Anda di halaman 1dari 33

UJIAN TENGAH SEMESTER

MANAJEMEN FARMASI

ANALISA ABC dan VEN di UNIT FARMASI


RS MULYA

TUGAS KELOMPOK 7

Dosen Pembimbing :
Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt, MARS

Disusun Oleh

Ratna Silvia Septianingtyas :20170309101


Gabriel Susilo : 20170309114
Irzanto Yunda : 20170309107

PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT


UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan
untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan
dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman
dan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit. Rumah sakit yang
merupakan salah satu dari sarana kesehatan, merupakan rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi
utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien.
Berdasarkan UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 34, rumah sakit adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan, rawat jalan, gawat darurat, dan rawat inap.
Menurut Permenkes RI No.56/2014 rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna (Depkes RI, 2014a). Pelayanan
farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan
dan merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi
kepada pelayanan pasien dan penyediaan obat yang bermutu (Depkes RI, 2004).
Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang dan sekaligus merupakan revenue center
Utama. Hal tersebut mengingat bahwa lebih dari 90% pelayanan kesehatan di RS menggunakan
perbekalan farmasi ( obat-obatan, bahan kimia, baha radiologi, bahan alat kesehatan habis pakai, alat
kedokteran, dan gas medik), dan 50% dari seluruh pemasukan RS berasal dari pengelolaan perbekalan
farmasi. Untuk itu, jika masalah perbekalan farmasi tidak dikelola secara cermat dan penuh tanggung
jawab, maka dapat diprediksi bahwa pendapatan RS akan mengalami penurunan.
Dengan meningkatnya pengetahuan dan ekonomi masyarakat menyebabkan makin meningkat pula
kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kefarmasian. Aspek terpenting dari pelayanan farmasi adalah
mengoptimalkan penggunaan obat, ini harus termasuk perencanaan untuk menjamin ketersediaan,
keamanan dan keefektifan penggunaan obat. Mengingat besarnya kontribusi instalasi farmasi dalam
kelancaran pelayanan dan juga merupakan instalasi yang memberikan sumber pemasukan terbesar di RS,
maka perbekalan barang farmasi memerlukan suatu pengelolaan secara cermat dan penuh tanggung
jawab.
Selain itu tujuan pelayanan farmasi RS adalah pelayanan farmasi yang paripurna, termasuk
didalamnya adalah perencanaan pengadaan obat, sehingga dapat meningkatkan mutu dan efisiensi
pelayanan berupa : tepat pasien, tepat dosis, tepat cara pemakaian, tepat kombinasi, tepat waktu dan tepat
harga. Instalasi farmasi harus bertanggung jawab terhadap pengadaan, distribusi dan pengawasan seluruh
produk obat yang digunakan di RS (termasuk perbekalan kesehatan dan produk diagnostik), baik untuk
pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan di RS diperlukan bahan-bahan logistik, bahan logistik
adalah bahan operasional yang sifatnya habis pakai seperti obat-obatan, bahan farmasi lainnya, lauk pauk,
ATK kebersihan/rumah tangga, cetakan, suku cadang alat dan perlengkapan. Kegiatan logistik secara
umum memiliki 3 tujuan yaitu tujuan operasional, tujuan keuangan dan tujuan pengamanan. Dalam
memenuhi tujuan kegiatan logistic Rumah Sakit diperlukan manajemen logistik sehingga barang-barang
logistik yang tersedia di Rumah Sakit dapat terus terjamin keberadaannya.
Persediaan logistik yang dimiliki dan dikelola oleh Rumah Sakit, obat dan bahan farmasi merupakan
persediaan logistik yang memiliki porsi tebesar dalam hal pengadaan. Pengelolaan obat serta bahan
farmasi lainnya di rumah sakit sepenuhnya menjadi tanggung jawab Instalasi Farmasi. Instalasi Farmasi
Rumah Sakit (IFRS) mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam ekonomi dan biaya total operasional
Rumah Sakit, sebab hampir seluruh pelayanan medis pada penderita di Rumah Sakit akan berintervensi
dengan sediaan farmasi. Tujuan utama pengelolaan obat adalah tersedianya obat dengan mutu yang baik,
tersedia dalam jenis dan jumlah yang sesuai kebutuhan pelayanan kefarmasian bagi masyarakat yang
membutuhkan.
Manajemen obat di rumah sakit merupakan salah satu unsur penting dalam fungsi manajerial rumah
sakit secara keseluruhan, karena ketidakefisienan akan memberikan dampak negatif terhadap rumah sakit
baik secara medis maupun secara ekonomis. Tujuan manajemen obat di rumah sakit adalah agar obat
yang diperlukan tersedia setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu yang terjamin dan harga
yang terjangkau untuk mendukung pelayanan yang bermutu. Manajemen obat merupakan serangkaian
kegiatan kompleks yang merupakan suatu siklus yang saling terkait, pada dasarnya terdiri dari 4 fungsi
dasar yaitu, seleksi dan perencanaan, pengadaan, distribusi serta penggunaan.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit,mendefinisikan Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan
periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil
kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan
efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan menggunakan metode yang
dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi,
epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan anggaran yang
tersedia.
Analisis ABC atau Pareto adalah suatu analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis pola
konsumsi perbekalan farmasi, sementara analisis VEN (Vital, Esensial, Non-Esensial) adalah suatu
sistem untuk menentukan seleksi, pengadaan, dan penggunaan perbekalan farmasi. Analisis VEN dapat
membantu dalam mengontrol stok obat-obatan yang perlu kontrol ketat untuk menghindari stock-out dan
memperbesar manfaat dari dana yang tersedia. Dengan demikian gabungan analisis ABC-VEN dapat
digunakan untuk mengevaluasi pola pengadaan dengan dasar prioritas (Quicketal,2012). Analisis ABC
indeks kritis adalah kombinasi analisis ABC yang meliputi analisis ABC nilai pakai, analisis ABC nilai
investasi, dan analisis VEN yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana terutama
pada obat-obatan berdasarkan dampaknya pada kesehatan (Suciati dan Adisasmito, 2006).
Rumah Sakit Mulya Tangerang merupakan rumah sakit tipe C di daerah Tangerang, yang
merupakan pelayanan komprehensif berupa spesialistik. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun
2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sejak 1 Januari 2014 BPJS Kesehatan mulai
beroperasi menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan Kesehatan Nasional
merupakan program negara yang bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan social
bagi seluruh rakyat. Demikian juga RS Mulya, sejak 1 Januari 2014 ikut serta dalam penyelenggaraan
JKN. Pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dilakukan
dengan menggunakan tariff Indonesia-Case Based Groups (INA-CBG’s). Tarif ini didasarkan atas paket
layanan pengelompokkan diagnosis penyakit (Depkes RI,2014b). Sistem pembayaran klaim ini menuntut
adanya efisiensi dalam pelaksanaan pelayanan, termasuk juga dalam klaim ini menuntut adanya efisiensi
dalam pelaksanaan pelayanan, termasuk juga dalam pengadaan obat-obatan BPJS.
Belanja obat mengkonsumsi sebagian besar anggaran pelayanan kesehatan. Sebuah rumah sakit
bertanggung jawab untuk memastikan penggunaan sumber daya yang tersedia secara optimal yang
bertujuan untuk mencapai efisiensi dalam kendali biaya. Tujuannya adalah untuk memastikan persediaan
yang memadai dari barang yang dibutuhkan sehingga pasokan barang dapat dipertahankan (Wandalkar
et al, 2013). Penyimpanan berarti uang yang tidak bergerak dan penyimpanan juga meningkatkan biaya,
diantaranya adalah biaya simpan dan biaya pemesanan, serta adanya kehilangan kesempatan untuk
memperoleh keuntungan (Jacobs and Chase, 2014).
Luasnya pelayanan dan keikutsertaan RS Mulya dalam JKN menuntut suatu pengelolaan
persediaan farmasi yang efisien. Pelaksanaan JKN juga mengubah pola konsumsi obat. Penggunaan
formularium nasional sebagai pedoman pengobatan JKN dan bertambahnya pasien peserta JKN karena
adanya kewajiban menggunakan BPJS bagi para pekerja dan masyarakat pada tahun 2015 menyebabkan
peningkatan konsumsi obat-obat JKN. Pengelolaan obat JKN di RSPR terpisah dengan obat regular.
Obat-obat JKN memiliki daftar tersendiri dan dikhususkan hanya untuk pasien JKN. Sampai saat ini
belum ada evaluasi terhadap sistem manajemen pengelolaan obat baik regular maupun JKN di RS Mulya.
Dari pengamatan awal di RS Mulya, ada beberapa masalah yang terkait dengan manajemen
pengadaan obat. Perencanaan pengadaan obat di bagian logistik belum menggunakan suatu analisis,
hanya berdasarkan perkiraan konsumsi. Kurangnya perencanaan menyebabkan terjadinya kekosongan
obat atau stock out. Frekuensi pengadaan tidak terencana sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk
pemesanan tidak dapat diprediksi. Pasien yang tidak dapat terlayani juga harus mencari apotek lain untuk
membeli obat yang tidak didapatkan di Rumah Sakit.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah sistem pengelolaan obat di RS Mulya sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit?
2. Bagaimana pengelolaan perbekalan farmasi di RS Mulya?
3. Bagiamana upaya perbaikan agar pengelolan menjadi efien dan efektif?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu bagian perencanaan dalam menganalisis sistem
pengadaan obat di RS Mulya yang akan menggunakan analisis ABC VEN sebagai dasar untuk
perencanaan pengadaan obat.
2. Tujuan khusus
Untuk mencapai tujuan umum, analisa ini memiliki tujuan khusus sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan dan mengevaluasi sistem pengelolaan obat di RS Mulya selama ini menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit.
b. Membantu pengelolaan perbekalan farmasi di RS Mulya
c. Melakukan upaya perbaikan agar pengelolan menjadi efien dan efektif

D. MANFAAT BAGI RUMAH SAKIT


Sebagai masukan bagi manajemen RS Mulya dalam menetapkan kebijakan tentang manajemen
logistik farmasi secara umum.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang unik dan komplek karena ia merupakan institusi yang
padat karya, mempunyai sifat-sifat dan ciri serta fungsi-fungsi yang khusus dalam proses
menghasilkan jasa medik dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan penderita.

B. Farmasi Rumah Sakit


Pelayanan farmasi RS adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan RS
yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan
farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Pelayanan kefarmasian semakin
berkembang, tidak terbatas hanya pada penyiapan obat dan penyerahan obat pada pasien, tetapi perlu
melakukan interaksi dengan pasien dan profesional kesehatan lainnya, dengan melaksanakan
pelayanan ‘Pharmaceutical care’ secara menyeluruh oleh tenaga farmasi.
Tujuan pelayanan farmasi RS adalah pelayanan farmasi yang paripurna sehingga dapat : tepat
pasien, tepat dosis, tepat cara pemakaian, tepat kombinasi, tepat waktu dan tepat harga. Selain itu
pasien diharapkan juga mendapat pelayanan yang dianggap perlu sehingga pasien mendapat
pengobatan yang efektif, efisien, aman, rasional bermutu dan terjangkau. Tuntutan pasien dan
masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari
paradigma lama (drug oriented) ke paradigma baru (patient oriented) dengan filosofi Pharmacheutical
Care ( Pelayanan kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu
dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan kesehatan.
Instalasi farmasi memiliki pengaruh terhadap ekonomi dan biaya operasional rumah sakit karena
bagian ini merupakan bagian di rumah sakit yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan
pengendalian seluruh sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang beredar di rumah sakit (Siregar,
2003). Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai di rumah sakit harus
dilakukan oleh instalasi farmasi melalui sistem satu pintu, yaitu bahwa rumah sakit hanya memiliki
satu kebijakan kefarmasian termasuk dalam pembuatan formularium, pengadaan, dan distribusi alat
kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan
pasien (UU RI, 2009).

C. Pelaksanaan Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit


Pelaksanaan farmasi terdiri dari 4 pelayanan yaitu : pelayanan obat non resep, pelayanan
komunikasi-informasiedukasi (KIE), pelayanan obat resep dan pengelolaan obat.
1. Pelayanan Obat Non Resep Pelayanan obat non resep merupakan pelayanan kepada pasien yang
ingin melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Obat untuk swamedikasi
meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib apotik (OWA), obat
bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Obat wajib apotik terdiri dari kelas terapi oral
kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang
mempengaruhi sistem neuromuskuler, anti parasit dan obat kulit topikal.
Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Apoteker hendaknya mampu menggalang
komunikasi dengan tenaga kesehatan lain, termasuk kepada dokter. Termasuk memberi informasi
tentang obat baru atau obat yang sudah ditarik. Hendaknya aktif mencari masukan tentang
keluhan pasien terhadap obat-obatan yang dikonsumsi. Apoteker mencatat reaksi atau keluhan
pasien untuk dilaporkan ke dokter, dengan cara demikian ikut berpartisipasi dalam pelaporan efek
samping obat.
2. Pelayanan Obat Resep Pelayanan resep sepenuhnya tanggung jawab apoteker pengelola apotik.
Apoteker tidak diizinkan mengganti obat yang ditulis dalam resep dengan obat lain. Dalam hal pasien
tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter
untuk pemilihan obat yang lebih terjangkau.
3. Pengelolaan Obat Kompetensi penting yang harus dimiliki apoteker dalam bidang pengelolaan obat
meliputi kemampuan merancang, membuat, melakukan pengelolaan obat yang efektif dan efisien.
Penjabaran dari kompetensi tersebut adalah dengan melakukan seleksi, perencanaan, penganggaran,
pengadaan, produksi, penyimpanan, pengamanan persediaan, perancangan dan melakukan
dispensing serta evaluasi penggunaan obat dalam rangka pelayanan kepada pasien yang terintegrasi
dalam asuhan kefarmasian dan jaminan mutu.
Administrasi dan Pengelolaan Farmasi di Rumah Sakit Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 72 tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di RS bahwa dalam hal
administrasi dan pengelolaan farmasi RS harus dipenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
1. Adanya bagan organisasi yang menggambarkan uraian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab
serta hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi yang ditetapkan oleh
pimpinan RS
2. Bagan organisasi dan pembagian tugas dapat direvisi kembali setiap tiga tahun
3. Kepala Instalasi Farmasi harus terlibat dalam perencanaan manajemen dan penentuan anggaran serta
penggunaan sumber daya
4. Instalasi Farmasi harus menyelenggarakan rapat pertemuan untuk membicarakan masalah-masalah
dalam peningkatan pelayanan farmasi. Hasil pertemuan tersebut disebarluaskan dan dicatat untuk
disimpan
5. Adanya Komite/Panitia Farmasi dan Terapi di RS dan apoteker IFRS menjadi sekretaris
komite/panitia
6. Adanya komunikasi yang tetap dengan dokter dan paramedik, serta selalu berpartisipasi dalam rapat
yang membahas masalah perawatan atau rapat antar bagian atau konferensi dengan pihak lain yang
mempunyai relevansi dengan farmasi
7. Hasil penilaian / pencatatan konduite terhadap staf didokumentasikan secara rahasia dan hanya
digunkan oleh atasan yang mempunyai wewenang untuk itu
8. Dokumentasi yang rapi dan rinci dari pelayanan farmasi dan dilakukan evaluasi terhadap pelayanan
farmasi setiap tiga tahun
9. Kepala Instalasi Farmasi harus terlibat langsung dalam perumusan segala keputusan yang
berhubungan dengan pelayanan farmasi dan penggunaan obat.
D. Manajemen Logistik
Definisi manajemen Logistik Menurut Donald J. Bowersox, manajemen logistik adalah unik
karena ia merupakan salah satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik
yang terdiri 5 komponen : struktur lokasi fasilitas, transportasi, persediaan (inventory), komunikasi,
dan pengurusan & penyimpanan telah dilaksanakan orang semenjak awal spesialisasi komersil. Sulit
untuk membayangkan sesuatu pemasaran atau manufakturing yang tidak membutuhkan sokongan
logistik.
Manajemen logistik modern didefinisikan sebagai proses pengelolaan yang strategis terhadap
pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara
fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan. Dengan tujuan menyampaikan barang jadi
dan bermacam-macam material dalam jumlah yang tepat pada waktu yang dibutuhkan, dalam keadaan
yang dapat dipakai, dan dengan total biaya yang terendah.
E. Persediaan
Persediaan adalah stok barang untuk keperluan produksi, pelayanan, atau memenuhi permintaan
pasien/masyarakat atau persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode atau persediaan barang-barang yang masih dalam
pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan barang baku yang menunggu penggunannya dalam
suatu proses produksi.
Kekurangan persediaan obat akan mengakibatkan terlambatnya pelayanan pasien. Ketersediaan
item yang tepat pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat akan membantu tujuan organisasi dalam
melayani pasien, produktivitas, keuntungan dan kembali modal. Ini bisa berlaku kepada pabrik,
pedagang grosir, eceran, pelayanan kesehatan, dan organisasi pendidikan. Dengan kata lain
persediaan merupakan aset perusahaan. Mengukur kinerja dan produktivitas mungkin berbeda untuk
setiap perusahaan, tetapi semuanya membutuhkan manajemen persediaan yang adekuat.
F. Tahap-Tahap Pengelolaan Sediaan Farmasi
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 72 tahun 2016 mengenai standar pelayanan
kefarmasian, kegiatan yang harus dilakukan pada setiap tahapan siklus adalah:
a) Pemilihan
Seleksi atau pemilihan obat merupakan kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang
terjadi di rumah sakit, identifikasi, pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria
pemilihan dengan mempriorotaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan
memperbaharui standar obat.
b) Perencanaan kebutuhan
Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang
sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang
telah ditentukan anatar lain Konsumsi, Epidemiologi, Kombinasi.
Metode Konsumsi dan Epidemiologi disesuaikan dengan anggaran persediaan. Pedoman
Perencanaan :
1. DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi Rumah Sakit
2. Ketentuan setempat yang berlaku
3. Data catatan medik
4. Anggaran yang tersedia
5. Penetapan proritas
6. Siklus penyakit
7. Sisa persediaan
8. Data pemakaian periode lalu
c) Pengadaan
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui,
melalui :
1. Pembelian
2. Secara tender ( oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi/ RS )
3. Secara langsung dari pabrik / distributor / pedagang besar farmasi / rekanan
4. Produksi / pembuatan sediaan farmasi
5. Produksi Steril
6. Produksi Non Steril
7. Sumbangan/droping/hibah
d) Penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan
aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Pedoman
dalam penerimaan perbekalan farmasi :
1. Pabrik harus mempunyai sertifikat analisis
2. Barang harus bersumber dari distributor utama
3. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet ( MSDS )
4. Khusus untuk alat kesehatan / kedokteran harus mempunyai certificate of origin
5. Expire date minimal 2 tahun
e) Penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan:
1. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya
2. Dibedakan menurut suhunya, kestabilan
3. Mudah tidaknya meledak/terbakar
4. Tahan/tidaknya terhadap cahaya
Disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai
kebutuhan.
f) Pendistribusian
Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan
individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang
pelayanan medis. Sistim distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien
dengan mempertimbangkan :
1. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
2. Metode sentralisasi atau desentralisasi
3. Sistim floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi
g) Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk memudahkan
penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.
Kegiatan administrasi terdiri dari :
Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan sedoaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan habis pakai yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan penerimaan, pendistribusian
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dna penarikan sediaan farmasi.Alat
kesehatan, dan bahan habis pakai.Pelaporan di buat secara periodik yang dilakukan instalasi
farmasi dalam periode tertentu (bulanan, triwulan, semester atau pertahun ).
h) Pengendaliaan Persediaan
Pengendalian persediaan bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara persediaan dan
permintaan. Karena itu hasil stock opname harus seimbang dengan permintaan yang didasarkan
atas satu kesatuan waktu tertentu, misalnya satu bulan atau dua bulan, atau kurang dari satu tahun.
Pengadaan barang yang dalam sehari-hari disebut juga pembelian, merupakan titik awal dari
pengendalian persediaan. Jika titik awal ini sudah tidak tepat, maka pengendalian akan sulit
dikontrol.
Teknik Pengendaliaan
Manajemen Obat di Rumah Sakit pengendalian obat-obatan di rumah sakit dapat dilakukan
melalui 3 (tiga) cara yaitu :
I. METODE ABC (Always, Better, Control)
Analisis ABC atau Pareto analysis dikembangkan pertama kali pada tahun 1907 oleh
seseorang sosiologis-ekonom Itali yang bernama Vilfredo pareto (1848-1923). Pareto
meyakini bahwa 80-85% dari jumlah uang yang beredar di Itali adalah hanya dimiliki oleh
sebagian kecil populasi yaitu sekitar 15-20% orang. Ultimatum 20-80 ini lah yang kemudian
di kenal dengan hukum pareto. Dalam manajemen Inventory, hukum pareto ini kemudian
diaplikasikan menjadi metode analisa ABC. Inti dari analisa ABC mengelompokkan item
barang atau obat ke dalam 3 jenis klafikasi berdasarkan volume tahunan dalam jumlah uang.
Teknik pengendalian dengan menggunakan metoda ABC adalah pengendalian dari aspek
ekonomis, karena suatu jenis obat dapat memakan anggaran biaya yang besar disebabkan
pemakaiannya banyak atau harganya mahal. Dengan analisis nilai ABC ini dapat
diidentifikasikan jenis-jenis obat yang dimulai dari golongan obat yang membutuhkan biaya
terbanyak. Pada dasarnya obat dibagi dalam tiga golongan yaitu golongan A jika obat
tersebut mempunyai nilai kurang lebih 80% dengan pemakaian 10-80 % dari keseluruhan
obat, golongan B jika obat tersebut mempunyai nilai sekitar 15% dengan pemakaian tidak
lebih dari 20% dari keseluruhan obat dan golongan C mempunyai nilai 5% dengan
pemakaian 10% dari seluruh jumlah obat.

A. Prosedur Analisis ABC


Prinsip utama analisis abc adalah dengan menempatkan jenis-jenis perbekalan farmasi
ke dalam suatu urutan dimulai dengan jenis yang memakan anggaran terbanyak, urutan
langkah sebagai berikut :
1. Kumpulkan kebutuhan perbekalan farmasi yang diperoleh dari salah satu metode
perencanaan, daftar harga perbekalan farmasi, dan biaya yang diperlukan untuk tiap nama dagang.
Kelompokkan ke dalam jenis-jenis/ katagori, dan jumlahnya biaya perjenis/kategori perbekalan
farmasi.
2. Jumlahkan anggaran total, hitung masing-masing prosentase jenis perbekalan farmasi
terhadap anggaran total.
3. Urutkan kembali perbekalan farmasi di atas mulai dari yang memakan prosentase biaya
paling banyak.
4. Hitung prosentase kumulatif, dimulai dengan urutan 1 dan seterusnya.
5. Identifikasi perbekalan farmasi yang menyerap ± 70% anggaran perbekalan total.
6. Perbekalan farmasi katagori A menyerap anggaran 70%
7. Perbekalan farmasi katagori B menyerap anggaran 20%
8. Perbekalan farmasi katagori C menyerap anggaran 10% (Depkes RI 2008)
B. Contoh cara membuat Analisa ABC
Untuk lebih memahami uraian di atas, berikut diberikan contoh klasifikasi dengan analisa
ABC.
1. Berikan harga dasar perolehan saat ini dari masing-masing item obat :

Nama Obat Satuan BYK Harga

Asam Mafenamat tab Box/100 720 32.000


Erythromisin tab Box/60 450 49.000
Ethambutol Box/100 400 52.000
Pyrazinamid Box/100 400 45.000
Dextrometorphan tab Klg/1.000 725 9.000
Paracetamol tab Klg/1.000 1300 7.000
Amoksilin tab Box/100 1500 35.000
Kotrimoksazol tab Box/100 150 45.000
Glibenklamide Box/100 50 60.000
Klonidin Box/100 125 75.000
2. Menghitung persentase nilai item obat
Untuk mendapatkan persentase nilai masing-masing obat adalah dengan cara sebagai
berikut :
Asam Mafenamat (D) = 720 box
Price (harga) = Rp.32.000/box
N = DxP = 720 X 32000 = 23.040.000
Dengan cara yang sama dengan asam mefenamat diatas, lakukan juga perhitungan
terhadap jenis obat yang lainnya, sehingga akan diperoleh nilai sebagai berikut :
Persen
BYK Harga Klasifikasi
Nama Obat Nilai (N) Nilai
(D)
(Rp)(P) (N%) ABC
Asam Mafenamat
720 32 23040000 13% B
tab
Erythromisin tab 450 49 22050000 13% B
Ethambutol 400 52 20800000 12% C

Pyrazinamid 400 45 18000000 11% C

Dextrometorphan
725 9 6525000 4% C
tab
Paracetamol tab 1300 7 9100000 5% C

Amoksilin tab 1500 35 52500000 31% A

Kotrimoksazol tab 150 45 6750000 4% C

Glibenklamide 50 60 3000000 2% C

Klonidin 125 75 9375000 5% C

Total 171140000 100%

Nilai total (Nt) = 171.140.000


Persen nilai (N%) diperoleh dari : (N/Nt)x 100
Asam Mefenamat N = 23.040.000
Nt = 171.140.000
N% = (23.040.000/171.140.000)x100
=13%

3. Membuat klasifikasi
Untuk mengklasifikasikan item dalam ABC kita memerlukan skala yang dibuat
dengan cara mengambil nilai persentase (N%) terkecil ditambah nilai persentase
terbesar.
N%1 tekecil = 2% yaitu Glibenklamide.
N%2 terbesar = 31% Amoksilin tab
Range = (N%1 + N%)/3 = (2 + 31)/3 = 11
Klasifikasi C = 2% s/d (2 + 11) atau 2 s/d 13
Klasifikasi B = 13 % s/d (13 + 11) atau 13 s/d 24
Klasifikasi A = 24 % s/d (24 + 11) atau 24 s/d 35
Persen Nilai Klasifikasi
Nama Obat
(N%) ABC

Asam Mafenamat tab 13% B


Erythromisin tab 13% B
Ethambutol 12% C
Pyrazinamid 11% C
Dextrometorphan tab 4% C
Paracetamol tab 5% C
Amoksilin tab 31% A
Kotrimoksazol tab 4% C
Glibenklamide 2% C
Klonidin 5% C

1. Butir persediaan kelompok A adalah persediaan yang jumlah nilai uang per tahunnya tinggi
(60-90%), tetapi biasanya volumenya kecil.
2. Butir persediaan kelompok B adalah persediaan yang jumlah nilai uang per tahunnya sedang
(20-30%).
3. Butir persediaan kelompok C adalah persediaan yang jumlah nilai uang per tahunnya rendah
(10-20%), tetapi biasanya volumenya besar (60-75%)
Dengan pengelompokan tersebut maka cara pengelolahan masing-masing akan lebih
mudah sehingga peramalan, pengendalian fisik, kehandalan pemasok dan pengurangan
besar stock pengaman dapat menjadi lebih baik.

II. Analisis VEN


Metode analisis VEN merupakan pengelompokan obat berdasarkan kepada dampak tiap
jenis obat terhadap kesehatan. Semua jenis obat yang direncanakan dikelompokan ke dalam
tiga kategori yakni (Maimun,2008) :
1. Vital (V)
Obat-obat yang harus tersedia untuk melayani permintaan guna penyelamatan hidup
manusia, atau untuk pengobatan karena penyakitnya tersebut dapat menyebabkan
kematian (live saving).
2. Esensial (E)
Obat-obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan
penyakit terbanyak yang ada disuatu daerah atau rumah sakit.
3. Non – esensial (N)
Obat-obat pelengkap agar tindakan atau pengobatan menjadi lebih baik. Instalasi
farmasi rumah sakit harus menetapkan kriteria pemilihan pemasok sediaan farmasi
untuk rumah sakit. Kriteria pemilihan pemasok sediaan farmasi untuk rumah sakit
adalah sebagai berikut : telah memenuhi persyaratan hukum yang berlaku untuk
melakukan produksi dan penjualan (telah terdaftar), telah terakreditasi sesuai dengan
persyaratan CPOB(Cara Pembuatan Obat yang Baik dan Benar) dan ISO 9000,
mempunyai reputasi yang baik artinya tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar
hukum, selalu mampu dan dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemasok produk obat
yang selalu tersedia dengan mutu yang tertinggi dan dengan harga yang terendah.
Penggolongan Obat Sistem VEN dapat digunakan untuk :
a. Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang tersedia.
b. Dalam penyusunan rencana kebutuhan obat yang masuk kelompok vital agar diusahakan tidak
terjadi kekosongan obat.
c. Untuk menyusun daftar VEN perlu ditentukan terlebih dahulu kriteria penentuan VEN.
Dalam penentuan kriteria perlu mempertimbangkan kebutuhan masing-masing spesialisasi.
Kriteria penentuan VEN dpt mencakup berbagai aspek:
 Klinis
 Konsumsi
 Target kondisi
 Biaya
Beberapa informasi yang diperlukan dalam analisa VEN :
1. Daftar penyakit penyebab kematian terbanyak termasuk 1o penyakit penyakit penyebab
kematian
2. Pedoman pengobatan setempat
3. Daftar Obat
4. Program Depkes/Dinkes
Langkah-langkah menentukan VEN:
1. Menyusun kriteria menentukan VEN
2. Menyediakan data pola penyakit
3. Standar pengobatan

III. Kombinasi ABC dan VEN


Jenis obat yang termasuk kategori A (dalam analisis ABC) adalah benar-benar yang
diperlukan untuk menanggulangi penyakit terbanyak dan obat tersebut statusnya harus E dan
sebagian V (dari analisa VEN). Sebaliknya jenis obat dengan status N harusnya masuk dalam
kategori C (Maimun,2008).
Metode kombinasi ini digunakan untuk menetapkan prioritas pengadaan obat dimana
anggaran yang tidak sesuai kebutuhan. Metode kombinasi ini digunakan untuk melakukan
pengurangan obat. Mekanismenya adalah sebagai berikut :
1. Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas pertama untuk dikurangi atau dihilangkan
dari rencana kebutuhan, bila dana masih kurang, maka obat kategori NB menjadi prioritas
selanjutnya dan obat yang masuk kategori NA menjadi prioritas berikutnya. Jika setelah
dilakukan dengan pendekatan ini dana yang tersedia masih juga kurang lakukan langkah
selanjutnya.
2. Pendekatan sama dengan pada saat pengurangan obat pada kriteria NC, NB, NA dimulai
dengan pengurangan obat kategori EC, EB dan EA (Maimun,2008)
BAB III
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT

A. Gambaran umum Rumah Sakit


Rumah Sakit Mulya merupakan rumah sakit yang berdiri sejak 2 Juli 1997. Posisi Rumah Sakit
terletak di Jl. KH. Hasyim Ashari No. 18, Sudimara Pinang, Kota Tangerang, Banten 1545. Tipe
Rumah Sakit adalah Tipe C kapasitas 265 tempat tidur dengan pembagian jenis sebagai berikut :

B. Visi dan Misi


Visi Rumah Sakit Mulya adalah : “Menjadi Rumah Sakit Pilihan Keluarga yang dikenal
selalu mengutamakan prinsip dasar CARE nya ( Cepat – Andal – Ramah – Empati )”
Misi Rumah Sakit Mulya :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas prima dana man, dengan berlandaskan prinsip
dasar CARE ( Cepat-Andal-Ramah-Empati) untuk mencapai kepuasan pasien dan keluarganya;
b. Senantiasa meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan;
c. Meningkatkan pengelolaan RS Mulya dengan manajemen professional yang terpadu, efisien,
efektif dan kreatif;
d. Menjadikan RS Mulya sebagai tempat kerja pilihan bagi karyawan dan tenaga medis;
e. Menciptakan budaya kerja dan lingkungan kerja yang sehat dan harmonis;
f. Membangun hubungan jangka panjang yang baik dan saling menguntungkan dengan seluruh
stake holder, meliputi seluruh pasien, tenaga medis, karyawan, masyarakat sekitar, pemerintah,
organisasi atau unit kesehatan terkait maupun pihak ketiga lainnya.
C. Tugas dan Fungsi
1. Tugas Pokok
RS Mulya sebagai tempat pelayanan kesehatan mempunyai tugas memberikan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna. Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 44 tahun 2009 BAB III Pasal 4 tentang Rumah Sakit yaitu yang dimaksud dengan
Pelayanan Kesehatan Perorangan adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh tenaga kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan.
2. Fungsi
Untuk menjalankan tugas tersebut sebagaimana pasal 4 dan pasal 5 Undang –undang
Rumah Sakit tahun 2009 mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan Standar
Pelayanan Rumah Sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang
paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka penigkatan
kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
BAB IV
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN OBAT BERDASARKAN ANALISA ABC DAN VEN DI
UNIT FARMASI RS MULYA

4.1 Latar Belakang


Pengendalian persediaan sangat penting baik untuk apotek besar maupun kecil. Persediaan obat
merupakan harta paling besar dari sebuah apotek. Karena begitu besar jumlah yang diinvestasikan dalam
persediaan, pengendalian persediaan obat yang tepat memiliki pengaruh kuat dan langsung terhadap
perolehan kembali atas investasi apotek.
Berdasarkan wawancara dengan kepala unit farmasi dan staf gudang farmasi, diperoleh informasi
bahwa belum ada perencanaan kebutuhan barang farmasi yang menjadi dasar pengadaan barang. Selama
ini, pengadaan obat dilakukan berdasarkan pada data pemakaian obat rata-rata mingguan, sehingga sering
terjadi adanya pembelian obat yang tidak terencana yang harus disegerakan (cito) dan pembelian ke apotek
luar. Disamping itu Perhitungan stok obat juga masih bermasalah yaitu adanya ketidaksesuaian angka stok
akhir antara stok fisik dengan pencatatan yang dilakukan secara manual maupun dengan sistem komputer.
Analisis ABC digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana dengan
pengelompokkan obat atau perbekalan farmasi, terutama obat-obatan yang digunakan berdasarkan
dampaknya terhadap kesehatan.
Data yang digunakan untuk membuat analisis ABC adalah data pemakaian obat selama
periode selama tahun 2017, di bagian pelayanan resep unit farmasi. Dari analisis ABC terhadap 602
i t e m obat unit Farmasi RS Mulya diperoleh hasil berikut :
4.2 Analisa ABC Sesuai Prosedur yang dilakukan RS Mulya
HARGA % KELAS
NO NAMA OBAT SATUAN JUMLAH NILAI INVESTASI % VEN
SATUAN KUMULATIF ABC
1 candesartan 16mg DPHO tab 29250 Rp5,400.00 Rp157,950,000.00 2.208 2.208 A

2 mecobalamin caps 500mg tab 115533 Rp770.00 Rp88,960,410.00 1.244 9.2 A

3 ceftriaxone 1 gr DPHO vial 8801 Rp10,010.00 Rp88,098,010.00 1.232 10.431 A

4 amloidipin 10mg tab DPHO tab 64924 Rp1,336.00 Rp86,738,464.00 1.213 11.644 A

5 clopidogrel 75mg DPHO tab 25110 Rp3,400.00 Rp85,374,000.00 1.194 12.838 A

6 omeprazole inj amp 639 Rp88,000.00 Rp56,232,000.00 0.786 17.357 A

7 N epi inj 1mg amp 416 Rp133,910.00 Rp55,706,560.00 0.779 18.136 A

8 omeprazole inj DPHO amp 1399 Rp36,000.00 Rp50,364,000.00 0.704 21.129 A

9 RL 500ml (sanbe) kolf 3049 Rp15,240.00 Rp46,466,760.00 0.65 22.43 A

10 paracetamol inf btl 657 Rp69,300.00 Rp45,530,100.00 0.637 23.066 A

11 cefadroxil 500mg DPHO tab 61100 Rp700.00 Rp42,770,000.00 0.598 24.278 A

12 glimepiride 2mg DPHO tab 45400 Rp930.00 Rp42,222,000.00 0.59 24.869 A

13 keterolac inj 30mg amp 3127 Rp13,365.00 Rp41,792,355.00 0.584 25.453 A


metilprednisolon 4mg
14 tab 91800 Rp444.00 Rp40,759,200.00 0.57 26.023 A
DPHO
metilprednisolon 8mg
15 tab 52400 Rp702.00 Rp36,784,800.00 0.514 28.727 A
DPHO
16 metformin 500mg DPHO tab 191200 Rp182.00 Rp34,798,400.00 0.487 29.711 A

17 sucrafat syr 100ml DPHO btl 4835 Rp9,578.00 Rp46,309,630.00 0.647 30.838 A

18 omeprazole 20mg tab 45756 Rp727.00 Rp33,264,612.00 0.465 31.303 A


19 vaksin ATS 1500unit 1mg vial 200 Rp165,000.00 Rp33,000,000.00 0.461 31.764 A

20 codein 20mg tab tab 17733 Rp1,805.00 Rp32,008,065.00 0.447 32.212 A

21 meloxicam 15mg tab DPHO tab 65050 Rp459.00 Rp29,857,950.00 0.417 33.055 A

22 rifampicim 600mg DPHO tab 16500 Rp1,782.00 Rp29,403,000.00 0.411 33.466 A

23 ranitidine inj DPHO amp 11246 Rp2,567.00 Rp28,868,482.00 0.404 34.279 A

24 bisoprolol 5mg DPHO tab 44200 Rp645.00 Rp28,509,000.00 0.399 34.678 A

25 ondansentron Inj 4mg/2ml amp 3664 Rp7,700.00 Rp28,212,800.00 0.394 35.072 A

26 azitromycin 500mg DPHO capl 2479 Rp11,000.00 Rp27,269,000.00 0.381 35.453 A

27 candesartan 16 mg tab 3810 Rp7,156.00 Rp27,264,360.00 0.381 35.834 A

28 inj neo k amp 1996 Rp13,640.00 Rp27,225,440.00 0.381 36.215 A

29 isorbid amp 273 Rp98,444.00 Rp26,875,212.00 0.376 36.591 A

30 Cipro 500mg tab DPHO tab 22400 Rp946.00 Rp21,190,400.00 0.296 40.627 A

31 OMZ 20mg DPHO tab 96264 Rp215.00 Rp20,696,760.00 0.289 41.504 A

32 Cefadroxil Cap 500mg tab 24026 Rp844.00 Rp20,277,944.00 0.284 41.788 A

33 Amox 500mg tab DPHO tab 54700 Rp370.00 Rp20,239,000.00 0.283 42.071 A

34 PCT 500mg DPHO Capl 117700 Rp170.00 Rp20,009,000.00 0.28 42.35 A

35 Etambutol 500mg DPHO tab 25600 Rp745.00 Rp19,072,000.00 0.267 42.888 A

36 Neurobion tab tab 6700 Rp2,676.00 Rp17,929,200.00 0.251 43.656 A N

37 Levofloxacin inf btl 201 Rp88,000.00 Rp17,688,000.00 0.247 44.152 A

38 Cendo polydex MD stp 606 Rp29,150.00 Rp17,664,900.00 0.247 44.399 A

39 Ondansentron 4mg tab tab 9595 Rp1,839.00 Rp17,645,205.00 0.247 44.646 A

40 Azitromycin 500mg tab tab 1579 Rp11,000.00 Rp17,369,000.00 0.243 45.133 A

41 Levofloxacin inf DPHO btl 341 Rp50,000.00 Rp17,050,000.00 0.238 45.613 A

42 rifampicim 450mg tab 8807 Rp1,870.00 Rp16,469,090.00 0.23 46.079 A

43 Candesartan 8mg tab tab 3310 Rp4,950.00 Rp16,384,500.00 0.229 46.309 A

44 Cendo Cenfresh MD psc 560 Rp27,830.00 Rp15,584,800.00 0.218 47.651 A

45 Cefixime sy 100mg btl 409 Rp38,000.00 Rp15,542,000.00 0.217 47.868 A

46 Amloidipin 100mg tab tab 9084 Rp1,704.00 Rp15,479,136.00 0.216 48.301 A

47 Ambroxol tb 20mg tab 76250 Rp203.00 Rp15,478,750.00 0.216 48.518 A

48 Oxytocin 1014 Ing amp 5598 Rp2,750.00 Rp15,394,500.00 0.215 48.733 A

49 Simvastatin 20mg DPHO tab 31040 Rp493.00 Rp15,302,720.00 0.214 49.161 A

50 Ketorolac tab 10mg tab 5500 Rp2,750.00 Rp15,125,000.00 0.211 49.372 A

51 Domperidon tab DPHO tab 33850 Rp444.00 Rp15,029,400.00 0.21 49.794 A


Meloxicam 7,5mg tab
52 tab 27050 Rp550.00 Rp14,877,500.00 0.208 50.21 A
DPHO
Ranitidine 150mg tab
53 tab 55700 Rp253.00 Rp14,092,100.00 0.197 50.816 A
DPHO
54 Novomix 30 Flexpen ing pcs 76 Rp168,087.00 Rp12,774,612.00 0.179 52.111 A V

55 Rhinos sr. Cap tab 2520 Rp4,950.00 Rp12,474,000.00 0.174 52.461 A

56 PCT syr btl 1929 Rp6,400.00 Rp12,345,600.00 0.173 52.634 A

57 Ambroxol sr btl 3241 Rp3,791.00 Rp12,286,631.00 0.172 52.805 A

58 Cendolyters MD stp 580 Rp21,176.00 Rp12,282,080.00 0.172 52.977 A

59 Inj Ranitidin amp 2757 Rp4,400.00 Rp12,130,800.00 0.17 53.318 A

60 Betahistine tab DPHO tab 12960 Rp924.00 Rp11,975,040.00 0.167 53.654 A

61 Cetirizine 10mg tab tab 32770 Rp360.00 Rp11,797,200.00 0.165 53.819 A

62 Qten 100mg caps tab 1050 Rp11,000.00 Rp11,550,000.00 0.161 54.145 A N

63 Cetirizine syr DPHO btl 1091 Rp10,440.00 Rp11,390,040.00 0.159 54.304 A

64 Amlodipin 5mg DPHO tab 56000 Rp187.00 Rp10,472,000.00 0.146 55.531 A

65 Propanolol 10 mg tab Tab 3200 Rp77.00 Rp246,400.00 0.003 55.681 A


66 captopril 25mg tab Tab 1885 Rp124.00 Rp233,740.00 0.003 55.684 A V

67 ptu 100 mg tab Tab 1815 Rp432.00 Rp784,080.00 0.011 55.695 A V

68 captopril 12.5mg tab Tab 1600 Rp112.00 Rp179,200.00 0.003 55.697 A V

69 nifedipin tab Tab 1300 Rp186.00 Rp241,800.00 0.003 55.701 A V

70 digoxin 0,25mg tab Tab 1000 Rp130.00 Rp130,000.00 0.002 55.703 A V

71 isosorbide dinitrat tab 5mg Tab 610 Rp123.00 Rp75,030.00 0.001 55.704 A V

72 lisinopril 5mg Tab 600 Rp335.00 Rp201,000.00 0.003 55.706 A

73 euthyrox 100 mg tab Tab 100 Rp1,994.00 Rp199,400.00 0.003 55.729 A V

74 asam tranexamat 250mg inj Amp 65 Rp4,600.00 Rp299,000.00 0.004 55.733 A

75 fenofibrate 200 caps Tab 60 Rp4,474.00 Rp268,440.00 0.004 55.737 A

76 ventolin inhaler dpho pcs 163 Rp63,750.00 Rp10,391,250.00 0.145 55.882 A

77 hemobion cap tab 6000 Rp1,596.00 Rp9,576,000.00 0.134 56.988 A N

78 pct tab tab 47448 Rp200.00 Rp9,489,600.00 0.133 57.254 A

79 amoxicillin sy 125mg dpho Btl 1634 Rp5,500.00 Rp8,987,000.00 0.126 58.891 A

80 asam mefenamat 500 mg Tab 40950 Rp218.00 Rp8,927,100.00 0.125 59.015 A

81 folic acid tab 1 mg dpho Tab 56100 Rp157.00 Rp8,807,700.00 0.123 59.139 A
levofloxacin 500mg tab
82 Tab 7430 Rp1,154.00 Rp8,574,220.00 0.12 59.38 A
dpho
83 im boost force tab Tab 1320 Rp6,233.00 Rp8,227,560.00 0.115 60.085 A N

84 cefadroxil 125 sy dpho Btl 1265 Rp6,396.00 Rp8,090,940.00 0.113 60.198 A

85 ethambutol tab 500 mg Tab 9300 Rp868.00 Rp8,072,400.00 0.113 60.311 A V

86 simvastatin 20mg tab Tab 7730 Rp1,026.00 Rp7,930,980.00 0.111 60.422 A

87 fluconazole 150 mg tab Tab 350 Rp22,000.00 Rp7,700,000.00 0.108 60.967 A


pyrazinamide 500mg tab
88 Tab 27100 Rp281.00 Rp7,615,100.00 0.106 61.074 A V
dpho
asam traneksamat 500mg
89 Amp 686 Rp11,000.00 Rp7,546,000.00 0.105 61.179 A
inj
90 betahistine 6mg tab Tab 8118 Rp924.00 Rp7,501,032.00 0.105 61.284 A

91 folic acid tab 1 mg Mg 47610 Rp157.00 Rp7,474,770.00 0.105 61.389 A

92 ketoprofen 100 mg tab Tab 5515 Rp1,350.00 Rp7,445,250.00 0.104 61.597 A

93 dobutel inj 5 ml Vial 47 Rp158,125.00 Rp7,431,875.00 0.104 61.701 A V

94 spiramycin tab 500 mg Tab 3250 Rp2,266.00 Rp7,364,500.00 0.103 61.804 A V

95 cilostazol 100mg tab Tab 700 Rp10,450.00 Rp7,315,000.00 0.102 61.906 A

96 seloxy capl Tab 1320 Rp5,207.00 Rp6,873,240.00 0.096 62.293 A N

97 vit.c inj 100mg/2ml Amp 1001 Rp6,413.00 Rp6,419,413.00 0.09 62.666 A N

98 ranitidin generic Tab 29140 Rp220.00 Rp6,410,800.00 0.09 62.756 A

99 glucophage tab 500 mg Tab 3300 Rp1,914.00 Rp6,316,200.00 0.088 62.844 A V

100 mannitol 20% inf 500 ml Btl 49 Rp125,000.00 Rp6,125,000.00 0.086 63.018 A V

101 alprazolam 0.5mg tab Tab 5000 Rp1,205.00 Rp6,025,000.00 0.084 63.186 A

102 prohytens 5mg tab Tab 870 Rp6,600.00 Rp5,742,000.00 0.08 63.266 A

103 na diklofenak 50 dpho Tab 26300 Rp218.00 Rp5,733,400.00 0.08 63.347 A

104 bicnat tab Mg 40800 Rp130.00 Rp5,304,000.00 0.074 64.044 A V

105 tempra syr 60 ml Btl 2 Rp40,000.00 Rp80,000.00 0.001 65.192 A

106 neurobion inj 5000 mg Amp 520 Rp8,987.00 Rp4,673,240.00 0.065 65.257 A N

107 asam traneksamat inj250mg Amp 599 Rp7,700.00 Rp4,612,300.00 0.064 65.321 A
clindamycin 300mg caps
108 Cap 3300 Rp1,375.00 Rp4,537,500.00 0.063 65.448 A
dpho
109 dulcolax sup 10 mg Tab 215 Rp20,768.00 Rp4,465,120.00 0.062 65.511 A

110 curcuma tab Tab 4810 Rp924.00 Rp4,444,440.00 0.062 65.573 A N

111 opimox tab 500mg Tab 1607 Rp2,750.00 Rp4,419,250.00 0.062 65.635 A

112 ramipril 5 mg tab dpho Tab 7900 Rp557.00 Rp4,400,300.00 0.062 65.696 A V
113 lesichol 300 mg cap Tab 480 Rp8,800.00 Rp4,224,000.00 0.059 66.296 A N

114 clonidine 0.15mg tab (dpho) Tab 17100 Rp246.00 Rp4,206,600.00 0.059 66.355 A V

115 provital plus tab Tab 750 Rp5,225.00 Rp3,918,750.00 0.055 66.873 A N

116 mertigo tab 6mg Tab 1200 Rp3,245.00 Rp3,894,000.00 0.054 66.928 A

117 neo ginoxa supp Tab 250 Rp15,180.00 Rp3,795,000.00 0.053 66.981 A

118 candistin drops Btl 102 Rp37,180.00 Rp3,792,360.00 0.053 67.034 A

119 ferlin syr Btl 99 Rp38,300.00 Rp3,791,700.00 0.053 67.087 A N

120 allopurinol 100mg tab dpho Tab 26400 Rp143.00 Rp3,775,200.00 0.053 67.14 A

121 bisolvon sy k (60 ml) Ml 120 Rp31,314.00 Rp3,757,680.00 0.053 67.192 A

122 lactulax syr 60 ml Btl 77 Rp48,400.00 Rp3,726,800.00 0.052 67.296 A

123 clindamycin cap 300mg Cap 2700 Rp1,375.00 Rp3,712,500.00 0.052 67.4 A

124 benoson cr 15 gr Mg 115 Rp32,000.00 Rp3,680,000.00 0.051 67.503 A

125 bioplacenton gel Mg 226 Rp15,950.00 Rp3,604,700.00 0.05 67.554 A

126 dextrose 10% (d 10) 500 ml Kolf 208 Rp16,830.00 Rp3,500,640.00 0.049 67.752 A

127 diazepam 2 mg Mg 17361 Rp200.00 Rp3,472,200.00 0.049 67.801 A

128 simvastatin 10mg tab dpho Tab 14100 Rp246.00 Rp3,468,600.00 0.048 67.849 A

129 lidocain inj Amp 1952 Rp1,760.00 Rp3,435,520.00 0.048 67.897 A

130 ibuprofen 400 tab Tab 10510 Rp320.00 Rp3,363,200.00 0.047 67.992 A

131 proris sy Btl 152 Rp22,000.00 Rp3,344,000.00 0.047 68.038 A

132 obh ika 100 ml Btl 327 Rp9,900.00 Rp3,237,300.00 0.045 68.084 A

133 acyclovir 400mg tab dpho Tab 4630 Rp698.00 Rp3,231,740.00 0.045 68.129 A

134 vitb12 50 mcg tab Tab 45350 Rp69.00 Rp3,129,150.00 0.044 68.35 A N

135 nacoflar tab 50mg Tab 1590 Rp1,958.00 Rp3,113,220.00 0.044 68.393 A

136 vaksin tt/pasien Amp 245 Rp12,500.00 Rp3,062,500.00 0.043 68.566 A V

137 allopurinol 300mg tab dpho Tab 10100 Rp275.00 Rp2,777,500.00 0.039 69.337 A

138 sangobion cap Tab 2550 Rp1,089.00 Rp2,776,950.00 0.039 69.376 A N

139 etabion tab Tab 6910 Rp400.00 Rp2,764,000.00 0.039 69.492 A

140 asam sulfosalisat 100ml Btl 500 Rp5,500.00 Rp2,750,000.00 0.038 69.531 A

141 probenid tablet dpho Tab 1544 Rp1,780.00 Rp2,748,320.00 0.038 69.569 A

142 stesolid 5mg tab Tab 1500 Rp1,694.00 Rp2,541,000.00 0.036 69.752 A V

143 zinkid syr dpho Btl 84 Rp30,250.00 Rp2,541,000.00 0.036 69.788 A

144 antalgin 500mg tab dpho Tab 10830 Rp233.00 Rp2,523,390.00 0.035 69.823 A

145 furosemide 40mg tab dpho Tab 13700 Rp182.00 Rp2,493,400.00 0.035 69.928 A V

146 moloco tab b12 Tab 720 Rp3,353.00 Rp2,414,160.00 0.034 70.245 A N

147 betason cr 5 gr Mg 275 Rp8,745.00 Rp2,404,875.00 0.034 70.279 A

148 dexamethason inj 5mg/ml Amp 990 Rp2,402.00 Rp2,377,980.00 0.033 70.346 A

149 pregabalin caps 150mg Tab 240 Rp9,900.00 Rp2,376,000.00 0.033 70.379 A

150 enervon c tab Tab 2335 Rp1,016.00 Rp2,372,360.00 0.033 70.412 A N


mannitol 20% inf 500ml
151 Btl 60 Rp39,500.00 Rp2,370,000.00 0.033 70.445 A
dpho
152 depakote er tab dpho Tab 800 Rp2,900.00 Rp2,320,000.00 0.032 70.543 A V

153 ctm tab 4 mg Tab 14920 Rp155.00 Rp2,312,600.00 0.032 70.575 A

154 kalnex 250 mg tab Tab 1300 Rp1,760.00 Rp2,288,000.00 0.032 70.607 A

155 domperidone 10mg tab Tab 5605 Rp404.00 Rp2,264,420.00 0.032 70.639 A

156 esilgan 1 mg tab Tab 600 Rp3,555.00 Rp2,133,000.00 0.03 70.914 A V

157 asthin force tab Tab 270 Rp7,883.00 Rp2,128,410.00 0.03 70.944 A N

158 ibuprofen sy dpho Ml 336 Rp6,294.00 Rp2,114,784.00 0.03 71.003 A

159 bactesyn tab 375 mg Tab 120 Rp17,600.00 Rp2,112,000.00 0.03 71.033 A

160 neuralgin tab Tab 3200 Rp660.00 Rp2,112,000.00 0.03 71.062 A


161 zemyc caps 150mg Cap 33 Rp63,800.00 Rp2,105,400.00 0.029 71.092 A

162 bc (b complex) dpho tab Tab 16800 Rp120.00 Rp2,016,000.00 0.028 71.148 A N

163 betamethasone cream dpho Tbe 1393 Rp1,380.00 Rp1,922,340.00 0.027 71.258 A

164 phenytoin inj 2 ml Amp 50 Rp35,750.00 Rp1,787,500.00 0.025 71.335 A

165 cendo xitrol eye.d 5 ml Btl 45 Rp39,462.00 Rp1,775,790.00 0.025 71.409 A

166 curvit cl emuls 175 ml Btl 35 Rp49,500.00 Rp1,732,500.00 0.024 71.434 A N

167 fluconazole infus 200mg Btl 10 Rp170,000.00 Rp1,700,000.00 0.024 71.481 A


furosemide 10mg/ml inj
168 Amp 824 Rp2,058.00 Rp1,695,792.00 0.024 71.505 A V
dpho
169 zinc 20mg tab dpho Tab 3500 Rp475.00 Rp1,662,500.00 0.023 71.528 A

170 kayu putih (caplang) 60 ml Btl 100 Rp16,225.00 Rp1,622,500.00 0.023 71.688 A N

171 antasida tab dpho Tab 7600 Rp211.00 Rp1,603,600.00 0.022 71.71 A

172 gemfibrozil 300mg tab dpho Tab 4200 Rp380.00 Rp1,596,000.00 0.022 71.733 A

173 dexamethason 0,5 mg tab Tab 11510 Rp135.00 Rp1,553,850.00 0.022 71.776 A

174 paratusin sy Btl 68 Rp22,382.00 Rp1,521,976.00 0.021 71.862 A

175 ascardia 80 mg Tab 1600 Rp935.00 Rp1,496,000.00 0.021 71.883 A V

176 inh 100 mg generic Tab 10000 Rp143.00 Rp1,430,000.00 0.02 71.945 A V

177 aminophyllin inj 10 ml Amp 217 Rp6,188.00 Rp1,342,796.00 0.019 72.101 A V

178 simvastatin 10mg Tab 2607 Rp513.00 Rp1,337,391.00 0.019 72.12 A

179 ferlin drops Btl 43 Rp28,600.00 Rp1,229,800.00 0.017 72.332 A N


isosorbide dinitrat 5mg
180 Tab 4700 Rp123.00 Rp578,100.00 0.008 72.44 A V
dpho
181 salbutamol 4 mg Tab 4700 Rp121.00 Rp568,700.00 0.008 72.448 A

182 dulcolax sup 5 mg Tab 30 Rp18,590.00 Rp557,700.00 0.008 72.464 A


doxycycline 100mg caps
183 Cap 2400 Rp195.00 Rp468,000.00 0.007 72.477 A
dpho
184 captopril tab 25 mg Tab 2900 Rp138.00 Rp400,200.00 0.006 72.564 A

185 novorapid flexpen dpho Pcs 3033 Rp87,000.00 Rp263,871,000.00 3.689 80.303 B

186 micardis 80mg tab dpho Tab 31560 Rp6,500.00 Rp205,140,000.00 2.868 83.171 B

187 diltiazem 30mg tab dpho Tab 300 Rp122.00 Rp36,600.00 0.001 87.529 B

188 haloperidol 5mg tab Tab 300 Rp122.00 Rp36,600.00 0.001 87.53 B

189 mgso4 dpho 40mg Fls 9 Rp3,651.00 Rp32,859.00 0 87.53 B

190 canesten cr 5 gr Mg 1 Rp28,000.00 Rp28,000.00 0 87.531 B

191 oralit 200ml sach dpho Sct 100 Rp264.00 Rp26,400.00 0 87.531 B

192 clopedin inj Amp 1 Rp25,850.00 Rp25,850.00 0 87.531 B

193 vit.k3 inj Amp 7 Rp3,346.00 Rp23,422.00 0 87.532 B

194 desoximetasone cream 15gr Tbe 1 Rp21,272.00 Rp21,272.00 0 87.532 B

195 pharmaton formula cap Tab 300 Rp4,205.00 Rp1,261,500.00 0.018 92.87 B N

196 enervon c tab Tab 2335 Rp1,016.00 Rp2,372,360.00 0.033 98.704 C N

197 lanturol 400 mg cap Tab 800 Rp4,400.00 Rp3,520,000.00 0.049 98.753 C N

198 vitacimin tab Tab 500 Rp618.00 Rp309,000.00 0.004 98.757 C N

199 glucosamine 500 mg Tab 300 Rp1,600.00 Rp480,000.00 0.007 98.77 C N

200 mediamer b6 tab Tab 100 Rp2,829.00 Rp282,900.00 0.004 98.774 C N

201 optimax capl Tab 60 Rp6,453.00 Rp387,180.00 0.005 98.78 C E

202 sirplus syr Btl 49 Rp13,200.00 Rp646,800.00 0.009 98.789 C N

203 vistrum syr 60 ml Btl 16 Rp28,600.00 Rp457,600.00 0.006 98.795 C N

204 vitb12 50 mcg tab Tab 45350 Rp69.00 Rp3,129,150.00 0.044 98.84 C N

205 b6 10 mg Mg 18300 Rp148.00 Rp2,708,400.00 0.038 98.877 C N

206 bc (b complex) Tab 16800 Rp120.00 Rp2,016,000.00 0.028 98.906 C N

207 vitb1 100 mg Tab 5000 Rp99.00 Rp495,000.00 0.007 98.913 C N


208 sangobion cap Tab 2550 Rp1,089.00 Rp2,776,950.00 0.039 98.951 C N

209 enervon c tab Tab 2335 Rp1,016.00 Rp2,372,360.00 0.033 98.985 C N

210 forbetes tab 850 mg Tab 300 Rp902.00 Rp270,600.00 0.004 99.008 C E

211 euthyrox 100 mg tab Tab 100 Rp1,994.00 Rp199,400.00 0.003 99.011 C V

212 rimactazyd paed 75/50 Tab 90 Rp2,189.00 Rp197,010.00 0.003 99.013 C E

213 clopedin inj Amp 1 Rp25,850.00 Rp25,850.00 0 99.014 C V

214 dormicum inj 5mg/5ml Amp 1 Rp6,119.00 Rp6,119.00 0 99.014 C V

215 fargoxin inj Amp 1 Rp53,300.00 Rp53,300.00 0.001 99.014 C V

216 piroxicam 20 mg Tab 1400 Rp160.00 Rp224,000.00 0.003 99.018 C E

217 betamethasone cream Tbe 1393 Rp1,380.00 Rp1,922,340.00 0.027 99.044 C E

218 kalnex 250 mg tab Tab 1300 Rp1,760.00 Rp2,288,000.00 0.032 99.076 C E

219 phenobarbital 30 mg Mg 1300 Rp240.00 Rp312,000.00 0.004 99.081 C E

220 logista tablet Tab 600 Rp4,087.00 Rp2,452,200.00 0.034 99.115 C E

221 vip albumin cap Cap 90 Rp7,433.00 Rp668,970.00 0.009 99.124 C E

222 sistenol tab Tab 60 Rp1,540.00 Rp92,400.00 0.001 99.126 C E

223 lincyn caps 500mg Cap 50 Rp5,500.00 Rp275,000.00 0.004 99.13 C E

224 mylanta sy 150 ml (k) Btl 46 Rp31,394.00 Rp1,444,124.00 0.02 99.15 C E

225 likurmin sy 100 ml Btl 35 Rp42,900.00 Rp1,501,500.00 0.021 99.171 C N

226 qten 100 mg caps Tab 1050 Rp11,000.00 Rp11,550,000.00 0.161 99.332 C N

TOTAL Rp2,889,489,048.00

Caranya:
a. Hitung jumlah dana yang di butuhkan untuk masing-masing obat dengan cara mengelikan jumlah obat
dengan harga obat.
b. Tentukan Rangkingnya Mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil
c. Hitung presentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan.
d. Hitung akumulasi persennya.
e. Perbekalan farmasi kategori A termasuk dalam kumulasi 70%.
f. Perbekalan farmasi kategori B termasuk dalam kumulas 71-90%.
g. Perbekalan farmasi kategori C termasuk dalam kumulasi 90-100%
a. Nilai Pemakaian

No nama obat satuan jumlah persentase % kumulatif kelas


1 METFORMIN 500MG TAB DPHO Tab 191200 4.475 4.475 A
2 PARACETAMOL 500MG DPHO CAPL 117700 2.755 7.230 A
3 MECOBALAMIN CAPS 500 MG Tab 115533 2.704 9.933 A
4 OMEPRAZOLE 20MG DPHO Tab 96264 2.253 12.186 A
METHYLPREDNISOLON 4MG TAB
5 DPHO Tab 91800 2.148 14.335 A
6 ASAM MEFENAMAT 500MG DPHO Tab 88894 2.080 16.415 A
7 AMBROXOL TAB 30 MG Tab 76250 1.784 18.200 A
8 ASPILETS TAB DPHO Tab 67000 1.568 19.768 A
9 MELOXICAM 15MG TAB DPHO Tab 65050 1.522 21.290 A
10 AMLODIPIN 10MG TAB DPHO Tab 64924 1.519 22.809 A
11 CEFADROXIL 500MG DPHO Tab 61100 1.430 24.239 A
12 AMLODIPIN 5MG DPHO TAB Tab 56600 1.325 25.564 A
13 FOLIC ACID TAB 1 MG DPHO Tab 56100 1.313 26.877 A
14 RANITIDINE 150MG TAB DPHO Tab 55700 1.304 28.180 A
15 AMOXICILLIN 500MG TAB DPHO Tab 54700 1.280 29.461 A
METHYLPREDNISOLON 8MG
16 DPHO Tab 52400 1.226 30.687 A
17 GLIQUIDONE 30 MG TAB DPHO Tab 50734 1.187 31.874 A
18 CALCII CARBONAT LIGHT 1 GR Tab 50000 1.170 33.044 A
19 FOLIC ACID TAB 1 MG Mg 47610 1.114 34.159 A
20 PARACETAMOL TAB Tab 47448 1.110 35.269 A
21 CETIRIZINE 10MG CAP DPHO Tab 46670 1.092 36.361 A
22 OMEPRAZOLE 20 MG Tab 45756 1.071 37.432 A
23 GLIMEPIRIDE 2MG DPHO Tab 45400 1.063 38.495 A
24 VITB12 50 MCG TAB Tab 45350 1.061 39.556 A
25 BISOPROLOL 5MG DPHO Tab 44200 1.034 40.590 A
26 CEFIXIM CAP 100MG DPHO Vial 43000 1.006 41.597 A
27 CANDESARTAN TI 8 MG DPHO Tab 41340 0.967 42.564 A
28 LANSOPRAZOLE CAP 30MG DPHO Tab 41020 0.960 43.524 A
29 ASAM MEFENAMAT 500 MG Tab 40950 0.958 44.483 A
30 BICNAT TAB Mg 40800 0.955 45.437 A
31 SALBUTAMOL 2MG TAB DPHO Tab 34200 0.800 46.238 A
32 DOMPERIDON TAB DPHO Tab 33850 0.792 47.030 A
33 CETIRIZINE 10MG TAB Tab 32770 0.767 47.797 A
34 MICARDIS 80MG TAB DPHO Tab 31560 0.739 48.536 A
35 SIMVASTATIN 20 MG DPHO Tab 31040 0.726 49.262 A
36 CANDESARTAN TI 16 MG DPHO Tab 29250 0.685 49.946 A
37 RANITIDIN GENERIC Tab 29140 0.682 50.628 A
PYRAZINAMIDE 500MG TAB
38 DPHO Tab 27100 0.634 51.263 A
39 MELOXICAM 7.5MG TAB DPHO Tab 27050 0.633 51.896 A
40 NITROKAF RETARD DPHO Tab 26500 0.620 52.516 A
41 ALLOPURINOL 100MG TAB DPHO Tab 26400 0.618 53.134 A
42 NA DIKLOFENAK 50 DPHO Tab 26300 0.616 53.749 A
43 IBUPROFEN 400MG TAB DPHO Tab 26100 0.611 54.360 A
44 CEFIXIME 100MG CAPS Tab 26034 0.609 54.969 A
45 ETHAMBUTOL 500MG DPHO Tab 25600 0.599 55.568 A
46 HARNAL OCAS DPHO Tab 25290 0.592 56.160 A
47 CLOPIDOGREL 75 MG DPHO Tab 25110 0.588 56.748 A
48 SIRPLUS TAB Tab 25000 0.585 57.333 A
49 CEFADROXIL CAP 500 MG Tab 24026 0.562 57.895 A
50 CTM TAB DPHO Tab 22900 0.536 58.431 A
51 HALOGEN LAMP Psc 22500 0.527 58.958 A
CIPROFLOXACIN 500MG TAB
52 DPHO Tab 22400 0.524 59.482 A
METHYLPREDNISOLONE TAB 4
53 MG Tab 21810 0.510 59.993 A
DEXAMETHASONE 0.5MG TAB
54 DPHO Tab 20470 0.479 60.472 A
55 MELOXICAM 15 MG CAP Tab 20300 0.475 60.947 A
56 AVODART CAPSUL DPHO Tab 20040 0.469 61.416 A
57 SPIRIVA 18 MCG REF DPHO Cap 19099 0.447 61.863 A
58 PYREXIN TAB 500MG Tab 19025 0.445 62.308 A
59 AMOXICILLYN KAP 500 MG Tab 18922 0.443 62.751 A
60 B6 10 MG Mg 18300 0.428 63.179 A
61 CODEIN 20 MG TAB Mg 17733 0.415 63.594 A
62 LANSOPRAZOLE CAP 30MG Cap 17661 0.413 64.007 A
63 ALPENTIN 100MG DPHO Tab 17456 0.409 64.416 A
64 DIAZEPAM 2 MG Mg 17361 0.406 64.822 A
65 CLONIDINE 0.15MG TAB (DPHO) Tab 17100 0.400 65.222 A
66 BC (B COMPLEX) DPHO TAB Tab 16800 0.393 65.616 A
67 METHYLPREDNISOLON TAB 8MG Tab 16600 0.388 66.004 A
68 PYRAZYNAMIDE TAB 500 MG Tab 16600 0.388 66.393 A
69 RIFAMPICIN 600MG DPHO Tab 16500 0.386 66.779 A
70 TRAMADOL TAB Tab 16460 0.385 67.164 A
71 METFORMIN TAB 500 MG TAB Tab 16000 0.374 67.538 A
72 GLISERIN DOW1 CC Btl 16000 0.374 67.913 A
73 RIFAMPICIN 450MG TAB DPHO Tab 15700 0.367 68.280 A
74 FOLAMIL GENIO TAB Tab 14970 0.350 68.631 A
75 CTM TAB 4 MG Tab 14920 0.349 68.980 A
76 METHYL ERGOMETRIN TAB. Tab 14800 0.346 69.326 A
77 GG TAB Tab 14700 0.344 69.670 A
78 SIMVASTATIN 10MG TAB DPHO Tab 14100 0.330 70.000 A
79 CODEIN 10 MG TAB Mg 14039 0.329 70.329 A
80 FUROSEMIDE 40MG TAB DPHO Tab 13700 0.321 70.649 A
81 FOLAC TAB Tab 13600 0.318 70.968 A
82 CODEIN 15 MG TAB Mg 13532 0.317 71.284 A
83 BETAHISTINE TAB DPHO Tab 12960 0.303 71.588 A
84 KALK 500 MG DPHO Tab 12850 0.301 71.888 A
85 ONDANSENTRON 4 TAB DPHO Tab 12288 0.288 72.176 A
86 NA DICLOFENAC 50MG TAB Tab 12150 0.284 72.460 A
87 SALBUTAMOL 4MG TAB DPHO Tab 11900 0.278 72.739 A
88 KALK TAB 500 MG Tab 11670 0.273 73.012 A
89 DEXAMETHASON 0,5 MG TAB Tab 11510 0.269 73.281 A
90 RANITIDIN INJ DPHO Amp 11246 0.263 73.544 A
91 GLURENORM 30MG TAB DPHO Tab 11200 0.262 73.807 A
92 ANTALGIN 500MG TAB DPHO Tab 10830 0.253 74.060 A
93 IBUPROFEN 400 TAB Tab 10510 0.246 74.306 A
94 BRAXIDIN TAB Tab 10306 0.241 74.547 A
95 VALSARTAN NI 80MG TAB DPHO Tab 10260 0.240 74.787 A
96 ALLOPURINOL 300MG TAB DPHO Tab 10100 0.236 75.024 A
97 ANEMOLAT TAB Tab 10005 0.234 75.258 A
98 INH 100 MG GENERIC Tab 10000 0.234 75.492 A
99 TRIAMCINOLON 4MG TAB Tab 9900 0.232 75.724 A
100 BISOPROLOL.F TAB 5 MG Tab 9795 0.229 75.953 A
101 ONDANSETRON INJ 4MG DPHO Amp 9790 0.229 76.182 A
SPIRONOLACTONE TAB
102 25MGDPHO Tab 9700 0.227 76.409 A
103 RHINOFED TAB Tab 9606 0.225 76.634 A
104 ONDANSETRON 4MG TAB Tab 9595 0.225 76.858 A
105 RIFAMPICIN 600 MG (L) Tab 9407 0.220 77.078 A
106 ETHAMBUTOL TAB 500 MG Tab 9300 0.218 77.296 A
107 GLIMEPIRIDE 1MG TAB DPHO Tab 9300 0.218 77.514 A
108 IBUPROFEN 200MG TAB DPHO Tab 9300 0.218 77.731 A
109 GLIMEPIRIDE 3 MG DPHO Tab 9250 0.216 77.948 A
110 AMLODIPIN 10 MG TAB Tab 9084 0.213 78.160 A
111 CIPROFLOXACIN 500 MG Tab 9070 0.212 78.373 A
112 EFLIN TAB Tab 9000 0.211 78.583 A
113 VITC. 50 MG Tab 9000 0.211 78.794 A
114 RIFAMPICIN 450 MG (L) Tab 8807 0.206 79.000 A
115 CEFTRIAXONE 1GR DPHO Vial 8801 0.206 79.206 A
116 VITB12 50MCG TAB DPHO Tab 8700 0.204 79.410 A
117 NEW DIATAB TAB Tab 8459 0.198 79.608 A
118 PTU 100MG TAB DPHO Tab 8400 0.197 79.804 A
119 HERBESSER CD 100MG DPHO Tab 8300 0.194 79.998 A
120 VIT.C 50MG TAB DPHO Tab 8300 0.194 80.193 B
121 BETAHISTINE 6MG TAB Tab 8118 0.190 80.383 B
122 LORATADINE 10 MG DPHO Tab 8100 0.190 80.572 B
123 HARNAL D 0,2 MG DPHO Tab 8096 0.189 80.762 B
124 TRILAC 4MG TAB Tab 7920 0.185 80.947 B
125 RAMIPRIL 5 MG TAB DPHO Tab 7900 0.185 81.132 B
126 SIMVASTATIN 20MG TAB Tab 7730 0.181 81.313 B
127 DEPAKOTE 250MG TAB DPHO Tab 7700 0.180 81.493 B
128 GLIMEPIRIDE 4MG TAB DPHO Tab 7600 0.178 81.671 B
129 ANTASIDA TAB DPHO Tab 7600 0.178 81.849 B
130 NITROKAF RETARD FORTE DPHO Tab 7500 0.176 82.024 B
LEVOFLOXACIN 500MG TAB
131 DPHO Tab 7430 0.174 82.198 B
132 MELOXICAM 7,5 MG CAP Tab 7400 0.173 82.371 B
133 AMLODIPIN 5 MG TAB Tab 7350 0.172 82.543 B
134 BC (B.COMPLEX TAB) Mg 7300 0.171 82.714 B
135 PHENYTOIN CAP 100 DPHO Cap 7000 0.164 82.878 B
136 ETABION TAB Tab 6910 0.162 83.040 B
137 ENZYPLEX TAB Tab 6764 0.158 83.198 B
138 VALSARTAN TAB 160MG DPHO Tab 6720 0.157 83.355 B
139 NEUROBION TAB Tab 6700 0.157 83.512 B
140 EPERISONE HCL 50MG Tab 6600 0.154 83.667 B
141 MICARDIS 40 MG DPHO Tab 6560 0.154 83.820 B
142 METRONIDAZOLE TAB DPHO Tab 6550 0.153 83.973 B
143 MEFIX TAB 500MG Tab 6300 0.147 84.121 B
144 ANALSIK TAB Mg 6264 0.147 84.267 B
145 HEMOBION CAP Tab 6000 0.140 84.408 B
146 FEMISIC TAB 500MG Tab 5760 0.135 84.543 B
147 ALBUFORCE 500MG TAB Tab 5700 0.133 84.676 B
148 KETOROLAC INJ 30MG DPHO Amp 5627 0.132 84.808 B
149 DOMPERIDONE 10MG TAB Tab 5605 0.131 84.939 B
150 CEFIXIM 200MG CAP Cap 5600 0.131 85.070 B
151 KSR TAB DPHO Tab 5600 0.131 85.201 B
152 OXYTOCIN "S" 10IU INJ Amp 5598 0.131 85.332 B
153 KETOPROFEN 100 MG TAB Tab 5515 0.129 85.461 B
154 KETOROLAC TAB 10 MG Tab 5500 0.129 85.590 B
155 METFORMIN 850MG TAB DPHO Tab 5500 0.129 85.719 B
156 ALLOPURINOL TAB 100MG Tab 5400 0.126 85.845 B
157 B6 10 MG DPHO Tab 5400 0.126 85.971 B
158 FLUNARIZIN 5 MG TAB Tab 5357 0.125 86.097 B
159 CAL - 95 KAPLET Tab 5280 0.124 86.220 B
160 ATORVASTATIN 20MG TAB Tab 5190 0.121 86.342 B
161 LEVOFLOXACIN 500 TAB Tab 5175 0.121 86.463 B
162 STROMATOLYSER-WH Btl 5120 0.120 86.583 B
163 DIAFORM TAB Mg 5100 0.119 86.702 B
164 PIOGLITAZONE 15MG TAB Tab 5040 0.118 86.820 B
165 ALPRAZOLAM 0.5MG TAB Tab 5000 0.117 86.937 B
166 ASAM TRANEKSAMAT 500 DPHO Tab 5000 0.117 87.054 B
167 VITB1 100 MG Tab 5000 0.117 87.171 B
168 INH TAB 100MG DPHO Tab 5000 0.117 87.288 B
169 OBIMIN-AF CAPL Tab 4880 0.114 87.402 B
170 VITB1 50 MG TAB Mg 5000 0.117 87.519 B
171 CURCUMA TAB Tab 4810 0.113 87.632 B
172 CLOPIDOGREL 75 MG Tab 4780 0.112 87.744 B
ISOSORBIDE DINITRAT 5MG
173 DPHO Tab 4700 0.110 87.854 B
174 SALBUTAMOL 4 MG Tab 4700 0.110 87.964 B
175 ACYCLOVIR 400MG TAB DPHO Tab 4630 0.108 88.072 B
176 HERBESSER CD 200MG DPHO Tab 4586 0.107 88.179 B
177 ADALAT OROS 30MG DPHO Tab 4560 0.107 88.286 B
178 SALBUTAMOL 2 MG Tab 4515 0.106 88.392 B
179 VECTRINE CAP 300MG Tab 4400 0.103 88.495 B
180 ANTASID TAB Tab 4300 0.101 88.595 B
181 LORATADINE 10 MG TAB Tab 4257 0.100 88.695 B
182 GEMFIBROZIL 300MG TAB DPHO Tab 4200 0.098 88.793 B
183 CEFOTAXIME 1GR INJ DPHO Vial 4180 0.098 88.891 B
184 GABAPENTIN 300MG Tab 4140 0.097 88.988 B
185 THEOPHYLIN 100 MG Tab 4002 0.094 89.082 B
186 LOPAMID TAB Tab 3980 0.093 89.175 B
187 RIFAMPICIN 300 MG (L) Tab 3907 0.091 89.266 B
188 FOLAVICAP 400 TABLET Tab 3900 0.091 89.357 B
189 CANDESARTAN 16 MG TAB Tab 3810 0.089 89.447 B
190 CEFTRIAXONE 1 GR INJ Vial 3801 0.089 89.536 B
191 HEXIMER TAB 2 MG Tab 3800 0.089 89.625 B
192 CLONIDIN 0,15 MG TAB Tab 3800 0.089 89.713 B
193 NIFEDIPIN TAB 10MG DPHO Tab 3750 0.088 89.801 B
194 ONDANSETRON 8MG TAB DPHO Tab 3720 0.087 89.888 B
195 MUCOS TAB Tab 3700 0.087 89.975 B
196 ONDANSETRON 4MG/2ML INJ Amp 3664 0.086 90.061 B
197 SUCRALFATE SYR 100ML DPHO Btl 3526 0.083 90.143 B
198 ZINC 20MG TAB DPHO Tab 3500 0.082 90.225 B
199 ANTALGIN TAB Tab 3417 0.080 90.305 B
200 OFLOXACIN TAB 200 MG Tab 3410 0.080 90.385 B
TOTAL 4272926
Dari 226 items obat di Unit Farmasi RS Mulya dikelompokkan menurut besarnya jumlah
pemakaian. Pengelompokkan obat berdasarkan nilai pemakaian obat dalam analisis ABC di Unit
Farmasi RS Mulya, didapatkan hasil sebagai berikut:
Kelompok A : 119 item (19,77%) dari total item obat di unit farmasi dengan jumlah pemakaian
4272926 (79,99%) dari jumlah pemakaian seluruhnya.
Kelompok B : 157 item (26,08 %) dari total item obat di unit farmasi
Dengan jumlah pemakaian 4.272.926 (14,96%) dari
jumlah pemakaian seluruhnya.
Kelompok C: 326 item (54,15%) dari total item obat di unit farmasi denvgan jumlah pemakaian
4.272.926(5%)) dari jumlah pemakaian seluruhnya.
Hasil pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Table 1. Pengelompokkan obat dengan analisis ABC berdasarkan nilai pemakaian tahun 2017
Kelompok Jumlah item obat Persentase (%) Jumlah Pemakaian Persentase (%)
A 119 19,77 3.418.260 79.99
B 157 26,08 639.375 14.96
C 326 54,15 215.291 5
Total 602 100 4.272.926 100,00
a. Nilai Investasi
Untuk pengelompokkan obat berdasarkan nilai investasi obat dalam analisis ABC,
didapatkan hasil sebagai berikut :
Kelompok A : 489 item (81,22%) dari total item obat di unit farmasi dengan jumlah investasi
5.479.949.695 (76,61%) dari nilai investasi seluruhnya
Kelompok B : 29 item (4,81 %) dari total item obat di unit farmasi
Dengan jumlah investasi 1.269.970.877 (17,76%) dari nilai investasi seluruhnya
Kelompok C: 84 item (13,95%) dari total item obat di unit farmasi dengan jumlah investasi
402.731.907 (5,63%) dari nilai investasi seluruhnya
Hasil pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Table 2. Pengelompokkan obat dengan analisis ABC berdasarkan nilai pemakaian tahun 2017
Kelompok Jumlah item obat Persentase (%) Jumlah Investasi Persentase (%)
A 489 81,22 Rp. 5.479.949.695 76,61
B 29 4,81 Rp. 1.269.970.877 17,76
C 84 13,95 Rp. 402.731.907 5,63
Total 1277 100 Rp. 100,00
BAB VI
KESIMPULANDANSARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil survei yang telah dilakukan di Unit Farmasi RS Mulya didapatkan hasil bahwa
ternyata untuk mewujudkan suatu pelayanan farmasi yang profesional membutuhkan banyak faktor
penentu mulai dari SDM, Sarana Prasarana, SIM, SOP dan lain-lain yang satu sama lain saling
keterkaitan. Untuk itu dibutuhkan suatu perencanaan di semua point-point tersebut untuk
menyempurnakan pelayanan di Unit Farmasi.
Namun Rencana penyempurnaan di unit Farmasi RS membutuhkan waktu yang cukup lama tidak
cukup hanya satu bulan saja penelitian kemudian memperbaiki sistem yang sudah ada yang kemungkinan
sulit untuk diubah ditunjang dengan Sumber Daya Manusia yang masih terbatas dan kurangnya
pengetahuan tentang manajemen logistik farmasi serta sistem informasi farmasi Rumah Sakit dapat
menghambat kerja rencana penyempurnaan di Unit farmasi.
Kesimpulannya adalah pelayanan farmasi di RS belum dilakukan secara optimal yang disebabkan
oleh factor-faktor seperti: belum adanya struktur organisasi baku, kualitas dan kuantitas petugas kurang,
belum adanya Formularium Rumah Sakit, prosedur tetap (SOP) yang tidak lengkap dan pengawasan yang
kurang.

4.2 Saran
Saran untuk mencapai pelayanan farmasi secara optimal adalah menetapkan struktur organisasi yang
baku, pelatihan logistik farmasi bagi petugas, penetapan standar minimal pelayanan Farmasi, melakukan
proses pengadaan dan pengendalian obat dan alkes menggunakan metoda ABC, revisi Formularium
Rumah Sakit, dan kepada pihak manajemen untuk meng evaluasi pelayanan obat bagi karyawan agar
tercapainya efisiensi dan efektifitas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 72 tahun 2016 tentang standar
pelayanan kefarmasian di RS
2. Kementrian Kesehatan RI. PMK No.58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta, 2014.
3. Maimun, Ali 2008. Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi Metode Konsumsi
dengan Analisis ABC dan Reorder point terhadap Nilai Persediaan dan Turn Over Ratio di
Instalasi Farmasi RS Darul Istiqomah Kaliwungu Kendal (Tesis). Universitas Diponegoro.
Semarang
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman perencanaan dan Pengelolaan Obat.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 1990.
5. Suciati, S. Dan Wiku B.B Adisasmito. 2006. Analisis Perencanaan Obat Berdasarkan ABC
Indeks Kritis di Instalasi Farmasi. Universitas Indonesia. Jakarta.
6. Germas, Alih. Kuliah Manajemen dan Riset Operasi. Program Study Administrasi Rumah Sakit,
Universitas Respati Indonesia, Jakarta, 2008
7. Hamid, T.B.J. Elemen Pelayanan Minimum Farmasi di Rumah Sakit, Direktorat Jendral
Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Depertemen Kesehatan RI, diambil dari http://
www.yanfar.go.id
8. Siregar, Charles. Farmasi Rumah Sakit. EGC.Jakarta.200
9. Subagya. Manajemen Logistik. Penerbit CV. Hanmas Agung. Jakarta. 1994.