Anda di halaman 1dari 9

Contoh kasus:

NN adalah seorang psikolog yang barusaja menyandang gelar psikolognya dan bekerja pada salah satu
biro psikologi di Kota JK bersama dengan beberapa ilmuan psikologi dan psikolog yang lain. Suatu hari,
datang klien berinisial AB yang menderita depresi berat sehingga mencoba membunuh diri dan
membutuhkan layanan darurat di biro tersebut, namun para psikolog senior sedang ke luar kota untuk
melakukan perjalanan dinas selama beberapa minggu sehingga klien tersebut diberikan kepada psikolog
NN dengan maksud pemberian layanan darurat untuk sementara waktu. Beberapa hari kemudian, salah
seorang psikolog senior berinisial SH kembali ke Kota JK untuk melakukan penanganan kepada klien AB,
namun psikolog NN menolak untuk memberikan penanganan klien tersebut kepada psikolog SH karena
menganggap bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah klien AB hingga selesai tanpa bantuan dari
psikolog SH walaupun penanganan yang diberikan oleh NN ke AB tidak menunjukkan hasil yang
signifikan.

Analisis:

Kasus di atas menunjukkan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh psikolog NN kepada psikolog SH
pada:

1. BAB I Pedoman Umum, pasal 4 prinsip C tentang profesional yang berbunyi “Psikolog dan/atau
Ilmuwan Psikologi dapat berkonsultasi, bekerjasama dan/atau merujuk pada teman sejawat, professional
lain dan/atau institusi-institusi lain untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna layanan
psikologi. Dalam kasus tersebut, psikolog NN menolak untuk memberikan pelayananan klien AB kepada
psikolog SH sehingga melanggar pasal 4 prinsip C yang menolak memberikan layanan terbaik kepada
pengguna layanan psikologi.

2. BAB III Kompetensi pasal 12 ayat 3 dan 4 tentang Pemberian Layanan Psikologi dalam Keadaan
darurat yang berbunyi “Selama memberikan layanan psikologi dalam keadaan darurat, Psikolog dan/atau
Ilmuwan Psikologi yang belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan perlu segera mencari psikolog yang
kompeten untuk mensupervisi atau melanjutkan pemberian layanan psikologi tersebut (3). Apabila
psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang lebih kompeten telah tersedia atau kondisi darurat telah
selesai, maka pemberian layanan psikologi tersebut harus dialihkan kepada yang lebih kompeten atau
dihentikan segera (4). Kasus di atas sangat jelas bahwa psikolog NN tidak segera mencari psikolog yang
kompeten untuk mensupervisi atau melanjutkan pemberian layanan psikologi seperti yang dijelaskan
pada pasal tiga (3), dan tidak bersedia mengalihkan layanan AB kepada SH walaupun tidak ada
perubahan yang signifikan pada AB seperti yang dijelaskan pasal empat (4).

Saran:
1. Memberikan pengarahan kepada psikolog/Ilmuwan psikologi yang belum kompeten mengenai kode
etik HIMPSI terkait kerjasama dengan teman sejawat demi memberikan layanan terbaik kepada
pengguna jasa psikologi.

2. HIMPSI memberikan pengarahan kepada psikolog/Ilmuwan psikologi yang belum kompeten


mengenai kode etik psikolog/Ilmuwan psikologi dalam pemberian layanan darurat dan bagaimana langka
selanjutnya ketika pemberian layanan telah dilakukan.

1. Contoh Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Ke-1

a. Kasus

S seorang Psikolog, membuka praktik psikologi dengan memasang plang di depan rumahnya. Ia
melakukan beberapa praktik antara lain mendiagnosis, memberikan konseling dan psikoterapi terhadap
kliennya. Namun ketika memberikan hasil diagnosis, ia justru menggunakan istilah-istilah psikologi yang
tidak mudah dimengerti oleh kliennya, sehingga sering terjadi salah paham terhadap beberapa klien
tersebut.

Hal lain sering pula terjadi saat ia memberikan prognosis kepada klien, seperti menganalisis gangguan
syaraf yang seharusnya ditangani oleh seorang dokter. Ia juga sering menceritakan masalah yang dialami
klien sebelumnya kepada klien barunya dengan menyebutkan namanya saat memberikan konseling.

Psikolog S terkadang juga menolak dalam memberikan jasa dengan alasan honor yang diterima lebih
kecil dari biasanya.

Di lain waktu, ada sebuah perusahaan membutuhkan karyawan baru untuk di tempatkan pada staf-staf
tertentu dalam perusahaan. Pimpinan perusahaan tersebut kemudian memakai jasa Psikolog S untuk
memberikan psikotes pada calon karyawan yang berkompeten dalam bidangnya. Namun, ketika
memberikan psikotes tersebut, ia bertemu dengan R saudaranya dan meminta agar Psikolog S
memberikan hasil psikotes yang baik supaya R dapat diterima dalam perusahaan tersebut. Karena
merasa tidak enak dengan saudaranya itu, akhirnya Psikolog S itu memberikan hasil psikotes yang
memenuhi standart seleksi penerimaan calon karyawan, hingga R tersebut kemudian diterima dalam
perusahaan tersebut dengan menduduki staf tertinggi.

Lama-kelamaan, perusahaan tersebut ternyata sering kecewa terhadap cara kerja R karena dianggap
tidak berkompeten dalam bidangnya. hingga akhirnya Pimpinan perusahaan menyelidiki cara pemberian
jasa Psikolog S, namun alangkah terkejutnya pimpinan tersebut ketika mengetahui bahwa Pendirian
Praktik Psikolog S ternyata belum tercatat pada HIMPSI dan Psikolog S tersebut sama sekali belum
pernah menjadi anggota HIMPSI.

a. Analisa
Sebagai seorang Psikolog yang semestinya memberikan penjelasan yang sejelas-sejelasnya terhadap
klien, namun kenyataanya S telah membuat klien bingung dan salah paham. Hal itu bisa jadi berakibat
fatal terhadap klien terutama nanti yang berhubungan dengan kondisi psikis klien. Tindakannya juga
terkesan menyepelekan klien dengan ketidak-mengertiannya, mungkin saja klien tersebut termasuk
golongan awam yang kurang begitu paham dengan istilah psiklogi dan berakibat kesalahpahaman antara
S dan klien tersebut. Mestinya, ia menggunakan kata dan istilah yang sekiranya dapat dimengerti oleh
klien agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama yang berhubungan dengan hasil asesmen.

Selain itu ia telah memberikan sebuah diagnosa yang bukan di ranah psikolog yaitu analisa gangguan
saraf yang semestinya dianalisa oleh dokter spesialis saraf. Mestinya ia tidak melakukan hal itu karena
gangguan saraf memang bukan di ranahnya psikolog, bisa jadi ia nanti akan memberikan hasil analisa
yang kurang akurat karena bukan bidangnya. Bisa juga ia termasuk memerehkan dan melecehkan profesi
dokter.

Tindakan pelanggaran kode etik tidak hanya itu yang ia lakukan, ia juga tidak menjaga rahasia klien
yang semestinya ia simpan dan tidak diumbar-umbar pada klien lain tanpa kepentingan dan alasan yang
tepat misalnya klien akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya dan orang maka psiklog boleh
menceritakan rahasia atau masalah klien pada keluarganya sebagai antisipasi. Menceritakan masalah
klien bisa tergolong boleh kalau hanya menceritakan masalahnya saja sebagai bahan renungan atau
ibroh pada klien lain tanpa dibocorkan nama dan identitas lainnya seperti yang telah ia lakukan. Dengan
demikian, ia telah melanggar sumpah profesi untuk menjaga rahasia klien.

Selain itu juga, ia kurang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam memberikan pelayanan jika
horor kurang memuaskan. Mestinya, ia menggunakan kata dan istilah yang sekiranya dapat dimengerti
oleh klien agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama yang berhubungan dengan hasil asesmen.

Selain itu ia telah memberikan sebuah diagnosa yang bukan di ranah psikolog yaitu analisa gangguan
saraf yang semestinya dianalisa oleh dokter spesialis saraf. Mestinya ia tidak melakukan hal itu karena
gangguan saraf memang bukan di ranahnya psikolog, bisa jadi ia nanti akan memberikan hasil analisa
yang kurang akurat karena bukan bidangnya. Bisa juga ia termasuk memerehkan dan melecehkan profesi
dokter.

Tindakan pelanggaran kode etik tidak hanya itu yang ia lakukan, ia juga tidak menjaga rahasia klien
yang semestinya ia simpan dan tidak diumbar-umbar pada klien lain tanpa kepentingan dan alasan yang
tepat misalnya klien akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya dan orang maka psiklog boleh
menceritakan rahasia atau masalah klien pada keluarganya sebagai antisipasi. Menceritakan masalah
klien bisa tergolong boleh kalau hanya menceritakan masalahnya saja sebagai bahan renungan atau
ibroh pada klien lain tanpa dibocorkan nama dan identitas lainnya seperti yang telah ia lakukan. Dengan
demikian, ia telah melanggar sumpah profesi untuk menjaga rahasia klien.

Selain itu juga, ia kurang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam memberikan pelayanan jika
horor kurang memuaskan. Mestinya ia mengadakan kesepakatan di awal kontrak layanan dengan klien
mengenai honor, berapa horor yang mampu dijangkau oleh klien dengan tanpa merugikan psilokog,
sehingga layanan psikologi tetap terlaksana dengan baik dan psikolog tetap dapat menjalankan amanah
dalam memberikan pelayanan pada masyarakat yang membutuhkan.

Ia juga kurang objektif dalam memberikan pelayanan psikologi (masih membedakan antara saudara
dan orang lain / memberikan penilain dan hasil asesmen yang baik kepada saudara sendiri), sehingga
dapat berakibat buruk bagi perusahan yang menerima saudaranya bekerja, dan yang paling parah yaitu
ia ternyata masih belum mengantongi ijin praktik psikologi dari HIMPSI sehingga ia bisa disebut sebagai
psikolog gadungan.

b. Pelanggaran Kode Etik

1. Bab I pedoman umum

- Pasal 1 ayat 3 (psikolog wajib memliki ijin praktek).

- Pasal 2 Prinsip A (penghormatan pada harkat martabat manusia) ayat 1, 2, 3, 4. Prinsip B (integritas
dan sikap ilmiah) ayat 2, 3. Prinsip C (profesional) ayat 1, 2, 3, 6. Prinsip E (manfaat) ayat 1, 2, 3

2. Bab III kompetensi

- Pasal 7 (ruang lingkup kompetensi) ayat 2

3. Bab IV hubungan antar manusia

- Pasal 13 (sikap profesional).

- Pasal 14 ayat 2 (pelecehan lain).

- Pasal 15 (penghindaran dampak buruk)

4. Bab V kerahasiaan

- Pasal 24 (mempertahankan kerahasiaan data).

- Pasal 26 (pengungkapan kerahasiaan data) ayat 1

5. Bab XI asesmen

- Pasal 65 (interpretasi hasil asesmen).

- Pasal 66 (penyampaian data hasil asesmen) ayat 3

2. Contoh Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Ke-2

a. Kasus

Sebut saja namanya bapak L, ia lulusan S2 magister sains dalam bidang psikologi. Setelah beberapa
bulan dari kelulusannya ia direkrut menjadi dosen di sebuah Sekolah Tinggi di salah satu lembaga
pendidikan di tempat tinggalnya. Satu hari ia diminta oleh pihak pengelola SMA swasta di daerahnya
untuk melakukan tes psikologi yang bertujuan untuk melihat kemampuan minat dan bakat penjurusan
kelas III (IPA, IPS dan Bahasa).

Masyarakat setempat terutama pihak sekolah SMA tersebut selama ini memang tidak mengetahui
secara pasti mengenai program study yang ditempuh L apakah ia mengambil magister profesi atau
magister sains begitu juga dengan perbedaan ranah keduanya, mereka hanya mengetahui kalau L sudah
menempuh pendidikan tinggi S2 psikologi.

Mendapat tawaran untuk melakukan pengetesan semacam itu, tanpa pkir panjang L langsung
menerima dan melakukan tes psikologi serta mengumumkan hasil tes kepada pihak sekolah tentang
siapa saja siswa yang bisa masuk di kelas IPA, IPS dan bahasa.

L melakukan tes psikologi tersebut ternyata tidak sendirian, ia bekerja sama dengan M (pr) yang
memang seorang psikolog. Mereka berteman akrab sejak seperguruan waktu dulu mereka menempuh
S2 hanya saja M adalah adik tingkat L dan dulu sempat terjalin hubungan dekat antara keduanya
sehingga M merasa sungkan jika menolak kerj sama dengan L. Anehnya M menerima ajakan kerja sama L
dengan senang hati dan tidak mempermasalahkan apapun yang berhubungan ranah psikologi yang
semestinya meskipun pada sebenarnya ia sendiri sudah paham bahwa L tidak boleh melakukan hal
tersebut. Antara keduanya memang terjalin kerja sama akan tetapi yang memegang peranan utama
dalam tes psikologi tersebut adalah L, sedangkan M sebagai psikolog sendiri hanya sebatas pendamping
L mulai dari pemberian tes sampai pada penyampaian data dan hasil asesmen.

b. Analisa

Tindakan L sudah jelas menyalahi kode etik psikologi, karena ia sebagai Magister Sains (Ilmuwan
Psikologi) bukan sebagai Magister Psikologi (Psikolog), tugasnya hanya sebatas pengadministrasian
asesmen bukan sebagai penyelenggara asesmen seperti dalam kasus di atas yang mana ia telah
melakukan tes psikologi dengan menggunakan alat tes dan memberikan hasil asesmen meskipun hasil
kerja sama dengan Psikolog, sehingga tindakan keduanya (L & M) tersebut merupakan penyalahgunaan
di bidang psikologi terutama bagi L sendiri.

Semestinya L memberitahu pada pihak sekolah tentang batasan kompetensinya dan memberi
pemahaman bahwa ia tidak berwenang melakukan tes psikolgi dan ia bisa juga langsung mengalihkan
tawaran tersebut kepada teman akrabnya yaitu Psikolog M.

Semestinya juga sebagai seorang yang profesional dalam psikologi, M bisa memberikan pengarahan
dan pengertian pada L kalau sebetulnya ia tidak boleh melakukan tes psikologi tapi karena M merasa
sungka pada L sehingga ia hanya bisa menerima ajakan L untuk membantu dan membiarkan ia tetap
melaksanakan tes psikologi sampai selesai penyampaian data asesmen.

c. Pelanggaran Kode Etik


1. Bab I pedoman umum

- Pasal 1 ayat 4, 5.

- Pasal 2 (prinsip C : profesional) l ayat 1, 2, 3, 4

2. Bab II mengatasi isu etika

- Pasal 4 penyalahgunaan di bidang psikologi ayat 2

3. Bab III kompetensi

- Pasal 7 ruang lingkup kompetensi ayat 1, 2

4. Bab IV hubungna antar manusia

- Pasal 13 tentang sikap profesional.

- Pasal 14 ayat 2 tenang pelecehan lain (L telah meremehkan profesi M sebagai Psikolog).

- Pasal 19 hubungan profesional ayat 2 (hubungan dengan profesi lain).

- Pasal 22 ayat 1 tentang pengalihan layanan kepada sejawat lain jika ada keterbatasan kompetensi

5. Bab XI asesmen

- Pasal 62 dasar asesmen ayat 1, 2.

- Pasal 63 penggunaan asesmen ayat 2 (kewenangan Psikolog dalam menyampaikan hasil asesmen)

Kasus :

Seorang ibu membawa anaknya yang masih duduk di bangku dasar kelas 2 ke psikolog di biro psikologi
YYY.sang ibu meminta kepada psikolog agar anaknya diperiksa apakah anaknya termasuk anak autisme
atau tidak. Sang ibu khawatir bahwa anaknya menderita kelainan autism karena sang ibu melihat tingkah
laku anaknya berbeda dengan tingkah laku anak-anak seumurnya.Psikolog itu kemudian melakukan test
terhadap anaknya. Dan hasilnya sudah diberikan kepada sang ibu, tetapi sang ibu tersebut tidak
memahami istilah – istilah dalam ilmu psikologi. Ibu tersebut meminta hasil ulang test dengan bahasa
yang lebih mudah dipahami. Setelah dilakukan hasil tes ulang, ternyata anak tersebut didiagnosa oleh
psikolog yang ada di biro psikologi itu mengalami autis. Anak tersebut akhirnya diterap. Setelah beberapa
bulan tidak ada perkembangan dari hasil proses terapi. Ibu tersebut membawa anaknya kembali ke biro
psikologi yang berbeda di kota X, ternyata anak tersebut tidak mengalami autis, tetapi slow learned.
Padahal anak tersebut sudah mengkonsumsi obat-obatan dan makanan bagi anak penyandang autis.
Setelah diselediki ternyata biro psikologi YYY tersebut tidak memiliki izin praktek dan yang menangani
bukan psikolog, hanyalah sarjana psikologi Strata 1. Ibu tersebut ingin melaporkan kepada pihak yang
berwajib, tetapi ibu tersebut dengan psikolog itu tidak melakukan draft kontrak dalam proses terapi.
KAITAN KASUS DENGAN KODE ETIK PSIKOLOGI

Kasus di atas dalam kode etik psikologi melanggar pasal – pasal yaitu

Pasal 4

Penyalahgunaan di bidang Psikologi

b) Pelanggaran sedang yaitu:

Tindakan yang dilakukan oleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi karena kelalaiannya dalam
melaksanakan proses maupun penanganan yang tidak sesuai dengan standar prosedur yang telah
ditetapkan mengakibatkan kerugian bagi salah satu tersebut di bawah ini:

i. Ilmu psikologi

ii. Profesi Psikologi

iii. Pengguna Jasa layanan psikologi

iv. Individu yang menjalani Pemeriksaan Psikologi

v. Pihak-pihak yang terkait dan masyarakat umumnya.

Dalam kasus Psikolog lalai dalam melaksanakan proses dan mendiagnosa klien sehingga menimbulkan
kerugian bagi klien dan keluarga klien.

Pasal 7

Ruang Lingkup Kompetensi

(1) Ilmuwan Psikologi memberikan layanan dalambentuk mengajar, melakukan penelitian dan/atau
intervensi sosial dalam area sebatas kompetensinya, berdasarkan pendidikan, pelatihanatau pengalaman
sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kasus, individu yang ada di biro psikologi itu bukan psikolog, melainkan hanya ilmuan
psikologi yaitu sarjana S1 yang tidak berhak membuka praktek dan melakukan intervensi terapi, karena
kompetensi melakukan terapi dan intervensi adalah kompetensi psikolog

Kejadian Nyata Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Dalam Dunia Pendidikan

Pertengahan bulan Februari tahun ini, salah satu organisasi daerah yang ada di Kota Yogyakarta, berasal
salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan mengadakan Safari Pendidikan sebagai program yang bertujuan
untuk memperkenalkan pendidikan di kota budaya ini termasuk PTN/PTS, saya juga mengikuti program
ini. Sasaran dari kegiatan tersebut adalah mengunjungi SMA/SMK secara langsung di kabupaten
tersebut.

Memasuki hari pertama, kami mengunjungi beberapa sekolah termasuk tempat dimana saya selesai
SMA. Sebagai alumni, beberapa guru dan staf Bimbingan & Konseling masih aku kenal. Hal yang ganjil
aku temukan ketika pada saat itu juga diadakan test psikologi, ketika bercerita dengan beberapa staff BK,
yang memberi instruksi, intervensi dan supervisi adalah guru yang memiliki pendidikan strata satu dalam
pendidikan bergelar S.Pd. lembaga yang mengadakan tes tersebut merupakan Biro Psikologi yang
berkedudukan di ibu kota provinsi. Dalam hal ini, biro tersebut telah mengadakan kerja sama dalam
bentuk pelaksanaan psikotes dengan sekolah. Biro ini hanya mengirimkan alat tesnya kemudian hasilnya
akan dikirim ulang. Bentuk intervensi dan supervisi selanjutnya di serahkan kepada sekolah dalam hal ini
kepada staf guru BK. Adapun tes yang diberikan bertujuan untuk melihat kemampuan minat dan bakat
penjurusan kelas III (IPA, IPS dan Bahasa).

Dari kasus di atas dikaitkan dengan kode etik psikologi pada Bab III tentang kompetensi pasal 10 yang
mengatur tentang pendelegasian pekerjaan pada orang lain mengindikasikan adanya pelanggaran kode
etik yang dilakukan oleh Psikolog dalam hal ini berbentuk layanan Biro Psikologi.

Pada pasal tersebut disebutkan bahwa Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang mendelegasikan
pekerjaan pada asisten, mahasiswa, mahasiswa yang disupervisi, asisten penelitian, asisten pengajaran,
atau kepada jasa orang lain seperti penterjemah; perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk:

a) Menghindari pendelegasian kerja tersebut kepada orang yang memiliki hubungan ganda

dengan yang diberikan layanan psikologi, yang mungkin akan mengarah pada eksploitasi atau hilangnya
objektivitas.

b) Memberikan wewenang hanya untuk tanggung jawab di mana orang yang diberikan

pendelegasian dapat diharapkan melakukan secara kompeten atas dasar pendidikan,

pelatihan atau pengalaman, baik secara independen, atau dengan pemberian supervisi

hingga level tertentu; dan

c) Memastikan bahwa orang tersebut melaksanakan layanan psikologi secara kompeten.

Sehubungan dengan kasus di atas dikaitkan dengan ketiga poin tersebut yang mengatur tentang
pendelegasian kepada orang lain, masing-masing dapat dilihat sebagai berikut:

a) Menghindari pendelegasian kerja tersebut kepada orang yang memiliki hubungan ganda dengan
yang diberikan layanan psikologi, yang mungkin akan mengarah pada eksploitasi atau hilangnya
objektivitas.
Pembahasan: dalam hal ini, Biro Psikologi mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain (staf
Bimbingan & Konseling) yang memiliki hubungan ganda dengan siswa. Staf tersebut yang mengadakan
administrasi tes dan memberikan instruksi serta intervensi dan supervisi. Hal ini akan dikhawatirkan
hilangnya objektivitas alat tes, tidak menutup kemungkinan ada hubungan keluarga antara guru dan
siswa, dimana dalam kebiasaan sekolah tersebut, orang tua atau siswa sendiri yang menginginkan masuk
dalam program study IPA, karena dianggap memiliki prestise dibanding jurusan lainnya

b) Memberikan wewenang hanya untuk tanggung jawab di mana orang yang diberikan

pendelegasian dapat diharapkan melakukan secara kompeten atas dasar pendidikan,

pelatihan atau pengalaman, baik secara independen, atau dengan pemberian supervisi

hingga level tertentu.

Pembahasan: pendelegasian kepada non sarjana Psikologi ataupun psikolog tentunya kesalahan.
Kompetensi yang dimiliki oleh mereka tentunya terbatas atau mungkin saja tidak tahu sama sekali. Pada
kasus diatas, pendelegasian kepada BK yang memiliki latar pendidikan sarjana pendidikan bidang BK dan
bidang study lainnya. Mereka tentu saja tidak pernah mengikuti pelatihan sebelumnya bagaimana
baiknya dalam memberi instruksi dan intervensi setelahnya. Hal ini menunjukkan ketidakprofesionalitas
dari psikolog dengan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain yang tidak memiliki kompentensi.

c) Memastikan bahwa orang tersebut melaksanakan layanan psikologi secara kompeten.

Pembahasan: dalam pendelegasian Psikolog tentunya harus memastikan lokasi diadakan tes dan
bagaimana jalannya tes selama berlangsung. Tempat diadakannya tes harus kondusif dan jauh dari
kegaduhan. Instruksi yang diberikan pun harus jelas untuk menghindari kebiasan. Namun pada kasus
diatas menunjukkan bahwa pendelegasian yang diberikan kepada orang lain tidak memperhatikan
pertimbangan ini. Dalam dilihat dari lokasi tes yang merupakan ruangan kerja Bimbingan dan Konseling,
posisinya pun berseberangan dengan ruangan kelas, pas didepan ruangan tersebut juga merupakan
kantin. Suasana demikian tentunya tidak mendukung dalam proses psikotes. Orang yang menerima
delegasi juga tidak memiliki kompetensi, khususnya pemberian instruksi, tentunya kemungkinan
kebiasan terlalu besar.

Anda mungkin juga menyukai