Anda di halaman 1dari 6

BAB II

ISI

2.1 Landasan Teori

a.Pancasila
Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara kita, Negara
Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad
XIV yang terdapat dalam buku Nagara Kertagama karangan Prapanca dan buku
Sutasoma karangan Tantular, dalam buku Sutasoma ini, selain mempunyai arti
“Berbatu sendi yang lima” (dari bahasa Sangsekerta) Pancasila juga mempunyai arti
“Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama), yaitu sebagai berikut:

· Tidak boleh melakukan kekerasan.

· Tidak boleh mencuri.

· Tidak boleh berjiwa dengki.

· Tidak boleh berbohong.

· Tidak boleh mengonsumsi minuman keras/obat-obatan terlarang.

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 18


Agustus 1945. sebagai dasar negara maka nilai-nilai kehidupan bernegara dan
pemerintahan sejak saat itu haruslah berdasarkan pada Pancasila, namun berdasrkan
kenyataan, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila tersebut telah dipraktikan oleh nenek
moyang bangsa Indonesia dan kita teruskan sampai sekarang.
Rumusan Pancasila yang dijadikan dasar negara Indonesia seperti tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan

perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Kelima sila tersebut sebagai satu kesatuan nilai kehidupan masyarakat Indonesia oleh
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dijadikan Dasar Negara Indonesia.

b. Isi dan makna sila ke-5

Telah kita bahas bahwa pancasila memiliki lima sila dan sila kelima berbunyi “Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dari sila tersebut memiliki beberapa makna yaitu,

(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.

(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

(4) Menghormati hak orang lain.

(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap
orang lain.

(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup
mewah.

(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.

(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.

(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa inti isi dari Sila Kelima,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu mengajak masyarakat aktif dalam
memberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-
masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir
dan batin selengkap mungkin bagi seluruh rakyat.

2.2 Kasus penyimpangan sila ke-5

“Tajudin si Penjual Cobek”

Kejadian Rabu taggal 20 April 2016 sekira pukul 22.00 WIB hingga kini masih
membekas di ingatan Tajudin sang penjual cobek yang sempat ditahan selama
sembilan bulan karena kasus dugaan trafficking. Hari dan jam itu merupakan waktu
Tajudin disergap oleh polisi berpakaian preman hingga berujung ke meja hijau.

Bapak tiga anak itu mengisahkan detik-detik 'penyergapan' yang dilakukan polisi pada
dia saat diundang untuk makan malam bersama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di
rumah dinasnya pada Senin (23/1/2016) petang. Dengan tatapan tajam dan sedikit
berkaca Tajudin menceritakan apa yang dialaminya saat itu hingga proses hukumnya
berakhir.

Pada awalnya Tajudin yang sudah menggeluti profesi sebagai penjual cobek selama
bertahun-tahun kembali berjualan dengan teman-temannya yang masih satu daerah.
Bedanya kali ini dua anak saudaranya bernama Dendi (15) dan Cepi (16) ikut
dengannya untuk berdagang di Tanggerang, Banten.

"Sebelum berangkat saya tanya dulu bener gak mau ikut. Saya bilang udah
kamu terusin sekolah jangan ikut dagang. Tapi keukeuh pada pengin ikut. Bahkan
orang tua dua anak itu juga datang ke rumah nitipin karena tetep pengin ikut dagang
dari pada sekolah," jelas Tajudin.

Akhirnya Tajudin bersama dua orang anak tersebut dan teman-teman seprofesi lainnya
berangkat ke Tanggerang. Mereka tinggal di sebuah rumah petak sewaan yang berisi
dua kamar, satu kamar mandi, dan satu dapur dari hasil patungan.
Di dalam mobil dia terus diinterograsi dengan alasan melakukan trafficking atau
mempekerjakan anak-anak untuk berjualan cobek. Namun karena tidak merasa apa yang
dituduhkan polisi, Tajudin pun terus mengelak. "Sampai-sampai saya digeplak tiga kali pakai
sendal," ungkapnya.

Kepada polisi Tajudin mengatakan jika tidak ada unsur paksaan apalagi niat mengeksploitasi
Dendi dan Cepi. Kedua anak itu justru berkeinginan sendiri untuk berjualan, dan keuntungan
jualan pun tidak pernah dia minta sedikit pun. Bahkan untuk sewa petakan kedua anak tersebut
tidak dibebaskan untuk patungan atau tidak.

"Jualan saja beda. Saya jual langsung ke pasar. Kalau Dendi dan Cepi di jalan atau ke rumah-
rumah. Hasil penjualan, ya mereka sendiri yang pegang. Untuk makan dan sisanya dibawa
pulang ke rumah," ucapnya.

Meski demikian polisi tetap bersih kukuh jika Tajudin diduga telah mengeksploitasi kedua anak
tersebut.

Hingga akhirnya tajudin dipenjarakan tanpa ada nya bukti yang kuat bahwa dia tidak
bersalah.

2.3 Penyelesainya

Pada kasus ini tajudin si penjual cobek berkata bahwa ia tidak bersalah sama
sekali karena pada kasus ini tajudin tidak merasa mengeksploitasi anak tetapi anak
tersebut ialah keponakan nya sendiri yang bernama dendi dan cepi, dan atas kemauan
anak itu sendiri. Tajudin juga telah menanyakan sebelumnya tentang kelanjutan
sekolahnya tetapi anak tersebutlah yang tidak mau melanjutkan sekolahnya bahkan
sang ibunda nya pun yang menitipkan anak tersebut kepada tajudin.

Lalu anak itupun ikut berjualan bersama tajudin menjual cobek, selama mereka
berjualan tajudin dicurigai oleh pihak kepolisian terhadap adanya eksploitasi anak.
Sampai akhirnya tingkat kecurigaan sang polisi pun meningkat dan tajudin di kenakan
UU Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPP) dengan ancaman 15 tahun penjara beserta
denda uang sebesar 150jt. Pasal itu adalah:

Pasal 2 ayat (1) UU No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana


Perdagangan Orang (TPPO). Yang berbunyi:

Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman,


pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan
kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau
posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh
persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi
orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 120 juta dan
paling banyak Rp 600 juta.

Pasal 88 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Yang berbunyi:

Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76I, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200 juta.

Adapun Pasal 76I UU No 35 Tahun 2014 menyatakan:

Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut
serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.

Setelah tajudin didakwa dan diberikan sanksi tersebut lalu ia dipenjara selama 9 bulan, dan
berlangsungnya dipenjara kasus tajudin di kaji ulang sampai ia terbukti tak bersalah,dan akhirnya tajudin
berhasil dibebaskan karna terbukti tidak mengeksploitasi anak. Tetapi, setelah tajudin dibebaskan ia
melakukan tuntutan balik kepada jaksa atas tuduhan tersebut hingga sekarang.

2.4 Pendapat

Menurut pendapat kelompok kami, dalam kasus tersebut masih banyak sekali hal-hal yang harus
diperbaiki baik dari systestem hukum nya. Di kasus tersebut banyak sekali ditemukan adanya
ketidakadilan social terhadap masyarakat khususnya masyarakat yang menengah kebawah. Seharusnya
dari pihak kepolisian tidak boleh asal tangkap, harus perlu nya diadakan bukti lebih lanjut lagi, jika bukti
tersebut kuat baru lah pihak kepolisian boleh menangkap Tajudin. Lalu juga dari pihak kejaksaan yang
dianggap lambat dalam memecahkan kasus. Kasus tersebut sudah berangsur lama sampai Tajudin harus
mendekam di dalam penjara selama ±9 bulan dan barulah ia terbukti tidak bersalah. Seharusnya jika
memang kasus tersebut belum jelas siapa tersangka nya, pihak kejaksaan dan kepolisian tidak boleh
langsung menjebloskan Tajudin ke penjara. Maka dari itu menurut kami Tajudin pun berhak untuk
mengajukan tuntutan balik karena 9 bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk berdiam diri di penjara
tanpa kesalahan.
Bab III

Kesimpulan

Di Indonesia tingkat keadilan social masih sangat rendah. Perlu ada nya peningkatan. Dan juga system
pelayanan hukum yang seharusnya tidak pandang bulu. Dan kita juga sebagai rakyat Indonesia harus
menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila karena sebagai bukti penghargaan kita kepada para pahlawan
yang telah merumusksan pancasila sebagai dasar Negara.