Anda di halaman 1dari 4

Soal Pretes Pelatihan Pemantauan Terapi Obat

1. Pemantauan terapi obat oleh apoteker bertujuan untuk mengidentifikasi drug related
problems (DRPs) dan mengelolanya sehingga meminimalkan terjadinya efek yang tidak
diinginkan pada pasien. Yang tidak termasuk dalam kategori DRPs adalah
a. Ada indikasi tanpa obat
b. Underdose
c. Interaksi Obat
d. Tidak ada indikasi tidak ada obat
e. Efek Samping Obat
2. Salah satu tujuan kegiatan farmasi klinik adalah untuk memastikan terapi obat yang aman,
efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan farmasi klinik tersebut adalah
a. Monitoring Efek Samping Obat
b. Pemantauan Terapi Obat
c. Pelayanan Informasi Obat
d. Evaluasi Obat
e. Pemantauan kadar obat dalam darah
3. PTO (Pemantauan Terapi Obat) sangat dianjurkan untuk dilakukan kepada semua pasien
yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakait. Berikut adalah pasien yang tidak
memerlukan pemantauan terapi obat :
a. Pasien kanker yang mendapat sitostatika
b. Pasien geriatri dan pediatri
c. Pasien dengan radioterapi
d. Pasien hamil dan menyusui
4. Pasien Tn. T MRS dengan keluhan mual, muntah 3 hari berturut-turut. Pasien memiliki
riwayat hipertensi. Hasil observasi perawat TD 130/80 mmHg, Nadi 82x/menit. Dari contoh
kasus di atas yang masuk ke dalam S (Subjective) adalah
a. Pasien mual, muntah 3 hari berturut-turut.
b. Hasil TD = 130/80 mmHg, Nadi 82x/menit.
c. Pasien mempunyai riwayat hipertensi
d. Jawaban A dan C benar.
5. Praktek pemantauan terapi obat dapat dilakukan dengan penulisan pada rekam medic
pasien pada lembar terintegrasi atau CPPT dengan metode SOAP. Penulisan rekomendasi
dan monitoring terapi obat dapat dituliskan dalam kategori :
a. Subjective (S)
b. Objective (O)
c. Assesment (A)
d. Plan (P)
6. Pasien yang mengkonsumsi obat pada dosis lazim (normal) dapat mengalami gejala yang
tidak dapat ditolerir. Reaksi tersebut diatas dikenal dengan istilah :
a. Efek toksik
b. Interaksi Obat
c. Reaksi Simpang Obat
d. Respon terapi
7. Pernyataan di bawah ini yang salah adalah
a. Obat dengan berat molekul besar harus berikatan dengan protein pembawa agar
dapat menginduksi imun spesifik
b. Obat yang tida reaktif-inheren untuk menjadi intermediet yang reaktif perlu dikonversi
melalui proses metabolik dengan bantuan enzim/non enzim.
c. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam diagnosis banding reaksi obat antara lain
waktu awitan, jenis ruam, riwayat reaksi obat lain, riwayat atopi
d. Penanganan alergi obat reaksi lambat yaitu dengan menghentikan semua obat yang
diduga penyebab, antihistamin pada reaksi makopapular dan kortikosterodi oral,
8. Pasien yang mendapatkan terapi dengan kortikosteroid memerlukan pemeriksaan
laboratorium untuk pemantauan reaksi yang tidak diinginkan, Yang harus dipantau selama
penggunaan kortikosteroid adalah
a. Hb
b. Natrium
c. Troponin
d. Gula darah
9. Kadar hemoglobin darah pasien dapat meningkat atau menurun pada keadaan-keadaan
tertentu sehingga harus dipantau selama proses pemantauan terapi obat. Hemoglobin dapat
meningkat pada keadaan berikut, KECUALI
a. Dehidrasi
b. Penggunaan obat captopril
c. Polisitemia
d. Penggunaan obat metildopa dan gentamicin
10. Farmakokinetika obat yang dikonsumsi pada orang dipengaruhi oleh usia seseorang. Berikut
ini adalah pernyataan yang salah :
a. Absorpsi oral pada neonatus lebih cepat dibandingkan usia dewasa
b. Fraksi obat bebas pada anak-anak lebih besar daripada usia dewasa
c. Volume distribusi obat hidrofilik pada anak lebih besar daripada usia dewasa
d. Volume distribusi obat hidrofobik pada anak lebih besar daripada usia dewasa
11. Antipiretik berikut tidak direkomendasikan diberikan pada pasien anak-anak karena dapat
menyebabkan reye syndrom. Obat tersebut adalah
a. Ibuprofen
b. Aspirin
c. Parasetamol
d. Metampiron
12. Jika diketahui dosis kotrimoksazol untuk terapi infeksi Pneumocytes Carinii Pneumoniae
(PCP) adalah 15-20 mg TMP/kgBB/hari, dibagi tiap 6-8 jam. Berapakah dosis Kotrimoksazol
yang dapat anda berikan untuk pasien dengan berat badan 15kg?
a. 75 mg per 6 jam
b. 75 mg per 8 jam
c. 480 mg per 8 jam
d. 240 mg per 6 jam
13. Perhitungan estimasi fungsi ginjal dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa macam
rumus/persamaan. Berikut ini adalah persamaan yang lazim digunakan pada pasien anak.
a. Schwartz
b. MDRS
c. Jellife
d. Cockcrof and Gault
14. Sitostatika adalah obat kanker yang bekerja dengan mempengaruhi pertumbuhan siklus sel
pada setiap fasenya. Berikut adalah obatyang bekerja spesifik pada fase M (mitosis)
a. Paclitaxel
b. Gemcitabine
c. MTX
d. Etoposide
15. Kemoterapi pada pasien kanker payudara dapat digunakan kombinasi sitostatika dengan
regimen FAC. Berikut adalah sitostatika pada regimen FAC :
a. Fluorouracil, Adriamycin, Cisplatin
b. Fluorouracil, Adriamycin, Carboplatin
c. Fluorouracil, Doxorubicin, Cyclophosphamide
d. Fluorouracil, Doxorubicin, Carboplatin
16. Untuk mencegah efek samping obat cyclophosphamide maka pada kemoterapi dengan
cyclophosphamide khususnya dengan dosis tinggi harus disertai dengan pemberian mesna.
Efek samping cyclophosphamide tersebut yang berupa :
a. Hemorraghic cystitis
b. Nausea
c. Vomiting
d. Alergi
17. Pada pasien geriatric sangat berpotensi terjadinya permasalahan terkait dengan obat (DRPs).
Berikut adalah BUKAN permasalahan terkait obat pada pasien geriatri :
a. Polifarmasi
b. Perubahan profil farmakokinetik dan farmakodinamik obat
c. Sindrom geriatri
d. Prescribing cascade
18. Permasalahan terkait obat pada pasien geriatric dapat terjadi karena terjadinya perubahan
parameter farmakokinetik obat. Perubahan farmakokinetik obat tersebut adalah :
a. Penurunan pH lambung
b. Penurunan aliran darah ginjal
c. Penurunan komposisi lemak tubuh
d. Peningkatan aktivitas enzim metabolism
19. Polifarmasi merupakan salah satu penyebab terjadinya peresepan yang tidak rasional apalagi
pada pasien geriatric. Untuk menilai rasionalitas resep pada polifarmasi, dapat digunakan
alat pengkajian berikut ini, kecuali
a. Morisky Medication Adherence Scale
b. Medication Appropriateness Index (MAI)
c. STOPP and START Toolkit
d. Kriteria Beers
20. Pada terapi pasien dengan kelompok umur lanjut usia atau geriatric diperlukan stategi terapi
tersendiri. Strategi pengobatan tersebut antara lain :
a. Start low, go slow
b. Aturan pakai sederhana
c. Pemberian obat pada setiap gejala yang muncul
d. A dan B
1. Pemantauan terapi obat oleh apoteker bertujuan untuk mengidentifikasi drug related
problems (DRPs) dan mengelolanya sehingga meminimalkan terjadinya efek yang tidak
diinginkan pada pasien. Yang tidak termasuk dalam kategori DRPs adalah
a. Ada indikasi tanpa obat
b. Underdose
c. Interaksi Obat
d. Tidak ada indikasi tidak ada obat
2. Pada instruksi dokter dalam rekam medic didapatkan bahwa terapi furosemide dihentkan
(stop). Namun ketika melakukan telaah resep masih ada permintaan furosemide injeksi.
Dengan demikian ada permasalahan terkait obat (DRPs) kategori :
a. Ada indikasi tanpa obat
b. Pemberian obat tanpa indikasi
c. Pemilihan obat tidak tepat
d. Pasien tidak mendapatkan obat
3. Salah satu penyebab yang dapat menimbukan terjadinya permasalahan terkait obat (DRPs)
adalah proses penggunaan obat. Berikut ini adalah salah satu contohnya :
a. Dosis terlalu tinggi
b. Obat yang dikonsumsi kurang
c. Penggunaan obat tanpa indikasi
d. Pasien lupa minum obat
4. Berikut adalah permasalahan terkait obat (DRPs) yang terjadi pada tahap proses pemilihan
dosis obat pasien :
a. Durasi terapi terlalu singkat
b. Frekuensi regimen dosis rendah
c. Obat yang dikonsumsi kurang
d. Obat yang diminta tidak tersedia
5. Hasil identifikasi permasalahan terkait obat dalam rangka pemantauan terapi obat pasien
didokumentasikan dalam rekam medic pasien. Penulisan tersebut dalam kategori :
a. Subjective (S)
b. Objective (O)
c. Assesment (A)
d. Plan (P)