Anda di halaman 1dari 16

Gangguan Kepribadian dan Bunuh Diri

Katherine J. Nelson, Michael J. Miller, Alexandra Zagoloff, Melinda K. Westlund,


dan Charles Schulz

Pendahuluan
Kemungkinan pertimbangan yang paling relevan dan diabaikan dalam
upaya untuk menghentikan bunuh diri di seluruh dunia adalah risiko kepribadian
maladaptif atau adanya sifat kepribadian disfungsional. Gangguan kepribadian
sebelumnya telah diklasifikasikan dibawah aksis II dalam sistem diagnostik
multiaksial sebagaimana yang ditetapkan oleh Diagnostic and Statistical Manual-
IV Text Revision (DSM-IV-TR) sebagai kelainan yang ditandai dengan “pola
menetap akan adanya pengalaman di dalam diri dan perilaku yang sangat
menyimpang dari yang diharapkan dari kebudayaan individu, bersifat perfasif dan
tidak fleksibel, stabil dari waktu ke waktu, dan menyebabkan penderitaan atau
gangguan” (American Psychiatric Association, 2000). Dalam Diagnotic and
Statistical Manual 5 (DSM5), kriteria untuk gangguan kepribadian masih belum
berubah, meskipun tidak lagi terdapat sistem multiaksial yang digunakan untuk
mengelola diagnosis (American Psyciatric Association, 20013). Terhentinya
penggunaan aksis II dianggap suatu langkah yang positif dalam arah
penatalaksanaan gangguan kepribadian, karena aksis II dimaksudkan untuk
menggambarkan kondisi yang secara klasik dianggap tidak dapat diobati.
Konsekuensi dari mengklasifikasikan gangguan pada aksis II mencakup
melakukan stigmatisasi pasien dengan gangguan ini dan akses terhadap kesulitan
penatalaksanaan yang berkaitan dengan penukaran pembayaran dan kompensasi
perawatan.
Gangguan kepribadian telah lama diteliti untuk menentukan perannya dalam
perilaku bunuh diri. Sebuah penelitian epidemiologi berskala besar meneliti lebih
dari 40000 partisipan masyarakat yang menyatakan mereka yang menerima
diagnosis gangguan kepribadian dengan menggunakan kriteria yang ketat adalah
9.66 kali lipat lebih berkemungkinan untuk melaporkan riwayat upaya bunuh diri
(Trull dkk, 2010). Selain itu, “autopsi psikologis” telah diteliti untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap bunuh diri
individu postmortem. Metode ini terdiri atas wawancara retrospektif dan tinjauan
rekam medis (Arsenault – Lapierre dkk, 2004). Sebuah metaanalisis terhadap
penelitian mengenai hal ini mencakup 27 penelitian untuk sejumlah total 3275
bunuh diri. Penelitian-penelitian yang dimasukkan dalam metaanalisis ini
dilakukan di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Asia. Hanya 14 penelitian yang
mencakup informasi diagnostik baik buntuk gangguan kepribadian dan gangguan
psikiatri lainnya. Dari penelitian-penelitian yang berisikan informasi mengenai
gangguan kepribadian, 16.2% dari individu yang berhasil bunuh diri telah
mendapatkan diagnosis gangguan kepribadian berdasarkan autopsi psikologis.
Tidak terdapat perbedaan dalam angka kejadian diagnosis gangguan kepribadian
menurut wilayah geografis. Berdasarkan hasil ini, tampak bahwa peran gangguan
kepribadian pada risiko bunuh diri bernilai konsisten diseluruh dunia.
Bidang penelitian gangguan kepribadian telah dihadapkan dengan
kontroversi selama dekade terakhir. Dalam perkembangan DSM5, kelompok kerja
Gangguan Kepribadian mempertanyakan validitas dan manfaat konseptualisasi
dan pengelompokan gangguan kepribadian DSM-IV-TR dan mengusulkan sebuah
analisis dimensi baru terhadap sifat dan bidang kepribadian yang spesifik.
Deskripsi usulan ini dimasukkan dalam bagian III dari DSM5, bagian yang
disiapkan untuk langkah-langkah dan model yang muncul (American Psychiatric
Association, 2013). Tidak ada metode yang telah dijelaskan untuk menerjemahkan
kriteria terbaru terhadap model baru yang diusulkan. Tantangan lainnya dalam
interpretasi kepustakaan mengenai gangguan kepribadian berada pada tingginya
angka komorbiditas gangguan kepribadian dan diagnosis psikiatri lainnya, yang
cenderung menyamarkan data yang ada dan sulit untuk dikendalikan dalam
penelitian berskala besar. Selain itu, bukti yang muncul menantang gagasan
bahwa sifat kepribadian disfungsional atau kriteria bersifat stabil dari waktu ke
waktu atau tidak dapat diobati sebagaimana yang pernah diasumsikan. Meskipun
demikian, bab ini akan memberikan suatu tinjauan kepustakaan yang meneliti
hubungan antara gangguan kepribadian dan bunuh diri sebagaimana yang saat ini
dijelaskan dalam DSM5 dengan diskusi tambahan yang menjelaskan peran sifat
kepribadian spesisik sebagaimana yang disinggung mengenai perubahan yang
diusulkan pada pengelompokan kepribadian dalam edisi selanjutnya.

Ganggun Kepribadian Kluster B


DSM5 membagi gangguan kepribadian menjadi tiga “kluster” berdasarkan
gambarannya yang serupa. Biasanya kelompok yang paling relevan dan yang
diteliti berkaitan dengan bunuh diri adalah gangguan yang termasuk dalam kluster
B, dengan sifat yang sama yang digambarkan sebagai individu yang seringkali
tampak “dramatis, emosional, atau aneh” dan mencakup Gangguan kepribadian
Borderline (BPD), Gangguan kepribadian Narsistik (NPD), Gangguan
kepribadian antisosial (ASPD), dan Gangguan kepribadian Histrionik (HPD)
(APA, 2013). Sebuah penelitian longitudinal selama 10 tahun terhadap 49
partisipan dengan gangguan depresi mayor (MDD) dan gagasan bunuh diri
menilai beberapa faktor risiko demografi, psikologis, kepribadian dan psikososial
dengan tujuan mengidentifikasi prediktor-prediktor prospektif upaya bunuh diri
dan menemukan bahwa satu-satunya prediktor yang khas adalah adanya gangguan
kepribadian kluster B sebagai penyakit penyerta (May dkk, 2012). Penyelidikan
lebih lanjut telah berupaya untuk menemukan gangguan dan karakteristik yang
spesifik didalam kluster B yang berkaitan dengan peningkatan risiko untuk bunuh
diri.

Gangguan kepribadian Borderline


Gangguan kepribadian yang paling sering berkaitan dengan ide bunuh diri
adalah BPD, sebuah gangguan yang terlihat secara heterogen yang seringkali
ditandai dengan mencederai diri sendiri tanpa bunuh diri dan bunuh diri.
Gambaran terkait lainnya mencakup instabilitas afektif dan interpersonal,
kurangnya identitas diri dan gejala-gejala perseptual kognitif yang mencakup
gagasan paranoid terkait stres (APA, 2013). Prevalensi BPD dalam populasi
berdasarkan penelitian epidemiologi berskala besar terhadap 346543 orang
dewasa diperkirakan berkisar antara 2.7 – 5.9% (bergantung pada keketatan
kriteria yang digunakan pada penghitungan) dengan distribusi yang sebanding
antara pria dan wanita. Wanita cenderung lebih berkemungkinan untuk datang ke
perawatan kesehatan jiwa dan tampak lebih dilumpuhkan oleh gangguan jiwa
(Trull dkk, 2010). Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa kelainan ini dapat
diobati dan mengalami remisi dengan angka kekambuhan yang rendah; namun
fungsi sosial dan okupasional masih terganggu (Zanarini dkk, 2012). Berdasarkan
bukti ini, BPD saat ini dikonsepkan memiliki prognosis yang lebih baik
dibandingkan yang sebelumnya diyakini. Meskipun telah terdapat optimisme yang
berubah ini, 75% dari pasien dengan BPD mencoba bunuh diri (Soloff dkk, 1994)
dan 10% dari pasien dengan BPD berhasil melakukan bunuh diri; sebuah outcome
tragis yang menyoroti sangat dibutuhkannya identifikasi dan penatalaksanaan
secara dini (Paris & Zweig-Frank, 2001).

Penyakit penyerta yang sering ditemukan


Beberapa penelitian telah mencoba untuk meneliti hubungan antara kelainan
aksis I, terutama depresi mayor, dan BPD untuk menggali aspek yang menentukan
gangguan ini terkait dengan bunuh diri. Sebuah penelitian prospektif selama 10
tahun yang meneliti para individu yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian
dan/atau depresi mayor dengan upaya bunuh diri tunggal dan multipel
menemukan bahwa gambaran pembeda partisipan dengan upaya bunuh diri
multipel adalah adanya BPD dan skor impulsivitas yang lebih tinggi (Boisseau
dkk, 2013). Sebuah penelitian terhadap 81 pasien rawat inap psikiatri dengan
BPD, depresi mayor atau keduanya diperiksa perilaku bunuh dirinya dalam ketiga
kelompok ini dan menemukan bahwa pasien-pasien dengan baik itu depresi mayor
maupun BPD menunjukkan jumlah upaya bunuh diri dan perencanaan objektif
yang paling besar (Soloff dkk, 2000). Temuan ini menyoroti kebutuhan untuk
melakukan skrining adanya BPD diantara pasien-pasien depresi dan memberikan
penatalaksanaan yang tepat yang mempertimbangkan komorbiditas yang penting
ini.

Karakteristik BPD yang berkaitan dengan bunuh diri


Mengingat tingginya angka upaya bunuh diri dan tingginya kematian yang
berkaitan dengan BPD, sebuah bidang penelitian yang terkait telah dilakukan
untuk mengidentifikasi karakteristik khusus BPD yang paling berhubungan erat
dengan bunuh diri. Penelitian longitudinal terbesar dan terlama yang sedang
berlangsung yang memberikan hasil untuk pasien BPD adalah McLean Study of
Adult Development (MSAD). Penelitian ini telah mengikuti serangkaian prediktor
upaya bunuh diri secara prospektif selama 16 tahun dalam sampel sebanyak 290
pasien yang memenuhi kriteria untuk BPD dengan menggunakan kedua kriteria
dari Diagnostic and Statistical Manual-III-Revised dan Revised Diagnostic
Interview for Borderlines (DIB-R). Sayangnya, pada titik waktu follow up 16
tahun, 13 partisipan berhasil bunuh diri dan 13 meninggal akibat penyebab
lainnya. Variabel-variabel yang tampak signifikan dalam analisis multivariat
mencakup diagnosis penyerta berupa depresi mayor, penggunaan zat, PTSD,
mencederai diri tanpa bunuh diri (NSSI), penyalahgunaan seksual dewasa, bunuh
diri pada pengasuhnya, instabilitas afektif, dan disosiasi yang lebih berat. Para
penulis menginterpretasikan hasil penelitian ini untuk menyatakan bahwa praktik
untuk memprediksi upaya bunuh diri pada pasien-pasien dengan BPD bersifat
sulit dan rumit. Faktor-faktor yang relevan mencakup adanya penyakit penyerta,
gejala-gejala BPD yang timbul secara bersamaan, kemalangan dan riwayat
berhasil bunuh diri dalam keluarga (Wedig dkk, 2012). Sampel pasien ini juga
telah menghasilkan data yang memperlihatkan tingginya angka remisi BPD dan
angka kekambuhan yang relatif rendah selama perjalanan periode penelitian
(Zanarini dkk, 2012).

Mencederai-diri sendiri tanpa bunuh diri


NSSI dan bunuh diri keduanya merupakan gambaran inti BPD yang
memenuhi fungsi perilaku yang berbeda, meskipun membedakan dua perilaku ini
akan sulit untuk dilakukan karena temuan dua kelainan ini secara bersamaan yang
seringkali ditemukan. NSSI tampak melipatgandakan risiko bunuh diri dan
mungkin berpotensi mengancam nyawa, bahkan dalam keadaan tidak adanya
motivasi untuk meninggal. NSSI dapat berbentuk melakukan pemotongan atau
penyayatan, memukul kepala, menggores, membakar, atau penelanan dan
biasanya terjadi dalam konteks krisis emosional. Konsekuensi NSSI mencakup
pengrusakan atau pencatatan, cedera, disabilitas, atau kematian aksidental
(misalnya, menggores terlalu dalam dan memotong arteri (Black dkk, 2004).
Dalam sebuah penelitian yang menelitia alasan upaya bunuh diri yang dilaporkan
sendiri berbanding NSSI pada pasien dengan BPD, Brown dkk (2002)
menemukan suatu hubungan yang signifikan dengan laporan pencoba bunuh diri
yang ingin “menjadikan yang lainnya lebih baik meninggal”. NSSI berkaitan
dengan laporan ingin “mengekspresikan kemarahan, menghukum diri sendiri,
menghasilkan perasaan yang normal, dan mengalihkan diri sendiri”. Penelitian ini
menyoroti pentingnya membedakan motivasi dan psikopatologi yang mendasari
NSSI dan perilaku dengan maksud bunuh diri untuk menemukan target
penatalaksanaan untuk mengurangi risiko kedua gejala perilaku BPD yang serius
ini.

Penyokong Biologis
Selain penelitian-penelitian yang meneliti karakteristik dan menghubungkan
perilaku bunuh diri pada BPD, beberapa penelitian telah dilakukan untuk
menentukan penyokong biologis kelainan ini. New dan rekannya (New dkk, 2012)
melakukan sebuah tinjauan terhadap pencitraan neurologi struktural dan
fungsional saat ini, penanda neurokimia, dan penelitian-penelitian genetika yang
relevan dengan gejala-gejala BPD. Meskipun demikian, seperti banyak gangguan
psikiatri lainnya, tidak terdapat pola patofisiologi yang jelas, beberapa temuan
yang konsisten dapat memberikan suatu dasar dini untuk memahami kelainan ini
dengan lebih baik. BPD diusulkan muncul dari kurangnya kontrol prefrontal
medial terhadap struktur limbik yang mengalami aktivitas secara berlebihan. Hal
ini menimbulkan respon rasa takut yang tidak dimodulasi, terutama sebagai
respon terhadap upaya interpersonal. Temuan spesifik relatif terhadap bunuh diri
dalam sebuah penelitian pada remaja yang menemukan hubungan yang negatif
dengan volume singulata anterior (ACG) dengan jumlah upaya percobaan bunuh
diri dan tingkat keparahan BPD. Hubungan ini tidak terlihat pada gejala-gejala
depresi. Penelitian ini mengesankan bahwa penurunan volume ACG ditemukan
secara dini dan spesifik untuk BPD. Soloff dkk (2012) meneliti orang dewasa
dengan BPD berbanding kontrol yang sehat dan menemukan kealinan struktural di
otak yang membedakan partisipan dengan BPD dan riwayat upaya bunuh diri dari
mereka tanpa upaya bunuh diri sebelumnya. Kelainan ini juga ditemukan yang
memisahkan pencoba kematian yang tinggi dari yang rendah. New dkk (2012)
juga meninjau penelitian-penelitian yang meneliti kelainan metabolit cairan
serebrospinal dalam kadar serotoin dan menyatakan bahwa temuan ini lebih
konsisten umumnya pada individu dengan riwayat upaya percobaan bunuh diri
atau perilaku yang agresif impulsif. Penelitian-penelitian lain telah meneliti peran
opioid endogen dan menyatakan bahwa psaien dengan BPD memiliki defisit
opioid intrinsik yang menjelaskan gejala NSSI yang mungkin mendorong
pelepasan opioid endogen selama perilaku yang mencederai diri sendiri.

Remaja dan BPD


Meskipun terdapat fakta bahwa DSM5 memungkinkan diagnosis BPD
ketika para remaja memenuhi kriteria selama lebih dari satu tahun (APA, 2013),
BPD, seperti gangguan kepribadian lainnya, tidak dianggap sebagai suatu
diagnosis yang layak diberikan untuk remaja oleh banyak dokter psikiatri.
Sebaliknya, para dokter seringkali menuliskan gambaran “tertunda” atau
“borderline” ketika mempertimbangkan diagnosis gangguan kepribadian. Hal ini
menyebabkan BPD kurang terdiagnosis pada remaja yang menyebabkan
kurangnya penelitian yang akurat mengenai perjalanan longitudinal akhir dini
gangguan ini. Yang lebih menyedihkan adalah kurangnya penatalaksanaan yang
diterima oleh para individu ini karena diagnosis yang tidak akurat yang
menyebabkan bertahun-tahun penderitaan dengan perilaku yang maladaptif dan
menghancurkan diri sendiri (Aguirre, 2012).
Bukti dari Miller dkk (2008) dengan jelas menunjukkan bahwa BPD dapat
dipercaya didiagnosis pada remaja. Crick dkk (2005) menunjukkan bahwa gejala-
gejala perempuan remaja sama dengan dewasa dengan BPD, sementara laki-laki
remaja yang memenuhi kriteria BPD lebih agresif, disruptif, dan antisosial. Pada
waktu yang sama, penelitian lainnya menunjukkan bahwa diagnosis tidak selalu
dapat dipercaya dari waktu ke waktu. Pada penelitian dengan follow up selama 2
tahun di Australia, sebuah penelitian prospektif menemukan bahwa hanya 40%
dari remaja yang berusia 15 – 18 tahun dengan BPD yang memenuhi kriteria ini
pada waktu follow up (Chanen dkk, 2004). Serupa dengan data pada orang dewasa
yang menunjukkan rangkaian perjalanan alamiah gangguan ini dengan adanya
remisi, sebuah sampel masyarakat menemukan gejala-gejala pada interval 2 dan 3
tahun dari usia 14 hingga 24 pada kembar remaja dengan BPD. Hasil ini
menunjukkan bahwa terdapat pengurangan gejala secara terus menerus pada
setiap interval penelitian dalam follow up 10 tahun (Bornovalova dkk, 2009).
Temuan neuropsikologi gangguan fungsi eksekutif yang mengesankan
penurunan pengolahan frontal pada pasien BPD dewasa (LeGris & van Reekum,
2006) belum pernah diteliti secara sistematis pada remaja. Defisit ini sesuai
dengan pola perilaku BPD yang mencakup kemampuan perencanaan yang buruk,
impulsivitas, dan peningkatan kesulitan dalam regulasi emosi. Remaja telah
mengalami defisit yang ditentukan pada saat perkembangan di area fungsi
eksekutif, yang menempatkan remaja dengan BPD pada risiko perilaku impulsif
yang lebih besar. Defisit ini menyebabkan perilaku seperti penyalahgunaan zat,
agresi yang impulsif dan strategi coping maladaptif lainnya untuk mengatasi
ketidakseimbangan emosional. Semua data ini mengesankan bahwa meskipun
BPD merupakan suatu diagnosis yang kontroversial pada remaja, gangguan ini
masih sesuai dengan populasi dewasa dan intervensi dini dibutuhkan.

Penatalaksanaan
Biasanya, pasien-pasien dengan BPD telah menghadapi stigma yang sangat
besar karena persepsi bahwa gangguan ini bersifat non-responsif terhadap
penatalaksanaan dan individu dengan BPD tampak bersifat lebih bermasalah
menurut sifatnya. Penelitian yang lebih baru dalam mengembangkan terapi yang
efektif dan berbasis bukti untuk BPD telah mulai menggeser persepsi dan
meningkatkan diagnosis. Penatalaksanaan psikoterapeutik yang paling banyak
diteliti untuk BPD adalah terapi perilaku dialektikal (DBT). DBT dikembangkan
oleh Marsha Linehan, PhD, yang pada awalnya sebagai terapi perilaku kognitif
bagi pasien-pasien dengan perilaku “parasuicidal”. DBT telah terbukti secara
signifikan mengurangi angka kejadian bunuh diri dan NSSI baik untuk pasien
remaja maupun dewasa dengan BPD. Terapi lainnya yang memperlihatkan
outcome yang positif untuk penatalaksanaan BPD mencakup terapi berbasis
mentalisasi, sistem yang melatih prediktabilitas emosional dan pemecahan
masalah, dan terapi yang berfokus pada skema. Bukti dini untuk strategi
farmakoterapi untuk penatalaksanaan yang menargetkan domain gejala juga telah
dijelaskan (Nelson & Schulz, 2012).

Gangguan kepribadian Histrionik


Gangguan kepribadian histrionik (HPD) termasuk kedalam kluster B dan
digambarkan sebagai pola “pervasif dan berlebihan secara emosional dan mencari
perhatian” (APA, 2013). Prevalensi memperkirakan gangguan ini apda populasi
umum dari 0.3% hingga 1.8%, HPD cenderung lebih mungkin didiagnosis pada
wanita, dan berkaitan dengan tingginya angka komorbiditas dengan
ketergantungan dengan alkohol dan obat (Trull dkk, 2010). HPD relatif kurang
diteliti dibandingkan dengan BPD dan bahkan lebih sedikit yang diketahui
mengenai risiko bunuh diri pada populasi ini.

Gangguan Kepribadian Narsistik


NPD masuk kedalam kluster B dan digambarkan sebagai pola “kebesaran,
kebutuhan akan pemujaan, dan kurangnya empati” (APA, 2013). Prevalensi
memperkirakan gangguan ini pada populasi umum berkisar dari 1 hingga 6.2%
dengan diagnosis yang lebih sering pada pria (Trull dkk, 2010). Narsisme sebagai
suatu sifat mendahului klasifikasi medis saat ini. Ini didasarkan pada mitos Yunani
mengenai Narcissus yang mencintai bayangannya sendiri di danau hingga
tingkatan yang ia pada akhirnya meninggal karena ia tidak dapat menghentikan
dirinya sendiri dalam melihat gambarnya sendiri. Dalam psikiatri, istilah ini telah
digunakan untuk berfokus pada satu kelompok individu yang mengalami
sekelompok gejala yang mencakup kesombongan yang berlebihan dan
keberpusatan ke diri sendiri. Otto Kernberg memperkenalkan konsep “Struktur
kepribadian narsistik” pada tahun 1967; dan gangguan kepribadian diusulkan oleh
Heinz Kohut pada tahun 1968 untuk menetapkan kelompok pasien ini.
Para peneliti setuju bahwa meskipun bunuh diri merupakan suatu masalah
yang signifikan secara klinis untuk individu-individu dengan NPD, saat ini tidak
terdapat data yang dipercaya mengenai jumlah aktual individu dengan gangguan
kepribadian narsistik yang melakukan bunuh diri. Penelitia satu-satunya saat ini
mengenai topik ini adalah yang dilakukan oleh Blasco-Fontecilla dkk (2009) yang
melihat impulsivitas individu NPD dan apakah mereka berbeda dalam profilnya
dari baik itu kontrol dan gangguan kepribadian lainnya. Mereka menemukan
bahwa individu dengan NPD tidak lebih impulsif dibandingkan mereka yang
menderita gangguan kepribadian lainnya, namun mereka lebih letal dibandingkan
pencoba bunuh diri lainnya dalam populasi ini. Hal ini mungkin merupakan
artefak dari dominasi pria dengan NPD, yang berada diantara 50 % hingga 75%
dari jumlah total diagnosis, dan bahwa laki-laki telah terbukti lebih letal dalam
upaya bunuh diri mereka.

Gangguan kepribadian antisosial


ASPD termasuk kedalam kluster B dan digambarkan sebagai suatu pola
“acuh tak acuh, pelanggaran, benar dibandingkan lainnya” (APA, 2013).
Prevalensi gangguan ini pada populasi umum diperkirakan sekitar 3.8% populasi
dengan diagnosis yang lebih sering pada pria (Trull dkk, 2010). Verona dkk
(2001) meneliti hubungan antara upaya bunuh diri dan kecenderungan antisosial
diantara pelanggar pria yang terpenjara. Para pelanggar yang didiagnosis dengan
ASPD secara signifikan lebih berkemungkinan memiliki riwayat perilaku bunuh
diri dibandingkan mereka yang tidak memiliki diagnosis ini. Hasil ini
menunjukkan bahwa perilaku impulsif/antisosial, namun tidak gejala-gejala
afektif/interpersonal, merupakan prediktor upaya bunuh diri yang signifikan. Para
penulis mencatat bahwa mereka tidak mengumpulkan informasi rinci mengenai
riwayat bunuh diri yang membuat menjadi tidak mungkin untuk menentukan
berapa persentase upaya yang bersifat “manipulatif” berbanding “Asli” dan bahwa
perbedaan tersebut mungkin penting ketika meneliti hubungan antara bunuh diri
dan psikopat. Hubungan antara perilaku antisosial, emosi yang negatif
(kecemasan, neurotisisme, alienasi, permusuhan), perilaku yang kearah paksaan
(impulsivitas, pencari sensasi, sosialisasi, psikotisisme), dan bunuh diri
mengesankan adanya predisposisi dasar ke arah keinginan yang destruktif dan
menghancurkan diri sendiri. Penulis ini menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut
dibutuhkan untuk membandingkan tindakan bunuh diri individu dengan
mempertimbangkan keadaan mood, metode, dan derajat perencanaan untuk
mengevaluasi peran impulsivitas dan afek negatif.

Gangguan kepribadian Kluster A


Kluster A ditandai oleh DSM5 (APA, 2013) sebagai memiliki sifat yang
serupa yang digambarkan sebagai individu yang seringkali tampak “aneh dan
ekstentrik” dan mencakup gangguan kepribadian skizotipal (StPD) (prevalensi 0.6
– 3.9%) dan gangguan kepribadian paranoid (PPD) (prevalensi 1.9 – 4.4%) (Trull
dkk, 2010). Gangguan ini relatif kurang diteliti dibandingkan dengan kluster B.
Lentz dkk (2010) menganalisis data dari sebuah survei epidemiologi yang besar
dengan perhatian khusus pada StPD. Setelah mengendalikan variabel demografi
dan diagnosis gangguan kepribadian dan psikiatri lainnya, individu dengan StPD
1.5 kali lipat lebih berkemungkinan dibandingkan mereka yang tanpa diangosis
ini untuk mencoba bunuh diri. Meskipun pria dengan StPD secara signifikan lebih
berkemungkinan untuk mencoba bunuh diri dibandingkan dengan pria tanpa
diagnosis ini, perbedaan ini bersifat tidak signifikan untuk wanita. Setelah
mengendalikan kemalangan masa kanak (penyalahgunaan, kekerasan, pengabaian,
ancaman), hubungan StPD dan upaya bunuh diri berkurang namun masih
signifikan. Saat dipertimbangkan secara bersama-sama, hasil ini menunjukkan
bahwa para dokter yang meneliti individu dengan diagnosis StPD harus tetap
waspada akan faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko bunuh diri.

Gangguan kepribadian kluster C


Cluster C ditandai oleh DSM5 (APA, 2013) sebagai memiliki sifat yang
serupa yang digambarkan sebagai individu yang sering tampak “cemas atau
ketakutan” dan mencakup gangguan kepribadian menghindar (APD) (prevalensi
1.2 – 2.4%), gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD)(prevalensi 1.9 –
7.9%), dan gangguan kepribadian paranoid (PPD) (prevalensi 1.9 – 4.4%) (Trull
dkk, 2010). Meskipun sebagian besar kepustakaan yang meneliti perilaku bunuh
diri dan gangguan kepribadian berfokus pada kluster B, kekakuan dan kurangnya
mekanisme coping yang berhubungan dengan kluster C bisa memperlihatkan
faktor risiko yang signifikan (Diaconu & Turecki, 2009). Penulis-penulis ini
menyatakan bahwa komorbiditas kluster C merupakan suatu indikator prognostik
yang buruk untuk pemulihan dari episode depresi mayor dan mereka telah
memfokuskan penelitian mereka pada OCPD karena ini merupakan diagnosis
pada kluster C yang paling sering ditemukan. Diantara 311 pasien rawat jalan
yang diikutsertakan, 31 mendapatkan diagnosis penyerta OCPD dan gangguan
depresi. Mereka dibandingkan dengan individu depresi tanpa diagnosis gangguan
kepribadian dan pasien rawat jalan tanpa diagnosis gangguan kepribadian atau
depresi. Smentara hanya 46% dari dua kelompok yang disebutkan terakhir ini
yang melaporkan gagasan bunuh diri saat ini dan sepanjang hidup yang signifikan,
77% dari kelompok OCPD memperlihatkan keinginan untuk bunuh diri. Lima
puluh dua persen dari kelompok OCPD telah mencoba bunuh diri, yang lebih
tinggi dibandingkan kelompok yang mengalami depresi dan tidak (38% dan 24%,
berturut-turut). Angka kejadian upaya bunuh diri multipel untuk kelompok OCPD
adalah tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada kelompok nondepresi.
Kelompok OCPD, dibandingkan dengan kelompok non-depresi, memiliki alasan
yang secara signifikan lebih sedikit untuk hidup, merenungkan lebih banyak
tentang kematian dan meninggal, memberikan perhatian yang lebih sedikit
terhadap penolakan eksternal dan ketakutan akan bunuh diri, dan memiliki
keyakinan coping yang lebih sedikit dan pandangan moral yang lebih rendah
terhadap bunuh diri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko bunuh diri
dipengaruhi oleh sifat pada kluster C selain yang ada pada kluster B. Selain itu,
ansietas seringkali dikonsepkans ebagai suatu tindakan protektif terhadap risiko
bunuh diri, namun hasil ini mengesankan bahwa sifat cemas yang berkaitan
dengan OCPD merupakan suatu faktor risiko. Berkebalikan dengan gangguan di
kluster B yang bersifat naik dan turun, gangguan pada kluster C relatif stabil yang
mengesankan adanya kebutuhan untuk meneliti kondisi ini pada populasi geriatri.
Terakhir, penelitian ini dilakukan dengan individu yang telah mencoba bunuh diri,
dan peran sifat pada kluster C pada orang yang telah berhasil bunuh diri
membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Temuan longitudinal
The collaborative Longitudinal Personality Disorders Study (CLPS; Skodol
dkk, 2005) mengumpulkan informasi yang banyak yang berkaitan dengan
komorbiditas, pendahulu, rangkaian perjalanan, dan dampak gangguan
kepribadian. Partisipan penelitian mencakup individu-individu yang didiagnosis
dengan StPD, BPD, APD, dan OCPD. Gangguan-gangguan ini dipilih
berdasarkan psikobiologi, angka prevalensi, dan kerangka kerja teoritis. Individu
yang didiagnosis dengan MDD dipilih sebagai kelompok perbandingan
berdasarkan rangkaian perjalanannya yang episodik, prevalensi, dan data yang
tersedia mengenai fenomenologi dan perjalanannya. Total jumlah sampel yang ada
terdiri atas berikut: StPD = 13%, BPD = 26%, APD = 24%, OCPD = 23%, MDD
= 14%. Sembilan persen partisipan melaporkan setidaknya satu kali upaya
percobaan bunuh diri dalam 2 tahun pertama follow up dan 44% dari mereka
melaporkan perilaku bunuh diri multipel. Setelah mengendalikan diagnosis BPD
awal, upaya bunuh diri secara signifikan diprediksi oleh perburukan MDD dan
gangguan penyalahgunaan zat (SUD). Setelah menyingkirkan gangguan yang
mencederai diri sendiri, kriteria BPD untuk instabilitas afektif, gangguan identitas,
dan impulsivitas merupakan prediktor perilaku bunuh diri yang signifikan. Upaya
bunuh diri (perilaku dengan keinginan untuk bunuh diri) secara signifikan
berkaitan dengan instabilitas afektif dan penyalahgunaan seksual masa kanak.
Pada follow up 3 tahun, 12% dari partisipan dengan gangguan kepribadian
mencoba bunuh diri. Kejadian di kehidupan yang bersifat negatif, terutama yang
berkaitan dengan masalah cinta/pernikahan dan hukum, merupakan prediktor
upaya yang signifikan setelah mengendalikan penyalahgunaan seksual masa
kanak dan diagnosis awal BPD, MDD, dan SUD.

Model DSM5 yang muncul untuk sifat kepribadian


Perubahan yang diusulkan untuk klasifikasi dan diagnosis gangguan
kepribadian telah dimasukkan dalam bab III DSM5. Model baru yang diusulkan
menyatakan diagnosis gangguan kepribadian dapat dilakukan berdasarkan
gangguan yang signifikan baik pada fungsi diri sendiri maupun antarpersonal.
Gangguan fungsi diri sendiri akan mencakup kesulitan dalam mengidentifikasi
diri sendiri, sementara gangguan dalam fungsi anterpersonal akan melibatkan
defisit dalam membentuk hubungan yang erat dan melihat dari sudut pandang
orang lain. Seorang individu juga harus memiliki sifat kepribadian didalam salah
satu dari lima area yang dianggap patologis. Sifat ini mencakup disinhibisi,
antagonisme, afek negatif, detachment atau tidak terpengaruh apapun, dan
psikotisisme dan lebih lanjut dipisahkan lagi menjadi beberapa sub-sifat (APA,
2013). Mengingat kepustakaan terbaru ini, proposisi ini mungkin berhubungan
dengan pemahaman psikopatologi dan perilaku bunuh diri. Untuk
menggabungkan perspektif ini, keterlibatan sifat kepribadian yang spesifik pada
perilaku bunuh diri ditinjau.
Penelitian-penelitian telah menghubungkan sifat kepribadian spesifik
tertentu dengan bunuh diri, NSSI, ide bunuh diri, upaya bunuh diri, dan berhasil
bunuh diri. Pada suatu tinjauan yang menyeluruh oleh Brezo dkk (2006), sifat
kepribadian diteliti dalam konteks gagasan, upaya dan berhasil dalam melakukan
bunuh diri. Berkenaan dengan gagasan bunuh diri, keputusasaan tampak memiliki
hubungan yang dominan bersama dengan neurotisisme, psikotisisme, agresi dan
introversi. Introversi juga lebih tinggi pada mereka yang berupaya bunuh diri,
yang telah ditemukan diseluruh usia dan diagnosis. Selain itu, impulsivitas dan
permusuhan tampak ditemukan pada orang yang mencoba bunuh diri, sementara
sifat-sifat yang berkaitan dengan berhasil bunuh diri mencakup keputusasaan,
impulsivitas, dan neurotisisme. Temuan ini disajikan oleh Brezo dan rekannya
yang lebih lanjut diperkuat oleh tinjauan yang lebih baru oleh Courtet dkk (2011)
yang menggambarkan bahwa sifat impulsivitas dan agresi merupakan
endofenotipe perilaku bunuh diri. Sifat ini juga telah dikaitkan dengan disfungsi
serotonin, yang juga berkaitan dengan kerugian dalam pengambilan keputusan.
Informasi yang disajikan oleh Courtet dan rekannya menyoroti pentingnya
mengenali bahwa perilaku bunuh diri, yang berkaitan dengan sifat kepribadian
tertentu, mungkin memiliki komponen neurobiologi yang diturunkan yang cukup
bernilai untuk diteliti dalam konteks intervensi dan pencegahan.
Penelitian juga telah meneliti hubungan antara sifat kepribadian dan bunuh
diri diantara populasi yang lebih terpusat seperti mereka yang dengan gangguan
kepribadian. Dalam sebuah penelitian longitudinal yang melibatkan individu
dengan gangguan kepribadian, Yen dkk (2009) meneliti upaya bunuh diri dan
kemungkinan pengaruh afek negatif dan disinhibisi, yang merupakan dua dari
lima sifat kepribadian yang diusulkan oleh kelompok kerja DSM-5 (Skodol,
2012). Dibandingkan dengan disinhibisi dan beberapa bidang impulsivitas, afek
negatif terbukti merupakan prediktor upaya bunuh diri yang lebih kuat.
Kurangnya premeditasi merupakan satu-satunya sisi impulsivitas yang ditemukan
sifnifikan dalam prediksi upaya bunuh diri.
Meskipun Yen dan rekannya (2009) tidak meneukan jumlah bukti yang
banyak mengenai peran impulsivitas dalam perilaku bunuh diri, penelitian lainnya
telah menemukan suatu hubungan yang lebih menjanjikan antara sifat ini dan
bunuh diri. Lynam dkk (2011) meneliti hubungan antara perilaku bunuh diri dan
empat sifat impulsivitas yang terkait -- kurangnya kekuatan hati, kurangnya
preeditasi, urgensi yang negatif dan pencarian sensasi – diantara pasien-pasien
dengan gangguan kepribadian borderline maupun penggunaan zat. Sifat terkait
impulsivitas, dengan pengecualian pencarian sensasi, ditemukan berkaitan dengan
baik itu cedera bunuh diri dan NSSI. Effect size terbesar ditemukan pada
kurangnya permeditasi dan urgensi yang negatif dan individu yang
memperlihatkan tingginya tingkat kedua sifat ini berada pada risiko yang lebih
besar untuk mengalami perilaku bunuh diri. Temuan oleh Lyna dan rekannya
mengenai kurangnya premeditasi sesuai dengan yang ditemukan oleh Yen dkk,
dan juga memperlihatkan pentingnya mengkonsepkan sifat yang lebih luas
sebagai memiliki beberapa bidang dan terdiri atas beberapa sub-sifat.
Sifat kepribadian impulsivitas kemungkinan yang paling baik diteliti dalam
hal pengaruhnya terhadap perilaku bunuh diri baik pada populasi umum dan BPD.
Namun, penelitian lebih lanjut harus meneliti sifat ini, serta sifat lainnya seperti
agresi dan afek negatif, didalam diagnosis gangguan kepribadian lainnya. Selain
itu, kehati-hatian harus selalu diingat berkenaan dengan generalisasi temuan
antara pria dan wanita karen risiko dan sifat protektif dapat berbeda antara jenis
kelamin.
Memahami keberadaan dan pengaruh gangguan kepribadian dan sifat
kepribadian patologis penting untuk mengidentifikasi pasien-pasien yang berisiko
tinggi untuk perilaku bunuh diri dan mungkin juga berguna dalam pengembangan
strategi penatalaksanaan yang lebih diindividualisasikan pada masing-masing
orang.