


Gelar Sarjana Kedokteran

Dwi Prasetyo Nugroho


G0008088

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2012

commit to user

i
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi dengan Judul : Perbedaan Perubahan Tekanan Darah antara


Coloading Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada Anestesi Spinal

Dwi Prasetyo Nugroho, NIM : G0008088, Tahun : 2012

Telah diuji dan sudah disahkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi


Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pada Hari Senin, Tanggal 16 Januari 2012

Pembimbing Utama
Nama : Purwoko, dr., Sp.An.KAKV
NIP : 19631018 199003 1004 ( _________________ )
Pembimbing Pendamping
Nama : Margono, dr., M.KK
NIP : 19540915 198601 1001 ( _________________ )
Penguji Utama
Nama : H. Marthunus Judin, dr., Sp.An
NIP : 19510221 198211 1 001 ( _________________ )
Anggota Penguji
Nama : Dr. Hartono, dr., M.Si
NIP : 19650727 199702 1 001 ( _________________ )

Surakarta, …………………

Ketua Tim Skripsi Dekan FK UNS

Muthmainah, dr., M.Kes Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr., Sp.PD-KR-FINASIM
NIP 19660702 199802 2 001 commit to user
NIP 19510601 197903 1 002

ii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu pergururuan tinggi
dan sepanjang pengetahuan Penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam
naskah dan disebutkan dalam daftar acuan.

Surakarta, 16 Januari 2012

Dwi Prasetyo Nugroho


G0008088

commit to user

iii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

Dwi Prasetyo Nugroho, G0008088, 2012. Perbedaan Perubahan Tekanan Darah


antara Coloading Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada Anestesi Spinal, Fakultas
Kedoktertan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan


perubahan tekanan darah antara pemberian coloading kristaloid, yaitu Ringer
Laktat dengan NaCl 0,9%, pada anestesi spinal.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental acak tersamar tunggal


dengan megambil 26 subjek penelitian ASA I-II yang menjalani operasi dengan
anestesi spinal di RSUD Dr. Moewardi. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, 13
subjek mendapat coloading Ringer Laktat dan 15 subjek mendapat coloading
NaCl 0,9%. Tekanan darah diperiksa pada menit ke-5, ke-15 dan ke-30 pasca
anestesi spinal. Analisis statistic menggunakan uji t.

Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata tekanan darah
sistolik pada kedua kelompok. Rata-rata tekanan darah diastolik lebih tinggi pada
kelompok NaCl 0,9% dibandingkan kelompok Ringer Laktat, terutama bermakna
secara statistik pada pengukuran menit ke-15 dan ke-30. Demikian halnya dengan
MAP yang lebih tinggi pada kelompok NaCl 0,9% dibandingkan kelompok
Ringer Laktat dan bermakna secara statistik pada menit ke-15 dan ke-30.

Kesimpulan: Ada perbedaan perubahan tekanan darah yang bermakna secara


statistik pada menit ke-15 dan ke-30 antara coloading Ringer Laktat dan NaCl
0,9% pada Anestesi spinal.

Kata kunci: coloading, Ringer Laktat, NaCl 0,9%, tekanan darah

commit to user

iv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRACT

Dwi Prasetyo Nugroho, G0008088, 2012. The Differences of Blood Pressure


Changes between Coloading Ringer Lactate and NaCl 0,9% in Spinal Anesthesia.
Medical Faculty of Sebelas Maret University

Objectives: This study aims to determine the differences of blood pressure


change in giving coloading cristaloid, that is Ringer lactate and NaCl 0,9% in
spinal anesthesia.

Methods: This research uses single blind randomized experimental design by


taking 26 subjects ASA I-II who underwent surgery with spinal anesthesia in Dr.
Moewardi Hospital. Subject divided into two groups, 13 subjects received
coloading Ringer Lactate and 13 subjects received coloading NaCl 0,9%. Blood
pressure checked at the 5th, the 15th and the 30th minute post spinal anesthesia.
Analisis statically using t test.

Results: There were no significant differences of systolic blood pressure mean in


both groups. The mean of diastolic blood pressure was higher in NaCl 0.9%
group than the Ringer Lactate’s group, especially statistically significant in the
15th and the 30th minute measurements. Likewise with a higher MAP in NaCl
0,9% group compared to Ringer Lactate's group and was statistically significant
in the 15th and 30th minute.

Conclusion: There is a difference in blood pressure changes that statically


significant in the 15th minute and 30th minute among coloading Ringer Lactate and
NaCl 0,9% in spinal anesthesia.

Keywords: coloading, Ringer's lactate, NaCl0.9%, blood pressure

commit to user

v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan ridho-Nya skripsi
dengan judul “Perbedaan Perubahan Tekanan Darah antara Coloading Ringer
Laktat dan NaCl 0,9% pada Anestesi Spinal” dapat terselesaikan.
Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan tingkat sarjana di
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini tidaklah dapat
terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu:
1. Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr., Sp. PD-KR-FINASIM, selaku Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
2. Purwoko, dr, Sp.An, selaku pembimbing utama, atas segala bimbingan,
masukan dan jalan keluar dari permasalahan yang timbul dalam proses
penyusunan skripsi ini.
3. Margono, dr, M.KK, selaku pembimbing pendamping, atas segala
bimbingan dan masukan mulai dari awal penyusunan hingga akhir
penelitian skripsi ini.
4. H. Marthunus Judin, dr, Sp.An, selaku penguji utama atas segala masukan
dan koreksi untuk berbagai kekurangan dalam skripsi ini.
5. Dr. Hartono, dr, M.Si, selaku anggota penguji atas masukan dan koreksi
untuk berbagai kekurangan dalamskripsi ini.
6. Muthmainah, dr., M.Kes, selaku ketua Tim Skripsi atas segala bantuan dan
kemudahan yang telah diberikan.
7. Seluruh Staf Bagian Skripsi, Mbak Eny dan Pak Nardi atas segala bantuan
yang telah diberikan.
8. Seluruh Staf Bagian Anestesi dan Terapi Intensif RSUD dr. Moewardi
Surakarta atas segala bantuanya.
9. Seluruh keluarga tercinta yang telah memberi dukungan dan selalu
mendoakan untuk terselesaikannya skripsi ini.
10. Orang terdekat dan teman-teman seperjuangan yang selalu memberi
dukungan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini, Ratri Satya Pitrasti,
Ali Ma’ruf, Dimas Sigit Widodo, Agung Nugroho, Arta Wahyu Wardana
dan teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
11. Semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat penulis
sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak terlepas dari banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk
perbaikan di masa datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.

Surakarta, 16 Januari 2012

commit to user Dwi Prasetyo Nugroho

vi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

PRAKATA.....................................................................................................vi

DAFTAR ISI..................................................................................................vii

DAFTAR TABEL.......................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1

B. Perumusan Masalah .................................................................. 4

C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 4

D. Manfaat Penelitian .................................................................... 4

BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................... 5

A. Tinjauan Pustaka....................................................................... 5

B. Kerangka Teori ......................................................................... 19

C. Hipotesis ................................................................................... 20

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 21

A. Jenis Penelitian ......................................................................... 21

B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................... 21

C. Populasi .................................................................................... 21

D. Besar Sampel ............................................................................ 22

E. Teknik Sampling....................................................................... 23

F. Identifikasi Variabel ................................................................. 23


commit to user

vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

G. Definisi Operasional Variabel .................................................. 24

H. Alur Penelitian .......................................................................... 25

I. Instrumen Penelitian ................................................................. 26

J. Teknik Analisis Data ................................................................ 26

BAB IV HASIL PENELITIAN ..................................................................... 27

BAB V PEMBAHASAN ............................................................................. 30

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 34

A. Simpulan ................................................................................... 34

B. Saran ........................................................................................ 34

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 35

LAMPIRAN ................................................................................................... 39

commit to user

viii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Karakteristik Umum Subjek Penelitian.......................................... 26

Tabel 2. Perbandingan RerataTekanan Darah Sistolik.................................. 27

Tabel 3. Perbandingan RerataTekanan Darah Diastolik ............................... 27

Tabel 4. Perbandingan Rerata Mean Arterial Pressure (MAP) .................... 28

commit to user

ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema Kerangka Teori ............................................................... 19

Gambar 2. Skema Alur Penelitian ................................................................ 24

commit to user

x
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Responden Penelitian

Lampiran 2. Hasil Pengolahan Data SPSS

Lampiran 3. Lembar Informed Consent

Lampiran 4. Formulir Penelitian

Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian dan Pengambilan Sampel

commit to user

xi
perpustakaan.uns.ac.id 1
digilib.uns.ac.id

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anestesi spinal atau subarachnoid nerve block adalah teknik anestesi

regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang

subaraknoid. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok

spinal intradural atau blok intratekal (Mansjoer et al., 2000).

Anestesi spinal relatif mudah untuk dilakukan. Selain mudah, teknik

ini juga mempunyai onset cepat, tingkat keberhasilan tinggi, simpel, efektif,

efek samping yang minimal pada biokimia darah, menjaga level optimal dari

analisa gas darah, membuat pasien tetap sadar selama operasi sehingga

menjaga jalan nafas serta membutuhkan penanganan post operatif yang

minimal (Mansjoer et al., 2000; Salinas, 2009).

Namun selain itu, anestesi spinal juga mempunyai beberapa

komplikasi atau efek samping yang sering ditimbulkan. Salah satu efek

samping dari anestesi spinal yang paling sering terjadi adalah efek terhadap

hemodinamik, yaitu hipotensi. Insiden kejadian hipotensi pada anestesi spinal

cukup signifikan. Pada beberapa penelitian menyebutkan insidensinya

mencapai 8-33% (Liguori, 2007).

Untuk mencegah dan atau mengatasi hipotensi pada anestesi spinal,

ada beberapa aternatif cara yang bisa dilakukan: pemberian vasopressor,

modifikasi teknik regional anestesia, modifikasi posisi dan kompresi tungkai


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 2
digilib.uns.ac.id

pasien, pemberian oksigen dan pemberian cairan intravena (Michael et al.,

1998).

Usaha meningkatkan volume cairan sentral dengan pemberian cairan

intravena merupakan cara yang mudah dilakukan untuk mencegah hipotensi

pada anestesia spinal. Cairan yang diberikan dapat berupa kristaloid atau

koloid (Wee et al., 2005). Dari segi ekonomis, koloid lebih mahal

dibandingkan kristaloid. Selain itu, koloid juga dapat menyebabkan

anafilaksis, walaupun angka kejadianya kecil (Zorco et al., 2009).

Teknik pemberian cairan dapat dilakukan dengan preloading atau

coloading. Preloading adalah pemberian cairan 20 menit sebelum dilakukan

anestesia spinal, sedangkan coloading adalah pemberian cairan selama 10

menit saat dilakukan anestesia spinal.

Kleinman dan Mikhail dalam penelitiannya tahun 2006 mengatakan

hipotensi akibat anestesi spinal dapat diantisipasi dengan loading 10-20 ml/kg

BB cairan intravena (kristaloid atau koloid). Pada beberapa penelitian yang

lain dikatakan bahwa pemberian cairan kristaloid sebagai preloading tidak

memperlihatkan manfaat untuk mencegah hipotensi (Mojica et al., 2002:

Morgan, 2005). Clark dkk membandingkan kejadian hipotensi antara

kelompok pasien yang diberikan preloading dekstrosa 5% dalam Ringer

Laktat sebanyak 1000 mL dan kelompok pasien yang tidak diberikan

preloading sebelum anestesia spinal pada pasien yang menjalani bedah sesar.

Hasil yang didapatkan menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna

antara dua kelompok tersebut.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 3
digilib.uns.ac.id

Coloading kristaloid diharapkan dapat menjadi pilihan untuk

mencegah efek samping hipotensi pada anestesia spinal. Penelitian yang

dilakukan Mojica dkk menyebutkan bahwa pemberian coloading kristaloid

dapat mencegah efek samping hipotensi pada anestesi spinal, namun tidak

menurunkan angka kejadian hipotensi. Begitu pula dengan Salinas yang

mengatakan bahwa pemberian 20 ml/kg BB Ringer Laktat sesaat setelah

dilakukan anestesi spinal dapat secara efektif menurunkan frekuensi terjadinya

hipotensi bila dibandingkan dengan preloading 20 menit atau lebih sebelum

dilakukan anestesi spinal.

Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak

digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang

hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan

tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan

kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila

diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional

hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat

peningkatan klorida (Barash et al., 2006).

Berdasarkan latar belakang di atas, penliti merasa tertarik untuk

meneliti tentang perbedaan efek coloading Ringer Laktat dengan NaCl 0,9%

terhadap perubahan tekanan darah pada pasien anestesi spinal.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 4
digilib.uns.ac.id

B. Perumusan Masalah

Apakah ada perbedaan perubahan tekanan darah antara coloading

Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada anestesi spinal?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan perubahan tekanan darah

antara coloading Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada anestesi spinal.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Diketahui secara statistik perubahan tekanan darah antara coloading

Ringer Laktat dan NaCl 0,9% dalam anestesi spinal pada pasien operasi

di RSUD dr. Moewardi Surakarta.

2. Manfaat aplikatif

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

memilih cairan perioperatif.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 5
digilib.uns.ac.id

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Anastesi spinal

Anestesi spinal (subarachnoid nerve block) adalah anestesi

regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang

subaraknoid. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai

analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal (Mansjoer et al., 2000).

Tempat kerja anestesi ini adalah di ujung saraf, obat diinjeksikan

ke ruang subaraknoid dalam cairan serebrospinalis (David, 1996). Ruang

subaraknoid terbentang dari foramen magnum sampai daerah sakral ke-2

pada orang dewasa dan pada sakral ke-3 pada anak-anak. Injeksi anestesi

lokal ini memberikan respon fisiologis yang bermakna oleh karena di

dalam columna vertebralis terdapat susunan saraf otonom, yaitu saraf

simpatis (keluar dari torakolumbal) dan saraf parasimpatis (keluar dari

kraniasakral) (David, 1996; Michael et al., 1998).

Obat lokal anestesi yang sering digunakan dibagi dalam 2 macam,

yaitu golongan ester (misalnya prokain, klorprokain, amethokain) dan

golongan amida (misalnya lidokain, mepivakain, prilokain, bupivakain,

etidokain). Ada perbedaan antara golongan tersebut di atas, yaitu pada

kestabilan struktur kimianya. Golongan ester mudah dihidrolisa dan tidak

stabil dalam cairan. Sedangkan golongan amida lebih stabil. Golongan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 6
digilib.uns.ac.id

ester dihidrolisa dalam plasma oleh enzim kolinesterase dan golongan

amida dimetabolisme di hati (Stoelting R.K., 1999).

Pada orang dewasa, obat anestetik lokal disuntikan ke dalam ruang

subarakhnoid antara L2 dan L5 dan biasanya antara L3 dan L4. Untuk

mendapatkan blokade sensoris yang luas, obat harus berdifusi ke atas, dan

hal ini tergantung pada banyak faktor, antara lain posisi pasien, dan berat

jenis obat (Sunaryo,2005). Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi

aliran obat dan perluasan daerah yang teranestesi. Pada anestesi spinal jika

berat jenis obat lebih besar dari berat jenis cairan serebrospinal

(hiperbarik), akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gaya gravitasi.

Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke

atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat

penyuntikan. Pada suhu 37°C cairan serebrospinal memiliki berat jenis

1,003-1,008 (Mansjoer et al., 2000).

Mekanisme aksi obat lokal anestesi adalah dengan cara mencegah

depolarisasi membran saraf dengan memblok aliran ion sodium. Obat

lokal anestesi setelah masuk ke dalam cairan cerebrospinal juga akan

berdifusi menyeberang ke selubung saraf dan membran, tetapi hanya yang

bersifat basa yang bisa menembus membran lipid ini. Ketika mencapai

axoplasma terjadi ionisasi dan yang terbentuk kation yang bermuatan bisa

mencapai reseptor pada channel Sodium. Akibatnya dapat terjadi blokade

channel Sodium, hambatan konduksi sodium, penurunan kecepatan dan

derajat fase depolarisasi aksi potensial, dan terjadilah blokade saraf.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 7
digilib.uns.ac.id

Serabut saraf yang terblok pada anestesi spinal adalah serabut saraf

otonom, serabut saraf sensorik dan motorik. Namun demikian, obat lokal

anestesi juga dapat bekeja langsung pada medulla spinalis (Covino et al.,

1994).

a. Indikasi dan Kontraindikasi

Anestesi spinal dapat diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai

bawah, panggul, dan perineum. Anestesi ini juga digunakan pada

keadaan khusus seperti bedah endoskopi urologi, bedah rektum,

perbaikan fraktur tulang panggul, bedah obstetri, dan bedah anak.

Kontraindikasi mutlak meliputi infeksi kulit pada tempat dilakukan

pungsi lumbal, bakterimia, hipovolemi berat (syok), koagulopati, dan

peningkatan tekanan intrakranial. Kontraindikasi relatif meliputi

neuropati, prior spine surgery, nyeri punggung, penggunaan obat-

obatan praoperasi golongan AINS (anti inflamasi non steroid

sepertiaspirin, novalgin, parasetamol), heparin subkutan dosis rendah,

dan pasien yang tidak stabil, dan a resistans surgeon (Manjoer et al.,

2000).

b. Komplikasi

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan anestesi

spinal, yang dibagi dalam komplikasi yang segera terjadi dan yang

terjadi lebih lambat. Komplikasi yang bisa terjadi segera antara lain:

hipotensi, dyspnoe, parestesia, hiccups, mual dan muntah, total spinal.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

Sedangkan komplikasi yang lebih lambat antara lain: retensio urine,

infeksi, meningitis, kelumpuhan saraf cranial (Covino et al., 1994).

2. Regulasi Tekanan Darah pada Anestesi Spinal

Tekanan darah ditentukan oleh tahanan vaskuler sistemik dan

curah jantung. Curah jantung ditentukan oleh laju nadi dan stroke volume,

sementara stroke volume sendiri dipengaruhi oleh kontraktilitas otot

jantung, afterload dan preload, dimana hal ini semua berhubungan dengan

venous return. Venous return sendiri dipengaruhi oleh gravitasi (gaya

berat), tekanan intratorakal dan derajat tonus venomotor. Tahanan vaskuler

sistemik ditentukan oleh tonus simpatis vasomotor dan dipengaruhi oleh

hormon-hormon seperti renin, angiotensin, aldosteron dan hormon

antidiuretik, metabolik lokal (pada jaringan dan darah), serta konsentrasi

02 dan C02 (Covino et al., 1994).

Perubahan dalam mikrosirkulasi juga mempengaruhi tekanan

arterial, faktor tersebut bertanggung jawab untuk autoregulasi terhadap

aliran darah. Ada dua mekanisme utama yaitu myogenik dan chemical.

Aksi autoregulasi myogenik melalui reseptor regangan pada dinding

pembuluh darah dimana akan menyebabkan konstriksi ketika tekanan

menurun. Autoregulasi chemical dipengaruhi oleh konsentrasi lokal dari

metabolit vasoaktif. Dengan adanya vasodilatasi akibat blokade simpatis,

peningkatan aliran akan mengencerkan metabolit dan menghasilkan reflek

vasokonstriksi (Viscomi, 2004).


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

Jadi hipotensi selama anestesi spinal berhubungan dengan luasnya

blokade simpatis, dimana mempengaruhi tahanan vaskuler perifer dan

curah jantung. Besarnya perubahan kardiovaskuler tergantung atas derajat

dari tonus simpatis yang timbul dengan segera setelah injeksi spinal

(Covino et al., 1994).

a. Tahanan Vaskuler Perifer

Blok simpatis yang terbatas pada daerah thorax bagian bawah dan

tengah menyebabkan vasodilatasi dari anggota badan di bawahnya dengan

kompensasi vasokonstriksi anggota badan di atasnya. Jadi tahanan

vaskuler perifer hanya menurun ringan yang membatasi derajat hipotensi.

Bila blokade meluas lebih tinggi, vasodilatasi akan meningkat, dan

beberapa saat kemudian kemampuan untuk vasokonstriksi sebagai

kompensasi akan menurun (Covino et al., 1994).

b. Curah Jantung

Anestesi spinal, yang hanya sampai level torakal tengah, tidak

menyebabkan perubahan yang nyata pada curah jantung asalkan posisi

pasien horizontal atau head down. Anestesi spinal yang meluas sampai ke

level torakal bagian atas atau servikal, menyebabkan pengurangan yang

nyata pada curah jantung karena adanya perubahan pada laju nadi, venous

return dan kontraktilitas (Covino et al., 1994).

c. Laju Nadi

Serabut simpatis dari T1 - T5 mengontrol laju nadi. Anestesi spinal

yang memblokade serabut tersebut menyebabkan denervasi yang nyata


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 10
digilib.uns.ac.id

dari persarafan simpatis jantung. Sebagaimana normalnya derajat tonus

simpatis terhadap jantung, denervasi tersebut menyebabkan penurunan laju

nadi. Bradikardi yang hebat tampak pada beberapa pasien dengan anestesi

spinal tinggi, hal ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan aktifitas

vagal sebagaimana terjadi selama vasovagal syncope atau oleh reflek

intrakardial (Covino et al., 1994; Viscomi, 2004).

d. Stroke volume

Stroke volume dapat berkurang selama spinal anestesi tinggi

dengan pengurangan pada venous return dan penurunan kontraktilitas

jantung (Covino et al., 1994).

e. Venous return

Pada pasien yang tonus simpatisnya sudah dihilangkan, venous

return akan tergantung pada gaya berat dan posisi tubuh. Kontrol simpatis

pada sistem pembuluh darah sesungguhnya untuk mempertahankan venous

return dan kardiovaskuler homeostasis selama perubahan postural.

Pembuluh darah vena membentuk sistem tekanan darah dan merupakan

proporsi yang besar dalam darah sirkulasi (mendekati 70%). Ketika

anestesi spinal menghasilkan blokade simpatis, kontrol tersebut hilang dan

venous return tergantung gravitasi. Pada anggota badan yang berada di

bawah atrium kanan, pembuluh darah yang didenervasi akan dilatasi,

sehingga menyimpan sejumlah besar volume darah. Gabungan dari

penurunan venous return dan curah jantung serta dengan penurunan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 11
digilib.uns.ac.id

tahanan perifer dapat menyebabkan hipotensi yang hebat (Covino et al.,

1994).

f. Kontraktilitas

Blokade persarafan simpatis jantung dapat menyebabkan

penurunan inotropism atau sifat inotropiknya yang mengakibatkan

penurunan pada cardiac output (Covino et al., 1994).

3. Hipotensi pada Anestesi Spinal

Hipotensi merupakan salah satu komplikasi yang paling sering dan

segera terjadi pada anestesi spinal (Beilin Y. et al., 2003). Anestesi spinal

sampai dengan level blok T-5 akan menurunkan tekanan arteri rata-rata

sampai dengan 21,3%, sedangkan tahanan pembuluh darah sistemik hanya

akan turun 5% (Covino et al., 1994).

Pada orang normal, tekanan sistolik turun sampai dengan 6,8%

pada blok sensorik setinggi T-10 (Mc Crae et al.,1993). Sedangkan

blokade sensorik sampai dengan T-6 akan menurunkan tekanan sistolik

sampai dengan 18,8%. Hal ini tejadi karena penumpukan darah di usus,

menurunkan aliran darah balik dan terjadi penurunan kadar katekolamin

darah sehingga akibatnya denyut jantung dan curah jantung akan turun

(Covino et al.,1994).

Tinggi blokade anestesi spinal sangat dipengaruhi oleh kecepatan

penyuntikan. Penyuntikan yang cepat dapat menghasilkan blokade sampai

ke level dermatom T-4 sedangkan level dermatom T-10 kecepatan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

penyuntikan obat anestesi lokal hiperbarik/isobarik 1 cc/5 detik (Kumar et

al., 1992). Saraf simpatis terblok 2 sampai dengan 6 dermatom di atas blok

sensorik. Blok saraf simpatis sampai tinggi T-4 akan menyebabkan

bradikardi dan blok simpatis mulai T-10 menyebabkan hipotensi. Tinggi

blok maksimal pada lidokain 5% hiperbarik tertinggi VT-4. Rata-rata

tinggi blok analgesi setinggi VT-7 (Humisar Sibarani, 1999).

Hipotensi dipermudah oleh perubahan posisi pasien yang dapat

menurunkan aliran darah balik vena, juga bila sebelumnya telah ada

hipertensi atau hipovolemi, adanya kehamilan, pasien usia lanjut, dan

penggunaan obat-obat yang dapat menekan keaktifan simpatis (Sunaryo,

2005). Hipotensi yang terjadi selama anestesi juga dapat disebabkan oleh

khasiat obat anestesi, teknik anestesi, atau perdarahan (Karjadi

Wirjoatmodjo, 2000).

4. Penatalaksanaan Hipotensi pada Anestesi Spinal

Derajat hipotensi yang membutuhkan terapi aktif masih dalam

perdebatan, hal ini disebabkan karena adanya data-data ilmiah yang

menunjukkan bahwa hipotensi masih dapat ditoleransi pada pasien yang

sehat (Covino et al., 1994).

Penatalaksanaan hipotensi pada anestesi spinal tergantung pada

penyebab dasarnya. Jika terjadi hipotensi secara mendadak yang kemudian

diikuti dengan bradikardia dan nausea, hal ini mungkin disebabkan akibat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

vasovagal syncope. Atropin dapat diberikan pada keadaan ini, namun tidak

seefektif bila diberikan vasopresor (Covino et al.,1994).

Untuk mengatasi hipotensi secara efektif, penyebab utama dari

hipotensi harus dikoreksi. Penurunan curah jantung dan venous return

harus di atasi, pemberian kristaloid sering kali berguna untuk memperbaiki

venous return. Dalam prakteknya pemberian preloading 500 – 1500 ml

kristaloid dapat menurunkan terjadinya hipotensi, walaupun pada beberapa

penelitian lain tidak efektif (Tsai, 2007).

Pada pasien tanpa adanya gangguan pada target organ dan

asimptomatik, dengan penurunan tekanan darah mencapai 33 % belum

perlu perlu dikoreksi (Tsai, 2007).

Monitoring tekanan darah dan juga pemberian suplemen oksigen

harus diperhatikan pada anestesi spinal. Pemberian cairan juga harus

dimonitor secara hati-hati, karena pemberian cairan yang berlebihan dapat

menyebabkan terjadinya congestive heart failure, oedem paru, ataupun

keduanya (Tsai, 2007; Salinas, 2009).

Penggunaan hanya dengan cairan intra vena tidak cukup efektif

dalam penanganan hipotensi akibat anestesi spinal. Respon tekanan darah

terhadap pemberian cairan intra vena membutuhkan waktu beberapa

menit, sedangkan pada beberapa kasus hal itu tidak cukup cepat, oleh

karena itu sebagai obat pilihan utama diberikan vasopresor (Liguori, 2007;

Salinas, 2009).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

Jika sudah ada indikasi penatalaksanaan dengan medikamentosa,

vasopressor merupakan pilihan obat utamanya. Kombinasi α dan β

adrenergik agonis lebih baik dari pada α agonis murni dalam menangani

penurunan tekanan darah, ephedrine merupakan obat pilihan utamanya.

Dengan ephedrine curah jantung dan resistensi vaskuler perifer dapat

meningkat, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (Tsai, 2007).

Secara fisiologis penatalaksanaan hipotensi adalah dengan

mengembalikan preload. Cara yang efektif adalah dengan memposisikan

pasien menjadi trendelenburg atau dengan head down. Posisi ini tidak

boleh lebih dari 20°, karena dengan posisi trendelenburg yang terlalu

ekstrim dapat menyebabkan penurunan prefusi cerebral dan dapat

meningkatkan tekanan vena jugularis, dan bila ketinggian blok pada

anestesi spinal belum menetap, posisi trendelenburg dapat meningkatkan

ketinggian level blok pada pasien yang mendapatkan agen hiperbarik,

yang dapat memperburuk keadaan hipotensinya. Hal ini dapat dihindari

dengan menaikkan bagian atas tubuh menggunakan bantal di bawah bahu

ketika bagian bawah tubuh sedikit dinaikkan di atas jantung (Tsai, 2007;

Salinas, 2009).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

5. Cairan Intra Vena

a. Cairan Hipotonik

Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih rendah

dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan

serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas

serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke

jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah

ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju.

Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada

pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien

hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik.

Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan

dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps

kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak)

pada beberapa orang. Contohnya adalah Dekstrosa 2,5% (Pandey &

Singh, 2003).

b. Cairan Isotonik

Adalah cairan infus yang osmolaritas (tingkat kepekatan)

cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah),

sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada

pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh,

sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya

overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan normal

saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) (Pandey & Singh, 2003).

c. Cairan Hipertonik

Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi

dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari

jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan

tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema

(bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik.

Misalnya Dextrose 5% + RingerLaktat, Dextrose 5% + NaCl 0,9%,

produk darah (darah), dan albumin (Pandey & Singh, 2003).

Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:

1) Kristaloid

Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler.

Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia

dengan mudah di setiap pusat kesehatan, tidak perlu dilakukan

cross match, tidak menimbulkan alergi atau syok anafilaktik,

penyimpanan sederhana dan dapat disimpan lama. Cairan kristaloid

bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata

sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi

defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di

ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit (Kaswiyan, 2000).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

2) Koloid

Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa

disebut “plasma substitute” atau “plasma expander”. Di dalam

cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul

tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini

cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang

intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk

resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok

hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan

hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal

luka bakar). Kerugian dari plasma expander yaitu harganya mahal

dan dapat menyebabkan reaksi anafilaktik serta dapat

menyebabkan gangguan pada crossmatch (Kaswiyan, 2000).

6. Ringer Laktat (RL)

Ringer Laktat (RL) merupakan cairan yang paling fisiologis yang

dapat diberikan pada kebutuhan volume dalam jumlah besar. RL banyak

digunakan sebagai replacement therapy, antara lain untuk syok

hipovolemik, diare, trauma, dan luka bakar (Leksana, 2006).

Laktat yang terdapat di dalam larutan RL akan dimetabolisme oleh

hati menjadi bikarbonat yang berguna untuk memperbaiki keadaan seperti

asidosis metabolik. Kalium yang terdapat di dalam RL tidak cukup untuk

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

pemeliharaan sehari-hari, apalagi untuk kasus defisit kalium (Leksana,

2006).

Kemasan larutan kristaloid RL yang beredar di pasaran memiliki

komposisi elektrolit Na+ (130 mEq/L), Cl- (109 mEq/L), Ca+ (3 mEq/L),

dan laktat (28 mEq/L). Osmolaritasnya sebesar 273 mOsm/L. Sediaannya

adalah 500 ml dan 1.000 ml (Leksana, 2006).

7. NaCl 0,9%

NaCl 0,9% (normal saline) dapat dipakai sebagai cairan resusitasi

(replacement therapy), terutama pada kasus seperti kadar Na+ yang

rendah, dimana RL tidak cocok untuk digunakan (seperti pada alkalosis,

retensi kalium). NaCl 0,9% merupakan cairan pilihan untuk kasus trauma

kepala, sebagai pengencer sel darah merah sebelum transfuse (Leksana,

2006).

Cairan ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu tidak mengandung

HCO3-, tidak mengandung K+, dapat menimbulkan asidosis

hiperkloremik, asidosis dilusional, dan hipernatremi (Leksana, 2006).

Kemasan larutan kristaloid NaCl 0,9% yang beredar di pasaran

memiliki komposisi elektrolit Na+ (154 mEq/L) dan Cl- (154 mEq/L),

dengan osmolaritas sebesar 301 mOsm/L. Sediaannya adalah 500 ml dan

1.000 ml (Leksana, 2006).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

B. KerangkaTeori

Coloading Anestesi spinal

Ringer Laktat NaCl 0,9%

Blok simpatis

preload afterload contractility

Stroke volume Denyut jantung

Vasodilatasi

Tahanan perifer
Cardiac output
sistemik

- Usia
- Jenis kelamin
- Faktor Psikologis
- Obat-obatan Tekanan darah
- Faktor penyakit
- Kehamilan
- Dll
Keterangan:
: variabel bebas
: variabel terikat
: variabel luar

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

C. Hipotesis

Ada perbedaan perubahan tekanan darah antara coloading Ringer

Laktat dan NaCl 0,9% pada anestesi spinal, dimana NaCl 0,9% lebih baik

dalam mempertahankan tekanan darah.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental acak tersamar

tunggal.

B. Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian dan observasi dilakukan di Instalasi Bedah Sentral (IBS)

RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Desember 2011 dan Januari 2012.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Seluruh pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal di

IBS RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Desember 2011 dan

Januari 2012.

2. Sampel

Semua populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Adapun kriteria inklusi dan eklusinya adalah sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi:

1) Pasien laki-laki dan perempuan yang menjalani operasi dengan

anestesi spinal dan mendapat coloading Ringer Laktat atau NaCl

0,9% .
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

2) Status fisik ASA I-II

3) Umur 18-45 tahun

4) Berat badan 40-70 kg.

5) Bersedia menjadi peserta penelitian dan menandatangani informed

consent.

b. Kriteria eklusi:

1) Penderita kontraindikasi spinal anestesi/blok subarakhnoid.

2) Pasien menderita penyakit jantung dan kelainan hati.

3) Pasien dengan riwayat hipertensi atau hipotensi.

4) Penderita hamil.

5) Pasien memakai obat anti hipertensi, anti aritmia, dan stimulan

jantung.

D. Besar sampel

Estimasi besar sampel dalam penelitian ini akan dihitung berdasarkan

rumus sebagai berikut:


2
穨Ė 穨
伀 忀伀 2

Keterangan:

n = besar sampel untuk masing-masing kelompok.

Zα = tingkat kemaknaan. Untuk α 0,05 maka Zα = 1,96.

Zβ = power. Untuk β 0,02 maka Zβ = 0,842.

S = simpang baku, dimbil dari kepustakaan sebesar 5,4.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

(X1-X2) = selisih minimal yang dianggap bermakna, yaitu sebesar 6 mmHg

(clinical judgement).

Dengan memasukkan angka-angka tersebut pada rumus di atas, maka

diperoleh besar sampel: n1 = n2 > 13.

Jadi besar sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah 13

sampel untuk kelompok Ringer Laktat dan 13 sampel untuk kelompok NaCl

0,9%.

E. Teknik sampling

Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling.

F. Identifikasi variabel

1. Variabel bebas

Coloading Ringer Laktat dan coloading NaCl 0,9%.

2. Variabel terikat

Perubahan tekanan darah.

3. Variabel luar

a. Terkendali: usia, jenis kelamin, berat badan, faktor penyakit.

b. Tak terkendali: faktor psikologis pasien.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

G. Definisi operasional variabel

1. Variabel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah coloading cairan

kristaloid. Coloading adalah teknik pemberian cairan pada saat tindakan

induksi anestesi, dalam hal ini adalah sesaat setelah keluarnya CSF ketika

anestesi spinal. Pada penelitian ini cairan yang digunakan adalah

kristaloid, yaitu Ringer Laktat dan NaCl 0,9%. Masing-masing cairan

diberikan sebanyak 10 mL/kg BB. Jenis variabel merupakan data

kategorikal.

2. Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah perubahan tekanan

darah. Tekanan darah adalah hasil kali cardiac output dengan tahanan

perifer sistemik. Diukur dengan menggunakan monitor tekanan darah.

Pengukuran dilakukan pada menit ke-5, ke-15 dan ke-30 pasca coloading.

Tekanan darah yang didapat adalah tekanan darah sitolik/diastolik yang

kemudian diubah menjadi Mean Arteri Pressure (MAP) dengan

menggunakan rumus:

sistolik 2 diastolik
MAP 忀 mmHg
3

Skala data dari hasil pengukuran yang didapat adalah skala rasio.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

H. Alur penelitian

Populasi

Kriteria inklusi Kriteria eklusi

Sampel penelitian

Informed consent

Observasi tekanan darah


sebelum anestesi spinal

Randomisasi

Kelompok A Kelompok B

Anestesi Spinal

Co-loading Ringer Laktat Co-loading NaCl 0,9%

Observasi tekanan darah pada menit ke-5, ke-15


dan ke-30 pasca coloading

commit to data
Analisis user
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

I. Instrumen penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian adalah:

1. Ringer Laktat

2. NaCl 0,9%

3. Obat-obatan seperti: bupivakain 0,5% hiperbarik

4. Jarum 25G

5. Monitor tekanan darah

6. Perlengkapan sesuai standar anestesi umum (mesin anestesi, sumber

oksigen, alat suction, laringoskop, dll).

J. Teknik analisis data

Data disajikan dalam bentuk tabel, perbandingan tekanan darah diuji

distribusi normalnya dengan menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk. Bila

normal, dilakukan uji komparatif parametrik dengan menggunakan

Independent T-test, bila tidak normal diuji dengan uji komparatif non

parametrik Mann-Whitney. Derajat kemaknaan adalah p ≤ 0,05 dan interval

kepercayaan 95%. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS for

Windows 17.0.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui perubahan tekanan darah

antara pemberian coloading Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada anestesi spinal.

Penelitian ini dilakukan terhadap 26 subjek penelitian yang terbagi dalam dua

kelompok, yaitu kelompok yang mendapat coloading Ringer Laktat dan kelompok

yang mendapat coloading NaCl 0,9%, dimana untuk masing-masing kelompok

berjumlah 13 subjek. Subjek penelitian memiliki kisaran umur 18-45 tahun, berat

badan 40-70 kg dan status fisik ASA I dan ASA II. Adapun hasilnya sebagai

berikut:

Tabel 1. Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Variabel Ringer Laktat NaCl 0,,9% P

Umur (tahun) 32,92±8,58 34,46±8,62 0,652

Berat badan (kg) 57,30±4,85 56,85±6,84 0,844

Jenis kelamin L/P 8/5 10/3 0,395

ASA I/II 3/10 5/8 0,395

Dari data karakteristik umum subjek penelitian di atas yang meliputi umur,

berat badan, jenis kelamin dan status fisik (ASA) tidak didapatkan perbedaan

yang bermakna antara dua kelompok perlakuan (p > 0,05). Untuk umur dan berat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 28
digilib.uns.ac.id

badan diuji dengan Independent Samples T-Test sedangkan jenis kelamin dan

status fisik diuji dengan Chi-Square.

Tabel 2. Perbandingan Rerata Tekanan Darah Sistolik

Waktu Ringer Laktat NaCl 0,9% P

Pre Anestesi 132,54 ± 11,36 134,92 ± 12,04 0,608

Menit ke 5 122,69 ± 10,45 124,77 ± 11,00 0,626

Menit ke 15 115,69 ± 6,50 119,38 ± 8,25 0,217

Menit ke 30 116,84 ± 4,86 120,61 ± 6,86 0,119

Hasil uji statistik dengan menggunakan Independent Samples T-Test

terhadap rerata tekanan darah sistolik pada kedua kelompok juga tidak didapatkan

perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok (p > 0,05).

Tabel 3. Perbandingan Rerata Tekanan Darah Diastolik

Waktu Ringer Laktat NaCl 0,9% P

Pre Anestesi 77,69 ± 6,65 78,77 ± 7,89 0,710

Menit ke 5 75,54 ± 4,88 77,23 ± 5,20 0400

Menit ke 15 72,85 ± 2,73 75,69 ± 3,45 0,028

Menit ke 30 68,38 ± 2,93 71,38 ± 3,95 0,038

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 29
digilib.uns.ac.id

Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara rerata tekanan

darah diastolik pada kedua kelompok setelah pemberian coloading pada menit ke-

15 (p = 0,028) dan menit ke-30 (p = 0,038). Selisih rata-rata pada menit ke-15

sebesar 2,84 mmHg dan pada menit ke-30 sebesar 3 mmHg.

Tabel 4. Perbandingan Rerata Mean Arterial Pressure (MAP)

Waktu Ringer Laktat NaCl 0,9% P

Pre Anestesi 95,97 ± 7,17 97,49 ± 9,97 0,639

Menit ke 5 91,26 ± 5.81 93,07 ± 6.84 0,472

Menit ke 15 87,08 ± 3,51 90,26 ± 4,64 0,043

Menit ke 30 84,54 ± 2,73 87,79 ± 4,64 0,039

Perbedaan yang bermakna secara statistik antara rerata tekanan darah arteri

rata-rata juga didapatkan pada kedua kelompok setelah pemberian coloading pada

menit ke-15 (p = 0,043) dan ke-30 (p = 0,039). Selisih rata-rata pada menit ke-15

sebesar 3,18 mmHg dan pada menit ke-30 sebesar 3,25 mmHg.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 30
digilib.uns.ac.id

BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini adalah penelitian yang membandingkan dua jenis cairan

coloading terhadap perubahan tekanan darah pada anestesi spinal. Jenis cairan

yang digunakan adalah kristaloid, yaitu Ringer Laktat dan NaCl 0,9%. NaCl 0,9%

merupakan cairan isotonis, sedangkan Ringer Laktat bersifat lebih hipotonis.

Osmolaritas NaCl 0,9% yang lebih tinggi dan kandungan ion Na+ yang lebih

banyak inilah yang diharapkan membedakan tekanan darah pasca anestesi spinal

antara pemberian cairan Ringer Laktat dan NaCl 0,9%.

Variabel-variabel yang digunakan untuk membuktikan homogenitas kedua

kelompok meliputi umur, berat badan, jenis kelamin, status fisik dan tekanan

darah sebelum anestesi spinal.

Subjek penelitian dibatasi antara umur 18 – 45 tahun. Setelah umur 45

tahun pasien akan mengalami penurunan elastisitas jaringan disertai pelebaran

pembuluh darah, yang mana hal ini akan berpengaruh terhadap tekanan darah.

Pada penelitian ini didapatkan umur rerata pada kelompok yang mendapat

coloading Ringer Laktat 32,92 tahun sedangkan kelompok NaCl 0,9% 34,46

tahun. Hasil uji statistik menunjukkan keduanya berbeda tidak bermakna (p =

0,652).

Pada penelitian ini, berat badan juga dibatasi antara 40 – 70 kg. Pasien

dengan berat badan yang berlebih (obesitas) cenderung mempunyai tekanan darah

yang lebih tinggi. Semakin besar massa tubuh, semakin banyak darah yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 31
digilib.uns.ac.id

dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti

volume darah yang beredar melalui pembuluh darah meningkat sehingga member

tekanan yan lebih besar pada dinding arteri. Selain itu, obesitas juga merupakan

faktor risiko terjadinya hipotensi pada anestesi spinal (Liguori, 2007; Salinas,

2009). Pada penelitian ini didapatkan rerata berat badan pada kelompok yang

mendapat coloading Ringer Laktat 57,30 kg sedangkan kelompok NaCl 0,9%

56,85 kg. Hasil uji statistik menunjukkan keduanya berbeda tidak bermakna (p =

0,844).

Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap tekanan darah, dalam hal ini

disebabkan karena adanya perbedaan curah jantung. Pada laki-laki, volume curah

jantungnya kurang lebih 5 L/menit sedangkan pada wanita lebih rendah sekitar

20%. Jenis kelamin kedua kelompok secara statistik berbeda tidak bermakna (p >

0,05). Begitu juga status fisik dan tekanan darah sebelum anestesi yang secara

statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05).

Dengan demikian secara statistik subjek penelitian kedua kelompok ini

adalah homogen, sehingga apabila ada perbedaan setelah mendapat perlakuan

bukan disebabkan karena adanya perbedaan pada karakteristik subjek.

Pemeriksaan tekanan darah sistolik, diastolik dan MAP sebelum anestesi

spinal pada kedua kelompok menunjukkan tidak berbeda secara statistik, hal ini

menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai karakteristik hemodinamik,

khususnya tekanan darah, yang sama.

Hasil penelitian tekanan darah sistolik kedua kelompok pada menit ke-5,

ke-15 dan ke-30 setelah coloading tidak didapatkan perbedaan yang bermakna
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 32
digilib.uns.ac.id

secara statistik, baik itu pada menit ke-5, ke-15 maupun ke-30 pasca anestesi

spinal. Sedangkan pemeriksaan rata-rata tekanan darah diastolik lebih tinggi pada

kelompok NaCl 0,9% dibandingkan kelompok Ringer Laktat, terutama bermakna

secara statistik pada pengukuran menit ke-15 dan menit ke-30.

Tekanan darah arteri rata-rata (MAP) kelompok NaCl 0,9% lebih tinggi

dan berbeda bermakna dibandingkan kelompok Ringer Laktat pada pengukuran

menit ke-15 dan menit ke-30.

Hasil ini menunjukkan bahwa coloading NaCl 0,9% memiliki efek

mencegah perubahan tekanan darah yang lebih baik dibandingkan dengan

coloading Ringer Laktat. Perbedaan rata-rata tekanan darah terjadi hingga menit

ke-30 pasca dilakukan anestesia spinal. Waktu paruh paruh kristaloid yang singkat

(20-30 menit) menyebabkan tekanan darah menurun cukup signifikan pada menit-

menit akhir penelitian. Namun, osmolaritas yang sedikit lebih besar membuat

NaCl 0,9% bertahan sedikit lebih lama di dalam intravaskuler. Sehingga

penurunan tekanan darah yang terjadi pada kelompok NaCl 0,9% angkanya lebih

kecil jika dibandingkan dengan kelompok yang diberi coloading Ringer Laktat.

Selain itu, perbedaan kadar Na+ dalam masing-masing cairan yang

digunakan juga mempengaruhi hasil penelitian ini. Ion Na+ yang terdapat dalam

NaCl 0,9% (154 mEq/L) jumlahnya lebih banyak bila dibanding yang terdapat

dalam Ringer Laktat (130 mEq/L). Natrium adalah salah satu elektrolit yang

paling berperan dalam pengaturan keseimbangan air-elektrolit, bersama dengan

Kalium, Kalsium, Fosfat dan Magnesium. Perubahan jumlah total Natrium sangat

berkaitan erat dengan perubahan jumlah cairan dalam tubuh. Hampir sebagian
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 33
digilib.uns.ac.id

besar Natrium tubuh berada dalam darah dan dalam cairan di sekeliling sel. Oleh

karena itu, peningkatan jumlah natrium tubuh akan meningkatkan volume darah.

Jika volume darah meningkat, maka tekanan darah juga akan meningkat.

Konsentrasi natrium yang lebih tinggi pada NaCl 0,9% menyebabkan tekanan

darah pasien yang diberi coloading NaCl 0,9% selalu lebih tinggi disetiap

pengukuran waktu dibandingkan dengan pasien yang diberi coloading Ringer

Laktat.

Penelitian ini menggunakan teknik pemberian cairan secara coloading

karena dengan cara ini diharapkan preload jantung akan lebih besar. Dengan

preload yang besar diharapkan akan meningkatkan stroke volume. Dengan

demikian diharapkan tekanan darah juga akan meningkat.

Jantung mampu menyesuaikan output dengan input-nya. Peningkatan

aliran balik vena ke jantung akan meningkatkan volume akhir distolik jantung.

Peningkatan volume akhir diatolik jantung akan disertai dengan pengembangan

serabut miokardial ventrikel. Semakin banyak serabut otot jantung yang

mengembang, karena preload yang besar, akan semakin besar pula daya

kontraksinya. Dengan daya kontraksi yang besar maka darah yang dipompakan

juga akan semakin besar. Hal ini disebut hukum Frank-Starling tentang jantung.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 34
digilib.uns.ac.id

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan perubahan tekanan darah yang bermakna secara statistik pada menit

ke-15 dan 30 antara coloading Ringer Laktat dan NaCl 0,9% pada Anestesi

spinal.

B. SARAN

1. Diperlukan jumlah sampel yang lebih banyak agar dapat memperlihatkan

hasil yang lebih nyata.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang jenis dan jumlah cairan

intravena terbaik untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal.

commit to user