Anda di halaman 1dari 30

QBL 4 PSIKOFARMAKO

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa II

Dosen Pengampu: Ns. Duma Lumban Tobing, M. Kep, Sp. Kep. J

Disusun oleh:

Shania Hasina S 1710711023

Fiqih Nur Aida 1710711033

Valery Oktavia 1710711051

Hemi Afifah 1710711054

Mastika Chusnul K 1710711067

Indah Burdah S 1710711072

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul
Psikofarmako yang ditulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Jiwa II.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa


hormat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas
memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan masalah
ini dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 19 September 2019

Kelompok 4
BAB I:

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu
dariempat masalah kesehatan utama di negara-negara maju, tetapi masih
kurang populer di kalangan masyarakat awam. Dimasa lalu banyak orang
menganggap gangguan jiwa merupakan penyakit yang tidak dapat diobati
(Hawari, 2001). Gangguan jiwa adalah gangguan pada fungsi mental, yang
meliputi emosi, pikiran, prilaku, motivasi daya tilik diri dan persepsi yang
menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan
motivasi sehingga mengganggu seseorang dalam proses hidu dimasyarakat
(Nasir & Muhith 2011).
Jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa diperkirakan
terus meningkat. Hal ini disebabkan karena seseorang tidak bisa
menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan suatu perubahan atau gejolak
hidup. Apalagi di era serba modern ini, perubahan-perubahan terjadi
sedemikian cepat, berbagai aspek seperti sosial ekonomi dan sosial politik
yang tidak menentu serta kondisi lingkungan sosial yang semakin keras
sehingga mengganggu dalam proses hidup dimasyarakat. Gangguan jiwa
terjadi tidak hanya pada kalangan menengah kebawah sebagai dampak dari
perubahan sosial ekonomi, tetapi juga kalangan menengah keatas yang
disebabkan karena tidak mampu mengelola stress (Yosep, 2009).
Terapi yang komperehensif dan holistik, dewasa ini sudah mulai
dikembangkan meliputi terapi obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka),
psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikoreligius. Terapi
psikofarmaka harus diberikan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini
dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse).
Keberhasilan terapi gangguan jiwa tidak hanya terletak pada terapi obat
psikofarmaka dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga dan
masyarakat turut menentukan (Hawari, 2001) Ada beberapa hal yang bisa
memicu kekambuhan skizofrenia,antaralain penderita tidak minum obat
dan tidak control ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa
persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan
masyarakat (Widodo,2003)
BAB II:

PEMBAHASAN

Obat Antipsikotik

Penggunaan utama obat-obat antipsikotik untuk mengobati skizofrenia, gangguan


skizoafektif, sindrom otak organik dengan psikosis, gangguan waham dan
gangguan bipolar baik dalam kondisi akut dan regimen pemeliharaan. Obat-obat
antipsikotik juga dapat mengobati perilaku agresif dan masalah perilaku yang
terjadi pada klien dengan gangguan perkembangan pervasif dan klien lanjut usia
dengan demensia serta delirium dengan kondisi agitasi dan psikosis. Antipsikotik
dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Antipsikotik Atipikal
Semua obat atipikal berefek menghambat dopamin 2 (D2) dan serotonin 2
reseptor pasca sinaptik, jadi obat atipikal bersifat sebagai antagonis DA
dan 5-HT. Seperti antipsikotik tipikal, antipsikotik atipikal juga
memperbaiki gejala positif skizofrenia namun beda dengan obat tipikal,
obat golongan atipikal juga memperbaiki gejala-gejala negatif. Obat-obat
atipikal digunakan untuk pengobatan gejala suasana hati, sikap
bermusuhan, kekerasan, perilaku bunuh diri, kesulitan bersosialisasi
dan kerusakan kognitif seperti yang terlihat pada klien skizofrenia.
Obat-obat atipikal memiliki dua kerugian utama yaitu :
1) Menyebabkan sindrom metabolik yang berhubungan dengan
masalah penambahan berat badan, diabetes, dan dislipidemia, serta
sering mengakibatkan penyakit kardiovaskuler
2) Biaya yang dikeluarkan jugalebih besar dibandingkan obat
golongan antipsikotik tipikal
2. Antipsikotik Tipikal
Obat-obat antipsikotik tipikal sebagian besar adalah dopamin antagonis
(DA). Obat ini bekerja menghambat reseptor D2 postsinaptik pada saluran
DA di otak, bertanggung jawab untuk menurunkan gejala-gejala positif
skizofrenia seperti halnya gejala ekstra piramidal.

Gejala target obat antipsikotik

1. Antipsikotik Tipikal dan Atipikal


Gejala Positif : Fungsi normal yang berlebihan atau Berubah
 Gangguan berpikir psikotik
 Waham (somatik,kebesaran,agama,nihilistik, atau kejaran)
 Halusinasi (pendengaran, penglihatan, perabaan,
pengecapan, penciuman)
 Disorganisasi bicara dan perilaku
 Gangguan berpikir formal positif (inkoheren, tidak sesuai,
tidak logis)
 Perilaku bizzar (perilaku motorik katatonik, gangguan
pergerakan, penurunan perilaku sosial )
2. Antipskotik Atipikal
Gejala Negatif : Penurunan atau kehilangan fungsi normal
 Afek datar : terbatasnya rentang dan intensitas ekspresi emosional
 Alogia : terbatasnya pikiran dan bicara
 Avolition/apatis : kurang inisiatif perilaku mencapai tujuan
 Anhedonia/asosial : ketidakmampuan menikmati kesenangan atau
mempertahankan kontak sosial
 Gangguan perhatian : ketidakmampuan fokus mental

Obat-obat Antipsikotik Atipikal dan Psikotik Tipikal

Nama generic Paruh waktu Dosis Harian Pemberian


(jam) Umum Dewasa
(mg)
Obat antipsikotik Atipikal
Aripriprazole 50-80 5-30 PO,IM,L
Asenapine 24 10-20 ODT
Clozapine 8-12 100-900 PO,ODT
Iloperidone 18-33 12-24 PO
Lurasidone 18 40-80 PO
Olanzapine 27 5-20 PO,ODT,IM
Paliperidone 23 3-12 PO
Risperidone 3-24 1-8 (25-50 mg PO,L,L-A,ODT
L-A/2 minggu
Quetiapine 7 150-750 PO
Ziprasidone 5 40-160 PO,IM,L
Obat Antipsikotik Tipikal
Phenothiazines
Chlorpromazine 23-37 200-1000 PO,IM,L,Sup
Thioridazine 24-36 200-800 PO,IM,L
Mesoridazine 24-42 75-300 PO,IM,L
Perphenazine 9 8-32 PO,IM,L
Trifluoperazine 24 5-20 PO,IM,L
Fluphenazine 22 2-60 PO,IM,L,L-A
Fluphenzine decanoate Setiap 2-3 12,5-50 setiap 2- L-A
minggu 4 minggu
Thioxanthene
Thiothixene 34 5-30 PO,IM,L
Butyrophenones
Haloperidole 24 2-20 PO,IM,L
Haloperidole decaneote 3 minggu 50-300 setiap 3- L-A
4 minggu
Dibenzoxazepine
Loxapine 4 20-100 PO,IM,L
Diphenybutylppiperidine
Pimozide 55 2-6 PO

Efek samping Obat Antipsikotik

Efek samping Gejala


Gejala ekstrapiramidal  Diskinesia = gangguan dalam pergerakan
 Distonia = gangguan ketegangan otot
Reaksi distonik akut : krisis Spasme otot leher,wajah, lidah
okulogirik,torticollis
Akathisia Gelisah,gugup atau suatu keinginan untuk tetap
bergerak
Sindrom parkinson : akinesia,  Akinesia : kejedaan dari gerakan
keakuan,tremor spontan, penurunan ayunan lengan pada
saat berjalan,penurunan spontanitas,
apatis
 Tremor : tremor rahang
Tardif Diskinesia (TD) Gerakan tidak sadar stereotipe (lidah menjulur,
menggigit bibir, mengunyah,berkedip,meringis,
kaki menghentakl)
Neuroleptic Malignant Demam, takikardi, berkeringat, kaku otot,
Syndrome (NMS) tremor, inkontinensia, stupor
Kejang

Obat-obat untuk menangani Efek Samping Ekstrapiramidal

Nama Generik Dosis (mg/hari) Pemberian


Antikolinergik
Benztropine 2-6 PO,IM
Trihexyphenidyl 4-15 PO,L
Biperiden 2-8 PO
Antihistamin
Diphenhydramine 50-300 PO,IM,L
Agonis dopamine
Amantadine 100-300 PO,L
Benzodiazepine
Diazepam 2-6 PO,IV
Lorazepam 0,5-2 PO,IM
Clonazepam 1-4 PO

Benzodiazepin

BZ dianggap mampu mengurangi ansietas karena kuatnya reseptor agonis


dalam menghambat GABA neurotransmiter. Reseptor portsinaptik yang khusus
untuk molekul BZ dan GABA saling mengikat satu sama lainnya pada reseptor
GABA. Hasilnya adalah peningkatan tindakan GABA, mengakibatkan
penghambatan neurotransmisi (penurunan rata-rata tembakan neuron) dan
berdampak pada menurunnya gejala klinis tingkat ansietas seseorang.

Penggunaan klinis. Indikasi utama penggunaan BZ untuk ansietas dan


gangguan ansietas, insomnia, putus alkohol, ansietas berhubungan dengan
penyakit medis, relaksasi otot skeletal, gangguan kejang, ansietas dan mengaami
ketakutan sebelum operasi, serta induksi zat (kecuali untuk amfetamin) dan agitasi
psikotik diruang emergensi.Penggunaan dosis yang lebih tinggi, BZ alprazolam
dan clonazepam berpotensi tinggi efektif dalam tritmen gangguan panik dan fobia
sosial. BZ tidak memiliki keuntungan yang signifikan antara satu dengan yang
lainnya, walaupun perbedaan paruh waktu dapat bermanfaat secara klinis.
Indikasi klinis lain penggunaan BZ adalah sebagai hipnotis sedatif untuk
meningkatkan tidur. Insomnia termasuk sulit tidur, kesulitan untuk tetap tidur atau
terbangun terlalu dini dan tidak mampu untuk tidur kembali. Banyak penyebab
dari timbulnya gejala ini dan sering berespons dengan pendekatan nonfarmakologi
seperti menyampaikan masalah yang dialami, meningkatkan latihan pada siang
hari, menghindari stimulan seperti kafein dan menggabungkan langkah-langkah
untuk mencapai kenyamanan fisik ke dalam rutinitas malam hari.

NAMA METABOLIT PRAKIRAAN RATA- PEMBERIAN


GENERIK AKTIF WAKTU RATA
PARUH (jam) DOSIS
UNTUK
DEWASA
(mg/hari)
Obat Antiansietas
Chlordiazepoxide Ya 20-30 10-40 PO, IM
Clonazepam Tidak >20 0,5-10 PO,ODT
Clorazepate Ya 60 10-40 PO, SD
Diazepam Ya 10-60 2-40 PO,IM, IV, L
Halazepam Ya 60 60-160 PO
Lorazepam Tidak 14 1-6 PO, IM, IV
Oxazepam Tidak 9 15-120 PO
Alprazolam Ya (tidak 14 1-4 PO, L, SR,
signifikan) ODT
Obat-obat Hipnotik-Sedatif
Estazolam Ya 16 1-4 PO
Flurazepam Ya 100 15-30 PO
Temazepam Tidak 8 7,5-30 PO
Triazolam Tidak 3 0,125-0,5 PO
Quazepam Ya 39 7,5-15 PO
*rata-rata dosis prakiraan dan seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dari
setiap klien. IM (intramuskuler), IV (intravena), L (cairan per oral), ODT (orally
disintegrating tablet), PO (tablet/kapsul per oral), SD (dosis tunggal), SR (tablet
oral pelepasan lambat).

EFEK SAMPING PERTIMBANGAN KEPERAWATAN


Umum terjadi
Mengantuk, sedasi Bantuan dalam beraktivitas: perlu pengawasan saat
penggunaan peralatan mesin
Kehilangan Awasi aktivitas: cegah jatuh
keseimbangann, pusing
Merasa sendiri Cegah perilaku isolasi sosial
Meningkatkan iritabilitas Observasi: beri dukungan: waspada terhadap
san rasa bermusuhan disinhibisi
Amnesia anterograde Ketidakmampuan mengingat kejadian yang terjadi
saat mengonsumsi obat
Penggunaan jangka pnjang Gangguan konsentrasi dan memori materi baru
berdampak terhadap
kognitif
Oleransi, ketergantungan, Penggunaan jangka pendek: menghentikan
insomnia/ansietas penggunaan, penggunaan dosis rendah secara
bertahap, kontraindikasi dengan obat atau
penyalahgunaan alkohol
Jarang
Mual Dosis dengan makanan: menurunkan dosis
Sakit kepala Biasanya berespon terhadap analgesik ringan
Konfusi/kebingungan Menurunkan dosis
Kerusakan psikomotor Berhubungan dengan dosis: menurunkan dosis
kasar
Depresi Menurunkan dosis: pengobatan antidepresan
Reaksi kemerahan Menghentikan obat
paradoksikal

Gejala akibat Benzodiazepin

 Agitasi
 Anoreksia
 Ansietas
 Gairah otonom
 Pusing
 Kejang seluruh tubuh
 Halusinasi
 Sakit kepala
 Hiperaktivitas
 Insomnia
 Mudah marah
 Mual dan muntah
 Sensitif terhadap cahaya dan suara
 Tinnitus
 Gemetar

Antiansietas Nonbenzodiasepine dan Agen Hipnotik-Sedatif


Nonbenzodiapine

Rata-Rata
Waktu
Dosis
Nama Generik Paruh Efek Samping
Dewasa
(Jam)
(mg/hari)

Agen Antiansietas
Buspirone 15-60 2-5 Pusing, mual, sakit kepala,
rasa gugup berlebihan,
sensasi berkunang-kunang,
semangat berlebihan, dan
Insomnia
Gangguan pada kulit,
mulut kering, penurunan
tingkat kesadaran, sakit
Clonidine 0,2-0,6 6-20 kepala, kelelahan,
mengantuk, pusing,
hipotensi atau penurunan
tekanan darah, gelisah
Detak jantung cepat atau
tidak teratur, perilaku
abnormal, demam, ruam
Meprobamate 1200-1600 10-11 kulit, sakit tenggorokan,
mengantuk atau pusing,
kelemahan, muntah atau
diare
Konstipasi, diare, kram
perut, Insomnia,
Propanolol 20-160 3
Impotensi, mual dan
muntah
Pusing, mengantuk,
kehilangan keseimbangan,
masalah dengan ingatan
Pregablin 50-600 6 atau konsentrasi,
pembengkakan payudara,
tremor, mulut kering, dan
sembelit
Agen Hipnotik-
Sedatif
Mengantuk disiang hari,
pusng, hilangnya
koordinasi, iritasi pada
Zolpidem 5-20 1,5-4,5
hidung atau tenggorokan,
mual, sembelit, diare, sakit
kepala, dan nyeri otot
Sakit punggung, kekakuan
sendi, mengantuk disiang
Zaleplon 5-10 1
hari, pusing, dan keluhan
pencernaan
mengantuk disiang hari,
Eszopiclone 1-3 6 keluhan pencernaan,
edema perifer
(pembengkakan tangan
dan kaki), nyeri dada,
depresi, halusinasi,
gangguan koordinasi,
muncul ruam pada kulit
dan gatal
Pusing, sedasi pada siang
Ramelton 8 1-5 hari dan masalah
gastrointestinal.

 Agen Antiansietas Nonbenzodiazepine


 Buspirone adalah obat ansiolitik non BZ yang ampuh sebagai antiansietas
tanpa risiko menjadi adiktif dan telah mendapat persetujuan FDA untuk
tritmen gangguan ansietas umum. Buspiirone tidak menimbulkan relaksasi
otot atau aktivitas antikoagulan. Obat ini tidak efektif untuk manajemen
obat atau putus alcohol atau gangguan panic. Buspirone kemungkinan
lebih efektif pada klien yang belum pernah mengonsumsi BZ dan oleh
karena itu tidak mengharapkan efek langsung dari tritmen obat,
 Propanolol dan Clonidine telah digunakan untuk tritmen gangguan
ansietas. Obat ini bertindak dengan memblokir perifer atau aktivitas
sentral nonadrenergik (norefrinefrin) dan berbagai manifestasi ansietas
(seperti tremor, palpitasi, takikardi, berkeringat). Propranolol digunakan
pada ansietas yang ditemukan pada beberapa bentuk fobia social dan
gangguan panic jika terjadi denyut jantung yang cepat, menjadi
penghalang kemampuan klien dalam menjalankan fungsinya.
 Pregabalin,bertindak dengan mmengikat sub unit gerbang saluran kalsium
yang mempengaruhi reaktivitas neuron terhadap stimulasi. Sedangkan,
meprobamate bekerja pada pusat-pusat tertentu di otak untuk membantu
menenangkan system saraf.
 Agen Hipnotik-Sedatif Nonbenzodiazepine
 Zolpidem, Zaleplon, dan Eszopiclone adalah jenis yang ditoleransi dengan
baik dan memiliki sedikit antiansietas, antikonvulsan atau sifat relaksasi
otot. Efek samping termasuk mengantuk disiang hari, pusng, dan keluhan
pencernaan. Perbedaan utama di antara obat-obat ini adalah waktu paruh
dan rentang reaksinya. Ketiga obat ini dijadwalkan dengan pemberian IV.
 Ramelton merupakan agonis melatonin spesifik, pembengkokkan pada
melatonia, dan reseptor melatonin, sehingga memengaruhi system
melatonin endogenous, dimana melibatkan regulasi system sirkandian dan
siklus tidur/bangun. Efek samping termasuk pusing, sedasi pada siang hari
dan masalah gastrointestinal.

OBAT ANTIDEPRESAN

Selama dua dekade terakhir penggunaan anti depresan telah berkembang.


Saat ini antidepresan adalah golongan obat yang paling umum diresepkan.
Meluasnya pemakaian obat-obatan ini dikarenakan meningkatnya rsep
antidepresan oleh pemberi layanan kesehatan primer tanpa disertai diagnosis
gangguan jiwa (motjabal dan olfson,2011)

Gangguan suasana hati terjadi karena terganggunya regulasi


serotonin,norepinefrin dan neurokimia lainnya. Antidepresan meningkatkan
neurotransmisi beberapa transmitter dengan beberapa cara yakni dengan
menghambat pengambilan kembali neurotransmitter pada saraf
prasinaptik,menghambat metabolisme dan selanjutnya menonaktifkan serta
memengaruhi aktivitas reseptor pada saraf postsinaptik.

Gejala target untuk obat antidepresan


 Insomnia menegah dan lanjut
 Gangguan selera makan
 Ansietas dan gangguan ansietas
 Kelelahan
 Kurang motivasi
 Keluhan somatik
 Agitasi
 Retardasi motorik
 Suasana hati disforik
 Secara subjektif mengungkapkan depresi (mencela
diri,persaan
bersalah,keputusasaan,pesimis,ketidakberdayaan,kesedihan).
 Pikiran bunuh diri

Indikasi Pemberian Obat


Antidepresan
Indikasi utama
Depresi mayor Depresi akut,pemeliharaan pengobatan
depresi,pencegahan kekambuhan,depresi
bipolar.(ketika digunakan dengan
stabilisator suasana hati),depresi atipikal
dan gangguan distimik.

Gangguan ansietas Gangguan panik,gangguan obsesif-


kompulsif,gangguan ansietas
sosial,gangguan ansietas umum,GSPT

Indikasi tabahan menurut FDA; Bulmia


Bukti untuk kategori antidepresan
lain nervosa, gangguan premensrtual
Selective serotonin disforik(pemberian siklus penuh dan
reuptake
inhibitors (SSRIs) setengah)
Bukti sedang, obesitas,penyalahgunaan
zat,impulsif,dan marah berhubungan
dengan gangguan kepribadian,sindrom
nyeri.
Bukti awal;gangguan disformik
tubuh,hipokondriosis, serangan marah
berhubungan dengan depresi
Agen antidepresan generasi baru Indikasi tambahan FDA;
lainnya bupropio,berhenti merokok,gangguan
afektif musiman,nyeri muskuloskeletal
kronik
Bukti sedang;insomnia,demensia dengan
agitasi,

Anridepresan trisiklik Bukti kuat; gangguan panik(paling


banyak),OCD,bullimia,insomnia
Bukti sedang; ansietas
perpisahan,GPPH,Fobia,GAD,apneu
tidur,sakit kepala,anoreksia

Monoamine oxidase inhibitors Bukti kuat;gangguan panik,bulimia


(MAOIs) Bukti sedang;gangguan ansietas
lain,anoreksia,gangguan disformik tubuh

1. Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRIs)


Serotonin adalah neurotransmitter yang terkait dengan perasaan sehat dan
bahagia. Pada otak orang yang mengalami depresi, produksi serotoninnya rendah.

SSRI digunakan untuk mengobati depresi sedang sampai berat. SSRI


bekerja memblokir serotonin agar tidak diserap kembali oleh sel saraf (saraf
biasanya mendaur ulang neurotransmitter ini). Hal ini menyebabkan peningkatan
konsentrasi serotonin, yang dapat meningkatkan mood dan kembali
menumbuhkan minat terhadap aktivitas yang dulunya disukai.

2. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)

Monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) bekerja menghambat enzim


monoamine oxidase yang dapat menghancurkan serotonin, epinefrin, dan
dopamin. Ketiga neurotransmitter ini bertanggung jawab untuk menimbulkan
perasaan bahagia.

3. Trisiklik

Trisiklik bekerja langsung menghambat sejumlah neurotransmiter,


termasuk serotonin, epinefrin, dan norepinephrine, agar tidak kembali terserap
sekaligus juga mengikat reseptor sel saraf. Biasanya, obat ini diresepkan untuk
orang-orang yang sebelumnya pernah diberikan SSRI namun tidak ada perubahan
gejala.
NAMA GENERIK DOSIS CARA EFEK SAMPING
HARIAN PEMBERIAN
DEWASA
(mg/hari)
Selective Serotonin Gangguan gastrointestinal
Reuptake Inhibitors (mual,diare,disfungsi
(SSRI) seksual)

 Citalopram  20-40  PO,L


 Escitalopram  10-20  PO,L
 Fluoxetine  20-60  PO,L
 Fluxoxamine  100-200  PO
 Fluvoxamine  100-200  PO
maleate  20-60  PO,C,R
 Paroxetine  50-200 L
 sertraline  PO,L

Tricyclic Sedasi/mengantuk,hipotensi,
Antidepresan Drugs Penambahan berat
(TCA) badan,pandangan
kabur,mulut
tersier(orang tua) kering,konstipasi,takikardi,re
tensi urine,disfungsi
 Amitriptyline  150-300  PO,IM kognitif,pusing,disfungsi
 Amoxapine  200-300  PO memori,disfungsi
 Clomipramine  100-250  PO ejakulasi,disfungsi
 Doxepin  150-300  PO,L seksual,tremor
 Imipramine  150-300  PO
 trimipramine  150-300  PO

Monoamine Oxidase Efek samping antikolinergik


Inhibitors (MAOI)

 20-60  PO
 Isocarboxazid  45-90  PO
 Phenelzine  10-50  PO
 Selegiline  6-12  TS
 Selegiline  20-60  PO
 tranylcypromi
ne
Serotonin Antagonist and Reuptake Inhibitor (SARI)

Serotonin Antagonist and Reuptake Inhibitor (SARI) merupakah salah satu dari
banyak jenis obat antidepresan. SARI berfungsi untuk mengurangi depresi, efek
antiansietas dan gangguan gastrointestinal.

Dosis Cara
Jenis Obat Nama Generik Efek Samping
(mg/hari) Pemberian
Nefazodone 300 – 500 Per Oral Mual, diare, disfungsi
seksual, hipotensi,
tremor, takikardi,
Antidepresan : pusing, disfungsi
Serotonin memori
Antagonist and Trazodone 150 - 300 Per Oral Mual, diare, disfungsi
Reuptake seksual, hipotensi,
Inhibitor (SARI) sedasi, peningkatan
BB, takikardi, pusing,
disfungsi memori,
priapismus

Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI)

Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI) merupakan salah satu dari


banyak jenis obat antidepresan. SNRI berfungsi untuk menurunkan depresi,
insomnia dan diaphoresis.

Dosis Cara
Jenis Obat Nama Generik Efek Samping
(mg/hari) Pemberian
Desvenlafaxine 50 – 100 Per Oral Mual, diare, disfungsi
seksual, tremor,
takikardi, aktivasi
Antidepresan :
psikomotor
Serotonin
Duloxetine 30 – 120 Per Oral Mual, diare, disfungsi
Norepinephrine
ejakulasi, tremor,
Reuptake
takikardi, aktivasi
Inhibitor (SNRI)
psikomotor
Milnacipran 12 – 100 Per Oral Pusing, kelelahan,
perubahan pola tidur
Venlafaxine 75 – 300 Per Oral Mual, diare, disfungsi
seksual, tremor,
takikardi, aktivasi
psikomotor

Obat Antidepresan Lainnya

Dosis Cara
Jenis Obat Nama Generik Efek Samping
(mg/hari) Pemberian
Bupropion 150 – 450 Per Oral Disfungsi seksual,
tremor, takikardi,
aktivasi psikomotor
Maprotiline 50 – 200 Per Oral Disfungsi ejakulasi,
tremor, takikardi,
sedasi, mengantuk,
peningkatan BB,
hipotensi, efek
Antidepresan samping
antikolinergik
Mirtazapine 15 – 45 Per Oral Sedasi, mengantuk,
peningkatan BB,
hipotensi, efek
samping
antikolinergik
Vilazodone 10 – 40 Per Oral Mual, diare dan
disfungsi seksual

OBAT STABILISATOR SUASANA HATI

Tabel Obat Stabilisator Suasana Hati

Kelas Obat Nama Generik Paruh Dosis Umum Pemberian


Waktu Dewasa
(Jam) (mg/hari)
Antimania
Lithium 18-36 600-2400 PO, CR, SR
Lithium Sitrat 18-36 600-2400 L/S
Antikovulsan
Valproic acid, valproate, divalproex 9-16 15-60 PO,L/S,ER,IM
Lamotrigine 25-32 50-500 PO, Ch
Carbamazepine 25-65 200-1600 PO, Ch
Oxcarbazerpine 2-9 600-2400 PO, S
Topiramate 20-30 200-400 PO
Tiagabine 7-9 4-32 PO
Antipsikotik Atipikal
Benzodiazepin
Calsium Channel Blockers
Verapamil 3-7 240 PO
Nifedipine 4 60-180 PO
Kisaran dosis rata-rata dan harus disesuaikan dengan kebutuhan klien

Ch,Chawable tablets (tablet kunyah); CR, controlled release; ER, sustained


release; IM, intramuscular; L/S, cairan/sirup; PO, tablet/kapsul melalui oral;
S,suspense; SR, slow release

Tabel Gejala Target Terapi Obat Stabilisator Suasana Hati

Mania Depresi
 Mudah Marah  Mudah Marah
 Perasaan Meluap-luap  Sedih
 Euforia  Pesimis
 Manipulatif  Anhedonia
 Labil disertai Depresi  Mencela Diri Sendiri
 Gangguan tidur  Rasa Bersalah
 Bicara Seperti Tertekan  Keputusasaan
 Ide Pikir Yang Meloncat-loncat  Keluhan somatic
 Hiperaktifitas motorik  Ide bunuh diri
 Perilaku  Reterdasi motoric
mengancam/menyerang
 Mudah beralih perhatian  Lambat dalam berpikir
 Hipergraphia  Konsentrasi dan memori yang
buruk
 Hiperseks  Kelemahan
 Penyukisaan dan waham agama  Kontsipasi
 Waham kebesaran  Menurunnya libido
 Halusinasi  Anoreksia atau meningkatnya
nafsu makan
 Idea terkait  Perubahan berat badan
 Katatonik  Ketidakberdayaan
 Gangguan tidur

 Lithium
Adalah garam alami, yang merupakan penobatan lini pertama
untuk klien: dengan mania akut dan untuk pencegahan jangka panjang
episode berulang. Lithium juga memiliki peran pada tritmen depresi
bipolar berulang, depresi unipolar, perilaku agresif, gangguan perilaku,
dan gangguan schizoafektif.
Diperkirakan lithium dapat memperbaiki kelainan pertukaran ion
dalam neuron: menormalkan sinaptik neurotransmisi norepinefrin,
serotonin, dopamine, dan asetilkolin dan mengatur system pembawa pesan
kedua selama neurotransmisi.
Penggunaan lithium membutuhkan pendekatan yang komprehensif
dan kewaspadaan yang tinggi. Pendidikan kesehatan pada klien, keluarga
dan system pendukung sangat penting dilakukan. Klien harus mampu
membedakan efek samping dan risiko efek keracunan yang dapat
mengancam kehidupan serta memelihara kadar lithium. Keracunan lithium
merupakan suatu kondisi emergensi yang membutuhkan penanganan
cepat.

Efek Samping Lithium Dan Keracunan


Citra Tubuh
 Pertambahan berat badan (60% klien)
Jantung
 Terjadi perubahan pada EKG, biasanya perubahan yang terjadi tidak
signifikan
Sistem Saraf Pusat
 Tremor ringan pada tangan (50% klien), kelelahan, sakit kepala, mental
tumpul, lesu
Dermatologis
 Berjerawat, kemerahan makulopapular pruritus
Endokrin
 Gangguan fungsi tiroid: hipotiroid (15% klien): penggantian hormone
 Diabetes mellitus: diet atau terapi insulin
Gastrointestinal
 Iritasi lambung, anoreksia, kejang abdomen, mual ringan, muntah, diare
(berikan makanan atau susu, dibagi dosisnya)
Ginjal
 Polyuria (60%klien), polidipsi, edema
 Perubahan struktur ginjal secara mikroskopik (10%-20% klien yang
mengkonsumsilithium selama 1 tahun tidak menimbulkan morbiditas
klinis

Level Menstabilkan Lithium Yang Stabil


Penyebab umum terjadinya peningkatan level lithium
 Menurunnya asupan sodium
 Terapi diuretic
 Menurunnya fungsi ginjal
 Kehilangan cairan dan elektrolit, berkeringat,diare,dehidrasi, demam,
muntah
 Penyakit medis
 Ovordosis
 Terapi obat nonsteroid anti inflamasi
Cara mempertahankan level lithium, yang stabil
 Stabilkan jadwal mengonsumsi obat dengan membagi dalam jangka waktu
atau mengonsumsi dalam bentuk kapsul
 Pastikan intake cairan dan diet sosium yang adekuat (2-3 L/hari)
 Ganti cairan dan elektrolit yang hilang selama latihan atau penyakit
gastrointestinal. Monitor tanda-tanda dan gejala efek samping litium serta
keracunan
 Jika klien lupa meminum obat jika kurang dai 2 jam masih bisa segera
diminum: jika telah lebih dari 2 jam maka diabaikan dan diminum sesuai
jadwal berikutnya jangan pernah minum obat dengan menggandakan
jumlah

Manajemen Keracunan Lithium


 Kaji dengan cepat, gali riwayat insiden terutama dosis berikan dukungan
da penjelasan pada klien
 Tahan pemberian lithium
 Cek tekanan darah, nadi, suhu rektal, respirasi, dan tingkat kesadaran,
persiapkan untuk memulai prosedur stabilisasi, lindungi jalan napas dan
siapkan oksigen
 Segera periksa kadar lithium dalam darah periksa elektrolit, BUN,
kreatinin, urinalisis, hitung darah lengkap jika memungkinkan
 Periksa EKG, monitor status jantung
 Batasi absorsi lithium jika overdosis akut sedikan pengisapan nasogatrik
 Penuh kebutuhan cairan 5-6 L/hari, keseimbangan elektrolit, saluran IV,
pasang kateter
 Klien tirah baring di tempat tidur, latih rentang gerak, sering atur posisi,
pulmonary toilet
 Pastikan alas an keracunan lithium, tingkatkan usaha dalam memberikan
pendidikan kesehatan, mobilisasi sitem dukungan pasca pemulangn, atur
jadwal agar kunjungan klinis lebih teratur, cek kadar darah, kaji adanya
depresi dan keinginan bunuh diri
Dalam kasus sedang ke berat
 Implementasi diuresis osmotic dengan urea atau manitol
 Tingkatkan bersihan lithium dengan aminophylline, da membuat basa urin
dengan IV sodium laktat
 Pastikan intake sosium klorida adekuat untuk meningkatkan ekskresi
lithium
 Implementasi dialysis peritonel atau nemodialisis pada kasus-kasus paling
berat (level serum antara 2,0 dan 4,0 mEq/L) dengan penurunan urin
output dab kondisi depresi system saraf pusat yang makin dalam

 Antikonvulsan
Divalproex, turunan dari asam valproik : memiliki indeks teraupetk
dengan profil toksisitas yang lebih baik dan efektivitasnya lebih luas
dalam subtype gangguan bipolar (seperti siklus yang cepat dan status
suasana hati) dibandingkan dengan lithium.
Efek samping:
o Keluhan gastrointestinal: anoreksia, mual, muntah, dan diare
o Gejala neurologis: tremor,sedasi, sakit kepala, pusing, dan ataksia
dan peningkatan nafsu makan serta berat badan
o Trombosipena: ditandai dengan memar, petekie, hematoma, dan
perdarahan sehingga memerlukan penurunan dosis atau
penghentian obat segera

Oleh karena itu, tes laboratorium komprehensif dilakukan saat awal


dan diulangi setiap 1 -4 minggu selama 6 bulan pertama dan kemudia
3-6 bulan. Obat ini tidak dianjurkan pada klien selama kehamilan atau
penyakit hati, dikrasia darah, penyakit otakorganik, atau kerusakan
fungsi ginjal

Lamotrigine, dimulai dengan dosis 25 mg/hari untuk minggu


pertama (setelah pengobatan)dan dosis ditingkatkan dari 25-50 mg
setiap 2 minggu dengan target dosis awal 200 mg, tetapi bisa juga
diberikan dalam batas efek teraupetik 400 mg atau lebih perhari.

Efek samping: pusing,sakit kepala, pandangan kabur, gemetar,


sedasi dan ruam yang parah.

Corbamazepine

Efek sampingnya: mengantuk, pusing, ataksia, penglihatan ganda,


penglihatan kabur, mual, dan kelelahan.keluhan yang jarang terjadi
gangguan pencernaan, dan berbagai reaksi kulit

Corbamazepine tidak dianjurkan untuk mengonsumsi selama


kehamilan dan jangan diberikan pada klien yang menderita penyakit
medis lainnya seperti diabetes dan penekanan sumsum tulang.

Topiramate, merupakan obat antikonvulsan yang stabilisator


suasana hati, yang tidak berkaitan dengan pertambahan berat badan
dan bahkan dihubungkan dengan kejadian penurunan berat badan pada
hampir 50% klien yang mengonsumsinnya

 Antipsikotik Atipikal
Untuk tritmen mania akut pada gangguan bipolar
 Benzodiazepin
Bermanfaat dalam tritmen mania akut. Penggunaan Bz
memungkinkan menginduksi cepat tidur dengan resolusi mania awal,
tanpa memerlukan dosis tinggi obat antipsikotik pada fase akut.
 Calcium Channel Blockers
(verapamil, nifedipinm, nimodipin) memodulasi suasana hati
dengan cara menghambat saluran kalsium di neuronposisinaptik,
memengaruhi system neurotransmitter noradrenergic, dan terutama
digunakan ketika stabilisator suasana hati lain telah gagal
Efek samping: pusing, sakit kepala, mual. Yang sering tapi
jarang terjadi termasuk aritmia ganas, hepatotoksistas, hipotensi beratt
dan sinkop.

Berikut pembagian psikofarmako berdasarkan kasus skizofrenia.

1. Kasus Halusinasi

Pada kasus halusinasi, psikofarmako yang digunakan adalah


antipsikotik yang berfungsi untuk menekan gejala – gejala pengalaman
sensori yang tidak nyata seperti mendengar suara tanpa ada orang yang
berbicara (halusinasi), kegelisahan yang berlebihan serta perilaku yang
membahayakan.
Obat lainnya yang biasa digunakan pada pasien halusinasi adalah
antiansietas, pada pasien halusinasi cenderung cemas karena memiliki
pengalaman sensori yang menakutkan, sehingga obat ini membantu
menenangkan dan menurunkan tingkat kecemasan klien.

2. Kasus Waham
Pada kasus waham, psikofarmako yang digunakan yaitu
antipsikotik. Dengan tujuan dapat menekan gejala berupa munculnya
keyakinan yang salah dan tidak sesuai kenyataan (waham) dan perilaku
mencederai orang lain. Obat lain yang bisa digunakan adalah
antidepresan, untuk mengurangi gangguan cemas yang mengarah pada
depresi.

3. Kasus Resiko Perilaku Kekerasan

Pada kasus RPK, dapat diberikan antipsikotik untuk memengaruhi


dopamin dan serotonin sehingga dapat mengurangi perilaku kasar dan
membahayakan diri serta orang / lingkungan sekitarnya. Obat yang dapat
digunakan berikutnya adalah antiansietas. Obat ansietas ini diberikan
untuk menenangkan dan mengendalikan agitasi klien. Selain itu klien
dapat juga diberikan antidepresan yang dimaksudkan agar perilaku
impulsif dan agresif klien (yang berhubungan dengan perubahan suasana
hati) dapat terkontrol.

4. Kasus Resiko Bunuh Diri

Pada kasus resiko bunuh diri, klien memiliki insight yang kurang
baik, cara berpikir yang selalu mengarah dan melihat sisi negatif, klien
dengan kasus resiko bunuh diri biasanya memendam permasalahannya dan
merasa putus asa, sehingga ada pikiran untuk mengakhiri hidup. Maka dari
itu klien diberika antidepresan untuk membuat suasana hati / mood
menjadi lebih baik, mengurangi pikiran berisi pemicu perilaku bunuh diri,
membuat pikiran jernih, membantu menjaga pola tidur dan meningkatkan
konsentrasi.
BAB III:

PENUTUP

A. Kesimpulan
Psikofarmakologi adalah obat-obatan yg digunakan untuk klien
dengan gangguan jiwa. Termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat
neuroleptika (bekerja pada system syaraf ).
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart.


Singapore: Elsevier